Aku langsung memeluk Sungmin begitu ia membuka pintu apartemennya. “Jangan pergi. Kau tidak boleh meninggalkan aku begitu saja,” kataku sambil menangis tersedu-sedu. “Aku mohon, maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku tahu kau tidak suka padanya tapi tadi aku benar-benar membutuhkannya.”

.flashback.

Sungmin mengajakku keluar tapi aku pura-pura tidak bisa. Aku ada perlu dengan seseorang tapi aku tidak bisa mengatakannya kepada Sungmin. “Aku mau pergi mengunjungi ibu,” kataku berbohong.

“Apa perlu aku temani?” tanya Sungmin.

“Tidak perlu. Aku hanya sebentar. Nanti sore juga sudah kembali.”

“Oke, kalau gitu nanti sore aku akan menemui lagi ya?”

Aku mengangguk sambil tersenyum manis. Sungmin lalu menciumku dan meninggalkanku. Tidak lama kemudian, orang yang aku tunggu-tunggu datang. Dia adalah seorang editor dari penerbit yang mau menerbitkan bukuku, namanya Zhoumi. Kami berbicara serius sampai lupa waktu. Sampai tidak sadar bahwa hari sudah sore. Zhoumi pun pamit pulang karena memang sudah tidak ada urusan lagi. Hanya saja, sialnya, Sungmin tepat berada di depan kamarku saat aku membuka pintu kamarku untuk Zhoumi yang mau pulang ini.

Jantungku berdetak cepat sekali. Aku tahu Sungmin marah padaku. Dari matanya aku dapat melihat aura kebencian dan kekesalan yang memuncak. Tanpa banyak bicara, Sungmin langsung meninggalkanku.

“Aku tahu akan begini jadinya jika dia melihatku,” kata Zhoumi. “Aku harap kalian akan baik-baik saja. Maaf sudah mengganggu.”

Aku menggangguk sopan lalu segera masuk kembali ke dalam kamar begitu ia pulang. Aku langsung mengambil ponselku dan menghubungi Sungmin tapi tidak diangkat. Pesan yang aku kirim pun tidak dibalas. Akhirnya aku memutuskan untuk menemui dia di kamarnya. Aku segera berlari ke sana.

.flashback end.

“Kenapa kau masih menemuinya?” tanya Sungmin dengan tajam.

“Dia editor yang dipilih penerbit untukku, Sungmin. Mau tidak mau aku harus bertemu dengannya,” jawabku.

Sungmin melepaskan pelukanku dari tubuhnya lalu masuk ke dalam meninggalkan aku sendirian. Aku mengikutinya. “Aku minta maaf tidak memberitahumu karena aku tahu kau membencinya tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya penerbit yang mau menerbitkan novel-novelku memilih dia. Aku mohon, mengerti keadaanku,” kataku penuh kemelasan.

Sungmin duduk di depan laptopnya tanpa bergeming sedikit pun seolah tidak ada aku di dekatnya. Dia tidak mempedulikan aku.

“Sungmin ah,” panggilku, berharap dia menyahutnya tapi ternyata dia diam saja.

Aku menyerah. Aku duduk di sofa ruang tivi dan memperhatikan Sungmin yang masih duduk manis di depan laptopnya. “Sungmin ah,” panggilku lagi.

Sungmin tidak menjawab tapi ia mendatangiku sambil membawa selembar kertas. “Ganti penerbit saja. Ini alamat penerbit yang mau menerbitkan novelmu. Bawa naskahmu ke sana,” kata Sungmin.

Aku mengambil kertas itu dengan ragu-ragu. “Mana bisa begitu. Aku… Sudah tanda tangan kontrak, Min. Maaf,” kataku pelan.

Aku menatap Sungmin dan tidak ada pancaran apapun di sana. Matanya kosong. Dia terlalu kecewa kepadaku.

“Terserah apa maumu sekarang. Aku tidak akan berkata apapun. Semua kamu mulai sendiri berarti kamu harus menjalaninya sendiri,” kata Sungmin.

“Sungmin ah,” kataku pelan penuh penyesalan. “Aku mohon, jangan menyiksaku seperti ini. Aku minta maaf.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu pulang saja sekarang. Mungkin kamu besok masih ada perlu dengannya,” kata Sungmin dengan sinis.

Aku tidak tahan lagi. Aku segera bangkit berdiri untuk memeluknya. Aku memaksa mendekatkan tubuhnya kepadaku. “Aku tahu aku salah karena tidak melibatkanmu tapi aku harus segera membuat keputusan. Maaf ya sudah membuatmu kesal. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam dengannya,” kataku sambil menunjukkan senyumku yang paling ampuh untuk meluluhkan hati Sungmin.

Sungmin sedikit melunak. Dia sudah mau aku peluk. “Baiklah. Aku percaya padamu. Tapi ingat, jangan sampai kau terpesona padanya,” katanya lalu mencium keningku.

“Terima kasih. Aku janji tidak akan jatuh ke tangan Zhoumi. Dia sungguh-sungguh masa laluku,” kataku serius sambil tersenyum.

. . .

Aku terbangun pagi-pagi sekali karena ada yang tiba-tiba menyusup ke dalam selimutku lalu memeluk dan menciumku. “Selamat pagi,” katanya dengan lembut tepat di telingaku.

Aku membuka mataku perlahan dan menemukan Sungmin sedang tersenyum jahil di sebelahku. “Eumh… Sedang apa kamu pagi-pagi di sini?” tanyaku.

“Membangunkanmu,” jawab Sungmin.

“Maksudku, ngapain kamu pagi-pagi sudah ke kamarku?”

Sungmin menaikkan salah satu alisnya. “Hei, ini kamarku. Kamu semalam ketiduran di sini dan sekarang aku mau merebut tempat tidurku lagi. Minggir,” katanya sambil mendorongku keluar dari kasurnya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Dasar jahat,” sahutku.

“Hei, kau sudah 8 jam membiarkanku tidur di sofa sampai tulang-tulangku sakit. Sekarang gantian. Sudah sana, buatkan aku sarapan saja.”

Dengan wajah cemberut, aku keluar dari kamar tidurnya sambil menggerutu tetapi sesungguhnya aku sangat bersyukur karena Sungmin sudah normal kembali. Moodnya sudah jauh membaik dibanding semalam.

Mengingat semalam, aku jadi ingat kenapa aku bisa sampai tertidur di sini.

.flashback.

Setelah Sungmin mencium keningku, aku membuatkan coklat hangat untuknya sebagai teman ngobrol kami.

“Bagaimana show mu kemarin?” tanyaku.

“Puji Tuhan, lancar. Fans pun sangat mendukung. Aku tidak menyangka akan sesukses ini,” jawabnya.

“Benarkah? Senang sekali mendengarnya!” sahutku dengan riang. “Kalau begitu, aku akan memberimu hadiah!”

“Apa?”

“Tutup dulu matamu.”

Sungmin lalu menutup matanya dan aku mengulurkan tanganku dengan telapak yang terbuka. “Buka matamu sekarang,” kataku.

“Mana hadiahnya?” tanya Sungmin.

Dengan senyum jahil aku menjawab, “Ucapan selamat dariku.”

“Haish!” Sungmin menyalam tanganku tapi tangannya yang satu lagi berhasil memencet hidungku keras sekali sampai aku berteriak kesakitan. “Rasain,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Aku masuk ke dalam kamar Sungmin untuk memeriksa hidungku. Tidak kenapa-kenapa tapi rasanya masih nyeri sekali. Sebagai aksi balas dendam, aku tidak mau keluar dari kamar. Panggilan Sungmin pun tidak aku jawab. Aku baru mau keluar kalau Sungmin menjemputku tapi sampai aku tertidur dia tidak datang juga.

.flashback end.

Aku membuat semangkung ramen lalu mengantarkannya kepada Sungmin di kamarnya. “Sarapan pagi siaaaap!” seruku dengan volume suara yang sengaja aku kencang-kencangkan.

“Haish! Berisik sekali. Bawa sini makananku lalu siapkan bajuku. Pilihkan yang terbaik!” balas Sungmin dengan gayanya yang khas untuk menindasku.

“Hah, dasar jelek,” kataku tapi tetap menuruti perintahnya.

Aku memilih baju untuk dibawa Sungmin lalu mengepaknya ke dalam tas berpergiannya.

“Kamu harus bisa menjaga dirimu baik-baik selama aku pergi. Mengerti?” kata Sungmin.

“Tentu saja, bos! Tenang-tenanglah kau di Beijing. Nikmati show mu. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku,” sahutku.

“Terutama dengan Zhoumi. Jangan terlalu dekat dengannya.”

“Ya Tuhan, kau sudah mengatakannya ratusan kali sejak kita pacaran. Aku tidak akan tertarik padanya, sayangku yang paling tampan.”

“Bagus kalau begitu.”

“Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu. Jaga diri baik-baik di Beijing. Jangan lupa telpon aku ya.”

Sungmin mengangguk paham lalu mengantarkanku sampai ke pintu apartemennnya. “Sampai jumpa lusa.”

Aku lalu kembali ke kamarku untuk bersiap-siap bertemu Zhoumi. Aku ada janji dengannya.

. . .

Aku sudah duduk kurang lebih dua jam di ruangan Zhoumi tapi dia belum muncul juga. Dia sedang rapat dengan atasannya. Aku merasa bosan. Ditambah lagi Sungmin juga belum meneleponku. Aku jadi cemas.

Aku mencoba menghubungi Sungmin tapi hapenya mati. “Mungkin dia belum sampai,” batinku.

Sejam kemudian, Zhoumi muncul bertepatan dengan telpon dari Sungmin. Dengan terpaksa, aku mematikan ponselku.

“Maaf menunggu lama,” kata Zhoumi.

“Tidak apa-apa. Bagaimana rapatmu?” sahutku.

“Lancar tapi alot. Hahaha. Oh ya, minggu depan novelmu sudah bisa cetak.”

“Sungguh?”

Zhoumi menganggukkan kepalanya dengan mantap sambil tersenyum.

“Ah, Zhoumi. Terima kasih banyak. Aku tidak tahu akan jadi apa novelku tanpa kamu,” ucapku dengan berbinar kesenangan.

“Kalau begitu, kau harus mentraktirku. Besok malam jam 7. Deal?”

“Traktir apa?”

“Lihat saja besok.”

aku bingung. “Kau mengajakku keluar besok ke tempat yang kau tunjuk tapi aku yang traktir?” tanyaku.

“betul.”

“tapi ini bukan kencan kan?”

“Rasanya bukan. Hehehe.”

“Oke kalau begitu.”

Zhoumi dan Jihyo saling melempar senyum.

“oh ya jangan lupa nanti acara makan malam si bos. Datang ya?” kata Zhoumi.

“Tentu saja,” jawab Jihyo.

“Kau berangkat sama Sungmin atau sendiri?” tanya Zhoumi.

“Kalau Sungmin tidak bisa ya aku pergi sendiri,” jawab Jihyo.

“Oh, daripada kau pergi sendiri lebih baik sama aku. Hubungi saja nanti ya.”

Jihyo tidak menolak tapi tidak juga mengiyakan. Ia hanya tersenyum lalu meninggalkan ruangan Zhoumi. Jihyo kembali ke apartemennya.

. . .

Jihyo sudah mau marah2 ketika melihat Sungmin masuk ke dalam kamarnya, meskipun pacarnya itu sudah bersih wangi ditambah lagi ketampanan yang tidak pernah bisa hilang dari wajah pria itu, tetapi Jihyo berhasil meredam emosinya. Jihyo hanya memandang Sungmin sedetik lalu kembali berpaling ke laptopnya.

“Halo, sayang,” sapa Sungmin mesra sambil meraih kepala Jihyo tapi Jihyo lebih cepat menghindar. “Kamu kenapa? Dingin banget. Gak kayak biasanya.”

Jihyo tidak berkata-kata, dia hanya memberikan laptopnya kepada Sungmin, memaksa pacarnya untuk menatap layar laptop yang menampilkan gambar yang dari tadi sudah memancing emosi Jihyo.

“Seminggu pergi tanpa kabar. Katanya mau bikin video klip tapi ternyata mesra-mesraan dengan wanita lain,” kata Jihyo jengkel.

Kekasih mana yang tidak jengkel melihat pacarnya mengelus2 punggung wanita lain meskipun hanya foto, apalagi punggung itu polos hanya seutas tali bikini yang bertengger di sana.

“Darimana kamu dapat foto ini?” tanya Sungmin datar, berusaha tetap santai meskipun dalam hati kepanikan luar biasa menyergapnya.

Jihyo menghela nafas kecewa. Dia berharap Sungmin akan menjelaskan sesuatu yang akan menenangkannya tapi ternyata Sungmin lebih mencemaskan asal foto itu.

“Haha. Kalau kau mau tahu darimana asalnya, internetku tersedia 24 jam gratis untuk menyelidikinya,” kata Jihyo sinis.

Sungmin tersenyum muram lalu menelepon manajernya, “Aku sudah lihat beritanya. Aku tidak ada apa-apa dengan dia. Iya. Baiklah. Terima kasih.”

Jihyo menatap Sungmin dengan mata penuh tuntutan penjelasan.

“Sumpah aku tidak ada apa-apa dengannya. Waktu itu dia hanya minta tolong aku untuk mengoleskan lotion di punggungnya,” kata Sungmin dengan jujur.

“Kenapa kau mau?”

“Kucing mana yang tidak menolak ikan asin?”

“Terserah kaulah. Terus bagaimana kau menjelaskannya ke publik?”

“Manajemen yang akan mengurusnya.”

“Apa aku harus berurusan dengan manajemenmu juga?”

“Aku minta maaf. Sungguh tidak akan terulang lagi.”

“Kau kumaafkan tapi jangan harap semudah dulu dapat kepercayaan dariku.”

Jihyo lalu masuk ke kamarnya dan bersiap-siap. Beberapa menit kemudian dia keluar sudah dengan gaun dan dandanan yang sangat mempesona.

“Kau mau kemana?” tanya Sungmin kaget.

“Ada jamuan di penerbitku,” jawab Jihyo ringan.

“Dengan Zhoumi?” tanya Sungmin lagi dengan lebih tajam.

“Sebentar lagi dia menjemputku. Sebaiknya kau pulang sekarang,” jawab Jihyo asal.

“Aku ini pacarmu tapi kenapa rasanya seperti selingkuhan?”

“Aku juga pacarmu tapi rasanya seperti…bukan siapa2.”

“Kau marah padaku? Kau bilang sudah memaafkan aku,” kata Sungmin sambil mengelus lengan Jihyo dengan lembut.

Jihyo berusaha tampak dingin meskipun tubuhnya sudah seperti tersengat listrik. Dalam hati sudah menggebu hasrat untuk memeluk kekasihnya tapi demi gengsi, Jihyo justru menepis tangan itu lalu melangkah ke pintu dengan santai.

Sungmin menyusul Jihyo dan beruntungnya ia karena selangkah lebih cepat. Sungmin lebih dulu meraih gagang pintu dan menguncinya.

“Kau tidak boleh pergi,” kata Sungmin.

“Aku akan teriak kalau kau melarangku,” ancam Jihyo.

“Tidak masalah. Lakukan saja apa maumu.”

Dengan santai, Sungmin melangkah masuk ke dalam kamar Jihyo sambil mengayun-ayunkan kunci pintu apartemen Jihyo dengan penuh kemenangan.

“Lee Sungmin! Kembalikan kunciku!” teriak Jihyo dengan lantang.

Sungmin pura-pura tidak mendengar. Dia malah naik ke tempat tidur dengan tenangnya.

“LEE SUNGMIN!”

Teriakan itu tidak diterge. Jihyo kehilangan kesabarannya. Clutch yang dari tadi ditentengnya sudah melayang ke wajah Sungmin. Serentetan pukulan sekarang yang harus diterima Sungmin.

“Hei, hei. Tenang, sayang,” kata Sungmin lembut dan menerima segala bentuk kemarahan Jihyo.

“Kau menyebalkan sekali tahu!”

Sungmin memeluk Jihyo untuk menenangkannya. “Maafkan aku ya, sayang. Aku yang akan menemanimu ke sana. Tunggu sebentar ya.”

Secepat kilat, Sungmin bersiap-siap dan dalam hitungan detik ia sudah sangat rapi dan tampan. “Ayo kita pergi, sayang,” kata Sungmin lembut sambil menggandeng Jihyo. Dengan perlahan, Jihyo mengikuti Sungmin dan mereka pun pergi ke perhelatan yang diadakan penerbit novel Jihyo.

Dalam perjalanan Jihyo tidak bersuara sama sekali. Jika diajak bicara dengan Sungmin, jawabannya hanya anggukan atau gelengan kepala.

“Ih, sayangku kalau marah tambah cantik deh. Makin lama marahnya makin seksi,” goda Sungmin sambil menggelitik pinggang Jihyo.

Jihyo tidak bereaksi apa-apa kecuali berkata, “Berisik.” dengan tajam dan dingin. Seketika itu juga Sungmin terdiam. Dia tidak banyak bicara lagi sampai ke tempat acara.

– – –

Jihyo dan Sungmin berjalan berdampingan meski terpisah beberapa meter. Mereka masuk ke dalam ruangan yang terisi dengan beberapa meja makan panjang2 dan makanan2 enak yang telah tersedia di atasnya.

Jihyo segera masuk diikuti Sungmin untuk menyapa bosnya terlebih dahulu. Setelah itu menyapa teman2nya lalu duduk di salah satu kursi yang telah disiapkan Zhoumi.

“Ke sini,” kata Zhoumi kepada Jihyo sambil melambai-lambaikan tangan. Jihyo menghampirinya diikuti oleh Sungmin yang sudah bermuka masam.

“silahkan duduk,” kata Zhoumi ramah. “aku pikir kau tidak jadi datang loh.”

“haha. Ada sedikit masalah tadi,” kata Jihyo lalu duduk di sebelah Zhoumi sedangkan Sungmin sudah lebih dulu duduk si sebelahnya.

Ini akan menjadi malam yang panjang buatnya.

. . .

“Ayo kita pulang,” kata Jihyo pada Sungmin setelah dia berpamitan pada bosnya dan teman-temannya.

Dengan muka masam, Sungmin menuruti Jihyo meskipun banyak protes, “Aku kok jadi kayak supir dibuatmu?!”

“Tidak kok. Kalau kau tidak suka turunkan saja aku disini,” kata Jihyo tenang tapi dalam.

Sungmin tidak mendebat lagi. Dia terus mengemudikan mobilnya sampai apartemen mereka. Jihyo keluar dari mobil tanpa menunggu Sungmin. Karena itu, Sungmin harus berlari mengejar pacarnya itu.

“Jihyo ah, cepat sekali jalanmu. Gak sakit dengan sepatu setinggi itu?” kata Sungmin di dalam lift sambil menunjuk stiletto 9cm yang dipakai Jihyo.

“Kau bawel sekali sih daritadi. Aku ini masih marah padamu,” kata Jihyo.

Sungmin tiba-tiba memencet tombol untuk menghentikan lift. “Kau mau aku bagaimana supaya kau tidak marah lagi?” tanya Sungmin. “Aku mohon lupakanlah. Mau seribu kali aku mencuci tanganku kalau kamu tidak melupakannya percuma. Aku mengaku salah dan minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya. Aku mohon jangan marah apalagi meninggalkan aku. Aku bisa mati.”

Sungmin bicara panjang sekali. Jihyo tidak tahan lagi. Gadis itu mengunci mulut Sungmin dengan mulutnya selama beberapa detik. “Kau berisik sekali. Aku tidak butuh penjelasanmu,” kata Jihyo lalu tersenyum. “Lain kali buktikan kau memang tidak bisa hidup tanpa aku.”

-THE END-

@gyumontic