Part XI

Entah kapan terakhir kali SG bisa liburan seperti kali ini. Meskipun hanya seminggu rasanya sangat berarti. Hyun Ah dan Min Ah memutuskan akan ke Jepang demi hati mereka. Sedangkan aku, Jihyo dan Hamun tidak tahu mau kemana.

“Kami berangkat dulu ya,” kata Hyun Ah dan Min Ah pada kami bertiga saat kami mengantarkan mereka ke bandara.

“Selamat berjuang ya, onnideul! Hwaiting!” ujar Hamun dengan penuh semangat.

“Salam untuk DBSK oppadeul ya,” ujarku.

“Jangan lupa oleh-oleh!” tambah Jihyo.

Kami saling berpelukan sebelum Hyun Ah dan Min Ah masuk ruang boarding. Setelah itu kami pulang.

“Jadi, apa kalian ada ide bagaimana kita menghabiskan liburan kita?” tanyaku pada Jihyo dan Hamun.

“Aku akan menghabiskannya bersama Sungmin oppa, onni. Aaaah, senangnya!” jawab Jihyo dengan ceria.

“Kalau kau, Hamun?”

“Sekolah, onni. Sekolahku kan tidak libur,” jawab Hamun.

Aku terkadang lupa bahwa Hamun masih sekolah saking lebih seringnya ia berada di studio atau lokasi syuting atau stasiun tivi dibandingkan di sekolah. Tapi hal ini mendatangkan ide buatku, “Aku akan mengantar jemputmu sekolah, Hamun! Bagaimana?”

“Onni serius?” tanya Hamun tampak tidak percaya.

“Serius! Beneran deh. Aku janji tidak akan telat. Gimana? Mau ya? Ya?”

Hamun berpikir sebentar. “Oke. Tapi onni janji jangan telat antar jemput aku loh ya.”

“Siiip. Tentu saja.”

Akhirnya aku punya hal yang bisa dilakukan selama liburan seminggu.

Sebelum pulang ke dorm, aku mengantarkan Jihyo ke studio untuk menemui Sungmin oppa kesayangannya lalu mengantarkan Hamun ke sekolahnya untuk menuntut ilmu. Begitu sampai dorm, aku langsung merapikan dorm yang berantakannya minta ampun. Kapal karam pun kalah berantakan. Setelah rapi, aku segera mandi lalu pergi cuci mata ke Apgujudeong sambil menunggu Hamun pulang sekolah. Antar jemput Hamun, merapikan dorm, belajar masak, dan tentu saja shopping serta merawat diri tampaknya kombinasi yang bagus untuk liburan kali ini.

Saat aku sedang minum coklat di salah satu kafe, tidak sengaja aku bertemu dengan Siwon oppa. Dia menyapaku lebih dulu, “Annyeonghaseyo, Hyejinssi.”

“Annyeonghaseyo oppa. Apa kabar?” balasku.

“Baik, baik. Kau sendirian saja? Mana yang lainnya?”

“Kami lagi liburan jadi pada pergi deh. Oppa sendiri sama siapa ke sini?”

“Aku juga sendirian,” kata Siwon oppa.

“Ah, kebetulan sekali. Kalau gitu kita minum bersama saja sambil ngobrol-ngobrol,” usulku.

“Ide bagus,” sahut Siwon oppa yang langsung duduk di mejaku begitu selesai memesan minumannya.

“Oppa gak ada syuting hari ini?” tanyaku memulai obrolan.

“Ada. Ini lagi istirahat jadi bisa jalan-jalan dulu ke sini. Refreshing,” jawabnya. “Dramamu yang bersama Joong Ki itu sudah tamat ya?”

“Belum kok, oppa. Yang season 1 emang sudah selesai produksi tapi belum selesai tayang seingatku. Sebentar lagi baru mulai produksi season 2,” jawabku.

“Wuih, laku keras ya kamu. Hehehehe.”

“Ah oppa bisa aja. Oh ya, gimana SS4, oppa?”

“Minggu ini mau encore di Shanghai. Sayang kalian tidak ikut padahal pasti seru kalau ada SG.”

“Hahaha. Oppa ini selalu deh. Bisa aja bikin hati orang melambung tinggi.”

Aku dan Siwon oppa ngobrol ngalor ngidul gak jelas sampe aku gak tahu kenapa topik obrolan kami bisa nyampe ke Hamun.

“Ah Hyejin, magnae-mu itu lucu sekali ya ternyata,” ujar Siwon oppa sambil senyum-senyum. “Masa pernah dia membelikanku es pelangi ketika aku suntuk beberapa waktu lalu. Katanya, hidup itu seperti pelangi. Warna-warni, ada warna merah yang melambangkan hati manusia yang panas kalau sedang marah atu kesal. Ada warna hijau yang melambangkan keteduhan dan lainnya lah. Anak itu hidupnya penuh filosofi ya?”

Aku tersenyum. “Hamun memang begitu. Badan saja yang berkembang sesuai usia tapi otaknya berkembang lebih cepat,” kataku.

“Iya tapi aku senang padanya. Dia sangat asik diajak ngobrol.”

Kalau Hamun mendengar hal ini dia pasti bersorak girang bukan main. Aku sudah bisa membayangkan ekspresinya dengan jelas dan aku tidak akan menceritakan hal ini padanya.

Siwon oppa harus kembali ke lokasi syutingnya dan aku juga harus menjemput Hamun. Jadi, berakhirlah pertemuanku dengan Siwon oppa. Aku pun segera meluncur ke sekolah Hamun.

Rupanya, Hamun sudah menunggu di gerbang sekolahnya. Dia langsung masuk mobil begitu aku datang. “Maaf ya, Hamun. Udah lama nunggu?” tanyaku.

“Lumayan. 15 menit. Onni darimana sih emangnya? Kan udah aku bilang jangan telat,” jawab Hamun.

“Iya, Hamun. Maaf. Tadi aku ke Apgujudeong, ketemu Siwon oppa loh. Aku ngobrol dengannya makanya agak telat,” ujarku menggoda Hamun.

Seketika Hamun langsung berubah menjadi seperti detektif. “Ngobrol apa aja? Ngomongin aku gak? Dia bilang apa aja?” tanya Hamun cepat-cepat saking penasarannya.

Aku nyengir lebar. “Kami cuman ngobrol soal kerjaan tadi, gak ada bahas-bahas kamu segala. Dia cuman tanya soal dramaku,” ujarku sedikit berbohong karena aku mau menggodanya. “Tapi tadi dia ada tanya kamu sedikit tapi aku lupa apa, Hamun.”

“Ah, onni. Ingat-ingat dong Siwon oppa tanya apa tentang aku. Ayo ingat-ingat, Onni,” kata Hamun dengan memelas.

Aku hanya tertawa. Aku merasa senang sesekali bisa ngerjain magnae satu ini. Hamun terus mendesakku tapi aku pura-pura tidak mengingatnya.

Tiba-tiba hapeku berbunyi. Ada video call dari Min Ah. Aku menepikan mobilku lalu menjawab panggilannya.

“Haaaai, Hyejin!!” seru Min Ah dan Hyun Ah dengan ceria.

“Kami sudah di Jepang loooh! Udah ketemu juga sama oppadeul. Hihihi, aku senang sekali,” kata Min Ah.

“Salammu juga udah kami sampaikan. Jungpamu tanya kenapa kau tidak ikut tuh,” kata Hyun Ah.

“Hahaha. Kalian tampak ceria sekali. Ciehcieh! Seharian sama Yunho oppa dan Yuchun oppa, gimana gak ceria. Iya kan?” sahutku.

“Eh, jangan salah… Seharian ini kami gak sama mereka tahu. Mereka benar-benar sibuk,” kata Hyun Ah.

“Yang penting kan udah ketemu. Rasa rindu sudah tersampaikan. Hihihi,” balasku.

“Betul sekali!” kata Min Ah.

“Oh ya? Kalian dimana sekarang? Mana oppadeul?” tanyaku.

“Di dorm DBSK di Jepang. Oppadeul masih ada jadwal. Mereka baru pulang nanti malam,” jawab Min Ah.

“Kalian akan menginap di situ?” tanyaku.

Min Ah mengangguk. Hyun Ah lalu muncul lagi. “Sudah dulu ya, Hyejin. Kami mau masak dulu buat oppadeul. Salam untuk Jihyo dan Hamun ya. Sampai jumpa minggu depaaaan! Muah!” kata Hyun Ah lalu memutus video call-nya.

Aku menaruh hapeku kembali ke dashboard mobil lalu kembali menyetir. “Kau dapat salam dari onnideulmu yang di Jepang, Hamun. Mereka senang sekali di sana,” kataku juga dengan perasaan senang.

“Iya, aku tahu onni. Aku daritadi kan mendengarkan,” sahut Hamun.

Aku nyengir malu. Hamun balas nyengir lalu kembali menanyakan Siwon oppa. Aku tetap pada pendirianku yang sedang usil, pura-pura tidak ingat. Aku hanya menggeleng-geleng bahkan sampai kami di dorm. Dalam hati, aku tertawa geli melihat Hamun yang begitu ingin tahu.

Rupanya liburan kami tidak sepenuhnya liburan. Saat aku bersiap mengantarkan Hamun ke sekolah dan Jihyo mau menemui Sungmin oppa, manajer kami tiba-tiba datang dengan membawa titah dari bos besar SM. “Kalian akan ke China hari ini. Kalian harus nonton konser SNSD di sana. Bos minta kalian mempelajari mereka. Ini tiket dan uang saku kalian,” kata manajer onni hampir tidak ada titik koma dalam intonasi bicaranya.

Jihyo, Hamun dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Kami terdiam saking terkejutnya. Liburan yang seharusnya dapat kami lakukan sesuka kami ternyata harus di atur juga.

“Heh? Kenapa diam? Ayo siap-siap,” kata manajer onni.

Jihyo kembali ke kamarnya mengambil tas baju dan paspornya. Begitu juga dengan Hamun. Aku menyusul kemudian setelah mengambil tiket dan uang saku dari manajer onni. Setelah itu baru kami ke bandara.

“Tau gini aku ikut Hyun Ah dan Min Ah ke Jepang saja deh. Ini bukan liburan namanya meskipun dikasih tiket gratis dan uang saku,” kataku.

“Betul. Aku setuju,” kata Jihyo.

“Aku kemana aja boleh asal tidak ketemu SNSD onnideul,” kata Hamun.

“Kenapa?” tanya Jihyo.

“Ya ampun, mereka itu seram sekali kalau sudah melihat kita. Rasanya seperti harimau yang mau menerkam mangsanya,” jawab Hamun.

“Aku mengerti maksudmu. Aku juga ngerasain hal yang sama setiap ketemu SNSD onnideul. Tampaknya mereka tidak suka pada kita,” sahut Jihyo.

Aku menghela nafas panjang. “Sudah, sudah. Walaupun kita tidak suka, kita tetap harus bertingkah seolah kita suka. Anggap kita datang untuk mendukung mereka. Ayo kita masuk pesawat sekarang,” kataku. Hamun dan Jihyo menurut. Kami duduk di pesawat dan siap menghadapi arranged-vacation kami dalam 2 jam ke depan.

Sesampai di China, kami pergi ke hotel langganan SME. Aku menyewa satu kamar dan meminta tagihannya dikirim ke SME. Seorang room boy super tampan yang mengantarkan kami ke kamar.

“Xie xie,” ucapku pada room boy itu sambil memberikan tip lalu masuk ke kamar.

Hamun dan Jihyo langsung menjatuhkan diri di kasur masing-masing begitu kami masuk kamar.

“Hahh, konsernya masih lama. Aku mau tidur dulu ya. Kalau sudah waktunya tapi aku belum bangun, itu artinya kita bakal telat ya, onni. Selamat tidur,” kata Hamun lalu langsung terlelap.

“Aku harap tempat konsernya tidak jauh dari sini. Aku akan memeriksa rutenya dulu,” ujar Jihyo sambil menyalakan ipadnya.

“Memang kau tahu dimana tempatnya?” tanyaku.

Jihyo menertawakanku. “Ya tentu lah, onni. Itu kan bisa dicari di internet. Gampaaaaang,” jawab Jihyo yang langsung sibuk dengan gadgetnya.

Aku merasa beruntung tidak harus pergi ke negeri ini sendirian. Kalau sendirian, aku rasanya akan memilih pura-pura sakit begitu sampai di China dan aku baru bisa datang kalau ada pihak SME yang menjemputku.

Aku menatap Hamun yang sudah terlelap. Aku rasa itu ide yang bagus. Aku membaringkan diriku di kasur yang empuk ini dan mencari posisi ternyaman. Tidak lama kemudian aku sudah menyusul Hamun memasuki alam mimpi sedangkan Jihyo, sang ratu gadget, masih sibuk dengan ipad, ipod dan iphone-nya. Aku hanya berharap saat bangun nanti, konsernya sudah selesai.

 

…to be continued….