FIND THE TRUTH (PART 11)

PG / Romance – Friendship / Series

Author is Me (facebook account’s owner where it published)

 

Cast :

Super Girls

Super Junior

Shinee

DBSK

Song Joong Ki

 

In a Relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Jung Yunho – Park MinAh

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo – Lee Sungmin

Lee Donghae – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

 

To My LIVELY sister in KPOP WORLD!!

MIANHE.. JEONGMAL MIANHE telatnya keterlaluan..

 

enjoy baby!!!!😀

 

Tanpa ada satu pihak pun yang tahu, pernikahan Kyuhyun dan hyejin telah dilangsungkan beberapa hari lalu dimana hanya ada kedua mempelai dan seorang pendeta yang hadir di pernikahan itu. Pada hari itu, Hyejin merasa sebagai wanita paling bahagia sejagad raya ini tapi untuk hari berikutnya dia merasa tidak ada perbedaan antara kehidupannya dulu dan setelah menjadi istri Cho Kyuhyun. Hyejin dan Kyuhyun tetap tinggal terpisah di dorm masing-masing, pertemuan mereka juga harus sembunyi-sembunyi, dan yang lebih parah adalah Hyejin dan Kyuhyun hidup tidak selayaknya suami istri. Karena Kyuhyun harus pindah ke  Taiwan untuk beberapa bulan dalam rangka promosi album baru SJ-M, alhasil Hyejin harus sendirian di Korea.

Hyejin mencoba menelepon Kyuhyun tapi tidak diangkat. “Hhh,” desah Hyejin kecewa. Saat ini ia ingin mendengar suara Kyuhyun meskipun hanya sekedar kata halo. Hyejin lalu menelepon Onew sebagai pelampiasannya.  “Yoboseyo, Jinki oppa?” kata Hyejin begitu Onew menjawab teleponnya.

“Ne, Hyejinssi. Wae?” tanya Onew dengan ramah.

“Oppa, aku kesepian. Apa hari ini Oppa ada acara? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan,” jawab Hyejin  dengan nada yang sengaja diimut-imutkan agar Onew mau menemaninya jalan-jalan.

Onew tertawa mendengar suara Hyejin. “Yaaa, Song Hyejin! Kau itu sudah tua, tidak cocok bicara sok imut seperti itu,” ujar Onew.

Hyejin lalu mengubah suaranya menjadi lebih dewasa. “Baiklah, Jinki Oppa. Apa Oppa bisa jalan-jalan denganku hari ini?” tanya Hyejin.

“Nah, seperti itu lebih enak didengar. Hahaha,” sahut Onew. “Aku kosong jam 11 nanti. Apa kamu bisa?”

“Tentu! Aku akan menjemputmu ke kantor jam 11 nanti ya, Oppa,” jawab Hyejin dengan semangat. Ia benar-benar merasa senang karena akhirnya hari ini dia tidak perlu menghabiskan harinya sendirian.

“Ne, Hyejinssi. Aku tunggu di kantor ya. Annyeong,” ucap Onew.

“Annyeong, Oppa. Jeongmal gomawoyo,”  sahut Hyejin lalu menutup teleponnya dan segera bersiap-siap.

Setelah yakin dirinya sudah cukup cantik, Hyejin segera berangkat menjeput Onew ke gedung SM. Selama perjalanan, pikirannya tertuju pada dorm SG yang lebih sering kosong akhir-akhir ini. Jihyo lebih sering berada di rumahnya sendiri, Hamun harus kuliah gila-gilaan untuk mengejar ketertinggalannya karena sebentar lagi akan ujian akhir semester, Minah jelas akan memilih tinggal di dorm DBSK bersama Yunho dibanding dormnya sendiri, sedangkan Hyunah tampaknya mulai mengikuti jejak sahabatnya itu.

“Ah, aku jadi merindukan mereka semua. Sudah lama sekali rasanya tidak berkumpul bersama. Kalaupun berkumpul paling hanya untuk masalah kerjaan,” batin Hyejin.

Tidak lama kemudian, Hyejin sudah sampai di gedung SM. Hyejin segera menjemput Onew yang sudah menunggunya di basement. Onew langsung masuk ke dalam mobil  begitu Hyejin memberhentikan mobilnya di depan Onew.

“Annyeong, Oppa,” sapa Hyejin dengan hangat.

“Annyeong, Hyejin. Kita mau kemana?” balas Onew tidak kalah hangat.

Hyejin tersenyum. “Kalau kita hanya minum-minum di kafe apa Oppa keberatan?” tanya Hyejin.

Onew menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak. Kemanapun asal bersamamu pasti akan menyenangkan. Kajja,” jawab Onew.

Hyejin tertawa lalu mengemudikan mobilnya menuju kafe langganannya. Sesampainya di sana, mereka langsung mengambil tempat duduk paling tersembunyi di kafe itu. Mereka memesan coklat panas dan beberapa potong croissants yang akan mereka nikmati sambil mengobrol.

“Hei Hyejinssi, bagaimana kehidupanmu setelah menikah? Apa menyenangkan?” tanya Onew membuka pembicaraan.

Hyejin tersenyum. “Tidak jauh berbeda dari sebelumnya hanya saja aku jadi jauh lebih merindukan Kyuhyun dari biasanya. Mungkin bawaan bayi,” jawab Hyejin sambil mengelus-elus perutnya.

Onew ikutan tersenyum. “Apa kau sudah mempersiapkan nama untuk anakmu?” tanya Onew.

Hyejin menggelengkan kepala. “Aku dan Kyuhyun belum sempat memikirkannya. Dia terlalu sibuk,” jawab Hyejin.

“Kalau begitu, boleh aku mengusulkan sebuah nama?”

Hyejin mengangguk dengan semangat. “Menurut Oppa, anakku bagus dikasih nama apa?”

“Kihyun, gabungan antara Jinki dan Kyuhyun, dua pria yang sangat mencintaimu. Aku ingin kau selalu ingat padaku. Selain itu kalau tidak salah Kihyun punya arti sebagai anak yang kuat.”

Hyejin tersenyum penuh terima kasih. “Aku janji akan menamakannya seperti itu.”

Pada saat yang sama di dorm SG, Hamun yang sudah pulang dari kuliahnya merasa tidak tenang di dalam dorm. Dia ingin segera bertemu dengan Siwon dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Donghae tapi hatinya ragu, Hamun belum siap untuk menghadapi Siwon yang pasti sakit hati karena pengakuannya beberapa hari lalu.

Setelah berpikir selama beberapa jam akhirnya Hamun memutuskan untuk pergi menemui Siwon meskipun itu berarti dia harus terbang ke Taiwan. Sayangnya, bunyi bel dorm SG, “Ting! Tong! Ting! Tong!” menghentikan langkahnya.

Hamun, yang memang saat ini adalah satu-satunya penghuni dorm, membuka pintu dan bertatapan langsung dengan calon iparnya. “Ah, Kyu oppa. Ada apa kemari? Bukannya kau ada di Taiwan?” tanya Hamun dengan heran karena seingat dia saat ini SJ-M harusnya ada di Taiwan.

“Harusnya tapi ada sesuatu yang terjadi di sana jadi aku dan member SJ-M lain dipulangkan sementara. Mana Hyejin?” jawab Kyuhyun tidak sabaran.

“Hyejin onni tamapknya sedang pergi. Aku sendirian di sini,” jawab Hamun.

“Haish! Berani sekali dia pergi tanpa bilang padaku! Kau tahu dia pergi kemana?” gerutu Kyuhyun.

Hamun menggelengkan kepalanya. “Apa Oppa mau menunggu?” tanya Hamun.

Kyuhyun mengangguk lalu masuk ke dalam dorm SG meskipun Hamun belum mempersilahkannya. Kyuhyun langsung duduk di ruang kumpul dan menonton tivi sedangkan Hamun berdiri di sebelahnya.

Kyuhyun menoleh pada Hamun dan memandangnya dengan heran. “Kenapa kau berdiri saja? Kau mau pergi ya? Dandananmu rapi sekali,” tanya Kyuhyun sambil memperhatikan Hamun dari ujung kaki ke ujung kepala.

Hamun menganggukkan kepalanya. “Aku mau menemui Siwon oppa. Tadinya aku mau terbang langsung ke Taiwan tapi rupanya SJM sudah kembali ke Korea, jadi aku tidak perlu susah-susah deh,” jawab Hamun.

“Aah, SJM kembali ke Korea kecuali Siwon hyung. Dia sedang dalam perjalanan ke Amerika. Dia ada syuting atau pemotretan di sana, aku tidak tahu pasti. Apa dia tidak memberitahumu?” sahut Kyuhyun.

Hamun menggelengkan kepalanya. Tubuhnya seketika lemas, perasaannya tidak karuan. “Kenapa Siwon oppa tidak bilang padaku? Apa dia begitu marah?” tanya Hamun dalam hati. Hamun pun jadi mengurungkan niatnya untuk menemui Siwon. Ia memilih untuk berdiam di dalam dorm. Hamun melangkahkan kakinya menuju ruang makan untuk menenangkan diri. Dia perlu waktu sendiri untuk berpikir bagaiman memperbaiki hubungannya dengan Siwon. Selain itu juga karena ia merasa tidak enak jika harus berduaan dengan Kyuhyun di ruang kumpul SG.

Tidak lama kemudian Hyejin pulang diantar oleh Onew. “Gomawo, Oppa. Kau baik sekali padaku,” ucap Hyejin sambil memeluk Onew. Onew balas memeluk Hyejin. “Cheonmaneyo, sayang. That’s what a friend are for,” balas Onew.

Hyejin tersenyum pada Onew. “Jeongmal gomawoyo,” ucap Hyejin.

Tanpa sepengetahuan Hyejin, Kyuhyun melihat mereka melalui lubang pintu yang memang dipasang untuk melihat tamu yang datang (kayak di pintu kamar hotel itu loh). Rasanya Kyuhyun ingin sekali membuka pintu lalu menghajar Onew. “Tidak sadarkah ia bahwa ia sedang memeluk wanita yang sudah menjadi milik orang lain?” batin Kyuhyun dengan tangan terkepal. Untung saja, Kyuhyun masih bisa mengontrol emosinya. Ia cukup melihat dari lubang itu dengan geram.

Hyejin melepaskan pelukannya dari Onew lalu masuk ke dalam dorm. Ia membuka pintu dorm dan langsung menemukan Kyuhyun yang sedang berdiri sambil melipat tangan di dada. Pria itu terlihat sangat kesal.

“Senang sekali ya ketemu Onew?” sindir Kyuhyun.

Hyejin terkejut dengan keberadaan Kyuhyun. Itu membuatnya jadi salah tingkah. “Op…oppa, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau di Taiwan?” tanya Hyejin bingung sekaligus kaget.

Kyuhyun tertawa sinis. Dia berjalan kembali ke ruang kumpul SG meninggalkan Hyejin sendirian di pintu depan. Ia merasa kecewa. Kyuhyun langsung menuju dorm SG untuk menemui Hyejin begitu kakinya menginjak Korea tapi yang dia lihat malah istrinya itu pulang bersama pria lain yang notabenenya adalah musuh bebuyutannya.

Hyejin segera menyusul Kyuhyun. Walaupun ia tidak ada apa-apa dengan Onew tapi lain ceritanya kalau sudah Kyuhyun yang melihat kebersamaan mereka, sebuah masalah pasti akan muncul. “Oppa, aku tidak ngapa-ngapain kok sama Jinki Oppa. Kami hanya minum coklat bersama di kafe. Aku kesepian makanya aku mengajaknya,” ujar Hyejin menjelaskan yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun.

Kyuhyun tidak bergerming. Ia tetap duduk sambil menatap tivi dengan dingin.

Hyejin duduk di sebelah Kyuhyun dan memeluk suaminya itu. “Oppa, aku sangat merindukanmu. Kenapa pulang tidak bilang-bilang?” ucap Hyejin dengan manja untuk mencairkan suasana.

Kyuhyun tetap tidak bereaksi positif.

Hyejin memonyongkan bibirnya ke arah Kyuhyun lalu bicara pada perutnya. “Hei Cho junior, lihat tingkah appamu itu. Masa dia tega mendiamkan eommamu yang cantik ini begitu saja. Huh! Nanti kalau kamu sudah besar, jangan seperti dia ya. Kau harus seperti eomma, cantik, baik hati, sabar dan setia.”

Kyuhyun bereaksi. Dia menoleh pada Hyejin dan mengumandangkan protes, “Yaaa! Song Hyejin. Jangan racuni anakku yang tidak-tidak soal ayahnya.”

Hyejin memonyongkan lagi bibirnya ke arah Kyuhyun lalu berbicara lagi pada perutnya, “Cho kihyun sayang, eomma dimarahin sama appa. Kalau kau sudah besar jangan suka marah-marah seperti appa ya sayang.”

Kyuhyun membelalakan matanya menatap Hyejin. “Kau beri nama apa anak kita? Kihyun? Darimana nama itu?” tanya Kyuhyun.

“Onew oppa yang memberikan nama,” jawab Hyejin dengan polos.

Kyuhyun hanya bisa menatap kesal pada Hyejin sekaligus pasrah. Kekesalannya sudah berada di ubun-ubun tapi dia sudah tidak ada hasrat untuk berdebat. “Aku ini ayah anak itu. Kenapa Jinki yang beri nama? Kenapa juga harus dia kasih nama Kihyun?”

“Kihyun itu gabungan dari jinki dan kyuhyun. Katanya biar aku ingat kalian berdua terus.”

“Haish!”

Kyuhyun menekuk wajahnya sampai ratusan lapis. Hyejin hanya tersenyum dan mengelus-elus dada Kyuhyun. “Aku ini kan sudah jadi istrimu. Masa masih cemburu? Jeongmal bogosipoyo, Oppa.”

Kyuhyun akhirnya luluh juga. Seluruh kekesalannya menguap, wajahnya sudah tidak ada tekukan lagi. Ia mengecup kening Hyejin sambil tersenyum. “Sejujurnya, aku tidak suka caramu meluluhkan aku tapi aku akui itu sangat manjur,” ujar Kyuhyun.

Hyejin nyengir lebar pada Kyuhyun dan mengamit lengan Kyuhyun dengan mesra. “Saranghaeyo, Oppa,” ucap Hyejin.

“Nado, jagiya,” balas Kyuhyun.

Hamun merasa beruntung karena eonni dan oppanya memiliki kesibukan sendiri sehingga tampaknya melupakan bahwa dirinya sedang meringkuk di ruang makan dengan pikiran yang membebaninya. “Aku harus segera menyelesaikan masalah ini. Aku ingin hidup dengan tenang,” gumam Hamun frustasi.

Hamun mengambil hapenya lalu menghubungi Donghae. “Oppa, aku mau ke Amerika menemui Siwon Oppa hari ini juga. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus,” ujar Hamun tanpa basa-basi lalu menutup teleponnya. Hamun lalu beranjak ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang dan paspornya.

Hamun mengintip ke ruang kumpul SG dari dalam kamarnya. Ia melihat Kyuhyun dan Hyejin sedang mengobrol serius.

“Oh ya, appa dan eomma belum tahu kita sudah menikah. Kita harus segera memberitahu mereka,” ujar Hyejin.

Kyuhyun mengangguk setuju dengan lesu, ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Hyejin menangkap ekspresi ini. “Oppa kenapa?” tanya Hyejin.

Kyuhyun menatap Hyejin dengan sungguh-sungguh. “Aku merasa selama ini kita terlalu berat ke keluargamu. Sadar atau tidak, kita menikah tanpa sepengetahuan dan persetujuan keluargaku. Padahal bagaimanapun kau dan anak yang kau kandung itu akan membawa nama Cho. Apa kau tidak merasa seharusnya kita perlu ke keluargaku juga?” jawab Kyuhyun tanpa basa-basi.

Hyejin sedikit merasa tertampar. Dia sadar selama ini memang mereka lebih fokus ke keluarga Song dibandingkan keluarga Cho tapi ia tidak mau ambil pusing. “Kita akan ke rumahmu nanti setelah menemui appa dan eomma. Bagaimana?” sahut Hyejin.

Kyuhyun hanya bisa menghela nafas. “Baiklah,” kata Kyuhyun. Ia tidak membantah.

“Kalau begitu, lebih baik kita pergi sekarang,” ujar Hyejin yang segera bangkit berdiri diikuti Kyuhyun. Mereka berdua lalu keluar dari dorm dan menuju rumah Hyejin.

Hamun menghela nafas lega begitu melihat Kyuhyun dan Hyejin pergi dari dorm. Hamun menggeret kopernya keluar dari kamar dan mengikuti jejak eonni dan oppanya untuk keluar dari dorm SG. Hamun menaikki taksi dan pergi menuju dorm SJ.

Hamun langsung masuk ke dalam dorm SJ dan menemui Donghae begitu ia sampai di sana. “Oppa, maaf tiba-tiba menemuimu. Aku benar-benar memerlukan bantuanmu,” kata Hamun.

Donghae tersenyum. “Gwencana. Ada apa? Kau jadi ke Amerika?” sahut Donghae.

“Yup! Aku akan ke Amerika,” kata Hamun dengan mantap.

“Wae?” tanya Donghae. Laki-laki itu terkejut.

“Aku sudah bilang kan tadi di telepon. Aku mau menemui Siwon oppa. Aku harus bicara dengannya,” jawab Hamun.

“Iya, aku tahu. Maksudku, kenapa kau memaksa sekali? Kau kan bisa menunggunya sampai dia pulang. Toh dia tidak lama di Amerika,” ujar Donghae.

Hamun mulai menangis frustasi. “Tidak bisa. Aku benar-benar tidak tenang. Aku harus menjelaskan semuanya kepada Siwon oppa. Aku ingin bilang kalau aku mencintainya.”

“Tapi kau juga mencintaiku, Hamun dan aku mencintaimu jauh lebih besar dari Siwon. Dia pergi tanpa permisi padamu, kenapa kau harus mengejarnya? Kenapa kau tidak melihat kepadaku saja?”

Tangisan Hamun lebih kencang. “Aku mau bertemu dengannya sekarang. Huaaa!”

Donghae menyerah pada tangisan Hamun. Melihat Hamun menangis frustasi rasanya lebih menyakitkan daripada mendengar bahwa gadisnya itu mencintai pria lain. Donghae mengambil tas dan paspornya dari kamar lalu kembali pada Hamun. “Oke, kau boleh ke Amerika asal aku ikut bersamamu. Kajja!” kata Donghae.

Donghae menarik Hamun beserta koper gadis itu ke mobilnya lalu membawa mereka ke bandara dengan mobilnya. Sesampai di bandara, Donghae langsung membeli sepasang tiket penerbangan Korea-Amerika.

“Kita pergi sejam lagi. Ayo segera check-in,” ujar Donghae sambil menggandeng tangan Hamun. Hamun mengikuti kemana Donghae menariknya. Mulai dari meja check-in, ruang tunggu sampai masuk pesawat.

“Gomawo sudah mau menemaniku, Oppa. Sejujurnya aku juga tidak tahu harus bagaimana jika sendirian di Amerika,” ucap Hamun dengan tulus.

Donghae tersenyum sambil mengelus-elus kepala Hamun. “Tenang saja. Aku akan menemanimu kemanapun kau pergi, meskipun kau memilih Siwon,” balas Donghae.

Hamun merebahkan kepalanya ke bahu Donghae dan Donghae mengelus-elus kepala itu dengan lembut. Hamun merasa sangat nyaman, semua bebannya serasa telah menguap entah kemana. Hamun jadi merasa akan pergi liburan bersama kekasihnya padahal tujuan awal dia ke Amerka adalah menghadapi tuan muda Choi Siwon.

Setelah berada hampir sehari di pesawat, Hamun dan Donghae akhirnya sampai juga di Washington DC, Amerika. Mereka keluar dari pesawat dan menuju bagian imigrasi untuk pemeriksaan paspor dan visa. Hamun terus berpegangan pada Donghae. Donghae juga terus memegang Hamun. Keduanya seperti takut terpisah satu-sama lain.

“Oppa, apa kau tau Siwon oppa menginap dimana?” tanya Hamun saat mereka sedang mengantri di bagian imigrasi.

“Entahlah. Aku akan bertanya pada manajer hyung. Sebentar,” jawab Donghae yang langsung mengirim pesan untuk manajernya. Tidak lama kemudian, sms balasan masuk. “Mandalay Bay, Las Vegas,” baca Donghae.

“Ayo kita segera kesana begitu lepas dari tempat ini,” kata Hamun.

Donghae tertawa terpingkal-pingkal. “Kang Hamun sayang, ini Washington! Kita harus naik pesawat lagi buat ke Las Vegas,” ujar Donghae.

“Oh  ya?” tanya Hamun merasa bodoh sekali.

Donghae menganggukkan kepalanya sambil tertawa.

“Ya sudah, kita harus segera beli tiket pesawat berarti,” kata Hamun.

Donghae pun menuruti permintaan Hamun. Selepas dari bagian imigrasi, Donghae segera membeli sepasang tiket menuju Las Vegas yang akan berangkat 1 jam lagi. Mereka pun segera check in dan menunggu pesawat. Begitu pesawat datang dan penumpang dipersilahkan masuk, Donghae dan Hamun segera masuk pesawat. Mereka akan menempuh penerbangan lagi menuju Las Vegas.

 

 

 

Jihyo melihat gedung SM penuh oleh wartawan dan ELF serta Goddess. Selain itu terlihat manajer SJ dan SG yang keluar-masuk ruangan tuan Choi. Tampang mereka sangat stress. “Ada apa, eonni? Kenapa eonni tampak sibuk sekali? SG kan tidak ada jadwal hari ini,” tanya Jihyo pada manajer SG.

“Leadermu membuat masalah lagi,” jawab manajer SG dengan dingin lalu berlalu dari Jihyo.

Jihyo mengerutkan keningnya. Dia bingung. “Apa lagi yang diperbuat Hyejin eonni?” tanya Jihyo dalam hati. Jihyo lalu masuk ke ruang latihan Shinee untuk menemui Key.

“Hei, Jihyo ya! Apa hari ini kita jadi belanja?” sapa Key dengan ceria sambil memeluk Jihyo.

“Jadi dong. Nanti setelah jadwalmu selesai, kita pergi shopping,” sahut Jihyo dengan semangat.

Jihyo tinggal di dalam ruang latihan Shinee sambil melihat kelima member boyband itu latihan. Pikirannya tertuju pada leadernya. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, “Apa yang dilakukan Hyejin eonni?” tanya Jihyo penasaran dalam hati.

Pintu ruang latihan Shinee tiba-tiba terbuka dan muncul Sungmin. Pria itu segera menghampiri Jihyo dan menariknya keluar. “Ada apa tiba-tiba menarikku? Lepaskan!” seru Jihyo sambil menghentakkan tangannya dari genggaman Sungmin dengan kuat. “Lagipula Oppa kan seharusnya ada di Taiwan. Kenapa bisa ada disini?!”

Sungmin semakin kuat menggenggam tangan Jihyo. “Aku akan jelaskan nanti. Kita harus menyelesaikan masalah Kyuhyun dan Hyejin,” ujar Sungmin.

Jihyo terdiam. Dia teringat perkataan manajer SG tadi. “Ada masalah apa lagi?” tanya Jihyo.

“Pernikahan Kyuhyun dan Hyejin telah diketahui publik,” jawab Sungmin.

Jihyo nyaris melompat dari tempatnya berdiri. “Mwoooooooooo?! Mereka sudah menikah?! Dan berani-beraninya mereka tidak bilang kepadaku?!” seru Jihyo dengan kencang.

Sungmin segera membekap mulut Jihyo. “Yaa! Choi Jihyo! Kecilkan suaramu! Kalau suaramu sekencang itu seluruh dunia akan tahu kalau mereka sudah benar-benar menikah!” tegur Sungmin dengan volume suara kecil.

Jihyo pun mengunci mulutnya. “Jadi ini masalah yang dikatakan manajer eonni? Kupikir masalah apa. Hah, dasar manajer-manajer itu memang lebay!” batin Jihyo bahagia. Dia sangat bahagia mengetahui bahwa oppa dan eonninya telah menikah. Walaupun mereka tidak memberitahukan kepada Jihyo, gadis itu tetap bahagia. Tanpa Jihyo sadari, dirinya kini sudah senyum-senyum sendiri sambil membayangkan Kyuhyun dan Hyejin.

Sungmin menjitak kepala Jihyo dan menyadarkan gadis itu dari lamunannya. “Hei, kenapa senyum-senyum sendiri? Kita harus bergerak cepat! Sebentar lagi mereka akan sampai untuk konferensi pers,” kata Sungmin.

Jihyo memonyongkan mulutnya dengan kesal. “Iya, iya aku tahu,” sahutnya lalu bergerak menuju ruang konferensi bersama Sungmin.

Jihyo dan Sungmin duduk di ruangan khusus yang tetap bisa membuat mereka mengikuti konferensi pers dengan jelas tanpa terganggu pihak lain. Jihyo segera menghubungi ketiga member SG yang lainnya agar mereka segera menyusul. Minah dan Hyunah berkata akan segera menyusul sedangkan Hamun tidak ada balasan sama sekali.

“Hamun kemana sih? Telepon gak diangkat, SMS gak dibalas. Huh!” gerutu Jihyo pada hapenya.

Sungmin tertawa kecil. “Percuma kau menghubungi Hamun apalagi sampai ngomel-ngomel pada hapemu. Dia sedang pergi ke Amerika bersama Donghae,” sahut Sungmin.

Untuk kedua kalinya, Jihyo ingin melompat dari tempatnya berada sekarang. “Mwooooooooooooooo?!!! Buat apa mereka kesana?!” seru Jihyo saking kagetnya.

“Aku rasa Hamun ingin bertemu dengan Siwon tapi Donghae ingin menemaninya. Entahlah. Aku juga tidak terlalu paham,” kata Sungmin sambil mengangkat kedua bahunya.

“Haduh magnae, kenapa kehidupan cintamu rumit sekali sih?!!!” omel Jihyo sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal. Pikiran Jihyo sekarang terbagi dua antara KyuJin dan SiMunHae.

Sungmin menggenggam tangan Jihyo dan menghentikan gadis itu dari kegiatan menggaruk kepalanya. “Sadar atau tidak, kehidupan cinta kita juga rumit sekali, Choi Jihyo,” ujar Sungmin dengan lembut tapi tegas membuat Jihyo terdiam seketika. Wajah Sungmin berada dekat wajah Jihyo dan masih membuat jantung Jihyo berdebar tidak karuan. Pikirannya jadi terbagi tiga sekarang dengan masuknya KeyHyoMin.

Hyunah dan Minah datang bersama dan langsung mengambil tempat duduk di sebelah Jihyo. Mereka melihat konferensi pers yang berjalan begitu seru dengan seksama. Mereka takut Hyejin mengalami hal yang bisa mengancam keselamatannya mengingat masalah yang akan dibahas ini terlalu sensitif untuk ELF dan Goddess.

Kyuhyun dan Hyejin duduk dengan menebarkan senyum meskipun pertanyaan yang menghujam mereka bertubi-tubi dan sangat menusuk.

“Apa betul kalian sudah menikah?”

“Sejak kapan kalian pacaran?”

“Kenapa kalian menyembunyikan kabar gembira ini?”

“Apa kalian tidak merasa kalian telah berbohong pada ELF dan Goddess?”

Kyuhyun dan Hyejin mencoba tetap tersenyum. “Sebelumnya, kami minta maaf karena telah menyembunyikan hal bahagia dari kalian, ELF dan juga Goddess. Kami hanya ingin menyampaikan kabar gembira ini begitu kami berdua merasa sudah siap. Tidak enak rasanya jika mengumbar hubungan ini tapi beberapa bulan kemudian kami sudah tidak bersama,” ujar Kyuhyun sesuai dengan perintah manajernya.

“Jadi betul kalian telah menikah?”

Kyuhyun tersenyum sambil menggeleng. “Kami hanya menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih. Tidak lebih,” jawab Kyuhyun.

“Sejak kapan kalian pacaran?” tanya seorang wartwan.

“Cukup lama. Aku tidak ingat pastinya kapan,” jawab Kyuhyun.

Hyejin hanya bisa terus tersenyum sedangkan Kyuhyun terus menjawab pertanyaan. Jika ada pertanyaan ditujukan pada Hyejin, Kyuhyun juga yang akan menjawabnya. Semuanya berjalan sesuai rencana sampai ada satu wartwan maju sambil membawa beberapa lembar foto. Foto pernikahan Kyuhyun dan Hyejin beberapa waktu yang lalu.

“Mereka telah menikah. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Jika kalian tidak percaya, aku punya fotonya yang aku jamin 100% keasliannya karena aku mengambilnya sendiri,” kata wartawan itu.

Seketika ruangan menjadi ribut. Semua berebut ingin melihat foto yang dibawa wartawan tersebut dan mempertanyakan yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun dan Hyejin. Manajer SJ ikut melihat foto tersebut untuk memastikan keasliannya. Setelah memastikannya, manajer SJ akhirnya memilih untuk mengamankan Hyejin dan Kyuhyun. Ia memberikan isyarat pada bodyguard untuk membawa Kyuhyun dan Hyejin meninggalkan ruangan.

Jihyo, Hyunah dan Minah yang melihat Hyejin sudah meninggalkan ruang konferensi pers segera menyusul leader mereka. Mereka pun langsung memeluk Hyejin begitu menemukan Hyejin.

“Omona, Hyejin! Bisa-bisanya kau tidak memberi tahu kami kalau kau sudah menikah. How dare you, babe!” seru MinAh dengan senang. Pelukannya begitu erat.

HyunAh dan Jihyo pun tidak kalah senang. Mereka bicara berebutan. “Aaah, rasanya aku senang sekali mengetahui kalian akhirnya telah menikah. Aku ingin segera menyusul, Hyejiiiiin,” ujar HyunAh.

“Aku juga senang sekali. Aku tidak sabar melihat keponakanku lahiiiir,” sambung Jihyo.

Hyejin tertawa bahagia sambil memeluk ketiga gadisnya. Semua member SG sedang bersamanya memberi pelukan hangat dan celoteh kebahagiaan. Hal ini sudah cukup membuatnya lebih kuat dan bahagia meskipun dunia menentangnya.

 

 

Hamun dan Donghae segera menuju Mandalay Bay dengan taksi begitu mereka sampai di Las Vegas. Hamun mendadak cemas, tubuhnya menjadi panas-dingin seketika. Tangannya yang mungil menggenggam tangan Donghae dengan ketakutan. “Oppa, ottoke? Apa yang harus aku katakan pada Siwon Oppa nanti?” tanya Hamun dengan cemas.

Donghae tersenyum dan menggenggam kedua tangan Hamun dengan lembut. Genggaman itu mengalirkan kehangatan dan kenyamanan ke seluruh penjuru tubuh Hamun. “Jelaskan saja yang sebenarnya pada Siwon. Katakan kau mencintainya dan ingin terus bersamanya. Kalau dia bilang ya, aku janji tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi,” jawab Donghae.

Ekspresi Hamun mendadak berubah menjadi suram. “Apa artinya itu kita tidak bisa bersama-sama lagi?” tanya Hamun.

Donghae menggeleng. “Maksudku, kita akan tetap bersahabat. Aku tidak akan berusaha lagi merebutmu dari Siwon. Tenang saja, aku akan terus mendukungmu, Kang Hamun. Fighting!” jawab Donghae.

Hamun tersenyum. “Gomawo, Oppa. Doakan aku ya,” ucap Hamun lalu beranjak menuju kamar Siwon yang diketahuinya melalui Donghae yang menanyakannya kepada manajer SJ.

Hamun berhenti di depan kamar 1101 lalu memencet bel kamar itu dengan takut-takut. Tangannya sudah penuh keringat. Jantungnya sudah berdebar tidak karuan. Pintu kamar terbuka tidak lama kemudian. Meskipun pintu itu dibuka dengan celah yang sangat kecil tapi cukup mampu membuat Siwon muncul di hadapan Hamun.

“Ha… Hamun, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Siwon kaget.

“Aku ingin menemui Oppa dan menjelaskan semuanya kepadamu. A…aku tidak ada apa-apa dengan Donghae Oppa. Kami hanya berteman,” jawab Hamun tanpa basa-basi.

Siwon tersenyum lalu menyahut dengan buru-buru, “Aku percaya padamu. Jadi kita bahas masalah ini nanti di Korea ya. Sekarang aku harus segera siap-siap pergi.”

Tiba-tiba ada suara seorang wanita dari dalam kamar. “Oppa, nugusaeyo?” tanya wanita itu.

Hamun menatap tajam ke arah Siwon, menuntut penjelasan akan keberadaan wanita itu tapi yang ada Siwon malah seolah-olah mengusir Hamun. “Aku harus pergi sekarang,” kata Siwon sambil menutup pintu.

Entah mendapat kekuatan darimana, Hamun menahan pintu itu dan mendorongnya hingga terbuka lebar. Dia melihat Sooyoung yang hanya berbalut baju handuk berada di dalam kamar. Hamun menatap marah kepada Siwon. Tangannya terkepal menahan amarah. “Untung aku datang ke sini dan mengetahui belangmu. Kamsahmnida, Oppa,” ujar Hamun dengan sinis lalu keluar dari kamar Siwon. Siwon terpaku di tempatnya. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin mengejar Hamun tapi itu tidak mungkin.

Hamun berjalan kembali ke lobi dengan penuh amarah. Rasanya tadi ingin sekali dia mengampar Siwon dan menghajar pria itu habis-habisan tapi itu pasti akan membuatnya jauh lebih sakit, sudah sakit hati ditambah sakit fisik. Hamun langsung menarik Donghae begitu bertemu dengan teman seperjalanannya itu. “Kita harus pulang sekarang,” kata Hamun dengan galak.

Donghae yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa mengikuti Hamun mengambil taksi menuju bandara. Hamun diam selama perjalanan menuju bandara, wajahnya terlihat sangat marah. Donghae ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tapi dia takut itu malah akan mengganggu Hamun.

Sesampai di bandara, Hamun segera meminta Donghae untuk membelikan tiket pulang menuju Korea. Tidak seperti biasanya, Hamun meminta Donghae dengan galak. Donghae merasa pasti ada yang tidak beres anatara Hamun dan Siwon tadi.

Donghae akhirnya memberanikan diri bertanya pada Hamun apa yang sebenarnya terjadi di hotel tadi saat mereka sudah berada dalam penerbangan menuju Korea. “Hamun ah, boleh aku tahu apa yang terjadi tadi? Tampaknya kau sangat marah,” tanya Donghae.

Ekspresi Hamun berubah menjadi sedih. Matanya mulai berair.

“Kau kenapa, Hamun? Apa yang terjadi?” tanya Donghae.

“Aku dan Siwon Oppa sudah putus. Dia mengkhianatiku. Aku melihatnya bersama gadis lain tadi di kamar hotel itu,” jawab Hamun tanpa berusaha membendung air matanya.

Donghae merangkul Hamun dan merebahkan kepala gadis itu di bahunya. Tangannya mengelus-elus kepala Hamun. Tanpa banyak bicara, Donghae  berusaha memberikan ketenangan untuk  Hamun. “Gwencana, Hamun ah. Semua akan baik-baik saja. Tenang ya,” ucap Donghae.

Hamun terus terisak dalam rangkulan Donghae sampai akhirnya dia tertidur. Begitu terbangun, ia sudah hampir berada di Korea. “Welcome home, jagiya,” ucap Donghae sambil tersenyum pada Hamun yang masih mengucek-ucek matanya.

Mau tidak mau, Hamun ikut-ikutan tersenyum karena Donghae telah memberikan kenyamanan yang tiada tara sepanjang perjalanan ini. Tidak bisa dia pungkiri, Donghae memberikan kekuatan tersendiri untuk dirinya. Kalau saat ini tidak ada Donghae, mungkin dia sudah memilih bunuh diri.

Begitu ssampai di Korea, Donghae segera mengantarkan Hamun pulang ke dorm SG. “Jeongmal gomawoyo, Oppa,” ucap Hamun dengan tulus.

“Cheonmaneyo, Hamun ah. Aku senang bisa menemanimu,” sahut Donghae.

“Oh ya, Oppa mau mampir dulu ke dorm ku? Aku bisa membuatkan segelas coklat hangat untukmu. Kau pasti sangat lelah karena perjalanan kita yang sangat panjang,” kata Hamun menawarkan balas budi.

Donghae tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Aku harus segera kembali ke dorm menemui memberku yang lain. Mereka pasti cemas tidak bisa menemukanku dua hari ini,” ujar Donghae.

“Okelah kalau begitu,” sahut Hamun lalu masuk ke dalam dormnya.

Tanpa Hamun sengaja, ia melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat. Ia segera berbalik badan dan keluar dari dorm. Untung baginya, Donghae belum meninggalkan dorm SG. “Oppa, aku ikut ke dorm SJ,” kata Hamun dengan wajah memerah.

Melihat ke dalam dorm SG untuk mengetahui apa yang menjadi penyebab Hamun tidak jadi masuk ke dalam dorm. Yunho sedang memeluk Minah dengan mesra sambil berbisik di telinga gadis itu, “Aku rasa sebentar lagi kita bisa menyusul Kyuhyun dan Hyejin.” Minah terkikik geli. Raut wajahnya bahagia karena kini ia telah sepenuhnya memiliki Yunho.

“Tidak usah buru-buru. Kita masih punya banyak waktu, Oppa,” sahut Minah.

Yunho tersenyum lalu mencium Minah dengan mesra tanpa mereka sadari ada dua orang yang sedang melihat mereka.

“Yaa! Park Minah!” seru Hyunah.

“Yaa! Hyung!” seru Changmin.

Minah dan Yunho terkejut. Refleks, ciuman mereka terlepas.

“Aigoooo Park Minah… Bagaimana bisa kau melakukan hal ini di ruang kumpul kita? Aku kan sudah bilang kalau mau ngapa-ngapain sama Yunho oppa itu di kamar saja,” protes Hyunah sambil menunjuk Minah dan Yunho secara bergantian.

“Mianhe, Hyunah sayang. Kami kelepasan,” sahut Minah dengan santai, berbeda dengan Yunho yang wajahnya sudah memerah menahan malu.

Hyunah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabat dan oppanya sedangkan Changmin mengikik geli kepada Yunho sekaligus menggoda leadernya, “Aigoo, hyung. Tak kusangka kau izin latihan hanya untuk, ehem…”

“Yaaaa, Shim Changmin!!” potong Yunho dengan galak. Changmin pun tidak berani melanjutkan kalimatnya tapi ia tetap mengikik geli.

“Sudah, sudah. Changmin, ayo ikut aku ke dapur. Minah, Oppa, bereskan tempat ini sampai rapi seperti aku merapikannya,” perintah Hyunah lalu meninggalkan Minah dan Yunho sedangkan Changmin berjalan mengikuti Hyunah.

Minah membelalak kaget. “Mwoooo?! Yaaaa Jung Hyunah!! Haish!” seru Minah tanpa digubris sedikit pun oleh Hyunah.

“Sudah, sudah, ayo kita bereskan saja,” ujar Yunho lalu mulai membereskan bantal-bantal sofa yang berceceran di lantai.

Awalnya Minah dan Yunho membereskan ruang kumpul dengan sungguh-sungguh tapi lama-kelamaan Hyunah mulai mendengar tawa dan cekikik dari kedua orang itu. “Huiiiik kedua orang itu memang deh kalau sudah ditinggal berdua, jarang sekali bisa kontrol diri,” gerutu Hyunah sambil memasak pancake.

“Sudahlah, biarkan saja mereka. Asal mereka bahagia, kita juga bahagia kan?” ujar Changmin sambil tersenyum.

“Iya juga sih,” sahut Hyunah.

Tiba-tiba ponsel Changmin berdering. Changmin melihat nama penelepon yang tertera di layar lalu menoleh pada Hyunah. Ia ragu untuk menerima telepon itu. Setelah teleponnya berdering sekitar 30 detik, Changmin menyingkir dari Hyunah sejenak untuk menerima telepon itu. Hyunah yang menyadari kepergian Changmin hanya bisa menghela nafas kecewa.

“Luna ya?” tanya Hyunah tanpa basa-basi begitu Changmin kembali ke dapur.

“Hah?” tanya Changmin balik karena tak mengerti.

“Itu yang meneleponmu barusan Luna kan? Ada apa dia meneleponmu?”

Changmin merasa tidak enak hati untuk menjawab pertanyaan Hyunah tapi ia tetap harus menjawabnya, dengan jujur, “Iya Luna. Dia minta aku ke dormnya untuk mengerjakan sesuatu.”

Hyunah tersenyum sinis. “Oh ya? Memang apa yang harus kau lakukan sampai harus memintamu datang?”

Changmin jadi merasa bersalah. “Mianhe, Hyunah ya. Dia membutuhkan aku jadi aku harus menemuinya,” kata Changmin.

Hyunah meletakkan perlatan masaknya dan mematikan kompor lalu berbalik menghadap Changmin. Wajah Hyunah sudah merah menahan tangis. Tidak, Hyunah tidak boleh menangis. Hyunah adalah gadis kuat! “Kau pikir hanya Luna yang membutuhkanmu?! Kau pikir hanya Luna yang ingin kau datang begitu ia memintamu datang?! Kau pikir hanya Luna yang…” Hyunah mengambil nafas lalu merendahkan suaranya agar terdengar lebih normal “Yaah, yang dipikiranmu memang hanya Luna. Sudahlah, pergi sana.”

Hyunah kembali memunggunggi Changmin dan bekerja dengan pancakenya. “Jeongmal mianhe, Hyunah ssi tapi aku benar-benar harus pergi. Permisi,” ujar Changmin lalu pergi. Hyunah menatap pancakenya dengan nanar lalu menangis sejadi-jadinya. Ia terisak hebat sampai mampu membuat Minah dan Yunho datang melihatnya.

“Hyunah ya? Wae? Kenapa kau menangis?” tanya Minah dengan panik lalu segera memeluk sahabatnya itu.

Hyunah tidak menjawab. Gadis itu tetap sibuk menangis untuk menumpahkan segala kekesalan, kekecewaan sekaligus kesedihannya terhadap Changmin.

“Apa karena Changmin pergi meninggalkanmu?” tanya Yunho dengan lembut sambil mengelus kepala Hyunah dengan penuh kasih sayang.

Hyunah mengangguk. Hyunah tidak mampu memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia terlalu sedih.

“Baiklah, nanti aku akan bicara dengan Changmin. Tenang ya, sayang,” ujar Yunho.

Bukannya merasa lebih tenang, Hyunah malah semakin menangis. Ia sudah lama tidak merasakan kasih sayang dan kelembutan oppanya seperti sekarang ini. Ia sangat merindukan dirinya menangis di pelukan Yunho dengan Yunho yang berusaha menenangkan Hyunah.

Hyunah tertidur dengan lelap setelah Yunho berhasil menenangkannya. Yunho keluar dari kamar dan menemui Minah yang sedang sibuk merapikan ruang kumpul SG. “Jagi,” panggil Yunho.

“Ne?” sahut Minah.

“Aku titip Hyunah padamu ya? Kalau ada apa-apa dengannya, langsung bilang padaku kalau perlu telepon, pokoknya aku harus segera tahu ya?”

“Siap, jagiyaaa. Kau tenang saja. Aku pasti akan memberikan kabar paling update soal Hyunah.”

“Gomawo, jagi,” ucap Yunho lalu mencium Minah.

“Cheonmaneyo. Aku senang melihat hubungan kalian sudah membaik,” balas Minah.

Yunho tersenyum. “Aku juga senang tapi aku yakin begitu Yong Hwa pulang, Hyunah akan kembali dikontaminasi,” ujar Yunho cemas.

“Tenang saja. Aku yakin kau pasti bisa kembali berdamai dengan si kembar,” sahut Minah.

“Gomawoyo. Jeongmal saranghaeyo,” bisik Yunho yang membuat Minah seperti terbang ke awan.

 

 

Entah sejak kapan Jihyo merasa mencari Key itu sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami, SUPER SUSAH! Jihyo sudah ke dorm Shinee, ruang latihan, muter-muter gedung SM bahkan sampai stalking anak-anak Shinee, tapi Key tetap susah sekali ditemui.

“Kemana sih tuh bocah? Sok sibuk banget!” gerutu Jihyo kesal. Ia masuk ke dalam ruang latihan Shinee dan berkumpul dengan Jonghyun, Minah dan Heechul yang sedang membicarakan hubungan Jonghyun dengan Se Kyung.

“Se Kyung minta putus. Dia punya cowok lain,” kata Jonghyun.

“Ya sudah, putusin saja! Masih banyak gadis yang mau sama kamu, Jonghyun,” ujar Heechul dengan berapi-api.

Minah memukul Heechul. “Oppa ya! Jonghyun kan sayang sama Se Kyung, mana bisa putus begitu saja! Oppa ini ah!” protes Minah tanda tidak satu suara dengan Heechul.

Heechul mendebat, “Loh, jelas-jelas Se Kyung sudah punya pacar lain, sudah selingkuh! Itu tidak terampuni, Park Minah!”

“Tapi Jonghyun kan bisa merebut Se Kyung lagi!”

“Pembicaraan yang tidak  menarik,” ujar Jihyo dalam hati tapi toh ia tetap memperhatikan tiga serangkai itu dengan seksama sampai tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan muncullah Key. “Key!!!!” seru Jihyo dengan gembira lalu berdiri untuk menghampiri Key.

Key yang menyadari keberadaan Jihyo segera melarikan diri meskipun ia tahu gadis itu pasti akan mengerjarnya. Key sedang tidak ingin bertemu dengan Jihyo sejak ia menyadari gadis itu tidak pernah lagi mencintai Key. Key menyadari hati Jihyo telah dipenuhi oleh Sungmin. Meskipun Jihyo tidak pernah lelah megejar Key kesana kemari tapi itu bukan karena Jihyo merasa kehilangan kekasih tapi Jihyo memang bukan tipe orang yang bisa jauh dari sahabat-sahabatnya.

Jihyo mengejar Key sampai ke basement tapi Key sudah berhasil kabur lebih dulu dengan mobilnya. “Haish!” seru Jihyo kesal.

“Wae geude?” tanya Sungmin yang tiba-tiba muncul di sebelah Jihyo dan mengangetkan Jihyo.

“Yaaa Sungmin Oppa! Jangan tiba-tiba muncul seperti ini. Bikin kaget tahu!” protes Jihyo.

“Aku tidak tiba-tiba muncul. Dari tadi aku mengejarmu tapi tampaknya kau sibuk sekali mengejar Key sampai tidak merasakan kehadiranku,” kata Sungmin sampai membuat Jihyo menundukkan kepalanya karena malu. “Lalu kenapa kau berhenti?” tanya Sungmin.

“Key sudah keburu pergi dengan mobilnya, Oppa,” jawab Jihyo.

“Apa kau tahu kemana dia pergi? Kalau kau tahu aku akan mengantarkanmu menemuinya,” ujar Sungmin.

Jihyo tersedak mendengar ucapan Sungmin. “Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Oppa mau mengantarkan aku menemui Key? Bukannya Oppa malah ingin aku sejauh mungkin dengan Key?”

“Memang, tapi kalau kalian hanya sekedar sahabat aku rasa tidak ada masalah.”

Jihyo menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Oppa,” ujar Jihyo pada Sungmin lalu meninggalkan pria itu sendiri di basement.

Jihyo masuk ke dalam ruangan SG untuk mengambil tasnya tapi ia justru menemukan oppanya sedang bertengkar dengan magnaenya. “Hhh,” Jihyo menghela nafasnya. “Ada apalagi ini? Tiba-tiba hilang, muncul-muncul bertengkar.”

“Aku justru berterima kasih padamu Oppa karena kau telah mempermudah aku membuat keputusan untuk meninggalkanmu!” seru Hamun.

“Kau tidak bisa seenaknya seperti ini, Hamun ah! Kita saling mencintai. Aku akui apa yang kau lihat antara aku dan Sooyoung di Amerika adalah sebuah kesalahan. Aku frustasi memikirkan kau dan Donghae,” sahut Siwon.

“Aku menghargai keputusan Oppa untuk main di belakangku. Karena itu, hargai keputusanku juga. Permisi,” ucap Hamun lalu pergi keluar dari ruangan itu.

Jihyo melihat Hamun keluar lalu berpaling kepada Siwon. “Apa yang terjadi?” tanya Jihyo.

“Kami putus,” jawab Siwon singkat lalu ikutan keluar dari ruangan.

“Aku tahu. Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi antar kau dengan Sooyoung onni, Oppa,” kata Jihyo sambil menyusul Siwon.

“Bukan urusanmu,” ujar Siwon.

Jihyo terus mencecar Siwon tapi Siwon tidak peduli. Ia terus berjalan menuju mobilnya dan berlalu pergi. “Oppa dan Key sama saja. Suka kabur dariku dengan mobil mereka. Lihat saja besok, tidak ada satupun dari kalian yang akan bisa kabur dariku!” gerutu Jihyo kesal. Jihyo lalu masuk ke dalam van SG yang telah berisi Hyejin dan Hamun.

“Ya ampun Jihyo, kau lama sekali sih? Aku dan Hamun sudah menunggumu daritadi tahu,” kata Hyejin.

“Loh, bukannya kita masih menunggu Minah onni dan Hyunah onni?” tanya Jihyo.

“Mereka berangkat dari dorm,” jawab Hyejin. Jihyo duduk di sebelah Hyejin dan van pun segera berangkat menuju studio.

Sejujurnya, Jihyo ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara oppanya dan Hamun kepada magnaenya itu tapi raut wajah Hamun berubah menjadi sangat mengerikan begitu Jihyo bertanya, “Hamun, apa Siwon oppa…?” Jihyo pun jadi mengurungkan niatnya untuk bertanya.

 

 

SG tidak menyangka syuting selesai lebih cepat dari biasanya dan hal ini mampu membuat mereka jingkrak-jingkrak kesenangan. “Yeeeaah! Bisa pulang cepat. Bisa main! Horeeee!” seru Jihyo.

“Bisa jalan-jalan!!!” sambung Hamun yang tidak kalah senang.

Jihyo merangkul magnaenya dan berjalan lebih dulu ke dalam van meninggalkan tiga eonnideulnya yang sedang mengobrol pelan sambil cekikikan.

“Mwo? Maksudmu, kau sudah melakukannya dengan Yunho oppa?” tanya Hyejin dengan volume suara kecil, nyaris berbisik.

Minah menganggukkan kepala sambil tersenyum bahagia.

“Ruang kumpul kita super berantakan dibuat mereka,” ujar Hyunah kemudian.

“Mwo? Kalian melakukannya di ruang kumpul kita?” tanya Hyejin lagi, tidak percaya dengan kegilaan membernya itu.

Minah menunduk malu tapi senyum bahagia dari wajahnya tidak juga pudar, malah semakin berkembang membuat Hyejin tertawa. “Chukkae, jagiya!!! Jadi apa itu artinya Kihyun, Cho junior maaksudku, akan segera punya sepupu?” goda Hyejin.

“Kalau itu, hanya sang Pencipta yang tahu,” jawab Minah malu-malu.

Hyunah memandang kedua rekannya dengan gemas. “Uuuuh kalian membuatku iri tahuuuu,” ujar Hyunah.

Minah merangkul Hyunah dengan erat dan memberikan semangat, “Tenang saja, semua nanti ada waktunya. Kau sabar saja ya, sayang.”

“Aku harus sabar sampai kapan? Yang dipikiran Changmin itu hanya Luna, bagaimana bisa aku melakukannya dengan Changmin?” sahut hyunah putus asa.

“Tenang saja, Changmin pasti akan bertekuk lutut padamu. Aku yakin,” ujar Minah.

Tanpa Hyunah, Minah dan Hyejin sadari, Hamun dan Jihyo menguping pembicaraan mereka. “Jadi apa kita akan segera punya keponakan lagi, magnae?” tanya Jihyo kepada Hamun.

Muka Hamun bersemu merah teringat kejadian yang tidak sengaja ia lihat di dorm waktu itu. “Entahlah, lebih baik kita memikirkan soal Kihyun dulu,” jawab Hamun.

Setelah ketiga member tertua masuk ke dalam van, van segera berangkat menuju dorm.

“Huah, rasanya sudah lama ya kita tidak berkumpul seperti ini. Bagaimana kalau kit ajalan-jalan?” seru Jihyo sambil merebahkan dirinya di sofa begitu sampai di dalam dorm.

“Maaf Jihyo, Kyu oppamu ingin melihat anaknya yang masih berada di perutku ini,” sahut Hyejin penuh penyesalan.

Minah dan Hyunah pun sejalan dengan Hyunah. “Maaf Jihyo, aku harus bertemu dengan Heechul oppa dan Jonghyun. Kau tahu, membahas masalah Se Kyung,” sahut Minah.

“Aku ada perlu dengan Changmin. Jeongmal mianhe, Jihyo ya,” ujar Hyunah.

Jihyo lalu menoleh penuh harap pada magnaenya yang dengan teganya memupuskan harapan terakhir Jihyo. “Mianhe, onnie. Aku sudah lebih dulu janji dengan Donghae oppa,” kata Hamun. Seketika Jihyo diserang sindrom bete. Dia keluar dari dorm SG dan jalan-jalan sendirian meskipun itu hal yang paling dia tidak suka.

Jihyo mengambil hapenya dan mencari nama Key di daftar kontaknya. “Ah bocah itu pasti tidak akan mengangkat teleponku,” gumam Jihyo lalu beralih mencari nama Sungmin. Jihyo ingin memencet tombol ‘dial’ dan meminta Sungmin untuk menemaninya tapi gengsi Jihyo menghalanginya. “Tidak semudah itu mendapatkanku kembali, Lee Sungmin,” gumam Jihyo dengan mantap.

 

.to be continued.

@gyumontic