FIND THE TRUTH

G / Romance – Friendship / Series

Author is Me (facebook account’s owner where it published)

 

Cast :

Super Girls

Super Junior (Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Park Jungsu, Lee Donghae, Kim Heechul)

Shinee

DBSK (Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong)

 

In a Relationship:

Lee Sungmin – Choi Jihyo

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Lee Jinki ‘Onew’ – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Choi Siwon – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

PART 5

ENJOY READING…

 

Hyejin memasuki ruang latihan SG dengan wajah ceria. “Annyeong, yeojadeul!!” sapa Hyejin tanpa memperhatikan siapa yang sebenarnya ada di ruang latihan SG.

“Annyeong, Hyejin,” balas Onew dengan senyum dari bibir dan mata sipitnya.

Hyejin bingung harus bagaimana. Mau kabur, rasanya kekanakan sekali. “Ah, Jinki oppa. Sedang apa di sini? Bukankah ruang latihan Shinee ada di lantai atas?” tanya Hyejin yang justru seperti mau mengusir Onew.Onew tersenyum. “Kau tidak suka aku di sini ya? Kau mau mengusirku?” goda Onew.

Hyejin menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia merasa bersalah telah berkata yang tidak seharusnya. “Bukan begitu, Oppa. Aku kira kau salah ruangan. Kalau memang kepentinganmu di sini, tidak apa, di sini saja. Aku permisi,” kata Hyejin.

Hyejin hendak meninggalkan ruangan itu tapi Onew malah menarik gadis itu ke pelukannya. “Mianhe membuatmu jadi seperti ini. Jeongmal mianhe, Hyejin ahh. Aku tidak sangka kau akan jadi semenderita ini,” ucap Onew yang menyadari bahwa sebenarnya Hyejin sangat tersiksa dengan skorsingnya.

Tanpa Hyejin bisa bendung lagi, air matanya mulai mengalir sampai membahasi kaus Onew. Dia memeluk Onew sambil menangis.

Onew semakin sedih melihatnya. “Mianhe, Hyejin. Kalau ada yang bisa aku lakukan untuk membuatmu ceria lagi, katakan saja. Apapun akan aku lakukan meskipun itu harus menyembah Kyuhyun hyung,” ujar Onew.

Hyejin terisak. “Tidak perlu, Oppa. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Kyuhyun oppa. Benar katamu, aku terlalu naif meyakini laki-laki dengan banyak wanita itu akan berpaling hanya padaku,” kata Hyejin.

Onew bahagia sekali mendengarnya tapi di sisi lain ia sangat menderita melihat Hyejin yang ternyata memang sangat mencintai Kyuhyun. Terlihat jelas Hyejin tidak rela melepaskan Kyuhyun. “Kenapa kau memutuskan seperti itu?” tanya Onew.

“Tadi aku ke dorm SJ dan melihat dua gadis keluar dari tempat itu sambil membicarakan Kyuhyun. Gadis-gadis itu membicarakan betapa hebatnya Kyuhyun. Aku sudah muak, Oppa,” jawab Hyejin.

Onew memeluk Hyejin lebih erat. Tangannya mengelus-elus kepala Hyejin dengan lembut. “Tetap semangat Hyejin. Kau pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik. Kapanpun kau membutuhkan aku, telepon saja, aku pasti akan datang,” ujar Onew.

“Gomawo, oppa.”

Hyejin menyeka air matanya dan membetulkan make up nya yang telah rusak. “By the way oppa, hari ini aku sudah menemui Kyuhyun oppa dan dirimu. Kalau tuan Choi tahu, aku bisa mati. Jadi tolong rahasiakan hal ini ya?” kata Hyejin sambil memoles blush on di pipinya.

Onew menunjukkan ibu jarinya. “Siap, bos!” ujarnya.

“Jeongmal gomawoyo, Oppa.”

“Cheonmaneyo.”

Onew lalu pamit pergi karena ia sudah dipanggil dongsaeng-dongsaengnya di ruang latihan Shinee. Hyejin tidak melarang. Lagipula, member SG yang lain sudah mulai berdatangan, kecuali Jihyo.

“Sampai jumpa, oppa,” ucap Hyejin sambil melambaikan tangannya. Onew balas melambaikan tangan lalu keluar.

Onew keluar, Kyuhyun masuk. “Apa yang dilakukan Onew? Kenapa dia bisa ada di ruangan ini tadi?” tanya Kyuhyun kepada Hyejin tanpa basa-basi.

Hyejin menghela nafas sambil menyimpan perangkat make up nya. “Bukan urusan sunbae,” jawab Hyejin kemudian.

“Jelas itu urusanku! Kau pacarku! Aku berhak tahu apa yang terjadi jika ada laki-laki yang mendekatimu!”

Hyejin hanya bisa memutar bola matanya. “Aku rasa tadi aku sudah menegaskan hubungan kita. Jadi sekarang kau tidak berhak apa-apa, sunbae. Permisi, aku mau latihan.”

Hyejin hendak bergabung dengan member lain tapi Kyuhyun menahannya. “Aku tidak terima!” seru Kyuhyun.

“Belajarlah menerima kenyataan, Cho Kyuhyunssi,” balas Hyejin.

Kyuhyun dan Hyejin mulai terlibat adu mulut yang seru. Min Ah, Hyun Ah dan Hamun sampai tidak bisa lagi berpura-pura tidak peduli. Mereka menatap Kyuhyun dan Hyejin tanpa kedip.

Samar-samar terdengar suara Jihyo dan Sungmin dari luar.

J : Aku tahu kenapa appa melarang Hyejin onni bertemu Kyu oppa dan Onew oppa.

S : Wae?

Suara mereka berdua semakin jelas karena mereka semakin dekat dengan ruang latihan.

J : Appa mau menjodohkan Hyejin onni dan Siwon oppa. Jungki oppa yang memberitahuku semalam.

S : Jinjayo?

J : Jinjayo.

“Ceklek.” Pintu ruang latihan SG dibuka Jihyo dan semua yang berada di dalam menatap Jihyo dengan serius. Jihyo sadar semua telah mendengarkan ucapannya, termasuk Hyejin. Jihyo menambah masalah.

 

 

Berpaling dari Jihyo, Hamun dan Min Ah menatap Hyejin. Min Ah menatap Hyejin tidak percaya. “Sajangnim mau menjodohkan Hyejin dengan Siwon oppa? Aku pasti mimpi! Hyejin? Siwon oppa?” ucap Min Ah yang membuat Hyejin agak tersinggung karena merasa Min Ah tidak setuju karena Hyejin yang tidak pantas untuk namja favorit Min Ah itu.

Hyejin menatap Min Ah dengan tajam. “Bukan karena kau tidak pantas, Song Hyejin. Aku tidak percaya muncul masalah baru yang tidak masuk akal ini. Mau jadi apa kita semua kalau kalian menikah?” jelas Min Ah.

Mata Hyejin melembut mendengar penjelasan Min Ah tapi tidak dengan Hamun. Hatinya sakit sekali mendengar berita itu. Ia tidak tahan lagi. Ia segera keluar mumpung tidak ada yang meyadarinya.

Hamun menelepon Taemin tapi yang dihubungi tidak menjawab. Akhirnya, Hamun menyendiri di pojokan kafe gedung SM. Dia menyeruput susu coklat dengan tidak nikmat.

“Kenapa harus Siwon oppa yang dijodohkan dengan Hyejin onni? Kenapa?” batin Hamun kesal. Ia mulai galau.

Tiba-tiba Donghae datang. “Hai Hamun, sendirian saja. Mana member SG yang lain?” sapa Donghae.

“Ah, Donghae oppa… Member lain ada di ruang latihan,” sahut Hamun dengan senyum yang dipaksakan.

“Kalau gitu, boleh aku duduk di sini?” tanya Donghae. Hamun mengangguk. “Gomawo, Hamun,” lanjut Donghae sambil duduk di hadapan Hamun.

Hamun merasa Donghae sedang memperhatikan dirinya. Hal itu membuat Hamun sedikit risih. “Kenapa melihatku seperti itu, oppa?” tanya Hamun.

“Kau tampak sedih sekali. Ada apa?” kata Donghae yang menyadari apa yang terjadi dengan dongsaeng-nya.

“Tidak ada,” sahut Hamun berusaha menutupi kesedihannya.

“Sungguh? Tampangmu kusut sekali, Hamun. Kalau ada masalah, cerita saja. Siapa tahu aku bisa membantu.”

Hamun berpikir sebentar untuk bercerita. Dia ragu tapi dia butuh solusi. “Aku rasa kakakku sedang suka pada pria tapi pria itu mau dijodohkan dengan wanita lain,” ujar Hamun akhirnya dengan sedikit memelintir fakta bahwa sebenarnya dia yang sedang mengalami hal itu.

“Apa pria itu suka pada kakakmu?” tanya Donghae.

“Mollayo. Aku tidak tahu bagaimana perasaan pria itu,” jawab Hamun.

“Lalu wanita yang mau dijodohkan itu bagaimana?”

“Kata kakakku, wanita itu tidak mencintai pria itu tapi siapa yang tahu bagaimana nanti. Apalagi pengaruh orang tua mereka sangat besar.”

Donghae tersenyum. “Selama janji suci belum diucapkan, kau tetap punya kesempatan, Hamun ah! Hwaiting!” ucap Donghae yang membuat Hamun membelalak.

“Ba…bagaimana kau tahu kalau aku yang…”

Donghae mengelus-elus kepala Hamun. “Di keningmu jelas terbaca : Donghae oppa, aku sedang jatuh cinta,” kata Donghae.

Hamun tersipu malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus tapi Donghae malah menertawakannya. “Ngomong-ngomong, siapa yang kamu sukai, Hamun?” tanya Donghae.

Hamun nyengir kuda. “Rahasia. Hehe,” ujarnya. Tiba-tiba Hamun mendapat panggilan yang membuatnya harus segera kembali ke ruang latihan.

“Jeongmal gomawoyo sudah menemaniku, oppa. Sampai jumpa,” ucap Hamun.

“Sampai jumpa. Kalau ada perkembangan antara kau dan pria itu, beritahu aku ya?” kata Donghae.

Hamun mengangguk setuju lalu pergi. Donghae menatap punggung Hamun dengan nanar. “Goodluck, Hamun,” bisik Donghae dengan lirih meskipun ia tahu tak akan ada yang bisa mendengarnya.

 

 

Jihyo sedang pusing tujuh keliling. Kecerobohannya membuat dirinya terperangkap dalam situasi seperti ini : dikelilingi 4 lelaki tampan di sebuah ruang rapat, 2 diantara mereka menatap Jihyo dengan tajam sedangkan 2 yang lain duduk mendampingi Jihyo.

“Ya Tuhan, sebenarnya apa yang appa pikirkan sehingga mau menjodohkanku dengan Hyejin?! Aku rasa appa sudah gila!” kata Siwon begitu mendengar kabar itu.

“Appa tidak gila, oppa. Jangan bicara sembarangan,” tegur Jihyo.

“Kalau begitu, apa namanya? Sinting?! Pokoknya aku tidak mau dijodohkan, apalagi dengan Hyejin! Titik!” seru Siwon. Kekesalannya sudah sampai puncak. Dia paling tidak suka ada orang mengatur urusan cintanya walaupun itu orang tuanya sendiri.

“Jangan pikir Hyejin mau dijodohkan denganmu, hyung!” sambar Kyuhyun dengan galak.

Jihyo berdiri tidak kalah galak dari kedua oppanya. “Kalian berisik! Kalau kalian tidak suka, bilang sama appa! Jangan marah-marah padaku!” omel Jihyo.

“Lalu aku harus ngomong sama siapa?! Appa hanya mau mendengar kata-katamu, Jihyo!” balas Siwon.

“Mana aku tahu! Pokoknya aku gak mau ngurus! Permisi!” kata Jihyo galak. Ia langsung melangkah pergi menuju ruang latihan SG diikuti oleh Sungmin dan Key. Jihyo membanting pintu ruang latihan SG dengan keras sampai membuat beberapa orang terkejut.

“Chillax, baby. Everything’s gonna be okay,” kata Key sambil merangkul Jihyo.

“No, everything’s will be ruined. Can’t you see the problems are getting more complicated! Aaah, i hate these!” sahut Jihyo masih dengan mengomel.

“For your information, everything happen as you wish, Jihyo. Please be positive.”

“Aaaah Key, kenapa kau ikut-ikutan marah padaku sih?! Aku ini sudah pusing tahu!”

“Aku tidak marah. Aku hanya mau membantu tapi kalau kau tidak suka, ya sudah. I’m out. Excuse me.”

Key lalu keluar dari ruang latihan. Jihyo tidak menyangka Key akan seperti itu. Ia mungkin sudah kelewatan. “Oppa, ottoke? Sekarang Key juga ikutan marah padaku,” kata Jihyo dengan sedih.

Sungmin segera memeluk Jihyo dan berkata dengan lembut, “Kau sudah kelewatan pada Key. Minta maaflah padanya nanti kalau kau sudah tenang. Bicara baik-baik dengannya.”

“Kalau dia tidak memaafkanku?” tanya Jihyo sambil membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi.

“Tidak mungkin. Kalian sudah terlalu lama bersama, hal seperti ini tidak mungkin tidak bisa dimaafkan,” jawab Sungmin.

Jihyo mengucapkan terima kasih kepada Sungmin yang terus berada di sisinya sambil memeluk namja itu seolah namja itu boneka beruang besar yang selalu menemani Jihyo tidur.

“Lalu bagaimana dengan rencana apa menjodohkan Siwon oppa? Aku bisa mati kalau itu sampai terjadi,” kata Jihyo.

Sungmin mengelus-elus kepala Jihyo. “Pacarku ini terlalu baik. Kemarin mikirin masalah leadernya, belom selesai perkara, sekarang sudah mikirin oppanya. Lalu kapan kau memikirkan aku, jagi? Aku cemburu nih,” sahut Sungmin sambil memamerkan aegyo nya yang sungguh meluluhkan Jihyo.

Dengan malu-malu Jihyo berkata, “A…aku selalu memikirkanmu kok, oppa. Maaf kalau kau merasa terabaikan.”

Sungmin tersenyum. “Hihihi. Jeongmal gomawoyo masih memikirkan aku, jagiya…”

Jihyo tersipu malu karena Sungmin memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’. Ingin sekali Jihyo membalas tapi ia masih malu. Alhasil, ia hanya bisa berkata, “Cheonmaneyo…” dan melanjutkan, “jagiya,” di dalam hati.

 

 

Hyun Ah dan Min Ah hanya memperhatikan dengan seksama leader mereka yang berjalan bolak-balik di dalam dorm. Setiap apa yang dilakukan Hyejin tidak ada yang beres. Terlihat jelas Hyejin sedang dalam tingkat kekalutan yang tinggi.

“Min Ah ya, apa yang bisa kita lakukan?” tanya Hyun Ah yang cemas melihat keadaan Hyejin.

“Mollayo. Aku tidak punya kuasa bicara dengan tuan Choi. Apalagi masalah perjodohan, aku bisa apa? Tidak ada. Kita hanya bisa berharap pada Jihyo,” jawab Min Ah.

Hyun Ah menghela nafas panjang, “Kasihan, Hyejin. Tapi aku salut dengannya. Dia masih bisa tersenyum demi SG meskipun sedang susah. Lebih baik kita tidak usah menambah masalahnya,” kata Hyun Ah yang langsung disetujui Min Ah.

“Maksudmu tidak membebaninya lagi dengan Yunho oppa dan Changmin?” tanya Min Ah.

Hyun Ah mengangguk.

“Tentu saja, Hyun Ah. Aku juga tidak gila. Masalah Yunho oppa, biarkan saja dia menungguku memberi jawaban. Siapa suruh dia memutuskanku seenaknya! Huh!”

“Ne, arraseo. Aku juga begitu, terpaksa menyelidiki si Changmin seorang diri sejak tidak ada yang bisa diandalkan apalagi si Minho.”

“Yong Hwa?”

“Dia tidak suka Changmin.”

“Bukan berarti dia tidak bisa membantu.”

“Semoga.”

Walaupun sedang mengobrol, Hyun Ah dan Min Ah tidak bisa fokus satu sama lain. Mereka terus memperhatikan Hyejin yang tidak berhenti mondar-mandir. Mata mereka baru bisa berhenti seliweran setelah Hyejin pamit pergi. “Yeojadeul, aku pergi dulu menemui Jungki oppa. Kalau ada yang mencariku bilang saja keluar kota. Bye!” kata Hyejin lalu pergi.

Kini tinggal Hyun Ah dan Min Ah yang berada di dorm. “Aku harap hari ini aku tidak sendirian lagi di dorm,” ujar Min Ah pada Hyun Ah.

Baru Min Ah berkata seperti itu, bel dorm mereka berbunyi. Hyun Ah tersenyum penuh penyesalan. “Maafkan aku Min Ah sayang. Aku sudah ada janji dengan Changmin. Aku pergi ya. Bye bye,” ucap HyunAh lalu keluar menemui Changmin yang telah menunggunya di luar dorm.

“Happy Tuesday, Jung Hyun Ah,” ujar Changmin sambil memberikan sebuket bunga lily dengan senyuman maut.

Hyun Ah menerimanya dengan senang hati. “Kalau setiap hari Changmin memperlakukan pacarnya seperti ini, pantas mantan pacarnya itu bunuh diri. Gadis itu pasti merasa sangat kehilangan,” batin Hyun Ah.

“Gomawo, oppa,” ucap Hyun Ah. “Kita mau kemana sekarang?

“Tunggu saja, aku akan membawamu ke suatu tempat yang tidak akan kau lupakan,” jawab Changmin.

Hyun Ah masuk ke dalam mobil Changmin yang langsung membawanya ke sebuah theater. “Kita mau nonton drama musikal siapa, Oppa? Kyuhyun oppa? Junsu oppa? Luna?” tanya Hyun Ah penuh semangat. Dia memang paling suka dengan drama musikal.

Changmin menggelengkan kepalanya. “Kita yang akan main dramanya. Phantom of the Opera. Kajja!” jawab Changmin. Ia menarik Hyun Ah keluar dari mobil dan menggandengnya menuju panggung dimana pemain sedang berlatih. “Bukan pemeran yang sesungguhnya sih tapi kita bisa merasakan seperti pemerannya. Mianhe, Hyun Ah,” ujar Changmin.

Hyun Ah tidak berharap dia bisa bermain di phantom of the opera. Berpura-pura jadi pemerannya saja sudah cukup menyenangkan. Changmin memang tahu cara menyenangkan wanita. “Aku pasti juga akan bunuh diri kalau kehilangan dia tapi aku rela menanggung risiko itu. Changmin oppa, johahae!” batin Hyun Ah.

Hyun Ah dan Changmin memakai kostum pemeran utama agar lebih mendalami peran. Mereka bermain dengan pemeran-pemeran dan kru yang terlibat langsung dalam drama musikal ini. Walaupun Hyun Ah dan Changmin begitu merepotkan karena melakukan banyak kesalahan, kru tetap sabar memandu mereka.

“Kamsahamnida. Juisonghamnida,” ucap Hyun Ah dan Changmin tidak henti-henti ketika drama selesai. Hyun Ah begitu senang dapat merasakan menjadi artis theater walau sebentar.

“Jeongmal gomawoyo, oppa. Aku benar-benar senang,” ucap Hyun Ah dengan mata berbinar-binar.

“Cheonmaneyo, Hyun Ah. Sekarang kita makan dulu. Setelah itu aku akan mengantarkanmu pulang,” kata Changmin.

Hyun Ah menuruti perkataan Changmin. Dia mengikut kemanapun Changmin mengajaknya. Kali ini ke Pantai Haeneunde. Mereka makan malam di sebuah kapal yang disulap menjadi sebuah restoran.

“Wow oppa! Restoran ini indah sekali!” puji Hyun Ah mengagumi interior restoran-kapal ini.

“Tunggu sampai kita makan di bawah langit sambil menyusuri pantai. Kajja!” sahut Changmin.

Changmin menarik Hyun Ah masuk ke dalam kapal dan berjalan mengelilinginya. Setelah puas, Changmin mengajak Hyun Ah makan di dek kapal.

“Silahkan duduk, nona,” ujar Changmin. Hyun Ah pun duduk. Wajahnya sumringah total.

Kapal mulai berjalan ke tengah. Makanan terbaik restoran ini mulai dihidangkan. “Selamat menikmati. Semoga perjalanan Anda menyenangkan,” ujar pelayan restoran.

“Kamsahamnida,” sahut Changmin sedangkan Hyun Ah melemparkan senyum termanisnya.

Changmin dan Hyun Ah menyantap makanan sambil ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya tersirat jelas maksud Changmin.

“Aku suka padamu, Hyun Ah,” kata Changmin.

Jantung Hyun Ah berdetak 2x lebih cepat. Waktu serasa berhenti. Dirinya sungguh bahagia. “Changmin oppa menyukaiku! Dia suka padaku!” pekik Hyun Ah dalam hati.

“Apa kau juga suka padaku?” tanya Changmin.

Hyun Ah tidak tahu mau bicara apa. Dia terlalu kikuk tapi tubuhnya sudah memberikan jawaban. Senyuman merekah di wajahnya. Matanya berbinar-binar. Semangatnya pun berapi-api.

Changmin balas tersenyum. Tangannya sudah menggenggam tangan Hyun Ah. Mereka tidak terpisahkan sampai Changmin mengembalikan Hyun Ah ke dorm SG.

 

 

Min Ah mengomel kepada Jonghyun sepanjang jalan, “Yaa! Kim Jonghyun! Kenapa kau mengajakku ke tempat ini? Kakiku pegal tahu! Hak tinggi ini membunuhku!”

“Tadi ngomel karena sendirian di dorm. Sekarang sudah diajak keluar tetap ngomel. Maumu apa sih, nuna? Lagipula siapa yang suruh pake high heels? Argh!” sahut Jonghyun.

Min Ah cemberut. Dia tidak suka jika harus diomelin oleh dongsaengnya, meskipun itu Jonghyun.

“Sudahlah nuna, jangan mengeluh terus. Kalau kau capek, copot saja sepatumu. Apa salahnya nyeker sekali-sekali?” ujar Jonghyun.

“Pletak!” sebuah jitakan mendarat di kepala Jonghyun. “Aku ini public figure. Kalau hari ini nyeker, besok bisa jadi headline tabloid infotainment tahu!” protes Min Ah.

“Huooo, sombong banget deh nuna satu ini ah!”

“Biarin. Huh!”

Min Ah terus berjalan sambil menahan pegal. Ia tetap harus bertahan paling tidak sampai ia kembali ke mobil. Jonghyun yang berjalan di sebelah Min Ah hanya bisa tertawa.

“Sudah ah, ayo kita pulang, ke dorm SJ,” ujar Min Ah.

“Mwo? Ngapain kesana?” tanya Jonghyun.

“Aku mau bertemu dengan Hee oppa. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Kajja!”

Min Ah segera masuk mobil dan mengemudikannya ke dorm SJ. Sesampai di sana, Min Ah segera menemui Heechul sedangkan Jonghyun memilih tinggal di mobil.

“Heehee oppa! bogosipoyo!” sapa Min Ah dengan ceria lalu memeluknya. Min Ah adalah satu-satunya dongsaeng yang boleh bicara dengan Heechul tanpa formalitas.

“Nado bogosipo, Min Ah. Kebetulan sekali kau kesini. Yunho ada di dalam bersama Siwon dan yang lain. Ayo masuk,” ajak Heechul.

Kaki Min Ah langsung membeku. Dia tidak mau masuk.

“Wae? Tidak mau masuk?” tanya Heechul.

“Oppa, aku sudah putus dengan Yunho oppa. Dia yang memutuskanku,” jawab Min Ah.

“Mwo?! Apa kau bilang?!” seru Heechul.

“Aku sudah putus dengan Yunho oppa.”

“Haish, Yunho itu harus dibilangin! Seenaknya saja memutuskan dongsaengku. Aku akan mengajarnya, Min Ah! Tenang saja.” Heechul benar-benar kesal. Dia hampir masuk untuk mengajar Yunho tapi Min Ah menahannya.

“Dia minta balikan tapi aku belum memberi jawaban,” ujar Min Ah.

Tak berapa lama kemudian, Heechul sudah mulai menceramahi Min Ah sampai kaki Min Ah pegal. Heechul tidak sadar bahwa mereka sedang berdiri dan untuk Min Ah, memakai hak tinggi. Kakinya sudah kaku pun semakin kaku begitu melihat Yunho berjalan menuju pintu. Min Ah rasanya ingin kabur saat itu juga.

 

.to be continued.

@gyumontic