HAEMUN COUPLE..

PG-13 / Romance/ One Shot

 

Cast :

Lee Donghae

Kang Hamun

Song Hyejin

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

 

yeeeeeaaay, my 1st ff about Donghae and Hamun. hihihi

maap ya kalo jelekk. garing banget deh kayaknya nih epep.. mianheee..

enjoy reading yeorobunn :))

 

“Brak!” bunyi pintu yang baru saja Hamun banting. “Yaaa! Hamun-ah! Buka pintunya!” seru Donghae sambil mengetuk pintu yang baru dibanting Hamun.

“Siro! Aku tidak mau! Kau diluar saja!” sahut Hamun tidak kalah keras.

“Yaa.. Hamun-ah, ijinkan aku masuk,” kata Donghae lagi.

“Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!” balas Hamun.

Suara kedua makhluk itu ternyata sangat keras sampai bisa membangunkan si tukang tidur, Hyejin. Ia langsung menghampiri suara ribut-ribut di pintu apartemennya.

“Hamun, apa yang terjadi? Kenapa ribut sekali?” tanya Hyejin.

“Tidak ada. Hanya suara tivi,” jawab Hamun dengan tidak jujur.

Hyejin awalnya percaya tapi suara Donghae meruntuhkan kepercayaannya. “Hyejin? Kaukah itu? Tolong bukakan pintunya. Hamun tidak memperbolehkanku masuk,” kata Donghae.

Hyejin menengok ke arah Hamun dengan kesal sedangkan gadis yang ditengok hanya mengangkat bahunya. “Aku sedang marah padanya,” ujar Hamun.

“Kalau begitu kalian harus baikan,” sahut Hyejin sambil membukakan pintu untuk Donghae.

Donghae langsung masuk dan memeluk Hyejin. “Gomawo, Hyejin. Kau memang wanita paling cantik. Saranghae,” ujar Donghae dengan manis yang dapat meluluhkan hati semua wanita tetapi tidak untuk Hyejin.

Hyejin hanya tertawa lalu berkata, “Rayuanmu tidak akan mempan untukku, Lee Donghae. Simpan saja untuk adikku yang sedang marah padamu.”

Donghae tersenyum. “Terima kasih atas saranmu, calon kakak iparku tersayang tapi aku memang benar-benar mencintaimu,” ujar Donghae.

“Iya, iya aku tahu. Temui Hamun sana,” suruh Hyejin sambil menunjuk ke arah Hamun yang sedang nonton tivi dengan cemberut. “Oh ya, aku mau pergi dulu sebentar. Jaga adik dan apartemenku baik-baik ya, Lee Donghae. Aku harap kalian sudah baikan saat aku pulang nanti. Bye,” lanjut Hyejin yang langsung keluar dari apartemennya tanpa mandi.

Donghae segera menemui Hamun dan menggodanya sambil mencoel pipi gadisnya itu, “Jagiya.. Terongku sayang.. Unyuh unyuh.”

Hamun memalingkan wajahnya dari tangan Donghae tapi pria itu tidak menyerah. Dia tetap berusaha meluluhkan hati Hamun. “Jagiya, kamu kenapa sih? Tiba-tiba kok ngambek?” tanya Donghae dengan lembut.

Hamun masih tidak mau menjawab. Dia malah melemparkan sebuah majalah ke arah Donghae. Donghae membacanya. “Lee Donghae memilih Sunye sebagai pacarnya,” ucap Donghae lalu tersenyum. “Hamunku tercuyung cuyung ung ung, aku berani bersumpah ini hanya artikel sampah,” lanjut Donghae.

Hamun mendecakkan lidahnya dengan kesal dan akhirnya mengarahkan matanya pada Donghae. “Cih! Ini sudah artikel ‘sampah’-mu yang ke seribu. Aku muak! Aku mau putus,” ujar Hamun dengan keseriusan tingkat ultimate.

Wajah Donghae yang awalnya santai berubah menjadi tegang. “Aku harap kau hanya bercanda,” kata Donghae dengan gugup saking tegangnya.

“Aku serius. Aku benar-benar ingin berpisah darimu. Aku sudah tidak kuat lagi menghadapi hidupmu yang penuh skandal dan kepura-puraan. Aku sudah mau muntah karenanya!” kata Hamun lalu meninggalkan Donghae. Dia memilih menyendiri di dalam kamarnya entah sampai kapan.

 

Hyejin masuk ke dalam apartemen dan menemukan Donghae duduk di sofa sambil menatapnya kosong. Hyejin segera duduk di sebelah pria itu dan memeluknya. “Kau kenapa?” tanya Hyejin dengan cemas.

Donghae sudah mulai berurai airmata, karena itu dia terkenal sebagai hae crybaby. “Hamun memutuskan hubungan kami. Katanya sudah muak menghadapi hidupku,” jawab Donghae sambil menunjuk majalah yang menjadi sumber masalah kepada Hyejin.

Hyejin membacanya sekilas. “Aku rasa Hamun hanya emosi. Maklum, dia masih muda, masih cemburuan. Tunggu emosinya reda baru bicara lagi dengannya. Gimana?” kata Hyejin mencoba membantu.

Donghae mengangguk setuju. “Baiklah. Aku akan menemui Hamun lagi setelah dia stabil. Tolong hubungi aku kalau adikmu sudah waras,” ujar Donghae.

“Tentu saja,” sahut Hyejin dengan semangat yang membuat Donghae kembali tersenyum.

“Gomawo, Hyejin-ah. Kau sangat menolongku. Aku tidak tahu akan bagaimana hubunganku dengan Hamun tanpamu. Jeongmal gomawo,” kata Donghae.

“Cheonmaneyo, calon adik iparku. Lebih baik kau pulang sekarang. Aku tidak mau adikku meringkuk di kamar hanya karena kau belum pulang,” kata Hyejin.

Dengan terpaksa, Donghae segera berpamitan dan pulang ke apartemennya sedangkan Hyejin langsung masuk kamarnya untuk kembali tidur.

 

Beberapa hari telah berlalu dan Hamun sudah jauh lebih baik. Dia sudah kembali ceria dan bahkan jika disinggung soal Donghae, dia tidak akan emosi. Oleh karena itu, Hyejin berani menghubungi Donghae. “Donghae-ya, nanti malam makan di apartemenku ya! Ajak teman-temanmu juga boleh,” kata Hyejin melalui ponselnya.

“Lalu bagaimana dengan Hamun?” tanya Donghae langsung ke tujuannya.

“Dia sudah baik-baik saja. Manfaatkan kesempatan ini. Dapatkan dia kembali,” jawab Hyejin penuh dukungan agar adiknya kembali pada seorang Lee Donghae.

Donghae segera berangkat ke apartemen Hyejin tanpa peduli bahwa sekarang jadwalnya rekaman bersama grupnya. Donghae dengan gembira mengemudikan mobilnya ke apartemen Hyejin.

“Ting tong. Ting tong,” bunyi bel apartemen Hyejin yang baru saja dibunyikan Donghae. “Hyejin-ah, Hamun-ah,” panggil Donghae.

“Ne, tunggu sebentar, oppa,” sahut Hamun.

Tidak berapa lama kemudian pintu dibuka. Donghae dan Hamun kembali berhadapan setelah mereka putus beberapa hari lalu.

“Ahhm, halo Hamun, apa kabar?” sapa Donghae.

“Baik. Oppa apa kabar?” balas Hamun.

Donghae tersenyum menatap Hamun. “Never better,” ujar Donghae.

Hyejin tiba-tiba datang ke arah mereka dan merangkul Donghae. “Lee Donghae sudah datang. Ayo masuk, sayang,” kata Hyejin sambil menarik Donghae masuk. Hyejin memperlakukan Donghae dengan sangat ramah yang membuat Hamun tanpa sadar memanyunkan bibirnya.

Hyejin yang menangkap tingkah Hamun dari sudut matanya itu tersenyum senang dalam hati.

Mereka bertiga duduk di depan tivi sambil menunggu tamu yang lain datang. “Kita tunggu Kyuhyun dan Siwon lebih dulu ya,” ujar Hyejin.

“Siwon? Choi Siwon?” tanya Donghae.

Hyejin menganggukkan kepalanya. “Kau kenal padanya?” tanya Hyejin balik.

“Dia temanku. Kamu kenal dia juga, Hyejin?” Donghae menjawab sekaligus bertanya kembali.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Hamun yang mengundangnya. Dia temanmu kan, Hamun?” kata Hyejin kepada Donghae pada awalnya lalu berpaling ke Hamun.

“Iya, dia temanku,” sambar Hamun dengan cepat.

“Temanmu? Aku kok gak pernah tau? Bagaimana kalian bisa kenal?” tanya Donghae pada Hamun.

“Dia senior baruku di kampus. Dia mahasiswa transfer,” jawab Hamun.

“Berarti kalian baru kenal dan kau sudah berani mengundangnya ke sini?” tanya Donghae setengah emosi karena cemburu mengetahui Hamun punya teman pria baru.

“Yee. Emang kenapa kalau aku mengundangnya meskipun aku baru kenal?” balas Hamun.

“Gak bisa dong. Kalau dia jahatin kamu gimana?”

“Dia gak sejahat yang kamu pikir tahu! Dia baik!”

Hyejin hanya bisa melihat perdebatan Hamun dan Donghae sambil menggelengkan kepalanya bolak balik. “Kalian ini…” ujar Hyejin.

“Ting tong. Ting tong,” bunyi bel apartemen Hyejin. Hyejin bangkit dari duduknya dan membukakan pintu. “Sayaaaang!” seru Hyejin dengan gembira sambil memeluk kekasihnya yang baru datang.

Kyuhyun, kekasih Hyejin, balas memeluk Hyejin dan mengelus-elus kepala gadis itu. Dia lalu memperkenalkan pria yang datang bersamanya. “Sayang, kenalkan ini sepupuku. Namanya Choi Siwon. Katanya dia diundang Hamun kesini,” ujar Kyuhyun.

“Oh iya, Hamun memang mengundangnya. Selamat datang,” kata Hyejin lalu membungkukkan tubuhnya untuk menyapa Siwon.

“Kamsahmnida, Hyejin-ssi. Sepupuku tidak salah pilih!” kata Siwon sambil tersenyum.

Hati Hyejin berdesir mendapat senyuman yang begitu dahsyatnya. Kyuhyun yang tau pacarnya terkesima dengan ketampanan Siwon pun menjitak kepala gadis itu. “Yaa! Song Hyejin! Ingat aku,” kata Kyuhyun.

Hyejin menyengir malu. “Maaf, sayang. Siwon tampan sekali. Tapi aku tetap padamu kok,” balas Hyejin.

Siwon tertawa melihat kelakuan sepupunya dan kekasih sepupunya yang seperti anak-anak. Kyuhyun yang paling tidak suka ditertawakan langsung cemberut dan menyuruh Siwon segera masuk, “Jangan tertawa saja. Ayo masuk.”

Siwon masuk ke dalam rumah sambil tertawa diikuti Hyejin dan Kyuhyun.

Mereka segera bergabung dengan Donghae dan Hamun di ruang tivi lalu berpindah ke ruang makan sesuai instruksi nyonya rumah, “Ayo kita makan sekarang. Aku sudah lapar sekali.”

Untuk beberapa lama, mereka berlima mengobrol sambil menyantap makan malam yang telah disediakan Hyejin.

 

Hyejin dan Kyuhyun saling bahu membahu mencuci piring di dapur sedangkan Donghae, Hamun dan Siwon mengobrol di ruang tivi.

“Besok aku perlu bertemu dekan. Apa kamu bisa menemaniku?” tanya Siwon pada Hamun.

“Tentu saja. Jam berapa?” sahut Hamun.

“Kamu bisanya jam berapa? Kalau jam 10an bisa gak?”

“Bisa. Kebetulan kelasku baru mulai jam 1. Kita ketemu di lobby jam 10 kurang ya?”

“Gak usah. Besok aku akan menjemputmu jam 9. Ya?”

“Oke deh kalau begitu.”

Donghae hanya bisa melihat percakapan Hamun dan Siwon tetapi dia mencoba untuk tetap tersenyum. Dia bahkan berusaha ikut dalam percakapan, “Siwon, kenapa kau pindah universitas?”

“Aku mau lebih serius kuliah. Universitasku dulu tidak begitu menarik ternyata,” jawab Siwon.

“Oh, lalu karirmu?” tanya Donghae.

“Tidak masalah. Aku sudah tidak terlalu sibuk,” jawab Siwon.

Donghae baru saja mau bertanya lagi tapi Siwon sudah berpaling kepada Hamun lagi, “Setelah kuliah kita makan bareng yuk? Mau? Ucapan terima kasihku karena kau sudah banyak membantuku di kampus, Hamun. Gimana?”

“Bisa sih tapi…” Hamun melirik Donghae yang menatapnya dengan serius berharap Hamun menolak ajakan tersebut. “aku gak janji ya soalnya kayaknya besok aku ada kerja kelompok,” jawab Hamun.

“Oke. Nanti kamu kabarin aku ya kepastiannya,” kata Siwon.

Donghae lega bukan main. Meskipun belum tentu itu artinya Hamun menolak ajakan Siwon tapi kemungkinan Hamun tidak akan makan bersama Siwon tetap ada.

Kyuhyun dan Hyejin bergabung tidak lama kemudian setelah mereka selesai mencuci piring tapi kesempatan mereka untuk ngobrol berlima tidak bisa dilakukan karena Siwon pamit pulang tepat setelah Kyuhyun dan Hyejin bergabung, “Hyejin, Kyuhyun, Hamun, terima kasih banyak atas undangan makan malamnya. Aku senang sekali. Sebenarnya aku masih mau di sini lebih lama tapi aku ada syuting malam ini. Maafkan aku.”

“Ah, tidak apa, Siwon. Aku senang kau sudah mau datang kesini. Jangan kapok ya,” balas Hyejin.

“Tentu tidak. Kapan-kapan aku main lagi, pasti,” ujar Siwon yang disambut tawa ceria Hyejin. “Baiklah aku pulang ya. Sampai jumpa, Hyejin, Kyu, Hamun, Donghae!”

“Sampai jumpa,” balas Hyejin, Hamun dan Donghae dengan rasa antusias yang berbeda-beda.

Kyuhyun mengantarkan Siwon ke parkiran mobil sedangkan Hyejin melihat pertengkaran Hamun dan Donghae di dalam apartemennya sendiri.

“Yaaaa! Hamun-ah! Kenapa kau selalu begini sih? Masuk kamar, kunci pintu dan mengusirku. Aku ini mau bicara denganmu,” kata Donghae sambil mengetuk-ketuk pintu kamar Hamun.

“Aku tidak mau bicara denganmu!” sahut Hamun.

“Aku mohon bicara denganku. Aku tahu kita sudah putus tapi bukan berarti kita tidak bisa berteman kan?” kata Donghae dengan sedih setiap dia menyadari hubungannya dengan gadis di balik pintu itu telah berakhir.

“Klek!” pintu kamar Hamun dibuka. Gadis itu keluar. “Kau mau bicara apa?” tanya Hamun pada Donghae dengan jutek.

Donghae menyambut Hamun dengan senyum. “Besok kau kerja kelompok dimana?” tanya Donghae.

“Apa urusanmu?”

“Gak ada sih. Aku hanya mau tanya kalau-kalau besok kau membutuhkan aku, aku harus menemuimu dimana.”

“Oh, hanya itu. Di kampus jam 4 sore.”

Donghae memancarkan senyumnya yang paling cerah saking bahagianya.

“Hanya itu? Tidak ada lagi yang mau dibicarakan?” tanya Hamun penuh harap Donghae akan bertanya soal Siwon.

Donghae menggelengkan kepalanya masih tetap tersenyum. “Gomawo, Hamun. Kalau besok kau membutuhkanku langsung panggil ya,” ucap Donghae.

Hamun tidak berkata apa-apa. Dengan kecewa, dia kembali masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. “Kalau besok kau tidak datang saat aku panggil, awas kau Lee Donghae!” ancam Hamun dari dalam kamarnya.

Donghae membalas dengan ceria meskipun yang dia dapatkan adalah ancaman, “Tentu, nona besarku Hamun.”

Tidak ada yang tahu bahwa Hamun tersenyum sangat lebar saat mendengar sebutan Donghae untuknya.

 

Donghae bolak-balik melihat jam tangannya. “Baru jam 9. Masih 7 jam lagi. Sekarang Siwon pasti sedang menjemput Hamun,” gumam Donghae lalu mendecakkan lidahnya dengan keras sebagai ungkapan kekesalannya.

Sejam berlalu tetapi rasanya bagai sehari buat Donghae. Bisa dia pastikan hari ini menjadi hari paling uring-uringan buatnya. Karena itu dia memutuskan untuk jalan-jalan sambil menunggu panggilan dari Hamun.

“Kira-kira nanti dia butuh ini gak ya?” tanya Donghae pada dirinya sendiri saat melihat tumpukan cokelat kesukaan Hamun di supermarket. “Butuh kali ya? Beli saja deh,” jawab Donghae sendiri lalu menaruh beberapa batang cokelat ke keranjang belanjaannya.

Donghae berjalan keliling supermarket dan tanpa terasa keranjang belanjanya sudah penuh dengan makanan kesukaan Hamun. “Aargh anak itu mengganggu pikiranku terus,” gerutu Donghae tapi tetap membayar semua belanjaannya ke kasir. Ia lalu berjalan ke toko-toko lain yang semuanya adalah toko kesukaan Hamun. Toko baju, sepatu bahkan toko dvd yang paling sering Hamun kunjungi pasti disinggahi Donghae.

Di tengah perjalanan, Donghae melihat jamnya lagi. “Masih 2 jam lagi,” gumam Donghae. Tanpa pikir panjang, dia turun ke parkiran mobilnya lalu mengemudikannya menuju kampus Hamun.

 

Donghae mengambil tempat parkir di dekat fakultas Hamun agar dia bisa langsung menemui Hamun. Donghae menunggu di dalam mobil sambil memakan beberapa kue hasil belanjanya tadi.

“Aduh anak itu kenapa tidak meneleponku juga sih? Masak aku tiba-tiba muncul? Nanti dia marah lagi,” kata Donghae yang terjebak dalam kebingungannya sendiri.

3 jam telah berlalu tapi Hamun tidak juga menghubunginya. Donghae mulai tidak sabar. Dia memutuskan keluar dari mobil dan mencari Hamun.

“Yaaa! Lee Donghae! Kenapa kau baru datang sekarang?! Aku sudah sejam menunggumu tahu!” seru Hamun tanpa basi-basi begitu bertemu dengan Donghae di lobby kampusnya.

Donghae menatap Hamun dengan bingung. Dia sama sekali tidak mendapat panggilan dari Hamun tetapi kenapa Hamun menunggunya. “Maafkan aku tapi memangnya kau memanggilku?” tanya Donghae.

Hamun mendecakkan lidahnya dengan kesal. “Antarkan aku pulang!” perintah gadis itu dengan galak yang mau tidak mau dituruti oleh Donghae.

Donghae menuntun Hamun ke tempat parkiran mobilnya. Tanpa segan, Hamun masuk ke dalamnya dan mengobrak-abrik isinya. Dia mengambil belanjaan Donghae dan memakan cokelatnya. “Buatku ya? Terima kasih,” ucap Hamun to the point.

“Memang aku beli buat kamu kok,” balas Donghae yang senang karena belanjaannya tidak percuma. Dia mengemudikan mobilnya sambil sesekali memandang Hamun yang asyik makan coklat.

“Tadi gimana kerja kelompokmu? Selesai tugasnya?” tanya Donghae.

“Selesai. Besok lusa sudah bisa dikumpulkan,” jawab Hamun.

“Syukur deh. Terus tadi jadi nemenin Siwon?” tanya Donghae lagi.

“Cih! Tadi pagi aku sudah siap tapi tiba-tiba dia bilang gak jadi, diundur besok. Mending kalau dia bilang jam 9 kurang atau jam 9an, ini dia baru ngabarin jam 11 lebih! Aku sms telpon, gak dijawab. Ngeselin!” jawab Hamun sekaligus menumpahkan kekesalannya.

“Ya udah, gak usah dipikirin lagi. Terus besok kamu nemenin dia?” kata Donghae yang setengah kesal karena Siwon yang berani menganggap remeh Hamun dan setengah senang karena Hamun tidak jadi bersama Siwon hari ini.

“Gak. Biar aja dia sendirian,” sahut Hamun. Donghae semakin senang mendengar jawaban Hamun.

Jika tanpa Hamun, sejam bagai sehari maka jika bersama Hamun, sejam serasa semenit. Karena itu bagi Donghae perjalanan dari kampus ke tempat tinggal Hamun rasanya cepat sekali meskipun sebenarnya memakan waktu hampir 2 jam karena macet.

“Terima kasih sudah mengantarku. Terima kasih juga makanannya. Sampai jumpa,” ujar Hamun sebelum keluar dari mobil Donghae.

Donghae membalas, “Sama-sama. Sampai jumpa lagi ya, Hamun. Jangan sungkan-sungkan menghubungiku jika kau butuh ya.”

Setelah itu, Donghae kembali ke pekerjaanya. Jadwalnya sore ini adalah syuting video klip milik penyanyi wanita seksi, Gain.

 

Hyejin sedang membuat laporan bulanan penjualan perusahaannya ketika dia mendengar bunyi sesuatu terjatuh dari ruang tivi. “Apa itu yang jatuh?” seru Hyejin dari ruangan kerjanya yang hanya berjarak beberapa meter dari ruang tivi tapi tidak ada jawaban. Yang ada bunyi jatuh yang lebih kencang. Hyejin keluar dari ruangannya untuk melihat yang sedang terjadi.

“Prang!” kaca tivi telah pecah akibat terkena lemparan Hamun.

Hyejin terkejut bukan main. “Hamun, kenapa? Ya ampun. Kamu kenapa?” tanya Hyejin.

Hamun menangis sesengukkan sambil menatap tivi yang telah pecah dengan kesal. “Aku benci Donghae. Aku benci kau, Lee Donghae!” pekik Hamun.

Hyejin menghampiri adiknya lalu memeluknya. “Kenapa dengan Donghae?” tanya Hyejin pelan-pelan.

Hamun berusaha berbicara di sela-sela tangisnya, “Aku benci! Benci! Bisa-bisanya dia berciuman dengan penyanyi itu! Katanya dia sayang padaku tapi malah mencium gadis lain, pakai acara tubuhnya disentuh-sentuh!”

Hyejin tambah kaget mendengar curhatan Hamun tapi dia berusaha tetap tenang. “Kamu tahu darimana? Kata siapa?” tanya Hyejin.

“Aku lihat di tivi dia mencium Gain, onni,” jawab Hamun.

Hyejin berpikir keras. “Apa aku ketinggalan berita sedahsyat ini? Tidak mungkin. Dari pagi aku sudah pasang mata lebar-lebar untuk semua stasiun tv infotainment tapi tidak ada berita tentang Donghae,” kata Hyejin dalam hati. “Kau lihat dimana beritanya?” tanya Hyejin penasaran.

“Aku lihat di video klip Gain yang baru, Donghae yang jadi modelnya,” jawab Hamun.

Mendengar jawaban Hamun, Hyejin ingin sekali menjitak kepala adiknya itu tapi ia tidak sampai hati. “Hamun, itu hanya di video klip. Donghae dibayar untuk melakukan itu. Ciumannya tidak tulus,” ujar Hyejin berusaha menenangkan Hamun.

“Aku tidak mau tahu! Dia selalu begitu. Bilang sayang tapi yang bersamanya selalu wanita lain. Dasar pria gila!” sahut Hamun lalu berlari masuk ke kamarnya tidak lupa membanting pintunya keras-keras.

“Yaa! Siapa itu banting pintu keras-keras?!” seru Kyuhyun yang baru sampai.

“Biasa si Hamun lagi ngamuk karena Donghae,” jawab Hyejin.

“Kenapa lagi? Sudah putus saja masih ngamuk-ngamuk karena dia.”

“Ih kamu itu gak ngerti perasaan wanita banget sih. Hamun marah lihat video klip Gain yang baru. Ada Donghae di sana, mereka ciuman.”

Kyuhyun tersenyum sinis yang langsung mendapatkan pukulan dari Hyejin di dadanya. “Kalau kau meremehkan wanita seperti itu, silahkan pacaran dengan pria! Sudah, telepon Donghae! Suruh kesini,” kata Hyejin.

Kyuhyun hanya terdiam. Dia menuruti Hyejin untuk memanggil Donghae, “Hyung, ke apartemen Hyejin sekarang. Hamun sedang ‘aneh’.”

 

Donghae tiba di apartemen Hyejin dengan nafas tersenggal-senggal. “Ada apa dengan Hamun? Kenapa dia? Dia sakit? Atau apa?” tanya Donghae dengan panik.

“Bukan,” jawab Hyejin. “Temui dia di kamarnya. Dia marah setelah melihatmu di mv Gain.”

Donghae menghela nafas lalu pergi ke kamar Hamun. “Hamun-ah, ini aku Donghae. Maafkan aku. Aku tidak sangka kau akan semarah ini,” ucap Donghae begitu tiba di depan pintu kamar Hamun.

Pintu kamar Hamun dibuka dan muncul pemiliknya dengan mata sembab sambil membawa sebuah bantal. “Buk!” Bantal itu dipukulkan ke wajah Donghae. Donghae tak bergeming. “Buk!” Sekali lagi bantal itu menyentuh wajah Donghae.

“Katakan Lee Donghae benci Kang Hamun! Katakan!” pekik Hamun dengan sedih menjelang depresi.

“Lee Donghae menyayangi Kang Hamun, dengan sepenuh hati,” ujar Donghae lalu memeluk Hamun dengan lembut. Hamun menjatuhkan bantalnya dan balas memeluk Donghae. Air matanya mulai mengalir. “Maafkan aku, Hamun,” kata Donghae.

Hamun terus menangis. Di sela-sela tangisnya, Hamun berbicara, “Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melepaskanmu? Wae? Wae?!”

“Aku pun tidak bisa melepaskanmu. Apa itu salah?” sahut Donghae.

“Aku sudah memutuskanmu. Tidak seharusnya aku begini.”

“Tidak masalah. Kita bisa mencobanya kembali, sayang.”

“Tapi aku takut. Kehidupan artismu sungguh membuatku tertekan.”

“Tenang saja, aku akan membantumu sampai kau bisa menerimanya. Aku akan menunggumu sampai saat itu tiba ya? Aku akan selalu ada di sisimu.”

Hamun memeluk Donghae lebih erat, menyusupkan kepalanya di dada Donghae. Donghae mengelus-elus kepala Hamun sampai gadis itu tenang dan berhenti menangis.

“Aku akan berusaha sebaik mungkin tapi kau harus sabar. Jangan jadi alasan untuk cari wanita lain!” kata Hamun dengan tegas. Kepribadiannya yang asli sudah muncul. Kepribadian yang membuat Donghae tergila-gila kepadanya.

Dengan senang hati, Donghae menyanggupi syarat yang diajukan Hamun. Dia juga mengecup kening Hamun sebagai tanda setianya.

 

.end.