Bed Talks : When God Made Me

Aku mendengar eomma dan appa sedang tertawa cekikikan. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan tapi yang pasti mereka sedang dalam mood yang bagus. Mood yang kuperlukan sekarang. Aku mengetuk pintu kamar mereka.

 

“Nuguseyo?” Suara appa terdengar dari dalam.

 

“Na-ya,” jawabku.

 

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan aku melihat appa berdiri di hadapanku. “Aigoo, apa yang buat my princess malam-malam datang kemari? Apa kau tidak bisa tidur? Humm?” Tanyanya yang tanpa susah payah menggendongku. Ia membawaku ke tempat tidur dimana eomma yang sedang tersenyum lembut menatap kami berdua.

  Continue reading

Fated To Love You

Annyeonghaseyo, i’m back with another ff (buat ren) hehehe hope you enjoy this fanfiction. Makasi banget buat semua yang bersedia membaca hehehe. This fanfiction is sequel of :

Fated To Found You

Cast: Lee Hyukjae, Lee Yeonhee

*****

Some love stories aren’t epic novels. Some are short stories but that doesn’t make them any less filled with love.

*****

Aku keluar dari ruangan ujianku dan langsung menatap langit biru yang cerah. Sayang sekali, langit siang ini tidak sesuai dengan perasaanku. “Hai, Eunhyuk! Bagaimana ujianmu tadi? Kau tampak sangat lesu,” tanya Yesung, teman sekelasku. Ia merangkul pundakku karena kita berteman tapi bukan bersahabat. Aku mengangkat bahuku lemas sambil menyunggingkan senyum tidak ikhlas. Aku memang sedang tidak bisa tersenyum ceria saat ini mengingat baru saja aku gagal menyelesaikan beberapa soal ujianku. “Not really bad, tapi aku menyesal tidak belajar lebih keras kemarin,” kataku.

Kawanku itu menepuk punggungku. “Oh, c’mon man! Just forget about it! Selagi kita masih muda, kita nikmati saja kehidupan kita di kampus ini! Nilai jelek juga tidak apa, kan?” ujarnya.

Aku tersenyum tulus saat ini. Aku tahu, Yesung hanya ingin menyemangatiku tapi aku yang sekarang memiliki standar yang berbeda dengannya. “Ani, aku tidak bisa seperti itu lagi sekarang. Hidupku bukan hanya untuk diriku saat ini, tapi juga untuk masa depanku dan keluargaku kelak,” jawabku yang tampaknya membuat Yesung geram.

Yesung melepaskan rangkulannya. Aku bisa merasakan ia sedang menatapku dengan tampang tidak suka. “Wow, wow, gadis perpustakaan itu memberikan pengaruh yang buruk padamu,” ujar Yesung. Aku sangat tahu apa maksudnya. “Kenapa kau masih bertahan dengan gadis itu? Ia membuat hidupmu tidak sebebas dan semenyenangkan saat kita SMA, you know? Ia membuatmu dijauhi oleh banyak teman-temanmu! She ruined your life since you dating her 3 years ago!” lanjutnya.

Aku terdiam sesaat, menunggu sampai emosi Yesung mereda. “You don’t like her?” tanyaku.

“No, i don’t,” jawabnya dengan jujur. Sayang sekali, menurutku.

“Maybe, it’s because you don’t know about her,” balasku.

“What?” tanyanya tak mengerti.

Aku kembali menatap langit biru itu. Kini aku tersenyum padanya menyadari bahwa hanya dengan membicarakan gadis ini semua perasaan negatifku seperti terangkat. “She is amazing. I love how she makes me feel, like anything is possible, or like life is worth it,” kataku dari dalam lubuk hatiku.
Continue reading

I Tell You The Truth

Annyeonghaseyo yorobeun, Hope you enjoy this fanfiction and leave your comments ya ^^ Makasih banget buat semua yang sudah baca.

This fanfiction is sequel of :

Cast: Lee Donghae, Shim Johee, Cho Kyuhyun, Song Hyejin, Kang Hamun, Choi Siwon

*****

What is love? Love is the 7th sense of human that destroys all the six sense and make the person non-sense. So, when you find someone that you can’t understand the way they think, everything they do are crazy for you, or every words that cames out from their mouth sounds nonsense, it means something. They’re in love, but the problem isn’t solved yet. The next question: is that love, for you?

******

Donghae terdiam di tempat duduknya sambil termangu menatap salah satu pigura yang ada di meja kerjanya. Wajah gadis yang ada di meja itu tak sekalipun pernah ia lupakan. Jangankan melupakan, ia bahkan terus berusaha mencari gadis itu.

Selama enam tahun meniti karir di salah satu perusahaan ternama di Korea Selatan, akhirnya saat ini Donghae telah menjadi orang kepercayaan direkturnya dan memiliki posisi yang mencengangkan untuk pria muda seusianya. Ia sudah menggunakan jabatannya dan semua koneksinya untuk mencari gadis dari masa lalunya itu, namun sampai saat ini ia belum mendapatkan kabar bahagia. Sebenarnya untuk apa ia bersusah payah mencari gadis yang tak pernah mau ditemukan? Ia pun tak tahu. Bahkan, ia tak pernah tahu ekspresi apa yang harus ia tunjukan pada gadis itu jika suatu saat mereka akan bertemu.

Continue reading

Bed Talks : I Do Really Love Him

“Mianhe,” ucapku kepada laki-laki yang sedang pura-pura tidur membelakangiku ini. Ia sedang ngambek kepadaku karena aku lupa memberitahunya aku pulang lebih malam darinya.

 

Aku sudah hafal wataknya. Meskipun sudah berumur lebih dari 30 tahun, sifatnya masih kekanak-kanakan kalau sudah berurusan denganku. Ia selalu ingin aku memperlakukannya seperti remaja usia 17-an yang masih pacaran. Dia ingin aku selalu menuruti permintaannya. Aku tidak pernah keberatan karena aku memang mencintainya. Aku akan melakukan apapun asal ia tetap bersamaku. Kalau aku melakukan kesalahan, aku rela berlutut meminta maafnya.

 

Aku membalik tubuhnya lalu menimpanya dengan tubuhku. “Maafkan aku karena lupa mengabarimu. Gladi resik tadi benar-benar menyita waktuku. Aku kan harus memastikannya berjalan sesuai rencana. Maafkan aku ya… Yeobo… Oppa, mianhe.” Dia tidak bergeming.

 

“Aku tahu kau belum tidur. Maafkan aku ya? Sayang?” Ia tetap bertahan dengan aksi diamnya. Itu artinya aku harus mengeluarkan jurus-jurus untuk merayunya.

 

Aku tersenyum geli. Kalau sudah ngambek, ia bisa mengalahkan ngambek anak-anaknya. “Baiklah. Mumpung kau masih tidur, aku bisa melakukan apapun,” ujarku lalu mengabsen setiap inci wajah suamiku dengan jariku.

 

“Ya Tuhan, bagaimana bisa kau menciptakan laki-laki sempurna seperti ini. Alisnya yang tebal, matanya, hidungnya, bibirnya, wajahnya. Semuanya sempurna,” bisikku sengaja untuk menggodanya tapi ia masih tidak bereaksi.

 

Aku melancarkan aksiku yang berikutnya. Aku menempelkan bibirku di lehernya sambil meraba dadanya yang masih terhalang piyama tidurnya. “Aku masih tidak mengerti mengapa dadanya ini selalu bisa memberiku kehangatan. Aku beruntung sekali setiap hari bisa merasakan kehangatannya.”

 

Aku merasakan kakinya bergerak merapat. Ia mengunciku di atas tubuhnya. Ia terpancing. “Tampaknya kau benar-benar sudah tidur. Jaljayo, yeobo. Mianhe,” ucapku lalu bangkit dari atas tubuhnya dengan susah payah. Aku harus mandi.

 

Sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi aku sempat mendengarnya menghembuskan nafas dengan kasar. Ia termakan rayuanku tapi masih gengsi. Dia memang seperti itu makanya aku menjulukinya raja ngambek bergengsi tinggi. Ia sudah tidak marah tapi ia tidak mau mengalah sampai aku datang lagi untuk merayunya.

 

Aku bergabung bersamanya di tempat tidur beberapa menit kemudian. Ia sudah merubah posisi tidurnya dari membelakangiku menjadi menghadapku. Aku mengelus pipinya lalu mencium bibirnya dengan lembut. “Selamat malam. Aku mencintaimu,” bisikku lalu menarik selimut untuk kami berdua.
Continue reading

Bed Talks : When She Was Pregnant

Annyeong yeorobun!
Aku punya ff baru semoga pada suka dan mau kasih komen.
Jeongmal gomawoyo chingudeul. Saranghaeyo..

Xoxo

Aku melihat jam tanganku telah menunjukkan pukul 4 lebih 13 menit pagi hari dan rapatku baru akan berakhir mungkin 30 – 45 menit lagi. Aku menoleh kepada smartphone-ku dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari benda itu. Terakhir kali ia berteriak nyaring kira-kira 3 jam yang lalu saat istriku memberi tahu bahwa ia merasa mual. Seketika aku panik, ingin pulang, tapi rapat proyek ini harus tetap berjalan kalau tidak mau perusahaanku bangkrut. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin untuk kemudian pulang lebih cepat.

Aku pulang nyaris saat matahari mau terbit dan mendapati istriku di dalam kamar yang masih tidur nyenyak sambil memeluk guling di atas perut buncitnya. Dia masih yang paling cantik bagiku meskipun ukuran bajunya telah naik 2 tingkat dari M menjadi XL. Dia masih yang paling aku rindukan meskipun aku sudah tidak kuat lagi menggendongnya. Aku mengecup keningnya kemudian mengecup perutnya. Aku mencoba berkomunikasi dengannya. “Aegi-ya, kau baik-baik saja di dalam? Maaf, Appa sangat sibuk hari ini sampai tidak sempat bermain denganmu.” Aku merasakan sebuah gerakan halus dari dalam perut istriku. “Kau mendengar Appa, sayang? Tumbuh jadi anak yang baik ya. Jangan nakal di dalam. Kasihan eomma yang membawamu kemana-mana. Ya, sayang?” Sebuah gerakan yang lebih kencang. Anakku memberikan respon dan rasa lelahku setelah seharian lebih meeting seketika raib.

Sebuah tangan membelai lembut kepalaku. Tanpa harus memastikan, aku tahu itu tangan istriku. “Kau terbangun ya? Maafkan aku,” kataku. Ia tersenyum lemah kepadaku. Wajahnya masih terlihat ngantuk, matanya juga masih berat untuk terbuka sepenuhnya.

“Baru pulang?” Tanyanya parau karena ia memang baru bangun tidur.
Continue reading

You Tell Me A Lie

Annyeong yeorobun! Hehehe long time no see ya. Thanks banget ya buat semua comment-comment yang ditinggalkan di tiap postingan ff di website ini. Maaf banget kalau misalnya ga bisa balas satu per satu. Tapi, kita baca semua commentnya kok dan seneng banget nrima kritik dan saran dari chingudeul. And yeah, I’m back with new fanfiction. Hope you like it ya hehe.

 

Cast: Shim Johee, Choi Siwon, Lee Donghae, Kang Hamun

 

*****

Banyak orang yang bilang pada gadis ini kalau cinta itu datangnya tiba-tiba. Tanpa tanda atau peringatan, sampai-sampai banyak yang tak sadar kalau ia telah merasakannya. Sebelumnya, ia tak pernah percaya apa yang orang-orang itu katakan, hingga akhirnya dua bulan yang lalu ia pindah ke sekolah ini. Prosesnya terasa sangat cepat, ia pun tak mengerti mengapa harus pria itu. Akan tetapi, ia akhirnya sadar itu cinta saat matanya terus mencari keberadaannya, saat senyumnya mengembang bila pria itu bahagia, saat suaranya saja bisa membuat jantung gadis ini berdebar. Seakan cinta yang memilih pria itu untuk ia cintai, walapun tidak semua kisah berjalan sesuai harapan.

***** Continue reading

A Little 2 Not Over You

“Hari ini kita mengadakan pesta sambutan untukmu dan teman-temanmu, Hyejin.” Aku mendengar suara Ryeowook kepada seorang pegawai baru di perusahaan kami. Akibat hubungan yang terlalu erat antara otakku dengan sebuah nama, kepalaku segera terangkat dan melihat siapa pemilik nama yang sudah tertanam bertahun-tahun di pikiranku. Song Hyejin.

Entah bagaimana mendeskripsikan perasaanku begitu melihat wajahnya. Wajah yang aku rindukan. Wajah yang sangat ingin aku lihat. Wajah yang selalu terbayang di pikiranku 6 tahun belakangan ini. Ia terlihat lebih tua dari ingatanku tapi ia tetap yang paling cantik, menurutku.

Aku tidak bisa melepaskan mataku darinya. Meskipun ia tersembunyi di dalam keramaian, aku tetap dapat menemukannya. Ia berdiri 5 meter di depanku, arah jam 2 dari tempatku berdiri. Ia sedang tertawa sambil menari bersama teman-temannya dan pegawai-pegawai lain. Ia terlihat sangat ceria dan bahagia. Bahagia.

Bahagia. Sebuah kata yang merasuk perasaanku. “Apa kau bahagia, Song Hyejin-ssi?” Gumamku tanpa berpaling darinya meski hanya sedetik.

Ia menarik dirinya dari keramaian sambil memijit-mijit pelan kepalanya. Wajahnya tampak sedikit lesu dan jalannya sedikit tidak seimbang. Ia bahkan hampir jatuh saat berjalan menuruni tangga. Untung, aku sempat menangkapnya. “Haish, siapa yang mengajarimu mabuk-mabukan seperti ini?” Aku mencium bau alkohol dari mulutnya. Meskipun begitu, ia tetap sempurna di mataku.

Hyejin menatapku. Matanya membelalak. Aku nyaris tidak bisa merasakan ia bernafas. Ia pasti kaget melihatku. “Kyuhyun Oppa?” Ia masih mengingatku.

Aku tersenyum. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” sapaku sehangat mungkin, seolah kami adalah teman dekat yang tidak pernah ada masalah. Teman dekat yang selalu berhubungan baik, yang tidak pernah menyakiti satu sama lain.

Hyejin masih menatapku dengan tatapan kaget sekaligus tidak percaya. “Kyuhyun Oppa,” ucapnya sekali lagi memanggil namaku.

Aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Aku terlalu merindukan wanita ini. Dari bermilyar-milyar wanita di dunia ini, Hyejin berada di peringkat pertama yang ingin aku temui selama 6 tahun belakangan ini.

“Annyeong, Hyejin-ssi… Bogoshipo,” bisikku.

Continue reading