Part VIII

Seperti biasa, aku tidak pernah bisa bangun pagi dengan cara yang normal. Kalau kemarin teriakan Min Ah yang jadi dalangnya sekarang teriakan Jihyo. “Aaaah! Hyejin onni~!”

Aku langsung melompat dari tempat tidurku. “Ada apa sih?! Pagi-pagi udah berisik aja!” sahutku kesal.

“Onni, lihat! Ada yang melihatmu sama Hyung oppa minum kopi berdua di kampus oppa!” kata Jihyo dengan panik sambil memamerkan foto yang dia dapat dari browsing internet melalui ipadnya.

Aku melihat foto tersebut dan berita di bawahnya beserta komen-komen dari pembaca. “Hash!” seruku kesal lalu mematikan ipad Jihyo. “Lebih baik kita gak kenal teknologi kalau sampai privacy kita pun diupload. Kurang kerjaan banget!”

Aku marah. Aku kesal. Mereka tidak tahu apa-apa tapi asal main menghinaku saja. Bilang aku tidak pantas sama Kyuhyun oppa lah, kecentilan lah, artis gadungan lah dan sebagainya. Hah! Apapun kata mereka, Kyuhyun tetap milikku. Jadi silahkan terus bermimpi memiliki pacarku, gadis-gadis.

“Onni, sabar ya. Memang sudah konsekuensi kita kalo punya anti fans. Waktu aku duet sama EunHae oppa saja, anti fansku langsung bertambah. Tapi nanti mereka ilang-ilang sendiri kok,” hibur Hamun yang lumayan menentramkan hatiku.

“Gomawo, Hamun,” ujarku.

Baru aku tenang sebentar, tiba-tiba manajer onni datang sambil marah-marah, “Hyejin! Bagaimana bisa kamu seceroboh ini?! Kenapa kalian kencan terbuka? Hah?!”

Aku merasa kesal tapi aku tahan. “Mianhe, onni,” ucapku.

“Untung baru sekali! Aku masih bisa mengarang cerita ke publik tapi kalau sudah 2 kali atau 3 kali bisa tamat riwayatmu!”

“Ne. Mianhe, onni.”

Meskipun aku sudah minta maaf, onni tetap saja ngomel-ngomel, “Kyuhyun sih sudah punya nama. Mau ada masalah apapun, diputarbalik sedikit, para fans akan percaya. Anti fans juga tidak akan menjatuhkan karirnya. Tapi kau, Hyejin, kau ini masih baru. Debut baru beberapa bulan, drama tidak laku, album tidak laku tapi sudah berani macam-macam. Apa sih yang ada di otakmu?”

Aku benar-benar merasa ingin marah tapi aku memilih diam. Aku tidak mau cari ribut, lebih baik kutelan mentah-mentah semua omelan dan hinaannya.

“Manajer onni, maksudnya album Hyejin onni itu album SG kali. Hyejin onni kan belum pernah debut solo. Kalau iya, berarti yang salah kami berlima jadi yang dimarahin juga harus berlima,” celetuk Hamun dengan santai.

“Dan masalah drama, kalau yang dimaksud adalah dramanya bersama JoongKi oppa, menurut SBS yang menayangkannya drama Hyejin onni tembus rating 20%,” tambah Jihyo sambil menunjukkan situs SBS yang dia buka dari hapenya.

Manajer onni seketika terdiam dan memandang kami bertiga dengan kesal. “Bereskan barang kalian sekarang! Kita harus ke lokasi syuting Running Man. Cepat!” perintahnya dengan galak.

Aku tahu Jihyo dan Hamun mau membantah tapi aku mengisyaratkan mereka agar tetap diam. Aku meminta mereka untuk mengikuti saja apa mau manajer onni biar tidak ada keributan.

Meskipun kami lelah, kami tetap berusaha syuting dengan semangat, tidak ada guratan tidak senang sedikitpun.

“Ye, Hyejin ssi. Kau cerewet sekali. Berikan kesempatan membermu bicara,” ujar sang MC diiringi tawa ketika aku terus saja bicara sedangkan member SG yang lain diam.

Aku segera tertawa dan menjawab, “Ne. Ne.” tapi pada akhirnya tetap aku yang paling banyak bicara dan adlibs sampai syuting selesai.

“Fiuh, capek ya ternyata syuting variety show. Dari syuting berapa jam gini yang muncul cuma sejam dua jam,” kata Min Ah yang masih betah di lokasi syuting.

Hyun Ah hanya tertawa mendengar Min Ah mengeluh padahal tadi dia yang paling semangat. “Haha. Sudahlah. Ayo kita pulang,” ajakku.

“Tunggu sebentar lagi ya? Sebentaaaar saja,” pinta Min Ah.

Aku melihat manajer onni masih sibuk ngobrol sana sini jadi aku rasa tidak masalah. “Oke,” kataku setuju.

Aku duduk di samping Min Ah dengan hape di tanganku. Saat aku mau menelepon, hapeku hampir terjatuh saking terkejutnya aku siapa yang datang menghampiri kami.

“Yunho oppa,” ucapku.

“Ye, Hyejinssi. Wae?” balasnya.

“Aniyo. Annyeonghaseyo,” kataku lagi.

Dia tersenyum padaku lalu langsung menggandeng pergi Min Ah yang tampaknya sangat senang dengan kedatangannya. “Aku pinjam Min Ah sebentar ya, Hyejin,” katanya meminta izin padaku. Aku hanya mengangguk. Aku rasa ini alasan Min Ah tidak mau pulang dari tadi.

Yunho mengajak Min Ah keluar lokasi syuting yang membuatku lebih terkejut karena Siwon oppa yang tiba-tiba muncul tepat di hadapan Min Ah dan Yunho oppa yang sedang bergandengan tangan.

“Hancur dunia persilatan,” gumamku lalu segera menyusul mereka.

Wajah Siwon oppa dan Yunho oppa sudah tidak enak, bisa dibilang sudah siap menerjang satu lain. Min Ah hanya terpaku bingung.

Aku juga tidak tahu harus berbuat apa untung Hyun Ah dan Jihyo yang berada tidak jauh dari kami datang dan membawa oppa masing-masing pergi.

“Hai, oppa. Lama tidak mengobrol denganmu. Kau sangat sibuk sih. Ayo, ngobrol dulu denganku. Aku sangat merindukanmu tahu,” kata Hyun Ah kepada Yunho sambil menarik paksa oppanya ke tempat lain. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jihyo kepada Siwon oppa.

Kini tinggal aku dan Min Ah. “Kau harus segera memutuskan, Min Ah. Jangan biarkan semuanya menggantung seperti ini. Secepatnya,” kataku.

Min Ah paham maksudku. Dia mengangguk lalu berkata, “Tolong bantu aku ya, Hyejin. Ajak mereka ke van kita. Aku akan bicara dengan mereka.”

Aku memandang Min Ah tidak percaya. Dia melibatkanku yang tidak tahu apa-apa secara mendadak pula dan tanpa menunggu persetujuanku, dia sudah melenggang ke van kami. “Lalu, apa yang harus aku bilang pada kedua namja itu?” batinku.

Dengan berat hati aku menemui kedua pria tampan yang sedang mengejar temanku dan bilang, “Oppa, ayo ikut ke van kami. Ada yang mau Min Ah bicarakan. Dia sudah menunggu di sana.”

Dengan penuh semangat, kedua pria itu menuju van kami. Aku, Jihyo dan Hyun Ah mengikuti dari belakang. Kami takut terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan di antara mereka nanti.

Yunho oppa dan Siwon oppa masuk ke dalam van yang menyebabkan Hamun harus keluar dari van dan bergabung bersama aku, Jihyo dan Hyun Ah.

“Mereka bertiga mau ngapain sih?” tanya Hamun.

“Judgement day,” jawab Hyun Ah dengan was-was.

Pintu van bagian depan sedikit terbuka sehingga kami dapat mendengar pembicaraan Min Ah dan kedua namjanya.

“Aku sebenarnya suka pada kalian berdua tapi bagaimanapun aku harus memilih dan aku memilih…Yunho oppa,” kata Min Ah.

“Kenapa? Kenapa dia?” protes Siwon oppa.

“Aku memilih dia karena memang dia yang paling cocok denganku. Selain itu, aku tidak akan menjadi beban untuknya.”

“Bagiku kau bukan beban, Min Ah. Kau itu anugerah terindah,” bantah Siwon oppa.

“Tapi tidak bagi karirmu dan orang-orang di sekitarmu, oppa. Aku mohon, hargai keputusanku,” ujar Min Ah.

Tiba-tiba terdengar suara pintu van yang dibuka dengan kasar lalu Siwon oppa muncul dari van dengan perasaan marah, sedih, dan kecewa. Jihyo yang khawatir dengan oppanya segera menyusul, diikuti oleh Hamun. Sedangkan Hyun Ah bersorak gembira memberi selamat, “Ah, chukkae oppa! Chukkae Min Ah! Aaaah, aku senang sekali.” Hyun Ah bahkan memeluk Yunho oppa saking senangnya. “Ah, akhirnya penantian oppa tidak sia-sia! Chukkae, oppa!” ujar Hyun Ah lagi sambil tersenyum pada oppanya. Yunho oppa pun membalas pelukan Hyun Ah dengan bahagia dan bilang, “Gomawo, Hyun Ah. Gomawo.” Hal langka di dunia ini melihat Hyun Ah akrab dengan Yunho mengingat mereka saudara tiri, satu ayah beda ibu.

Aku hanya bisa menatap mereka satu per satu dengan perasaan lega. “Good job. Pilihan yang baik,” bisikku pada Min Ah karena pilihannya sesuai dengan harapanku meski aku tidak mempengaruhinya sama sekali.

Aku tinggalkan mereka bertiga bergembira dan  menemui pihak yang sedang merasakan hal yang sebaliknya. Aku berdiri lebih dari 100meter dari mobil Siwon oppa. Aku melihat ia sedang marah-marah dengan Jihyo dan Hamun yang berusaha menenangkannya. Aku merasa bersalah dan sedih. Aku paham perasaan Siwon oppa sekarang tapi ini keputusan terbaik untuk semuanya.

“Mianhe, oppa. Mianhe. Jeongmal mianhe,” gumamku berkali-kali sepanjang memandangi Siwon oppa.

…to be continued….