Part IX

Semakin bertambah member yang memiliki pacar, semakin bertambahlah jadwal wakuncar di dorm SG. Mulai dari HaBum couple yang hampir setiap hari kencan di depan tivi sambil menonton drama atau hanya sekedar menemani Hamun belajar. Lalu Sunghyo couple yang lebih sering latihan menyanyi bersama bahkan mereka membuat lagu mengenai diri mereka berdua dalam dua versi, pop upbeat dan ballad. Untuk YunMi couple, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berduaan di dalam kamar dan setiap Yunho oppa datang, kami selalu kebanjiran makanan. Alhasil, dorm kami mulai penuh dengan makanan yang merupakan ancaman untuk diet kami. Sedangkan untuk yang paling patut dikasihani adalah aku dan Hyun Ah meskipun Hyun Ah masih lebih baik dariku. Beberapa kali dia pulang telat karena harus bertemu dengan Yuchun oppa yang memang baru punya waktu luang jika malam datang. Sedangkan aku dan Kyuhyun oppa hanya bisa saling telpon atau sms maksimal 3x sehari saking sibuknya namja itu.

“Haish! Kapan kau punya waktu buatku kalau begini terus?” protesku saat meneleponnya suatu hari. “Aku merindukanmu tahu! Aku bosan hanya bisa menghubungimu lewat telepon. Bahkan di studio pun kita tidak bisa bertemu. Aku benci keadaan seperti ini!”

“Sabar ya, jagi. Mau gimana lagi? Aku harus menyelesaikan pekerjaanku,” kata Kyuhyun.

“Iya tapi masa meluangkan sejam untuk bertemu aku tidak bisa? Yunho oppa aja yang bolak-balik Jepang-Korea masih bisa ketemu Min Ah. Kenapa kau tidak bisa, oppa?”

“Maaf, jagi. Aku benar-benar tidak bisa. Jadwalku benar-benar full. Kalau tidak percaya, tanya aja manajerku.”

“Hhh. Iya, iya aku percaya. Sudahlah. Mau aku ngomel sampe mulutku berbusa juga kamu gak bakal datang!”

Aku memutus sambungan teleponku lalu menonton tayangan ulang Running Man saat SG menjadi bintang tamunya. Pertama kali melihatnya, aku merasa senang sekaligus lucu. Aku bahkan sampai tertawa tergulung-gulung di sofa. Tetapi sekarang acara itu terasa garing! Ini semua pasti karena Cho Kyuhyun yang sudah merusak moodku.

Aku iri setengah mati pada Min Ah yang selalu mendapat ciuman dari Yunho oppa setiap namja itu datang dan pergi lagi. Aku juga iri melihat Hamun dan Kibum yang selalu tertawa setiap mereka bersama. Pokoknya, aku mau Kyuhyun sekarang!

Aku merasa ada yang berbeda dengan mobilku ketika aku masuk ke dalamnya. Mobil ini terasa lebih wangi dan rapi dari biasanya. Aku menatap sekeliling mobilku dan hampir menangis terharu saat Kyuhyun oppa muncul dari jok belakang sambil memberikanku bunga. “Happy 8monthiversarry, jagiya,” ucapnya dengan senyum termanisnya.

Aku mengecup pipi Kyuhyun oppa dengan bahagia. “Gomawo,” kataku terharu bahagia.

Kyuhyun oppa balas mengecup pipiku. “Maaf ya baru bisa menemuimu sekarang. Walaupun tidak sampai sejam, aku harap kamu gak marah lagi sama aku. Ya?” kata Kyuhyun oppa.

Antara ingin menangis dan tertawa, aku mengangguk-angguk. “Gak apa. Semenit juga gak apa asal kita bisa ketemu, aku sudah senang sekali,” ujarku.

“Syukurlah. Kalau begitu sekarang aku bisa kembali kerja dengan tenang. Kamu juga ya, jagi. Kerja yang sungguh-sungguh. Kalau kau kerja sungguh, nanti malam aku akan ajak kamu makan enak di restoran.”

“Jeongmal?”

“Jeongmal. Pegang janjiku! Tapi sekarang aku harus pergi dulu. Sampai jumpa, jagi.”

“Ne. Ne, jagiya.”

Kyuhyun lalu kembali ke kesibukannya dan meninggalkan aku dengan kesibukanku.

Teringat janji Kyuhyun yang akan mengajakku makan malam, begitu selesai siaran aku pamit pulang. “Oppa, aku pulang duluan ya,” kataku pada Jejung oppa.

“Ah, kenapa buru-buru sekali sih? Sini dulu sebentar. Aku masih mau bicara denganmu,” kata Jejung oppa mencegah kepulanganku.

“Tapi Jungpa, aku ada janji dengan Kyu sebentar lagi.”

“Sebentar doang ah.”

Aku mengalah. “Iya, ada apa sih emangnya, oppa?” tanyaku.

“Kami akan pindah ke Jepang besok,” jawab Jejung oppa.

“Kami siapa?” tanyaku tidak paham.

“Kami. DBSK. TVXQ. Tohoshinki. Siapa lagi memangnya?”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Jungpa jangan bercanda ah. Orang kalian gak ada jadwal ke Jepang kok,” ujarku tidak percaya.

“Aku juga baru tahu tadi.”

Tiba-tiba air mataku menetes. “Bagaimana dengan aku nanti? Aku mau lari ke siapa nanti kalau Jungpa gak ada? Lalu Min Ah dan Hyun Ah bagaimana? Mereka kan baru punya hubungan dengan Yunho oppa dan Yuchun oppa.”

Jejung oppa tertawa melihatku lalu mengelus kepalaku. “Kami pindah bukan untuk selamanya, hanya setahun atau dua tahun. Mungkin kami bisa pulang kalau ada waktu. Kalau tidak ada, kamu kan bisa telepon atau bbm atau apalah,” ujar Jejung oppa.

“Tapi tidak melihat oppa dua tahun aku bisa gila.”

“Kan ada Kyuhyun. Kalau aku gak ada, kamu kan lari ke dia.”

“Iya, tapi kalau kami lagi berantem atau dia gak ada, aku gimana?”

“Ya hubungi aku aja kayak yang aku bilang tadi.”

“Ahhh, Oppa… Haish! Menyebalkan sekali sih!” gerutuku pada Jejung oppa yang sebenarnya tidak bersalah apa-apa. Ini memang sudah jadi konsekuensi pekerjaannya karena DBSK memang bersinar juga di Jepang. Tidak heran manajemen menjual mereka juga di Jepang.

“Nanti aku rajin-rajin meneleponmu deh,” kata Jejung oppa.

“Janji?” tanyaku.

Jejung oppa mengangguk dengan mantap dan aku langsung memeluknya. “Ahh, aku pasti akan merindukanmu,” ujarku pasrah.

“Aku juga pasti akan merindukanmu, Hyejin,” balasnya.

Aku tersenyum. Aku bisa menerima kenyataan kalau Jejung oppa akan pergi tapi bagaimana dengan Min Ah dan Hyun Ah terhadap Yunho oppa dan Yuchun oppa? Aku tidak tahu. Aku harus menyiapkan mental lebih dulu untuk bertemu dengan mereka di dorm nanti.

Aku masuk ke dalam dorm dan melihat 4 member SG selain aku sedang berkumpul dengan Min Ah sebagai pusatnya. Dia sedang menangis tersedu-sedu. “Ah, pasti dia sudah tahu kalau besok Yunho oppa akan pergi,” batinku.

Aku bergabung dengan mereka dan memperhatikan semuanya. “Kenapa mendadak begini sih? Belum ada sebulan jadian, aku sudah ditinggal pergi,” kata Min Ah disela tangisnya.

“Tenang, Min Ah. Aku juga ditinggal Yuchun oppa kok tapi kan tetap bisa komunikasi,” hibur Hyun Ah.

“Kamu sih santai karena kau dan Yuchun oppa belum ada apa-apa. Beda denganku dan Yunho oppa!” sahut Min Ah dengan galak karena emosinya yang tidak terkontrol.

“Iya, tapi Yunho oppa pasti akan sering-sering menghubungimu. Percaya padaku,” kata Hyun Ah lagi.

“Ah, kamu tahu apa sih soal oppamu?! Ngobrol aja jarang!”

Hyun Ah langsung terdiam. Mungkin dia sakit hati tapi tidak dia ungkapkan karena takut memperkeruh suasana. Aku memandangnya dengan tatapan menyesal. “Maafkan Min Ah ya. Dia sedang kalut,” bisikku.

Hyun Ah hanya mengangguk lalu meninggalkan kami. Aku menyusulnya. “Hei, kamu mau kemana?” tanyaku saat aku berhasil menyusulnya keluar.

“Cari udara segar,” jawab Hyun Ah dengan singkat sambil berjalan keluar dari lift.

“Aku ikut,” ujarku.

Hyun Ah tidak menjawab tapi aku tetap berjalan di sampingnya. Aku menunggu dia bercerita.

“Hyejin-ah,” panggil Hyun Ah yang akhirnya buka suara.

“Ne?” sahutku.

“Apa aku ini sangat buruk?” tanyanya padaku.

Aku menatapnya bingung. “Eh? Kenapa kau tanya begitu?” tanyaku.

“Yah, kau kan bisa melihatnya. Dari urusan keluarga, oppaku hampir menganggap aku ini tidak ada padahal jelas-jelas aku ini selalu ada di hadapannya. Untuk urusan asmara juga, Yesung oppa memutuskan aku hanya demi karir sedangkan Yuchun oppa tampak hanya seperti main-main denganku. Di SG, karirku yang paling lambat berkembang. Apa aku begitu buruk, Hyejin?”

Hyun Ah menatap dalam mataku dengan tatapan paling menyayat hati yang pernah aku lihat dari dirinya. Aku begitu merasa iba tapi aku harus menguatkannya bukan mengasihaninya.

“Hyun Ah, Tuhan tidak pernah menciptakan umat yang buruk. Semuanya sempurna seperti gambaranNya, tidak ada yang bercela,” ujarku.

“Kalau begitu kenapa aku tidak sempurna seperti Min Ah yang punya karir bagus, dikejar laki-laki tampan dan keluarga yang sayang padanya? Walau Leeteuk oppa jarang menemuinya, terlihat jelas dia sangat sayang pada Min Ah.”

Aku mencoba menjelaskan kepada Hyun Ah, “Setiap orang sempurna dengan caranya masing-masing. Kamu bisa masak, Min Ah tidak, begitu juga denganku dan dongsaeng kita. Kamu pintar, kuliahmu lancar, prestasi akademismu cemerlang. Kau punya pekerjaan yang menyita waktu tapi kau tetap punya waktu untuk dirimu sendiri. Kau harus mensyukurinya.”

Hyun Ah tersenyum padaku dan memelukku. “Gomawo, Hyejin. Kau memang orang baik. Aku bangga punya leader sepertimu,” ujarnya.

“Aku jauh lebih bangga punya member sepertimu. Tenanglah, Tuhan pasti memberikan yang terbaik untukmu.”

Hyun Ah menganggukkan kepalanya. Kini, wajahnya sudah ceria. Semangat hidupnya telah kembali. Aku pun jadi semangat karenanya!

Aku dan Hyun Ah kembali ke dorm dengan sukacita. Tidak ada lagi guratan sedih di wajah Hyun Ah. Dia bahkan langsung menemui Min Ah di kamar dan mungkin sekarang mereka sedang bicara dari hati ke hati, aku tidak tahu.

Yang aku tahu sekarang, Kyuhyun oppa sedang berduaan dengan Jihyo yang tampaknya sangat senang dengan kedatangan oppanya. Aku merasa kesal tapi aku berusaha menepisnya.

“Hei, darimana saja kau? Aku telpon, sms, bbm berkali-kali tidak dibalas. Kau lupa ya malam ini seharusnya kita makan malam berdua di restoran. Aku sudah meluangkan waktu, menyiapkan semuanya tapi kau ternyata melupakannya. Hhh,” ucap Kyuhyun padaku panjang lebar saat menyadari kehadiranku.

Aku merasa bersalah atas kelalaianku. Aku berusaha minta maaf tapi sepertinya Kyuhyun oppa marah besar padaku. “Kalau kau memang mau harusnya kau ingat-ingat acara kita,” kata Kyuhyun oppa dengan galak.

“Mianhe,” kataku pelan.

“Aku sudah memaafkanmu jadi tidak usah minta maaf teruslah, Hyejin.”

Meskipun katanya dia sudah memaafkanku, rasa kesalnya belum hilang. Aku hanya pasrah menerima semua omelannya sampai dia capek sendiri.

“Ah, sudahlah. Mau aku marah-marah kayak apapun toh kamu gak bisa balikin dinner kita malam ini. Lebih baik aku pulang. Sampai jumpa.”

Jihyo mengantarkan Kyuhyun keluar dorm kami sedangkan aku masuk ke kamar tamu dan menguncinya. Aku benar-benar butuh sendiri saat ini.

 

…to be continued….