Akhirnya selesai juga FF ku ini.. yeay!!!

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Song Hyejin, Kang Hamun

Enjoy!🙂

 

Kyuhyun POV

Kedua gadis itu berjalan ke arahku sambil berbincang. Gadis yang lebih muda menyapaku begitu melewatiku, “Annyeong, oppa.” Aku tersenyum dan membalasnya, “Annyeong, Hamun-ah.” Namanya Kang Hamun. Kakak sepupunya, Song Hyejin, berjalan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun meski kami saling mengenal. Aku tidak tahu kenapa ia begitu membenciku.

 

Hyejin POV

Lagi-lagi adik sepupuku ini bertanya hal yang sama setiap kami bertemu dengan pria-yang-tidak-mau-aku-dengar-namanya, “Unni, kenapa kau tidak menyapa Kyu oppa?”

Aku hanya tersenyum masam. “Aku sudah ribuan kali menjelaskannya. Kenapa kau masih tanya? Sudah, masuk kelas sana. Aku duluan,” ujarku lalu masuk ke dalam kelas. Kelas yang sudah penuh dan hanya menyisakan satu tempat duduk untukku. Aku duduk dengan tenang sampai pemilik tas yang ditaruh tepat di bangku di sebelahku datang. Pria-yang-tidak-mau-aku-dengar-namanya-apalagi-duduk-di-sampingnya. Aku hanya bisa menghela nafas panjang berharap kelas ini cepat berlalu. Aku tidak mungkin lari karena dosenku sudah lebih dulu masuk.

 

Hamun POV

Aku datang menjemput Hyejin unni ke kelasnya begitu kelasku selesai. “Hyejin unni, ayo kita pulang!” seruku sambil berlari ceria menghampirinya. “Pulang? Bukankah kita ada syuting?” tanyanya sambil membereskan buku-buku kuliahnya.

“Iya, maksudku kembali syuting,” jawabku sambil menyengir.

Kyu oppa, yang ternyata berdiri di sebelah Hye unni, mengelus-elus kepalaku. “Semangat ya, Hamun. Good luck!” ucapnya lalu keluar dari kelas.

“Cih!” desis Hye unni kesal. Aku hanya tersenyum. “Kau cemburu kan, unni?” tanyaku menggodanya.

“Tidak. Jangan harap,” jawabnya dengan tegas.

“Tadi duduk semeja dengan Kyu oppa bagaimana rasanya? Menyenangkan bukan?” tanyaku lagi diiringi senyum jahilku.

Hye unni tidak menggubrisku. Dia berjalan meninggalkanku.

“Unni, tunggu!” seruku sambil berlari mengejarnya. Aku sampai terengah-engah karenanya.

 

Kyuhyun POV

Duduk di perpustakaan dengan setumpuk buku untuk menunjang risetku adalah hal favoritku untuk beberapa hari belakangan ini. Dan itu terasa lebih menyenangkan jika tidak ada yang tiba-tiba datang hanya untuk bertanya sesuatu yang tidak ada sangkut pautnya denganku. “Kyu, apa Hye sudah pulang?” tanya Siwon, temanku dan juga lawan main Hyejin.

“Sudah,” jawabku singkat tanpa mengalihkan perhatianku dari risetku.

“Dia pulang ke rumah atau lokasi syuting?” tanyanya lagi.

“Aku tidak tahu. Aku bukan baby sitter si gadis kerempeng-jutek-menyebalkan itu jadi jangan tanya apa-apa lagi tentang dia,” tukasku.

“Yaaa, jangan emosi. Aku kan hanya bertanya. Jeongmal gomawo, Kyu,” ucap Siwon lalu meninggalkanku.

Gara-gara Siwon, aku jadi teringat betapa menyebalkannya Song Hyejin. Dia duduk semeja denganku tapi sama sekali tidak menganggapku. Satu interaksi pun tidak terjadi di antara kami meski aku sudah berusaha memulainya lebih dulu. 

Siwon POV

Aku sampai di lokasi syuting dan melihat Hye sedang menghafalkan script sedangkan Hamun masih ribet dengan make-up nya. “Hyejin ah!” seruku sambil berjalan menghampirinya.

“Oppa!” balasnya sambil melambai-lambaikan tangannya dengan ceria.

Aku duduk di sampingnya dan mulai bersuara, “Hari ini episode terakhirmu ya?”

“Eum,” jawab Hye sambil menganggukkan kepalanya. “Aku mau fokus kuliah dulu, Oppa.”

“Lalu kalau aku kangen padamu gimana dong? Di kampus kan kita jarang ketemu,” godaku yang langsung membuat Hye tertawa dan menjitakku. “Yaaa!” seruku sebagai tanda protes.

“Oppa, oppa. Jangan sok manis padaku. Aku tahu siapa yang paling kau rindukan,” ujarnya sambil tersenyum.

“Siapa?” tanyaku.

Hye mengedikkan kepalanya ke arah Hamun sambil tersenyum mengatakan ‘aku tahu semuanya, akui saja’. Aku hanya tersipu malu dan pura-pura mengancamnya, “Awas kalau ada yang tahu! Aku bersumpah Kyu akan jadi milikmu!”

“Andweeeee!”

 

Hamun POV

Aku melihat Hye unni dan Siwon oppa sedang berbincang riang dan mesra seperti biasa. Seperti biasa pula, aku cemburu melihatnya. Sungguh tidak baik untuk kesehatan.

“Hamun-ah, kau melihat apa? Siwon dan Hyejin ya?” tanya stylist ku yang rupanya menangkap arah pandangan mataku. Aku jadi salah tingkah. “Mereka cocok ya? Tidak hanya di layar kaca. Andai mereka jadi pasangan di dunia nyata,” lanjut stylist ku yang membuatku ingin menjahit mulutnya agar tidak sembarangan berkomentar.

Hapeku tiba-tiba bergetar karena ada sms masuk. Aku pun segera membalasnya.

 

Kyu POV

Ok oppa. Datang saja ke apartemen kami nanti jam 10 atau 11 malam ya. Kau tahu alamatnya kan? See you!

Itu adalah sms balasan dari Hamun atas sms ku yang minta waktu untuk wawancara dengan mereka untuk risetku. Ya mereka, Hamun dan si gadis kerempeng-jutek-menyebalkan-plus-angkuh Song Hyejin. Jujur, ini bagian tidak terfavorit untukku tapi demi riset dan beasiswa S2 ku, apa daya. Perbedaan gaya hidup artis muda yang sedang naik daun antara sebelum dan sesudah menjadi artis, harus bisa mendatangkan full scholarship untukku!

 

Hyejin POV

Siwon oppa mengantarkan aku dan Hamun dengan selamat sampai di apartemen kami. Aku memilih untuk naik duluan karena aku sudah terlalu lelah. Aku ingin segera bertemu tempat tidurku. Hanya saja mood tidurku hilang seketika saat melihat pria-yang-untuk-mendengar-namanya-saja-aku-malas-apalagi-melihatnya sedang berdiri di depan kamar kami sambil membawa beberapa buku.

Aku sadar kami sempat bertatapan beberapa detik sebelum aku membuang wajah dan masuk ke dalam kamar. Aku membiarkannya tetap di luar. Rasakan!

Aku mendengar suara riang Hamun yang sedang melayani pria itu. “Ayo Kyu oppa silahkan masuk. Aku ambilkan minum sekalian panggil unni ya? Duduk saja dulu. Anggap rumah sendiri. Hihihi.”

Aku segera menutup seluruh tubuhku dengan selimut dan pura-pura tidur. “Unni, Kyu oppa datang untuk mewawancarai kita. Ayo bangun dan temui dia,” ucap Hamun.

Aku tak bereaksi tanda aku sudah terlelap, meski itu pura-pura. “Unni, aku tahu kau belum tidur. Ayo bangun dan temui Kyu oppa,” ucap Hamun memaksa. Untuk pertama kalinya aku ingin melempar Hamun keluar dari jendela kamarku di lantai 11 ini.

Dengan bersungut-sungut aku bangun dan menemui pria-yang-aaaakh!-kalian-tahulah.

 

Kyu POV

Hyejin muncul dengan baju yang dia pakai saat tadi aku melihatnya. Rupanya dia belum ganti baju. “Waktumu 3 menit dan jangan buat aku berubah pikiran,” ujarnya ketus.

“Baiklah, aku akan mengajukan kira-kira 20 pertanyaan. Aku harap kau bisa membantuku dengan…”

“2 menit 15 detik lagi,” potongnya.

“Aku harap kau mau menjawabnya. Pertama…”

“1 menit 50 detik.”

Untuk kedua kalinya, dia memotong ucapanku. Aku sudah muak. Kututup buku-buku dan notesku dengan kasar lalu memandang sinis pada gadis di hadapanku ini. “Aku tidak perlu wawancara dengan artis sok sepertimu. Gaya hidupmu jelas berubah! Kau bukan Song Hyejin-ku yang manis, ramah dan hangat seperti dulu. Permisi!” ucapku marah lalu keluar dari apartemennya. Aku sudah benar-benar muak padanya.

 

Hamun POV

Aku memandang Hye unni yang sedang berjalan memasuki kamarnya. Dari langkahnya, aku tahu ia tidak fokus. Aku menatap matanya yang sedang menahan air mata agar tidak meluap. Tubuhnya bergetar berusaha menguatkan dirinya sendiri. Aku tidak tega melihatnya tapi aku tidak mau ikut campur. Aku takut semakin memperkeruh masalah.

 

Siwon POV

“Kyuuuu!” seruku begitu melihatnya sedang asik berkutat dengan risetnya di lobby kampus. Kyuhyun hanya menoleh ke arahku sejenak dan melanjutkan kesibukannya. “Kau tidak masuk kelas, Kyu? Dosen kita akan datang sebentar lagi,” tanyaku.

“Iya sebentar lagi. Kau duluan saja,” jawab Kyu sambil membereskan bahan-bahan risetnya.

“Ah, kita bareng saja! Ayo,” balasku sambil membantunya membereskan secepat kilat. Tidak sampai 3 menit, aku dan Kyu sudah bertengger di depan kelas.

Aku masuk dan melihat Hye dengan mata bengkaknya duduk di barisan terdepan. Sendirian. Aku menghampirinya. “Kau baik-baik saja?” tanyaku cemas sambil memegang dahinya. “Aaah! Kau demam,” seruku begitu memegang dahi Hye yang panas.

“Aku baik-baik saja, oppa. Aku tak akan mati hanya karena demam,” ujarnya lemah yang tak lama kemudian sudah tidak sadarkan diri.

“Kyu! Hyejin pingsan!” seruku reflek begitu melihat Hyejin terjatuh. Hanya saja orang yang aku panggil sudah menghilang sebelum aku panggil.

 

Hamun POV

Di lokasi syuting. Aku tidak bisa tenang memikirkan Hyejin unni yang sedang tertidur di apartemen tanpa tahu dia sudah sadar atau belum tapi aku lebih tidak tenang melihat Siwon oppa yang santai-santai saja. “Siwon oppa, kenapa kau santai-santai saja? Hye unni kan sedang pingsan. Kau tidak cemas?” tanyaku.

Siwon oppa menggeleng. “Sudah ada ahli yang menanganinya. Kenapa harus cemas?” jawabnya dengan ringan.

Tanpa sadar, diperkuat dengan kelabilan emosiku saat ini, aku meninju wajah Siwon oppa yang tampan itu dengan tanganku sekuat tenaga. “Kau keterlaluan, Oppa! Hyejin unni sedang sakit dan kau masih bisa santai?! Hyejin unni, oppa! Hyejin unni! Gadis yang kau cintai!” teriakku penuh emosi. Mataku menatap tajam pada Siwon oppa.

Pria itu balas menatapku sambil memegang pipinya yang kena tinjuku. Aku heran karena ia lalu tersenyum. “Kau salah sangka, Hamun-ssi. Aku tidak pernah mencintai Hyejin apalagi sebaliknya. Kami berdua hanya teman,” jawabnya dengan lembut. “Kau tanya apa aku cemas? Aku sama sepertimu. Cemas, takut tapi aku sadar aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa. Lagipula aku yakin dokter bisa menanganinya lebih baik daripada kecemasanku. Tenang saja.” Siwon oppa lalu membelai-belai kepalaku sambil tersenyum. Cukup satu kata yang menggambarkan kondisiku saat ini : TERHENYAK.

 

Hyejin POV

Aku terbangun dan butuh waktu yang cukup lama menyadari apa yang terjadi. Aku berbaring dengan jarum infus di punggung telapak tangan kananku yang tersambung dengan infus yang bertengger tegak di samping tempat tidurku.

“Kau sudah sadar?” tanya pria-yang-tidak-ingin-kudengar-suaranya sambil membawa semangkok bubur. Aku menatapnya dengan sinis. “Aku berjanji akan angkat kaki begitu kau menghabiskan buburmu,” lanjutnya lagi.

Aku menatap bubur yang sudah ada di tanganku dan pria itu bergantian. “Aku tidak menaruh racun apapun di buburmu. Makanlah biar cepet sembuh,” katanya.

Aku memasukkan satu sendok bubur ke dalam mulutku tapi yang ada aku langsung muntah. Tanpa banyak komentar, ia membersihkan lantai kamarku yang terkena muntahanku. “Istirahatlah,” ujarnya.

Aku berbaring sambil memandangnya. Perasaan menyesal, merasa bersalah sekaligus keras hatiku mulai menghantuiku.

 

Hamun POV

Hyejin unni sedang tidur saat aku pulang sedangkan Kyu oppa sedang duduk ruang tamu kami mengerjakan risetnya. “Oppa, jeongmal gomawo sudah menjaga Unni daritadi. Maaf sudah sangat merepotkanmu,” ucap Hamun dengan tulus.

Kyu tersenyum dan mengelus-elus kepalaku dengan sayang, tidak berubah. “Please don’t mean it. Aku melakukannya karena itu memang tanggung jawabku. Remember?”

Aku mengangguk-angguk lalu memeluknya. Pikiranku terbayang pada masa beberapa tahun lalu dimana Kyu oppa membuat janjinya padaku. Aku tersenyum memandang pria-yang-sangat-bisa-aku-andalkan-ini.

“Mana Siwon? Katanya dia akan datang,” tanya Kyu oppa setelah aku melepas pelukanku.

Aku menaikkan alisku tanda heran. “Huh? Tadi Siwon oppa yang mengantarkanku pulang tapi dia tidak bilang apa-apa.”

“Oh,” ucap Kyu oppa lalu mengambil hapenya.

 

Siwon POV

Sambil menyetir, aku membuka sms yang baru saja sampai ke hapeku.

From : Cho Kyuhyun.

Yaaa Choi Siwon! Katanya kau mau datang! Mana? Aku tunggu-tunggu juga!

Secepat kilat, aku membalasnya. Mianhe Kyu. Aku belum siap jika hanya berduaan dengannya. Aku bisa mati kutu. Mian.

Tidak sampai 1 menit, sudah ada balasan dari Kyu. Cih, dasar pengecut. Terserah kau saja tapi ingat, dia bukan tanggung jawabku! Kekekekekekek.

Aku tertawa melihat smsnya lalu membalasnya lagi, Ne. Melihat kesigapanmu hari ini, aku tahu batas tanggung jawabmu. Kekekekek. Sudah ya, see u tom!

Aku menaruh hapeku ke jok di sampingku dan konsentrasi menyetir di jalanan yang entah kenapa larut malam seperti ini masih ramai.

 

Hyejin POV

Aku terbangun larut malam karena aku ingin pipis. Aku berusaha bangun tapi terasa sekali tubuhku masih lemah. Aku sama sekali tidak bertenaga. Pelan-pelan, aku bangkit menuju kamar mandi dan mengeluarkan hal yang mengganjal tidurku ini.

Saat aku mau kembali tidur, terdengar cekikikan Hamun dan tawa riang Kyu, maksudku pria-yang-ah, sudahlah.

“Kkkkk. Kyu oppa memang yang paling hebat. Saranghaeyo,” ucap Hamun dengan riang.

“Nado,” balas pria itu lalu tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menangis. Segala perasaan yang selama ini aku pendam meluap. Sayang, tidak ada sedikitpun rasa bahagia di dalamnya.

 

Hamun POV

Unni sudah tidak sadarkan diri lebih dari 5 jam. Tubuhnya sangat lemah. Dokter yang merawatnya merujuk agar Unni di-opname. Aku dan Kyu oppa pun segera membawanya ke RS dan mengurus rawat inap unni.

Kalau boleh jujur, Kyu oppa yang mengurus segalanya. Aku hanya bisa menangis kebingungan sambil menggenggam tangan Hye unni. “Unni, sadarlah. Cepat sembuh. Jangan biarkan aku sendiri seperti ini,” ucapku.

Kyu oppa memasuki kamar lalu menenangkanku, “Hamun, istirahat ya. Ini sudah jam 2 pagi. Aku janji nanti pagi kau bangun, unnimu sudah sadar.”

Aku menuruti perintahnya dengan pindah ke sofa dan tidur di sana dengan nyenyaknya. Hal terakhir yang aku lihat, Kyu oppa mengusap kepala unni dengan lembut dan mengecupnya dalam. “Cepat sembuh ya, sayangku. Aku merindukanmu. Meski kau tidak pernah menganggapku tapi itu lebih baik daripada kau terbaring di sini,” bisik Kyu oppa.

 

Siwon POV

Aku masuk ke dalam ruang rawat Hyejin sambil membawa sekeranjang coklat, yang tentu bukan untuk si pasien melainkan adiknya yang chocoholic itu. “Aigoo, manis sekali,” gumamku begitu melihat Hamun yang tidur begitu nyenyak di sofa.

Kyu yang rupanya sudah bangun langsung menegurku, “Kau sudah datang rupanya. Aku titip mereka berdua ya. Kalau ada apa-apa dengan Hye, langsung panggil dokter. Aku serahkan semuanya padamu, untuk SEMENTARA.”

Aku tersenyum memamerkan deretan gigiku yang putih, tanda aku mengerti. Dengan terburu-buru, Kyu keluar meninggalkan kami. Dia harus mengumpulkan risetnya sebelum jam 9 pagi. Sekarang, jam 08.45.

 

Hamun POV

Aku terbangun dan mendengar suara seorang perempuan dan laki-laki yang sedang berbincang dan tertawa-tawa. Aku menoleh kepada sumber suara, Siwon oppa dan Hye unni. Andai Hye unni belum sadarkan diri. Ah!

“Hamun kau sudah bangun rupanya. Sini! Lihat apa yang dibawa Siwon oppa untukmu,” panggil Hye unni sambil memegang sekeranjang chocoball favoritku.

“Coklat!” seruku senang sambil mengambil keranjang itu tapi tidak sampai sedetik aku mengembalikannya lagi pada unni. “Siwon oppa membawakannya pasti untuk unni tapi karena unni tidak boleh makan jadi diberikan untukku,” ujarku dengan sedih.

“Aniya. Itu dark chocoball aku belikan khusus untukmu,” kata Siwon oppa dengan mulutnya sendiri.

“Jeongmal?” tanyaku.

Siwon oppa menganggukkan kepalanya dengan mantap. Tanganku segera merebut kembali coklat-coklat itu dari tangan Hye unni. “See? Kalau Siwon oppa mau membelikanku, dia pasti sudah beli yang milk choco. Dasar bodoh!” ujar Hye unni tanpa aku peduli. Aku terlalu senang mendapat coklat dari Siwon oppa, pria yang selama ini aku cintai.

Sesak memang melihatnya tertawa-tawa dengan gadis lain, apalagi unni ku sendiri, tapi kalau itu mendatangkan kebahagiaan untuk Hye unni aku rela. Meski katanya mereka hanya teman, aku tidak percaya.

Aku asyik dengan coklatku sampai tidak sadar suara riang dan tawa sudah raib dari kamar ini. “Maaf mengganggu. Aku hanya ingin mengambil barangku yang tertinggal. Permisi,” ujar Kyu oppa sambil mengambil buku-bukunya yang tertinggal lalu keluar.

Poor you, oppa. Mianhe. Aku merasa kasihan padanya tapi rupanya aku harus mengasihani diriku sendiri. “Hamun-ah, bisakah kau meninggalkan aku dan unni mu berdua saja? Kami perlu bicara,” ujar Siwon oppa padaku.

Aku mengangguk lalu berjalan keluar kamar. Cukup sampai 1 cm di luar kamar. Aku tidak bodoh. Kalian boleh mengusirku tapi aku tetap harus tahu apa yang kalian lakukan. Aku memasang telinga dan mataku tajam-tajam.

 

Siwon POV

Aku berjalan mondar mandir di dalam kamar sambil terus mengomel, “Yaa Song Hyejin! Aku rasa kau sudah gila! Kyu itu yang kelimpungan merawatmu semenjak kau pingsan di kelas sampai tadi malam kau masuk rumah sakit. Dia yang sampai menomorduakan risetnya hanya demi kau tapi kau malah bersikap buruk padanya. Gila kau!”

Hyejin terdiam. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya dan aku tidak peduli. Aku terus mengomel. “Kalau nanti kau bertemu lagi dengannya, kau harus minta maaf!”

“Tidak akan!” seru Hyejin dengan kencang sampai memekikkan telingaku. Detik berikutnya, ia sudah tidak sadarkan diri lagi.

 

Hyejin POV

Aku rasa aku sedang bermimpi tapi aku ingat pernah mengalami kejadian ini. Di malam yang penuh salju, aku duduk sendirian menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku di tempat ini tepat jam 7 malam. Tapi sampai jam setengah 9 pun, batang hidungnya belum muncul sedangkan aku semakin menggigil kedinginan.

Aku membuka hapeku untuk menghubunginya tapi aku mengurungkan niatku. Aku akan menunggunya sebentar lagi. Sambil menunggu, aku membaca sms yang dia kirimkan padaku tadi pagi.

Hyejin-ah, nanti jam 7 malam temui aku di Seoul tower ya. Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tunggu aku ya. *Hyejin-ah, aku deg-degan. Apa kau juga? Hihihi.*

Aku tersenyum sendiri membaca sms itu dan merasa jantungku berdebar kencang. “Aku juga deg-degan, Kyu. Cepatlah datang,” bisikku.

Aku menunggu sampai jam 9 dan tersenyum bahagia saat mendengar suaranya tidak jauh dari tempatku. Aku mendekati suara itu lalu sembunyi. “Maaf, aku sudah terlambat menemui temanku,” ujar Kyu pada seseorang, gadis imut dan seksi yang bergelayut manja padanya.

“Kau ingin menemui siapa sih? Gadis kerempeng yang dada saja dia tidak punya itu? Aku jauh lebih seksi darinya,” tanya gadis itu sambil merapatkan tubuhnya ke Kyu. Untuk ukuran bodi, aku memang kalah telak dengannya. Apalagi urusan dada.

Kyu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kapan-kapan kita bertemu lagi ya,” ujar Kyu kepada gadis itu dengan lembut.

“Janji ya? Aku akan meneleponmu nanti,” sahut gadis itu lalu mencium bibir Kyu. “Sampai jumpa.” Gadis itu pergi meninggalkan Kyu sedangkan Kyu pergi menuju tempat kami janjian. Aku? Aku berdiam di tempat persembunyianku menahan tangis, amarah dan sakit hati yang menguras jiwaku. Aku ingat, sejak saat itu aku tidak mau mendengar namanya apalagi melihat wajahnya.

 

Kyu POV

Aku melihat matanya mulai terbuka. Dia sudah sadar. Aku menghela nafas lega. Aku tidak tahan lagi mendengar racauannya yang sangat menyakitkan. Aku ingin menjelaskan semuanya kepada Hye mengenai apa yang terjadi di malam tahun baru 4 tahun yang lalu.

“Mana Hamun dan Siwon oppa?” tanya Hyejin begitu melihatku.

“Mereka syuting. Maaf hanya aku yang menemanimu,” jawabku. Hye tidak berekspresi. Dia malah memalingkan wajahnya. Air mata mengalir deras di pipinya.

Aku merengkuh wajahnya agar menatapku. “Mianhe. Maafkan aku atas kejadian 4 tahun lalu,” ucapku.

“Kejadian apa?” tanyanya dingin. Aku tahu dia pura-pura lupa. Aku tidak mempermasalahkannya. Aku terus bicara.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama di Seoul tower. Aku…”

“Jangan membuka masa lalu yang tidak mau aku ingat,” potongnya.

“Waktu itu aku terlambat karena harus menemani Sunmi, gadis yang dijodohkan denganku, jalan-jalan. Kalau tidak dituruti, dia pasti akan mengadu pada ibuku dan aku tidak akan…”

“Aku bilang aku tidak mau membahasnya lagi.”

“Aku mohon jangan memotong pembicaraanku sebelum aku selesai.”

Hye menarik wajahnya dari tanganku dan memalingkannya.

“Aku mencintaimu, Song Hyejin. Dari dulu sampai sekarang, belum berubah. Aku masih mencintaimu dan hanya kau!”

Hye tidak bergeming.

“Waktu itu aku memintamu bertemu di Seoul tower untuk mengatakan hal ini. Bodoh sekali aku menyia-nyiakannya. Mianhe.”

 

Hyejin POV

Air mataku mengalir semakin deras. Aku begitu lega mendengar segala penjelasannya. Sakit hatiku selama ini lenyap begitu mudahnya. Kyu merengkuh lagi wajahku dengan tangannya, menariknya menghadap wajah tampannya, wajah yang selama ini sangat mengusikku. Wajahnya semakin dekat. Bibir kami pun bersatu.

Dia menciumku sambil menghapus air mataku. “Saranghae. Saranghae. Saranghae,” bisiknya berkali-kali. Aku sudah bisa tersenyum sekarang. Tanganku memeluk punggung dan belakang kepalanya.

“Jangan membuat kebodohan lagi. Aku tak akan memaafkanmu,” ucapku.

 

Kyu tersenyum lalu kembali menciumku. Tanganku menekannya semakin dalam seolah tidak mau membiarkannya pergi. Tanpa aku sadari, Kyu sudah naik ke tempat tidurku dan berada di atas tubuhku. “I’m yours,” ucapnya menggoda. Ya, kami melakukannya. Di RS. Siang-siang bolong. Tanpa merasa berdosa. Aku hanya bisa merasakan kehangatan dan kenyamanan yang luar biasa dari tubuh Kyu yang mendekap tubuhku erat. Tidak ada yang lain.

 

Five years later…

 

Hamun POV

Kegugupanku semakin hari semakin menjadi. Pernikahanku seminggu lagi tapi aku tidak tahu sudah sejauh apa persiapan acara pernikahanku. Aku bahkan baru akan fitting gaun pernikahanku hari ini. “Unniii! Dimana kau? Cepat kemari! Kita harus fitting baju sekarang!” teriakku melalui telepon, dengan panik.

“Ne, ne. Sabar ya, Hamun. Aku masih di jalan,” jawab Hyejin unni.

“Cepat ya, unni.” Aku menutup telepon dengan tidak sabar. Duduk di butik dengan tidak tenang. Ini semua gara-gara jadwal syutingku yang super padat. 24 jam seminggu!! Parah. Tambah lagi aku sudah hampir dua minggu tidak bertemu calon suamiku hanya karena dia sedang syuting di luar negeri. Untung dia janji akan menemuiku di sini. Oh Siwon oppa, cepatlah datang.

Hatiku sedikit lega ketika melihat Hye unni dan seorang anak perempuan di seberang butik, memanggil namaku sambil melambaikan tangan mereka. “Unni, ppaliwa!” seruku.

 

Hyejin POV

Aku masuk ke dalam butik bersama seorang anak perempuan yang menggenggam tanganku dengan erat. “Unni! Jihyun!” seru Hamun dengan senyum penuh kelegaan lalu menggendong Jihyun.

“Aunty!” balas Jihyun dengan suara imutnya dan mengecup pipi kiri Hamun.

“Aigoo, lucu sekali dirimu, Jihyun-ah. Minggu depan dandan yang cantik ya. Aunty sudah siapkan gaun yang cantik untuk Jihyun,” ujar Hamun dengan gemas.

“Ne, aunty. Kamsahamnida. Jihyun pasti dandan yang cantik. Iya kan, umma?” ucap Jihyun.

“Ne. Jihyun akan jadi yang paling cantik nanti,” jawabku sambil mengambil alihnya dari Hamun. “tapi Jihyun duduk dulu di sini ya. Umma mau fitting baju buat pernikahan Hamun aunty. Appa dan oppa akan datang sebentar lagi. Sabar ya.”

Jihyun mengangguk-anggukan kepalanya lalu duduk dengan manis. Aku dan Hamun segera fitting gaun. Aku mencoba gaun yang khusus dijahit untukku sesuai dengan ukuran yang aku kirimkan ke Korea tapi gaun ini terasa sempit. Aku menemui kenyataan pahit : AKU MENGGEMUK!

 

Siwon POV

Aku duduk bersama Kyu, Kihyun dan Jihyun di depan dua fitting room yang sedang diisi oleh dua orang wanita. “Aunty, you are very beautiful!” puji Kihyun dengan bahasa inggrisnya yang fasih, maklum sejak lahir dia tinggal di Amerika, saat Hamun keluar dari fitting room.

“Thank you,” balasku sambil mengacak-acak rambut Kihyun. Mataku tidak berpaling dari Hamun yang memang sangat cantik dengan gaun pengantin itu.

“Thank you, Kihyun-ah,” ucap Hamun diiringi senyumnya yang mulai tampak keibuan. Haish, pikiranku mulai tidak karuan memikirkan Hamun.

Untung Hamun menyuruh kami, para laki-laki, pergi duluan karena mereka, para wanita, mau ke salon setelah selesai fitting. Aku dan Kyu, minus Kihyun yang lebih memilih bersama ummanya, pun memisahkan diri. Kami menuju kafe terdekat. Aku harus cerita panjang lebar pada Kyu, yang sudah melewati masa ini lebih dulu.

 

Kyu POV

Aku tersenyum geli melihat Siwon yang tampak panik menghadapi pernikahannya. “Kau kenapa? Tampak tegang sekali,” tanyaku ingin tahu lebih dalam. Aku mengerti perasaannya saat ini karena aku pun merasakan hal yang sama ketika akan menikahi Hyejin lima tahun yang lalu.

“Aku takut salah membuat keputusan, Kyu. Aku takut jika bersamaku malah membuat Hamun tidak bahagia,” ujar Siwon cemas. Tepat seperti dugaanku.

“Awalnya kalian jadian bagaimana sih?” tanyaku berusaha membangkitkan kenangan indah antara mereka berdua. Satu-satunya cara yang tepat untuk membuatnya tidak ragu lagi. Siwon membuka mulutnya dan mulai bercerita.

 

Siwon POV

Aku menceritakan kepada Kyu dari awal aku bertemu Hamun. Aku memutar memoriku. Waktu itu aku sedang meeting dengan seluruh tim drama dimana aku dan Hyejin menjadi pemain utamanya. Aku sedang latihan naskah dengan Hyejin saat Hamun tiba-tiba masuk dengan nafas tersenggal-senggal. “Mianhamnida aku terlambat,” ucapnya diiringi senyum cerianya.

“Yaa, Kang Hamun! Haish, sudah duduk sana. Cepat pelajari naskahmu!”

“Ne,” Meski sutradara sedikit membentaknya, Hamun tetap tertawa ceria seolah tidak terjadi apa-apa. Dia duduk dan mempelajari naskahnya. Entah mengapa, aku ingin sekali Hamun yang menjadi lawan mainku. Aku terus memperhatikannya.

“Oppa, kenapa kau memperhatikan dongsaengku seperti itu?” tanya Hyejin yang menangkap basah aku. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku, salah tingkah. “Tidak apa-apa, dongsaengmu itu sangat menarik.” Aku terlalu terpesona pada Hamun sampai tidak sadar. “APA KAU BILANG SONG HYEJIN? DONGSAENGMU?!”

Hyejin mengangguk diiringi senyum jahilnya. “Aku paham, Oppa. Mau aku bantu?” tanyanya. Ya, dialah orang pertama yang mengetahui perasaanku yang sesungguhnya pada Hamun. Setiap hari aku mengobrol dengan Hyejin hanya untuk membahas Hamun dan hal-hal kecil lain seperti syuting. Karena itu, Hamun jadi salah paham. Ia menganggap aku dan Hyejin saling menyukai. Parahnya, ternyata dia juga menyukaiku. Bodoh sekali. Huh!

Semuanya baru jelas ketika Hyejin memutuskan untuk ikut dirimu ke Amerika, Kyu. Hamun terbengong-bengong menatap Hyejin ketika Hyejin menceritakan semuanya. “Unni, jangan bercanda. Tidak mungkin Siwon Oppa suka padaku!” seru Hamun ketika Hyejin mengatakan bahwa yang sebenarnya aku sukai adalah dirinya. Ini cerita yang aku dapat dari Hyejin.

Singkat cerita, kalian pergi ke Amerika meninggalkan Hamun padaku. Aku yang sudah berjanji pada Hyejin akan menjaga Hamun otomatis menjadi lebih dekat dengannya. Tanpa kami sadari, kami sudah tidak bisa lepas satu sama lain. Akhirnya, aku melamarnya dua bulan lalu.

 

Kyu POV

Aku tahu betul kronologis kisah cinta Hamun dan Siwon dari hari ke hari. Bagaimana tidak? Setiap hari, Hamun pasti akan melaporkan perkembangan hubungannya dengan Siwon kepada Hyejin. Setelah itu, Hyejin akan menyampaikannya kepadaku. Tapi lebih baik aku pura-pura tidak tahu.

“Selama ini kalian berdua bahagia kan?” tanyaku. Siwon mengangguk. “Kalau begitu tidak usah takut. All is well. Nothing to worry.”

“Masalahnya, akhir-akhir ini Hamun sering sekali marah-marah. Apa yang aku lakukan selalu saja salah,” ujar Siwon.

“Itu karena dia merasa excited! Tenanglah. Easy,” balasku.

“Semoga saja begitu,” sahut Siwon.

Tiba-tiba seorang gadis cantik menghampiri meja kami. Tampaknya dia kenal dengan Siwon. “Siwon-ah?” Tanya gadis itu pada Siwon.

“Ne,” jawab Siwon lalu bersorak senang. “Seohan-ya!!! Kapan kau kembali dari Jerman? Aigoo, cantik sekali dirimu….”

Gadis yang bernama Seohan itu tersipu malu. Aku memandang mereka berdua sebentar lalu beralih ke buku-bukuku. Aku membaca sambil mendengarkan pembicaraan mereka. Rupanya Seohan adalah pacar Siwon waktu SMA. Mereka sangat akrab. Terlalu akrab, menurutku.

Aku berharap Hamun tidak akan dating menemui kami sebelum gadis ini pergi tapi rupanya harapanku sia-sia. Hamun sudah lebih dulu melangkahkan kakinya. Melakukan sesuatu di luar dugaanku.

 

Hamun Pov

 

Aku melihat gadis itu mengelus pipi Siwon oppa dengan lembut. Siwon oppa pun tersenyum lalu memegang tangan gadis itu. Aku cemburu. Aku emosi. Aku masuk ke dalam kafe dan langsung menarik gadis itu menjauh dari Siwon oppa, dengan cara menjambaknya. “Aaakh!” pekik gadis itu kesakitan tapi aku tidak peduli.

“Pergi kau dari sini!” teriakku. Gadis itu pun segera angkat kaki dengan tampang penuh kebencian padaku.

Aku tidak tahu siapa dia yang pasti dia harus jauh-jauh dari calon suamiku. Hanya saja aku tidak memperhitungkan risikonya. “Kau keterlaluan Hamun!” bentak Siwon oppa lalu mengejar gadis itu. Aku sungguh tidak menyangka. Aku terduduk lemas di kursi yang tadi diduduki Siwon oppa. Kepalaku terkulai lemah di atas meja.

“Aunty, why do you cry? Don’t cry. I am here,” ujar Kihyun sambil membelai-belai punggungku dengan tangan kecilnya.

“Aunty, Jihyun juga disini. Jangan sedih,” hibur Jihyun.

Aku menatap mereka berdua lalu memeluk mereka. Aku menangis sejadi-jadinya. Siwon oppa meninggalkanku di hari seminggu sebelum kami menikah.

 

Hyejin POV

Aku menatap Kyuhyun dengan putus asa. “Bicaralah dengan Siwon. Aku tidak tega melihat Hamun,” ujarku memohon. Kyu menggenggam tanganku. “Sabar ya, sayang. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat. Tenang ya,” ucapnya. Aku menghela nafas cemas.

Aku masuk kamar Hamun dan melihat dia tertidur sambil menangis. Aku mendekatinya dan mengelus kepalanya. “Sabar ya Hamun. Aku tahu Siwon sangat penting untukmu. Aku janji dia akan kembali. Jangan menangis lagi, sayang.” Aku terus mengelusnya sampai aku ikut tertidur di sampingnya.

 

Siwon POV

Aku masih marah dan menyesali perbuatan Hamun kemarin. Hamun mencoba menghubungiku tapi selalu aku tolak. Begitu juga dengan Kyu dan Hyejin. Baiklah, aku memang kekanak-kanakan.

 

Hamun POV

Siwon oppa benar-benar meninggalkanku. Teleponku ditolaknya terus. Aku betul-betul tidak ada harapan lagi. Kyu oppa dan Hye unni berjanji membantuku tapi aku sudah pasrah. Aku hanya bisa berdoa semoga Siwon oppa tidak membatalkan pernikahan kami.

 

Siwon POV

Frustasi mulai melingkupiku. Cuti yang aku ambil dalam rangka mempersiapkan pernikahanku ternyata justru menyiksaku. Aku tidak berbuat apa-apa kecuali nonton tivi, internetan, dan berita tentangku dan Hamun yang mulai tercium publik. “Aaaargh! Kenapa jadi begini?!” seruku sambil membanting tubuhku ke tempat tidur.

Bel apartemenku berbunyi, aku bangun untuk membukakan pintu. Kyu dan Hye berdiri di hadapanku,membuatku semakin gila.

“Apa kau tak bisa memaafkan Hamun, Siwon ah? Setiap hari ia hanya mengunci diri di kamar. Menangisi kebodohannya,” tanya Hyejin pelan. Aku tahu dia sudah hampir sama frustasinya denganku. “Dia menyesal, Siwon-ah. Dia melakukan itu karena dia cemburu. Dia takut kehilangan dirimu. Itu sindrom menjelang pernikahan. Aku mohon maafkan dia.”

“Aku sudah memaafkannya,” jawabku ragu. Aku saja tidak tahu aku marah betulan atau tidak.

“Lalu kenapa kau masih mengabaikan semua telepon dari Hamun? Besok itu kalian akan menikah tahu. Sadar tidak?” Nada suara Kyu mulai meninggi.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” tantangku. Demi kepalaku yang rasanya mau pecah, aku betul-betul kekanak-kanakan! Tidak seharusnya aku begini.

Kyu menghela nafas panjang menahan emosinya menghadapi aku. “Baiklah. Kalau kau memang masih ingin menikah dengannya, tunjukkan dengan gentle. Jangan harap aku akan menyerahkannya padamu dengan mudah, Choi Siwon!”

Kyu menarik tangan Hye dan mengajaknya keluar dari apartemenku. Aku paham Kyu serius dengan perkataannya. Meskipun Hamun hanya sepupu iparnya tapi ia sudah menganggap Hamun seperti adiknya sendiri. Aku betul-betul cari masalah.

 

Hamun POV

Pantulan wajahku di cermin ini sungguh buruk. Mata bengkak, rambut berantakan, wajah kusam. Tidak layak untuk hidup sebenarnya. Cih! Kupandang jam dinding kamarku, kurang 8 jam dari pernikahanku tapi sampai saat ini tidak ada kejelasan. Sudahlah. Lebih baik aku kembali tidur dan lihat sajb apa yang terjadi nanti.

 

Siwon POV

Kurang 3 jam dari pernikahanku. Venue sudah siap. Pendeta, catering, tata rias bahkan keluargaku sudah mulai berdatangan. Aku melayani mereka satu per satu setulus mungkin tapi pikiranku tidak menuju ke mereka. “Hye, mana Hamun? Kenapa dia belum datang?” tanyaku cemas.

“Menurutmu?” sela Kyu dengan dingin. Aku paham maksudnya. Bodoh sekali aku mengharapkan Hamun mau menikah denganku padahal berbaikan pun belum. Aku memang pria aneh bin bodoh!

 

Hamun POV

“Whoooam.” Aku menguap sambil menggeliat-geliat. 08.30 pagi. Setengah jam menuju jadwal seharusnya pemberkatan nikahku. Masa bodoh dengan pernikahan. Aku tidak peduli lagi. Lebih baik aku tidur lagi, berharap hari ini berlalu cepat dan aku bisa hidup normal lagi mulai besok.

 

Siwon POV

TIDAK. Tidak. Tidak. Pernikahanku! Tidak. Tidak mungkin batal. “Akh! Kenapa tadi aku tidak sekalian minta kunci apartemen Hamun ke Hyejin! Haish!” teriakku dalam mobil yang aku kemudikan dengan kecepatan tinggi.

Aku sudah ke apartemen Hamun tadi tapi tidak ada yang membukakan pintu. Aku pun terpaksa kembali ke venue untuk meminjam kunci dari Hye. Itu saja sudah memakan waktu nyaris dua setengah jam! Setengah jam lagi menuju pernikahanku. Baiklah, lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Tidak menikahi Hamun-ku = BUNUH DIRI!

Aku masuk ke dalam apartemen Hamun dan langsung menuju kamarnya. Gadisku yang paling cantik itu masih meringkuk di bawah selimutnya. Hatiku lega sekaligus sedih.

 

Hamun POV

Aku merasa ada seseorang di belakangku. Dia sedang memelukku dengan erat. Siapa dia? Hatiku mencelos. Aku kenal pelukan ini. “Siwon oppa? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku tanpa berani melihatnya. Selain aku tidak mau menangis lagi, aku juga tidak mau melihat wajahku yang tidak layak hidup ini.

Siwon oppa membelai kepalaku dengan lembut. “Maafkan aku, Hamun-ah. Jangan tinggalkan altar pernikahan kita. Aku mohon tetap bersedialah menjadi istriku,” bisiknya dengan sendu. “Aku mohon maafkan aku yang sudah bersikap kekanak-kanakan ini. Maafkan aku.” Aku bahkan merasakan pundakku basah. Dia menangis. Aku pun ikut menangis. Melalui tangisan ini kami dapat saling memahami dan memaafkan.

Aku bersyukur sekali kami tidak jadi berpisah. “Tapi kita sudah terlambat, oppa. Aku bahkan belum bersiap sama sekali,” ucapku masih dalam pelukannya. Siwon oppa tersenyum lalu menciumku. “Aku punya beberapa pilihan. Kita pindah pernikahan ke sini atau kita ngebut ke venue sekarang juga. Aku tak berkeberatan jika foto pernikahan kita tampak kusam karena wajahmu itu,” ujar Siwon oppa tidak lupa dengan seringai jahilnya.

“Oppaaaa!” seruku gemas. Bagaimana mungkin aku menikah dengan wajah-tak-layak-hidup-ini. “Beri aku waktu 5 menit!” Aku pun segera bersiap. Aku akan segera menikah! Dengan pria yang paling aku cintai! 5 tahun aku menunggu saat ini, 5 menit hanya untuk dandan adalah masalah kecil. Hihihi. Welcome to marriage world, Kang Hamun!

 

.THE END.

@gyumontic