Cast :

Super Girls

Super Junior (Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Lee Sungmin, Park Jungsu, Lee Donghae, Kim Heechul)

Shinee

DBSK (Jung Yunho, Shim Changmin, Kim Jaejoong)

 

In a Relationship:

Lee Sungmin – Choi Jihyo

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Jung Yunho – Park MinAh

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Choi Siwon – Kang Hamun – Lee Donghae

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

PART 7

ENJOY…

 

 

 

Hamun duduk di jok belakang dengan tegang. Matanya tak henti memandang kedua pria yang duduk di jok depan yang sedang perang dingin. Siwon menatap tajam jalanan sambil menyetir sedangkan Donghae sibuk dengan hapenya.

“Oppa,” panggil Hamun kepada keduanya.

“Wae?!” sahut Siwon dengan galak.

“Wae, Hamun ah?” sahut Donghae dengan lembut, 180 derajat berbeda dari rekan segrupnya, membuat Siwon menatapnya kesal.

Hamun yang tidak tahu kenapa kedua oppanya jadi perang dingin bertanya dengan polosnya, “Oppadeul, kalian kenapa? Kenapa jadi diam-diaman seperti ini?”

“Tidak apa, Hamun. Siwon hanya sedang tidak mood bicara. Maaf ya,” jawab Donghae masih dengan suara yang menenangkan.Hamun menatap Siwon dengan takut-takut. Ia takut mood Siwon yang jelek disebabkan oleh dirinya. “Apa Oppa masih kesal padaku karena aku bertanya soal perjodohan itu?” tanya Hamun.

Siwon menghela nafas panjang dan menjawab, “Tidak tapi tolong jangan membahasnya lagi. Oke?”

“Ne, ne, oppa,” sahut Hamun. Perasaannya sedikit lega meskipun aura perang dingin di dalam mobil ini masih terasa bahkan bertahan sampai Hamun keluar.

“Hamun, silahkan turun. Kita sudah sampai,” ujar Siwon dari tempat duduknya.

Berbanding terbalik lagi, Donghae keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hamun. “Gomawo sudah mau jalan-jalan dengan kami. Mianhe karena akhirnya jadi tidak enak. Kapan-kapan pasti akan lebih asyik. Aku janji,” ucap Donghae sebelum Hamun masuk ke dalam dorm.

“Ne, oppa. Nado gomawoyo,” balas Hamun lalu mengucapkan terima kasih juga kepada Siwon dan masuk ke dalam dorm.

Selepas Hamun masuk dorm, Donghae masuk ke dalam mobil dan menemukan Siwon yang sedang menatapnya dengan tajam. “Kenapa kau mencium pipi Hamun?” tanya Siwon tanpa basa-basi.

Donghae tersenyum santai. “Karena aku suka padanya. Aku ingin dia tahu kalau aku menginginkannya,” jawab Donghae.

“Haish!” desis Siwon kesal. Tangannya mencengkram setir dengan keras. Otaknya memutar lagi memori bagaimana tadi Donghae mencium pipi Hamun.

“Wae, Siwon ah? Apa aku tidak boleh mencium gadis yang aku sukai?” tanya Donghae polos. Donghae pura-pura tidak mengerti apa yang sedang dirasakan Siwon. “Aah, jangan-jangan kau juga suka padanya ya?” lanjut Donghae.

“Haish!” seru Siwon lagi. Ia keluar dari mobil dengan membanting pintunya kencang.

Donghae memandang Siwon dengan tajam dan bergumam, “Untuk kali ini, aku akan bersaing denganmu, Choi Siwon.”

Siwon masuk ke dalam gedung dan melihat Kyuhyun dan Hyejin yang sedang menunggu lift terbuka untuk mereka. Siwon melihat Kyuhyun merangkul erat gadis itu di pinggangnya.

“Apa yang mereka lakukan? Bagaimana kalau appa sampai tahu?” batin Siwon cemas. Ia pun menghampiri pasangan itu. “Hei, Kyu, Hyejin,” sapa Siwon.

Kyuhyun dan Hyejin serempak memandang Siwon. Mereka balas menyapa, “Hai, Siwon oppa (hyung)”.

Siwon berdiri di samping pasangan itu sambil terus memperhatikan mereka dengan seksama. Terlihat jelas keduanya tidak bisa dipisahkan. “Apa ini cara Hyejin menentang perjodohan kami?” tanya Siwon dalam hati.

Pintu lift terbuka, Kyuhyun dan Hyejin masuk lebih dulu. “Hyung, kau tidak masuk?” tanya Kyuhyun. Siwon tersadar dari pikirannya. Ia ikut masuk ke dalam lift untuk membawanya ke lantai ruang latihannya.

“Aku duluan ya,” kata Siwon pada Kyuhyun dan Hyejin lalu keluar dari lift.

Sejak keluar dari lift, matanya sudah tertuju pada kedua gadis yang sedang duduk sambil berpelukan. Gadis itu adalah Choi Jihyo dan Kang Hamun.

“Apa yang dilakukan mereka? Kenapa Jihyo memeluk Hamun seperti itu?” gumam Siwon sambil berjalan ke arah Jihyo dan Hamun. Siwon mengerti raut wajah Jihyo yang tampak sedang menghibur Hamun.

“Aku suka padanya, onni. Aku suka Siwon oppa. Aku tidak mau dia dijodohkan. Aku ingin dia menggagalkannya tapi tampaknya dia tidak bisa. Dia hanya bisa bete ketika aku menanyakannya. Onni, ottoke?” ujar Hamun sambil menangis di pelukan Jihyo.

“Tenang ya, sayang. Aku akan membantumu,” sahut Jihyo dengan lembut sambil menatap pria yang sedang berjalan ke arah mereka dengan tajam.

“Jihyo ya, Hamun ah, wae geude?” tanya Siwon begitu telah berada di sebelah Hamun.

Hamun dengan cepat mengusap air matanya. Siwon melihatnya. Tanpa sadar, tangannya mengusap kepala Hamun dengan lembut. Entah kenapa, dia merasa kesedihan Hamun adalah tanggung jawabnya. Rasanya, dia ingin sekali menenangkan Hamun dan membuat gadis itu ceria kembali.

Tangan Siwon terus mengusap kepala Hamun tapi matanya memandang Jihyo. “Hamun, aku harus bicara dengan oppaku dulu. Kau duluan saja ke atas,” kata Jihyo lalu menyeret Siwon ke sebuah ruangan.

“Ada apa, Jihyo? Kenapa Hamun menangis?” tanya Siwon.

“Menurutmu Hamun menangis karena siapa? Karena kau, Oppa! Dia merasa bersalah telah membuat moodmu jelek hanya karena bertanya masalah perjodohan,” jawab Jihyo mencoba tenang.

“Mianhe, Jihyo ya. Aku tidak tahu dia merasa seperti itu. Aku hanya merasa tertekan dengan masalah itu. Jadi ketika ada yang menyinggungnya, aku akan langsung bete,” sahut Siwon berusaha memberikan penjelasan.

Jihyo memukul lengan Siwon dengan keras. “Kau itu bodoh sekali, Oppa. Bodoh sebodoh-bodohnya orang bodoh! Kalau kau memang tidak mau dijodohkan, bilang tidak mau! Jangan jadi pengecut!” seru Jihyo yang sudah tidak bisa membendung emosinya. “Dan asal kau tahu, Hamun suka padamu. Kalau kau menyakiti magnaeku, kau akan berurusan denganku!” lanjut Jihyo lalu keluar dari ruangan itu dengan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal.

Siwon termenung. Pikirannya kacau. Perasaannya tidak karuan. Dia melangkah keluar hendak menyusul Hamun untuk meminta maaf tapi dia terlambat. Donghae telah berada di samping Hamun dan merangkul gadis itu. Tatapan Donghae begitu ingin menenangkan Hamun dan itu membuat Siwon cemburu, tanpa ia tahu kenapa.

 

….

 

Hamun masuk ke dalam ruangan SG dengan perasaan yang lebih tenang. Jihyo berjanji akan membantunya, Donghae telah memberikan kehangatan lewat rangkulannya sedangkan Siwon telah mengalirkan ketenangan lewat usapan di kepala Hamun.

Hamun pun sudah bisa konsentrasi pada masalah di kelompoknya. “Hamuuuuun! Lihat! Lihat! Aku resmi pacaran dengan Yunho oppa!” ujar Min Ah dengan ceria sambil menunjukkan berita dari galaxy tab miliknya.

Hamun membaca berita itu dan berseru gembira, “Manajemen sudah merestui hubungan kalian! Chukkae, onni!”

“Gomawo, magnae! Para fans pun setuju. Aku bahagia sekali. Aaaah,” ujar Min Ah gembira. Dia bahkan bolak-balik memeluk Hamun untuk meluapkan kegembiraannya.

Hamun ikut senang jika onni-nya senang tapi ia agak tidak senang jika pacar onni-nya datang mengganggu kesenangan mereka. Contohnya, seperti sekarang ini, Yunho datang dan mengambil Min Ah dari Hamun.

“Min Ah, aku pergi dulu ya. Kalau sudah mulai latihan, panggil aku ya sayang. Sampai jumpa,” ujar Min Ah lalu pergi bersama Yunho.

Kini, mereka tidak lagi berusaha menutup-nutupi hubungan mereka. Yunho dan Min Ah berjalan menuju sebuah restoran sambil bergandengan tangan dengan tenang.

“Aku sedang membuat lagu baru, judulnya MinAh,” ujar Yunho.

“Menceritakan tentang aku?” tanya MinAh.

Yunho mengangguk sambil tersenyum. “Tentu saja. Masa tentang HyunAh? Kau sendiri tahu bagaimana hubunganku dengan HyunAh,” jawab Yunho yang membuat MinAh semakin bahagia.

“Gomawo, oppa. Aku bahagia sekali,” kata MinAh.

Yunho dan MinAh menyantap makanan mereka dengan santai sambil mengobrol.

“Oppa, bagaimana hubunganmu dengan HyunAh? Apa sudah membaik?” tanya MinAh.

Yunho menggeleng sedih. “Belum. Sangat susah apalagi Yong Hwa telah kembali ke Korea. Semuanya akan semakin sulit. Yong Hwa sangat membenciku,” jawab Yunho.

MinAh tidak tahan melihat kesedihan di wajah Yunho. Ia merangkul Yunho dan menenangkan kekasihnya. Mata Yunho terlihat sangat sedih dan hampir menangis tapi ia tidak berani menunjukkannya kepada MinAh. Yunho memilih untuk memandang ke jalanan.

MinAh memperhatikan Yunho dan sedikit tersinggung karena Yunho tidak melihat ke arahnya melainkan ke jalanan, ah tidak, ke arah gadis lain yang sedang berjalan menuju restoran ini bersama seorang pria. Min Ah ikut memperhatikan tujuan pandangan Yunho dengan seksama.

“HyunAh? Changmin? Kenapa oppa memperhatikan mereka? Kenapa mereka berjalan kesini?” tanya MinAh dalam hati. Ia lalu bertanya pada Yunho, “Oppa, kau mengundang HyunAh dan Changmin kemari juga?”

Yunho mengangguk. MinAh tiba-tiba merasa ngeri. HyunAh pasti tidak tahu bahwa ia akan bertemu dengan Yunho. Changmin pasti menyeretnya kemari tanpa bilang bahwa Yunho yang menyuruh mereka datang.

Min Ah menatap Yunho. Ia takut kekhawatiran kembaran sahabatnya akan menjadi nyata. “Oppa, kau menggunakan Changmin untuk mendekati HyunAh?” tanya MinAh pelan.

Yunho lagi-lagi mengangguk. MinAh seperti tersambar petir. “Berarti Changmin hanya pura-pura menyukai Hyun Ah?” tanya MinAh penuh selidik.

“Aku tidak tahu. Dia tidak pernah cerita apa-apa. Aku hanya meminta bantuannya,” jawab Yunho.

“Yong Hwa benar! Changmin hanya alat Yunho untuk mendekatkan mereka kembali. Aku tahu niatnya bagus tapi bagaimana dengan HyunAh? HyunAh menyukai Changmin! Bagaimana jika dia tahu kalau Changmin hanya…pura-pura?!” ucap MinAh dalam hati dengan kalut.

HyunAh dan Changmin semakin dekat. Mereka masuk ke dalam restoran. Yunho melambai ke arah mereka. Changmin menggandeng HyunAh dan menghampiri Yunho dan Min Ah.

“Hai HyunAh, lama tidak sedekat ini,” sapa Yunho sehangat mungkin.

MinAh menatap Yunho, Changmin dan HyunAh bergantian. Aura di sekitarnya berubah menjadi kaku, tegang dan dingin. Makanan yang mereka santap pun tidak lagi terasa nikmat.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut HyunAh jika Yunho mengajaknya bicara. MinAh merasa sangat tersiksa terjepit dalam keadaan seperti ini. Untung Hyejin menelepon untuk segera kembali ke gedung.

“Oppa, Hyejin sudah memanggil. Aku dan HyunAh kembali duluan ya, sayang,” kata Min Ah sambil mengecup pipi Yunho.

“Hati-hati ya. Sampai jumpa, sayang. Sampai jumpa, Hyun Ah,” sahut Yunho sambil mengucapkan salam perpisahan.

MinAh dan HyunAh berdiri lalu keluar dari restoran. “Tunggu! Aku ikut,” seru Changmin yang seketika telah berada di sebelah Hyun Ah. Dia menggenggam tangan HyunAh dengan erat sepanjang jalan meskipun gadis itu tampaknya tidak peduli. HyunAh marah padanya.

“Selamat latihan. Semoga show kalian nanti sukses,” ucap Changmin sambil mengelus kepala HyunAh.

HyunAh masuk ke dalam ruangan tapi tidak begitu dengan Min Ah. “Kenapa kau tidak masuk, MinAh?” tanya Changmin.

MinAh menatap Changmin dengan serius. “Aku senang jika kau mau membantu Yunho dan HyunAh memperbaiki hubungan mereka tapi aku peringatkan kau, Shim Changmin, jika kau muncul hanya untuk memperalat HyunAh apalagi sampai membuat sahabatku itu sedih, aku bersumpah akan membuatmu 1000x lebih sedih. Ingat itu,” ancam MinAh lalu masuk ke dalam ruang latihan SG. Changmin tahu MinAh tidak sekedar mengancam. Kekasih leadernya itu serius.

 

 

Jihyo sudah hampir kehabisan nafas mempelajari koreografi baru untuk ditampilkan SG dalam SMTOWN di LA 2 minggu lagi. Jika dia tidak bisa, maka tidak ada yang bisa menjamin mahkota lead dancer SG masih berada di tangannya.

Jihyo mengambil minum dan hape dari tasnya. Sambil meneguk air, dia menelepon Key, “Kibum aah! Ayo cepat pulang… Aku frustasi mempelajari koreografi buat SMTOWN ini. Tolong bantu aku, Kibum ah.”

“Yaaa Jihyo ya!” Key mengubah suaranya menjadi lebih berat. “Aku sedang sibuk,” ucap Key lalu menutup telepon.

Jihyo menatap hapenya dengan bingung. “Apa dia masih marah padaku ya?” tanya Jihyo lalu menjawab sendiri, “Ah, entahlah. Biar saja.”

Jihyo lalu duduk bersama onnideul-nya memperhatikan Hamun yang sedang menari dengan lincah. “Yaa magnae! Bagus sekali! Kerja kerasmu akan menggeserku!” batin Jihyo dalam hati dengan kagum sekaligus iri.

Sambil mempelajari teknik yang digunakan Hamun untuk mempermudah koreografi mereka, Jihyo melihat MinAh dan HyunAh yang sedang mengobrol dengan serius. Tampak dari wajah mereka, Hyun Ah sedang dirundung masalah.

“Ya Tuhan, masalah apalagi yang muncul kali ini?” batin Jihyo.

Tiba-tiba Sungmin datang memanggilnya. Jihyo berlari-lari kecil ke Sungmin. “Hai, oppa. Ada apa memanggilku? Kangen ya?” goda Jihyo dengan keberanian yang sedang menghampirinya.

Sungmin mengangguk sambil memamerkan aegyo yang sangat disukai oleh Jihyo. “Tapi sebenarnya aku datang untuk memanggilmu dan Hyejin,” kata Sungmin. Hyejin menoleh karena merasa namanya disebut.

“Ada apa, Oppa?” tanya Hyejin.

“Kau dan Jihyo dipanggil tuan Choi,” jawab Sungmin.

Jihyo tiba-tiba tidak bersemangat. Dia sudah bosan bolak-balik ke ruangan appanya hanya untuk membahas masalah yang tidak ada habisnya tapi Jihyo tetap harus menuruti perintah appanya.

Hyejin dan Jihyo berjalan keluar ruangan menuju ruangan tuan Choi. “Kalian dipanggil ke hotelmu, Hyejin, bukan ke ruangan tuan Choi. Tampaknya kalian ada pertemuan keluarga yang sangat penting. Aku akan mengantar kalian. Ayo,” ujar Sungmin.

Jihyo dan Hyejin seketika menjadi kaku. Mereka tahu apa yang sebentar lagi akan mereka hadapi. Sepanjang perjalanan, Jihyo dan Hyejin hanya bisa saling pandang. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Begitu sampai di hotel pun, Jihyo dan Hyejin tetap tidak punya bayangan apa yang akan mereka lakukan.

Manajer hotel mengantarkan Jihyo dan Hyejin menuju ruangan dimana tuan Choi ingin menemui mereka. Jihyo dan Hyejin masuk dan melihat keluarga mereka telah berada lengkap.

“Appa, omma, Siwon oppa!” seru Jihyo kaget. Berbeda dengan Hyejin yang berjalan masuk dalam diam dan duduk di sebelah Jungki juga dalam diam.

Jihyo duduk di antara ommanya dan Siwon. Dia mendengarkan pembicaraan tuan Song dan appanya mulai dari basa-basi, bisnis dan masalah inti pertemuan ini, perjodohan Siwon dan Hyejin.

“Jadi kapan tanggal pertunangannya, tuan Song? Apa kita tetapkan sekarang saja?” tanya appa Jihyo dengan semangat.

“Saya setuju. Kita tetapkan saja sekarang. Semakin cepat semakin baik,” jawab tuan Song. “Bagaimana kalau minggu depan?”

“Kurang baik rasanya karena mereka masih sibuk-sibuknya. Bagaimana kalau setelah SMTOWN LA?”

“Berarti akhir bulan ini?”

Tuan Choi mengangguk senang.

“Saya setuju. Bagaimana, Hyejin?” ujar tuan Song kepada anak perempuannya.

Jihyo menatap Hyejin yang hanya diam lalu menatap Siwon yang juga hanya diam. Jihyo tidak tahan. Dia berdiri dan mengajukan protes, “Aku tidak setuju. Aku tidak mau Siwon oppa dijodohkan dengan Hyejin onni. Mereka tidak cocok lagipula mereka tidak saling mencintai. Buat apa dipaksakan kalau nanti malah membuat mereka menderita.”

“Jihyo, duduklah. Kita bicara sebentar lagi,” ujar nyonya Choi dengan sabar.

“Tidak, omma. Semua harus tahu perjodohan ini percuma. Oppa bisa mencari jodohnya sendiri dan Hyejin onni sudah punya pilihan sendiri. Kalau kalian memang mau menjodohkan mereka lebih baik kalau mereka memang sama-sama mau,” sahut Jihyo.

Tuan Choi memandang Jihyo lalu berpindah ke anak lelakinya. “Benar kau tidak mau menikah dengan Hyejin?” tanya tuan Choi dengan tajam.

“Tidak secepat ini, appa. Aku belum siap,” jawab Siwon sok diplomatis.

“Kita bisa menundanya, sebulan, dua bulan. Iya kan, Tuan Song?” kata tuan Choi. Tuan Song mengangguk sambil tersenyum.

Jihyo semakin kesal dan tidak sabar. Dia hampir saja memukul meja. “Ya Tuhan, oppa! Onni! Kalian ini sudah dewasa! Punya hak bicara! Aku mohon, bicaralah!” seru Jihyo.

Tuan Choi memandang Jihyo dengan tajam tapi ia tidak takut. Ia tidak bisa membiarkan oppa dan onninya sengsara.

Hyejin bergerak. Jihyo sedikit senang. Hyejin berdiri dan membungkukkan badannya pada semua. “Juisonghamnida. Aku benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini. Aku punya pria lain yang sangat aku cintai. Juisonghamnida,” ujar Hyejin yang sangat melegakan hati Jihyo.

Jihyo memandang Hyejin dengan kagum. Meskipun setelah mengatakan hal itu Hyejin kabur, dia tetap merasa kagum.

Jihyo berpindah kepada Siwon dan berkata, “Kau seharusnya punya keberanian sebesar onni, Oppa! Beritahu appa dan omma keinginanmu.” Setelah itu, Jihyo keluar menyusul Hyejin tapi leadernya itu sudah menghilang. Yang ia temui hanya Sungmin yang sedang duduk membaca majalah.

“Bagaimana di dalam tadi?” tanya Sungmin sambil merangkul Jihyo yang baru muncul di hadapannya.

“Masih tidak jelas tapi Hyejin onni sudah mengutarakan keinginannya. Aku harap mereka akan mempertimbangkannya,” jawab Jihyo.

Sungmin tersenyum dan mengelus-elus pundak Jihyo. “Aku harap masalah ini segera selesai ya, sayang,” ujar Sungmin.

“Aku harap juga begitu.”

Sungmin lalu mengajak Jihyo makan siang sambil membicarakan Key.

“Apa Key sudah memaafkanmu?” tanya Sungmin.

Jihyo mengangkat bahunya. “Molla. Tadi aku meneleponnya tapi dia masih jutek. Mungkin dia masih marah,” jawab Jihyo setengah putus asa.

Sungmin tetap tersenyum. Dia menatap Jihyo dan meminta sesuatu, “Menjauhlah dari Key. Dia itu masih sayang padamu. Kalau kau terus mendekatinya, hubungan kita terancam bubar.”

Jihyo rasanya ingin lompat ke laut dan hidup bersama dewa Poseidon di kerajaan dasar lautnya. Dunia daratnya ini benar-benar membuatnya gila dan sel-sel kulitnya semakin cepat tua.

 

 

Kyuhyun sedang mempelajari lagu baru untuk duetnya bersama Seohyun sambil sesekali mengecek downloadan game barunya. Kali ini dia tidak dipasangkan dengan Hyejin mengingat perintah tuan Choi untuk menjauhkan mereka. Kyuhyun berusaha sekuat tenaga menghafalkan lagu itu dan menyelaraskan suaranya dengan suara Seohyun.

“Tot! Tot! Tot!” bel dorm SJ berbunyi. Kyuhyun berdiri dan membukakan pintu untuk tamunya. “Hyejin!!” seru Kyuhyun dengan gembira. Ia langsung memeluk gadis itu dan mengajaknya masuk. Hyejin masuk dan duduk di sofa tamu tempat dia biasa duduk jika berkunjung kemari.

“Ada apa tiba-tiba kemari? Bukannya kau sedang latihan bersama SG?” tanya Kyuhyun sambil mondar-mandir membereskan barang-barangnya yang berantakan.

Hyejin menarik Kyuhyun sampai pria itu duduk di sebelahnya. Barang-barang yang berantakan itu tidak menarik Hyejin meskipun dirapikan. “Aku kesini karena merindukanmu. Bukan untuk melihatmu beres-beres, Cho Kyuhyun,” kata Hyejin sambil mengelus dada Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum. “Nado bogoshipo, jagi,” ujarnya. Wajahnya semakin mendekat dengan wajah Hyejin dan ia berhasil mencium pacarnya itu. Niat Kyuhyun hanya ingin mengecup Hyejin sekilas tapi rupanya Hyejin berpikir lain. Gadis itu menahan Kyuhyun. Tangan kanannya berada di belakang kepala Kyuhyun sedang tangan kirinya berada di punggung Kyuhyun, menahan agar Kyuhyun tidak bisa pergi kemanapun.

“Rencana ini harus berhasil. Aku tidak peduli, pokoknya perjodohan itu harus gagal,” batin Hyejin sambil terus menggoda Kyuhyun untuk membangkitkan insting laki-laki Kyuhyun.

Usaha Hyejin tidak sia-sia. Kyuhyun sudah terperangkap godaannya. Insting laki-lakinya sudah bermain, Hyejin tinggal mengimbanginya saja.

Hyejin menatap Kyuhyun yang sedang tertidur di sebelahnya dengan nyenyak. Hyejin mengusap-usap pipi Kyuhyun. “Mianhe, Kyu. Jeongmal mianhe,” ucap Hyejin berkali-kali. Dia benar-benar merasa bersalah.

Hyejin bangkit dari tempat tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menatap wajahnya yang terpampang jelas di cermin. “Kau harus kuat, Hyejin! Gagalkan perjodohan itu dan buat Kyuhyun tidak bisa pergi darimu!” ujar Hyejin pada bayangannya. Ia berusaha mensugesti dirinya sendiri.

Hyejin keluar dari kamar mandi dan menemukan Kyuhyun berdiri di depan kamar mandi dengan kaku. Dia mendengar ucapan Hyejin.

“Jadi, kau memperalatku?” tanya Kyuhyun.

Hyejin tidak tahu mau bicara apa. Lidahnya kelu. Kyuhyun telah mengetahui maksudnya. Hyejin memang memperalat Kyuhyun tapi ia juga mencintai pria itu.

“Mianhe, oppa. Jeongmal mianhe,” ucap Hyejin berkali-kali. Hanya itu yang bisa dia ucapkan.

Kyuhyun menatap Hyejin dengan tajam. Hyejin tahu Kyuhyun marah dan kecewa tapi ia tidak tahu kenapa Kyuhyun justru memeluknya.

“Aku marah padamu tapi kau boleh terus memperalatku asal kau terus bersamaku, Hyejin. Saranghae, jeongmal saranghaeyo,” ucap Kyuhyun.

Hyejin balas memeluk Kyuhyun, bahkan lebih erat. Tanpa dia sadar, air matanya sudah menetes. Dia begitu lega Kyuhyun tidak mengusirnya.

“Gomawo, oppa. Aku pikir kau akan mengusirku atau bahkan memutuskanku. Gomawo,” ujar Hyejin.

Kyuhyun tersenyum lalu tertawa kecil. Tangannya mengelus punggung Hyejin. “Tidak mungkinlah, sayang. Setelah suka duka yang kita lewati untuk mencapai tahap ini, aku tidak mungkin melepaskanmu,” ujar Kyuhyun.

“Gomawo, oppa,” sahut Hyejin.

Satu tujuan Hyejin telah tercapai. Tinggal satu tujuan lagi dimana Hyejin harus lebih kerja keras untuk mencapainya.

Hyejin pamit pulang karena ia masih punya segudang jadwal yang harus dijalaninya hari ini. Di tengah jalan, Hyejin teringat ia lupa membawa partitur lagu yang ia taruh di ruang tamu. Dengan setengah hati, Hyejin kembali ke dorm SJ. Ia naik lift dan masuk ke dorm SJ yang sangat kebetulan tidak ditutup dengan rapat.

Hyejin berjalan menuju ruang tamu dan tanpa sengaja ia mendengar 2 pria sedang berbincang serius. Hyejin mendekati suara itu dan mengenali bahwa Kyuhyun dan Changmin sedang berdiskusi.

K : Demi planet pluto yang sudah tidak diakui keberadaannya sebagai planet, apa yang sebenarnya terjadi? Pacarku memperalat diriku untuk menggagalkan perjodohan dirinya dengan teman segrupku dan sahabatku memperalat teman segrup pacarku untuk membantu leadernya yang notabene adalah pacar dari teman lain segrup pacarku. What the hell?!

C : Kyu, tolong jangan semakin mempersulit aku. MinAh mengancam akan balas dendam jika aku membuat HyunAh sedih. Tolong bantu aku.

K : Aku juga tidak tahu harus bagaimana. Baru saja aku menerima kenyataan bahwa aku diperalat pacarku sendiri. Sekarang kau datang, bertanya padaku apa yang harus kau lakukan. Mana aku tahu, Shim Changmin. Haish!

C : Aku mohon, Kyu. Putar otakmu. Aku harus segera keluar dari masalah ini.

K : Kenapa? Bukankah itu wajar jika memperalat pacar sendiri? Anggap saja membantu. Kau pacaran dengan adik Yunho hyung, masa tidak boleh mempertemukan mereka berdua.

C : Masalahnya, aku hanya pura-pura, Kyu. Aku pura-pura memacari HyunAh demi Yunho hyung. Kalau sampai ia tahu, aku bisa habis.

Hyejin kesal setengah mati. Dia tidak tahan lagi. Ia pun memunculkan diri. “Tentu kau tidak akan selamat, Shim Changmin. Aku bisa pastikan SG, Yong Hwa, dan mungkin Yunho akan menghabisimu,” kata Hyejin membuat Changmin ketakutan.

Tanpa menatap Kyuhyun, Hyejin berbalik dan melangkah keluar dari dorm. Ia harus memastikan keadaan HyunAh sekarang.

 

 

Hyejin masuk ke dalam dorm dan meliha sepasang kakak beradik kembar sedang berdebat. “Sudah aku bilang padamu kan, HyunAh. Changmin itu hanya memperalatmu,” kata Yong Hwa.

“Belum tentu. Dia hanya mengajakku makan ke sebuah restoran yang kebetulan ada Yunho oppa juga di sana. Jangan berprasangka buruk dulu, Oppa,” sahut Hyun Ah membela Changmin.

“Aku tidak berprasangka buruk, HyunAh. Tolong buka matamu. Lihat yang sebenarnya. Kau itu sudah dibutakan oleh Changmin tahu!”

“Oke! Taruhlah Changmin hanya memperalatku untuk mendekatkanku dengan Yunho oppa. Lalu kenapa? Bukankah itu bagus jika kita bisa berdamai dengannya?”

“Bagus bagimu. Tidak bagiku. Apa kau lupa bagaimana dia menyia-nyiakan kita dulu? Bagaimana dia sangat amat tidak peduli pada kita apalagi pas DBSK sukses-suksesnya? Kau lupa?”

HyunAh menghela nafas panjang. Semua teringat jelas di memorinya bagaimana Yunho selalu menyangkal bahwa mereka bersaudara, bagaimana Yunho selalu mengaku bahwa dia anak tunggal. “Aku ingat, oppa. Karena itu, kenapa kita tidak memberikan kesempatan untuknya? Mungkin saja Yunho oppa memang sudah berubah?”

“Baiklah, sekarang asumsikan Yunho hyung tulus ingin berdamai dengan kita. Lalu apa kau yakin Changmin benar-benar mencintaimu?”

“Aku yakin Changmin mencintaiku. Titik. Perdebatan selesai!”

HyunAh masuk ke dalam kamarnya dan mengunci dari dalam. MinAh mengetuk-ngetuk pintu tersebut tapi HyunAh tidak mau membukanya. MinAh menyerah. Ia kembali ke ruang tamu tempat mereka berkumpul tadi.

“Terima kasih sudah mau datang, Yong Hwa. Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahu yang sebenarnya pada HyunAh,” ujar MinAh pada Yong Hwa.

“Justru aku yang harus berterima kasih padamu karena telah memberitahu yang sesungguhnya padaku. Kita harus menyadarkan HyunAh secepatnya,” balas Yong Hwa.

Hyejin tidak mengerti apa yang MinAh dan Yong Hwa bicarakan. “Kalian ngomongin apa sih sebenarnya?” tanya Hyejin penasaran.

MinAh pun menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya bahwa Yunho meminta bantuan Changmin untuk mendekati HyunAh hanya saja mereka tidak tahu apa Changmin memacari HyunAh dengan tulus atau tidak.

Hyejin menghela nafas sedih. Dia yang telah mengetahui segalanya semakin sedih tapi tidak berani bicara karena masih ada Yong Hwa.

“Hyejin, Min Ah, aku titip Hyun Ah ya. Kabari aku kalau ada apa-apa ya. Aku mau kembali ke kantor dulu,” kata Yong Hwa lalu keluar dari dorm.

Hyejin merasa sangat lega. Setelah Yong Hwa pergi, ia segera menarik Min Ah ke dalam kamarnya.

“Ada apa, Hyejin? Kenapa tiba-tiba menarikku?” tanya Min Ah bingung.

“Ini soal Min Ah dan Changmin.”

“Kenapa?”

“Tadi aku ke dorm SJ dan mendengar percakapan Changmin dengan Kyuhyun. Aku dengar sendiri Changmin hanya pura-pura. Dia tidak benar-benar mencintai Hyun Ah.”

Min Ah membelalak. “Serius?” tanya Min Ah.

“Ngapain aku bohong?!”

“Klek.” Pintu kamar Hyejin terbuka. Hyun Ah muncul di hadapan mereka berdua dengan terisak-isak. “Jadi begitu ya? Jadi selama ini aku sudah ditipu mentah-mentah olehnya?” ucap Hyun Ah. Matanya merah karena kebanyakan menangis tapi memancarkan kemarahan.

Min Ah memeluk Hyun Ah. Sahabatnya semakin menjadi-jadi. “Sabar ya, sayang. Kamu pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari Changmin,” hibur Min Ah.

Hyun Ah melepas pelukan Min Ah dan menyeka air matanya. Dengan tegas ia berkata, “Aku tidak mau kalau bukan Changmin. Aku akan buat dia menyukaiku!”

Hyun Ah pergi mengambil tasnya lalu keluar dari dorm. Tidak ada yang tahu kemana dia akan pergi.

 

to be continued

@gyumontic