Cast :

Super Girls

Super Junior (Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Park Jungsu, Lee Donghae, Kim Heechul)

Shinee

DBSK (Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong)

 

In a Relationship:

Lee Sungmin – Choi Jihyo

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Lee Jinki ‘Onew’ – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Choi Siwon – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

 

PART 6

ENJOY!!!!!

 

Jihyo pergi menemui Key karena sahabatnya tersebut tidak-tidak bisa dihubungi. Setiap telepon dan pesan Jihyo tidak ada yang direspon oleh Key. “Haish Kim Kibum, apa yang terjadi padamu sih? Argh!” omel Jihyo sepanjang perjalanan menuju gedung SM. Sesampai di gedung SM, Jihyo langsung masuk ke ruang latihan Shinee. “Yaaaa Kim Kibuuuum! Why did you ignore my calls? Wae?” protes Jihyo tanpa basa-basi.

“I just didn’t hear. It’s silent. Sorry,” sahut Key cuek, tidak seperti biasanya. Hal ini membuat Jihyo bingung.“Kau kenapa, Key? Tidak seperti biasanya. Kau marah padaku ya?”

“Menurutmu?”

Jihyo menggelengkan kepalanya. “Molla, Key. Kalau kau marah, bilang padaku,” ujar Jihyo.

“Buk!” Key melemparkan sepatunya ke lantai dengan keras. Jihyo terkejut melihatnya, begitu juga dengan member Shinee yang lain.

“Iya, kau sedang marah padaku. Wae, Key? Tell me,” kata Jihyo. Ia mendekati Key dan mulai bicara pada laki-laki itu.

Key diam tetapi Jihyo terus memaksa Key untuk bercerita. “Aku muak padamu, Jihyo. Kau selalu seenaknya saja padaku. Apalagi kalo Sungmin hyung sudah bersamamu, aku ini serasa tidak ada. Aku merasa seperti dimanfaatkan,” ujar Key akhirnya mencurahkan isi hatinya.

Jihyo menatap Key. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini menyimpan kekesalan pada dirinya. “Mianhe, Key. Aku tidak tahu kalau kau merasa seperti itu. Aku pikir kau baik-baik saja secara kita sudah lama sekali saling mengenal,” kata Jihyo.

“Dan fakta bahwa kita pernah berpacaran,” sahut Key. “Aaaah, ironis sekali.”

Jihyo menatap mata Key. “Kau masih suka padaku?” tanya Jihyo.

Key tertawa sinis. “Jangan bercanda, Jihyo. Aku hanya mau menunjukkan betapa dekatnya kita tapi kau memperlakukan aku hanya sebagai pembantumu. Kau selalu datang padaku setiap tidak ada Sungmin hyung. Hah!” kata Key lalu pergi meninggalkan ruang latihan Shinee.

Jihyo ingin menyusulnya tapi ia tidak tahu harus berkata apa pada Key. Key terlalu marah padanya. Lebih baik membiarkan Key tenang dulu baru bicara dengannya, pikir Jihyo. Jihyo pun keluar daru ruang latihan Shinee dan pindah ke ruang latihan SG.

“Mana Hyejin onni?” tanya Jihyo pada member SG ketika menyadari leader mereka tidak ada.

“Keluar kota,” jawab Min Ah sesuai dengan permintaan Hyejin.

Jihyo tidak semudah itu percaya. Dia menatap Min Ah penuh selidik. “Onni, jangan bohong padaku. Ayo katakan yang sebenarnya padaku.”

Min Ah menghela nafas panjang. “Baiklah, Hyejin onni pergi menemui orang tuanya untuk mengurus perjodohan konyol itu,” jawab Min Ah.

Jihyo melompat kaget mendengarnya. “Hyejin onni setuju untuk dijodohkan dengan oppaku?!” tanya Jihyo yang salah menangkap maksud Min Ah.

“Bukan…”

Min Ah belum selesai bicara, Jihyo sudah mengambil kesimpulan sendiri. “Bagaimana mungkin Hyejin onni setuju dengan perjodohan ini?! Haish, ini sangat konyol! Aku pusing!” ujar Jihyo yang lalu keluar mencari Sungmin.

“Yaaa Choi Jihyo! Kenapa kau keluar lagi? Kapan kita latihan kalau begini?!” seru Min Ah kesal. Dia sudah berada di ruangan itu selama 2 jam tapi tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali menunggu lengkapnya member.

“Aku akan segera kembali, onni. Tenang saja,” sahut Jihyo.

Jihyo pun segera pindah ke ruangan SJ untuk menemui pacarnya, Lee Sungmin. Dengan panik, Jihyo menarik Sungmin keluar dari member SJ yang lain. “Bagaimana masalahmu dengan Key? Sudah selesai?” tanya Sungmin sambil tersenyum.

Jihyo menggeleng dengan keras. “Belum, bahkan semakin parah. Tapi ada yang lebih penting. Kita dalam masalah. Kita harus membatalkan perjodohan ini secepatnya,” kata Jihyo.

Sungmin tidak mengerti kenapa datang-datang Jihyo langsung membahas perjodohan. “Membatalkan gimana? Memang kenapa?” tanya Sungmin.

“Hyejin onni sudah menyetujui perjodohannya dengan Siwon oppa,” jawab Jihyo.

 

Mata Sungmin membelalak kaget dan begitu pula dengan member SJ lain yang rupanya sedang mencuri dengar. Jihyo balas menatap mereka semua dengan menyesal. “Ya Tuhan, kenapa aku selalu ceroboh seperti ini? Sekarang semua orang SM akan tahu kalau oppa dan Hyejin onni akan menikah. Haduuuuuuuuuuh!” batin Jihyo.

 

 

Hyejin memasuki rumahnya dengan terburu-buru. Barang-barang yang menghalangi jalannya hampir bias dipastikan akan dilempar. Ia tidak sabat untuk segera bertemu dengan oppanya yang bernama Song Jungki, yang telah merahasiakan perkara terbesar sepanjang riwayat kehidupan cintanya.

“Joongki oppa! Joongki oppa! SONG JOONG KI!!!” panggil Jihyo dengan suara kencang.

Joongki yang sedang beristirahat di kamarnya segera keluar menemui dongsaengnya itu. “Wae, Hyejin? Kenapa dating langsung teriak-teriak seperti itu?” tanya Joongki bingung.

“Kenapa oppa tidak memberitahuku bahwa aku akan dijodohkan? Appa dan omma bilang sendiri padamu kan? Kenapa kau tidak langsung memberitahuku? Kau malah memberi tahu Jihyo!” jawab Jihyo dengan galak.

Joongki merasa bodoh sekali. Dia tidak memberitahu Hyejin karena takut Hyejin semakin menderita tapi dia malah member tahu orang lain yang kemungkinan besar bisa membuat Hyejin mengetahui hal ini dan membuatnya semakin menderita. Joongki langsung memeluk Hyejin. “Mianhe, Hyejin. Mianhe,” ucap Joong ki. “Aku takut kau semakin menderita. Aku tidak mau menambah masalahmu tapi aku justru melakukan hal yang sebaliknya. Jengmal mianhe, Hyejin,” ucap Joongki.

Hyejin balas memeluk Joong ki dan menghela nafas. “Apa appa dan eomma bilang hal lain pada oppa mengenai diriku?” tanya hyejin.

Joongki menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Mereka hanya membicarakan perjodohanmu. Mereka tampaknya bersemangat sekali untuk memiliki menantu bernama Choi Siwon,” jawan Joongki.

“Apa alasan mereka?”

“Song-Choi atau Choi-Song Enterprise terdengar sangat bagus buat mereka.”

Hyejin benar-benar marah. Wajahnya penuh emosi. Dia tertawa sinis. “Jangan harap aka nada perusahaan seperti itu di dunia ini selama aku masih hidup,” ujar Hyejin dengan dingin. Ia sudah muak diatur-atur. “Aku akan menggagalkan perjodohan ini. Kau harus membantuku, oppa. Aku tidak mau tahu.”

Joong ki menganggukkan kepalanya. “Aku akan mendukung apapun yang kau lakukan, Song Hyejin! Hwaiting!”

Hyejin tersenyum senang karena telah mempunyai koalisi untuk menentang orang tuanya. Rencana mendadak terurai di otaknya dan ia mulai melaksanakannya satu persatu. Hyejin melepaskan pelukannya dan berkata pada Joongki, “Aku akan pergi menemui Kyuhyun sekarang.”

“Untuk apa?” tanya Joongki.

“Minta balikan.”

Joongki menatap Hyejin tidak percaya. “Itu bukan dirimu, Hyejin. Kau datang kepada laki-laki untuk memintanya balikan?” tanya Joongki.

Hyejin mengangguk mantap. “Aku hanya pura-pura. Aku akan mempergunakannya dengan baik.”

“Tapi kau dilarang bertemu dengannya.”

“Aku tidak peduli. Aku bisa memberikan seribu alasan kenapa aku harus bertemu dengan Kyuhyun. Lagipula itu larangan yang sangat konyol. Bagaimana mungkin aku dilarang bertemu dengan orang yang satu manajemen denganku, yang tiap hari ke kantor yang sama?”

“Kalau kalian sampai balikan betulan?”

“Itu takdir. Lagipula aku mencintai Kyuhyun melebihi diriku sendiri, Oppa. Kau tahu itu.  Joongki hanya bisa menghela nafas melihat kenekatan dongsaengnya. Ia pun melepas kepergian Hyejin sambil berdoa semoga dongsaengnya itu tidak semakin menderita dengan keputusannya.

Hyejin segera melaju ke gedung SM dan masuk ke ruang latihan SJ. Setiap member yang ada di sana menatapnya dengan serius. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Hyejin.

“Kau benar-benar akan menerima perjodohan dengan Siwon?” tanya Leeteuk dengan cemas.

Hyejin semakin bingung. “Siapa yang bilang seperti itu? Tidak, sampai mati pun aku tidak mau dijodohkan,” jawab Hyejin.

Leeteuk sedikit lega. “Lalu kau buat apa kemari?” tanya Leeteuk.

“Menemui magnaemu. Mana dia, Oppa?” Hyejin melihat sekeliling ruangan tapi tidak ada sosok Kyuhyun di sana.

“Dia pergi beberapa saat setelah Jihyo memberi tahu Sungmin kalau kau bersedia dijodohkan dengan Siwon.”

Kepala Hyejin rasanya mau pecah. “Jihyo? Jihyo bilang aku mau dijodohkan?! Aaaaargh! Dunia ini sudah gila! Aku harus menyelesaikan kegilaan ini,” seru Hyejin. Ia lalu pamit pada member SJ dan mulai mencari Kyuhyun.

Hyejin naik turun lift dari lantai satu dan menjelajahi setiap lantai dengan seksama. Setiap orang yang ditemuinya pasti ditanyakan dimana Kyuhyun berada tapi tidak ada yang tahu. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam, Hyejin menemukan Kyuhyun sedang duduk di atap gedung sambil bermain dengan laptopnya.

“Hei,” sapa Hyejin sambil menghampiri pria itu dan duduk di sebelahnya.

“Hei,” balas Kyuhyun. “Sedang apa di sini? Bukankah kau seharusnya sibuk mengurus perjodohanmu?”

Hyejin tersenyum. “Itu hanya salah paham. Aku daritadi justru sibuk mencarimu, Oppa.”

“Lalu bagaimana kau bisa menemukanku?”

Hyejin mengangkat bahunya. “Insting seorang pacar,” jawab Hyejin lalu tersenyum penuh arti. Kyuhyun menatap Hyejin penuh tanya. “Aku berubah pikiran. Aku mau balikan dengan Oppa,” lanjut Hyejin.

“Jinja?” tanya Kyuhyun.

Hyejin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kyuhyun pun langsung memeluk Hyejin dengan erat. “Jeongmal gomawoyo, jagi~. Saranghaeyoooo,” ucap Kyuhyun dengan bahagia.

Hyejin balas memeluk Kyuhyun. “Nado,” balasnya pada Kyuhyun meskipun dalam hati dia berkata, “Mianhe, Kyuhyunssi.” Hyejin tahu ini bukan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalahnya tapi ia akan mempertaruhkan nyawanya sekalipun untuk menggagalkan perjodohan ini.

 

 

 

Min Ah berhenti di lantai 5 dengan nafas tersengal-sengal. Ia baru saja lari menuruni tangga darurat dari lantai 12, dorm Heechul berada. Alasan Min Ah mau melakukan hal ini adalah dia tidak mau bertemu dengan Yunho. “Untung aku cepat lari,” ucap Min Ah sambil melanjutkan menuruni tangga sampai tempat parkir dimana Jonghyun telah menunggu.

Min Ah segera masuk dan bertemu dengan orang yang paling tidak mau dia temui. “Hello, Min Ah,” sapa Yunho yang sudah siap berada di balik kemudi mobil.

Min Ah nyaris melompat saking kagetnya tapi ia berusaha menahan diri. “Yunho oppa, apa kabar? Kenapa disini? Mana Jonghyun?” tanya Min Ah.

“Airport. Dia harus segera menyusul member lain ke Indonesia. Memang kenapa? Takut tidak ada teman ke kantor? Aku yang akan menemani dirimu,” jawab Yunho lalu menyalakan mobil dan mengemudikannya menuju gedung SM.

Min Ah yang tidak tahu mau berbicara apa mulai berbasa-basi, “Oppa, kapan dbsk akan launching album baru?”

“Entahlah. Mungkin beberapa bulan lagi. Kami sudah mulai rekaman. Memang kenapa?” jawab Yunho.

“Tidak apa. Nanti pasti ke Jepang lagi untuk promosi ya?”

“Iya. Kau mau ikut?”

“Ah tidak. SG sudah membuatku cukup sibuk. Lalu…”

“Sudah cukup basa-basinya, sayang. Aku tidak tahan berkaku-kaku ria seperti ini,” potong Yunho lalu mencium Min Ah. Awalnya Min Ah diam saja tapi lama-lama toh dia membalasnya.

“Op..pa, hau wahi…” Min Ah mendorong Yunho dan melepas ciuman mereka. “Oppa, kau lagi menyetir! Konsentrasilah,” kata Min Ah memperjelas ucapannya.

Yunho akhirnya memilih memberhentikan mobilnya di tepi jalan. “Baik, aku akan konsentrasi…padamu,” kata Yunho dan tanpa basa-basi langsung mencium Min Ah lagi.

Min Ah tidak bisa menghindar. Yunho terlalu kuat untuk dilawan lagipula ia tidak mau melawan. Tangannya bahkan sudah berada di punggung dan kepala Yunho, memeluk pria itu dengan erat.

Mereka berdua benar-benar konsentrasi sampai tidak sadar ada wartawan yang mengambil gambar mereka. Sebentar lagi mereka akan menjadi headline!

Yunho melepaskan ciumannya lalu tersenyum. “Ciumanmu tadi aku anggap kau mau kembali padaku. Gomawo, Min Ah,” ujar Yunho yang segera menyetir mobil ke gedung SM.

Min Ah hanya bisa tersenyum. Dia memang ingin kembali pada Yunho tapi ia tidak ingin Yunho mendapatkannya kembali dengan mudah. Hanya saja jika sudah begini keadaannya, mau bilang apalagi.

Yunho membukakan pintu untuk Min Ah begitu mereka sampai di gedung SM. Min Ah keluar dan langsung dipeluk Yunho. “Gomawo,” ucap Yunho lalu mencium Min Ah lagi.

Min Ah tersenyum. “Ini kesempatan terakhir. Kalau kau memutuskanku lagi, selamanya kita tidak akan balikan,” ujar Min Ah yang disetujui oleh Yunho.

Min Ah dan Yunho memasuki gedung SM dan disambut oleh manajer mereka yang sudah memasang muka garang sambil membawa berita beserta bukti ‘Yunho-Min Ah memang memiliki hubungan khusus!’. Terpampang jelas foto ciuman mereka di berita itu.

“Bisa kalian jelaskan maksud berita ini?” tanya manajer dbsk dengan galak yang membuat Min Ah ketakutan. Min Ah hampir bersembunyi tapi Yunho menggenggam tangannya.

“Hyung, kau sudah tahu kami pacaran. Kenapa masih mempersoalkan masalah ini sih?” jawab Yunho dengan tenang.

“Ini bukan masalah lagi, Jung Yunho. Ini skandal!” balas manajer DBSK.

“Skandal bagaimana? Aku ini juga manusia, laki-laki cukup umur. Masa tidak boleh mencium gadis yang aku cintai?”

“Jung Yunho! Park Min Ah!” panggil seseorang dengan penuh wibawa. Yunho dan Min Ah langsung mengalihkan perhatian mereka.

“Sajangnim,” ucap Yunho dan Min Ah bersamaan sambil membungkukkan badan. Min Ah semakin takut, tubuhnya gemetar.

“Apa betul kalian pacaran?” tanya tuan Choi.

Yunho mengangguk dengan mantap. “Ne, sajangnim,” jawabnya.

“Apa kalian tidak bisa putus?” tanya tuan Choi.

“Tidak bisa,” jawab Yunho dengan tegas.

“Kalau begitu apa kalian mau seperti Hyejin, Kyuhyun dan Jinki?” suara tuan Choi semakin tajam dan menakutkan.

Min Ah menunggu jawaban Yunho tapi pacarnya itu tidak berkata apa-apa. Akhirnya Min Ah buka suara, “Aku tahu alasan Sajangnim tidak memperbolehkan Kyu, Hyejin dan Onew untuk bertemu. Kalau untuk aku dan Yunho oppa, apa alasan sajangnim?”

Wajah tuan Choi memucat mendengar kata-kata Min Ah. Pikirannya langsung berubah 180 derajat. “Buat pernyataan resmi atas hubungan mereka,” kata Tuan Choi kepada manajer DBSK. Ia lalu segera kembali ke ruangannya.

Yunho dan Min Ah tidak percaya dengan apa yang baru mereka dengar. Mereka resmi berpacaran secara publik!

 

 

 

Pesawat Taemin dan member Shinee baru saja meninggalkan Korea beberapa menit lalu tapi sudah membuat Hamun merasa kesepian. Apalagi semua onnideulnya sedang sibuk, tidak ada yang bisa menemaninya.

“Taemin ah, cepat pulang. Aku kesepian,” gumam Hamun sambil mengirimkan sms kepada Taemin.

Hamun duduk di ruang makan dengan buku-buku berserakan di mejanya. “Baiklah tugas-tugas kuliahku sayang, aku akan membabatmu habis hari ini!” ucap Hamun.

Hamun berjibaku dengan tugas-tugasnya lebih dari 5 jam tapi tidak banyak yang bisa diselesaikannya. “Tugas ini susah sekali! Akh!” gerutu Hamun. Dia meninggalkan buku-bukunya dan pindah ke ruang tivi. Dia mulai menggonta-ganti channel tivi. “Membosankan,” komentarnya pada acara yang ditayangkan di tivi. Ia pun memutuskan untuk menelepon Taemin yang tampaknya sudah sampai ke negeri orang.

“Ya Tuhan, demi album-albummu yang laku keras Lee Taemin, cepat kebali ke Seoul ya. Aku kesepian tanpamu,” ujar Hamun saat menelepon Taemin.

“Iya iya, nanti aku juga pulang kok. Sabar ya kawan. Kau main saja dulu dengan Siwon oppa selama aku tidak ada. Aku sudah menitipkan dirimu padanya kok,” sahut Taemin.

“Siwon Oppa? Apa selama kau tidak ada, dia yang akan menemaniku?”

“Ne, betul sekali. Anak pintar.”

“Jeongmal?!” Hamun terdengar sangat senang.

“Jeongmal, chinguyaaa!!”

“Gomawoyo, Taemin ssi..”

“Cheonmaneyo. Tapi kau harus hati-hati dengan Donghae hyung ya?”

Hamun mengernyitkan alisnya dengan bingung. Dia tidak tahu kenapa harus hati-hati dengan Donghae. “Wae? Dia selama ini selalu baik padaku,” kata Hamun.

“Aku tidak punya waktu menjelaskan. Sampai jumpa, Hamun,” ujar Taemin lalu menutup teleponnya.

Hamun menatap ponselnya dengan bingung. “Kenapa aku harus hati-hati dengan Donghae oppa?” gumam Hamun.

“Ting tong! Ting tong!” bel dorm SG berbunyi. Hamun dengan cepat membukakan pintu dan menemukan Siwon berdiri di hadapanya dengan membawa eskrim coklat.

“Aku rasa kau sedang butuh teman secara Taemin dan onnideul mu sedang pergi. Betulkan?” ucap Siwon sambil tersenyum.

Hamun begitu senang dia punya teman untuk hari ini. Ia menganggukkan kepalanya dengan senang. “Oppa mau jalan-jalan denganku hari ini?” tanya Hamun dengan mata berbinar-binar.

Siwon menganggukkan kepalanya. Hamun merasa sangat bahagia tapi dia tiba-tiba teringat akan Hyejin. “Tapi…apa tidak mengganggu perjodohan oppa dan Hyejin onni?” tanya Hamun dengan lirih, hatinya agak perih menanyakan hal ini.

Senyum Siwon langsung hilang ditelan bumi. “Tidak usah dipikirkan. Aku muak mendengarnya. Ayo kita jalan,” jawab Siwon sambil menarik Hamun keluar dari dorm SG. Ia lalu memasukkan Hamun ke dalam mobilnya.

Hamun memandang Siwon penuh rasa bersalah karena telah mengungkit masalah yang paling haram buat pria itu tapi dia masih ingin mengetahui apa yang dirasakan Siwon sebenarnya.

“Oppa, apa tidak mau dijodohkan dengan Hyejin onni. Dia kan…”

Siwon memotong omongan Hamun, “Aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun, Hamun. Tolong jangan dibahas lagi.”

“Kalau begitu oppa sudah punya pilihan sendiri?” tanya Hamun semakin ingin tahu. Hatinya berdetak kencang menanti jawaban Siwon.

Siwon tidak menjawab. Dia justru memberhentikan mobilnya dan menyuruh Hamun turun, “Kita sudah sampai. Ayo.”

Hamun mengikuti Siwon dan merasa sangat menyesal telah merusak mood pria yang disukainya itu. Mereka berjalan-jalan dalam diam sambil memakan eskrim.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahu Siwon dan Hamun dari belakang. “Ah, Donghae oppa. Senang bertemu denganmu di sini,” ujar Hamun saat menoleh untuk melihat siapa yang menepuk bahunya.

“Hai, Hamun, Siwon,” ujar Donghae.

“Hai,” balas Siwon dengan cuek. Dia kembali sibuk dengan eskrimnya.

“Kenapa dia?” tanya Donghae pada Hamun. Mereka berdua berjalan pelan di belakang Siwon.

Hamun menjawab dengan wajah suram, “Semua gara-gara aku. Aku bertanya soal perjodohannya dengan Hyejin onni dan Siwon Oppa langsung semuram itu.”

Tanpa Hamun sangka, Donghae justru tertawa. Pria itu menepuk teman satu grupnya. “Demi hairdryer dan catokan yang ada di dorm ya Choi Siwon, kenapa kau harus pusing soal perjodohanmu? Di kantor, pusing. Di rumah, pusing. Masa di sini juga harus pusing? Lupakanlah masalah itu. Lagipula Hyejin juga menentang perjodohan itu habis-habisan,” kata Donghae.

Siwon merasa Donghae terlalu menganggap remeh masalah ini dan hal itu membuatnya kesal. “Ya Lee Donghae! Masalah ini tidak semudah yang kau bayangkan! Jangan sok mengerti kalau kau memang tidak mengerti!” bentak Siwon.

Donghae terkejut. Ini pertama kalinya dia dibentak oleh Siwon di tempat umum seperti ini. Ia ingin balas membentak tapi itu akan menyulut keributan. Jika ada orang yang melihat, hal ini bisa jadi santapan berita yang lezat. Karena itu Donghae memilih untuk tetap tenang. “Hay kawan, tenanglah. Kalau kau memang tidak ingin dijodohkan, bilang pada appamu baik-baik. Aku yakin beliau mau mendengar,” katanya.

Siwon mendecakkan lidahnya karena kesal. “Kau tidak tahu bagaimana appaku, Lee Donghae. Dia tidak akan mau mendengar kata-kataku.”

“Kau kan bisa minta tolong Jihyo.”

“Dia menyuruhku bilang sendiri pada Appa.”

Donghae menganggkat bahunya. “Berarti kau harus bilang sendiri. Pokoknya jangan sampai menyesal. Kalau kau menyetujui perjodohan ini, akan banyak hati yang terluka.”

Siwon menatap Donghae dengan bingung. “Nugu?” tanyanya.

“Hyejin, Kyuhyun dan…. Seorang gadis lagi,” jawab Donghae.

“Haish!” Siwon menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal dan berjalan seperti orang bingung dengan Donghae dan Hamun yang mengikut di belakangnya.

Hamun begitu penasaran dengan siapa gadis yang dimaksud oleh Donghae. Tanpa basa-basi Hamun bertanya, “Siapa gadis yang akan sakit hati kalau Siwon oppa menikah, Oppa?”

Donghae menoleh pada Hamun dan menaikkan alis sebelah kirinya. “Neo jeongmal mollayo?” tanya Donghae.

Hamun menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak tahu siapa saingannya untuk mendapatkan hati tuan muda Choi. Tiba-tiba Donghae merangkul bahunya. “Haruskah aku bilang bahwa di keningmu tertulis jelas ‘AKU MENYUKAI SIWON OPPA’?” ucap Donghae sambil tersenyum.

Wajah Hamun merah seketika. Donghae telah tahu rahasia terbesarnya. “Aku mohon Oppa jangan bilang pada siapapun ya. Ini rahasia kita bertiga,” kata Hamun.

“Bertiga? Siapa saja?”

“Aku, kau dan Taemin. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Ya?”

Donghae pura-pura berpikir lalu mengganggukkan kepalanya. “Tapi ada syaratnya,” ujarnya.

“Apa?” tanya Hamun.

Donghae mendekatkan mulutnya ke telinga Hamun dan membisikkan sesuatu, “Kau harus mempertimbangkan aku jadi pacarmu,” bisik Donghae lalu mencium pipi Hamun dengan lembut.

 

Hamun berdiri terpaku. Dia terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi padanya dan yang membuatnya lebih terkejut adalah Siwon melihat Donghae menciumnya. Hamun melihat Siwon menatap dirinya dan Donghae dengan tatapan bercampur aduk yang tidak bisa diterjemahkan Hamun.

 

 

Hyun Ah pulang dengan wajah berseri-seri. Semua yang dilewatinya hari ini bersama Changmin masih terkenang jelas di ingatannya apalagi pernyataan cinta pria itu. “Aku suka padamu, HyunAh. Apa kau juga suka padaku?” Itu semua yang diucapkan Changmin masih teringat jelas bahkan ia masih ingat ekspresi Changmin saat mengatakannya.

“Jung HyunAh. Yaaa Jung HyunAh!” tegur Yong Hwa yang langsung membubarkan semua kenangan indah HyunAh.

Hyun Ah membalas dengan wajah cemberut, “Wae, oppa?”

“Kenapa wajahmu berseri-seri begitu. Baru bertemu Changmin ya?”

Hyun Ah sadar tak ada yang bisa dia sembunyikan dari kembarannya itu. Dia mengangguk.

“Kau suka padanya?”  tanya Yong Hwa penuh selidik.

Hyun ah menggangguk lagi. Tak ada gunanya menutupi sesuatu dari Yong Hwa. Ujung-ujungnya juga dia akan tahu.

“Tampaknya aku harus jelas-jelas bilang padamu, AKU TIDAK SUKA PADANYA!” kata Yong Hwa dengan tegas.

“Tapi aku suka dan dia juga suka padaku.”

“Dia pasti telah merayumu habis-habisan sampai kau mabuk kepayang begini.”

“Kau tidak tahu seperti apa Changmin. Yang kau lihat itu hanya kulitnya saja. Aku tahu kau tidak memperbolehkanku pacaran dengannya karena kau takut aku patah hati jika dia meninggalkanku tapi siapa yang tahu masa depan seperti apa. Mungkin saja aku dan dia memang berjodoh,” kata Hyun ah keras kepala.

Yong Hwa menghela nafas panjang. “Hyun Ah dengar, aku tidak peduli jika suatu saat nanti kau patah hati karena dia KALAU hubungan kalian memang benar-benar tulus!” balas Yong Hwa.

“Apa maksudmu?”

“Dia, Changmin yang kau sukai itu, hanya menggunakanmu untuk mendekatkan dirimu lagi dengan Yunho. Dia hanya memperalatmu. Dia tidak benar-benar suka padamu.”

“Brak!” Hyun ah membanting pintu kamarnya lalu berteriak dari dalam, “KAU SANGAT MENYEBALKAN, JUNG YONG HWA! Lebih baik kau segera pergi dari dorm ku!”

Hyun Ah berdiam di dalam kamar mengharap Yong Hwa akan meminta maaf padanya tapi ternyata saudara kembarnya itu pergi sesuai dengan apa yang diminta olehnya. “Kau memang benar-benar menyebalkan, Yong Hwa!” ucap Hyun Ah dalam hati lalu menangis sendirian sampai ia terlelap karena kecapekan.

Hyun Ah bangun dengan mata sembab dan melihat tidak ada orang lagi di dalam dorm kecuali Minho. “Hei, nuna. Kau sudah bangun?” tanyanya dengan wajah innocent yang cukup membuat Hyun Ah tersenyum di pagi hari setelah pertengkaran dengan kembarannya semalam.

“Hei, Minho. Sedang apa kau di sini? Bukannya kau seharusnya ada di Jepang untuk konser perdana kalian?” balas Hyun Ah.

“Ani. Aku akan menyusul member yang lain nanti malam jadi sekarang aku masih bisa menemani nuna. Yong Hwa hyung pesan padaku untuk menjagamu selama dia tidak ada,” ujar Minho.

“Yong Hwa?” tanya Hyun Ah yang disahut dengan anggukkan kepala dari Minho. Hyun Ah merasa senang sekali ternyata kembarannya masih begitu peduli padanya. Yong Hwa takut Hyun Ah kenapa-kenapa.

“Dia menyuruhku untuk menjagamu tetap jauh dari Changmin hyung,” ujar Changmin.

Seketika Hyun Ah kembali kesal pada Yong Hwa. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan : Kalau kau buat aku jauh dari Changmin, malah kau yang akan jauh dariku, Jung Yong Hwa. Ia lalu berpaling lagi pada Minho. “Kau tunggu sebentar. Aku mau mandi dulu. Kita ke kantor bareng,” kata Hyun Ah dengan nada seperti memerintah.

Minho hanya bisa menurut karena sudah tugas seorang dongsaeng untuk menurut pada nunanya. Minho menunggu Hyun Ah dengan sabar meskipun itu memakan waktu lebih dari 2 jam.

“Ayo berangkat,” kata Hyun Ah begitu ia telah siap.

Minho berjalan di samping Hyun Ah dan membukakan pintu mobil untuk nunanya tersebut. Setelah itu dia berkewajiban menyelesaikan tugasnya yaitu menyetir ke gedung SM.

“Gomawo Minho ya. Maaf telah merepotkanmu,” ucap HyunAh dengan manis begitu mereka sudah sampai di gedung SM.

“Cheonmaneyo, nuna. Aku senang bisa membantumu,” balas Minho. “Ayo kita masuk sekarang. Aku akan menemanimu menuju ruang latihan SG.”

Sambil tersenyum, Hyun Ah menolak Minho dengan lembut. “Tidak usah, Minho ya. Aku sudah janjian dengan Hyejin dan Minah di kafe. Kami ada urusan penting. Mereka tidak mau ada orang selain SG tahu,” ujar Hyun Ah.

“Baiklah. Kalau begitu, aku pulang dulu ya nuna. Sampai jumpa,” ucap Minho Minho yang telah tertipu dengan suara manis Hyun Ah.

“Sampai jumpa, Minho. Have a safe flight. Sukses konsermu besok ya,” balas Hyun Ah.

“Gomawo, nuna.” Minho masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangan. Tidak lam akemudia, Minho sudah hilang dari basement gedung. Hyun Ah mengambil hapenya dan menghubungi Changmin.

“Oppa, aku sudah di basement,” ujar Hyun Ah.

Tidak lama kemudian, Changmin telah muncul bersama mobilnya. Ia datang menjemput Hyun Ah sesuai dengan perjanjian yang mereka susun tadi pagi. Hal ini lah yang membuat Minho harus menunggu lebih dari 2 jam.

“Aku senang sekali bisa jalan-jalan lagi denganmu hari ini, Hyun Ah,” kata Changmin dalam perjalanan menuju tempat yang telah ia rencanakan. “Aku telah menyiapkan sesuatu yang special untukmu.”

Hyun Ah tertawa kecil. Dia begitu tersipu atas perlakuan Changmin padanya. “Oppa, kau terlalu baik padaku. Aku jadi tidak enak,” kata Hyun Ah.

Changmin tersenyum sangat manis yang membuat Hyun Ah berdebar-debar dan berkata, “Tidak ada yang terlalu baik untuk gadis secantik kamu, Hyun Ah.” Hyun Ah betul-betul merasa diperlakukan seperti ratu oleh pria satu ini. Tidak ada seinci pun pada dirinya yang terlewat dari pujian Changmin.

“Kita sudah sampai. Ayo turun,” kata Changmin lalu menggandeng Hyun Ah keluar dari mobil.

Hyun Ah melihat pantai yang terhampar sangat indah dengan pasir putih di tepiannya. Di dekat mereka ada yacht yang siap membawa mereka mengarungi pantai tersebut. “Ayo masuk,” kata Changmin sambil membantu Hyun Ah masuk ke dalam yacht lalu menginstruksikan sang kapten untuk menjalankan kapalnya.

Hyun Ah yang terlalu kagum hanya bisa bolak balik menutup mulutnya yang selalu membuka setiap melihat kejutan dari Changmin. Sambil melihat pemandangan di sekitar pantai, Changmin menyiapkan makan siang untuk Hyun Ah dan dirinya sendiri. Changmin bahkan menyetel meja di dalam yacht sehingga bisa dipakai untuk mereka berdua menyantap makan siang.

“Aku dan keluargaku sering kesini. Kau suka pantainya kan?” tanya Changmin saat mereka menyantap makan siang mereka.

Hyun Ah mengangguk tanpa malu-malu. “Ini indah sekali, Oppa. Sangat segar bisa berada di sini. Gomawoyoooo,” sahut Hyun Ah.

Changmin tersenyum. “Kau pakai baju sesuai dengan pesananku tadi kan?” tanya Changmin kemudian.

“Iya. Memang kenapa, Oppa?”

“Ada sesuatu yang mau kutunjukkan padamu,” ujar Changmin penuh misteri.

“Apa itu?” tanya Hyun Ah.

“Kita selesaikan dulu makan siang kita baru aku kasih tahu.”

Hyun Ah berusaha menghabiskan makanannya secepat mungkin dengan gaya yang tetap anggun. Dia tidak ingin Changmin hilang rasa padanya.

“Ayo kita siap-siap,” kata Changmin setelah mereka selesai makan. Changmin menggandeng Hyun Ah ke bagian belakang yacht dan meminta awak yacht untuk memasang peralatan di tubuh mereka.

“Kita mau ngapain, Oppa?” tanya Hyun Ah saat melihat berbagai tali sedang dikaitkan kepadanya.

“Kita akan main paraceiling. Tunggu saja,” jawab Changmin.

Awak yacht telah selesai memasang peralatan di tubuh Hyun Ah dan Changmin. Yacht berhenti agar Hyun ah dan Changmin bisa turun ke air dengan selamat. Dengan dibantu awak yacht, mereka telah berada di belakang kapal, siap ditarik dan diterbangkan. Changmin berada di belakang sedangkan Hyun Ah berada di depannya. Mereka akan bermain secara tandem.

“Ready?” seru kapten kapal pada changmin.

“Ready!” sahut Changmin dengan suara keras.

Mesin yacht kembali berbunyi. Awalnya melaju pelan tapi kelamaan semakin kencang dan tanpa terasa Hyun Ah dan Changmin telah berada di atas.

“Woooow!” seru Hyun Ah dengan kagum. Dia melihat hamparan laut biru dengan batu-batu karang yang sangat indah. “Neomu yeppeo, Oppa.”

“Ne, neomu yeppeoseo,” sahut Changmin. Ia lalu menunjuk ke arah sebuah karang yang sang berbentuk seperti dua orang yang sedang berpelukan. “Kau lihat karang itu, Hyun Ah?”

Hyun ah memasang matanya kea rah karang yang ditunjuk oleh Changmin. “Ne, aku melihatnya. Wae, oppa?”

“Kata orang, kalau ada pasangan yang berhasil berciuman di atas karang itu maka hubungan mereka akan langgeng selamanya. Aku mau melakukannya denganmu.”

“Wae? Wae ? Wae?” tanya Hyun Ah kaget sambil menengok kea rah Changmin. Wajah mereka hanya terpaut 5 senti. Yacht semakin kencang membawa mereka dan, “We did it, Hyun Ah,” ujar Changmin setelah berhasil mencium Hyun Ah saat mereka tepat berada di atas batu karang itu. “Aku melakukan simulasi ini lebih dari 5 kali agar bisa tepat berada di atas batu karang. Saranghaeyo.”

Hyun Ah terkejut sekaligus senang. Ia tidak pernah menyangka bersama Changmin akan semenyenangkan sekaligus menegangkan ini. Buat informasi saja, Hyun Ah agak takut ketinggian tapi ketakutan itu seolah hilang begitu saja saat bersama Changmin. “Nado… nado saranghaeyo, Oppa,” sahut Hyun Ah.

Changmin tersenyum menatap Hyun Ah lalu mendekatkan kembali wajahnya pada Hyun Ah. Hyun ah memejamkan matanya sambil menahan debaran jantungnya yang begitu kencang. Dia menunggu Changmin untuk memberikan ciuman keduanya yang mendarat tidak lama kemudian. Hyun Ah benar-benar bahagia.

 

-to be continued-

@gyumontic