Part II

Aku begitu terkejut saat membuka pintu dorm dan bertemu dengan seorang namja yang sudah lama tidak pernah aku temui.

“Annyeonghaseyo, Hyejinssi. Lama tidak ketemu. Apa kabar?” sapanya dengan sopan.

“Kibum oppa? Annyeonghaseyo,” balasku. “Ada yang bisa aku bantu?”

“Apa Hamun ada? Boleh aku bertemu dengannya?”

Aku memanggil Hamun dan tidak seperti biasanya, dia sangat cepat menanggapi panggilanku ketika aku bilang Kibum oppa mencarinya. Aku meninggalkan mereka sambil sesekali memperhatikan mereka.

“Apa yang dimaksud Hamun yang jarang terlihat 3 tahun ini Kibum oppa ya?” tanyaku dalam hati.

Aku menghitung-hitung masa vakum Kibum oppa tapi jadwal ini membuat otakku buntu. Aku harus segera ke radio untuk siaran bersama Jungpa dan tamu kami SJ-KRYSD yang baru selesai konser di Jepang. Tambah sudah penderitaanku.

Aku paling malas kalau harus bertemu Kyuhyun di tempat umum karena itu akan membuat kami canggung dan aneh satu sama lain, daaan aku akan sangat tersiksa karenanya.

“Song Hyejin, hwaiting!” kataku pada diri sendiri.

Aku tiba di radio paling akhir. Jungpa sudah siap dengan headsetnya, begitu juga dengan SJ-KRYSD. Aku segera duduk di sebelah Jungpa dan memasang headsetku.

“Hai,” sapa Kyuhyun padaku.

“Hai,” balasku lalu mulai siaran.

“Annyeonghaseyo, yeorobun! Nice to meet you again!” sapa Jejung oppa kepada pendengar dengan bahasa inggris yang membuatku tertawa. “Hey, why are you laughing?” tanyanya spontan kepadaku.

“Bahasa Inggris-mu aneh didengar, Jungpa. Hahaha,” jawabku.

“Yeorobun, tolong jangan dengar perkataan Hyejin barusan,” ucapnya dalam siaran. “Lebih baik, aku kenalkan tamu kita hari ini, Super Junior Kyuhyun Ryeowook Yesung Sungmin Donghae!”

“Uri neun Super Junior KRYSD-yeyo” ucap member SJ-KRYSD bersamaan memperkenalkan diri.

Jejung oppa sangat membantuku hari ini. Dia bisa menutupi kecanggunganku pada Kyuhyun dan memperlancar siaran sampai selesai.

“Oke, yeorubun. Sampai jumpa minggu depan. See you next week!” kata Jejung oppa menutup siaran.

Aku lega sekali siaran ini selesai. Aku segera pamit pulang. Selama siaran hari ini, kata ‘hai’ tadi jadi satu-satunya kata yang ada di antara aku dan Kyuhyun.

Saat aku mau mengeluarkan mobilku, hapeku bergetar tanda ada yang menelepon. Aku mengangkatnya, “Ye?”

“Ke dorm ku sekarang ya. Kita ketemu di sana,” kata Kyuhyun lalu mematikan teleponnya.

Aku pun mengemudikan mobilku menuju dorm SJ.

Sesampai di sana, aku dipersilahkan masuk oleh ahjumma yang kerja di sana.

Tidak ada siapa-siapa. Aku akhirnya menunggu Kyuhyun sambil menonton tivi. Baru setengah jam kemudian, Kyuhyun datang bersama Sungmin oppa.

Dia langsung memelukku dan berkata, “Aaah, akhirnya. Aku merindukanmu, sayang.”

“Aku biasa aja tuh,” sahutku lalu melepaskan pelukannya.

Kyuhyun menatapku heran. “Maksudmu?” tanyanya.

“Kalau oppa memang merindukan aku harusnya oppa selalu mencariku tapi yang aku lihat oppa hanya mencari Jihyo,” jawabku mulai ngalor-ngidul tidak sesuai pertanyaannya.

“Ah, lagi-lagi masalah ini. Aku kan sudah bilang ribuan kali kalau aku hanya menganggapnya adik. Tidak lebih kok.”

“Ya aku tahu ‘adik’mu itu memang lebih penting. Sudahlah, tidak ada gunanya dibahas. Aku mau bicara sama Sungmin oppa dulu.”

Aku lalu masuk kamar Sungmin oppa dan menguncinya. Aku terpaksa bicara pelan-pelan dengan Sungmin oppa sekarang karena Kyuhyun sedang berada di luar, “Oppa, boleh aku minta bantuanmu?”

“Soal apa memangnya?” tanya Sungmin oppa.

“Jihyo-Kyuhyun. Aku tahu oppa suka pada Jihyo dan tidak suka melihatnya dekat-dekat Kyuhyun. Kenapa oppa tidak pacaran saja dengan Jihyo?” jawabku.

“Bagaimana mau pacaran? Mendekatinya saja tidak bisa. Dia selalu dekat Kyuhyun. Aku mana punya kesempatan. Aku sudah berkali-kali bilang hal ini pada Kyuhyun tapi dia tidak berbuat apa-apa.”

“Kalau gini, aku harus turun tangan. Baiklah, Sungmin oppa.” Aku meletakkan tanganku di bahunya. “Aku akan membantumu mendapatkan Jihyo. Sungmin oppa, Song Hyejin, hwaiting!”

Sungmin oppa menatapku dengan terharu lalu memelukku. “Gomawo. Jeongmal gomawo, Hyejin-ah,” ucapnya.

“Cheonmaneyo, cheonmaneyo,” balasku.

Aku lalu keluar dari kamar dan bertemu lagi dengan Kyuhyun. “Heh, babo namja!” ucapku sambil menjitak kepalanya. “Kau tau hyungmu suka pada dongsaengmu. Kenapa kau tidak membantu mereka? Babo!”

“Aduh jagiya, aku mana bisa jodoh-jodohin orang. Apalagi hyung dan dongsaengku sendiri. Kalau mereka tidak cocok, aku jadi merasa bersalah,” ujar Kyuhyun dengan tampang melas.

“Ah, kau memang payah. Katanya sayang pada Jihyo tapi tidak tahu perasaan gadis itu sebenarnya.”

“Maksudmu?”

“Pikir saja sendiri, babo. Sampai jumpa.”

“Heh. Kau mau kemana? Aku masih mau ngobrol sama kamu.”

“Kerja lah, oppa. Aku masih ada syuting MV DBSK nih.”

Kyuhyun lalu memelukku dan mengecup keningku. “Hhh, kau selalu saja sibuk. Ya sudah, sampai bertemu nanti ya. Jangan lupa kau harus nonton drama musikalku. Arachi?”

“Ne, ne. Annyeong, oppa!”

Aku lalu segera pergi ke studio karena sudah hampir telat.

Syuting sudah kelar ketika member-ku datang dengan membawa kue ulang tahun. “Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida. Saengil chukkahamnida, yuchun oppa! Saengil chukkahamnida,” nyanyi mereka.

Hyun Ah yang memang fans berat Micky Yuchun menyodorkan kue itu ke hadapan Yuchun oppa dan menyuruhnya meniup lilin yang tertancap disana. “Make a wish, oppa,” ujar Hyun Ah.

Yuchun oppa terdiam sebentar lalu meniup lilinnya dilanjutkan riuhnya tepukan tangan kami dan member dbsk yang lain.

“Saengil chukkae, oppa,” ucap Hyun Ah.

“Gomawo, Hyun Ah. Gomawo,” balas Yuchun oppa diiringi tawa bahagia.

Jejung oppa tiba-tiba mencoel krim kue tersebut dan memeperkannya ke wajah Yuchun oppa lalu tertawa. “Hahaha, haha. Kau tambah tampan, Chun-ah!” ujarnya.

Para member dbsk yang lain lalu bergantian memeluknya. “Kau tambah tua sekarang, hyung!” ujar Changmin oppa sambil terkekeh.

Karena kue yang dibawa Hyun Ah tidak cukup besar untuk semua orang di studio, jadilah Yuchun oppa memotongnya kecil-kecil agar semua tetap kebagian.

Aku menikmati kue yang diberikan sambil bercanda dengan Jejung oppa. Sesekali aku juga mengecek keberadaan memberku karena feelingku berkata pasti ada yang menghilang. Benar saja, Min Ah sudah tidak ada. Begitu juga dengan Yunho oppa.

“Ah, dasar Min Ah,” ucapku dalam hati.

Setelah semua benar-benar kelar, aku segera pergi ke teater pertunjukan musikal Kyuhyun. Sendirian!

“Awas kau, oppa. Kalau sampai hari ini lagi-lagi membuatku kesal, gak akan mau aku datang setiap kamu minta,” gerutuku sambil mengambil tempat duduk.

Saat aku menonton, tidak sengaja aku melihat Sungmin oppa juga sedang menonton. Dia duduk beberapa kursi di depanku.

Tiba-tiba otakku mendapatkan ide. Aku menelepon Jihyo dan berbohong padanya, “Jihyo, Jihyo. Nanti tolong jemput onni ya di teater musikal oppamu. Mobilku mogok. Gak tahu kenapa. Aku juga udah panggil montir tapi belum datang-datang. Tolong ya, Jihyo.”

Karena suaraku terdengar cukup panik, Jihyo tampaknya percaya. “Ne, onni. Nanti aku jemput ya abis rekamanku selesai,” sahut Jihyo.

“Ne. Gomawoyo, Jihyo,” ucapku lalu menutup telepon. Dalam hati aku bersorak, “Huahahaha! Kena kau, Jihyo. Aku kan bisa saja pulang sama Kyuhyun, kalau aku mau. Hahaha.”

Setelah drama musikal Kyu selesai, aku segera menghampiri Sungmin oppa dan mengajaknya menemui Kyu di ruangannya. “Aku punya kejutan untuk oppa nanti,” bujukku.

“Kejutan apa?” tanya Sungmin oppa.

“Kalau aku kasih tahu namanya bukan kejutan, oppa.”

Sungmin oppa tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menurutiku. Kami mendatangi ruangan para pemain dan memberikan selamat satu per satu.

“Chukkae, onni. Chukkae, oppa. Akting onni sangat bagus. Akting oppa sangat bagus. Aku sangat terkesan,” kataku kepada beberapa pemain. Orang terakhir yang aku berikan selamat adalah Kyuhyun. “Chukkae! Oppa bermain sangat bagus!” kataku.

“Aah, Hyejin-ah. Gomawo. Gomawo,” balasnya sambil tertawa senang melihat aku datang menontonnya.

“Ye, ye, oppa. Cheonmaneyo,” balasku. “Oh ya, oppa. Aku menyuruh Jihyo datang untuk menjemputku tapi nanti kau jangan dekat-dekat dia ya.”

“Loh? Memang kenapa? Kau cemburu ya, Hyejin?” tanyanya sambil tersenyum usil.

“Iya. Selain itu, aku juga mau mendekatkan Jihyo pada Sungmin oppa. Oppa jangan mengganggu. Oppa ikuti saja apa kataku ya,” jawabku.

“Iya, iya, sayang. Siap!”

Aku menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. “Anak pintar!” ujarku dengan tampang  sengak lalu tertawa terbahak-bahak.

Tidak lama kemudian Jihyo meneleponku, “Onni, onni dimana? Aku sudah di basement.”

“Aku di ruang para artis. Kamu ke sini ya, sayang,” kataku lalu menutup telepon. Aku nyengir gembira. “Kyuhyun oppa, kau nanti pura-pura sakit ya.”

Jihyo datang dengan tergopoh-gopoh. “Onni, gimana mobilnya? Udah datang montirnya?”

“Belum. Gak tau nih datang jam berapa. Kayaknya masih lama deh. Aduh, gimana ya? Kamu masih ada jadwal lagi?”

“Ada sih tapi…”

“Ya udah, onni pinjem mobil kamu ya. Kamu ke kantor sama Sungmin oppa saja,” kataku pada Jihyo. Aku melihat muka Jihyo sudah merah padam tapi aku pura-pura tidak tahu.

“Aku pergi dengan hyung oppa saja,” kata Jihyo berusaha menghindar.

“Oppamu masih ada evaluasi meeting. Kau mau menunggu 3 jam lagi?”

Jihyo menggeleng. “Tapi…”

Aku pura-pura tidak mendengar. “Sungmin oppa, tolong antarkan Jihyo ke kantor ya. Mobilnya mau aku pinjam,” pintaku dengan wajah memohon.

“Bo…boleh asal Jihyo tidak keberatan,” sahut Sungmin oppa.

Aku tersenyum penuh terima kasih. “Nah Jihyo. Maaf ya sudah merepotkanmu,” kataku dengan senyum penuh kemenangan sambil mendorongnya agar mengikuti Sungmin oppa. “Sungmin oppa, terima kasih banyak ya.”

Sungmin oppa tersenyum lalu pergi diikuti oleh Jihyo.

“Nah, sekarang kita aman. Kau mau kemana sekarang, ddokddok namja?” tanyaku pada Kyuhyun oppa.

“Studio. Tapi tadi aku kesini sama Sungmin hyung. Sekarang aku ke studio naik apa dong?” tanya Kyuhyun balik padaku.

Aku menepuk jidatku begitu menyadari kebodohanku. “Oppa pakai mobil Jihyo saja deh. Nih kuncinya,” kataku sambil menyerahkan kunci mobil Jihyo. “Aku duluan ya. Sampai bertemu nanti di studio.”

Aku lalu pergi ke studio lebih dulu dengan mobilku, yang sehat walafiat.

 

…to be continued…