Main Cast :

– Choi Siwon

– You as Hamun

 

Happy reading😀

 

.Si Won POV.
Aku suka sekali kebebasan. Aku tidak peduli bagaimana pun kontrak mengikatku, aku pasti akan mencari cara untuk mendapatkan kebebasan.
Tapi ikatan kali ini berbeda. Aku sudah menyerahkan kebebasanku. Hidupku bukan milikku seorang lagi.
. . .
Ha Mun POV.
Rumah ini terasa sangat sepi sejak Hye Jin onni pindah. Dia sudah punya rumah sendiri sejak resmi menikah dengan Kyu Hyun oppa. Sudah dua tahun belakangan marga “Cho” bertengger di depan namanya. Cho Hye Jin.
Aku meminta manajerku untuk tinggal bersama tapi rasanya jelas sekali berbeda. Aku juga sering memaksa pacarku untuk ke rumahku tapi jadwalnya tidak pernah memungkinkan. Tuan muda Choi Si Won selalu punya jadwal segudang dan namaku jarang sekali muncul di jadwalnya. Huahhhh!!
Untung saja hari ini Cho In Ri datang untuk menghiburku. “Ahjumma, ayo kita main star craft,” katanya dengan suaranya yang imut-imut.
Kalau saja anak ini bukan anak satu-satunya Hye Jin onni, mungkin sudah aku angkat dia jadi anakku. Menggemaskan! Super!
“Ahjumma, jangan star craft deh. Kita main dota saja deh,” katanya lagi.
Huah, anak ini bikin aku ingin mengigitnya. Walaupun darah Kyu Hyun oppa kental sekali dalam tubuh anak ini tapi aku menganggap anak ini sejuta kali lebih lucu, tampan, dan baik dari ayahnya. Hahahaha.
. . .
.Si Won POV.

Tidak bertemu sehari serasa setahun. Lalu bagaimana jika aku sudah tidak ketemu selama dua minggu seperti ini? Rumus perkalian pun tidak mampu memecahkannya. Yang ada kepalaku yang pecah. Meskipun sudah 5 tahun bersama, rasanya aku bisa gila setiap merindukannya!!
Aku memohon, kalau tidak bisa dibilang merengek karena aku sudah tua, pada manajerku untuk menemui Ha Mun begitu tiba di Korea. Sungguh ajaib, manajerku langsung mengabulkan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku bergegas ke rumah Ha Mun. Dia pasti akan senang.
Seribu rencana untuk berduaan telah tersusun di kepalaku tapi langsung hancur seketika saat aku lihat batang hidung Cho In Ri di rumah itu.
“Ahjussi, apa kabar?” sapanya. Suaranya yang imut itu langsung mengingatkanku pada siapa yang telah membuat makhluk kecil ini ada di dunia. Anak ini benar-benar seperti Kyu Hyun, magnae yang tidak pernah bisa membuatku kesal apalagi marah padanya.
“In Ri, ikut aku dan Hamun ahjumma jalan-jalan yuk. Mau?” Pertanyaan yang sebetulnya tidak perlu aku keluarkan karena dia pasti mau. Hanya ini rasanya yang membuatnya mirip ibunya, doyan banget jalan-jalan.
. . .
.Ha Mun POV.
Aku berjalan di sebelah Si Won sambil menggandengnya dengan mesra. Si Won juga ingin menggandengku tapi tangannya harus menggendong In Ri. Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Hahaha.
Sejak aku dan Si Won sepakat untuk mengumumkan hubungan ini ke publik, aku tidak takut lagi untuk mengumbar kemesraan. Aku tidak peduli dengan orang yang memperhatikan kami apalagi paparazzi yang selalu mengikuti kami kemana pun dengan kamera mereka.
. . .
Seperti yang sudah aku duga semalam, infotainment pasti akan membesar-besarkan hubunganku dengan Si Won.
“Pasangan Choi Si Won dan Kang Ha Mun ternyata telah menikah diam-diam dan memiliki anak. Kami berusaha untuk mendapatkan berita langsung tapi pasangan tersebut menolak untuk diwawancara.”
Aku tertawa mendengar omongan pembawa acara berita tersebut. Mereka terlalu melebih-lebihkan dan berkata yang sebenarnya tidak pernah mereka lakukan.
Aku tahu kalau mereka sebenarnya tahu bahwa anak yang bersamaku adalah In Ri, anak yang kelahirannya mereka beritakan sampai ke pelosok negeri. Mereka bahkan mendapat wawancara ekslusif dengan Kyu Hyun oppa. Dasar infotainment!
. . .
.Si Won POV.
Rasanya menyedihkan sekali hanya bisa bersama selama 2 jam lalu aku harus pergi lagi meninggalkannya.
Aku tahu dia tidak akan menderita selama aku tidak ada. Jadwalnya yang padat rasanya cukup mampu untuk menyudutkanku untuk sementara. Hanya saja, aku yang bisa mati karenanya.
“Aku akan langsung menemuimu lagi begitu jadwalku selesai. Sabar ya,” kataku sebelum pergi.
Aku mendaratkan ciumanku di keningnya dan ia memberikan aku sebuah senyuman. Senyum yang memberikan semangat luar biasa dan keyakinan, dia pasti menungguku.
. . .
.Ha Mun POV.
Aku mengembalikan In Ri ke rumahnya sebelum aku pergi syuting. Seperti biasa, aku selalu bertanya-tanya apa mereka ingat kalo mereka sudah punya anak? Cho Kyu Hyun dan Hye Jin selalu terlihat seperti pacaran.
“Appa! Omma!” seru In Ri sambil berlari kecil ke arah Kyu Hyun oppa.
Aku tertawa terbahak-bahak dalam hati melihat kemesraan pasangan favoritku terganggu oleh anak mereka sendiri.
“Gomawo, oppa, onni sudah meminjamkan In Ri padaku,” ucapku yang selalu dibalas seperti ini oleh Kyu Hyun oppa. “Anak kami, anak kamu juga. Anakmu nanti ya anak kami juga.”
Mereka menganggap aku adalah ibu In Ri juga jadi mereka tidak pernah khawatir.
. . .
.Si Won POV.
Susahnya jadi selebritis adalah selalu saja diberitakan. Kalau beritanya benar sih tidak masalah tapi kalau sudah tidak benar apalagi kalau tidak pernah terjadi, itu yang repot. Aku harus klarifikasi ke sana ke mari. Termasuk berita yang sangat menghebohkan ini!
“Ini Cho In Ri, anak pertama ku. Dia yang kalian lihat bersama Si Won hyung dan Ha Mun,” kata Kyu Hyun membantuku bicara. “Hye Jin sedang mengandung anak kedua kami sekarang.”
Tapi rupanya wartawan belum puas. Mereka terus memojokkan aku sampai aku harus mengeluarkan pernyataan, yang belum tepat waktunya.
“Aku memang akan menikah dengannya.”
. . .
.Ha Mun POV.
Aku langsung bergegas ke rumah Hye Jin onni begitu syuting selesai. Aku ingin memberinya selamat karena dia akan memiliki anak kedua.
“In Ri akan memiliki adik. Asiiiik!” kataku sambil memeluk Hye Jin onni. Aku senang sekali.
“Dan aku akan memiliki adik ipar. Aah, akhirnya…” balas Hye Jin onni.
Aku menyengir lebar. Si Won memang belum melamarku secara langsung tapi statementnya kepada media aku anggap sebagai lamaran paling manis.
. . .
.Si Won POV.
Aku sudah tahu manajerku akan menceramahiku begitu dia membaca berita aku akan menikah. Kalau dia tidak tahu, aku akan sangat terkejut. Berita ini menjadi headline di setiap media infotainment.
“Kau harusnya bilang dulu padaku kalau mau menikah. Kalau sudah begini, aku jadi repot,” kata manajerku.
Aku hanya cengar-cengir tidak jelas. Aku tidak terlalu memikirkannya. Menurut kontrak, aku sudah berhak untuk menikah. Aku lebih memikirkan bagaimana cara melamar Ha Mun. Aku deg-degan.
. . .
Aku tidak ada ide sama sekali. Otakku kosong. Karena itu aku meminta bantuan pada dua orang yang aku percaya bisa membantuku.
“Kau ajak saja dia makan lalu lamar dia. Gampang kan?” kata Kyu Hyun.
“Haduh. Jangan. Kau langsung saja datang ke rumah lalu lamar dia,” kata Hye Jin.
Aku salah memilih orang! Mereka sama sekali tidak membantu. Ide mereka terlalu simpel. Aku curiga jangan-jangan mereka tidak ingat bagaimana cara mereka melamar dan dilamar. Ah, tidak. Tuhan, bantu aku.
. . .
.Ha Mun POV.
Aku menyambut kedatangan Si Won dengan bahagia. Aku senang sekali bisa melihat wajah laki-laki. Dan aku semakin senang saat dia memperlakukanku seperti ratu.
Dia memintaku untuk duduk tenang sambil menunggunya memasak. Aku berhasil memakan hasil masakannya!
Tapi hal itu masih kalah membahagiakannya dibanding saat dia berkata, “Menikahlah denganku. Ya?”
Tanpa ragu aku setuju menikah dengannya. Sekarang aku punya hobi baru, memandang cincin lamaranku. Hahaha.
. . .
.Si Won POV.
Aku bahagia sekali Ha Mun menerima lamaranku dan sekarang aku senyum-senyum sendiri mengingatnya.
“Tentu saja aku mau,” katanya sambil tersenyum waktu aku melamarnya.
Aku merasa bersalah membiarkannya mempersiapkan pernikahan kami seorang diri sedangkan aku duduk tenang di pesawat. Aku harus menyelesaikan jadwalku sebelum pernikahanku dilaksanakan bulan depan.
Aku tidak khawatir atas pilihan-pilihan Ha Mun untuk pernikahan kami tapi aku takut wanita itu berubah pikiran karena diriku tidak membantu sama sekali.
. . .
.Ha Mun POV.
Aku meminta bantuan Hye Jin onni dalam mempersiapkan pernikahanku. Mulai dari gaun sampai undangan. Kalau masalah gedung dan makanan serta susunan acara, aku serahkan pada sebuah wedding organizer.
“Onni nanti In Ri jadi pengiring pengantinku ya,” kataku.
Hye Jin onni tentu saja dengan senang hati menyetujuinya.
Aku berharap Si Won bisa menemaniku tapi harapan tinggallah harapan. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya.
. . .
Aku tidak tahu apa Si Won akan setuju atau tidak dengan semua pilihanku. Aku juga tidak tahu apa semua orang yang ingin dia undang sudah aku undang semua. Aku hanya bisa memastikan semua yang diminta oleh orang tua kami sudah dipenuhi. Kerabat yang perlu hadir sudah di undang. Acara yang awalnya ingin aku buat sederhana menjadi besar.
. . .
.Si Won POV.
Aku memang tidak salah pilih. Semua keperluan pernikahan kami sudah diurus dengan sempurna oleh Ha Mun. “Aku rasa aku tidak perlu khawatir dengan rumah tangga kita nanti. Hahaha,” pujiku tulus.
Baju yang akan aku pakai sangat indah begitu juga dengan cincinnya. Semua dekorasi ruangan juga oke punya.
Tinggal menunggu jam sampai ke pemberkatan nikah kami. Aku deg-degan. Luar biasa, rasanya jantungku mau keluar!
. . .
Ha Mun terlihat cantik, sangat cantik, dengan gaunnya. Didampingi ayahnya, dia berjalan sangat anggun menuju altar. Tidak ada wanita yang lebih sempurna dari Ha Mun.
“Ya, aku bersedia.” Kata-kata itulah yang ingin aku ucapkan dan aku dengar dari mulut Ha Mun.
Beratus-ratus orang memberikan ucapan selamat termasuk seluruh member SUPER JUNIOR. Kami ber15 berfoto bersama, juga dengan keluarga masing-masing.
Aku bahagia sekali. Gadis yang aku telah aku cintai 5 tahun akhirnya akan di sisiku selamanya.
. . .
.Ha Mun POV.
Aku memandang foto terbesar yang terpasang di dinding rumahku. Foto pernikahanku dengan Si Won. Aku mau terikat dengannya dengan harapan dia akan berubah. Aku tahu dia adalah pria paling sempurna yang ada di dunia ini. Tidak ada cacat sedikit pun. Hanya ada satu kekurangan, dia memuja kebebasan. Hal yang tidak akan dimiliki jika sudah terikat. Hidupku adalah hidupnya dan hidupnya adalah hidupku.
Tapi meskipun dia tidak berubah, aku akan tetap mencintainya.

-THE END-

@gyumontic