MAINCAST:

KIM HA MUN

CHOI SI WON

SUPPORTING CAST:

KIM HYE JIN

CHO KYU HYUN

PARK MIN AH

Woah! Appa dan omma pasti sudah gila! Bisa-bisanya mereka mengijinkan onni menikah di usia yang sangat muda. Ahjussi dan ahjumma juga bisa-bisanya menyetujui ide putra mereka yang masih kuliah untuk melamar onni dan masuk ke keluarga kami dengan mudahnya. Tidak masuk akal.

Batinku terus berteriak ‘tidak mungkin’ atau ‘ini gila’ setiap melihat onni dan oppa sedang berduaan tapi aku harus bisa menelan kenyataan kalau mereka sudah MENIKAH!

“Onni, Onni gak sekolah? Kok masih pakai piyama?” tanyaku yang justru sudah rapi dengan seragam sekolahku.

“Gak ah. Aku masih capek karena acara pernikahan kemarin. Aku mau istirahat dulu,” jawab onni lalu kembali fokus kepada suaminya.

Aku menghela nafas dan beranjak pergi ke sekolah. Dunia ini sudah edan! Gila! Aku tahu onni dan oppa memang sudah dijodohkan sejak mereka lahir dan mereka memang saling mencintai. Tapi kenapa harus secepat ini? Onni itu baru kelas 3 SMA sedangkan oppa masih kuliah. Mau jadi apa rumah tangga mereka nanti?!

“Hai, kau sendirian saja? Mana onnimu?” sapa guru olahragaku yang sangat tampan diiringi senyum yang paling menawan. Ah, aku benar-benar terbius olehnya.

“Onni di rumah. Pengen istirahat katanya,” jawabku. “Soesangnim tidak mengajar?”

“Ini aku mau ke kelasmu. Kenapa kau malah masih di sini?”

Aku tersipu malu. Sehabis ganti baju olahraga tadi aku memang berniat ke kelas tapi aku berubah niat ketika melihat dia berjalan ke arahku. Aku menunggunya sampai dia menghampiriku dengan harapan aku bisa berjalan bersamanya ke kelas. Dan…aku berhasil! Hohoho!

Seperti biasa, kelas olahraga choi siwon soesangnim selalu penuh drama! Banyak anak perempuan yang pura-pura sakit atau jatuh agar mendapat perhatian dari pria itu. Hah!

Selesai kelas olahraga aku mencuri kesempatan untuk bertemu dengan soesangnim, mumpung gak ada onni yang bisa mengangguku. Aku berkeliling sekolah mencarinya tapi tidak juga menemukannya.

“Hamun-ah! Hamun-ah!” panggil seseorang kepadaku.

Aku menoleh ke arah suara itu. “onni! Ngapain onni di sini? Bukan katanya onni mau istirahat di rumah?” sahutku sedikit terkejut melihat onni yang tiba-tiba muncul di sekolah.

“Tadinya gitu tapi ternyata oppamu lebih memilih kuliah daripada aku. Ya sudah, aku sekolah saja deh daripada bosan di rumah.”

Aku hanya tersenyum. Onni ku ini memang ajaib. Hidup sesukanya dan dijalani seolah-olah tanpa beban. Ini yang buat aku khawatir dengan rumah tangganya.

“Kamu sendiri ngapain di sini? Kok gak ke kelas? Celingak celinguk mulu. Ah, onni tau. Nyari Siwon oppa ya?” kata Onni dengan ringan. Dia lalu menelepon seseorang sambil tertawa-tawa, “Oppa, aku udah di sekolah loh. Mau dengar ceritaku gak? Hihihi. Ke kantin ya, temui aku.”

Aku tahu siapa yang ditelpon onni. Choi Siwon soesangnim. Aku melihat pria penuh karisma itu berjalan menghampiri kami sambil melemparkan senyum.

“Ah, Hyejin-ssi. Aku kesal sekali waktu tadi pagi Hamun bilang kau tidak masuk,” kata Siwon soesangnim begitu duduk di hadapan kami.

Onni tertawa lepas lalu menyahut, “Oppa sangat merindukanku ternyata ya? Hahaha.”

“Tidak. Aku hanya mau mendengar ceritamu. Aku sudah berusaha mengorek Kyuhyun tapi suamimu yang gila itu tidak mau cerita apapun,” jawab Siwon soesangnim.

Aku melihat kedua insan yang sedang bercakap-cakap ini dengan takjub. Dua orang yang bertolak belakang bisa nyambung banget kalau ngobrol. Kalau orang yang tidak tahu pasti mengira mereka pacaran.

“Kalau gitu, aku gak akan cerita apapun juga padamu, sepupu iparku sayang,” kata onni sambil tertawa. “Sudah ya, aku ke kelas dulu. Teman-teman pasti sudah menanti kedatanganku. Tolong antarkan Hamun ke UKS ya, oppa. Kepalanya sakit.”

Onni lalu pergi dengan santai sedangkan aku gugup setengah mati karena perbuatan usilnya.

“Ayo aku antar kamu ke UKS, Hamun,” kata Siwon soesangnim dengan ramah sambil mengulurkan tangannya. Dengan segan, aku menyambutnya dan berjalan bersama ke UKS. Semoga dia tidak mendengar degup jantungku yang sudah berlebihan ini.

Sepulang sekolah, les lebih tepatnya, aku langsung masuk ke dalam kamar onni. Dengan gegabah, aku membuka pintu kamarnya dan melihat pemandangan yang tidak mengenakkan hati. Onni sedang menangis dalam pelukan oppa.

Oppa yang melihatku memberikan isyarat agar aku keluar dan aku menurutinya. Onni pasti lagi-lagi cemburu pada teman-teman wanita oppa. Hhhh…

Tidak lama kemudian, onni mendatangiku sudah dengan wajah ceria. “Bagaimana tadi di UKS bersama Siwon oppa?” tanyanya sambil tersenyum usil.

“Aku di UKS sendirian. Dia hanya mengantarku,” jawabku.

“Hah? Aduh kau ini sudah kuberikan jalan kok malah disia-siakan? Kau harusnya minta ditemani dong. Masa harus aku juga yang bilang ke dia? Kau harus lebih aktif!”

Onni mulai ngedumel dan aku hanya bisa diam mendengarkan dengan tabah.

“Aku sudah gugup duluan kalau bersama dia, onni. Aku jadi bingung harus bagaimana,” ujarku.

“Hhhh. Kau suka dia kan? Kalo iya, tunjukkan saja. Gak usah malu-malu. Aku akan membantumu. Kim Hamun, hwaiting!”

Onni memberikanku semangat dengan sepenuh hatinya. “Maaf selalu merepotkan onni,” kataku sebelum dia kembali ke kamarnya.

“Tidak masalah. Itu gunanya onni. Kalau kau ada kesulitan, bilang sama aku ya. Hahahaha. Selamat belajar!” sahutnya.

Aku pun belajar sambil membayangkan Siwon soesangnim di benakku. Aku rasa aku jatuh cinta padanya. Ah, tidak. Aku hanya terserang virus gila.

Seminggu setelah pernikahan onni, aku baru merasa normal kembali. Aku sudah bisa menerima kenyataan onniku sudah jadi milik orang lain. Usia memang bukan ukuran untuk menilai seseorang pantas untuk menikah atau tidak. Hal ini aku sadari ketika appa dan omma sudah kembali ke peradaban bisnis mereka di luar negeri dan onni yang aku bilang masih muda itu kelimpahan tanggung jawab mengurus aku dan rumah ini.

“Hamun! Ayo kita berangkat!” seru onni dari garasi mobil. Aku segera berlari menyusulnya. Tak lama, kami sudah menyusuri jalan menuju sekolah.

Siwon seosangnim langsung meraih perhatianku begitu aku tiba di sekolah. Aku memperhatikannya sedang ngobrol dengan guru lain di depan ruang guru. Sesuai dugaanku, onni mengajakku melewatinya. Sesampai di depan Siwon soesangnim, onni mendorongku.

“Aaa~!” pekikku kaget sekaligus takut terjatuh tapi ternyata ada yang menahanku. “Ka…kamsahamnida.”

Aku mengucapkan terima kasih dengan gugup karena yang menahanku adalah Siwon seosangnim.

“Hati-hati kalau jalan, Hamun,” ucap Siwon seosangnim dengan lembut yang membuat jantungku berdetak lebih kencang.

“N..ne. Ka..kamsahamnida, seosangnim,” ucapku sambil kembali berdiri.

“Mianhamnida, mianhamnida. Aku tidak sengaja menabrak Hamun sampai dia hampir jatuh. Mianhamnida, seosangnim,” ucap onni pura-pura kepada Siwon seosangnim dan seosangnim lain. Aku hanya tertawa geli melihat tingkah onni. She’s really great drama queen! Hahahaha.

“Gwenchana. Kebetulan kalian lewat sini. Ini ada anak baru, namanya Park Min Ah. Tolong diantarkan ke kelas 12-D ya,” kata Siwon seosangnim kepada onni.

“Wah, kita sekelas dong! Kenalkan, aku Kim Hyejin,” cetus onni yang membuat dia kena tegur guru.

“Aduh Hyejin, harusnya kamu bilang ‘baik, seosangnim’ dulu baru kenalan. Malu-maluin kelas kita aja deh,” tegur wali kelas onni.

Onni hanya nyengir lalu mengajak Park Min Ah ke kelas mereka. Sedangkan aku masih terpaku di depan Siwon seosangnim.

“Kau tidak masuk kelas, Hamun?” tanya Siwon seosangnim.

“Ah, eh, onni mungkin lupa menyampaikan. Malam ini kami ada acara makan-makan di rumah. Datang ya, seosangnim. Oppa mencarimu,” jawabku lalu ngibrit ke kelas tanpa perlu mendengar jawabannya. Aku takut kalau aku ketahuan berbohong. I’m such a really great drama queen like my sister!

“Onni, aku mau minta tolong tapi jangan marah ya,” kataku saat jam istirahat.

“Ada apa emang?” tanya onni penasaran.

Aku lalu berbisik ke telinganya, “Tolong bikin sebuah acara malam ini di rumah. Aku sudah terlanjur mengundang Siwon seosangnim.”

Aku menahan nafas takut onni akan marah tapi dia malah tersenyum sambil menepuk bahuku. “Ini baru dongsaengku! Tenang saja, aku akan mengatur semuanya. Kau terima beres saja.”

“Onni serius?” tanyaku agar lebih yakin.

Onni menganggukkan kepala dengan mantap. “Yup! Kau cukup dandan yang cantik malam ini ya. Nanti aku akan telpon salon langgananku.”

“Gomawo, onni.”

“Cheonmaneyo, dongsaengi. Hwaiting!”

Lagi-lagi onni memberikanku semangat.

Sepulang sekolah onni langsung mengantarkanku ke salon langganannya. “Dandani dongsaengku yang cantik ya, onni,” kata onni kepada pemilik salon.

“Tenang saja. Kamu bisa percaya padaku,” sahut onni pemilik salon.

“Hamun, nanti dijemput Kyuhyun oppa ya. Onni mau ngurus yang lain-lain dulu. Arachi?” kata onni padaku.

“Ne, arraseo. Gomawo, onni,” sahutku.

Onni lalu meninggalkanku dan aku hanya bisa pasrah didandani selama hampir 2 jam. Untung Kyu oppa tepat waktu menjemputku.

“Kau cantik, Hamun. Siwon hyung harusnya tambah terpikat padamu,” ucap Kyu oppa yang membuatku deg-degan.

“Gomawo, oppa,” balasku sambil tersipu malu.

“Tidak kusangka kamu bisa senekat onnimu dalam urusan cinta,” kata Kyuhyun oppa lalu tertawa.

“Oppa, jangan bikin aku jadi malu gini ah. Oppa ah.”

“Hahaha. Gak apa kok, Hamun. Hwaiting! Semoga Siwon Hyung jatuh ke pelukanmu.”

Sesampai di rumah, aku hanya bisa memandang takjub kerjaan onniku. Dia sudah menyulap rumah menjadi sangat sempurna seolah memang ada acara. Makanan pun telah tersaji rapi di meja.

“Lihat kerjaanku. Kau pasti kagum kan, Hamun?” kata onni sambil merangkul suaminya, yang hanya bisa tersenyum.

“Kau memang yang terbaik!” ucapku diiringi jempol tanda dia yang paling top.

“Hoho. Sudah, ganti bajumu sana. Aku ada perlu dengan oppamu sebentar.”

Aku tahu apa maksud onni. Aku segera ngacir ke kamarku dan memakai gaunku.

Aku langsung menuju ke onni setelah aku siap. Aku melihat tamu-tamu yang kebanyakan sepupu-sepupu kami.

“Onni, aku gugup,” kataku jujur.

“Tidak apa kok. Itu siwon oppa sudah datang. Samperin sana,” ujar onni sambil mendorongku.

Dengan gugup, aku menghampiri Siwon seosangnim. “Annyeong, seosangnim,” sapaku.

“Ah, Hamunssi. Akhirnya kau muncul juga. Aku pikir kau tidak datang,” sahutnya.

“Tidak mungkin lah, seosangnim. Ini kan rumahku. Lagipula mana mungkin aku tidak hadir di acara onniku sendiri.”

“Acara onnimu atau kau yang meminta onnimu membuatnya?”

aku hampir pingsan mendengarnya. “Da…darimana seosangnim tahu?” tanyaku gugup.

Siwon seosangnim lalu mengusap kepalaku sambil tersenyum. “Aku tahu semuanya kok. Oppamu sudah menceritakan semuanya kepadaku,” katanya.

Nafasku terasa berhenti. Kalau dia tau semuanya berarti…”Seosangnim juga sudah tahu aku suka kamu?” tanyaku polos.

Dia menatapku dengan tercengang. “Serius kamu? Kyuhyun tidak pernah bilang padaku padahal aku selalu curhat tentangmu kepadanya. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal sepenting ini dariku.”

Semoga kupingku tidak salah dengar apa yang dikatakan pria ini. “A..apa seosangnim juga, ehm, suka padaku?”

siwon seosangnim menatapku lalu tersenyum. “Aku pikir aku akan patah hati pada anak kelas 1SMA. Hahahahaha.”

Aku ikut tertawa bersamanya. Senang rasanya perasaanku telah tersampaikan dan ternyata dia memiliki perasaan yang sama. Aku adalah gadis paling bahagia malam ini.

 

-THE END-

@gyumontic