Pemandangan paling tidak menyenangkan setiap Hyun-Ah bangun pagi adalah laptopnya yang menyala dengan mode standby dan Hamun yang tertidur dalam posisi duduk di depan laptop tersebut.

“Haish, anak ini susah kali dibilangin sih. Selalu tiap pagi seperti ini,” gerutu Hyun-Ah sambil membangunkan adik perempuannya itu.

“Hamun, cepat bangun! Kau harus sekolah!” seru Hyun-Ah dengan suara yang cukup keras tapi tidak cukup keras untuk membangunkan Hamun. Hyun-Ah kembali berseru dengan nada mengancam, “Jung Hamun! Bangun! Atau kau tidak akan aku ijinkan les lagi!”

Dalam sekejap, Hamun terbangun dan langsung melek. “Jangan, onni. Aku mohon jangan hentikan lesku,” kata Hamun memohon.

“Kalau begitu, cepat mandi dan berangkat sekolah. Aku akan menyiapkan bekalmu,” sahut Hyun-Ah dengan santai lalu beranjak ke dapur.

Di dapur, Hyun-Ah menyiapkan makanan untuk dibawa Hamun ke sekolah. Makanan itu dimasukkan ke dalam suatu tempat dan diletakkan di samping tas sekolah Hamun. Setelah itu, Hyun-Ah beralih untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.

Pada saat Hyun-Ah sedang membuat roti coklat keju untuk sarapannya, bel apartemennya berbunyi. Hal ini membuat Hyun-Ah harus menunda sarapannya.

Hyun-Ah membuka pintu apartemennya yang membuat dirinya sekarang berhadapan dengan tetangga yang paling usil.

“Selamat pagi,” sapa tetangga Hyun-Ah dengan ceria lalu masuk ke dalam tanpa permisi.

Hyun-Ah yang sudah terbiasa dengan hal ini pun tidak banyak komentar. Dia hanya menutup pintu dan menyusul tetangganya itu ke dalam.

Hyun-Ah segera masuk ke dalam dapur dan pasrah saja begitu melihat tetangganya memakan roti yang akan jadi sarapannya.

“Aku bersumpah akan menagih roti yang baru kau makan ke akunmu, Jongwoon,” kata Hyun-Ah.

“Silahkan,” sahut Yesung santai sambil nyengir usil. Yesung melahap rotinya dengan nikmat lalu meminum susu yang ada di hadapannya.

Tidak lama kemudian, Hamun bergabung di dapur dengan sudah memakai seragam lengkap dan tas di bahunya. “Onni, aku berangkat dulu. Jangan lupa nanti tinggalkan uang les ku kalau onni pergi. Ya?” kata Hamun.

“Oke, sayang. Hati-hati ya,” sahut Hyun-Ah.

“Oke. Bye, onni. Bye, Yesung oppa.”

Hamun lalu berangkat sekolah dan itu berarti tinggal Hyun-Ah dan Yesung di dalam apartemen itu.

“Hamun sudah pergi,” kata Yesung.

“Lalu?” sahut Hyun-Ah datar.

“Kita tinggal berdua.”

“Lalu?”

“Lalu…” kata Yesung perlahan sambil mendekat kepada Hyun-Ah.

“Lebih baik kau segera habiskan sarapanmu dan cuci semua peralatan makan yang kau gunakan. Aku mau mandi,” sela Hyun-Ah lalu berdiri dari kursinya. Hyun-Ah hendak beranjak dari dapur tapi suara Yesung yang berat menahannya. “Aku minta putus.”

“Aku harap kau bisa memberikan alasan rasional kepadaku,” kata Hyun-Ah.

“Aku lelah. Aku ini pacarmu tapi kau tidak pernah mengganggap aku seperti itu. Aku tidak tahu apa kau suka padaku atau tidak. Setiap aku mau menyentuhmu, kau selalu menghindar. Aku lelah bertanya-tanya.”

“Aku mengerti. Terima kasih.”

Yesung sudah biasa menghadapi Hyun-Ah yang datar dan dingin terhadapnya tapi ia tidak menyangka dalam situasi segenting ini pun Hyun-Ah akan tetap seperti itu.

Yesung tertawa getir. “Ternyata selama ini kau sama sekali tak punya perasaan padaku. Hanya aku yang terlalu sayang padamu,” kata Yesung kecewa.

“Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku harap kau bisa belajar dari pengalaman ini,” sahut Hyun-Ah lalu pergi meninggalkan Yesung sendiri di dapur.

Yesung menyesal setengah mati telah mengakhiri hubungannya dengan Hyun-Ah setelah mendengar gadisnya berkata Yesung terlalu cepat mengambil kesimpulan. Seandainya Yesung mau bersabar, tapi sekarang semua sudah terlambat.

 

. . .

 

Yesung duduk di ruang tamu sambil menonton tivi. Dia menunggu Hyun-Ah selesai mandi dan siap-siap. Yang ditunggu pun akhirnya muncul 15 menit kemudian.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Hyun-Ah.

“Astaga gadis ini. Hanya karena hubungan kita kandas bukan berarti kita tidak bisa berangkat ke kampus bersama kan? Kau terlalu naif,” kata Yesung.

“Terserah apa maumu.”

Hyun-Ah lalu mengisyaratkan Yesung untuk segera keluar dari apartemen. Yesung pun segera keluar dan menuju motornya diikuti Hyun-Ah.

Hyun-Ah segera naik ke atas motor setelah memakai helm dan jaket yang diberikan Yesung padanya. Setelah itu, Yesung melajukan motornya dengan kencang yang 10 menit kemudian sudah berhasil membawa mereka ke kampus dengan utuh.

Hyun-Ah turun dari motor lalu melepaskan jaket dan helmnya. Sambil menyerahkan kedua benda tersebut kepada Yesung, ia bertanya, “Kamu gak kuliah?” karena melihat Yesung tidak turun dari motor.

“Nanti aku nyusul, ada perlu sebentar,” jawab Yesung.

Hyun-Ah tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengangguk lalu meninggalkan Yesung sendirian dan masuk ke kelasnya. Seperti biasa, jika Hyun-Ah masuk kelas tanpa Yesung maka teman-teman mereka akan bertanya-tanya.

“Yesung akan menyusul katanya,” jawab Hyun-Ah atas semua pertanyaan “kemana Yesung? Kok gak bareng?”. Tapi ternyata sampai dosen masuk pun Yesung tidak kunjung masuk.

Saat sedang mencatat, tiba-tiba Sohee menyikut Hyun-Ah. “Ada apa?” tanya Hyun-Ah.

“Tadi aku lihat Yesung pergi bersama teman-temannya sambil membonceng seorang gadis. Apa kalian ada masalah?” kata Sohee.

“Tidak ada.”

“Lalu kenapa Yesung tidak bersamamu? Dia justru bersenang-senang dengan gadis lain?”

“Apa itu kurang jelas bagimu, Sohee? Kami sudah putus.”

itu menjadi kalimat terakhir yang bisa diucapkan Hyun-Ah selama di kampus karena begitu kelas ini berakhir, dia segera pulang.

Kepala Hyun-Ah terasa penuh dan berat. Pikirannya hanya tertuju pada Yesung yang sama sekali tidak dia ketahui keberadaannya dan bersama siapa. Hyun-Ah mencoba menelepon hape Yesung berkali-kali tapi tidak diangkat, sms juga tidak dibalas.

Berkali-kali, Hyun-Ah memeriksa apartemen Yesung tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Hyun-Ah juga sudah seperti setrikaan karena tidak berhenti mondar mandir saking cemasnya.

“Onni, jangan mondar mandir terus. Aku pusing jadi gak bisa belajar,” tegur Hamun.

Hyun-Ah akhirnya duduk di ruang tamu yang terdekat dengan pintu agar dia bisa mendengar kalau Yesung pulang.

Sampai tengah malam, Yesung belum juga pulang.

“Kemana sih anak itu? Kok ga pulang-pulang?” tanya Hyun-Ah dalam hati.

Hyun-Ah sekali lagi mencoba untuk memeriksa apartemen Yesung. Dia keluar dari apartemennya dan apa yang dia temukan sangat membuatnya terkejut.

Yesung terbaring tak teratur di depan pintu apartemennya sambil memegang sebuah kunci, yang dikenali Hyun-Ah sebagai kunci apartemen mantan pacarnya itu.

Hyun-Ah mengambil kunci itu dari tangan Yesung lalu membuka pintu apartemennya. Setelah itu, Hyun-Ah membopong Yesung masuk ke dalam dengan sekuat tenaga dan membaringkannya di sofa.

Dengan perlahan, Hyun-Ah melepaskan jaket, tas, sepatu dan benda-benda lain yang bisa membuat Yesung tidak nyaman beristirahat. Saat Hyun-Ah sedang melepaskan jaket Yesung, laki-laki ini meracau tidak jelas dan Hyun-Ah bisa mencium bau alkohol dari mulut Yesung walaupun baunya tidak kuat.

“Lihat siapa yang mencemaskanku? Jung Hyun-Ah! Gadis tercantik dengan kepribadian terburuk,” racau Yesung setengah sadar.

Hyun-Ah tidak menanggapi racauan Yesung. Dia terus membereskan Yesung agar dapat beristirahat dengan nyaman. Tapi racauan Yesung semakin parah, “Tadi pagi dia sedingin es tapi sekarang dia sehangat selimutku di kamar. Seharusnya, kau memang jadi selimutku. Apapun yang kamu minta pasti aku berikan, Hyun-Ah.” Entah sadar atau tidak, Yesung melingkarkan tangannya di tulang pipi Hyun-Ah lalu memaksa gadis itu menciumnya.

Hyun-Ah sudah kehilangan kesabaran. Dengan sekuat tenaga dan emosi, Hyun-Ah menampar Yesung. “Berhentilah bertingkah seperti pecundang!” seru Hyun-Ah.

Akibat tamparan dan seruan Hyun-Ah yang sangat kencang, Yesung tersadar dan melepaskan tangannya dari pipi Hyun-Ah lalu melompat duduk.

Hyun-Ah segera berdiri menjauh dari Yesung. “Kau sangat menjijikan!” kata Hyun-Ah dengan tajam.

“Tutup mulutmu, Jung Hyun-Ah. Kau tidak kurang menjijikan dari aku. Setiap hari bertingkah seolah tak peduli padaku padahal sebenarnya kau terlalu peduli. Kau hanya takut mengakuinya. Naif!” balas Yesung.

Ini pertama kalinya Yesung berkata tajam pada Hyun-Ah dan membuatnya syok seketika. Hyun-Ah berjalan mundur sampai menabrak tembok dan terduduk. Kakinya terlipat sampai lututnya sejajar dengan bahu.

“Aku sayang kamu melebihi diriku sendiri tapi kau membuatku merasa tidak berguna. Akuilah, kau membutuhkan aku. Kau SAYANG PADAKU!” seru Yesung yang semakin memojokkan Hyun-Ah.

Hyun-Ah tidak bisa menahan tangisannya lagi. Semua kata-kata Yesung itu benar dan menamparnya sekeras tamparan yang dia daratkan di wajah Yesung beberapa saat tadi.

“Kalau saja tadi pagi kau bilang tidak mau putus, walau dengan nada paling kejam pun, saat ini pasti tidak akan ada,” lanjut Yesung yang membuat Hyun-Ah semakin tak berdaya. Dia hanya terduduk dengan wajah terbenam di telapak tangannya sambil menangis terisak sampai sulit bernafas.

“Apa maumu? Katakan sekarang!” teriak Hyun-Ah histeris nyaris kehilangan kendali atas nafasnya.

Yesung tidak berkata apa-apa. Dia mendekati Hyun-Ah lalu duduk di hadapannya dan meluruskan kaki Hyun-Ah. Setelah itu dia berpindah ke sebelah Hyun-Ah dan merangkulnya. “Katakan padaku apa yang sebenarnya kau rasakan. Kau suka padaku atau tidak. Jujurlah pada perasaanmu sendiri,” kata Yesung dengan lembut.

“Aku… Aku…sayang pa…damu,” Hyun-Ah mencoba merangkai kata-kata tapi nafasnya yang belum stabil membuatnya susah.

Yesung mengelus-elus kepala Hyun-Ah lalu menciumnya, “Sudah, tidak usah dipaksa. Aku rasa sekarang sudah jelas. Kau mencintaiku kan?” kata Yesung.

Sambil menghentikan isak tangisnya, Hyun-Ah mengangguk-angguk. Tangannya lalu memeluk Yesung dan untuk pertama kalinya Hyun-Ah merasakan bahwa memeluk orang yang dia sayangi dapat memberikan perasaan hangat yang tidak terperi.

“Ternyata kau sangat hangat,” kata Hyun-Ah jujur.

“Dari dulu. Hanya saja kau takut mencobanya. Aku menyediakannya 24 jam untukmu tapi kau selalu melewatkannya, baru kau rasa sekarang betapa ruginya kau kan?” sahut Yesung.

Hyun-Ah mengecup pipi Yesung lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu laki-laki itu. “Aku akan memanfaatkannya dengan baik dari sekarang,” kata Hyun-Ah sambil mempererat pelukannya.

Yesung tersenyum sambil mengelus-elus kepala Hyun-Ah. “Semuanya milikmu, sayang,” kata Yesung.

 

.end.