Part III

Akhir minggu ini, SJ akan menggelar SS4 di Singapore dan manajemen menetapkan SG akan menjadi bintang tamu atau teman duet member SJ. Hal ini menyebabkan kami harus latihan meskipun hari sudah sangat larut.

“Annyeonghaseyo,” sapaku kepada semua orang yang ada di studio.

“Annyeonghaseyo,” balas mereka.

Aku bergabung dengan mereka dan ikut membicarakan SS4 akhir minggu ini.

“Jadi nanti, Hamun akan trio denganku dan Donghae,” kata Eunhyuk oppa yang juga merangkap sebagai stage director. “Yesung hyung akan berduet dengan Hyun Ah. Hyejin dengan Ryeowook. Min Ah dengan Kyuhyun dan Jihyo dengan Sungmin hyung.”

“Jangan!” tolak Kyuhyun dan Jihyo bersamaan.

Eunhyuk oppa menatap Kyuhyun dan Jihyo. “Kalian mau berduet?” tanya Eunhyuk oppa.

“Bukan. Aku sama Hyejin saja. Min Ah sama Ryeowook,” jawab Kyuhyun dengan mantap sambil merangkul bahuku.

“Mwo? Aku tidak hafal lagumu tahu,” ujarku pada Kyuhyun.

“Jangan bohong. Kau hafal semua lagu yang aku nyanyikan. Kalau memang tidak hafal, ya tinggal dilatih,” sahut Kyuhyun dengan santai diiringi senyum evilnya.

“Oke, Kyuhyun sama Hyejin. Ryeowook sama Min Ah. Nah, Jihyo tetap sama Sungmin hyung. Deal!” kata Eunhyuk oppa dengan tegas. Jihyo tidak dapat mengelak lagi. Aku melihat Sungmin oppa tersenyum pada Eunhyuk oppa.

“Game is started. Sungmin oppa, hwaiting! Aku pasti membantumu,” batinku.

Studio terbagi menjadi beberapa bagian tanpa disengaja. Aku dan Kyuhyun oppa latihan di pojok terjauh.

“Nadamu salah,” ujar Kyuhyun oppa saat aku menyanyikan partku. “Harusnya do mi sol do re sol sol. Sa rang hae nuhl sa rang hae. Bukan do re sol mi sol sol. Kau ini penyanyi bukan sih?”

Rasanya aku ingin sekali menjitak pria satu ini tapi nanti aku bisa dimarahi manajer kalau ketahuan. Jadi lebih baik aku sabar saja. “Do mi sol re sol sol. Sa rang hae nuhl sa rang hae,” nyanyiku sesuai petunjuk Kyuhyun.

“Salah. Suaramu ketinggian setengah,” ujar Kyuhyun. Aku mencoba lagi tapi Kyuhyun oppa masih menyalahkanku, “Jihyo saja yang tidak terlalu pandai menyanyi bisa menyanyi lebih baik darimu. Bukannya kau lead vocal SG? Masa lagu gampang begini tidak bisa sih?”

Aku benar-benar hilang kesabaran. “Kalau gitu oppa duet saja sama Jihyo. Biar aku sama Sungmin oppa,” kataku lalu beranjak meninggalkannya.

Kyuhyun menahanku. “Masa kau tega memisahkan mereka? Ini kan kesempatan bagus supaya Sungmin hyung dan Jihyo bisa bersama,” ujarnya.

Aku melihat Sungmin oppa dan Jihyo yang sedang berlatih. Sungmin oppa mengajari Jihyo dengan sabar dan penuh kasih meskipun Jihyo tampaknya susah mengikuti karena gugup. Aku jadi mengurungkan niatku. “Ya sudah, aku sama Ryeowook oppa saja. Oppa sama Min Ah. Kembali ke awal,” balasku kesal.

Kyuhyun oppa hanya tertawa melihatku. “Kau itu polos sekali sih? Tadi aku hanya menggodamu tahu. Nadamu sudah pas semua kok. Maaf ya,” katanya lalu kembali tertawa.

Ingin sekali aku marah tapi aku tidak bisa. Aku hanya kembali duduk dan berlatih. “Menyebalkan!” ucapku kesal sebelum bernyanyi lagi.

Aku menjadi yang terakhir kembali ke dorm karena aku harus mengambil script terlebih dahulu untuk syuting pagi ini. Aku masuk ke dalam dorm dan melihat Hamun dan Kibum masih asik mengobrol. “Ini sudah hampir jam 4 pagi. Betah banget mereka,” gumamku.

“Baru pulang, Hyejinssi?” tanya Kibum oppa saat aku melintas di dekatnya.

“Ye, oppa. Tadi ambil script dulu. Aku masuk kamar dulu ya, mau istirahat. Annyeong, oppa,” jawabku.

“Annyeong. Selamat beristirahat.”

Aku masuk ke kamar dan menemukan Jihyo yang masih terbangun atau sudah bangun. Entah. “Sudah bangun, Jihyo?” tanyaku.

Jihyo menggelengkan kepalanya lalu menjawab, “Aku menunggu onni daritadi. Ada yang mau aku bicarakan.”

Suasana kamar terasa sangat serius. “Ada apa?” tanyaku.

Jihyo tiba-tiba menangis. “Onni, aku sungguh hanya menganggap hyung oppa seperti Siwon oppa. Dia sudah seperti oppaku sendiri. Aku mohon jangan marah padaku ya?”

Aku kaget bercampur bingung. “Kenapa kau tiba-tiba bicara begini sih, Jihyo?” tanyaku.

“Aku hanya tidak mau onni benci padaku karena aku dekat dengan Kyuhyun oppa padahal kami hanya seperti saudara.”

Ragu-ragu aku memeluk Jihyo. “Aku tahu. Aku tahu, Jihyo. Aku tidak membencimu. Aku…aku hanya cemburu jika Kyuhyun dekat dengan gadis atau wanita lain selain aku. Itu memang sudah sifatku. Maaf ya sudah mengkhawatirkanmu,” kataku berusaha menenangkan Jihyo.

Jihyo sudah mulai berhenti menangis. “Aku tidak punya perasaan apa-apa kok sama Hyung oppa. Aku sebenarnya suka sama Sungmin oppa ta…tapi aku takut dia tidak suka padaku.”

“Jujur sekali anak ini,” batinku sambil mengelus-elus punggungnya. “Kamu tenang saja. Aku pasti akan membantumu. Sudah saatnya aku membalas jasamu, Jihyo.”

Jihyo akhirnya tidur setelah tangisannya berhenti sedangkan aku harus terjaga untuk membaca script syutingku pagi ini. Ah, dunia memang kejam!

Jam 7 pagi, aku mendengar suara berkelontangan dari arah dapur. Aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju ke sana. Rupanya Hyun Ah sedang memasak dengan membabi buta. Dia memasak ramen yang bisa dimakan oleh 10 orang. Tidak hanya itu. Dia juga memasak bulgogi tidak kurang dari 5kg.

“Hyun Ah. Hei, Hyun Ah. Kau sedang stres ya? Kenapa masak sampai sebanyak ini? Kau kenapa?” tanya Min Ah yang sudah ada lebih dulu dari aku.

“Aku kesal! Sedih! Yesung oppa minta putus. Katanya sudah tidak aman lagi jika kami pacaran. Apanya yang tidak aman? Dari dulu kami pacaran juga tidak ada yang tahu. Itu pasti hanya alasannya saja. Dia pasti punya cewek baru!” jawab Hyun Ah penuh emosi.

“Siapa maksudmu? Moon Geun Young?” tanya Min Ah.

Hyun Ah mengangguk. “Iya. Siapa lagi? Dari dulu Yesung oppa kan terobsesi padanya. Sekarang, begitu dia ada kesempatan main drama bareng wanita itu langsung dia gunakan sebaik-baiknya.”

“Jangan berprasangka buruk dulu ah, Hyun Ah. Dia mungkin takut kalau hubungan kalian ketahuan publik, karir kalian masing-masing akan terancam,” ujarku.

“Gak mungkin. Feelingku dia ada main sama Geun Young,” sahut Hyun Ah masih penuh emosi.

“Feeling kan bisa saja salah, Hyun Ah. Sudah ya, tenang dulu. Kita selidiki dulu kebenarannya ya? Gak bagus main tuduh begini.”

“Iya, benar kata Hyejin. Kita selidiki dulu saja ya. Setelah dapat bukti, baru kita bertindak. Bagaimana?” usul Min Ah.

Hyun Ah menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya. “Tapi gimana caranya?” tanya Hyun Ah.

“Hello, Jung Hyun Ah! Aku kan main juga di drama itu jadi aku bisa menyelidiki gerak-gerik Yesung oppa setiap harinya,” jawab Min Ah.

“Oh iya sih, aku lupa. Maaf, sayang. Hehehe,” sahut Hyun Ah sambil nyengir.

“Kalau gitu, soal Yesung oppa Min Ah yang bertanggung jawab. Sekarang, gimana cara kita ngabisin makanan segini banyak?” tanyaku.

Hyun Ah mengangkat bahu lalu tertawa. “Gak tahu. Kalau kita makanin saja gimana?”

“Kau mau menghancurkan program dietku selama berbulan-bulan? Tidak. Tidak. Lebih baik kau kirim saja ke dorm DBSK atau Shinee atau ke SNSD atau f(x). Terserah tapi jangan suruh kami makan semuanya. Itu sama saja bunuh diri,” sambar Min Ah.

Aku mengangguk-angguk setuju.

“Ya sudah, nanti aku antar ke Yuchun oppa atau Minho,” sahut Hyun Ah sambil menaruh sebagian masakannya ke beberapa rantang sedangkan aku dan Min Ah melahap sebagian kecil secepat mungkin karena kami dikejar jadwal syuting pagi.

“Oh ya, meskipun kamu sedang bermasalah sama Yesung oppa jangan sampai merembet ke masalah kerjaan ya, Hyun Ah. Jangan sampai duet kalian kacau nanti. Ya?” pesanku sebelum pergi syuting.

Hyun Ah mengangguk meskipun aku melihat senyum kecut di wajahnya. Aku merasa ucapanku terdengar jahat tapi bagiku perasaan Hyun Ah dan karir SG sama-sama penting. Tidak boleh ada yang hancur.



…to be continued…