Part IV

Kepalaku rasanya mau pecah. Hari ini benar-benar berat buatku. Setelah syuting drama yang membabi buta karena banyaknya scene yang harus diselesaikan, aku dipanggil manajerku karena masalah album kami yang kurang laris, dilanjutkan latihan untuk SS4. Tambah lagi, masalah para member yang tidak mungkin aku biarkan begitu saja.

“Huah!! Semoga aku tidak cepat gila karena kerjaanku ini,” kataku pada diri sendiri sambil membanting tubuhku di tempat tidur.

Aku baru mau memejamkan mata ketika suara nyaring Min Ah terdengar dari luar, “Hyejin! Hyun Ah! Keluarlah… Aku punya kabar terbaru soal Yesung oppa hari ini!”

Dengan gontai, aku keluar dari kamar. Meskipun yang dipanggil hanya aku dan Hyun Ah tapi Jihyo dan Hamun ikutan bergabung.

“Ada apa sih sama Yesung oppa? Kenapa dia?” tanya Jihyo.

“Sepanjang pengamatanku tadi, Yesung oppa tidak ada main dengan Geun Young. Memang sih mereka ngobrol-ngobrol tapi ya ngobrol biasa aja,” ujar Min Ah menceritakan pengamatannya hari ini.”

“Terus? Terus mereka ngapain aja selama syuting?” tanya Hyun Ah mendesak.

“Ya gak ngapa-ngapain. Syuting biasa, gak ada aneh-aneh. Geun Young nya malah cuek-cuek aja sama Yesung oppa. Gak kelihatan ada hubungan khusus,” jawab Min Ah.

“Ah, mereka pasti hanya berakting! Mereka kan pintar berakting. Kalau di luar cuek-cuekan padahal aslinya pacaran!” Hyun Ah mulai emosi lagi.

“Hyun Ah, ingat kesepakatan kita. Jangan negative thinking terus ah,” ujarku.

Hamun dan Jihyo yang tidak mengerti apa-apa menatap kami penuh dengan tanda tanya. “Ada apa sih ini sebenarnya? Kami gak ngerti,” tanya Hamun diiringi anggukan Jihyo.

“Kenapa Yesung oppa sama Geun Young? Bukannya Yesung oppa sama Hyun Ah onni?” tanya Jihyo.

“Yesung oppa mutusin aku,” jawab Hyun Ah galak.

“Loh? Kenapa?” tanya Hamun terkejut.

“Itu yang lagi Min Ah selidiki,” jawabku. “Yesung oppa bilang karena hubungan mereka sudah tidak aman. Kalau sampai ketahuan publik, karir mereka bisa hancur tapi Hyun Ah curiga Yesung ada main sama Geun Young.”

“Memang! Buktinya kau sama Kyuhyun oppa bisa aman-aman saja, Hyejin. Kenapa Yesung oppa tidak bisa?” sambar Hyun Ah.

Anak ini benar-benar keras kepala. Aku tidak tahan lagi. “Hyun Ah cukup! Berhentilah berpikir yang aneh-aneh seperti itu! Yang harusnya kau pikirkan sekarang adalah bagaimana memajukan karirmu! Masalah ini kan sudah kita sepakatkan tadi!” sentakku lalu keluar dari dorm.

Aku tidak tahu harus kemana malam-malam begini, sendirian pula. Niatnya pulang ke dorm buat istirahat tapi malah bikin kepala tambah pusing. Tanpa sadar, aku sudah berada di depan dorm SJ. Aku menelepon Kyuhyun untuk membukakan pintu dorm. Begitu Kyuhyun muncul aku langsung memeluknya dan menangis.

“Hei, jagiya. Kamu kenapa? Kok tiba-tiba nangis?” tanya Kyuhyun sambil mengelus-elus kepalaku.

Aku menjawab dengan terisak-isak, “Capek. Kepalaku pusing. Hari ini berat sekali.”

“Kenapa? Cerita padaku.”

“Tadi manajer memanggilku bahwa album SG tidak laris di pasaran. Aku baru mau bercerita pada para member tapi masalah Yesung oppa dan Hyun Ah sudah mendahului.”

“Mereka berdua memang kenapa?”

“Yesung oppa minta putus karena merasa sudah tidak aman buat karir mereka tapi Hyun Ah menganggapnya lain. Arggh! Aku bingung! Mana tadi aku sempat menyentak Hyun Ah.”

“Tenang saja, jagiya. Masalah album itu wajar. Zaman canggih sekarang, album mungkin tidak laris tapi banyak yang download ilegal.”

“Ah, entahlah. Pusing kepalaku.”

Kyuhyun oppa meletakkan kepalaku di pahanya dan meluruskan badanku mengikuti sofa tempat kami duduk. “Mending kamu istirahat sekarang, jagi. Besok pagi kita sudah berangkat ke Singapore loh,” ujar Kyuhyun oppa.

Aku menganggukkan kepalaku lalu terlelap dalam belaian Kyuhyun.

Pagi hari aku terbangun, aku sudah pindah ke tempat tidur empuk yang kukenali sebagai tempat tidur Kyuhyun.

“Pagi, jagi,” sapa Kyuhyun dengan senyumnya yang menenangkan.

“Pagi,” balasku. “Jam berapa sekarang?”

“Baru jam 10,” jawab Kyuhyun oppa dengan santai.

Aku kaget setengah mati mendengarnya. Aku seharusnya sudah berangkat jam 8 tadi. “Oppa, ottoke? Aku pasti dimarahi nanti,” ucapku penuh khawatir.

“Kalau kamu dimarahi, aku juga dimarahi. Kita kan sama-sama telat,” sahut Kyuhyun oppa tetap santai.

“Lalu kita berangkat jam berapa?” tanyaku masih penuh kekhawatiran.

“Jam 12. Satu flight dengan leeteuk hyung, heechul hyung dan  siwon hyung.”

“Berarti kita harus ke bandara sekarang dong?”

Kyuhyun menganggukkan kepalanya.

“Tapi aku belum mandi. Paspor dan tasku juga masih di dorm,” ujarku panik.

“Tenang saja. Aku sudah mengambilnya dari dorm-mu kok,” kata Kyuhyun sambil memegang tas dan pasporku. “Kajja.”

Kyuhyun menggandengku menuju van yang akan mengantarkan kami ke bandara. Aku mengikutinya saja. Aku sudah tidak punya tenaga. Sesampai di bandara pun, aku pasrah saja mengikuti kemana dia melangkah.

Badanku sangat lemas dan aku hampir pingsan. Untung saja, Kyuhyun oppa cepat menangkapku. Dia membantuku berjalan sampai masuk pesawat.

Aku didudukkan di antara Leeteuk oppa dan Siwon oppa. “Aku titip Hyejin ya, hyung. Dia agak sakit,” pesan Kyuhyun kepada kedua hyungnya lalu duduk di belakangku.

“Hyejin-ah,gwenchanayo?” tanya Leeteuk oppa yang melihatku lemas.

“Gwenchana, oppa. Tenang. Hanya sedikit kelaparan,” jawabku.

“Mana mungkin. Mukamu sudah pucat begitu. Kau sakit?”

“Aku hanya lapar,” jawabku lagi.

Leeteuk oppa lalu memarahi Kyuhyun, “Kau tidak menyuruhnya makan dulu tadi? Bodoh!”

“Aku lupa. Mianhe. Jeongmal mianhe, Hyejin,” ucapnya.

Siwon oppa yang tampaknya tidak tega melihatku langsung memesan makanan dan minuman kepada seorang pramugari. “Tapi makanan baru bisa siap 15 menit lagi, tuan,” kata si pramugari.

“Ya sudah, gak apa,” ujar Siwon oppa. Dia lalu menidurkan senderan dudukku dan menaikkan tatakan lengan yang menghalangi kami agar aku merasa lebih lega. “Istirahatlah dulu. Tahan laparnya sebentar lagi ya,” katanya.

Aku mengangguk lemah. “Gomawo, oppa.”

Setelah makanan datang dan aku melahapnya, aku baru bisa bernapas lega. “Hah, akhirnya kenyang juga,” ucapku. “Gomawo, Siwon oppa. Gomawo, Leeteuk oppa.”

“Cheonmaneyo. Cheonmaneyo,” sahut mereka sambil tertawa-tawa. “Lega sekali melihat kau sudah segar Hyejin,” ujar Leeteuk oppa.

“Omong-omong, kenapa hanya kau yang satu pesawat dengan kami? Mana Min Ah?” tanya Siwon oppa.

“Hei, kenapa yang kau sebut hanya nama adikku?” tukas Leeteuk oppa pada Siwon oppa.

Siwon oppa hanya terkekeh. “Adikmu yang satu itu sangat menarik, hyung. Semua yang aku cari ada padanya,” ucap Siwon oppa dengan jujur.

“Tapi ingat kontrakmu yang tidak boleh punya pacar apalagi menikah. Jangan sampai hal itu menyusahkan adikku,” kata Leeteuk oppa dengan tegas.

“Ne, hyung. Arraseo,” sahut Siwon oppa.

Aku tersenyum melihat keduanya tapi dalam hati aku ketar-ketir. Aku berdoa semoga Siwon oppa tidak membawa masalah ke dalam SG.

8 jam satu pesawat bersama pria-pria ini membuatku mendapatkan banyak cerita dan ilmu terutama dari Leeteuk oppa mengenai leading sebuah grup idol macam SJ dan SG. Sayang 8 jam ini tidak cukup panjang untuk menyelesaikan masalahku karena rata-rata semua sudah tertidur ketika penerbangan menginjak jam ke-4 dan terbangun tepat ketika pesawat landing.

Mobil jemputan langsung membawa kami ke stadion tempat konser akan dilangsungkan besok karena kami harus segera melakukan gladi resik.

Kyuhyun yang masih cemas dengan kondisiku terus berada di sampingku, termasuk saat memasuki stadion. Kami langsung disongsong Jihyo begitu masuk ke dalam stadion.

“Onni, onni tidak apa-apa kan? Katanya, onni hampir pingsan di bandara,” tanya Jihyo dengan cemas.

“Gwenchana, jihyo. Tenanglah,” jawabku dengan santai. “Kau tau darimana?” tanya Kyuhyun oppa hampir bersamaan denganku.

“Lengkap di blog. Bahkan ada foto oppa memegang onni pas hampir pingsan. Mau lihat?” ujar Jihyo. “Kok bisa sih, oppa? Aku kan sudah bilang tadi pagi supaya kau menjaga onni baik-baik. Eeeh, kok malah mau pingsan?!”

“Maaf, aku lupa mengajaknya sarapan. Dia hanya kelaparan tadi.”

Jihyo lalu menjitak kepala Kyuhyun. “Kelaparan kok hanya?! Awas kalo oppa sampai lalai lagi!” ancam Jihyo pada Kyuhyun.

“Sudahlah. Kalian jangan bertengkar lagi ya. Mana yang lainnya, Jihyo?” tanyaku agar perkelahian mereka berhenti.

“Ada di panggung. Ayo kita ke sana, onni,” jawab Jihyo sambil menggandengku menuju panggung.

Min Ah, Hyun Ah dan Hamun berlari ke arahku dan Jihyo begitu melihat kami datang. “Hyejin, kau tidak apa-apa kan? Maaf, maafkan aku sudah buat kamu jadi begini,” ujar Hyun Ah cemas.

“Aku baik-baik saja kok. Tenang saja,” sahutku. “Aku justru mau minta maaf karena kemarin membentakmu. Maaf ya, Hyun Ah.”

“Tidak. Aku yang salah. Aku yang terlalu keras kepala kemarin,” balas Hyun Ah lagi.

Hamun tiba-tiba menyela, “Sudah. Sekarang sudah tidak ada yang salah. Semuanya sudah baik-baik saja.” Ia lalu mengajak kami berpelukan. Kami pun berpelukan sambil tertawa-tawa karena merasa seperti teletubbies.

“Super Girls, hwaiting!” seru kami bersama-sama lalu melakukan gladi resik kami.

Setelah gladi resik, kami semua kembali ke hotel untuk istirahat. Aku ditempatkan sekamar dengan Jihyo dan Hamun. Baru saja aku selesai membereskan barang-barangku sudah ada yang berkunjung.

“Sungmin oppa, silahkan masuk. Jihyo onni ada di dalam,” kata Hamun yang membukakan pintu.

Jihyo mencengkram lenganku. Aku menatapnya. Dia gugup. “Otokke, onni?” tanyanya gemetaran. Wajahnya juga sudah merah padam.

“Ya, ngobrol lah. Santai aja,” kataku.

Sungmin oppa menyapa kami, “Annyeong. Aku datang di saat yang tidak tepat ya?”

“Gak kok. Kebetulan sekali ada yang mau Jihyo tanyakan pada oppa untuk duet kalian besok,” jawabku seenaknya. Jihyo sudah menatapku tapi aku tidak peduli. Aku malah menggandeng Hamun keluar. “Aku dan Hamun mau cari cemilan dulu ya. Selamat ngobrol,” ujarku lalu pergi.

Aku dan Hamun berjalan pelan di koridor kamar. “Kita mau cari cemilan kemana, onni?” tanya Hamun.

Aku mengangkat bahuku. Aku memang tidak berniat keluar. Aku hanya mau memberikan waktu kepada Sungmin oppa dan Jihyo untuk berduaan.

“Lalu kita kemana dong?” tanya Hamun lagi.

“Ke kamar Hyun Ah-Min Ah aja yuk,” ajakku.

“Mereka pasti sudah tidur. Lagipula manajer juga tidur di situ. Kalau sampai dia tahu kita masih keliaran, kita pasti kena omel,” kata Hamun.

“Betul juga kamu. Dasar magnae-ku yang pintar. Terus kita kemana dong?”

“Kamar Sungmin oppa saja. Dia kan di kamar kita jadi pasti kamarnya kosong.”

“Iya, tapi kamarnya yang mana?”

Hamun nyengir polos. “Gak tahu, onni.”

Rasanya pingin aku jitak kepalanya. Gemas aku. Akhirnya, kami mengungsi ke kamar Kyuhyun, satu-satunya kamar member SJ yang aku tahu. “Gomawo oppa sudah mau menampung kami,” ucapku dengan manis.

“Ne, ne. Sudah kalian berdua tidur sana. Aku tidur di sofa,” katanya setengah tersadar lalu kembali tidur di sofa.

Aku dan Hamun naik ke tempat tidur berukuran single. Terasa sempit tapi tidak masalah bagi kami.

“Jadi lebih hangat,” kata Hamun sambil tertawa. Aku ikutan tertawa.

Selang beberapa detik dari tawa kami, aku mengajak Hamun ngobrol tapi tidak ada respon, ternyata dia sudah terlelap. Dasar tukang tidur. Hahahahaha.

….to be continued….