Part XV

Aku tidak pernah merasakan hari semelelahkan hari ini. Lepas dari syuting iklan seharian, malamnya SG harus syuting lagi untuk acara EHB season 2 dimana SJ menjadi tamu permanennya. EHB adalah acara yang mempelajari anatomi tubuh manusia tapi dikemas dengan lebih ringan. Pada episode kali ini yang akan membahas indera penciuman manusia.

Setelah semua siap, MC Shin Dongyup membuka acara dan memanggil kami, “Dan bintang tamu khusus kita hari ini adalah Super Girls!” seru MC SJ-EHB season 2 dengan semangat.

Sambil melambai-lambai, kami muncul dari belakang panggung.

“Annyeonghaseyo, SG,” sapa Dong Yup oppa.

“Ne, annyeonghaseyo oppa,” sahut kami.

Setelah menyanyikan sedikit lagu kami, MC melanjutkan bicara. “Oke, kalian akan dibagi ke dalam tiga tim sembunyi dan satu tim pencari. Setiap tim sembunyi nanti akan disemprotkan parfum yang berbeda-beda, tugas pencari adalah menemukan tim sembunyi melalui bau mereka. Arasseo?”

“Aaah, arasseo arasseo,” jawab member SJ dengan ciri khas mereka yang kocak sedangkan SG hanya mengangguk-angguk sambil tertawa.

Entah bagaimana caranya, aku sudah tergabung di tim pencari bersama Siwon oppa, Kangin oppa, dan Kyuhyun oppa. Sedangkan yang lain terbagi menjadi 3 tim sembunyi.

Tim sembunyi segera bersembunyi di manapun mereka suka, selama masih berada di hutan lindung seluas entah berapa ribu meter persegi ini, tidak masalah. 15 menit setelah mereka bersembunyi, tim pencari mulai beraksi. Tanpa mereka ketahui, tim pencari membawa anjing pelacak untuk membantu dalam pencarian ini. Saat mereka bersembunyi, kami mengambil baju-baju mereka dan menyuruh anjing pelacak itu untuk membauinya. Jelas ini akan lebih mudah. Hoho.

Tim pencari menyisir lokasi mulai dari selatan. Tengok kanan kiri, memperhatikan setiap gerakan apapun, mengendus setiap bau parfum yang masuk ke hidung. 30 menit pertama, kami tidak berhasil menemukan siapa-siapa dan si anjing pun juga masih santai-santai mengendus tapi tidak lama kemudian, si anjing mulai agresif, dia mulai berlari kencang yang membuat Siwon oppa juga ikut berlari kencang karena ia yang memegang tali kekang si anjing. Aku berlari mengikuti Siwon oppa sedangkan Kangin oppa dan Kyuhyun oppa tetap berjalan dengan santai. Haish..

Aku bersemangat sekali untuk menemukan tim sembunyi dan merebut name tag mereka. Dengan nafas tersenggal-senggal, kini aku sudah berdiri di samping tim sembunyi pertama yang bersembunyi balik pohon-pohon jati. Senyum kemenangan terkembang di wajahku dan Siwon oppa. Kami mencabut name tag Leeteuk oppa, Ryeowook Oppa dan Hyun Ah dengan semangat tapi Henry oppa berhasil kabur.

“Kejar! Kejar!” seru Siwon oppa lalu bicara lewat walkie talkienya, “Hyung! Hyung! Henry menuju kalian. Tangkap dia dan cabut name tag-nya!”

Aku mendengar Kangin oppa menjawab dengan santai, “Ne. Ne. Arraseo. Tapi omong-omong berani sekali kau memerintah hyung mu. Harusnya aku yang memerintahmu.”

Siwon oppa tersadar lalu berkata, “Ah. Mianhe. Mianhe, hyung.”

Aku yang melihat Siwon oppa seperti itu malah tertawa sejadi-jadinya. Ekspresinya benar-benar lucu. Aku juga mendengar Kangin oppa dan Kyuhyun oppa malah tertawa-tawa dari walkie talkie.

3 jam berikutnya, kami berhasil menemukan semua tim sembunyi dan mengambil name tag mereka. Mereka banyak yang protes begitu tahu kami pakai anjing pelacak.

“Andweee! Mereka curang! Mereka bawa anjing segala. Andwee,” protes Eunhyuk oppa dengan gayanya. Kami hanya tertawa-tawa.

Akhirnya, Dong Yup oppa menutup acara dan syuting pun selesai. Kami langsung pulang ke dorm dengan segala kelelahan yang ada. Saking lelahnya aku tidak tau manfaat syuting tadi kecuali untuk lari-lari, gak ada pengaruhnya buat hidungku.

Semua member terlelap nyaris seperti orang mati saking lelahnya. Hamun bahkan sampai mengigau, “Ah Siwon oppa, kamu bisa saja. Aku tidak sehebat itu ah. Aku biasa-biasa saja. Aku harus masih banyak belajar.” Tampaknya hanya aku yang masih tidur dengan normal. Karena itu, aku tersadar saat Kyuhyun oppa meneleponku, “Hyejin ah! Ke dorm ku sekarang ya. Aku sendirian.”

“Mwo? Ini sudah malam,” kataku tapi rupanya Kyuhyun oppa tidak mau mendengar. Dia malah menutup teleponnya.

Mau tidak mau, dengan segala keengganan yang ada, aku bangun dari tempat tidurku dan keluar dari dorm. Aku hati-hati sekali mengemudikan mobilku karena aku sedang mengantuk. Akibatnya perjalananku ke dorm Kyuhyun oppa dua kali lebih lambat dari biasanya.

“Haduh. Kenapa kau lama sekali sih?” sambut Kyuhyun Oppa dengan gerutuannya.

Aku masuk ke dormnya dan duduk di ruang tivinya tanpa banyak bicara. Demi apapun yang ada di bumi, aku kesal setengah mati padanya. Karena itu aku lemparkan saja bantal sofa yang ada di dekatku ke wajahnya.

“Berisik sekali sih oppa! Udah aku bela-belain malam-malam kesini tapi malah kena omel. Huh!” kataku kesal.

Kyuhyun oppa tampaknya merasa bersalah tapi yang namanya Kyuhyun tidak akan mungkin mau menunjukkan wajah bersalahnya. Dia tetap saja mengomel padaku sambil menggandengku ke ruang makan, “Kalau kau datang lebih cepat makanan-makanan ini pasti masih hangat. Sekarang bukan tanggunganku kalau makanan ini rasanya sudah tidak enak.”

Aku melihat ruang makan dorm SJ dengan kagum, ada spaghetti, cream soup dan blackpepper beef yang semuanya merupakan kesukaanku. Selain itu juga ada sebotol wine favorit Kyuhyun.

“Opp..oppa menyiapkan ini untuk aku?” tanyaku kaget sekaligus terharu. Bukan aku kepedean tapi memang tidak mungkin dia menunjukkan ini padaku kalau bukan untuk aku.

“Iya. Aku bahkan memasaknya sendiri,” jawabnya dengan galak.

Aku paham sekarang kenapa dia kesal. Wajar saja, Kyuhyun oppa sama sekali tidak bisa memasak dan dia bela-belain masak untukku tapi akunya malah telat datang.

Aku merasa bersalah padanya. Aku menatap Kyuhyun oppa dan mengelus tangannya. “Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku tidak tahu. Kalau aku tau, aku pasti sudah ngebut tadi. Maafkan aku ya?”

Senyum sudah kembali muncul di wajahnya, senyum evil lebih tepatnya. Dia mendudukkanku di kursi dan menyuruhku makan, “Habiskan semuanya. Kalau tidak, kau tidak boleh pulang.”

“Mwo? Andwee. Aku gak sanggup menghabiskan semuanya, oppa,” ujarku.

“Kalau begitu berarti kau harus tinggal bersamaku sampai besok pagi,” sahutnya sambil mengedip nakal.

Aku hanya bisa menghela nafas jika menghadapi ke-evil-an magnae satu ini yang gk ada habis-habisnya. Aku mulai memakan spaghettiku sampai habis lalu dilanjutkan dengan cream soup. Begitu aku mau menyentuh blackpepper beef, aku merasa mual. “Oppa, aku sudah kekenyangan. Aku sudah tidak sanggup lagi,” kataku memelas belas kasihan Kyuhyun oppa.

Kyuhyun oppa diam. Dia menatapku dan blackpepper beef dengan tajam. Aku takut dia marah tapi ternyata dia malah tertawa.

“Hahaha. Ya sudah, sisanya kamu bawa pulang saja. Kamu mau makan spaghetti dan cream soup ku saja sudah cukup sebenarnya. Pasti tidak enak kan?” katanya.

Entah aku harus jawab bagaimana. Sebenarnya masakan Kyuhyun oppa biasa-biasa saja tapi dia sudah berusaha sekuat tenaga membuatnya. Tidak mungkin aku mengecewakannya. Jadilah aku sedikit berbohong, “Enak kok. Cuman masih perlu tambahan beberapa bumbu saja.”

“Masa sih? Coba aku cicipi,” ujarnya.

Aku bingung. Apalagi yang mau dia cicipi. Spaghetti dan cream soupnya kan sudah habis. Tiba-tiba Kyuhyun oppa mendekatiku dan tanpa basa-basi menciumku. “Betul katamu. Aku tidak memasukkan kamu tadi di masakanku. Pantas kurang enak,” katanya lalu tertawa.

Aku paham maksudnya dan aku merasa dikerjai. Aku harus membalasnya. Dengan sekuat tenaga aku mencubit hidungnya. “Aaauw! Auw! Hyejin, sakit. Auw!” pekiknya kesakitan.

Aku tidak peduli. Aku malah tertawa kesenangan. “Makanya jangan nakal. Hahahaha,” ujarku.

Saat aku sedang tertawa-tawa, Kyuhyun oppa berhasil melepaskan tanganku dari hidungnya. Refleks, aku kabur dan dia mengejarku. Kami lari-larian di dalam dorm seperti tom and jerry. Sampai akhirnya, aku kelelahan dan terjatuh di sofa. Kyuhyun oppa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia berhasil membekukku. Aku sudah tidak punya daya melawan. “Ampun, ampun Tuan Cho. Aku janji tidak akan kabur tapi tolong lepaskan tanganku,” ujarku tapi sambil tertawa-tawa. Aku tidak tahan melihat wajah Kyuhyun oppa yang begitu lucu hanya berjarak beberapa senti di depanku.

“Kenapa kau tertawa? Harusnya kau takut karena kau harus dapat ganjaran atas semua perbuatanmu,” kata Kyuhyun oppa dengan tajam.

Seketika aku terdiam. Kyuhyun oppa semakin mengencangkan bekukkannya di tanganku. Dia mendekat padaku. Jarak antara kami semakin kecil. Jantungku sudah berdebar tidak karuan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Untung tiba-tiba Siwon oppa muncul.

“Hei, apa yang kalian lakukan?” kata Siwon oppa mengejutkan kami.

Kyuhyun oppa langsung melepaskan tanganku. Wajahnya bersemu merah. Aku pun juga begitu. Meskipun tanganku sakit tapi hatiku deg-degan gugup setengah mati.

“Ya, Hyejinssi. Ternyata kau di sini. Aku mencarimu kemana-mana tahu,” kata Siwon oppa lagi.

“Wa..wae, oppa? Kenapa mencariku?” tanyaku dengan terbata-bata.

“Aku ada perlu denganmu. Ayo ikut aku,” jawabnya.

Siwon oppa menarikku ke kamar Kyuhyun. Aku tidak tahu apa yang mau dia lakukan padaku. Aku malah tambah deg-degan.

 

…to be continued…