Annyeong onniedul, chigudul🙂 mian mengganggu dengan ff saya ya.

baca, terus komen.

makasi yaa

mian kal kurang memuaskan huhuhu

Enjoy reading :))

oia, judulnya ga ada hubungannya dengan isi ffnya yaa, itu hanya sekedar judul kekeke

habis bingung mau kasi judul apa ekekek

>>>>>

HYEJIN STORY

 

“Hyejin, Kyuhyun sudah datang,” teriak omma.

Dengan segera aku mempercepat gerakanku, memakai sepatuku, dan terakhir, sekali lagi aku melihat diriku di cermin, memastikan kalau penampilanku sudah cukup rapi.

“Kajja,” gumanku setelah yakin semuanya sudah beres. Namun hapeku tiba-tiba bergetar, ada pesan masuk. Aku membaca isi pesan itu.

‘Hyejin, nanti jangan terlalu cepat ya, biar aku bisa berbicara dengan Hamun lebih lama. -Cho Kyuhyun’

Aku menghela nafas panjang setelah membaca sms itu. Aku menutup hp flatku dan menyimpannya kembali dikantong.

“Hyejin ah, ppali, Kyuhyun sudah menunggu,” ujar ommaku

“Nee ommonim, aku berangkat,” seruku berpamitan. Dari dalam rumah, aku mengintip Kyuhyun dan Hamun yang sedang bersenda gurau. Kyuhyun terlihat sangat bahagia. Maafkan aku karena harus merusak kebahagianmu itu. Aku tak mau kalau harus membersihkan pekarangan sekolah karena telat.

“Kyuhyun ah, kkaja,” seruku saat menampakkan diri didepan mereka

“Hyejin, kau lama sekali? Kasihan Kyuhyun menunggumu,” ujar Hamun. Ingin sekali aku bilang kalau Kyuhyun yang memintanya namun hal itu tak kulakukan karena memang aku bukan orang yang seperti itu.

“Kyuhyun tak masalah kok, Hamun,” ujarku melakukan pembelaan. “Aku pergi dulu ya,” pamitku

“Nee, kalian berdua hati-hati ya. Kyuhyun kau genjot sepeda dengan benar dan Hyejin pegangan pada Kyuhyun ya. Arrachi?” nasihat Hamun.

Kyuhyun yang sudah siap untuk mengayuh sepeda tertawa kecil, “Yaa, Hamun, kau seperti ibu-ibu saja,” ujar Kyuhyun setengah bercanda

“Tentu saja, sebentar lagi aku kan akan benar-benar menjadi ibu. Itung-itung latihan,” balas Hamun, yang pura-pura tak mengerti apa-apa tentang perasaan Kyuhyun. Tentu saja, ia hanya pura-pura tak mengerti. Perasaan Kyuhyun pada Hamun bukan rahasia lagi. Orang awam sekalipun yang melihat juga pasti tahu, apalagi orang yang bersangkutan. Karena pria ini, mulai dari ujung kepala sampai ujung kakinya, menyatakan kalau ia sungguh sangat mencintai Hamun.

Perhatianku kembali tertuju pada Kyuhyun. Sesaat aku melihat bibirnya bergetar.

“Good luck Hamun, semoga sukses,” ujar Kyuhyun diiringi senyum mempesona seperti biasanya, namun aku tahu, senyum yang barusan bukanlah senyum yang tulus, melainkan senyum manis yang ia gunakan untuk mengklamufase kesedihannya.

Kami melambaikan tangan pada Hamun sebagai akhir dari perbincangan pagi ini. Kyuhyun pun  mulai mengayuh sepedanya menuju sekolah kami.

“Kau sepertinya bahagia?” tanyaku pada Kyuhyun di tengah perjalanan

“Tentu saja. Bertemu dengan Hamun serasa membangkitkan semangatku yang tertidur,” jawabnya riang. Aku tersenyum mendengar jawabannya namun dadaku terasa sakit.

“Kau mau tahu tadi kami bicara apa?” tawar Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalan raya.

“Tentu saja, ayo ceritakan,” sahutku. Kyuhyun mulai membuka mulutnya dan bercerita. Apa kalian percaya aku mau mendengarkan ceritanya tentang Hamun? Sesungguhnya, tidak. Karena tiap kali ia bercerita tentang Hamun, dadaku terasa sakit. Sakit sekali.

Namun ada satu hal yang membuatku masih sudi mendengarkan ceritanya tentang Hamun. Karena saat itulah, Kyuhyun akan menunjukan senyumannya. Senyum hangat, manis, yang tulus seperti anak kecil. Senyum yang membuatku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama.

“Aku sangat cinta padanya, Hyejin,” itulah yang selalu dikatakan Kyuhyun sebagai ending ceritanya dan aku benci hal itu. Jantungku berdetak sangat kencang. Tanganku juga mendingin dan dadaku terasa sakit sekali. Itulah yang setiap detik kurasakan saat aku bersama pria ini karena tiap detik aku bersamanya, yang ia pikirkan hanya Hamun. Hamun. Hamun.

Aku jatuh cinta padanya, namun aku harus menahan perasaanku karena ia juga sudah jatuh cinta pada Hamun.

Isn’t it ironic? He ignore me, the ones who adore him. But he adore her, the ones who ignore him. He loves her, the ones who hurt him and without he realize, he hurts me, the ones who love him so much.

“Ya, ya, aku tahu. Sudah ribuan kali kau mengatakan hal itu padaku Kyuhyun,” sahutku setengah bercanda.

“Tapi berhentilah. Menyerahlah. Hamun sudah punya Siwon oppa sebagai pacarnya. Kalau kau meneruskan perasaanmu, yang ada kau sendiri yang menangis,” ujarku serius menasehati Kyuhyun.

Namun sepertinya Kyuhyun tak terlalu peduli. “Iya, iya, terima kasih atas perhatianmu Hyejin,” jawabnya ringan

“Kyuhyun, aku serius,” sahutku kesal karena ia masih saja menggampangkan masalah ini.

Kyuhyun kembali tersenyum, tapi kali ini, ia menyunggingkan senyum yang selalu membuat dadaku ikut terasa sakit. Senyuman kamuflase itu. “Tapi biarpun Hyejin yang minta, yang satu ini tak akan kulepaskan,” jawabnya tenang tapi sorot matanya menyatakan kesungguhan.

Aku menghela nafas panjang berusaha mengabaikan rasa sakit yang berkecamuk didadaku.

“Dasar bodoh,” ejekku padanya namun ia tetap saja tertawa

“Ini kekuatan cinta, Hyejin,” candanya.

Dasar bodoh. Meskipun tahu akan sakit hati, dia tidak berhenti. Aku mengerti perasaan itu. Karena aku sama bodohnya dengan dia.

“Yaa, Hyejin, pegangan yang erat dong, nanti kalau kau jatuh aku dimarahi Hamun,” omel Kyuhyun. Ia menarik kedua tanganku dan melingkarkannya dipinggangnya.

Ya, ternyata memang hanya kau yang bisa membuatku berdebar seperti ini.

*****

Aku mengenal Kyuhyun setengah tahun yang lalu. Ia tetangga baru yang menempati rumah kosong disebelah rumahku.

Aku ingat pertemuan pertamaku dengannya.

Saat itu sedang musim dingin. Salju turun menyelimuti bumi. Udara pun menjadi sangat dingin, tak bersahabat, dan aku benci itu.

Aku lebih suka berdiam diri di kamarku yang hangat

“Kau tak boleh seharian di kamar Hyejin, pergi sana ke rumah sebelah. Ucapkan salam,” perintah ommaku. Aku sempat menolak namun aku tak punya daya saat omma mengancam tidak akan memberi hadiah natal.

Dengan berat hati, aku melangkahkan kakiku keluar dari pekarangan rumah dan berjalan menuju rumah sebelah.

Disaat bersamaan aku mau mengetuk pintu rumah itu, seseorang membukanya. Aku melihat seorang pria tampan yang rasanya sebaya denganku, berdiri di ambang pintu.

“Annyeonghaseyo, ada yang bisa kubantu?” tanyanya sopan

Aku membungkukkan badanku, “Annyeonghaseyo, aku dipaksa ommaku kesini untuk memberi salam,” jawabku jujur. Aku tak tahu dimana sisi lucu dari jawabanku tadi, tapi ia tertawa. Tawa kecil yang manis, lembut, dan tulus. Lesung pipitnya tergurat jelas membuatnya terlihat sangat menawan.

“Mianhe, ehm, aku Kyuhyun,” ujarnya memperkenalkan diri.

“Kau Hyejin kan?” selanya sebelum aku menjawab. Aku mengangguk.

“Aku baru saja mau ke rumahmu untuk memperkenalkan diri. Jadi sekarang kita berteman ya,” ujarnya diiringi senyum hangat yang lembut. Saat itulah aku merasakan darahku berdesir dan jantungku berdetak kencang. Tahu-tahu aku sudah jatuh cinta padanya.

Saat itu, salju yang dingin terasa sangat hangat.

*****

Dengan penuh kesadaran, aku melangkahkan kakiku ke rumah Kyuhyun. “Hyejin? Kenapa ada disini?” tanya Kyuhyun padaku saat aku berdiri diambang pintu rumahnya.

“Ada soal matematika yang tak bisa kukerjakan,” jawabku jujur

“Kalau begitu, kenapa kau tak menelponku? Aku bisa ke rumahmu,” sahut Kyuhyun. Aku tahu kau akan berkata seperti itu, makanya aku tidak menelponmu.

“Aku yang butuh, aku yang datang. Aku tahu sopan santun, Kyuhyun,” candaku yang berhasil membuat Kyuhyun tertawa.

“Sejak kapan kau jadi sungkan padaku seperti ini Hyejin? Bagaimana kalau sekarang kita ke rumahmu saja? Ada Hamun kan?” tanyanya antusias. Ya, dia jadi begitu bersemangat kalau sudah menyangkut Hamun.

Tapi, kalau Kyuhyun ke rumah.. ia hanya akan memandang Hamun. Yang ada dipikirannya hanya Hamun.

Kyuhyun menggenggam tanganku dan menarikku, “Ayo kita ke rumahmu,” ujarnya

Tanpa kusadari, aku menepis tangan Kyuhyun dan berseru,”Ja-Jangan!”

Aku dapat melihat ekspresi kaget dari wajah Kyuhyun dan hal itu membuatku merasa bersalah. Tapi.. untuk kali ini saja, aku ingin sedikit egois. Mianhata, Kyuhyun.

“Mi- mianhe, di rumahku sedang ada tamu, terlalu ramai. Aku tak bisa berkonsentrasi,” ujarku bohong

Kyuhyun mengelus kepalaku, “Tentu saja, kita kerjakan di ruang tamu saja yuk,” ujar Kyuhyun diiringi senyumnya

Aku dan Kyuhyun mengerjakan soal matematika ini dalam kesunyian. Diam-diam, aku memberanikan diri melirik Kyuhyun. Aku mendapatinya sedang menatap jauh kearah luar jendela dengan sorot mata sedih. Aku mengikuti arah pandangnya dan .. Hamun. Lagi-lagi Hamun.

Hey, aku mencintaimu Cho Kyuhyun. Karena itu, pandanglah aku.

“Kyuhyun,” panggilku mengalihkan perhatiannya. “Aku tak bisa soal ini,” lanjutku

“Ah ini, ini diselesaikan begini saja..”

*****

Pagi hari ini berbeda dengan biasanya yang selalu biasa-biasa saja. Pagi hari ini lebih ‘mengejutkan’ dengan kabar yang baru saja disampaikan Hamun.

“Mwo? 2 minggu lagi kakak akan menikah dengan Siwon oppa? Setelah itu kakak juga akan pindah rumah? Kenapa mendadak sekali?” tanyaku tak percaya. Tentu saja tak percaya. Hanya 2 minggu untuk menyiapkan suatu pernikahan?

“Nee, Hyejin, hebat sekali kan? Akhirnya aku akan menjadi nyonya Cho,” ujar Hamun girang. Aku senang Hamun akan menikah, tapi bagaimana dengan perasaan Kyuhyun?

“A-apa Kyuhyun tahu?” tanyaku ragu. Aku menatap lekat Hamun dan ia tersenyum lirih.

“Aku akan memberitahukannya, Hyejin,” ujar Hamun

“Hamun suka pada Kyuhyun?” tanyaku. Itulah kesimpulan yang aku dapat saat melihat ekspresi Hamun ini.

“Tentu saja, auranya sangat hangat sih,” jawab Hamun masih dengan senyum lirihnya

“Hyejin, jangan cepat-cepat ya, Hamun mau bicara pada Kyuhyun,” ujar Hamun onni padaku lalu menghampiri Kyuhyun yang sudah menungguku di luar.

Aku yang sudah siap, terpaksa menunggu di dalam rumah dan mengintip dari celah jendela. Dapat kulihat wajah mereka berdua gembira sesaat berubah menjadi sedih. Aku rasa Hamun baru saja memberitahukan Kyuhyun tentang pernikahannya. Tapi tak lama kemudian mereka kembali tertawa dan lagi-lagi Kyuhyun menunjukan senyum kamuflasenya itu.

Tiba-tiba segerombolan gadis berjalan melewati depan rumah kami dan menatap sinis Kyuhyun dan Hamun.

“Sudah punya tunangan tapi masih saja memacari yang muda,” kata mereka. Aku bisa mendengar karena mereka berbicara cukup keras. Dengan segera aku keluar dari tempat persembunyianku untuk menolong. Namun kurasa, aku keluar disaat yang tak tepat.

“Akulah yang seenaknya menyukai Hamun. Aku datang kesini karena ingin bertemu. Karena itu, minta maaflah padanya!” bentak Kyuhyun pada para gadis itu.

Ini pertama kalinya aku melihat Kyuhyun yang tenang, berbicara keras seperti itu. Ia melakukan itu demi Hamun. Aku patah hati. Untuk kesekian kalinya, aku patah hati pada pria yang sama.

Hatiku pedih. Kyuhyun sangat mencintai Hamun. Apa yang harus kulakukan agar kau memandangku, Kyuhyun?

“Jangan bicara yang tidak-tidak kalau kalian tak mengerti apa-apa,” sahutku pada para gadis itu yang membuat mereka mati kutu dan melangkah pergi dari hadapanku.

Aku dapat merasakan atmosfer tak enak antara Hamun dan Kyuhyun.

“Kyuhyun ah, ayo berangkat,” seruku lalu duduk diboncengan belakang sepedanya, berusaha memecah atmosfer yang canggung ini

“Ah, nee,” sahut Kyuhyun lalu duduk diposisinya

“Bye Hamun,” pamitku

“Mianhe, Hamun,” ujar Kyuhyun lirih

Kyuhyun mulai mengayuh sepedanya. Aku terus memperhatikannya. Matanya menerawang. Aku bisa merasakan pedih yang ia rasakan sekarang.

“Kyuhyun hentikan sepedamu. Aku yang menyetir,” ujarku. Kyuhyun menghentikan sepedanya dan  menatapku heran. “Aku tak mau terjadi apa-apa pada kita. Kau sedang patah hati,” kataku yang disambut senyum lirih oleh Kyuhyun.

Kyuhyun sudah duduk diboncengan belakang, dan aku mulai mengayuh sepeda Kyuhyun itu. Harus kuakui, Kyuhyun ternyata cukup berat.

“Hamun akan menikah dengan Siwon oppa,” ujarku membuka pembicaraan

“Aku tahu,” jawab Kyuhyun singkat

“Lalu ia akan pindah rumah,” sahutku

“Aku tahu Hyejin,” ujar Kyuhyun lirih. Aku bisa mengerti rasa sakit yang ia rasakan.

“Asal Hamun bahagia, aku pun bahagia, Hyejin,” lanjut Kyuhyun

“Kau tak sedih?” tanyaku meski aku sudah tahu jawabannya.

“It’s okay, Hyejin,” jawab Kyuhyun. Bohong. Tentu saja bohong. Siapa yang bisa merasa baik-baik saja saat orang yang kau sayangi akan menikah dengan orang lain?

There’s always a little pain in every It’s okay,” balasku dan Kyuhyun tersenyum. “Sepertinya aku tak bisa merahasiakan apapun darimu ya Hyejin,”

*****

Hari ini Hamun menikah di gereja tua yang berada di ujung komplek perumahan kami. Pernikahan yang sederhana namun manis. Dihadiri semua keluarga dan kerabat, kecuali Kyuhyun. Ya, sedari tadi aku tak melihat batang hidungnya. Tanpa sengaja saat aku menengok kebelakang, aku mendapati Kyuhyun sedang menatap lekat Hamun dari belakang pohon mapel yang berdiri kokoh di depan gereja.

“Kau disini rupanya? Dari sini kau tak bisa melihat Hamun dengan jelas,” ujarku pada Kyuhyun begitu upacara pernikahan Hamun selesai.

“Tapi ia tetap terlihat cantik dan anggun seperti biasanya. Ani, bahkan jauh lebih cantik,” ujar Kyuhyun diiringi senyumnya yang tulus mempesona itu.

Hatiku sakit menyadari kenyataan Kyuhyun belum bisa melupakan Hamun. Tapi orang yang disukai Kyuhyun saat ini akan menikah, dia pasti lebih sedih dariku.

“Aku punya sesuatu untukmu,” ujarku. Kyuhyun menatapku penasaran dan saat itulah aku menebarkan potongan kertas berwarna merah muda yang berbentuk kelopak bunga sakura disekitarnya.

“Sakura?”

“Setiap kali ada masalah aku suka tidur dibawah pohon sakura. Rasanya setiap masalah hilang bersama dengan bunga sakura yang gugur,” ujarku

“Tapi karena saat ini bukan musim semi, jadi aku buatkan saja untukmu. Mirip kan?” tanyaku. Kyuhyun menatapku gemas.

“Lalu poin pentingnya ada dimana Hyejin?” tanya Kyuhyun

“Sakura ini adalah air matamu,” jawabku atas pertanyaan yang ia lontarkan.

“Aku sudah meminta Hamun untuk datang ke belakang gereja. Bersamaan dengan gugurnya bunga sakura ini, masalah perasaanmu akan selesai,” ujarku padanya. Kyuhyun menatapku lekat dan memberikan senyum hangat mempesona itu. Senyum yang biasanya muncul hanya saat membicarakan Hamun, ia tunjukan padaku.

“Gomawo Hyejin,” ujarnya. Ia berlari menuju tempat yang sudah kukatakan tadi.

Air mata yang sudah kutahan sejak lama akhirnya mengalir bersamaan dengan punggung Kyuhyun yang kian lama semakin menghilang.

Aku tersenyum getir dan menertawakan kebodohanku sendiri.

“Lagi-lagi aku menyakiti perasaanku sendiri,” gumanku

*****

“Kyuhyun? Sungguh itu kau?” tanya Hamun tak percaya saat ia tiba ditempat yang dijanjikan Hyejin.

“Tentu saja aku datang,” jawabku. Hamun dengan cepat menarikku dalam pelukannya.

“Terima kasih kau mau datang ke acara pernikahanku. Aku sungguh senang,” ujar Hamun

“Hamun,” panggilku yang membuat Hamun melepaskan pelukannya.

“Ya?” tanyanya dan dengan kilat aku mengecup bibir Hamun.

“Hamun, aku pernah sangat menyukaimu,” ujarku padanya. Entah aku mendapat kekuatan darimana, namun baru saja aku tersenyum. Bukan senyum kamuflase yang biasa kulakukan namun senyum tulus yang berasal dari lubuk hatiku.

“Terima kasih Kyuhyun,” balasnya

*****

 

KYUHYUN STORY

“Hyejin, gomawo,” ujarku sekali lagi setelah menyelesaikan masalah perasaanku tadi. Tidak ada kesedihan. Tidak ada penyesalan. Yang ada hanya sebuah kelegaan, ketulusan, dan kebahagiaan. Semuanya berkat gadis disampingku ini. Hyejin. Terima kasih.

“Kau mau apa? Akan kuberikan apapun yang kau mau,” tawarku

“Apapun?” tanyanya

“Apapun,” jawabku mempertegas pernyataanku

Hyejin terdiam menatapku lekat-lekat. Matanya yang memandangku lurus, tanpa kusadari membuat jantung berdetak lebih cepat.  Entah mengapa, ia terlihat jauh lebih cantik dari biasanya. Angin musim gugur yang meniup rambut Hyejin membuatnya terlihat lebih manis.

Hyejin berjalan mendekatiku, “Aku ingin nama depanmu, Cho Kyuhyun,” jawabnya dengan memberikan penekanan pada kata “nama depan”

Aku tercekat. Mematung, tak bisa berkutik, dan jantung berdetak sangat sangat sangat kencang.

Saat logikaku kembali, aku tersadar kalau Hyejin sudah pergi meninggalkanku duluan.

Aku memegang dadaku, memastikan debaran jantungku. Dahsyat. Cepat sekali. Ada apa denganku?

*****

Sudah 5 menit aku menunggu Hyejin di depan rumahnya namun ia tak kunjung menampakkan diri. Aku kembali melirik jamku dan memutuskan untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Ajjuma, Hyejin mana?” tanyaku saat ajjuma membukakan pintu.

“Ajjuma sudah menyerah membangunkannya. Aku juga tak tahu taktik apa yang biasanya Hamun pakai untuk membangunkannya. Kyuhyun-ah, tolong bangunkan Hyejin ya, sayang,” jelas ajjuma, ibu Hyejin. Aku pun mengiyakannya dan berjalan menuju pintu yang berlabelkan ‘Hyejin’. Aku mengetok pintunya beberapa kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya kuputuskan untuk masuk tanpa permisi. Mianhe, Hyejin, ini terpaksa. Aku membuka kenop pintu Hyejin dan mendapatinya masih tidur dibawah selimutnya.

Aku menghampiri tepi tempat tidurnya, sedikit menjongkok agar aku dapat melihat wajahnya.

Aneh, ini aneh. Tanpa kusadari, tanganku sudah berada di wajahnya, menyelipkan sedikit rambut yang menutupi wajahnya dan menyelipkannya ke belakang telinga Hyejin. Cantik, sangat cantik. Rambutnya, hidungnya, bibirnya, pipinya yang sedikit chabby terlihat sangat sempurna di mataku. Mataku tak bisa lepas darinya meski aku ingin. Jantungku berdetak kencang, terlalu kencang sampai rasanya ingin meledak. Tiba-tiba sebuah rasa ingin menggenggam tangannya, memeluknya, menciumnya, muncul dibenakku.

Bibirku menyunggingkan senyuman. one step, two step, wajahku bergerak begitu saja mendekati wajah Hyejin dan begitu aku sadar, aku sudah mengecup bibir Hyejin. Begitu logikaku kembali, aku menjauhkan tubuhku darinya dan tiba-tiba saja Hyejin terbangun, membuatku kelimpungan, salah tingkah.

“Kyuhyun?” tanyanya tenang membuatku semakin merasa seperti pria hidung belang yang mencuri ciuman sahabatnya sendiri.

“Ce- cepat ganti bajumu. Aku tak mau kita telat,” omelku lalu bergegas keluar dari kamar Hyejin dan menunggunya dibawah.

Bodoh. Bodoh. Bodoh. Hanya kata itu yang kuucapkan berkali-kali untuk mengutuki diriku sendiri.

“Kajja, kita pergi,” ujar Hyejin begitu keluar dari rumahnya. Aku memastikan ia sudah duduk diboncengan dan aku pun mulai mengayuh sepedaku.

“WAA!” seruku kaget saat tangan Hyejin merangkul pinggangku. Kurasa Hyejin juga kaget dengan teriakanku

“A- ada apa?” tanya Hyejin bingung

“Ha- hanya sedikit geli, Hyejin,” jawabku bohong. Padahal alasannya adalah pada jantungku. Jantungku yang berdetak kencang saat Hyejin tiba-tiba muncul dibenakku.

“Geli? Tumben? Bukannya biasanya kau tak masalah dengan hal itu?” tanyanya yang hanya kujawab dengan senyuman. Senyuman untuk mengklamufase debar jantungku.

*****

Akhirnya jam istirahat. Aku bisa bernafas lega karena Hyejin akan pergi ke kantin bersama teman-temannya yang lain. Aku membenamkan wajahku saking lelahnya menahan jantungku yang entah mengapa, jadi super hyperactive ini.

“Hei, kau kenapa?” tanya Eunhyuk yang tiba-tiba datang menghampiriku

“Aku tak apa-apa,” jawabku bohong. Tentu saja. Masa iya aku harus berkata kalau jantungku berdetak sangat kencang karena Hyejin?

“Banyak yang iri padamu,” ujar Eunhyuk

“Memang kenapa?” tanyaku tak mengerti

“Kau beruntung, bisa pulang pergi dan main bersama Hyejin,” ujar Eunhyuk yang membuatku heran. Mengapa tiba-tiba ia membicaran gadis yang untuk sementara waktu ingin kulupakan? Mendengar namanya disebutkan, jantungku kembali berdetak.

“Hubungannya dengan Hyejin?” tanyaku yang masih tak mengerti

“Sahabatmu itu adalah gadis manis nan baik hati. Banyak sekali pria yang mengejarnya,” ujar Eunhyuk. Aku terdiam sesaat. Berpikir. Hyejin memang gadis yang baik meski kadang ia sangat dingin. Namun sebelumnya aku tak pernah memandangnya sebagai seorang gadis.

“Yang kau pikirkan hanya Hamun sih, sampai kau tak sadar pesona sahabatmu sendiri,” jawab Eunhyuk. Ya, ia adalah salah satu sahabatku yang tahu proses percintaanku pada Hamun.

“Lalu inti pembicaraanmu ini adalah apa?” tanyaku pada Eunhyuk

Eunhyuk menatapku usil, “Kau mulai suka pada Hyejin ya?” tanyanya diiringi senyuman usil yang menyebalkan.

“Ma-maksudmu Eunhyuk-ah?” tanyaku berusaha sebiasa mungkin agar Eunhyuk tidak tahu kalau aku berbohong. Tunggu.. Berbohong? Berbohong soal apa? Apa benar yang dikatakan Eunhyuk? Aku menyukai Hyejin?

“Akui saja. Suaramu bergetar. Kau bohong kan?” tebak Eunhyuk yang sangat mengena. “Sedari tadi kau hanya melihatnya. Matamu tak bisa lepas darinya,” lanjut Eunhyuk

Aku menghela nafas panjang.

“Aku tak berbohong. Hanya saja aku tak mengerti tentang perasaanku sendiri, Eunhyuk,” jawabku jujur. Aku membenamkan kepalaku di meja tanda frustasi

“Apa yang kau rasakan saat ini pada Hyejin?” tanya Eunhyuk

“Jantungku berdetak. Sangat kencang.. Mataku selalu memandangnya, tak bisa lepas darinya.. Nafasku sesak tiap kali aku dekat dengannya dan yang paling mengerikan.. tiap detik, otakku selalu memikirkannya,” jawabku jujur

Eunhyuk memegang pundakku, “Kau jatuh cinta padanya, Kyuhyun. Absolutely,” ujar Eunhyuk

“Bagaimana bisa? Maksudku.. Dia sahabatku. Apa alasanku untuk jatuh cinta padanya?” tanyaku

When you love someone, you just do. There are no maybes, no buts, and no whys,” jawab Eunhyuk yang untuk sesaat sempat membuatku berpikir kalau Eunhyuk ternyata sangat dewasa namun semuanya sirna dalam sekejap saat tiba-tiba ia jadi heboh sendiri dengan jawaban yang ia lontarkan.

“Tapi bukankah kemarin aku masih sangat mencintai Hamun? Mengapa aku seperti pria playboy yang semudah itu melupakan dan semudah itu jatuh cinta?” tanyaku frustasi

“Cinta datang tiba-tiba. Bahkan sebelum kau sendiri menyadari kalau itu cinta. Mungkin perasaanmu pada Hamun selama ini hanya sekedar kagum, dan kebaikan Hyejin membuatmu, secara tak kau sadari, jatuh cinta padanya,” ujar Eunhyuk

“Tapi bagaimana bisa semudah itu melupakan seseorang?” tanyaku gusar

“Aish! Sudahlah! Yang penting adalah perasaanmu saat ini Kyuhyun! Perasaanmu yang mengatakan kalau kau mencintai Hyejin!” bentak Eunhyuk yang membuatku sadar.

“Dimana Hyejin?” tanyaku pada Eunhyuk

“Tadi Lee Donghae mencarinya, mungkin ia mau menyatakan perasaan. Semua orang tahu kalau Donghae sudah lama mengincarnya,” jawab Eunhyuk yang membuatku kelimpungan.

Aku menebar pandanganku dari luar jendela dan mendapati, Hyejin berdiri di sana bersama Donghae,

Aku mohon Hyejin, jangan menerimanya. Aku mohon.

“Kyuhyun-ah! Apa yang kau lakukan? Ini lantai 2!”

“Mengejar Hyejin,” jawabku dan dengan segera aku melompat dari jendela kelasku. Kakiku cenat-cenut tapi rasa itu kuabaikan. Hyejin saat ini lebih penting.

Aku segera berlari ketempat Hyejin dan menarik tangannya agar ia yang tadi membelakangi dengan segera melihat kearahku.

“Hyejin, saranghae” ujarku kilat ditengah-tengah naasku yang tersenggal-senggal.

Hyejin terdiam dengan matanya yang membesar seakan-akan menyatakan keterkejutan

“Bukankah ini waktunya kau menjawab?” tanyaku setengah bercanda

Hyejin menatapku tajam sambil menyunggingkan sebuah senyum licik.

“Tak semudah itu untuk menjadi pacarku. Pertama-tama, aku harus melakukan pembalasan,” ujat Hyejin yang tak kumengerti namun tiba-tiba ia menarik kerah bajuku lalu mencium bibirku kilat.

Aku terdiam, terpaku. “Dengan begini kita impas. Aku tahu apa yang kau lakukan tadi pagi Tuan Cho,” ujar Hyejin diiringi senyum manisnya yang lagi-lagi membuat jantungku berdetak kencang. Aku menarik Hyejin ke dalam pelukanku.

“Kau minta nama depanku kan? Bagaimana kalau habis pulang sekolah ini kita menikah?” usulku yang dianggap serius oleh Hyejin

“Boleh saja, tapi apa boleh? Kita masih bocah ingusan,” ujarnya

“Kawin lari saja, cinta tak memandang umur kan?” sahutku yang disambut senyuman manis dari Hyejin.

Aku memeluknya dan dapat merasakan, dari ujung rambut sampai kakinya, menyatakan kalau dia mencintaiku.

“Jeongmal saranghae nona Cho Hyejin,” bisikku

“Hei, hei, kalian lupa dengan aku disini?” ujar seseorang. Aku menengok ke sumber suara dan aku baru sadar kalau baru saja aku mengganggu momen pernyataan cinta orang lain. Lee Donghae yang masih berdiri ditempatnya tadi menatapku kesal.

“Omo, mianhe, mianhe Donghae sshi. Aku lupa denganmu,” jawabku jujur.

Ya beginilah cinta. Dunia serasa milik berdua. Yang lain, ngontrak. HAHAHA Jeongmal Saranghae Nona Cho Hyejin.

 

-THE END-

@esterong