FIND THE TRUTH

G / Romance – Friendship / Series

Author is Me (facebook account’s owner where it published)

 

Cast :

Super Girls

Super Junior (Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Park Jungsu, Lee Donghae)

Shinee

DBSK (Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong)

 

In a Relationship:

Lee Sungmin – Choi Jihyo

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Lee Jinki ‘Onew’ – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Choi Siwon – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

PART 4

ENJOY READING…

 

Jejung, Jungki dan Hyejin segera berkumpul di ruang belajar Hyejin karena hanya ruangan itu yang tidak mungkin dijamah orang lain termasuk orang tua Hyejin. “Yaa, Min Ah ya… Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Hyejin begitu melihat Min Ah berada di kamar belajarnya.

“Mianhe Hyejin karena aku memakai kamarmu sembarangan. Aku sedang sembunyi dari Yunho oppa,” jawab Min Ah.

Hyejin hanya bisa menghela nafas. “Tidak bisakah aku mempunyai privasi di rumahku sendiri?” batin Hyejin kesal. Wajahnya mulai bete. Jungki sudah mengenal ekspresi ini dari kecil. Maka dari itu Jungki meminta Min Ah keluar, “Min Ah, kau bisa bersembunyi di kamarku di ujung lantai ini. Ini kuncinya.”

“Ah, tidak usah oppa. Aku akan keluar menemui Jonghyun. Sampai jumpa,” kata Min Ah. Ia lalu keluar dari kamar belajar Hyejin.Sekarang, Hyejin telah mendapatkan apa yang ia inginkan yang bernama privasi. Ia duduk di meja belajarnya dengan kedua jung oppadeul di hadapannya.

“Jungki oppa, bagaimana oppa dan omma? Apa mereka menanyakanku? Mereka tidak tahu kalau aku diskors kan?” tanya Hyejin bertubi-tubi.

“Tenang Hyejin, semua aman. Ahjumma dan ahjussi ku tersayang tidak tahu masalah dirimu. Aku bilang tadi kau ke kantor dengan Jejung untuk mengambil sheet lagu,” jawab Jungki. “Lalu bagaimana masalahmu? Kenapa tadi kau dipanggil lagi ke kantor?” Jungki menatap Hyejin dengan serius tapi Hyejin tidak kunjung menjawab. Gadis itu malah berdiri dan menyalakan CD. Jungki beralih kepada Jejung. “Kenapa dia?” tanya Jungki sambil menunjuk Hyejin.

“Tuan Choi melarangnya bertemu dengan Kyu dan Onew,” jawab Jejung sambil menatap Hyejin dengan sedih. Ia ikut-ikutan merana dengan penderitaan Hyejin.

“Lalu skorsnya bagaimana?” tanya Jungki khawatir.

“Tuan Choi meringankannya. Hyejin tetap boleh aktif di SG tapi tidak untuk kegiatan lain,” jawab Jejung.

“Kasihan dia. Kita harus menjaganya baik-baik, Jejung. Selain itu kita tidak boleh membocorkan titah ahjussi kepadanya,” kata Jungki.

Jejung mengernyitkan dahinya. “Titah apa?” tanya Jejung.

“Dia akan dijodohkan.”

“Mwo?! Dengan siapa?”

“Yeah, you should know.”

“Who?”

“Choi Siwon.”

Jejung seperti dilempar dari langit. Rasanya sakit sekali mendengar sahabatnya mau dijodohkan. Tuan dan Nyonya Song memang benar-benar mau mengatur seluruh hidup Hyejin.

 

 

Min Ah merasa dia telah tersesat. Kemana pun dia berjalan, dia tidak menemukan jalan keluar. “Ya Tuhan, dimana aku ini? Masa aku bisa tersesat di rumah Hyejin? Ini si Jonghyun juga kenapa mencari tempat sembunyi serumit ini sih,” gumam Min Ah mulai cemas.

Tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang. “Aaaahh!” pekik Min Ah terkejut. Dia membalikkan badan dan kembali berteriak, “Aaaaah!”

“Kenapa begitu terkejut melihatku?” tanya Yunho.

“Ah aniyo, oppa. Aku pikir kau orang jahat. Mianhaeyo,” jawab Min Ah salah tingkah.

“Gwenchana,” sahut Yunho. “Ada yang mau aku bicarakan denganmu. Kajja!”

Yunho menggandeng Min Ah keluar dari tempat itu menuju ke taman di bagian belakang rumah Hyejin.

“Aa..apa yang mau dibicarakan, oppa?” tanya Min Ah.

“Aku minta maaf sudah memutuskan hubungan denganmu…secara sepihak,” jawab Yunho memulai pembicaraannya. “Aku menyesal dan aku…” Min Ah menahan nafasnya menunggu Yunho menyelesaikan kalimatnya. “Aku ingin kembali padamu,” lanjut Yunho.

Bang! Min Ah seperti tersiram air yang diambil langsung dari kutub utara. “Bah! Seenaknya mutusin awak sekarang minta balikan. Kau pikir awak cewek macam apa pun?” batin Min Ah dengan kesal sampai-sampai dia bisa membatin dengan bahasa planet lain.

“Bagaimana menurutmu, Min Ah? Aku tahu kau masih sayang padaku. Aku pun begitu,” kata Yunho berusaha mempersuasi Min Ah.

Min Ah tetap diam. Dia lagi-lagi membatin, “Gah! Enak banget lo ngomong. Gak segampang itu ye! Enak aje!”

Yunho menanti jawaban Min Ah dengan sabar. “Berikan aku waktu untuk berpikir,” kata Min Ah akhirnya.

Yunho mencengkram lengan Min Ah. “Tolong pikirkan lagi baik-baik. Aku tidak akan memutuskanmu seenaknya lagi,” ujar Yunho.

“Syalalabalebabogamyarababahaeba,” batin Min Ah. Ia menghela nafas panjang. “Aku akan berpikir baik-baik. Karena itu berikan aku waktu,” kata Min Ah.

Yunho menyerah. “Baiklah, aku akan menunggu jawabanmu,” ujarnya.

“Terima kasih, oppa. Sekarang aku mau pulang. Tolong lepaskan tanganmu,” kata Min Ah.

Yunho melepaskan cengkramannya dan membiarkan Min Ah pergi. Min Ah kembali masuk ke rumah dan langsung menemukan Jonghyun berdiri di dekat pintu masuk.

“Buk!” Min Ah memukul lengan Jonghyun dengan keras. “Gara-gara kau, aku jadi bertemu Yunho oppa, Kim Jonghyun!” omel Min Ah.

“Kok gara-gara aku? Aku tidak tahu apa-apa. Aku daritadi menunggumu di sini, nuna,” sahut Jonghyun.

“Huh! Terserah! Sekarang ayo antarkan aku pulang!” perintah Min Ah dengan galak.

Jonghyun menuruti perintah nunanya dengan galak. Dia takut kena semprot lagi mengingat emosi nunanya itu lagi labil karena makhluk bernama Jung Yunho.

 

 

Hyun Ah terbangun dari tidurnya dan melihat Yong Hwa sedang membaca buku di sebelahnya. “Yong Hwa? Kenapa ada di sini?” tanya Hyun Ah terkejut.

“Kau mabuk semalam padahal hanya minum segelas anggur. Payah!” jawab Yong Hwa tanpa berpaling dari bukunya.

“Mwo? Aku mabuk? Tidak mungkin. Aku tidak minum anggur kok,” ujar Hyun Ah bingung kenapa dia bisa mabuk.

“Yang benar kau tidak tahu kau minum anggur. Changmin memberikan anggur putih padamu tadi malam,” sahut Yong Hwa.

“Jinja? Lalu Changmin dimana sekarang?”

“Molla. Emang aku ibunya? Sehabis mengantarmu ke sini, aku menyuruhnya pulang.”

“Oppa…” HyunAh mulai merayu saudara kembarnya yang tampaknya mulai menunjukkan rasa tidak sukanya pada Changmin.

Yong Hwa yang mengetahui kebiasaan Hyun Ah ini langsung bertindak. “Rayuanmu tidak berguna. Sekali aku tidak suka ya tidak suka. Changmin tidak pas denganmu,” kata Yong Hwa tanpa basa-basi.

“Tapi aku menyukai Changmin. Oppa…” rayu Hyun Ah lagi.

Tiba-tiba Minho masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru. “Nuna! Hyun Ah nuna! Kenapa kau bisa mabuk, nuna?” tanya Minho dengan cemas.

“Aku rasa aku tidak sadar kalau aku sudah minum anggur,” jawab Hyun Ah sesuai dengan apa yang diberitahukan Yong Hwa padanya.

“Jinja? Kau minum anggur, nuna? Nuna, kau masih Hyun Ah nuna kan?”

Hyun Ah mengangguk bingung. “Iya, memang kenapa?”

“Seorang Jung Hyun Ah gitu loh! Minum anggur? Aku tak percaya!”

Hyun Ah mulai paham maksud Minho. Dongsaengnya itu terkejut mendengar dirinya bisa minum anggur padahal mencium sedikit alkohol saja, dirinya mungkin bisa pingsan. Jujur saja, Hyun Ah juga bingung bagaimana bisa ia minum segelas anggur. SEGELAS!

Yong Hwa meletakkan bukunya lalu berdiri. “Oppa, kau mau kemana?” tanya Hyun Ah.

“Kerja lah. Aku kembali ke Korea kan bukan untuk liburan,” jawab Yong Hwa.

“Ooh iya sih. Mianhe aku lupa,” sahut Hyun Ah.

“Kapan sih kau tidak pikun?” goda Yong Hwa sambil menjitak pelan kepala Hyun Ah. “Aku pergi dulu ya, Hyun Ah. Minho, jaga Hyun Ah baik-baik,” lanjut Yong Hwa.

“Ne, hyung. Aku pasti akan menjaganya dengan baik,” sahut Minho dengan mantap sehingga membuat Yong Hwa dapat pergi kerja dengan tenang.

Selepas Yong Hwa pergi, Hyun Ah langsung memberondongi Minho dengan berbagai pertanyaan, “Minho, beritahu aku segala yang kau tahu tentang Shim Changmin. Bagaimana orangnya? Siapa keluarganya? Apa dia punya pacar? Siapa mantan pacarnya? Apa saat ini dia sedang dekat dengan seorang wanita?”

Minho menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu apa-apa soal Changmin hyung, nuna. Aku tidak seberapa dekat dengannya. Kyuhyun hyung yang tahu segalanya tentang dia,” jawab Minho sedikit menyesal tidak bisa memberi informasi apa-apa.

“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa?”

Minho mengangguk.

“Jeongmal?”

“Iya, nuna. Ngapain juga aku bohong sih?”

Hyun Ah melemas. Kesempatannya mengetahui tentang Changmin semakin kecil.

“Memang kenapa sih, nuna? Kau membutuhkannya sekali? Kalau iya, aku akan bertanya pada Changmin hyung nanti,” ujar Minho berusaha membantu tapi yang ada dia malah kena jitak Hyun Ah.

“Jangan, bodoh!” seru Hyun Ah.

“Memangnya kenapa? Kau suka padanya ya, nuna?” tanya Minho yang mulai sadar bahwa Hyun Ah sedang mabuk asmara.

Wajah Hyun Ah memerah, bibirnya merekahkan senyum. “Aku rasa aku suka pada Changmin,” kata Hyun Ah dengan berseri-seri. “tapi kembaranku justru sebaliknya. Yong Hwa tidak suka dengan Changmin.”

“Oh mungkin karena Changmin punya masa lalu yang tidak begitu bagus. Kabarnya dia dulu pernah menyebabkan pacarnya mati bunuh diri karena dia putuskan secara sepihak,” ujar Minho dengan polos. Detik berikutnya, sebuah bantal melayang ke wajahnya yang tampan.

“Itu informasi penting, bodoh! Kenapa tidak memberitahuku tadi? Kenapa bilang tidak tahu apa-apa?” omel Hyun Ah.

Pikiran Hyun Ah sudah melayang ke laptopnya untuk segera mencari tahu mengenai Changmin tapi tubuhnya masih tak berdaya. Dia harus sabar untuk mendapatkan informasi lengkap tentang Changmin.

Bahu Hamun serasa mau copot dari engselnya saking sudah pegal menopang kepala Siwon yang sedang tidur. “Demi laut, darat, dan udara beserta angkatannya, ayo bangunlah Choi Siwon. Bahuku sudah mati rasa ini,” gumam Hamun agar Siwon tidak terbangun.

Hamun berusaha menegakkan kepala Siwon tetapi tenaganya kurang besar. Tiba-tiba hapenya bergetar, ada telepon dari Taemin.

“Yaa Kang Hamun! Odisaeyo?” tanya Taemin.

“Di rumah Hyejin onni. Wae?” tanya Hamun balik.

“Kau harus ke kantor sekarang. Semua member SG sedang menunggumu latihan, kecuali Hyejin onni tentu. Ayo cepat!” jawab Taemin.

“Iya, tapi…” Hamun melihat Siwon yang masih tertidur lelap di bahunya. Hamun hanya bisa menghela nafas pasrah. “Iya, tapi tolong bilang pada onnideul aku telat ya, Taemin,” ucap Hamun.

“Oke, boss!” sahut Taemin.

Hamun hendak menutup teleponnya tapi ada suara yang menahannya, “Hamun ah, jakkaman! Jangan tutup teleponnya.”

Hamun mengembalikan teleponnya ke telinga. “Wae? Nugusaeyo?” tanya Hamun.

“Juisonghamnida, Hamun. Ini Donghae oppa. Aku mau tanya, apa Siwon bersamamu?” sahut Donghae.

Untuk entah keberapa kalinya, Hamun menatap Siwon yang sedang tidur. Hamun menganggukkan kepalanya meskipun Donghae tidak melihatnya. “Ne, oppa. Siwon oppa sedang tidur,” ujar Hamun.

“Oh begitu. Aku boleh minta tolong ya Hamun. Tolong bangunkan dia dan bilang manajer hyung sudah 1 jam menunggunya di kantor. Tolong ya, Hamun.”

“Ne, oppa.”

“Gomawo, Hamun ah. Neo neomu yeppeoso.”

Donghae memutuskan sambungan telepon yang membuat Hamun terpaksa mengakhiri adegan romantis yang belum tentu bisa dia rasakan lagi.

“Oppa, Siwon oppa,” panggil Hamun sambil menepuk-nepuk lengan namja itu.

Siwon langsung terbangun. Dia menegakkan kepalanya dulu baru badannya. “Mianhe Hamun, semalaman aku pasti merepotkanmu. Maaf aku ketiduran di bahumu,” ucap Siwon.

Hamun tersenyum karena terpesona pada ketampanan namja itu meskipun baru bangun tidur. “Gwencana, oppa. Aku baik-baik saja kok,” sahut Hamun berbohong. Bahunya tentu tidak baik-baik saja.

“Jinja?”

Hamun mengangguk mantap.

“Ah, gomawoyo Hamun ah,” ucap Siwon dengan lembut sambil mengelus-elus kepala Hamun.

Hamun seperti dibawa terbang ke langit ketujuh. Dia tidak ingin ini berakhir, sebenarnya, tapi ternyata tangan Siwon sudah turun dari kepalanya.

“Oh ya oppa, tadi Donghae oppa pesan kalau oppa harus segera ke kantor. Manajer sudah menunggu 1 jam katanya,” kata Hamun menyampaikan pesan Donghae.

Siwon menepuk dahinya. “Ya Tuhan, aku benar-benar lupa! Gomawo, Hamun,” kata Siwon sambil membereskan barangnya dengan terburu-buru.

“Oppa mau pergi sekarang?” tanya Hamun.

“Iya. Aku sudah super duper terlambat. Aku duluan ya, Hamun,” jawab Siwon lalu keluar dari home theater Hyejin.

Hamun sudah lemas melihat dirinya ditinggal begitu saja oleh Siwon tapi tidak lama kemudian namja itu kembali dan langsung memeluknya. “Gomawo, Hamun,” ucap Siwon lalu pergi secepat kilat.

Hamun yang belum bisa mencerna apa yang baru terjadi, terpaku di tempatnya. Sepuluh menit kemudian ia baru sadar dan merasa jantungnya berdetak sangat cepat.

 

 

Jihyo dengan cepat mengangkat teleponnya begitu melihat nama Hamun di layar hapenya. “Hamun, dimana kau? Cepat sini!” kata Jihyo pada magnaenya.

“Aku sedang di jalan. Aku telepon mau memberitahukan hal super penting padamu, onnie,” sahut Hamun.

“Apa ada yang lebih penting dari kedatanganmu sekarang?”

“Ada. Tadi pagi aku melihat Hyejin onni merengek pada Jungki oppa untuk bertemu dengan Kyu oppa.”

Jihyo mulai mencium aroma gawat darurat dari suara Hamun. “Lalu? Lalu?” tanya Jihyo menuntut penjelasan lebih lanjut.

“Mungkin sekarang Hyejin onni sedang dalam perjalanan menuju dorm SJ. Kalau bos sampai tahu atau kalau ada hal yang tidak diinginkan Hyejin onni di dorm SJ, kita bisa tamat!”

“Ini sih bukan gawat darurat lagi. Gawat darurat stadium 5 ini namanya,” kata Jihyo dalam hati. Ia mulai panik. “Baiklah, aku akan mengurusnya. Kau segera kemari ya, magnae. Sampai jumpa.”

Setelah memutus telepon Hamun, Jihyo langsung menelepon Sungmin sambil mencari Key, “Oppa, Sungmin oppa, Hyejin onni akan ke dorm. Pastikan semuanya aman. Aku kesana sekarang.”

Sungmin belum sempat bicara apa-apa, Jihyo sudah menutup teleponnya. “Haish anak ini,” gerutu Sungmin tapi langsung melaksanakan semua perintah Jihyo.

Sedangkan pada saat yang sama di kantor SM, Jihyo sedang menarik Key keluar dari ruang latihan Shinee.

“Why did you pull me out from studio?” tanya Key bingung.

“Accompany me to SJ dorm. Disaster will come. We have to stop it or we will die. Come on!” jawab Jihyo yang tanpa basa-basi menarik Key menuju mobil dan menyuruhnya menyetir ke dorm SJ. Meskipun sedikit cerewet, Key tetap menemani Jihyo ke dorm SJ.

“Tingtong! Tingtong! Tingtong!” Jihyo membunyikan bel dorm SJ dengan tidak sabar. Sungmin membukakan pintu untuk Jihyo dan Key.

“Untung kau datang duluan. Aku tidak tahu bagaimana jika Hyejin yang datang lebih dulu,” kata Sungmin.

Jihyo tahu ada yang tidak beres. Karena itu Jihyo langsung menyelonong masuk dan menemukan Kyuhyun sedang bersama 2 gadis yang tidak dia kenal. Tanpa segan, Jihyo menarik Kyuhyun dari kedua gadis itu. “Maaf ya onnideul aku mengganggu tapi aku ada perlu dengan pria ini. Permisi,” ucap Jihyo kepada dua gadis tersebut.

Jihyo mendorong Kyuhyun masuk ke kamar Sungmin diikuti oleh si pemilik kamar dan Key. Key langsung mengunci kamar karena dia yang terakhir masuk.

Jihyo mendudukkan Kyuhyun di tempat tidur Sungmin. “Kau benar-benar gila, Cho Kyuhyun. Hyejin onni mungkin akan tiba di sini dalam hitungan detik tapi kau malah masih bersantai dengan gadis-gadis itu!” omel Jihyo. “Pantas jika suatu saat nanti leaderku akan meninggalkanmu!”

“Aku tidak mengundang mereka. Mereka yang datang sendiri. Lagipula, aku tidak ada apa-apa dengan mereka,” bela Kyuhyun atas dirinya.

Jihyo memutar bola matanya. “Terserah apa alasan oppa pokoknya dalam 5 menit, rumah ini harus bersih. Aku tidak mau Hyejin onni bertambah susah!”

Kyuhyun berdiri lalu keluar dari kamar Sungmin. Tidak lama kemudian dia kembali. “Cleaned,” ujarnya.

Jihyo, Sungmin dan Key keluar dari kamar. Mereka berkumpul di ruang tivi. Jihyo duduk di sebelah Sungmin yang langsung merangkulnya dengan hangat.

“Kita harus bagaimana nanti jika Hyejin onni datang?” tanya Jihyo pada Sungmin dengan cemas.

“Tenang saja. Pura-pura saja kau sedang mengunjungiku,” jawab Sungmin.

“Lalu si Key?”

“Dia datang untuk menemui Eunhyuk. Bilang saja begitu.”

Jihyo mengangguk paham. Kali ini mereka harus berhasil.

Tidak lama kemudian, bel dorm SJ berbunyi. Bibi pembantu dorm membukakan pintu dan mempersilahkan tamu itu masuk.

“Kamsahamnida, ahjumma,” terdengar suara Hyejin.

Sungmin, Jihyo, Key dan Kyuhyun langsung menjalankan rencana. Sungmin dan Jihyo asyik mengobrol, Key menonton tivi sedangkan Kyuhyun berdiri menyambut Hyejin.

“Hyejin ahh,” ucap Kyuhyun dengan girang sambil memeluk gadis itu. “Aku pikir kita tidak akan bertemu lagi. Aku kangeeeen.”

Hyejin tidak bergeming. Dia justru melepas pelukan Kyuhyun. “Aku datang untuk memperjelas hubungan kita. Aku minta putus,” kata Hyejin dengan dingin.

Mata Kyuhyun menatap Hyejin tidak percaya. “Jangan bercanda. Aku tahu kau hanya mengetesku. Iya kan? Aku tidak mau! Sampai mati pun aku tidak mau. Hyejin, sungguh aku tidak punya gadis selain kamu. Percayalah,” kata Kyuhyun.

“Ini tidak ada hubungan dengan gadis lain. Ini masalah hidup dan mati kita. Aku tidak mau melanjutkan hubungan ini. Permisi. Sungmin oppa, Jihyo, Key, aku duluan. Annyeong,” kata Hyejin lalu pergi.

Kyuhyun terduduk lemas sambil menangis. Jihyo datang menghiburnya. “Oppa, kuatkan dirimu,” kata Jihyo.

Kyuhyun tidak menjawab, tangisannya semakin deras. Dirinya kini sudah memeluk Jihyo. “Kata-katamu benar. Leadermu meninggalkan aku, Choi Jihyo. Sakit sekali rasanya,” ujar Kyuhyun.

Jihyo mengelus-elus punggung Kyuhyun. “Semangat, oppa! Kesempatan selalu ada. Berjuanglah!” ujar Jihyo.

“Gomawo, Jihyo,” sahut Kyuhyun lalu kembali ke kamarnya.

Jihyo menjadi cemas. “Oppa, ottoke?” tanyanya.

Sungmin merangkul Jihyo untuk menenangkannya. “Percaya semua akan baik-baik saja ya, Jihyo sayang,” jawab Sungmin.

Perasaan Jihyo sedikit lebih tenang tapi pikirannya tetap sekusut benang sulam neneknya yang selalu jadi mainan buat kucing keluarga Choi.

“Ehem! Sepertinya aku sudah tidak dibutuhkan. Aku pergi dulu. Permisi,” sela Key lalu keluar dari dorm SJ. Jihyo merasa sedikit bersalah tapi itu bisa dia urus nanti, menurutnya.

 

TO BE CONTINUED.

@gyumontic