Part X

Aku sudah seperti orang tidak bernyawa hari ini. Ketika para member pergi ke stasiun tv dengan dandanan seperti biasa, aku datang hanya dengan modal menyisir rambut. Tidak ada gairah sama sekali. Apalagi hari ini aku harus syuting acara SJ’s foresight dimana Kyuhyun salah satu MCnya. Rasanya seperti hidup segan mati pun tak mau tapi seperti biasa ceria yang harus tampil depan kamera.

“Ah, aku punya pertanyaan buat kalian. Siapa favorit kalian di antara kami? Ye, dimulai dari Min Ah-ssi,” tanya Leeteuk oppa sambil menunjuk dirinya, Kyuhyun, Eunhyuk, Yesung dan Shindong yang berperan sebagai MC acara ini.

“Nae oppa Park Jungsu,” jawab Min Ah sambil menunjuk Leeteuk oppa. Seketika Leeteuk oppa tertawa girang sesuai ciri khasnya. “Ah, cowa cowa cowa, dongsaengi,” ucapnya.

“Kalo gitu, Min Ah coba tampilkan sesuatu untuk Leeteuk oppa. Apa yang mau kamu tampilkan?” ujar Shindong oppa.

“Aku akan meniru cara oppa tertawa seperti tadi,” kata Min Ah lalu menirukan gaya tertawa Leeteuk oppa yang membuat Leeteuk oppa tertawa senang lalu memeluk Min Ah.

“Kau memang benar-benar dongsaengku. Kkkkkk,” ucap Leeteuk oppa.

“Ne, ne. Sungguh-sungguh mirip tapi untungnya Min Ah masih waras tidak seperti Leeteuk hyung,” tambah Eunhyuk oppa yang membuat Leeteuk oppa tertawa lagi.

“Selanjutnya Hamun, kau paling suka pada siapa?” tanya Kyuhyun oppa.

Hamun memandang kelima MC lalu menjawab, “Karena aku main dancer, aku kagum pada Eunhyuk oppa.”

Eunhyuk oppa bangkit berdiri untuk memeluk Hamun tapi belum sempat Eunhyuk melakukannya, Hamun menambahkan, “tapi aku lebih suka Donghae oppa.”

Semua studio tertawa. Eunhyuk memasang wajah kecewa dan kembali ke tempat duduknya. “Tapi Donghae kan bukan MC acara ini. Berarti tetap aku pilihan Hamun,” ucapnya membanggakan diri.

Hamun hanya mengangguk-angguk sambil tertawa. “Ye, ye, kalau gitu aku akan menari dengan oppa,” kata Hamun.

Hamun dan Eunhyuk oppa pun langsung menari begitu musik dipasang dan kembali ke tempat masing-masing begitu musik mati.

“Bagaimana dengan Jihyo dan Hyun Ah? Siapa yang paling kalian suka?” tanya Leeteuk oppa.

“Hyung oppa,” jawab Jihyo sambil menunjuk Kyuhyun.

“Ah, pilihanmu tidak salah, Jihyo ssi,” sahut Kyuhyun oppa  dengan tampang belagunya lalu tertawa.

Jihyo hanya tertawa. Lalu Hyun Ah menjawab, “Yesung oppa! Dia yang terbaik.”

“Ah, kamsahamnida,” ucap Yesung oppa dengan sopan. “Kau pasti akan sukses karena sudah memilihku. Ha ha ha ha ha!”

Aku sungguh-sungguh tersiksa harus memaksakan diri untuk tertawa seperti ini. Meskipun tingkah Yesung oppa sangat lucu, aku tetap tidak mau ketawa.

“Oke, save the best for the last. Hyejinssi!!” seru Yesung oppa sambil bertepuk tangan. “Siapa favoritmu?”

Aku berpikir sejenak lalu tiba-tiba Kyuhyun oppa menyeletuk, “Pasti aku.”

“Kau terlalu PD, Kyu,” ujar Yesung oppa.

Aku menatap mereka semua dan menjawab, “Aku suka pada semuanya. Semuanya favoritku termasuk member SJ lain yang tidak ada di sini.”

“Ah, jawabanmu terlalu diplomatis,” ujar Yesung oppa. “Tapi tidak masalah. Kami semua memang pantas disukai. Hahahaha.”

Aku merasa lega sekali ketika syuting sudah mau berakhir. “Oke terakhir, kami simpulkan bahwa SG pasti akan berjaya seperti sunbae-sunbaenya,” ucap Shindong oppa.

“Ne, ne. Sampai jumpa,” sahut Eunhyuk oppa.

“Cut! Okay!” seru PD-nim.

“Kamsahamnida, kamsahamnida, kamsahamnida,” ucapku kepada semua kru yang ada lalu pergi meninggalkan studio dan masuk ke ruang tunggu.

Aku duduk memandangi hapeku. Rasanya aku mau menelepon Jejung oppa tapi pasti dia sedang sibuk.

“Hhh, gak tau ah,” gerutuku.

Tiba-tiba Kyuhyun oppa datang dan langsung mencecarku, “Kau kenapa sih? Daritadi bawaannya cemberut mulu. Ada masalah?”

Aku hanya menggeleng lalu membereskan barang-barangku. “Aku pulang dulu. Sampai jumpa,” ucapku dingin.

“Hei, Hyejin. Kau kenapa sih sebenarnya?” tanya Kyuhyun tapi aku pura-pura tidak mendengar. Aku terus berjalan keluar ruang tunggu.

Jadwal SG selanjutnya adalah tampil di SBS Inkigayo lalu lanjut ke studio untuk pembuatan MV single kedua kami. Dalam perjalanan atau waktu kosong, aku tidak banyak bicara. Aku lebih memilih mendengarkan pembicaraan member-memberku.

“Ah, aku lapar,” ujar Hamun dalam perjalanan dari SBS ke studio.

“Aku juga. Apa kita tidak bisa makan dulu, onni?” tanya Jihyo pada manajer kami.

“Di studio nanti ada makanan kok,” jawab manajer onni lalu bertelepon entah dengan siapa. “Ne, arraseo. Aku akan segera kesana setelah mengantar SG.”

Hamun dan Jihyo tampak kecewa. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk mengusir rasa lapar, Hamun membaca komik yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi sedangkan Jihyo tampaknya bertelepon dengan Sungmin oppa.

“Ne, jagi. Aku mau syuting MV. Ini lagi di jalan. Oppa lagi apa? Udah makan?” kata Jihyo. “Ah, syukurlah. Gimana syuting hari ini, oppa? Lancar? Aaaah, aku kangeeeen. Nanti ke dorm ya? Ya?”

Tampaknya Sunghyo couple tidak perlu dikhawatirkan. Aku beralih ke Hyun Ah dan Min Ah yang sibuk sendiri dengan gadgetnya masing-masing.

“Hei, Min Ah, Hyun Ah, apa oppadeul menghubungi kalian?” tanyaku iseng.

“Tadi hanya meneleponku sekali,” jawab Min Ah.

“Yuchun oppa tidak ada kabar,” jawab Hyun Ah.

“Jungpa juga. Susah sekali menghubungi dia,” ujarku sedikit berbohong agar tidak membuat Hyun Ah sedih karena Yuchun oppa.

“Mereka sibuk sekali kayaknya,” kata Hyun Ah dengan santai.

Aku mengangguk-angguk. Tampaknya Hyun Ah sudah lebih baik.

Tidak lama kemudian, kami sudah sampai di studio. Kami segera berganti kostum dan didandani. Karena mepetnya waktu, semua harus dilakukan dengan kilat. Bahkan untuk makan pun harus kami sambil saat tidak dapat giliran pengambilan gambar.

“Hash onni, aku capek sekali hari ini,” kata Hamun padaku begitu bagiannya sudah selesai.

“Aku juga. Untung bagianku selesai pertama jadi bisa istirahat,” sahutku.

Hamun tersenyum. Dia lalu berdiri memberikan semangat kepada 3 member lain, “Jung Hyun Ah onni, hwaiting! Park Min Ah onni, hwaiting! Choi Jihyo onni, hwaiting!”

Aku merasa malu pada Hamun tapi aku benar-benar sedang tidak ada minat melakukan apapun. Aku harap mereka mau memaafkanku.

“Hamun, tumben Kibum oppa tidak menemanimu. Apa dia sedang sibuk?” tanyaku lagi-lagi iseng. Aku hanya ingin ngobrol santai sekarang.

Hamun menatapku dengan heran. “Loh? Onni belum tau ya? Aku sudah putus dengan Kibum oppa. Memang aku belum cerita ya?” ujarnya.

Aku terkejut. “Belum. Kau belum cerita. Kapan? Kenapa?” tanyaku ingin tahu lebih dalam.

“Sudah lama sebenarnya cuman baru benar-benar kami putuskan kemarin. Aku merasa kami hanya seperti kakak-adik dibandingkan pacaran,” jawab Hamun. “Lagipula aku juga sudah jatuh cinta pada namja lain.”

“Siapa?”

“Siwon oppa.”

Aku jauh lebih terkejut mendengar pengakuan Hamun ini. Aku tidak pernah tahu Hamun punya perasaan khusus pada namja yang bahkan bicara dengannya saja jarang. “Sejak kapan kamu menyukai Siwon oppa?” tanyaku.

“Entah. Awalnya aku hanya merasa kasihan padanya karena Min Ah onni terus menggantungnya padahal dia berharap banyak pada Min Ah onni. Dia bahkan rela mempertaruhkan karirnya demi Min Ah onni. Tapi lama-lama rasa kasihan itu jadi simpati dan berubah jadi cinta padanya, apalagi setelah Min Ah onni tidak memilihnya. Dia sangat hancur dan membuatku ingin selalu di sampingnya, menjadi kekuatan untuknya,” ujar Hamun.

“Lalu Siwon oppanya bagaimana terhadapmu?” tanyaku.

“Akhir-akhir ini kami jadi lebih dekat tapi tampaknya dia belum bisa melupakan Min Ah onni,” jawab Hamun dengan tenang. “Aku tidak mempermasalahkannya. Aku tidak mengharapkan balasan apapun darinya. Lagipula toh dia belum bisa punya hubungan khusus dengan wanita manapun. Yang penting bagiku, dia tahu aku selalu ada untuknya kapan pun dia butuh.”

Aku begitu terharu mendengar semua ucapan Hamun. Di usianya yang masih sangat muda dia sudah berpikir yang lebih dewasa. Berbeda denganku, yang sudah tua tapi masih egois, mementingkan kepentingan diriku sendiri. Aku bahkan menyia-nyiakan pacarku sendiri yang datang kepadaku karena khawatir padaku. “Ah, Hyejin babo,” batinku pada diriku sendiri.

“Apa Jihyo tau mengenai hal ini?” tanyaku.

Hamun mengangkat bahunya. “Entahlah, onni. Aku tidak pernah cerita padanya. Dia yang selalu bercerita padaku tentang Sungmin oppa-nya sampai kadang-kadang aku muak,” ujar Hamun.

Aku hanya tertawa. Jihyo memang seperti itu. Dia senang berbagi suka dukanya kepada orang lain tanpa peduli orang itu suka atau tidak. “Jihyo begitu karena ia merasa dekat dengan kamu,” kataku.

“Iya aku tahu, onni,” sahutnya sekaligus menutup pembicaraan kami.

Sekarang tinggal Jihyo yang masih punya tanggungan. Kami pun mau gak mau harus menunggunya sampai selesai baru pulang ke dorm karena kalau mau pulang duluan, waktunya juga tanggung. Lebih baik sekalian.

Dorm! Aku cinta dorm ku. Aku langsung masuk kamar begitu sampai di dorm. Merebahkan tubuhku di kasur sambil memeluk boneka beruang besar kesayanganku adalah hal terindah di dunia ini. Aku mau istirahat! Tapi baru aku mau memejamkan mata, seseorang masuk dan menggangguku.

“Hello, jagiya…,” ujar Kyuhyun dengan penuh semangat sambil memencet hidungku.

“Aaaauw! Sakit tahu!” seruku kesakitan tapi Kyuhyun oppa hanya tertawa-tawa.

“Nih aku bawa roti kesukaanmu. Blueberry segala rasa,” ujarnya sambil menyerahkan sekantong roti isi blueberry kesukaanku.

Aku menerimanya dan langsung memakan roti cheese-blueberry. “Gomawo, oppa,” kataku dengan perasaan yang lebih baik.

“Cheonmaneyo, jagiya. Enak kan rotinya?”

“Iya. Enak banget. Perasaanku jadi lebih baik sekarang.”

“Ah syukurlah. Aku cemas sekali tadi siang. Kau cemberut terus. Aku pikir kau marah padaku.”

“Sebenarnya tidak marah. Hanya merasa kesal karena omelanmu semalam padahal aku sudah minta maaf karena melupakan kencan kita,” ujarku jujur.

“Ya ampun, jagi. Maafkan aku ya? Aku beneran minta maaf ya,” kata Kyuhyun memohon sungguh-sungguh.

Aku tersenyum menatapnya. “Tidak semudah itu memaafkanmu tahu,” ujarku galak. Aku bermaksud mengerjainya.

“Loh? Kok gitu? Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kyuhyun mulai panik.

“Ya gak tau. Pikir aja sendiri!”

Aku berusaha segalak mungkin tapi tawaku tidak bisa tertahan lagi. Saat itu juga aku meledak. “Hahahahahahahahahaha. Oppa kena aku kerjain. Hahahahahahaha. Aku sudah tidak kesal kok. Kan udah dibawain roti selusin. Hahahahahahaha,” ujarku.

Kyuhyun oppa terlihat lega aku bisa tertawa terbahak-bahak. Dia menjitak kepalaku lalu memelukku. “Jagi udah mulai nakal ya. Awas. Lihat pembalasanku nanti. Hohoho,” kata Kyuhyun oppa.

Aku merasa sangat nyaman dalam pelukannya. Sel-sel di tubuhku rasanya hidup lagi. Energi dan semangat juga mulai terisi ulang. Harusnya daritadi aku begini.

Sepanjang malam, aku dan Kyuhyun oppa saling bercerita, bertukar pikiran mengenai masalah kami masing-masing terutama karir sampai kami lupa waktu. Kami baru berhenti ketika jam di meja lampu kamarku menunjukkan pukul 3 pagi dan aku sudah memakan hampir setengah lusin roti pemberian Kyuhyun oppa.

“Ah, waktu cepat sekali. Masa udah jam 3? Aku harus pulang dong sekarang,” katanya ketika sadar hari hampir subuh.

“Kalau mau nginep, gak ada yang melarang kok. Oppa bisa tidur di kamar tamu,” usulku.

“Ngapain jauh-jauh nginep ke sini kalau ujung-ujungnya tidurnya sendirian, di kamar tamu pula.”

Aku hanya tertawa mendengar jawabannya yang sangat lucu. “Ya sudah, kalau gitu oppa pulang sana. Istirahat. Biar besok bisa syutang syuting lagi,” kataku.

“Ne, jagi. Aku pulang dulu ya. Kau juga istirahat. Jangan mikir yang aneh-aneh yang buat kamu pusing sendiri. Okeh?”

Aku mengangguk. “Okeh, bos! Siap.”

Kyuhyun oppa mengecup keningku lalu keluar dari dorm. Dia bisa membuat aku tidur nyenyak sekarang. Aku merasa sangat diberkati memiliki pacar seperti Kyuhyun oppa, super jahil tapi juga super baik!

 

..to be continued….