Aku sedang benar-benar kesal pada seorang pria bernama Yunho karena ia berhasil mengganti password laptopku. Aku bersumpah akan menghajarnya begitu dia sampai di rumah.

 

flashback

“Min-Ah, tidur yuk. Sudah malam. Aku sudah ngantuk,” kata Yunho dari belakang sambil mengusap rambutku.

Aku yang sedang serius dengan pekerjaanku menyuruhnya pergi tidur duluan, “Kau duluan saja. Kerjaanku masih banyak.”

Yunho tidak membantah tapi memberikan ultimatum, “Kalau dalam 10 menit kamu belum berada di tempat tidur maka besok aku pastikan kamu gak bisa buka laptopmu.”

Aku tidak menggubris perkataannya. Aku mengetik kerjaanku sampai larut malam, melebihi batas waktu yang diberikan Yunho.

Flashback end

 

Aku sedang menonton tivi saat tiba-tiba ada seseorang yang mencium pipiku dari belakang. Dari baunya aku tahu siapa orang ini.

“Aku pulang,” kata Yunho dengan tenang, lebih-lebih ceria.

Aku langsung melompat dari tempat dudukku sambil berteriak, “Laptopku! Kamu apakan laptopku?”

“Laptopmu kenapa?” tanya Yunho dengan tampang pura-pura tidak tahunya. Aku sudah hafal tampang ini.

Aku menghela nafas panjang. “Ya sudah kalau kamu tidak mau beritahu password laptopku yang baru. Aku akan ke rumah Junsu oppa untuk membukanya. Dia kan pintar,” balasku dengan tenang tapi dengan nada mengancam. Aku tahu Yunho akan cemburu berat kalau aku menyebut nama Junsu, tetangga kami yang jago teknologi.

Yunho terdiam. Dia sedang menimbang-nimbang. “Baiklah, aku akan memberitahumu tapi kamu jangan ke rumah Junsu hyung ya,” kata Yunho menyerah.

Aku tersenyum lebar lalu berbalik menghadap laptopku. “Apa passwordnya?” tanyaku.

Yunho tidak menjawab. Dia malah mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berbisik, “Aku cinta padamu.”

Saat itu juga rasanya duniaku berhenti hanya jantungku yang berdetak 3 atau 4 kali lebih cepat dari biasanya. “Ja…jangan main-main, Yunho. Apa passwordnya?” kataku lagi salah tingkah.

Yunho menyengir lebar di hadapanku. “Itu passwordnya. Ketik saja.”

Aku memasukkan kata-kata ‘aku cinta padamu’ dengan gemetaran karena masih kaget dengan perlakuan Yunho tadi. “Password incorrect,” kataku menirukan tulisan yang muncul di layar laptopku.

Yunho tiba-tiba tertawa. “Kau ini polos sekali ya? Rasanya aku sudah ratusan kali mengatakan cinta padamu tapi reaksimu tetap sama, gemetar dan salah tingkah. Aku senang sekali,” kata Yunho.

Pria ini benar-benar menyebalkan. Dia sudah memegang kartuku. Aku merasa suhu badanku meninggi karena malu. Mukaku mungkin juga sudah merah tapi aku berusaha tetap tenang. “Yunho, apa passwordnya?” tanyaku.

“Coba masukkan ‘Min-Ah cantik’ atau ‘aku tidak bisa hidup tanpamu'”, kata Yunho lalu pergi ke kamarnya.

“Password incorrect!” seruku.

Entah apa yang sedang dilakukannya di kamar tapi yang pasti hal ini membuat kami jadi saling berseru. Yunho menyerukan password-password aneh dan aku terus menyerukan kata-kata ‘password incorrect’. Semua password yang dia sebutkan tidak ada yang benar tapi sangat manis menurutku. Aku selalu tersenyum saat memasukkan kata ‘aku selalu merindukanmu’, ‘Min-Ah adalah wanita paling cantik’, dan sebagainya. Karena kata-kata itu membuaiku aku jadi tidak sadar bahwa Yunho sedang mengerjaiku.

“Sudahlah kalau kamu gak mau kasih tahu. Aku akan ke rumah Junsu oppa sekarang juga,” kataku sambil beranjak membawa laptopku.

Yunho yang kini sudah berada di sampingku menarik tangan kananku lalu menyematkan cincin di jari manisku dengan cepat. “Tekan saja enter. Aku tidak mengganti passwordmu. Aku hanya menghapusnya,” kata Yunho lalu kembali lagi ke kamarnya.

Aku menuruti kata-katanya dan laptopku terbuka tanpa ada satu pun yang berubah kecuali desktop backgroundnya. Desktopku awalnya polos tapi sekarang ada foto berdua kami yang pertama yang diambil bertahun-tahun lalu saat kencan pertama kami sekaligus resminya hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Di foto itu kami terlihat masih canggung.

Aku menatap gambar itu dengan teliti sambil senyum-senyum. Aku memperhatikan setiap inci gambar itu termasuk tanggal pengambilannya, 6 november 2005. Aku mencocokkan tanggal tersebut dengan tanggal hari ini, 6 november 2010. Refleks, tanganku menepuk keningku.

“Bagaimana aku bisa lupa? Ya ampun!” kataku. Aku menatap cincin di jari manisku yang membuatku panik. “Apa yang harus aku lakukan? Memberi Yunho hadiah juga? Hadiah apa?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku masuk ke dalam kamarku dan mencari sesuatu yang berharga yang bisa aku berikan buat Yunho tapi aku tak menemukan apa-apa kecuali kalung pemberian ibuku. “Tidak mungkin Yunho bisa memakainya. Ini kan kalung cewek,” gumamku. Tapi aku tidak pikir panjang lagi. Aku bawa kalung itu ke kamar Yunho.

Aku masuk ke dalam kamarnya lalu duduk di tempat tidurnya. “Apa game mu sudah naik level?” tanyaku basa-basi. Aku sebenarnya paling benci seperti ini, tidak bisa mengungkapkan maksudku dengan langsung.

“Belum. Kenapa?” sahut Yunho.

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke arahnya lalu mengalungkan kalung yang aku bawa ke lehernya. Sebelum Yunho sempat berbalik, aku sudah muncul di hadapannya lalu menciumnya. “Happy anniversary,” kataku sambil tersenyum.

Aku tahu hanya dengan ciuman aku mampu membangunkan singa tidur yang ada di dalam tubuh Yunho tapi aku yakin aku bisa mengendalikannya. Semoga saja begitu karena saat ini aku sudah berada di sudut ruangan dan siap diterkam. Anehnya, aku tidak merasa takut. Aku malah merasa bahagia.

 

.end.