Oppaaaaa!” seru gadis itu dengan suara nyaringnya yang memekakan telinga. Dia menghambur masuk lalu memeluk Siwon hyung dengan mesra. Siwon hyung pun balas memeluk dan mengecup kening gadis itu. “Hai sayang,” sahut Siwon hyung. Aku mengalihkan pandanganku. Aku muak melihatnya. Tidak, aku tidak cemburu. Mereka itu kakak beradik, mana mungkin aku cemburu. Kalian sudah gila kalau menyangkaku cemburu. Aku hanya tidak suka melihat kedatangannya. Bukan hanya kedatangannya, aku juga tidak suka pada suaranya. Aku tidak suka gayanya yang sok imut dan manja itu, yang selalu dia tunjukkan kepada semua laki-laki. “Annyeonghaseyo, oppadeul!” sapanya kepada seluruh hyungku yang berada di dalam ruangan ini dengan centil. “Annyeonghaseyo, Hyejin-ah,” balas hyungdeul-ku dengan ramah. Berkebalikan denganku, semua hyung-ku di SJ ini menyukai nona muda bernama Choi Hyejin itu. Haish!!

Tiba-tiba dia datang menghampiriku. “Apa kabar, Cho Kyuhyun?” tanyanya. Wajahnya tampak ramah tapi tidak dengan suaranya yang terdengar dibuat-buat. “Baik,” jawabku singkat lalu berlalu meninggalkannya. Aku tidak mau berlama-lama bersamanya. Bisa sakit kepala nanti. Sialnya, dia mengejarku. “Kau masih membenciku?” tanyanya tanpa basa-basi. Aku diam. “Lalu kenapa menghindari aku terus?” tanyanya lagi. Tanpa menoleh sedikitpun aku menjawab, nyaris tanpa membuka mulutku, “Aku tidak membencimu. Aku hanya tidak suka.” Dia tersenyum manis sekali, yang membuatku makin tidak menyukainya. “Jeongmal gomawoyo, Kyuhyun-ssi,” ucapnya lalu meninggalkanku dan aku tidak suka itu. Kalian pasti bingung kenapa aku tidak menyukainya kan?

/flashback/

Hari itu Siwon hyung ulang tahun dan mengundang kami makan-makan di restoran milik Yesung hyung. “Saengil chukkahamnida. Saengil chukkahamnida,” kami menyanyikan lagu ulang tahun untuk Siwon hyung bersama-sama dengan para fans yang kebetulan sedang berada di restoran yang sama. “Cheers!” seru kami sebelum menegak wine. Tak sengaja aku melihat gadis itu datang, bersama kekasihnya. Gadis yang aku sukai selama bertahun-tahun, yang aku dekati tidak kalah lamanya dari perasaan sukaku dan yang menolakku mentah-mentah saat aku menyatakan perasaanku. “Maaf, aku tidak suka padamu. Kau bukan tipeku. Kau terlalu kekanak-kanakan. Aku rasa tidak ada yang mau denganmu,” katanya saat menolakku, dengan tajam. Cih!!

“Ngapain dia kesini?!!” batinku kesal. Gadis itu, dan pacarnya, berjalan mendekati Siwon hyung lalu memberikan ucapan selamat, “Saengil chukkae, oppa!”. Siwon hyung tersenyum lalu memeluknya. “Gomawo, nae dongsaengi,” balas Siwon hyung. Aku baru tahu saat itu mereka kakak beradik. Gadis yang bernama Choi Hyejin itu lalu menyapa kami semua dengan ramah dan manja sesuai ciri khasnya, kecuali untukku. Dia hanya menundukkan kepalanya sedikit lalu duduk bersama pacarnya di ujung meja.

“Hahahaha,” aku menertawai diriku sendiri. Betapa bodohnya aku menyukai gadis yang dari luarnya saja cantik.

Kenapa aku bilang begitu? Tampak luar, dia memang sempurna tapi setelah apa yang dia lakukan padaku, hah! Dia membuangku begitu saja, setelah banyaknya waktu yang kami habiskan berdua. Tidak ada maaf untuknya.

Aku memutuskan untuk melupakannya, untuk membencinya. Hanya saja Tuhan tidak memperbolehkan aku membenci seseorang. Gadis itu muncul lagi ke hadapanku tepat saat SJ comeback stage pertama di Mnet Countdown. “Akhirnya aku dibuang. Dia sudah memutuskanku,” ucapnya padaku dengan RIANG yang tentu saja membuatku bingung. Apa dia gila??

/flashback end/

“Kyu! Ppaliwa!” seru Leeteuk hyung memanggilku untuk berdoa bersama sebelum memulai SS4 pertama kami. Aku pun berdoa semoga konser ini berjalan sukses. “Oppadeul, hwaiting!” seru Hyejin memberikan semangat untuk kami tapi aku tidak peduli. Aku langsung bersiap di tempatku sementara yang lain mengelus-elus kepala gadis itu seperti anak kucing yang manja. Tsk! Aku tidak peduli. SS4 ini LEBIH PENTING!

Gadis centil itu bisa aku urus nanti. Kalau ss4 ku kacau hanya karena dia, lebih baik aku mati.

….

“Kyaaaaa! Oppadeul, you did it great!! Chukkae! Super Show 4 is awesome! Seriously, my eyes on you all, not blink even a sec!” seru Hyejin dengan girang sambil loncat-loncat memeluk hyungdeul-ku begitu konser kami selesai dan kami kembali ke backstage. Hyungdeul-ku balas memeluknya sambil mengucapkan terima kasih terutama Siwon hyung, yang tidak melepaskan Hyejin sedetik pun dari pelukannya. Tapi itu hanya untuk hyungdeul-ku. Untukku, Hyejin hanya berdiri sambil tersenyum. “Chukkae, Kyu. You are always amazing,” ucapnya tulus. Lagi-lagi aku harus bilang tidak suka. Aku tidak suka jika dia memujiku, aku tidak suka ia menatapku dan tersenyum seperti itu.

Dengan malas aku mengucapkan terima kasih lalu pergi menemui teman-temanku yang sudah datang mendukungku tapi mataku masih sempat melihat Hyejin kembali pada oppa-nya. Kata-katanya masih terngiang di kepalaku yang aku tidak mengerti maksudnya. Aku selalu menawan? Kalau memang iya, kenapa dia lebih memilih mantan pacarnya itu dibanding aku dulu?

“Hei Kyu! You are awesome!” puji Victoria lalu mencium pipiku. Changmin pun memujiku dan memelukku. Hanya saja aku tidak tertarik. Pikiranku masih dibawa oleh gadis yang tidak pernah memanggilku Oppa padahal aku 3 tahun lebih tua darinya. Inilah yang paling tidak aku sukai darinya. Aku tidak suka tidak pernah berhasil berpaling darinya sekuat apapun aku mencoba.

Setelah beragam jadwal yang membuatku nyaris mati, akhirnya aku mendapatkan jadwal liburku tepat di hari ulang tahunku meski hanya sehari! Yeay! Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sambil menunggu kepulangan hyungdeul-ku untuk merayakan ulang tahunku nanti, lebih baik aku bermain game. Mumpung dorm sepi, aku bisa berteriak sepuasnya kalau, amit-amit, aku kalah.

Saat aku bermain, “Tet, tet!” bel dorm mengganggu kegiatanku yang sedang seru-serunya. “Haduh, siapa sih yang datang?” gerutuku. “Jakkaman!” seruku sambil membukakan pintu, untuk orang yang tidak aku harapkan kedatangannya. “Happy birthday, Cho Kyuhyun-ssi,” ujarnya. Aku kedatangan Choi Hyejin yang membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 23 di atasnya. “Make a wish, Kyu,” ujarnya lagi tanpa aku turuti. Aku diam saja, memandangnya. Aku melihat raut wajah Hyejin yang kecewa tapi dia tetap mencoba untuk tersenyum. “Aku boleh masuk?” tanyanya.

“Kalau aku membiarkan kau di luar dan ketahuan oleh hyungdeul-ku, apa aku akan selamat dari omelan mereka?” tanyaku balik dengan sinis. Hyejin menyengir. “Mungkin tidak, mungkin iya,” jawabnya lalu masuk ke dalam dorm. Aku mengikutinya dari belakang setelah menutup pintu. “Kau sendirian?” tanyanya kemudian. “Iya dan aku mohon kau tidak menggangguku.” Aku tidak peduli dengan kehadirannya. Aku ingin kembali ke depan laptop dan melanjutkan gameku.

Sejujurnya, aku senang dia masih mengingat ulang tahunku apalagi sampai berniat membawakan kue ulang tahun untukku tapi itu tidak akan cukup menghilangkan rasa tidak sukaku padanya. Aku tidak suka dia selalu saja muncul di hidupku.

Aku baru mulai bermain saat si sial lagi-lagi menghampiriku. Hyejin mengikutiku dan duduk di hadapanku sekarang. “Kenapa kau mengikutiku?” tanyaku galak.

Hyejin hanya menggeleng. “Aku tidak mau sendirian,” jawabnya.

“Tapi aku mau sendirian.” Aku nyaris membentaknya tapi dia tetap tidak bergeming dari tempatnya.

“Kyu, kau tahu Siwon oppa sangat menyayangimu? Kau dongsaeng kesayangannya,” ucap Hyejin yang memaksaku untuk menutup laptop.

“Aku tahu. Lalu kenapa?” sahutku.

“Aku dan Siwon oppa memiliki banyak kesamaan, terutama dalam menilai orang,” katanya.

Aku mengerutkan dahiku. “Aku tidak mengerti.”

“Aku tidak mengharapkan kau mengerti.”

Choi Hyejin lalu mendekatkan wajahnya ke arahku dan menciumku. Aku tidak tahan lagi. Rasanya aku ingin berdiri dan menyeretnya keluar dari dorm ini. Sedetik lagi ia seperti ini, rasanya aku ingin memeluknya dan tidak melepaskannya lagi. Merayakan ulang tahunku hanya berdua dengannya dan kue ulang tahun darinya. Dari segala ketidaksukaanku padanya, aku paling tidak suka dengan kenyataan aku masih sangat mencintai gadis ini meskipun dia pernah menyakitiku. Aku tidak suka kenyataan bahwa aku tidak pernah bisa lari darinya.

Aku pasti sudah sinting! Dia sudah pernah membuangku sekali, masih ada kemungkinan untuk terjadi kedua kalinya tapi aku tetap seperti ini, berkelut dengan segala rasa tidak sukaku yang aneh. “Maaf,” ucapnya setelah melepaskan bibirnya. Aku melihatnya menghapus air mata lalu meninggalkanku. Aku semakin tidak paham, Hyejin menciumku dan menangis. Ada apa ini?

Hyejin pulang dan membiarkanku dalam kebingungan sendirian. “Aargh!” seruku galau. Aku duduk memandangi kue ulang tahun yang dibawa Hyejin tadi. Lilinnya masih menyala dan tidak habis-habis. Tanpa disuruh siapapun aku menutup mata dan memanjatkan doaku, “Tuhan, selesaikan masalahku dengan Hyejin. Kalau dia jodohku, selesaikanlah masalah kami. Amin.” Aku pun meniup lilin ulang tahunku.

Aku lalu mengambil kunci mobil. Aku tidak peduli lagi dengan liburanku. Aku harus bertemu Hyejin SEKARANG! Hebat sekali bukan? Dia bisa menghancurkan semua rencanaku hanya dalam beberapa menit. Aku melajukan mobilku menuju rumah Siwon hyung.

“Permisi, Anda mau bertemu dengan siapa?” tanya penjaga rumah Siwon hyung begitu aku sampai di depan rumahnya. “Choi Hyejin. Apa aku bisa bertemu dengannya?” jawabku. Penjaga itu lalu menghubungi ke dalam rumah melalui intercom-nya. “Silahkan masuk, tuan,” ujar penjaga itu lalu membukakan pagar.

Aku lalu masuk ke dalam rumah Siwon hyung dan menemui Hyejin. “Hai, apa yang bisa aku bantu?” tanya Hyejin dengan ramah padaku.

“Apa maksudmu tadi?” tanyaku tanpa basa-basi begitu bertemu dengannya.

“Maksudku apa?” Hyejin balik bertanya, membuatku semakin gemas.

“Maksud kedatanganmu tadi ke dorm dan menciumku. Lalu kenapa kau menangis?” jawabku.

“Aku hanya ingin memberikan ucapan selamat ulang tahun,” ucapnya dengan ringan, membuat emosiku memuncak.

“Aku yakin kau sudah gila tapi jangan ajak aku jadi gila juga! Aku muak dengan sikapmu yang seenaknya! Membuangku lalu datang lagi padaku. Maumu apa hah?” Aku mencengkramnya dengan kuat sampai ia meringis kesakitan.

“Tidak ada,” jawabnya.

“Kalau kau mau menyusahkan orang, tolong jangan aku orangnya. Cari orang lain! Sudah cukup apa yang pernah kau buat padaku!” seruku nyaris berteriak di depan wajahnya.

Aku tidak suka melakukan ini padanya tapi aku sudah cukup frustasi menghadapi masalah ini. Aku muak!

Aku melihat mata gadis itu sudah mulai berkaca-kaca, menahan tangisnya. “Aku tahu kau membenciku dan tidak akan pernah memaafkanku atas apa yang pernah aku lakukan padamu. Sungguh, aku hanya ingin memberikan ucapan selamat ulang tahun tapi tampaknya kau tidak suka. Tidak masalah bagiku. Kau tidak mengusirku saja, aku sudah bersyukur,” jawab Hyejin.

“Lalu kenapa kau menciumku dan menangis?” desakku tidak sabaran dan tanpa sadar semakin kuat mencengkram bahunya.

“Apa itu jadi masalah? Aku sendiri saja tidak tahu kenapa,” jawabnya, berusaha menutupi sesuatu. Kepalaku sudah mau pecah menghadapinya.

“Katakan padaku apa maksudmu, Choi Hyejin!” bentakku sampai ia menutup matanya dan mulai menangis.

“Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu, sejak kau meminta nomor teleponku. Aku tahu kau pasti tidak percaya dan aku tidak mengharapkan kau percaya. Maafkan aku sudah menyusahkanmu. Aku janji tidak akan muncul lagi di hadapanmu.” Dia mengatakan semua itu dengan lancar meski sambil terisak. Pikiranku mulai kacau. Aku hanya mematung memandang gadis itu, gadis yang baru saja menyatakan perasaannya padaku setelah menolakku dengan kejam setahun lalu. Aku melepaskan cengkramanku. “Aku tidak mengerti pikiranmu, Choi Hyejin. Aku tidak sanggup mengikutinya. Terserah apa maumu,” ucapku pelan. Aku meninggalkannya dan yang terakhir aku lihat, Hyejin terduduk lemas di ruang tamunya sambil menangis. Ingin rasanya aku kembali dan memeluknya, menghapus air matanya, menciumnya, memberi ketenangan untuknya tapi aku tidak bisa, setidaknya sampai semuanya jelas.

Pikiranku terlalu penuh oleh Choi Hyejin sampai aku lupa segalanya. Aku lupa merayakan ulang tahunku dengan para hyung dan yang paling parah aku lupa jadwal recordingku. “Yaa Cho Kyuhyun!” bentak manajerku yang melihatku masih duduk-duduk di ruang makan. “Kau mau kena penalti berapa won? Kenapa kau masih santai-santah di sini?!” serunya lagi.

“Wae?” tanyaku bingung.

“Hari ini jadwalmu recording Immortal Song. Jangan bilang kau lupa?! Kemarin juga kau lupa janji dengan kami. Kau kenapa sih?!” manajer ku mulai mengomel tidak jelas. Tidak ada satupun kata-katanya yang masuk ke dalam otakku. Aku hanya segera berdiri untuk menuntaskan kerjaanku yang sudah ada di kontrak. Pikiranku masih tertuju pada gadis menyebalkan itu! Haish!

Aku segera berangkat ke

studio untuk Immortal Song lalu melanjutkan menyusul hyungdeul-ku untuk recording Open Concert.

“Kyuhyun-ah, kenapa kau baru datang?” tanya Leeteuk hyung begitu melihat kedatanganku. “Mianhe, hyung. Aku lupa jadwal recording hari ini,” ujarku lalu bersiap diri. Aku duduk dengan hairstylist yang sedang menata rambutku. “Kyu tadi ada titipan buatmu,” kata haistylist-ku. “Mana?” tanyaku. Haistylist-ku lalu memberikan sebuah kotak padaku. Aku membukanya dan mendapatkan sebuah kue dan kartu ucapan : Hwaiting Cho Kyuhyun-ssi. Jaga kesehatanmu! Sampai Jumpa…

Aku mengenal tulisan ini. “Seharusnya kau memanggilku oppa, Choi Hyejin!” gumamku yang tanpa sadar tersenyum.

“Kyu! Ppaliwa!” seru Leeteuk hyung. Aku segera menghampirinya. “Kau kenapa sih, Kyu? Tidak konsentrasi sekali,” lanjut hyung yang lain begitu melihatku.

“Mianhe, hyung.” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Tidak mungkin aku menceritakan masalahku ini kepada mereka.

Aku berjalan masuk ke dalam kelas dengan setumpuk tugas yang akan aku kumpulkan hari ini, maklum tunggakan tugasku dari bulan lalu banyak sekali. Dari sudut mataku, aku melihat jelas Hyejin duduk di bangku paling belakang menutup dirinya dengan berbagai tumpukan buku. Kenapa dia melakukannya?

“Apa Choi Hyejin sudah datang?” tanya seorang laki-laki pada teman sekelasku. Ah, itu dia mantan pacarnya. “Tidak tahu. Aku baru saja datang,” jawab temanku. Mantan pacar Hyejin tampak kesal. Ia lalu menjelajah kelas mencari Hyejin. Apa karena itu Hyejin menutupi dirinya? Sial bagi Hyejin, mantannya itu menemukannya dan langsung menariknya keluar dengan PAKSA. Aku melihat mereka dan entah kenapa aku mengikuti mereka, ke atap. Tentu saja, aku bersembunyi dan mencuri dengar semuanya.

“Apalagi maumu? Kita sudah putus! Semuanya sudah kuturuti!” pekik Hyejin frustasi.

“Aku ingin kita balikan,” kata mantannya itu.

“Cih! Balikan katamu? Tidak akan! Kita sudah sepakat tidak akan saling menganggu kan? Kau yang memutuskanku kenapa kau minta kembali?”

Mantan Hyejin lalu tertawa. “Aku akan memberikan pilihan : Kembali padaku atau karir oppamu akan berhenti?! Kau tahu siapa aku kan?”

“Kau hanya anak manja bodoh yang tidak tahu dikasihani, Lee Sunji! Kalau kau berani mengganggu karir oppaku, artinya agency ayahmu tidak akan punya penghasilan. Bodoh! Aku tidak bisa lagi kau tipu!”

“Oh ya? Bagaimana dengan temanmu yang bernama Kyuhyun itu? Apa kau tega jika melihatnya tidak bisa bernyanyi lagi?”

Hyejin mendekati mantannya dengan garang. Wajahnya penuh ancaman. “Semili saja kau berani menyentuhnya atau sedikit saja kau menyusahkannya, aku bersumpah akan menghabisimu dengan tanganku sendiri!” ucap Hyejin dalam, membuat mantannya terdiam. Hyejin berbalik badan meninggalkan mantannya dan aku semakin menyembunyikan diriku agar tidak terlihat olehnya.

Aku melihat semua itu dan menjadi semakin bingung. Apa Hyejin pacaran dengan pria itu demi Siwon hyung dan… aku? Aku semakin tidak mengerti.

Hari ini jadwalku untuk SMTOWN Paris bersama dengan artis SM yang lain. Aku duduk di backstage sambil menunggu giliranku. Jika sudah seperti ini, aku merindukan suara nyaring yang tidak aku sukai yang akan memanggil, “Ooppaa!” lalu bergelayut manja di lengan Siwon hyung. Ya, aku merindukan Hyejin. Sudah sebulan aku tidak melihatnya, baik di kampus maupun tempat lain. Aku jadi penasaran. “Hyung, ngomong-ngomong aku sudah lama tidak bertemu Hyejin. Kemana dia?” tanyaku pada Siwon hyung.

“Loh? Kau tidak tahu dia pergi?” jawab Siwon hyung dengan tatapan heran padaku.

“Pergi? Pergi kemana?” tanyaku.

“Kau harus menciumku dulu, baru aku kasih tau kemana Hyejin.”

“Hyuuuung…” Aku memandang geli kepada hyung-ku yang addict dengan skinship ini.

“Ya sudah tidak aku kasih tahu.”

Aku pasti sudah gila. Aku mencium Siwon hyung hanya untuk mengetahui keberadaan Hyejin. “Sekarang beri tahu aku dimana Hyejin,” paksaku.

Siwon hyung tertawa. “Dia di sini. Di Paris, melanjutkan kuliahnya. Sebentar lagi dia akan ke sini, menemuiku. Kau mau menemuinya?” tanya Siwon hyung.

Aku mengangguk. Aku mau meminta penjelasan atas rasa penasaranku selama ini. Selama sebulan aku dihantui rasa ingin tahu alasan Hyejin menerima orang lain sebagai pacarnya padahal dia mencintaiku.

Setelah SMTOWN selesai, aku duduk bersama Siwon hyung menunggu kedatangan Hyejin di dalam kamar hotel kami. Siwon hyung mulai berbicara, “Kau tahu tidak, setiap hari namamu selalu terucap di rumah kami?”

Aku menaikkan alisku tanda aku tidak paham maksud Siwon hyung. “Kenapa namaku selalu terucap di rumahmu, hyung?” tanyaku. “Aku akan memberi tahunya jika kau menciumku sekali lagi,” jawabnya membuatku tertawa terbahak. “Untuk kali ini lebih baik aku tidak tahu jawabannya, hyung.”

“Tapi kau tahu aku mencintaimu kan?” tanya Siwon hyung kemudian yang membuatku semakin ngeri. “Hyung, kau tidak homo kan?” tanyaku sedikit takut. Siwon hyung lalu menjitak kepalaku. “Aku mencintaimu karena adikku mencintaimu. Aku mencintai Hyejin melebihi apapun. Apa yang dia cintai berarti harus aku cintai, apa yang dia benci berarti harus aku benci, tentu sesuai kapasitasku sebagai oppa-nya,” jawab Siwon hyung.

Aku mulai mengerti arah pembicaraan Siwon hyung dan aku tidak bisa lagi menghindar dari kenyataan. “Aku juga mencintaimu, hyung,” ucapku serius. Siwon hyung memandangku lekat-lekat. “Kau homo?” tanyanya bercanda. Aku hanya tersenyum.

“Aku mencintaimu karena aku mencintai adikmu. Apa yang dia cintai berarti aku juga harus mencintainya. Apa yang dia benci berarti mungkin aku juga harus membencinya. Adikmu pasti sangat mencintaimu, hyung maka aku juga harus mencintaimu,” kataku dengan tulus.

“Jadi kau mencintai Hyejin?”

“Dari dulu dan terus.”

“Kalau begitu kenapa yang aku lihat justru kau sangat membencinya?”

“Itulah masalah yang harus aku selesaikan dengan adikmu. Aku mohon jangan kau sampaikan padanya. Biar kami yang menyelesaikan sendiri masalah kami.”

“Sepakat!”

Kini aku sendirian di kamar Siwon hyung menunggu kedatangan Hyejin. Haish! Lama sekali. Aku sudah menegak 5 gelas wine demi menunggu kedatangannya. “Tott! Tott!” bel kamar berbunyi. Aku yakin itu pasti Hyejin. Aku segera membuka pintu dan merepet, “Kau lama sekali sih. Tahu tidak aku sudah minum 5 gelas wine selama menunggumu!” Aku melihat Hyejin menatapku bingung. “Maaf aku salah kamar,” katanya lalu pergi. Untung, baru kali ini aku beruntung mengenai gadis ini, aku sempat menarik tangannya. “Kau tidak salah kamar. Siwon hyung sedang pergi. Aku memintanya untuk bertemu denganmu. Ada yang mau aku tanyakan,” kataku panjang lebar sebelum Hyejin sempat memotongnya.

“Apa yang mau kau tanyakan?” tanyanya.

“Kau tidak mau masuk dulu?” tanyaku balik.

“Boleh aku masuk?”

Gemasku sudah sampai ke ubun-ubun. “Kalau kau mau tetap di sini, tidak masalah. Aku akan tetap bertanya,” jawabku. Hyejin menyengir lalu masuk ke dalam kamar Siwon hyung.

“Apa yang mau kau tanyakan, Kyuhyun-ssi?” tanyanya sambil tersenyum, manis seperti biasa.

Aku menjitak kepalanya. “Panggil aku oppa. Aku 3 tahun lebih tua darimu!”

Hyejin menggembungkan pipinya yang membuatku ingin mengigitnya. “Baiklah, apa yang ingin kau tanyakan, Oppa?” tanyanya dengan menekan suaranya di kata ‘Oppa’.

Aku tidak banyak basa-basi karena aku memang tidak menyukai basa-basi. “Apa kau masih mencintaiku?” tanyaku.

“Apa kau masih membenciku?” lagi-lagi Hyejin balik bertanya.

“Kau jawab dulu pertanyaanku,” kataku.

“Kalau aku masih mencintaimu tapi kau masih membenciku, itu tidak ada gunanya dibahas lagi.”

Ini yang menyebabkan aku jatuh cinta padanya. Hyejin yang pintar, yang tidak bisa diatur, yang mempunyai jalan pikirannya sendiri, yang membuatku harus punya kemampuan ekstra untuk memahaminya. Gadis-KU memang seperti ini. “Lalu kenapa kau tidak mau bersamaku dan memilih yang lain?” tanyaku lagi

“That’s my problem not yours,” jawabnya dengan lugas.

“Itu masalahku. Karena kau menolakku begitu saja lalu bilang mencintaiku, aku tidak bisa tenang tahu! Jelaskan padaku.”

“Tidak perlu.”

Aku menghela nafas panjang. “Ya sudah kalau tidak mau. Aku tahu kau menerima Sunji karena ia mengancammu akan mengacaukan karir Siwon hyung dan aku kan?”

Mata Hyejin membelalak seperti orang yang ketahuan rahasianya. “Aku mendengar pembicaraanmu dengan Sunji di atap sekolah sebulan lalu,” ujarku dengan innocent.

“Lalu apalagi yang perlu dijelaskan?” tanyanya.

“Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.”

“Apa kau akan membalas dendam atau menghukumku?”

Aku mengangguk dengan mantap. “Aku punya dua pilihan hukuman untukmu : Kuberikan kau kesempatan kedua untuk jadi kekasihku sekarang dan begitu urusanmu di sini selesai, kau harus kembali ke Korea dan menikah denganku. Atau yang kedua kau harus kembali ke Korea dan menikah denganku begitu urusanmu di sini beres tapi kau harus jadi kekasihku dulu sekarang. Tapi ada syarat dari kedua pilihan itu.”

“Apa?” Hyejin mulai menantangku. Aku mencium hubungan kami yang mulai membaik, yang kembali seperti yang aku harapkan setahun yang lalu.

“Kau harus terus mencintaiku apa adanya,” jawabku dengan tegas dan jelas karena ini adalah hal yang paling penting.

Hyejin tersenyum. “Aku tidak punya pilihan lain kan?” Aku menggeleng.

“Jadi kau pilih yang mana?” tanyaku.

“Aku rasa kau tidak memberikanku pilihan selain mencintai dan menjadi kekasihmu kan?” jawabnya.

Aku mulai tidak sabar. Aku segera menariknya ke dalam pelukanku. Aku mencium puncak kepalanya sesuka hatiku. Segala rasa tidak sukaku, sakit hatiku hilang begitu saja digantikan kerinduan dan sayang yang meluap-luap untuk gadis ini. “Kalau begitu kita menikah sekarang,” ujarku.

“Itu tidak ada di pilihan yang kau berikan tadi,” protesnya.

“Memang. Itu pilihanku bukan pilihanmu,” ucapku sesuka hati.

“Dasar licik,” ujarnya menggodaku. Sedetik kemudian, aku sudah mencium gadis yang aku rindukan ini tepat di bibirnya. “Saranghaeyo, Choi Hyejin,” bisikku. Aku tidak perlu balasan kata-kata darinya. Aku bisa merasakan dari tubuh gadis ini, dari ujung kepalanya sampai ujung kaki, dia juga mencintaiku.

-THE END-

@gyumontic

PS : See you in the next sequel : 내가 미쳤 미쳤 / Naega Michyeo Michyeo Baby