This fanfiction is inspired by a novel that , for seriously, i forgot the title.

Hope you understand if you find some similiarities.

 

Main Cast :

– Choi Siwon

– You as Ha Mun

 

Happy reading🙂

 

.Si Won POV.

Aku tahu gadis itu sudah lima kali menatapku. Tatapannya tajam, bisa membuat semua orang yang balas menatapnya jatuh pingsan. Aku memberikan senyum padanya, dia malah memalingkan wajahnya. Ada apa dengan gadis itu?
. . .
Sekitar 10 tahun lalu, aku hanya ingin menjadi terkenal. Karena itu aku datang ke sebuah agency dan menjalani training. Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi aktor ataupun penyanyi. Namun sekarang jadwalku padat merayap!
“Choi Si Won, segera siap-siap! Scene 109 akan segera mulai,” seru produser film ku dari tempat duduknya.
“Baik, produser nim,” sahutku berusaha semangat.
Sejak terjun ke dunia akting beberapa tahun lalu, baru kali ini aku sama sekali tidak mempunyai hasrat untuk memberikan yang terbaik. Aku sudah introspeksi diri dan tidak ada masalah. Aku juga sudah mengevaluasi hubungan sosialku, tidak masalah. Aku meneliti selama berminggu-minggu dan kutemui aku bermasalah dengan lawan mainku, Kang Ha Mun.
“Terima kasih. Sampai jumpa,” ucap Kang Ha Mun padaku begitu syuting selesai.
Tidak. Dia tidak sombong tapi sikapnya sangat dingin padaku. Dia tidak pernah bicara di luar syuting. Dia juga tidak pernah tersenyum padaku. Aku pernah bertanya kepada salah satu kru mengenai hal ini dan ia menjawab, “Ha Mun memang agak pendiam.”
Bagiku, agak pendiam dan dingin itu punya makna yang sangat berbeda. Aku yakin ada yang tidak beres dengannya.
. . .
.Ha Mun POV.

“Oke, onni. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Salam buat Kyu oppa,” kataku pada Hyejin onni lalu menutup hapeku.
Aku mengambil sebuah majalah dari jok belakang lalu membacanya. Tidak ada yang menarik kecuali satu halaman yang memuat profil seorang pria. Aku berhenti pada halaman itu.
“Cih, apa yang membuat teman-temanku suka padanya? Mereka belum lihat saja seperti apa aslinya Choi Si Won,” ucapku yang lebih kutujukan pada diriku sendiri meskipun manajerku juga mendengarnya.
. . .
Aku masuk ke dalam rumah dan melihat Hye Jin onni sedang memeluk Kyu Hyun oppa dengan erat. Seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan boneka kesayangannya. Mereka adalah pasangan favoritku setelah appa dan omma.
Aku membiarkan mereka merasakan seolah rumah ini milik mereka berdua. Aku segera masuk ke kamarku yang, percaya atau tidak, penuh dengan gambar Choi Siwon.
. . .
.Si Won POV.

Kalau dulu aku tidak pernah bermimpi untuk jadi aktor, sekarang aku berharap tidak menjadi aktor bisa menjadi kenyataan.
“Hyung, kepalaku sakit sekali. Badanku juga panas. Tidak bolehkah aku libur sehari saja?” pintaku dengan sungguh-sungguh.
“Minum obatmu lalu tidur. Besok pagi kamu harus melanjutkan syuting,” sahut manajerku dengan tegas.
Aku pasrah. Aku segera masuk kamar dan berbaring. Pikiranku kembali ke sepuluh tahun lalu. Kalau hanya ingin terkenal, kenapa aku tidak membobol bank saja atau membajak pesawat? Ah, pikiran macam apa itu?!
. . .
Kepalaku masih sakit luar biasa saat pagi-pagi aku bangun. Aku menelan obatku 3 butir sekaligus dengan harapan sakit ini akan cepat hilang. Aku tidak boleh sakit kalau ingin syuting pagi ini lancar.
Aku berusaha sebaik mungkin di depan kamera meskipun keringat dingin sudah menjalar di seluruh tubuhku. Mataku mulai kabur dan detik berikutnya adalah gelap.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku tidak percaya bisa berada di tempat ini sekarang bersama dengan pria yang sedang terbaring lemah.
“Kondisinya sedang buruk. Dia terlalu lelah,” kata dokter yang memeriksanya.
Aku tidak tahu apakah kegiatannya terlalu banyak sampai-sampai ia bisa pingsan seperti ini. “Aku pikir kau hanya tidak peduli pada orang lain tapi ternyata kau juga tidak peduli pada dirimu sendiri ya, Choi Si Won,” gumamku.
. . .
Meskipun aku sudah berusia hampir 20 tahun tapi aku tetaplah anak kecil di mata onni. Karena itu dia tidak berhenti meneleponku begitu jam malamku sudah lewat.
“Ha Mun, syutingmu belum selesai ya? Sampai jam berapa nanti?” tanya Hye Jin onni dengan cemas.
Aku paham perasaannya. Aku tahu dia sayang padaku dan aku tidak mau membuatnya cemas.
“Tidak, onni. Si Won masuk rumah sakit dan aku di sini…menemaninya,” jawabku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang baru saja keluar dari mulutku. Rasanya otak dan mulutku sedang tidak sinkron.
. . .
Si Won POV.

Aku terbangun dan merasa badanku tidak berdaya. Meskipun begitu, aku masih mampu melihat gadis yang sedang berbaring di sofa.
“Hamunssi. Hamunssi,” panggilku. Gadis itu tidak menjawab. Tidurnya nyenyak sekali.
Aku mencoba sampai tiga kali sebelum akhirnya dia bangun. “Ah, kau sudah sadar rupanya. Aku akan memanggilkan dokter,” kata Ha Mun dengan lega lalu keluar dari kamar rawatku.
Aku tidak tahu apa dunia ini sedang terbalik atau aku yang sedang tidak waras. Seorang Ha Mun, yang tidak pernah bicara padaku ternyata satu-satunya orang yang mau menunggu sampai aku sadar.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku tidak tahu kenapa aku mau mengorbankan jam istirahatku hanya untuk aktor itu. Aku berada hampir 12 jam di rumah sakit sendirian. Bagaimana bisa?
Aku langsung membuka buku harianku begitu aku masuk kamar dan menulis “pekerja keras dengan jadwal padat” di halaman “the good and the bad of choi si won”. Baru 1 poin yang masuk klasifikasi the good tetapi tampaknya sudah ada 10 poin buruk yang ada pada pria itu.
. . .
Aku bangun dan langsung melihat wajah choi siwon yang tersebar rapi di dinding kamarku. Aku sudah seribu kali melarang teman-temanku untuk memasang poster-poster ini di sini. Tapi semakin aku melarang, semakin mereka menjadi.
“Kalau kau sering melihatnya, kau pasti jadi suka juga padanya,” kata Eun Jung setiap aku mengeluh ada poster baru pria itu di kamarku.
“Apa bagusnya dia sih?” tanyaku pada suatu hari.
Respon teman-temanku adalah “dia tampan. Baik hati. Keren. Beriman. Bla bla bla.”
Aku tidak tahu apa aku sudah menyetujui pendapat mereka itu. Yang aku tahu sekarang aku tidak ada jadwal syuting. Itu berarti aku bisa tidur atau jalan-jalan sama onni. Kenyataannya, aku berjalan ke rumah sakit tempat Siwon dirawat.
. . .
.siwon Pov.

Aku yakin matahari sedang terbit dari barat sekarang karena aku melihat Hamun berada di sampingku sambil membawa makanan.
“semoga cepat sembuh,” katanya padaku dengan LEMBUT! tidak seperti biasanya.
Apa yang sebenarnya terjadi aku tidak tahu. Aku hanya bisa menatapnya dengan heran.
“Jangan menatapku seperti itu,” katanya ketika dia menyadari aku sudah mangap keheranan melihatnya.
Aku benar-benar tidak percaya dia ada di hadapanku sekarang.
. . .
Tapi aku lebih tidak percaya lagi dengan manajerku yang langsung menyuruhku syuting begitu aku pulang dari rumah sakit. Aku sempat protes tapi dibalas, “Aku juga sebenarnya terpaksa. Tapi film itu harus cepat selesai.” Aku tidak bisa berkata apapun. Aku segera melanjutkan syuting yang sempat tertunda.
“Kau sudah sehat. Senang bisa syuting lagi bersamamu.” Itu kalimat paling panjang pertama yang pernah kudengar dari mulut seorang Kang Ha Mun dan entah kenapa ada perasaan senang yang menyusup ke dalam hatiku.
Melihatnya lebih ramah kepadaku membuatku berani untuk mengajaknya makan siang bersama yang tidak aku sangka akan dia tolak.
“Maaf, aku sibuk,” begitu katanya.
Aku rasa dia punya kepribadian ganda atau mungkin aku yang tidak bisa menebak jalan pikirannya.
. . .
.Ha Mun Pov.

Aku pamit kepada seluruh kru sebelum pulang bersama manajerku, tapi tidak pada lawan mainku. Aku belum siap mengenalnya lebih jauh. Aku harus tetap menjaga jarak walaupun aku sudah menemukan poin kedua untuk aku tuliskan dalam kolom “the good”.
“Berani mencoba menjadi teman yang baik.” itu yang aku tuliskan.
“Aku belum melihat poin baik yang terpenting darinya. Sayang sekali,” gumamku.
. . .
Aku turun dari kamar untuk bergabung dengan Hye Jin onni dan Kyu Hyun oppa yang sedang makan malam.
Sebenarnya, aku kadang suka merasa gerah jika Kyu oppa lebih sering berada di rumah ini dibandingkan dorm atau rumahnya sendiri. Tapi rasa kesalku akan hilang dengan sendirinya jika Hye Jin onni sudah tersenyum bahagia melihat Kyu Hyun oppa.
“Ha Mun ah, minggu ini aku ada jumpa fans. Kau mau ikut?” tanya Kyu Hyun oppa.
Kyu Hyun oppa adalah seorang penyanyi dengan suara paling bagus menurutku. Dia salah satu member boyband terbesar di Korea ini.
“Ada Choi Si Won juga loh,” lanjut Kyu Hyun oppa dengan senyum jahilnya.
Aku tahu Kyu Hyun oppa menganggapku begitu mengagumi Choi Si Won seolah-olah aku ini fans sejati pria itu. Dia pasti menganggap aku akan lompat-lompat kegirangan begitu mendapat peran bersanding dengan pria itu. Walaupun sampai detik ini, oppa belum pernah melihatku lompat-lompat kegirangan.
“Aku tidak bisa, oppa. Aku sepertinya ada syuting,” kataku menolak dengan halus tapi otakku berencana menghadiri jumpa fans itu.
. . .
.Si Won POV.

Aku berharap tubuhku bisa diajak berkompromi hari ini. Semua vitamin yang diberikan dokter sudah habis aku telan jadi seharusnya hari ini aku bisa menjalani jumpa fans dengan lancar.
“We are SUPER JUNIOR!” seru Jung soo hyung sebelum kami naik panggung. Seruannya itu memberikan semangat yang luar biasa untukku.
Aku bisa menari dan menyanyi dengan sangat baik. Begitu juga saat pemberian tanda tangan untuk beberapa fans yang beruntung.
Seperti biasa aku menyapa mereka dan kadang memeluk mereka. Aku senang bisa membuat mereka senang.
Tapi ada satu yang membuatku tertegun saat sebuah poster disodorkan padaku.
“Tulis untuk Han Yoora,” kata gadis itu.
Aku menatapnya lama. Wajahnya terasa tidak asing tapi dia bukan Han Yoora yang ku kenal.
“Terima kasih,” kata gadis itu setelah mendapat tanda tanganku lalu keluar dari barisan. Dia tidak meminta tanda tangan member lainnya.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku melempar topi dan syal yang aku kenakan ke tempat tidur lalu memasang poster SUPER JUNIOR yang baru aku dapatkan di dinding kamarku.
“Ternyata dia masih ingat,” gumamku sambil memandang poster tersebut.
Aku ingat ekspresi wajahnya saat aku menyebutkan sebuah nama. Han Yoora. Nama itu membuatnya cukup terkejut.
. . .
Pintu kamarku tiba-tiba terbuka. Hyejin onni menyuruhku untuk segera menemui manajerku. Rupanya hari ini aku ada meeting dengan produser iklan.
“Jangan pulang terlalu malam ya, sayang. Aku sendirian di rumah,” pesan Hye Jin onni padaku.
Ini salah satu hal yang aku sesalkan kalau Kyu Hyun oppa tidak bisa ke rumah ini. Rasanya jauh lebih baik jika laki-laki itu tinggal bersama kami. Aku paling tidak tega membiarkan Hye Jin onni sendirian di rumah.
. . .
.Siwon POV.

Gadis itu terus menghantuiku. Walaupun aku tidak tahu siapa dia tapi namanya membuat aku tidak bisa tidur. Tidak. Dia bukan Han Yoora ku. Kami sudah sepakat tidak akan saling menganggu.
“Kau kenapa? Tampaknya sedang banyak pikiran,” tanya Jung soo hyung saat mendapatiku sedang berpikir keras.
Aku menggeleng menandakan aku tidak kenapa-kenapa. “Tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku hanya kelelahan,” kataku lalu masuk ke dalam kamar.
Aku berusaha tidur untuk menghilangkan gadis itu dari pikiranku. Setidaknya sampai show ku yang selanjutnya.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku tidak menyangka akan kembali berpasangan dengan pria itu dalam iklan ini. Choi Si Won. Kenapa orang itu jadi sering sekali bekerja sama denganku? Setelah film lalu iklan. Selain itu, honor yang aku terima terlalu besar untuk seorang artis baru.
Hahaha. “Aneh sekali. Sepertinya jalanku terlalu mulus,” kataku pada diriku sendiri.
Manajerku tentu saja senang aku berhasil mendapatkan iklan tersebut. Berbeda dengan Hye Jin onni yang justru cemas.
“Sudahlah, Ha Mun. Yoora saja sudah rela. Kenapa kau tidak?” katanya padaku.
“Sedikit lagi, onni. Aku janji tidak akan meneruskannya setelah iklan ini selesai,” ujarku. Aku berusaha meyakinkannya agar percaya padaku dan aku tahu aku berhasil.
. . .
.Si Won POV.

Lagi-lagi aku berpasangan dengan Ha Mun. Tidak tahu apa kerja sama kami kali ini dapat berjalan dengan lancar. Paling tidak selancar film kami sebelumnya.
“Ayo kita berangkat, Si Won ssi,” kata manajerku yang berarti waktu santaiku sudah habis. Dalam beberapa jam ke depan, aku akan bekerja keras di alam terbuka.
Set sudah siap saat aku sampai. Aku juga melihat gadis itu sudah duduk manis di ruang make-up. Dengan berbalut gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kang Ha Mun ternyata memiliki tubuh yang kurus dan mungil jika dibandingkan denganku sampai rasanya aku bisa mengangkatnya hanya dengan satu tangan.
“Ini namanya bubur kacang ijo ketan item. Kau harus mencobanya,” kataku sambil menyodorkan makanan itu pada Ha Mun.
Aku tahu Ha Mun akan menolak tapi aku berhasil memaksanya untuk mencoba.
“Terima kasih,” katanya padaku.
Aku tersenyum dan mencoba mengajaknya bicara lagi tapi rupanya dia lagi kambuh. Tidak mau membalas lagi apapun yang aku ucapkan.
. . .
Kerja sama kali ini rasanya tidak sesulit sebelumnya. Semua scene dapat aku lalui dengan baik. Dalam setiap adegan pun rasanya aku lebih bisa menyatu.
Ada satu adegan dimana aku harus memeluknya. Dan aku merasa heran saat tubuh gadis ini masuk dalam pelukanku, aku merasa nyaman. Kehangatan mengalir ke setiap pembuluh darahku.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku mengurung diri di kamar dan mulai memaki diri sendiri. Tidak seharusnya aku biarkan ini terjadi padaku. Aku sudah melangkah terlalu jauh.
Aku membuka buku harianku pada bagian Choi Si Won. Aku menuliskan setidaknya lebih dari 5 poin bagus untuk pria itu.
“Tidak. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya secepat ini,” kataku.
Aku ingat bagaimana tadi dia memelukku. Meskipun itu hanya adegan dalam iklan, ini pertama kalinya aku merasa nyaman. Perasaan yang berbeda dari biasanya.
. . .
Aku tidak bisa menyangkal saat Hye Jin onni menanyakan keadaanku. Dia merasa aku tidak seperti biasanya. Aku lebih banyak bengong.
“Perasaan itu tidak bisa diduga. Dia datang dan pergi sesukanya. Sekarang tergantung kamu menanggapinya,”kata Hye Jin onni.
Masalahnya sekarang aku tidak tahu bagaimana menanggapi perasaanku sendiri.
. . .
.Si Won POV.

Habis sudah kesempatanku untuk bertemu Ha Mun. Tidak ada lagi kontrak kerja bersamanya dan yang paling parah aku sama sekali tidak tahu harus menghubunginya kemana. Aku tidak punya nomor teleponnya.
“Aigoo, hyung. Aku sudah lihat film mu dengan calon adik iparku. Kalian bermain bagus sekali,” kata Kyuhyun suatu hari setelah film ku dirilis.
Aku terdiam cukup lama. Tuhan memang baik. Dia buka jalan. Atau memang ini yang disebut jodoh? Hahaha. Aku tidak berani berharap.
. . .
Suatu malam, Hye Jin mengundang SUPER JUNIOR untuk makan malam di rumahnya. Tidak tahu apa Ha Mun akan ada atau tidak, aku tetap datang. Aku ambil risiko itu.
Alhasil, malam ini aku makan malam dengan beberapa member yang bisa datang. Untung saja makanannya enak-enak sehingga agak menghiburku karena Ha Mun tidak ada.
Aku melangkahkan kakiku keluar dengan lemas tapi sedetik kemudian jantungku berhenti. Gadis itu sedang memasuki rumah. Dia terlihat sangat anggun dan cantik.
“Hai,” sapanya.
Aku terpesona padanya. Aku pernah merasakan yang namanya terpesona tapi ini berbeda.
. . .
.Hamun POV.

Seharusnya aku membantu Hye Jin onni di bawah tapi aku tidak cukup kuat untuk bertemu dengan Si Won. Hanya untuk mengatakan hai saja, aku harus berpikir lebih dari setengah jam. Apa yang harus aku perbuat kalo harus bertemu dengannya dalam waktu yang tidak sebentar.
“Ha Mun ah! Ayo ikut makan bersama kami,” panggil Hye Jin onni.
Tamat sudah riwayatku.
. . .
Dengan malu-malu, aku bergabung dengan Hye Jin onni dan semua member yang hadir. Meskipun Si Won ada tepat di hadapanku, aku tidak berani menatapnya sama sekali. Apalagi saat member yang lain membicarakan film kami yang baru rilis. Mukaku memerah.
Aku pikir merah pipiku akan berakhir tapi rupanya aku salah. “Aku lihat kalian sangat serasi di film tapi kenapa sekarang saling menyapa pun tidak?” Sungmin oppa melontarkan komentarnya yang disetujui oleh hampir semua yang ada di ruangan ini.
. . .
Hyejin onni hanya tersenyum saat melihat aku dan Si Won dipaksa masuk ke dalam kamar oleh Yong Woon oppa. “Kalian harus lebih saling mengenal,” kata Yongwoon oppa kepada kami berdua.
Aku tidak tahu apa yang Si Won rasakan tapi aku merasa jantungku berdegup 2x lebih cepat. Darahku berdesir.
Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? pikirku.
. . .
Si Won POV.

aku sangat ingin mencairkan keadaan kaku antara aku dan Hamun. Ini kesempatanku. Aku mengajaknya ngobrol dan berhasil. Dia mulai banyak bicara. Mulai dari basa-basi sampai masalah pribadi.
“Aku belum pernah punya pacar,” katanya. “Sungguh!” lanjut gadis itu saat melihat wajahku yang menampakkan ekspresi tidak percaya.
“Aku sempat punya pacar tapi hubungan kami harus berakhir karena aku mau debut.” Aku balas menceritakan hal-hal pribadi.
“Kenapa?” tanya Ha Mun.
Aku terdiam. Bukan karena aku tidak mau bercerita tapi karena aku kaget kalau Ha Mun mau mengetahui tentang diriku. Hal yang aku pikir tidak akan pernah terjadi di dunia ini.
. . .
.Ha Mun POV.

Aku membantu Hye Jin onni membereskan rumah secepat aku bisa lalu kabur ke kamarku. Aku tidak perlu cemas karena malam ini Kyu Hyun oppa akan bersamanya.
Mataku langsung terpaku pada poster Choi Si Won dan teringat semuanya.
“Aku rasa aku tidak cukup mencintainya saat itu sampai rela mengorbankan dia. Itu hanya masa lalu.”
“Saat ini aku sedang tidak memikirkan wanita tapi ada satu yang nyelip ke hatiku.”
“Tidak tahu sejak kapan aku suka padamu.”
aku ingat dengan jelas semua kata-kata itu ditujukan padaku. Aku satu-satunya orang yang ada di hadapannya saat itu. Tidak mungkin aku salah.
Aaargh, aku bisa gila!!
. . .
Si won POV.

dia bilang akan mempertimbangkan aku dalam waktu seminggu tapi ini sudah lebih dari waktu yang dia tentukan sendiri.
Sepuluh menit lagi, pesawatku akan berangkat dan dia sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.
Kyu Hyun berusaha meyakinkan aku kalau Ha Mun akan datang tapi aku sudah pasrah. Mau dia datang atau tidak.
Hye Jin yang datang untuk mengantar Kyu Hyun pun sehati dengan pacarnya itu. Sepasang kekasih yang aku sukai tapi untuk hari ini saja ingin aku singkirkan jauh-jauh.
“Aku tahu Ha Mun memiliki perasaan yang sama denganmu,” kata Hyejin. Membuat perasaanku jadi melambung terlalu tinggi.
. . .
. Ha Mun POV.

begitu manajerku memberikan tiket pesawat yang aku minta, aku langsung check in dan lari ke ruang tunggu.
Seharusnya tidak terlalu susah mencari dirinya yang tinggi tapi bandara ini terlalu ramai sehingga menyulitkanku.
Tapi ada sebuah suara yang menandakan keberadaannya di sana.
“Oppa, oppa. Kau ada-ada saja.” itu suara Hye Jin onni. Aku langsung berlari ke arah suara itu. Dengan nafas tersengal-sengal, aku berdiri di hadapan orang yang aku cari-cari.
“Hati-hati di China. Pulang ke Korea dengan selamat ya. Aku pasti akan merindukanmu,” kataku setelah nafasku stabil lalu memeluk dan mencium pria yang aku yakin aku mencintainya, Choi Si Won.
. . .
.Si Won POV.

Aku memandang 2 buah tiket pesawat di tanganku sambil tersenyum-senyum senang. Satu atas namaku dan yang satu atas nama Kang Ha Mun.
“Dia membeli tiket pesawat agar bisa masuk dan menemuiku. Dasar bodoh,” gumamku lalu tertawa kecil tapi memancarkan kebahagiaan yang sangat besar.
Tepat sebelum take off, pesanku telah tersampaikan. “Tunggu aku pulang ya, Kang Ha Mun sayang. Saranghae.”
. . .

.Hamun POV.

Aku terpaksa keluar rumah pagi-pagi buta demi sahabatku, Yoora, yang sedang patah hati. Dia baru saja diputuskan oleh pacarnya hanya karena pacarnya mau debut menjadi artis.
“Aku tidak mau putus tapi aku harus bagaimana lagi? Itu semua demi kebahagiaannya,” kata Yoora dengan pasrah.
Aku mencoba menenangkannya. Aku memberikannya sebuah pelukan yang hangat dan aku biarkan dia menangis sepuasnya sampai dia tenang.
Pada dasarnya, aku tidak suka jika ada yang menyakiti temanku tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.
Awalnya aku pikir Yoora sudah tenang tapi ternyata besoknya dia sudah meninggalkan Korea tanpa memberitahuku. Bahkan sampai sekarang aku tidak pernah mendengar kabar darinya.
Aku paham perasaannya. Aku mengerti kenapa dia pergi meninggalkanku. Yang tidak aku pahami adalah mantan pacar Yoora tersebut.
Aku berusaha mencari tahu tentang laki-laki itu tanpa lelah. Sampai aku bertemu dengannya di sebuah kafe.
Aku terus memandanginya dari ujung rambut sampai ujung kepala. Dia memang sempurna secara fisik. Aku tidak menemukan cacat sedikitpun.
Tapi begitu aku ingat dia adalah laki-laki yang pernah menyakiti Yoora, aku menyangkal kesempurnaannya.
“Awas saja kau, Choi Si Won!” gumamku.
Dia alasanku satu-satunya untuk menjadi aktris. Aku tidak peduli meski aku hanya punya 1 film asal dia lawan mainku. Aku harus tahu alasannya memutuskan Yoora.

– to be continued-

@gyumontic