FIND THE TRUTH (PART 9)

G / Romance – Friendship / Series

Author is Me (facebook account’s owner where it published)

 

Cast :

Super Girls

Super Junior

Shinee

DBSK

Song Joong Ki

 

Supp. Cast:

Jessica dan Luna

 

In a Relationship:

Cho Kyuhyun – Song Hyejin

Shim Changmin – Jung Hyunah

Choi Siwon – Kang Hamun

Jung Yunho – Park MinAh

 

Close Relationship:

Kim Jaejoong – Song Hyejin

Lee Taemin – Kang Hamun

Kim Jonghyun – Park Minah

Choi Minho – Jung Hyunah

Cho Kyuhyun – Choi Jihyo

 

It’s Complicated relationship:

Kim ‘Key’ Kibum – Choi Jihyo – Lee Sungmin

Lee Donghae – Kang Hamun

 

Siblings :

Song Hyejin – Song Joong Ki

Choi Jihyo – Choi Siwon

Park Minah – Park Jungsu ‘Leeteuk’

Jung Hyunah – Jung Yunho & Jung Yong Hwa

 

PART 9

 

SMTOWN LA yang digelar 2 hari berjalan dengan lancar. Sekarang SG dan artis SM lainnya harus mengikuti after party yang diadakan di seberang stadion tempat konser berlangsung. Kalau sudah bicara pesta, Min Ah adalah ratunya. Dia adalah yang pertama kali turun ke lantai dansa diikuti oleh Yunho.

“Wooohoo! Go Min Ah! Go Min Ah!” seru member SG dan beberapa artis SM yang lain. Sedangkan DBSK, Suju dan Shinee berseru, “Jung Yunho! Jung Yunho!”

Lantai dansa seketika berubah menjadi lantai dance battle. “Woohoo!” Jessica, member SNSD.

Min Ah terlalu seru menari sehingga ia tidak sadar ada kaki yang sengaja dijulurkan untuk membuat dia terjatuh.

“Buk!” Min Ah jatuh dengan pantat terlebih dahulu. Baju bagian bawahnya sedikit robek, hak sepatunya patah. Min Ah melihat ke arah si pemilik kaki dan langsung marah, “Jessica! Kalau punya kaki tuh jangan dipakai buat nyelakain orang!”

Jessica yang memang sengaja menjatuhkan Min Ah, pura-pura tidak mengerti. “Min Ah, aku tidak melakukan apa-apa. Jangan menuduhku sembarangan. Kau terlalu bersemangat sampai tidak memperhatikan kakiku. Kecentilan sih,” ujar Jessica sok polos.

Min Ah geram dengan tingkah laku Jessica. Hampir saja ia menampar Jessica kalau tidak ditahan Jonghyun dan Yunho.

“Ayo kita pergi dari sini,” ujar Yunho sambil menarik Min Ah pergi ke ruangan lain.

Min Ah mengikuti Yunho tanpa melepas matanya dari Jessica. “Awas kau!” kata Min Ah tanpa suara yang dibalas dengan senyuman licik dari Jessica.

Min Ah langsung melepaskan tangannya dari Yunho dan mengomel, “Kenapa Oppa menarikku? Harusnya biarkan saja aku menamparnya!”

“Kau mau masuk koran besok pagi? Kalau mau, silahkan,” ujar Yunho tenang.

Min Ah yang masih kesal, duduk di sofa dalam ruangan itu sambil memandang Yunho. “Jam berapa acara ini selesai?” tanya Min Ah.

“Masih lama,” jawab Yunho.

Min Ah mendengus kesal. Ia berusaha mencari hiburan dengan karaoke atau minum tapi tidak ada yang seenak berdansa bersama teman-temannya. “Aku mau keluar,” kata Min Ah sambil berjalan menuju pintu. Yunho berusaha menahannya tapi Min Ah melesat keluar jauh lebih cepat.

Min Ah sudah kembali lantai dansa. Semua mata kini tertuju pada ratu pesta satu ini. Dia bergerak dengan sangat lincah. Min Ah benar-benar menjadi pusat perhatian. Yunho tidak bisa memungkiri bahwa Min Ah sangat berbakat dalam menarik perhatian orang, termasuk musuhnya.

Seolah ingin ikut berdansa, Jessica turun dan menari bersama Min Ah. “Mau apa kau kesini?” tanya Min Ah dengan ketus.

“Aku hanya mau memberitahumu satu hal. Jauhi Yunho oppa atau kau akan menderita,” jawab Jessica sambil tersenyum.

Min Ah tersenyum sinis. “Jangan harap!” sahut Min Ah.

Jessica hanya tersenyum lalu mendekati Yunho. Dengan mata kepalanya, Min Ah melihat Jessica mencium Yunho.

Penuh dengan amarah, Min Ah mendekati Jessica dan menarik gadis itu sampai lepas dari Yunho. “Plak!” Min Ah menampar Jessica lalu memandang Yunho penuh kemarahan. Min Ah tahu Yunho tidak menolak ciuman Jessica.

Min Ah meninggalkan Yunho dan bergabung dengan Hyejin yang sedang masuk ke dalam mobil.

“Aku ikut,” kata Min Ah lalu masuk ke dalam mobil.

Min Ah dan Hyejin memilih untuk kembali ke hotel lebih dahulu daripada yang lain dengan alasan masing-masing.

“Kau masih tidak enak badan, Hyejin?” tanya Min Ah karena melihat Hyejin yang masih lemas.

Hyejin menggeleng. “Aku hanya kecapekan. Rasanya mau langsung tidur begitu sampai hotel. Makanya aku pulang duluan,” jawab Hyejin. “Kau sendiri kenapa mau ikut aku pulang?”

Min Ah tertawa. “Sebenarnya aku hanya mau mengetes Yunho oppa. Aku hanya ingin tahu kalau aku marah seperti ini, apa ia akan mengejarku,” jawab Min Ah.

“Jadi kau hanya pura-pura marah? Berarti tadi Jessica juga hanya pura-pura?”

Min Ah menggeleng. “Aku memang hanya pura-pura marah tapi apa yang dilakukan Jessica itu benar-benar nyata.”

“Kau tidak marah melihat pacarmu mencium gadis lain?”

“Aku sudah kebal dengan semua tingkah laku Yunho. He’s a drama king. Aku hanya mau menguji Yunho padahal aku masih ingin menghajar wanita itu!” Min Ah semakin geram. Matanya menampakkan kemarahan dan kebencian.

Hyejin tertawa. “Memang lebih baik kau pulang. Aku berani jamin kalau kau masih tinggal disana dan dia masih cari masalah, dia terpaksa harus operasi kulit yang penuh cakaran darimu, Min Ah.”

Min Ah ikut tertawa.

Mereka telah sampai di hotel dan masuk ke kamar masing-masing. Min Ah mandi lalu membereskan barang-barang yang harus dibawa kembali ke Korea besok pagi.

“Tot! Tot!” bel kamar Min Ah berbunyi. Min Ah mengintip dari lubang dan menemukan Yunho sedang berdiri di depan kamarnya dengan gelisah. Min Ah segera membukakan pintu.

Yunho masuk ke dalam kamar dengan penuh emosi. “Apa-apaan tadi itu? Kelakuanmu sungguh tidak aturan!” bentak Yunho.

Min Ah tidak mengerti. “Kelakuanku yang mana?” tanya Min Ah.

“Menampar Jessica! Kau sudah gila?!”

Min Ah naik darah. Tidak kalah keras, ia membentak Yunho, “Dengar! Aku hanya mau memberinya pelajaran karena telah mencium pacarku seenaknya! Dan kau, Oppa, bukannya menolak malah diam saja! Kau dan dia jauh lebih gila!”

“Kau ingin aku melakukan apa? Mendorongnya?”

“Apapun! Asal dia tidak menciummu, bodoh!”

Yunho menghela nafas. “Mana mungkin aku mendorongnya. Dia itu wanita, Min Ah. Tubuhnya terlalu rapuh untuk aku dorong.”

Min Ah tersenyum sinis. “You’re such a drama king. Keluar dari kamarku sekarang!” bentak Min Ah.

Yunho memandang Min Ah meminta untuk membiarkannya tinggal tapi ia tidak peduli. “Kau sedang tidak waras. Aku mau bicara lagi denganmu jika kau sudah waras. Sekarang, KELUAR DARI SINI JUNG YUNHO!” seru Min Ah.

Yunho pun keluar sesuai dengan perintah Min Ah. Min Ah menghela nafas panjang. Dia tidak percaya Yunho baru saja membentaknya karena wanita lain.

“Dia sudah gila,” gumam Min Ah.

Min Ah sedih karena Yunho tidak berada di sisinya tapi ia tidak mau memohon agar Yunho kembali padanya. “Laki-laki itu harus diberi pelajaran!” batin Min Ah.

 

 

Hyejin, Kyuhyun dan Siwon turun ke lobi sambil membawa barang-barang mereka. Mereka dijadwalkan pulang lebih dulu dari yang lain dengan pesawat komersial.

“Kenapa kita pulang duluan, Hyejin?” tanya Siwon.

Hyejin mendelikkan matanya. “Perintah appamu, Choi Siwon. Kita harus segera menetapkan tanggal pertunangan kita. Ingat?” jawab Hyejin dengan dingin.

“Aku pikir kau tidak mau bertunangan denganku.”

“Memang tidak.”

“Lalu kenapa mau pulang duluan? Kyuhyun juga?”

Hyejin terlalu letih. Dia tidak mau berdebat. Dia segera masuk ke dalam mobil yang akan membawanya ke airport.

Sepanjang perjalanan, Hyejin hanya diam dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Kyu dan Siwon. Begitu juga selama di pesawat, ia hanya tidur.

“Hyejin, kita sudah sampai. Ayo bangun,” kata Kyuhyun.

Hyejin terbangun dan melihat Kyuhyun sedang mengulurkan tangan padanya. “Ayo kita turun,” kata Kyuhyun lagi.

Hyejin menyambut uluran tangan itu dan mengikuti Kyuhyun turun dari pesawat.

Siwon mengikuti dari belakang sambil terus mengoceh, “Hyejin, kau sungguh-sungguh tidak mau dijodohkan denganku kan? Apa yang akan kau lakukan?”

Hyejin menghela nafas dan menyahut dengan kesal, “Choi Siwon, tidak bisakah kau tenang? Kalau kau memang tidak mau dijodohkan, berusalah lebih keras! Jangan merecoki orang terus!”

“Aku juga berusaha tahu!” sahut Siwon kesal. Ia berjalan lebih dulu ke dalam mobil.

Hyejin sudah mau marah pada Siwon tapi Kyuhyun berhasil menenangkannya. “Sudahlah. Jangan diambil hati ya. Ingat Cho junior di rahimmu,” kata Kyuhyun diiringi senyum yang menyejukkan Hyejin.

Hyejin dan Kyuhyun lalu menyusul Siwon masuk ke dalam mobil yang siap membawa mereka langsung ke tempat pertemuan keluarga.

Sebelum Siwon dan Hyejin masuk menemui orang tua mereka, Hyejin bicara dengan Siwon, “Aku minta maaf telah membentakmu tadi. Aku hanya terlalu tertekan dengan masalah ini.”

“Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Tidak masalah,” sahut Siwon.

“Dan aku mau minta tolong padamu.”

“Apa?”

“Aku mohon bantu aku menggagalkan perjodohan ini. Bicaralah pada appamu bahwa kau tidak mau,” ujar Hyejin lalu menatap perutnya yang masih rata. “Aku tidak mau anakku hidup tanpa ayah kandungnya.”

Siwon menatap Hyejin penuh tanya dan kebingungan. Ia menuntut penjelasan lebih lanjut tapi Hyejin hanya tersenyum. Hyejin menggandeng Kyuhyun memasuki ruangan.

Tuan dan Nyonya Song menyambut kedatangan anak mereka dengan kaget. “Mana Siwon, nak? Kenapa kau datang dengan Kyuhyun?” tanya nyonya Song.

Pintu ruangan terbuka dan Siwon masuk. Hyejin menunjuk Siwon dan menjawab, “Itu orangnya, omma.”

Siwon duduk di sebelah orang tuanya sedangkan Hyejin tetap berdiri didampingi Kyuhyun.

“Kenapa kau tidak duduk, sayang?” omma Hyejin memandang anaknya dengan senyuman manis seorang ibu. Melihat itu, Hyejin jadi merasa bersalah. Ia benar-benar menyesal.

Tanpa dia inginkan, air matanya mulai mengalir. Hyejin berlutut di depan kedua orang tuanya sampai seperti menyembah, Kyuhyun pun melakukan hal yang sama.

“Maafkan aku, Appa, Omma. Aku benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini,” ujar Hyejin.

“Kenapa, sayang? Apa Siwon kurang hebat di matamu?” tanya Omma Hyejin.

Hyejin menggeleng. “Aku…aku telah hamil,” ujar Hyejin dengan takut-takut.

Tuan Song memandang anaknya dengan kaget dan penuh amarah, nyonya Song memandang tidak percaya sedangkan Jungki menatap semuanya dengan ngeri.

“Apa maksudmu kau telah hamil, Song Hyejin?” tanya Tuan Song menahan marah.

“Dua minggu lalu, aku menjebak Kyuhyun untuk bercinta denganku. Aku pikir dengan cara ini aku bisa menggagalkan perjodohan ini karena aku tau Tuan Choi tidak akan mau calon menantu yang sudah tidak gadis tapi ternyata aku kelewatan. Aku hamil,” jawab Hyejin.

Tuan Choi seperti tersambar petir. Calon menantu sekaligus aset perusahaannya membuat ulah yang dapat mengancam bisnisnya. “Tentu aku tidak mau mempunyai calon menantu yang sudah tidak gadis,” ujar tuan Choi dengan dingin lalu keluar dari ruangan bersama istrinya.

Hyejin sudah pasrah. Dia siap menerima hukuman apapun yang akan diberikan ayahnya. Hyejin tahu ayahnya akan marah besar.

Tepat seperti perkiraan Hyejin, Tuan Song marah besar. Beliau menghampiri Hyejin dan menampar anak perempuan satu-satunya itu. “Kau benar-benar mengecewakan, Song Hyejin! Mulai sekarang tidak ada lagi karirmu sebagai entertainer! Dan kau, Cho Kyuhyun, kita harus bicara empat mata mengenai hal ini!” seru tuan Song.

Kyuhyun yang sedari tadi diam akhirnya bicara, “Aku akan bertanggung jawab.”

Tuan Song tidak peduli. Ia melangkah keluar dari ruangan diikuti istrinya. Nyonya Song memandang anaknya dengan kecewa sekaligus sedih. Beliau ingin memeluk anaknya itu tapi suaminya sudah memerintah untuk segera pergi, “Kita urus anak itu nanti!”

Hyejin tidak dapat lagi membendung kepenatannya. Dia menangis sejadi-jadinya. Perjodohan ini memang akhirnya gagal tapi karirnya terancam gagal dan mungkin juga dengan karir SG.

“Aku akan bicara dengan Appa. Aku tidak akan membiarkan karirmu terhenti,” kata Jungki sambil memeluk Hyejin lalu berlari menyusul Tuan dan Nyonya Song.

“Aku juga tidak akan membiarkanmu dipecat, Hyejin. Aku akan bicara dengan Appa,” ujar Siwon.

Hyejin hanya bisa mengangguk pasrah. “Gomawo, oppa,” ucapnya. Dia sudah tidak tahu bagaimana masa depannya begitu keluar dari ruangan ini.

Kyuhyun merangkul Hyejin dan membantu gadis itu berdiri. “Kau butuh istirahat, sayang. Aku akan mengantarmu pulang,” kata Kyuhyun. Dengan penuh sayang, Kyuhyun menggandeng Hyejin menuju mobil dan mengantarkannya pulang.

 

 

Jihyo mendadak sport jantung ketika mengetahui bahwa Hyejin, Kyuhyun dan Siwon sudah pulang lebih dahulu ke Korea. Ia langsung menelepon Siwon, “Oppa, kenapa kalian pulang duluan?”

“Menyelesaikan urusan perjodohanku dengan Hyejinlah, apalagi?”

“Lalu bagaimana hasilnya?”

“Perjodohan dibatalkan.”

Mwo? Appa bilang begitu?”

“Ne, Appa bilang tidak jadi menjodohkan aku tapi dia akan membekukan kontrak Hyejin,” sahut Siwon.

“Kenapa?” tanya Jihyo ingin tahu.

Siwon tidak mau menceritakan permasalahan yang sebenarnya. “Appa berubah pikiran. Aku bilang aku mencintai gadis lain. Mungkin dia tidak tega juga padaku,” jawab Siwon.

“Lalu kenapa Hyejin onni harus kena pembekuan kontrak?” tanya Jihyo bingung. Ia tidak mendapat korelasinya.

“Kata appa, Hyejin sudah terlalu banyak melanggar kontrak dan appa Hyejin melarangnya berkarir lagi.”

Masalah di mata Jihyo semakin rumit dan semakin tidak dia mengerti. Ada hal yang tidak dia ketahui yang membuatnya jadi kehilangan arah kemana masalah ini akan dibawa.

“Haish! Aku akan pulang sekarang!” ujar Jihyo lalu menutup telpon dan langsung membereskan barang-barangnya.

“Onni, mau kemana? Kita kan baru pulang nanti siang,” tanya Hamun bingung melihat Jihyo yang sedang heboh.

“Aku pulang sekarang. Ada yang harus segera aku selesaikan di Korea. Sampai jumpa, Hamun,” jawab Jihyo lalu keluar.

Ia menemui manajernya dan minta izin pulang. Tanpa perdebatan, manajer SG mempersilahkan Jihyo pulang.

Jihyo memesan tiket dan taksi di bagian resepsionis hotel yang tentu saja bersedia membantu karena Jihyo menawarkan bayaran 1,5x lipat lebih besar.

Saat itulah dia melihat Sungmin berjalan menuju kolam renang tapi melewatinya begitu saja. “Aku akan mengurusmu nanti, Lee Sungmin,” gumam Jihyo kesal.

Jihyo menunggu tiket dan taksinya. Tiba-tiba Key muncul dan menemuinya. “Kata Hamun kau pulang sekarang. Kenapa?” tanya Key tanpa basa-basi.

“Aku mau mengurus masalah dengan Appa mengenai Hyejin onni dan SG,” jawab Jihyo.

“Sendirian? Sungmin hyung tidak ikut?” tanya Key.

Jihyo menggeleng. “Dia memutuskanku kemaren,” ujar Jihyo lirih.

Key mengelus kepala Jihyo dengan lembut. “Aku ikut kalau begitu. Aku akan menemanimu,” ujar Key yang langsung memesan tiket dan lari ke kamarnya.

Tidak lama kemudian, Key sudah kembali ke lobby dengan barang-barangnya. “Taksinya sudah datang? Ayo kita segera berangkat. Pesawatnya take off satu jam lagi,” kata Key sambil menggandeng Jihyo.

Tanpa Jihyo tahu, Sungmin menatap Key dan Jihyo dengan cemburu. Dia menyesal telah bertindak tidak matang. Sekarang dia harus rela melihat Jihyo dan Key justru semakin dekat.

Jihyo dan Key langsung menuju gedung SM begitu mereka sampai di Korea. Gedung SM sangat sepi karena sebagian besar artis mereka masih berada di LA. Jihyo tidak peduli, ia langsung bergegas ke ruangan tuan Choi sedangkan Key menunggu di luar.

“Appa!” panggil Jihyo sambil membuka pintu ruang kerja ayahnya.

Tuan Choi menoleh pada anaknya. “Wae, Jihyo ya? Kenapa kau sudah pulang? Bukan seharusnya kau baru berangkat dari LA?” tanya tuan Choi dengan heran.

“Aku tadi menelepon Siwon Oppa. Dia bilang…”

Tuan Choi memotong omongan anaknya, “Ah, jadi pasti kau datang karena mau bicara dengan appa soal leadermu?”

Jihyo tersenyum dan merangkul appanya. “Appa betul sekali. Aku ingin Appa mempertimbangkan keputusan Appa sekali lagi. Hyejin onni kan salah satu aset yang paling berharga, kalau dia dibekukan, nasib SG gimana? Pendapatan perusahan juga bisa menurun,” kata Jihyo.

Tuan Choi menghela nafas. “Aku tahu, sayang. Tapi tuan Song sendiri sudah meminta Appa membekukan kontrak Hyejin,” ujar tuan Choi.

“Lalu Appa menyetujuinya begitu saja?” tanya Jihyo.

“Aku tidak punya pilihan lain. Aku kecewa karena perjodohan ini gagal. Aku merasa dikhianati anakku sendiri,” jawab tuan Choi. “Kau tahu aku sudah membayangkan betapa bahagianya punya menantu Song Hyejin tapi ternyata dia sudah mengikat dirinya dengan pria lain. Siwon juga begitu.”

Jihyo memijit lengan appanya dengan penuh sayang. “Aku sudah pernah bilang bahwa mereka tidak saling mencintai, perjodohan ini akan gagal. Lebih baik sekarang kita terima saja keputusan mereka dan memulai segalanya dari awal lagi, Appa,” kata Jihyo.

Tuan Choi tersenyum lega. “Baiklah kalau itu maumu, Jihyo. Appa akan membatalkan pembekuan kontrak leadermu,” ujar tuan Choi disambut senyuman Jihyo. “Asal tuan Song juga setuju,” lanjut tuan Choi.

Jihyo memeluk dan mencium pipi appanya dengan senang. “Gomawo, appa. Gomawo,” ucap Jihyo.

Tuan Choi membalasnya dengan senyuman lalu mengubah topik pembicaraan, “Lalu bagaimana dengan dirimu dan Sungmin?”

Jihyo tersenyum lesu. “Kami sudah putus. Dia berpikir aku masih punya hati dengan Key. Ada-ada saja,” kata Jihyo.

“Yah, menurut Appa, Key juga tidak buruk,” ujar tuan Choi.

Jihyo cemberut manja pada ayahnya yang membuat ayahnya tertawa. “By the way Jihyo, siapa magnae di SG?” tanya Jihyo.

“Kang Hamu, appa. Memang kenapa?”

“Kata oppamu, dia alasan oppamu menolak perjodohan ini,” ucap tuan Choi setelah berhenti tertawa.

Hati Jihyo berdegup kencang. “Hamun tidak bertepuk sebelah tangan! Siwon oppa juga menyukai Hamun! Kyaaaa! Aku harus segera bertemu dengan mereka!” seru Jihyo dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

Jihyo langsung mengecup appanya dan pamit pulang, “Appa, aku pulang dulu ya. Gomawo atas kebaikan hati dan informasinya. Saranghamnida.”

Dengan ceria, Jihyo keluar dari ruang tuan Choi dan berencana menemui oppanya terlebih dahulu tapi semuanya terlupakan begitu melihat Key dan Sungmin yang sedang bersitegang. Wajah kedua pria itu saling mengancam. Aura di antara mereka begitu kejam. Jihyo tidak berani menghampiri mereka. Dia takut sesuatu telah terjadi antara kedua pria itu, karena dirinya.

 

 

Hamun turun dari pesawat dengan Donghae yang berjalan di sebelahnya. “Akhirnya kita kembali juga ke Korea. Begitu sampai dorm, aku mau tiduuuur,” kata Donghae sambil tertawa.

Hamun memandang laki-laki di sebelahnya itu dan ikut tertawa. Meskipun begitu, pikirannya tertuju pada Siwon yang tidak ada bersama mereka. “Kenapa Siwon oppa pulang duluan? Hyejin dan Jihyo onni juga. Apa ada masalah?” tanya Hamun dalam hatinya.

Mereka berjalan keluar melalui pintu khusus. Hamun melihat Siwon sudah berada di tempat itu. “Hai, Hamun,” sapa Siwon sambil tersenyum pada Hamun.

Hati Hamun senang bukan main melihat Siwon sudah berada di dekatnya lagi. “Hai, Oppa,” balas Hamun dengan ceria.

Donghae merangkul Hamun dan menatap tajam ke arah Siwon.  “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Donghae dingin.

Siwon tersenyum penuh arti pada Donghae. Ia mengamit tangan Hamun dan menarik gadis itu dari Donghae. “Aku datang untuk menjemputnya. Sampai jumpa di kantor, Hae!” jawab Siwon.

Hamun menatap Donghae dengan perasaan bersalah. Ia bahkan tidak bisa melepaskan matanya dari Donghae meski Siwon sudah memasukkannya ke mobil.

“Hamun ah, aku tidak jadi dijodohkan. Kau sudah tahu?” tanya Siwon sambil menyetir mobilnya.

Hamun senang setengah mati mendengarnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain, “Kyaaa! Serius, Oppa?” saking senangnya. Siwon mengangguk-angguk.

“Ahh, berarti Hyejin onni akan bahagia dengan Kyu oppa,” ujar Hamun ceria.

“Dan aku akan bahagia denganmu,” sambung Siwon. Ia menarik tangan Hamun dan menggenggamnya. “Aku suka padamu, Hamun. Aku juga tahu kau suka padaku jadi apa yang kita tunggu lagi. Kita pacaran. Setuju?” ujar Siwon.

Hamun memandang Siwon sambil tersenyum lalu protes, “Oppa, kau ini tidak ada romantis-romantisnya ah! Masa ngajak pacaran caranya gitu?”

Siwon tertawa terbahak-bahak. “Itu hanya pemanasan, sayang. Tunggu sebentar lagi. Kau pasti tidak bisa menolakku,” ujar Siwon.

Siwon memberhentikan mobilnya di tepi sungai Han dan mengajak Hamun turun. Siwon menggandeng Hamun menuju suatu tempat dimana hanya Siwon dan Jihyo yang pernah menginjakkan kaki disana.

“Oppa, kenapa membawaku kesini?” tanya Hamun.

Siwon membawa Hamun ke sebuah pohon besar dan rindang di seberang jembatan dan mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya. “I love you,” ucap Siwon sambil memasukkan cincin tersebut ke jari tengah Hamun.

Hamun sungguh bahagia. Ia memeluk Siwon dan berkata, “Nado, Oppa.”

Siwon membalas pelukan Hamun. Perasaannya juga tidak kalah bahagia, mungkin ia pria yang paling bahagia saat ini.

Siwon melihat jam tangannya. Jam 1 siang, sudah saatnya kembali ke lokasi syuting. “Hamun, aku harus segera ke lokasi syuting. Kita pulang sekarang ya?” ujar Siwon dengan lembut.

Hamun yang sedang dimabuk asmara, melepaskan pelukannya dan mengikuti setiap perkataan Siwon. Ia pasrah saja mau kemana Siwon membawanya.

Setelah Hamun diantar ke dorm, Siwon melaju menuju lokasi syutingnya. Hamun masuk ke dalam dorm sambil memandangi cincin yang diberikan Siwon padanya sampai ia tidak sadar bahwa Donghae dan Taemin sudah menunggunya di dalam dorm.

“Hei, Hamun. Tampaknya kau ceria sekali. Ada apa?” tanya Donghae dengan lembut.

Hamun tersenyum bahagia. Ia menunjukkan cincin itu pada Donghae dan berkata, “Aku jadian dengan Siwon oppa.”

“Oh ya? Chukkae, Hamun ah,” ujar Donghae dengan lirih. Donghae benar-benar telah kehilangan pertahanannya. Sambil menahan tangis, ia pamit pulang pada Hamun.

Hamun menoleh pada Taemin dengan bingung. “Kenapa dia pulang cepat sekali?” tanya Hamun polos.

Taemin yang gemas dengan kepolosan Hamun langsung menjitak kepalanya. “Yaa Kang Hamun! Jangan bilang kau lupa kalau Donghae hyung juga menyukaimu. Ia langsung kesini begitu kita sampai Korea!” seru Taemin.

“Bu..buat apa dia langsung kesini?” tanya Hamun.

Taemin mendelikkan kepalanya ke sebuah kotak yang terletak di meja. Hamun mengambil dan membukanya. Terdapat sebuah cincin di dalamnya.

“A..apa dia datang untuk menembakku juga?” tanya Hamun yang dijawab Taemin dengan anggukkan kepala super mantap.

Hamun tersadar bahwa ia telah melukai hati Donghae yang juga menyukainya. Ia terlalu senang sampai lupa bahwa Donghae juga sedang menunggu jawabannya. Bisa-bisanya ia berkata dengan ringannya bahwa ia telah jadian dengan Siwon kepada orang yang juga mengharapkan jadian dengannya.

Hamun segera berlari keluar dorm dan mengejar Donghae. Ia turun ke basement dan mencari mobil Donghae. Luckily, mobil Donghae masih berada di sana dengan Donghae di dalamnya. Donghae duduk dengan kepala tertunduk. Air matanya sudah menetes.

Hamun mengetuk kaca mobil Donghae. Donghae menoleh dan membukakan kaca untuk Hamun.

“Oppa, mianhe. Aku tidak sengaja. Aku benar-benar tidak bermaksud melukaimu,” ucap Hamun sungguh-sungguh.

“Tidak apa. Aku mengerti. Kau sudah memilih Siwon, hidup baik-baiklah dengannya,” kata Donghae dengan tegar.

“Oppa tidak mengerti. Aku juga menyukaimu,” sahut Hamun tanpa sadar.

Donghae menatapnya. “Mwo? Kau juga suka padaku?” tanyanya tidak percaya sekaligus senang.

Hamun mulai bimbang. Ia tidak tahu harus bicara apa. Dia bahagia bisa bersama Siwon tapi dalam hati kecilnya, ia ingin Donghae memperjuangkannya. “Mianhe, oppa. Aku egois sekali,” batin Hamun.

 

 

Changmin mungkin mulai terbiasa dengan Hyun Ah yang selalu mengikutinya kemana pun ia pergi, termasuk ke drama musikal Luna malam ini. Changmin datang untuk memberikan dukungan buat gadis yang sesungguhnya dia sukai tapi HyunAh memaksa ikut apalagi Min Ah juga ada bersama mereka, Changmin hanya bisa pasrah.

“Aku mau menemui Luna sebentar. Aku ingin mengucapkan selamat untuknya,” kata Changmin pada HyunAh setelah drama musikal selesai.

“Aku ikut. Aku juga ingin mengucapkan selamat,” sahut Hyun Ah.

Changmin menatap Hyun Ah dengan tatapan memohon supaya Hyun Ah tidak terus mengikutinya tapi Hyun Ah pura-pura tidak mengerti. Hyun Ah malah mengajak Min Ah juga. “Min Ah, ayo kita memberi selamat pada Luna,” kata Hyun Ah.

“Ayo,” sahut Min Ah dengan semangat.

Changmin tersenyum lesu. Dia berjalan bersama Hyun Ah dan Min Ah menuju ruang ganti pemain.

“Luna ya, chukkae!” ucap Changmin dengan mata berbinar-binar. Hyun Ah melihat mata itu dan merasa sakit. Changmin tidak pernah memberikan tatapan penuh cinta seperti itu padanya.

“Gomawo, Oppa. Terima kasih sudah mau nonton,” balas Luna. Hyun Ah memperhatikan gadis itu dengan seksama. Luna mempunyai perasaan yang sama terhadap Changmin. Matanya menatap Changmin penuh arti.

“Tidak akan kubiarkan kau memilikinya,” batin Hyun Ah lalu menghampiri Luna. Hyun Ah mengulurkan tangannya dan memberi selamat pada Luna, “Chukkae, Luna ya. Penampilanmu hebat!”

Luna tersenyum senang dan membalas, “Gomawo, Hyun Ah. Terima kasih sudah mau datang.”

“Sama-sama. Kita sudah seharusnya saling mendukung.”

Senyum bahagia masih terpampang jelas di wajah Luna sampai Hyun Ah berdiri di samping Changmin dan mengamit tangan pria itu. “Oh ya Luna, apa kau tahu kami sudah resmi pacaran?” tanya Hyun Ah dengan innocent.

Luna memandang Changmin dan Hyun Ah bergantian dengan mata sayu. Changmin berusaha lepas dari Hyun Ah tapi Hyun Ah berhasil menahannya.

“Sungguh? Sejak kapan?” tanya Luna.

“Beberapa minggu yang lalu. Changmin menyatakan perasaannya padaku di pantai Haenunde. Dia mengajakku bermain paraseiling dan menciumku saat kami tepat berada di atas batu karang,” jawab Hyun Ah diiringi senyum bahagia yang membuat Luna semakin down.

“Chukkae,” ucap Luna lirih.

Changmin semakin tidak enak hati. Dia berusaha menjelaskan yang sebenarnya pada Luna tapi Hyun Ah sudah menariknya pulang.

Hyun Ah dan Min Ah lebih dulu masuk mobil dan diikuti Changmin. Changmin pun mengantarkan kedua gadis itu ke dalam dorm SG.

Dalam perjalanan, Hyun Ah mengajak Changmin untuk membicarakan Luna. “Luna benar-benar hebat malam ini. Tidak percuma kita menontonnya,” puji Hyun Ah. Changmin diam.

“Untung tadi kita sempat menemui dan memberinya selamat. Itu pasti menambah semangatnya,” tambah Hyun Ah.

“Bagaimana ucapan selamat dari kita bisa menambah semangat untuknya?” tanya Min Ah bingung.

Hyun Ah menatap Changmin tanpa berkedip. “Karena orang yang disukai Luna datang untuk memberi semangat. Iya kan, Oppa?” tanya Hyun Ah dengan polos tapi mengancam.

Changmin tidak dapat menahan emosinya lagi. Dia meledak. “Kau benar-benar jahat, Hyun Ah! Bisa-bisanya kau bilang begitu pada Luna. Ia pasti sedih sekarang!” seru Changmin marah.

Min Ah kaget. Ia memojok di jok belakang sedangkan Hyun Ah tetap tenang. Ia justru tersenyum pada Changmin.

“Jangan merasa hanya aku yang jahat. Masa kau lupa kau telah menipuku, Changmin? Apa itu tidak jahat, Shim Changmin? Bisa kau bayangkan betapa sakitnya aku saat itu?” kata Hyun Ah dengan ringan tapi nada yang menusuk.

Changmin terdiam. Ia benar-benar mati kutu dibuat Hyun Ah. Dirinya tidak bisa melawan karena apa yang dikatakan Hyun Ah benar dan justru menjebloskannya ke dalam situasi seperti ini.

Hyun Ah tersenyum puas. Akhirnya ia bisa sedikit memberikan syok terapi pada Changmin. Changmin tidak pernah menyangka gadis sekalem Hyun Ah bisa berubah menjadi tajam dalam keadaan tertentu, terutama jika Hyun Ah sedang menjaga kepunyaannya.

Min Ah masuk lebih dahulu ke dalam dorm dan meninggalkan Hyun Ah bersama Changmin.

Hyun Ah mencium Changmin lalu meninggalkan pesan serius. “Dengar, aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu. Kalau aku tidak bisa memilikimu maka Luna juga tidak bisa. Aku tidak peduli perasaan kalian. Kau yang membuatku seperti ini, Oppa, jadi bertanggung jawablah,” kata Hyun Ah lalu masuk ke dalam dorm.

Hyun Ah langsung menemukan Yong Hwa yang sedang membaca buku di kamarnya dan memeluk saudara kembarnya itu dengan erat. Hyun Ah menghela nafas panjang. “Changmin pasti akan jatuh ke pelukanku, Oppa. Aku yakin itu,” kata Hyun Ah.

“Bagaimana kau bisa begitu yakin?” tanya Yong Hwa.

“Aku telah bicara padanya. Apapun yang terjadi, dia tidak akan bisa lepas dariku,” jawab Hyun Ah.

“Apa yang telah kau lakukan padanya, Hyun Ah?”

“Sedikit tekanan mental,Oppa. Aku buat dia merasa bersalah padaku.”

“You’re so evil, Hyun Ah.”

“He deserve it.”

Hyun Ah tersenyum. Yong Hwa tahu arti dari senyum itu : Hyun Ah akan berusaha mati-matian untuk mendapatkan apa yang dia inginkan meskipun harus membunuh apapun yang menghalanginya.

Yong Hwa mengelus-elus kepala Hyun Ah sambil tersenyum. “Sudah lama aku tidak melihat Hyun Ah yang seperti ini. Hebat sekali si Changmin itu bisa membangkitkan sisi Hyun Ah yang menakutkan,” ucap Yong Hwa.

 

To be continued

@gyumontic