FIND THE TRUTH (PART 10)

G / Romance – Friendship / Series

Author is Me (facebook account’s owner where it published)

 

Cast :

Super Girls

Super Junior

Shinee

DBSK

Song Joong Ki

 

Supp. Cast:

Jessica

 

In a Relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Choi Siwon – Kang Hamun

Jung Yunho – Park MinAh

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo – Lee Sungmin

Lee Donghae – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

 

To My LIVELY sister in KPOP WORLD!!

enjoy baby!!!!😀

 

Part 10

 

Jejung, Jungki, Kyuhyun dan Hyejin sudah duduk rapi di ruang rapat rumah Hyejin. Mereka sedang menunggu kedatangan tuan Choi dan tuan Song. Hyejin duduk nyaman di sebelah Kyuhyun dengan kepala terkulai di bahu pria itu dan rangkulan Kyuhyun di pinggannya.

Sebetulnya hanya Kyuhyun dan Hyejin yang diwajibkan datang tapi Jejung dan Jungki ikut menemani karena khawatir dengan Hyejin.

“Hyejin, kira-kira apa yang akan dibicaran appamu dan tuan Choi ya?” tanya Jejung.

“Appa pasti akan bicara tidak jauh dari karirku dan nasib anakku. Kalau appa baik hati mungkin membahas nasibku dengan Kyuhyun. Tapi aku berharap dia membicarakan nasib Kyuhyun dan SJ,” jawab Hyejin.

Kyuhyun mengelus-elus kepala Hyejin dengan penuh kasih sayang. Kyuhyun tak menyangka dalam situasi seperti ini yang paling dicemaskan Hyejin adalah dirinya.

“Omong-omong soal anak. Kalau kau hamil, apa masih tetap bisa tampil bersama SG, Hyejin? Perutmu kan akan semakin membesar. Lalu apa kalian tidak akan menikah?” tanya Jejung pada lagi.

Hyejin menarik nafas panjang, memasrahkan diri dan berusaha menjawab dengan tenang, “Mungkin itu yang akan dibahas Appaku nanti. Aku juga tidak tahu. Yang pasti kalau publik tidak boleh mengetahui mengenai semua ini, aku harus mendekam di rumah…entah sampai kapan.”

Kyuhyun menggenggam tangan Hyejin dan berkata, “Aku akan menikahimu. Aku tidak akan membiarkan Cho junior kita lahir dan besar tanpa ayahnya. Aku juga tidak akan membiarkanmu mendekam di rumah. Tenang ya, sayang.”

Hyejin sedikit lebih tenang mendengar ucapan Kyuhyun tapi tetap saja semua tergantung pada tuan Song.

“Klek!” pintu ruang rapat terbuka. Tuan Song masuk ke dalam ruangan sendirian, beliau tidak bersama tuan Choi.

“Appa, mana tuan Choi? Kenapa dia tidak datang?” tanya Hyejin cemas karena nasib karirnya dan Kyuhyun ada di tangan tuan Choi.

“Dia sedang sibuk jadi tidak bisa meluangkan waktu hanya untuk datang ke sini dan mengurus masalah yang kalian buat,” jawab tuan Song sambil memandang Hyejin dan Kyuhyun dengan dingin.

Hyejin merasa bersalah juga sedih untuk kesekian kalinya dan Kyuhyun lagi-lagi harus berusaha menenangkan Hyejin lewat genggaman tangannya.

Hyejin mendapatkan kembali semangat hidupnya. “Lalu nasib SG dan SJ bagaimana, Appa? Apa Kyuhyun dibekukan juga kontraknya?” tanya Hyejin cemas yang justru membuat appanya semakin kesal.

“Tidak ada yang kontraknya dibekukan. Kalian tetap bisa beraktivitas,” jawab tuan Song.

Hyejin sudah mau berdiri untuk berterima kasih pada appanya tapi ucapan tuan Song membuat Hyejin kembali duduk. “Simpan rasa terima kasihmu untuk keluarga Choi, Hyejin. Sesungguhnya aku ingin sekali kontrak kalian diputus,” ujar tuan Song dengan dingin.

Jejung dan Jungki ingin menolong Hyejin tapi jika mereka bertindak sekarang, tuan Song mungkin akan semakin dingin dan semakin menyulitkan Hyejin. Duo Jungpa pun mengurungkan niat mereka dan memilih duduk diam mendengarkan tuan Song.

“Sekarang aku hanya mau tahu, kapan kalian akan menikah dan apa rencana kalian dengan anak itu,” kata Tuan Song pada Hyejin dan Kyuhyun sambil menunjuk perut Hyejin.

“Menikah?!” tanya Hyejin terkejut dengan mata membelalak. Hyejin belum siap untuk menikah.

Tuan Song memandang Hyejin tajam. “Ya, menikah. Kamu mau anakmu lahir tanpa ayah? Kalau iya, jangan harap Appa masih menganggapmu anak,” ujar tuan Song ketus.

Kyuhyun menggenggam tangan Hyejin lalu berbicara, “Aku akan menikahi Hyejin, kalau bisa, hari ini juga, ahjussi. Aku juga akan bertanggung jawab atas anak yang akan dilahirkan Hyejin nanti. Aku sangat mencintai mereka, ahjussi.”

Tuan Song melihat ketulusan dan keseriusan Kyuhyun tapi tidak semudah itu mendapatkan maaf dari dirinya setelah apa yang mereka lalukan. Tuan Song memandang Kyuhyun dan Hyejin dengan serius. “Appa tidak mau tahu, 3 hari lagi, kalian sudah harus pemberkatan nikah tapi sebelumnya kalian harus bertobat dan mohon ampun pada Tuhan atas dosa kalian itu,” ujar tuan Song tajam.

Kyuhyun mengangguk paham, menyanggupi perintah calon mertuanya. “Ne, ahjussi. Saya mengerti. 3 hari ke depan saya pasti sudah menikah dengan Hyejin,” sahut Kyuhyun.

“Tanpa ada orang yang tahu kecuali keluarga tapi jangan harap aku mau hadir di acara itu,” tambah tuan Song.

Hyejin semakin sedih dan merasa tidak enak pada Kyuhyun karena harus menerima perlakuan dingin dari appanya tapi Kyuhyun terlihat pantang menyerah. Kyuhyun menyanggupi semua perintah dari appa Hyejin.

Jungki dan Jejung tidak lagi bisa diam. Mereka juga ingin terlibat. “Meskipun Hyejin dan Kyuhyun boleh beraktivitas, suatu hari nanti perut Hyejin akan semakin besar. Publik pasti bertanya-tanya jika melihatnya. Apa itu tidak masalah?” tanya Jungki.

“Bagaimana juga nanti kalau publik tahu mereka menikah diam-diam?” timpal Jejung.

Tuan Song tertawa sinis. “Kalian anak muda hanya bisa bertanya tanpa cari solusi. Tetap kami, orang tua, yang harus memeras otak,” ujar tuan Song.

Jejung dan Jungki terdiam menundukkan kepala. Mereka tidak berani menatap tuan Song lagi.

“Appa dan tuan Choi sudah memutuskan, Hyejin tetap bisa aktif di SG sampai 3-4 bulan ke depan setelah itu kau harus diam di rumah karena perutmu yang semakin membesar,” lanjut tuan Song.

Jungki yang tidak bisa diam, lagi-lagi menyambar karena terlalu banyak hal yang berkecamuk di pikirannya, “Publik tidak boleh tahu masalah ini? Tidak mungkin, ahjussi. Penciuman mereka sangat tajam. Apalagi 9 bulan lagi, Hyejin akan melahirkan di rumah sakit yang jelas-jelas ruang publik.”

Tuan Song menghela nafas geram pada Jungki. “Kau lupa siapa kita, keponakanku sayang? Hyejin akan melahirkan di rumah ini dengan dokter paling terpercaya. Selain itu, kita tidak akan meregistrasikan pernikahan, kelahiran atau pun melakukan pengumuman apapun sampai tuan Choi mengijinkan. Apa itu sudah jelas, Song Jungki?” jawab tuan Song.

Jungki mengangguk. Semua pertanyaannya telah dijawab oleh tuan Song. Mau tidak mau Jungki kagum juga kepada pamannya yang telah berpikir jauh ke depan.

“Jadi Appa, saat ini aku dan Kyuhyun tetap boleh bekerja?” tanya Hyejin dengan ceria. Ia tidak menyembunyikan kelegaannya.

“Iya. Apa kau tidak dengar omonganku yang panjang lebar tadi?” jawab tuan Song.

“Berarti Kyuhyun tidak ada masalah?” tanya Hyejin lagi. Hyejin tidak peduli dengan masalah pernikahan, melahirkan atau apapun kecuali SG, SJ dan Kyuhyun.

Tuan Song memandang Kyuhyun dengan sinis. “Aku tidak peduli,” jawab tuan Song dingin.

Hyejin bangkit berdiri mencium appanya. “Gomawoyo, appa. Jeongmal gomawoyo,” ucap Hyejin.

Tuan Song tidak bergeming karena masih sakit hati dengan perbuatan anaknya. “Aku harus kembali ke kantor sekarang,” sahut Tuan Song lalu keluar dari ruangan.

Hyejin terpaku di tempatnya dengan dihantui rasa bersalah lagi melihat appanya masih begitu dingin padanya. Hatinya begitu sedih. Jejung dan Jungki datang untuk menghibur Hyejin yang justru membuat Hyejin tidak suka.

“Aku tidak perlu dihibur apalagi dikasihani, Jungpa. Aku hanya perlu bertanggung jawab atas perbuatanku. Permisi,” ujar Hyejin pada kedua jungpa-nya lalu keluar dari ruangan. Kyuhyun berjalan di belakangnya.

Hyejin masuk ke dalam mobil  disusul oleh Kyuhyun. “Ayo kita pergi ke gereja,” kata Kyuhyun sambil menyalakan mobilnya.

“Buat apa?” tanya Hyejin.

Kyuhyun mengemudikan mobilnya menuju gereja. Sambil tersenyum, Kyuhyun menjawab, “Seperti yang appamu bilang tadi, sayang. Kita harus segera menikah.”

“Jadi kita akan menikah sekarang?” tanya Hyejin terkejut karena dia belum siap.

Kyuhyun tertawa dan menjitak kepala calon istrinya itu. “Kita harus mengaku dosa dan minta ampun dulu pada Tuhan, sayang. Kau gak dengar kata-kata appamu tadi ya?”

Hyejin menggeleng. “Aku tidak ingat. Aku tadi hanya mencemaskanmu. Aku takut karirmu terancam, Oppa.”

“Tapi aku baik-baik saja. Tenanglah. Aku terlalu berharga untuk SM,” ujar Kyuhyun.

Hyejin tertawa mendengarnya. Otak tidak beres Kyuhyun menandakan bahwa pria itu baik-baik saja dan membuat Hyejin merasa lebih baik.

Hyejin duduk mendempet Kyuhyun lalu memanggilnya, “Oppa.”

“Apa?” tanya Kyuhyun sambil menoleh pada Hyejin.

“Saranghae,” jawab Hyejin lalu mencium Kyuhyun dengan lembut tapi ditolak Kyuhyun.

Kyuhyun menarik diri. Hyejin bisa melihat wajah Kyuhyun bersemu merah. “Yaa Song Hyejin! Aku lagi menyetir!” seru Kyuhyun salah tingkah.

Hyejin tertawa melihat tingkah Kyuhyun. Dia malah semakin menggoda Kyuhyun sampai Kyuhyun terpaksa menyetir dengan satu tangan karena tangan yang satu lagi harus menahan Hyejin yang tidak berhenti menggoda Kyuhyun.

 

 

Hyejin dan Kyuhyun sudah selesai mengaku dosa dan mohon ampun pada Tuhan di gereja. Kyuhyun dan Hyejin lalu menghadap pendeta untuk mengurus pernikahan mereka yang entah bagaimana bisa dilaksanakan lusa.

Hyejin duduk menunggu Kyuhyun di dalam mobil sambil menelepon Hamun. “Hamun, ada apa di sana? Kenapa ribut sekali? Apa itu Min Ah yang sedang teriak-teriak?” tanya Hyejin karena mendengar teriakan-teriakan yang memekakkan telinga.

“Ne, onni. Min Ah onni dan Jessica onni sedang bertengkar hebat di dorm. Cepat kemari!” jawab Hamun dengan panik dan membuat Hyejin gemas.

“Mau apalagi sih wanita itu? Bikin pusing saja! Apa Yunho oppa ada di sana?”

“Tidak ada. Yunho oppa sedang pergi dengan Hyun Ah onni tapi sebentar lagi akan sampai dorm.”

“Mwo?” tanya Hyejin kaget. Hyejin semakin tidak mengerti dengan permasalahan pribadi setiap membernya. Ini pasti karena dia terlalu sibuk dengan masalahnya sendiri. “Baiklah, aku akan segera ke sana,” ujar Hyejin lalu menutup hapenya.

Begitu Kyuhyun masuk mobil, Hyejin langsung minta di antar ke dorm. 10 menit kemudian, Hyejin sudah sampai di dorm dan melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi antara Min Ah dan Jessica.

“Plak!” Jessica menampar lalu menjambak Min Ah. “Yaaa! Jessica!” seru Min Ah marah.

Min Ah tidak mau diperlakukan seperti itu. Dia balik menampar Jessica. “Kalau kau mau punya pacar, jangan dengan cara murahan. Menggoda pacarku dan menyuruh aku menjauhinya. Kau mimpi, Jessica!” seru Min Ah dengan nada mengejek.

Jessica hendak menampar Min Ah lagi tapi Min Ah lebih dulu menahannya. “Jangan sampai aku harus mengirimmu ke meja operasi, Jessica!” ujar Min Ah dengan tajam.

Jessica menurunkankan tangannya. Beruntungnya, Yunho segera datang bersama HyunAh dan Changmin. Jessica langsung menghampiri Yunho sambil menangis yang tentu dibuat-buat. “Oppa, Min Ah menamparku. Dia juga bilang aku murahan,” kata Jessica dengan nada yang dibuat-buat.

Yunho menatap kesal pada Min Ah. Min Ah membela diri, “Dia yang mulai duluan. Tiba-tiba datang ke dorm dan langsung bilang aku kecentilan, kegatelan dan entah apa lagi yang keluar dari mulutnya. Cantik luarnya, busuk dalamnya. Ups, cantik buatan ya?”

Jessica yang merasa sedang diuntungkan, memanfaatkan situasi. Ia memeluk Yunho dan terisak di dada pria itu. Yunho mengelus kepala Jessica lalu melepaskan pelukan gadis itu. Yunho menatap Jessica dengan serius. “Kau harus pulang sekarang. Aku akan mengurus masalah ini dengan Min Ah ya,” ujar Yunho dengan lembut. Jessica mengangguk lalu mengambil tasnya.

“Ayo kita pergi, Oppa,” kata Jessica pada Yunho.

Yunho menggeleng. “Aku harus bicara dengan Min Ah. Biar Changmin yang mengantarmu pulang,” sahut Yunho.

Hyun Ah yang tidak suka Changmin ikut terseret langsung menolak, “Aku ada perlu dengan Changmin. He’s not available! Sorry.”

Yunho berpindah pada Kyuhyun dan menatap minta pertolongan tapi mendapat penolakan keras dari Hyejin, “Tidak bisa. Aku dan Kyuhyun harus mengurus macam-macam hari ini. Maaf, oppa.”

Yunho kembali menatap Jessica. “Maaf, kau harus pulang sendiri,” ucap Yunho yang jelas saja membuat Jessica ngambek. Tanpa berpamitan, Jessica keluar dari dorm SG.

Min Ah tertawa penuh kemenangan. “Akhirnya nenek lampirmu itu pergi juga, Jung Yunho,” ejek Min Ah.

Yunho tidak membalas. Dia menarik Min Ah masuk ke dalam kamar. “Kita harus bicara,” kata Yunho.

“Bicara apa? Kau mau mengejar Jessica? Silahkan. Aku tidak melarang tapi jangan pernah menemuiku lagi,” sahut Min Ah dengan tenang tapi menakutkan.

Yunho menghela nafas lalu menarik Min Ah ke dalam pelukannya. “Bukan, sayang. Aku sama sekali tidak tertarik pada Jessica. Aku hanya menganggap ia sebagai dongsaengku,” ujar Yunho lembut.

Min Ah mendorong Yunho beberapa senti. “Oh ya? Tapi yang aku lihat justru sebaliknya. Kau tampak sangat sayang padanya,” sahut Min Ah dengan nada tinggi. Ia mulai menunjukkan kecemburuannya.

Yunho tersenyum. “Kau cemburu ya? Iya kan? Humm?” tanya Yunho sambil menyubit-nyubit pipi Min Ah dengan bibirnya.

“Ya iyalah! Mana ada cewek yang gak cemburu lihat cowoknya digoda cewek lain,” jawab Min Ah dengan tegas.

Yunho tertawa sambil terus menyubit pipi Min Ah dengan gemas. Min Ah mendorong Yunho lebih jauh lagi sehingga Yunho tidak bisa menjangkaunya.

“Aku ini sedang marah tahu!” ujar Min Ah.

“Aku tahu, sayang. Makanya sini sama aku biar gak marah-marah lagi,” sahut Yunho lalu kembali memeluk Min Ah. “Percayalah aku tidak menganggapnya lebih dari sekedar dongsaeng. Coba bayangkan jika Hamun yang ada di posisi Jessica, apa kau tega melihat magnaemu ditolak oleh pria?”

Min Ah berpikir sebentar dan membayangkan Hamun seperti Jessica lalu menjawab, “Tentu tidak tega tapi kalau Jessica aku tega.”

Yunho tertawa mendengar jawaban Min Ah. “Kau tetap Min Ah yang aku kenal. Ini yang aku suka darimu. Maafkan aku kemarin sudah membentakmu ya,” ucap Yunho lalu mencium Min Ah.

Dalam hitungan detik, Min Ah sudah terbuai permainan Yunho yang sangat apik. Semua kekesalan Min Ah hilang ditelan kecupan mesra dari Yunho.

“Tok! Tok! Tok!” pintu kamar Min Ah berbunyi. “Yunho oppa, Min Ah onni, ayo kita makan siang bersama dahulu,” kata Hamun dari luar.

Yunho berhenti mencumbu Min Ah yang membuat Min Ah kecewa. “Aaah, menganggu saja nih Hamun,” gerutu Min Ah.

Yunho tertawa dan mengelus kepala Min Ah. “Ayo kita makan dulu. Soal mesra-mesraan bisa kita lanjutin nanti,” kata Yunho.

Min Ah pun setuju lalu mengikuti Yunho ke ruang makan yang telah dipenuhi Hyejin, Kyuhyun, Hamun, Hyun Ah, Changmin dan Minho.

“Yaa Minho, kapan kau datang?” tanya Yunho sambil duduk di sebelah Minho.

“Baru, hyung. Hyun Ah nuna mengundangku barusan,” jawab Minho.

“Kau memang paling nurut dengan Hyun Ah. Disuruh apa aja juga mau,” kata Yunho yang dibalas dengan tawa ringan dari Minho.

Hyun Ah dibantu Hamun menghidangkan makanan untuk semua yang ada disitu. Mereka menyantap makan siang dengan nikmat sambil sesekali mengobrol dan tertawa, membuat dorm SG jadi sangat ramai.

Mereka menjadi diam seketika saat menyadari Yong Hwa telah berada di ruangan yang sama.

 

 

Yong Hwa menatap ke seluruh orang yang berada di ruang makan dengan ramah kecuali pada Yunho dan Hyun Ah. “Rupanya sedang ada acara ya? Tampaknya seru sekali. Kenapa tidak mengundangku, Hyun Ah?” tanya Yong Hwa dengan dingin.

Hyun Ah menatap Yong Hwa dengan ngeri. Hyun Ah tahu Yong Hwa pasti akan marah padanya karena Yunho ada di sana, satu ruangan dengan Hyun Ah.

“I..ini hanya makan siang biasa. Kebetulan saja semua sedang berkumpul,” jawab Hyun Ah gugup. Ia takut Yong Hwa marah padanya.

Yunho berdiri dan berusaha memberi salam pada Yong Hwa tapi ditepis mentah-mentah. “Jangan pernah sentuh aku,” kata Yong Hwa dingin.

Aura pertikaian antar Jung bersaudara sudah mulai tercium. Hyejin, Kyuhyun dan Hamun memilih untuk menghindar. Karena itu, mereka kabur lebih dulu.

Min Ah dengan senang hati tetap di dorm menemani Yunho sedangkan Minho dan Changmin tidak diperbolehkan pergi oleh Hyun Ah.

Yunho berusaha menyentuh Yong Hwa sekali lagi tapi Yong Hwa menghindar. “Yong Hwa, aku mohon ampuni aku. Aku salah telah menelatarkan kalian selama ini,” ucap Yunho.

“Aku tak peduli. Aku justru senang jika kau terus menghilang, Jung Yunho,” balas Yong Hwa.

Yunho merasa sedih sekali. Dia hampir saja menangis karenanya. Hanya karena ia lelaki, makanya ia segan untuk menangis. Berbeda dengan Hyun Ah yang sudah banjir air mata.

“Oppa, sudahlah. Kita jangan bertengkar lagi. Kita maafkan Yunho oppa dan kita berdamai seperti dulu,” ucap Hyun Ah pada Yong Hwa.

Yong Hwa menatap Hyun Ah dengan tajam lalu beralih ke Yunho. “Kau mau orang ini jadi Oppamu, Hyun Ah? Apa kau sudah gila? Apa yang membuatmu berubah secepat ini? Apa yang dia lakukan padamu?” kata Yong Hwa.

Hyun Ah semakin tidak bisa membendung kegalauannya. “Oppa! Cukup! Aku hanya ingin kedamaian. Aku tertekan dengan keadaan seperti ini. Kita ini saudara!” seru Hyun Ah keras sambil menangis. Minho datang menghampiri dan memeluk Hyun Ah.

“Nuna, uljima,” ucap Minho dengan lembut.

Yong Hwa seketika terdiam melihat Hyun Ah yang sedang menangis di pelukan Hyun Ah. Ia merasa sangat bersalah pada Hyun Ah tapi tidak mungkin ia memaafkan Yunho. Yong Hwa menghampiri Hyun Ah dan mengelus kepala kembarannya itu. “Maafkan aku terlalu keras padamu. Mianhe,” ucap Yong Hwa menyesal.

Hyun Ah berbalik memeluk kembarannya sedangkan Yunho sedih karena tidak bisa memeluk kedua dongsaengnya.

Changmin menatap ketiga Jung bersaudara dan merasa sangat kasihan terutama kepada Hyun Ah. Dirinya ingin sekali pergi menarik Hyun Ah dan memeluknya. Changmin ingin dirinya yang dapat memberi ketenangan untuk gadis itu bukan orang lain.

“Mwo? Pikiran apa itu? Tidak! Tidak! Aku hanya kasihan padanya. Tidak lebih!” ujar Changmin pada dirinya sendiri, berusaha mensugesti pikirannya tapi ia tidak bisa melepas tatapannya dari Hyun Ah. Dia berusaha mengalihkan pandangannya tapi tetap saja berbalik lagi kepada Hyun Ah.

Changmin membayangkan dirinya yang memeluk Hyun Ah dan mengelus-elus kepala gadis itu bukan Yong Hwa apalagi Minho.

Min Ah menatap Changmin dan menyadari bahwa Hyun Ah sudah menyita seluruh perhatian magnae DBSK. Min Ah hanya bisa tersenyum.

 

 

Hamun, Kyuhyun dan Hyejin sudah sampai di gedung SM walaupun sebenarnya mereka tidak ada niat ke tempat itu karena memang mereka tidak ada jadwal ke kantor. Tempat itu adalah tempat pertama yang ada di pikiran Kyuhyun sewaktu pergi menghindar dari Jung bersaudara.

“Buat apa kita kesini? Kita kan tidak ada kerjaan,” tanya Hamun.

“Memang. Tapi hanya tempat ini yang aku pikirkan tadi, Hamun. Mianhe,” jawab Kyuhyun.

Hamun kesal karena ia pikir Kyuhyun akan membawanya ke mall atau taman bermain bukan ke tempat kerjanya. “Aku butuh liburaaaan, Oppa!” teriak Hamun dalam hati tapi seketika mendadak ceria saat ia melihat Donghae sedang berjalan ke arahnya.

“Oppa!” sambut Hamun dengan ceria saat Donghae sudah berada di hadapannya.

Donghae tersenyum lalu mengecup pipi Hamun yang langsung bersemu merah. “Tidak kusangka kita akan bertemu di sini. Aku pikir kau tidak ada jadwal kesini,” kata Donghae.

Hamun mengangguk dengan mantap. “Memang! Tapi tadi ada sesuatu yang terjadi. Singkat cerita, Kyuhyun oppa membawaku dan Hyejin onni kesini,” ujar Hamun dengan nada meninggi menyindir Kyuhyun.

“Yaa Kang Hamun. Aku kan sudah minta maaf. Aku tidak terpikir tempat lain tadi,” protes Kyuhyun.

Hamun memanyunkan bibirnya pada Kyuhyun yang membuat Donghae tertawa. Ia mengelus kepala Hamun. “Kau lucu sekali, Hamun,” ujar Donghae yang lagi-lagi membuat Hamun tersipu malu.

Donghae menggandeng Hamun dan mengajaknya pergi. “Aku pinjam Hamun ya, Kyujin. Aku janji akan mengembalikannya dengan selamat nanti malam. Boleh kan?” kata Donghae kepada Kyuhyun dan Hyejin meminta izin.

“Bawa pergi saja gak usah dibalikin,” sahut Kyuhyun sambil nyengir sedangkan Hyejin hanya tertawa memperbolehkan.

“Gomawo, Kyujin,” ucap Donghae lalu menggandeng Hamun menuju mobilnya. Donghae mempersilahkan Hamun masuk lebih dulu ke mobilnya baru dirinya.

“Kita mau pergi kemana, Oppa?” tanya Hamun.

“Lotte world. Kita akan main sepuasnya!!!” jawab Donghae dengan semangat.

“Asik!!” sahut Hamun senang. Tangannya melambai-lambai tanda dia sangat senang.

Donghae menatap Hamun dengan lembut dan berpikir, “Apa anak ini tidak sadar bahwa ia sedang berselingkuh denganku?” tapi Donghae tidak peduli. Yang penting saat ini Hamun sedang bersamanya.

Mereka berdua menjajal seluruh wahana permainan di Lotte World dengan gembira, begitu juga dengan jajanan yang ada di sana.

“Humm. Permen ini enak, Oppa. Es krim nya juga. Mau coba?” kata Hamun sambil menunjukkan es krim dan permen yang sedang dia pegang.

Donghae memilih mengigit eskrim. “Mhanes,” ujar Donghae dengan mulut penuh eskrim dan berusaha menelannya.

Hamun terkikik geli melihat Donghae. “Itu masih ada eskrim di mulutmu, Oppa,” kata Hamun.

Donghae tersenyum jahil lalu mencium Hamun dan berlari sambil tertawa. Hamun terkejut. Ia berseru, “Oppa!” lalu berlari mengejar Donghae. Mereka berlari-lari dan tertawa bersama seperti anak kecil.

Mereka baru berhenti saat mereka tidak punya tenaga lagi. “Huaaah capek tapi menyenangkan sekali, Oppa. Gomawoyo,” kata Hamun dengan senyumnya yang sangat manis. Tangannya melambai-lambai lagi tanda bahwa dirinya sangat bahagia. Es krim dan permennya sudah habis.

Donghae tersenyum dan menggandeng Hamun. “Ayo kita pulang sekarang. Aku harus segera mengembalikanmu ke dorm,” kata Donghae.

Hamun mengangguk dan berjalan bersama Donghae menuju mobil dimana ternyata Siwon telah menunggu kedatangan mereka.

Hamun refleks melepaskan tangannya dari Donghae dan berlari menuju Siwon. “Oppa, senang bertemu denganmu di sini,” ucap Hamun.

Siwon tidak menggubris Hamun, dia malah mendatangi Donghae. “Apa yang kau lakukan dengan Hamun?” tanya Siwon tajam.

“Aku hanya mengajaknya senang-senang, Siwon. Tidak lebih,” jawab Donghae.

“Asal kau tahu, aku tidak suka melihatmu mengajaknya kesana-kemari tanpa izinku karena dia sekarang pacarku. Kau tak bisa seenaknya,” ujar Siwon.

Donghae tersenyum pada Siwon. “Kau terlalu naif, Choi Siwon. Bagaimana kalau kita tanya sendiri pada Hamun, apa dia senang jalan-jalan bersamaku,” sahut Donghae.

Siwon menarik Hamun ke tengah-tengah dirinya dan Donghae sehingga membuat gadis itu bingung. “Ada apa ini, Oppa?” tanya Hamun.

“Hamun, bilang padaku yang sebenarnya. Apa kau suka jalan-jalan dengan Donghae?” Siwon balik bertanya. Tatapannya tajam sehingga membuat Hamun sedikit ketakutan.

“Iii..ya aku suka,” jawab Hamun jujur.

Donghae tersenyum mengejek pada Siwon. “Kenapa tidak kau tanyakan sekalian apa Hamun menyukaiku, Siwon?” tantang Donghae.

Siwon menatap kesal pada Donghae. Ia ragu-ragu untuk bertanya tapi rasa ingin tahunya mendorongnya melawan keraguan itu. “Hamun ah, apa kau suka pada Donghae?” tanya Siwon.

Hamun benar-benar terjepit saat ini. Dia tidak ingin berbohong tapi tidak ingin mengatakan yang sebenarnya juga. Hamun hanya bisa menundukkan kepala dan mengucapkan, “Mianhe, Oppa.”

Siwon bagai tersambar petir. Gadis yang selama ini dia pikir dapat menjadi pelabuhan cintanya, gadis yang dia perjuangkan sampai menentang perjodohan, ternyata juga menyukai pria lain.

Siwon menatap Hamun dengan kecewa. Ia tidak sanggup berada lebih lama di tempat ini. Tanpa banyak omong, Siwon langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya. Sedangkan Hamun terpaku di tempatnya dengan tatapan kosong memandang kepergian Siwon.

 

 

Siwon memarkir mobilnya di halaman rumah dengan sembarangan lalu masuk ke dalam rumah dengan membanting pintu sampai Jihyo yang sedang konsentrasi pilates bangkit berdiri dan mengomel, “Yaaa! Siapa itu?! Siwon oppa! Hei! Siwon oppa!”

Siwon tidak menggubris Jihyo. Ia berlari masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Jihyo menyusul oppanya. “Oppa, oppa, buka pintunya. Kenapa kau? Oppa!” panggil Jihyo sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Siwon.

“Pergi! Aku sedang tidak mau diganggu, Jihyo,” sahut Siwon dari dalam kamar.

Jihyo jadi bingung. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Oppanya. Jihyo menelepon Hamun tapi tidak diangkat, menelepon Kyuhyun juga tidak diangkat. “Ya Tuhan, kenapa tidak ada yang mengangkat telepon dariku? Jebaaaal, aku ingin tahu apa yang terjadi pada oppaku,” seru Jihyo kesal.

“Klek.” Pintu kamar Siwon terbuka dan pemiliknya keluar. “Demi ayam, burung dan angsa Choi Jihyo, kau berisik sekali! Aku jadi tidak bisa tidur!” seru Siwon kesal dan membuat Jihyo kaget.

Jihyo mundur beberapa langkah. “Ka..kau kenapa, Oppa? Apa yang terjadi?” tanya Jihyo bingung.

Siwon menarik napas panjang lalu menghembuskannya. “Hamun juga menyukai Donghae. Menurutmu apa yang bisa aku lakukan?” kata Siwon tanpa mau basa-basi.

Jihyo lebih terkejut. Ia menyangsikan hal itu. “Hamun juga menyukai Donghae oppa? Yang benar?” tanya Jihyo.

Siwon mendengus kesal. “Sudah aku duga kau akan seperti ini. Lebih baik kau urus pria-pria itu lebih dahulu. Aku mau syuting,” kata Siwon sambil menunjuk Key dan Sungmin yang sedang berebut masuk ke dalam rumah.

Jihyo menoleh kepada Key dan Sungmin lalu meninggalkan Siwon yang kemudian langsung pergi ke lokasi syutingnya. Jihyo menyapa Key dan Sungmin dengan ramah, “Hai, Oppa. Hai, Key.”

“Hey, baby,” balas Key sambil merangkul Jihyo dengan mesra.

Sungmin menatap Key dengan tajam. “Key, kita telah sepakat datang untuk menanyakan kejelasan hubungan kita dengan Jihyo. Tidak ada main rangkul begitu,” ujar Sungmin.

Key melepaskan rangkulannya dari Jihyo dengan cemberut. “Ne, hyung,” sahut Key.

Jihyo menatap bingung kepada kedua pria yang pernah menjadi kekasihnya itu. “Kalian ngomong apa sih? Aku tidak mengerti,” tanya Jihyo.

Key menggandeng Jihyo menuju ruang tamu lalu duduk bersama sedangkan Sungmin mengikuti mereka dari belakang sambil cemberut.

“Langsung saja, tidak usah pakai basa basi. Aku benci basa basi. Aku ingin kejelasan darimu. Siapa yang kau pilih antara aku dan Key?” ujar Sungmin.

“Jadi kalian kemari hanya untuk membicarakan masalah ini?” tanya Jihyo.

Key mengangguk dengan santai sambil memainkan rambut Jihyo.

“Dengar, Sungmin oppa. Aku dan Key memang pernah pacaran tapi saat ini aku hanya menganggapnya sahabatku. Tidak lebih,” kata Jihyo dengan tegas.

“Oh ya? Lalu bagaimana dengan surat ini?” tanya Sungmin. Ia menyerahkan sebuah surat yang pernah dikirimkan Jihyo padanya yang seharusnya untuk Key.

Jihyo mengambil surat itu dan membacanya, “Key, do you still remember when we run together to catch our bus? Bla bla bla bla.”

“C’mon, Oppa. It’s just memories. I bet Key forgot all these things!” lanjut Jihyo.

Key menatap Jihyo dengan serius. “Aku masih ingat semuanya, Jihyo. Dengan jelas. Aku masih mencintaimu,” kata Key.

Jantung Jihyo rasanya telah berhenti berdegup. Ia menatap Key dan Sungmin bergantian. “Kalian benar-benar membuatku gila. Aku tidak bisa memilih di antara kalian. Aku mohon jangan siksa aku seperti ini ya. Lebih baik kalian pergi dan beri aku waktu untuk berpikir,” ujar Jihyo dengan tatapan memelas.

“Baiklah kalau itu maumu, baby. Aku akan menunggu. Sampai jumpa,” sahut Key dengan santai. Ia bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi. Berbeda dengan Sungmin, yang tetap tidak beranjak dari tempatnya.

“Kenapa Oppa belum pergi juga?” tanya Jihyo pada Sungmin.

“Aku harus meyakinkanmu bahwa aku tetap yang terbaik untukmu,” jawab Sungmin.

Jihyo menatap kesal Sungmin. “Oh ya? Setelah Oppa memutuskanku begitu saja hanya karena aku tidak bisa menjauhi Key, yang notabene adalah sahabatku?” tanya Jihyo dengan sinis. Jihyo menghela nafas panjang. “Oh ya, kau sudah sangat meyakinkanku, Oppa,” sindir Jihyo lalu pergi meninggal Sungmin di ruang tamu. Jihyo kembali sibuk dengan pilatesnya untuk menenangkan pikirannya.

“Tenang, Jihyo, tenang,” ucap Jihyo untuk dirinya sendiri berkali-kali sambil bernapas dengan teratur. “Key, Sungmin, Key, Sungmin, Key, Sung… Aaargh!” gerutu Jihyo kesal. “Kalian membuatku bingung!” seru Jihyo lalu masuk ke kolam renang. Dia butuh kesibukan sebagai pengalih pikiran.

 

TO BE CONTINUED

@gyumontic