HERE WE GO, girls!!

SEMOGA MEMUASKAN YA…

 

Annyeong.

Aku adalah Park Minah, mahasiswa tingkat 1 Universitas X, yang selalu saja punya masalah dengan nilai. Berbanding terbalik dengan kedua sahabatku, Jung Yunho dan Choi Siwon yang selalu gemilang sejak hari pertama mereka menjadi mahasiswa.

“Yun, ajarkan aku matematika,” pintaku saat istirahat siang di kantin.

“Kali ini berapa nilaimu?” tanya Yunho.

“35,” jawabku.

Yunho hanya menghela nafas panjang. “Ikut aku ke perpustakaan. Kita belajar di sana. Sekarang,” kata Yunho.

“Jangan sekarang. Aku mau makan siang dulu. Lapar sekali,” protesku.

“Tadi sebelum kuliah kan kau sudah makan sekarang makan lagi. Makan terus. Aku heran kemana semua gizi makanan yang kau makan. Yang pasti bukan ke otakmu karena aku lihat perut dan lenganmu yang semakin besar.”

Aku memanyunkan bibirku. Aku tersinggung. Aku tahu aku termasuk golongan gadis gemuk dan tidak pintar tapi Yunho tidak perlu berkata seperti itu.

“Ya sudah kau makan saja dulu. Kalau sudah kenyang susul aku ke perpustakaan,” ujar Yunho lalu pergi ke perpustakaan.

Aku lalu membeli makan siang dan memakannya sendirian. Tiba-tiba Siwon datang menghampiriku. “Nilai matematika dasar, pegantar ilmu matematika, dan aljabar mu parah sekali. Kau harus belajar lebih giat lagi, Park Minah,” kata Siwon tanpa basa-basi.

Mendengar itu aku langsung menelan makananku. “Choi Siwon, kenapa begitu datang kau langsung ngomongin nilai sih. Masih banyak kan yang bisa kau katakan,” ujarku gusar.

Siwon lalu duduk di hadapanku. “Tidak ada. Aku khawatir dengan nilai-nilaimu. Ayolah Minah, lebih giatlah belajar. Aku tidak mau kau lulus hanya dengan nilai C apalagi D. Kau harus dapat nilai minimal B,” kata Siwon.Dari suaranya aku tahu ia benar-benar mencemaskanku. Sejak kami bersahabat dia selalu mengawasiku mulai dari sekolahku, pergaulanku bahkan makananku. Hal inilah yang membuat aku menyayanginya bukan lagi sebagai sahabat tapi lebih dari itu.

“Aku tahu aku selalu protes akan nilai-nilaimu tapi tidak pernah bisa membantu. Kau tahu sendiri aku tidak bisa mengajar karena itu. . .”

“Aku sudah minta tolong Yun untuk mengajari aku kok. Tenang saja,” selaku.

Siwon tersenyum lega lalu menepuk-nepuk kepalaku. “Bagus. Belajar yang baik ya. Jangan sampai tidak lulus. Ingat, nilaimu minimal B,” kata Siwon.

“Iya, siwon-nim,” sahutku.

“Satu lagi, kau harus segera diet dan olahraga. Badanmu sudah semakin membesar,” lanjut Siwon lalu berpamitan karena ia ada rapat panitia acara kampus.

Seketika itu juga aku berhenti makan dan menyingkirkan semua makanan yang ada di depanku. Perkataan Siwon benar-benar langsung tertanam di diriku. Aku harus segera diet dan olahraga.

 

===

 

Saat ini aku sudah sampai di perpustakaan dan sedang mencari-cari dimana Yunho berada. Ternyata, pria itu duduk di belakang rak buku tinggi yang bertuliskan ‘Matematika Dasar’. Di mejanya telah bertumpuk berbagai buku matematika dari berbagai pengarang dan penerbit.

“Aku pikir kau akan kabur,” kata Yunho.

“Tidak mungkin. Aku sudah bertekad akan lulus semester ini dengan nilai minimal B untuk semua mata kuliah yang aku ambil!” sahutku dengan semangat.

“Akhirnya kau sadar juga kalau kuliah itu penting. Mukjizat itu nyata!”

“Dan aku akan mulai diet dan olahraga supaya langsing!”

“Demi apapun yang hidup di dunia ini. Apa yang membuatmu jadi seperti ini?” tanya Yunho yang heran melihatku begitu bersemangat.

Aku tersenyum lalu berbisik pada Yunho, “Choi Siwon.”

Persahabatanku dengan Yunho memang lebih dekat dibanding aku dengan Siwon karena aku dan Yunho sudah kenal dari lahir, rumah kami pun berseberangan. Waktu kecil pun kami tidak jarang mandi bersama. Intinya, kami sudah saling mengenal satu sama lain luar dalam dan tidak pernah ada yang bisa dirahasiakan di antara kami.

Ah, sudah saatnya aku belajar. Aku segera mengambil bukuku dan memperhatikan semua yang diajarkan Yunho. Semua yang dia ajarkan harus masuk ke dalam otakku demi nilai B.

 

===

 

3 jam belajar matematika sungguh sanggup membuat otakku mengebul. Lelah sekali rasanya. “Yun, aku capek. Kita lanjutkan nanti saja ya,” kataku.

“Dasar pemalas. Baru 3 jam sudah menyerah. Kau masih banyak belajar tahu,” sahut Yunho.

Aku mencibirkan bibirku. “Biar saja. Wek! Aku pulang dulu ya nanti malam aku belajar lagi di rumahmu. Sampai jumpa,” kataku lalu pergi.

Aku segera turun ke tempat parkir mobilku dan membuka mobilku. Ku masukkan semua buku-buku dan tas ke jok penumpang depan. Setelah itu aku masuk dan langsung memacu mobilku ke klinik kecantikan mamaku.

 

===

 

Meskipun mamaku yang memiliki klinik ini, aku tetap harus mengantri jika ingin menemuinya karena pasiennya yang sangat banyak. Sebenarnya bisa saja menemui mama di rumah tapi aku tidak bisa sabar menunggu sampai nanti malam. Aku harus konsultasi sekarang juga.

Akhirnya setelah kurang lebih menunggu 1 jam, aku bisa masuk ke ruangan mamaku.

“Halo, anakku. Ada apa kesini? Duit jajanmu habis ya? Hehehe,” sapa mamaku.

“Bukan. Aku mau langsing dan terlihat menarik,” kataku langsung pada intinya.

“Hohoho. Apa yang membuatmu berubah pikiran? Pria ya?” goda mamaku sambil menyuruhku tiduran.

Aku hanya tersenyum.

“Siapa dia? Yunho?” tanya mama.

“Kenapa Yunho? Bukanlah, ma. Mana mungkin aku sama dia. Mama tahu Choi Siwon?”

“Choi Siwon?”

“Iya. Temanku yang datang ke rumah beberapa waktu lalu mengantarkan parcel untuk mama.”

“Oh pria itu. Dia memang sangat tampan. Pantas kau suka padanya.”

“Dia juga baik loh, ma.”

Sesi pemeriksaan ini akhirnya berujung jadi sesi curhatku. Aku bercerita pada mama segalanya soal Siwon sembari mama meneleti sekujur tubuhku.

“Sebenarnya mama bisa saja langsung sedot lemak tapi itu terlalu berisiko. Lebih baik kamu minum teh pelangsing ini saja dan diet serta olahraga yang benar. Satu lagi, untuk perawatannya tebus ini di apotik” kata mama sambil menyerahkan selembar resep.

Aku mengambil teh pelangsing dan resep yang diberikan mama lalu memasukkannya ke dalam tas. “Makasih ya, ma. Oh ya, obatnya gratis kan?” tanyaku.

“Enak saja. Bisa rugi klinik mama,” jawab mama. “Sudah sana pergi tebus obatnya. Pasien mama masih banyak. Hehehe.”

Aku lalu keluar dari ruangan mama lalu pergi menebus resep di lantai dasar. Tidak lama obat-obat perawatan serta berbagai krim sudah siap dalam satu tas besar. Aku membawanya pulang dengan cuma-cuma karena ternyata mama yang membayarnya. Hahaha.

 

===

 

Setelah mandi, aku segera memakai krim malam di wajah dan seluruh tubuhku lalu memakai baju dan pergi ke rumah Yunho untuk kembali belajar.

Aku menganggap Yunho dan keluarganya seperti keluargaku sendiri jadi aku juga sudah menganggap rumah mereka seperti rumahku. Aku menyelonong masuk lalu bertegur sapa dengan pembantu dan supir yang bekerja di rumah itu. Tidak lupa juga menyolong beberapa potong kue tapi tidak jadi karena teringat aku sedang diet.

Aku segera memasuki ruang keluarga dan bertemu dengan mama dan adik perempuan Yun. “Omonim! Ahrassi! Annyeong!” sapaku dengan ceria.

“Onni!” sahut Ahra tak kalah ceria lalu berlari ke arahku. “Malam ini kau akan belajar sampai jam berapa? Nanti dengarkan ceritaku ya. Aku sedang sebal sama Jongwoon. Akhir-akhir ini dia sibuk sekali sampai lupa padaku. Aku tahu acaranya menyita banyak waktu tapi masak hanya untuk sms saja tidak bisa? Aku sebal, onni.”

“Ahra, ceritanya nanti saja. Lebih baik kau belajar dulu juga saja. Minah onni ke sini untuk belajar bukan untuk mendengar cerocosanmu,” sela mama Yunho.

“Iya, aku tahu. Aku juga tidak akan bercerita panjang-panjang kok tadi,” sahut Ahra lalu pergi ke kamarnya untuk belajar.

Mama Yunho alias nyonya Jung lalu kembali menatap aku. “Halo, sayangku. Ya ampun Ahra itu kalau sudah ketemu kamu jadi hiperaktif. Maaf ya, sayang,” kata beliau sambil memelukku seperti anaknya sendiri. “Yunho ada di kamarnya, langsung masuk saja ya. Nanti cemilannya omma antar.”

“Omma, aku sedang diet jadi tidak ada cemilan dulu. Kue di dapur tadi saja tidak jadi aku ambil,” kataku dengan jujur.

“Oh ya? Kenapa?” tanya beliau dengan mata membelalak saking herannya.

“Ada deh,” jawabku sambil tersenyum penuh arti.

Nyonya Jung rupanya mampu menangkap makna dibalik senyumku. “Ah, omma tahu. Kau sedang naksir cowok ya? Ya kan ya kan?”

Aku mengangguk dengan malu-malu.

“Siapa? Siapa? Tampan? Seperti apa orangnya?” tanya beliau penuh keingintahuan.

“Perfect!” kataku sambil tersenyum. “Pokoknya tidak mengecewakan. Hihi.”

“Oke. Nanti cerita-cerita sama omma ya, sayang. Kalau butuh bantuan hubungi tante. Kalau soal kecantikan omma percaya penuh pada mamamu tapi kalau soal cinta, serahkan pada omma.”

Aku mengangguk lagi sambil tersenyum senang. “Tentu saja. Omma harus membantuku ya. Janji loh.”

Aku sangat senang dengan keluarga ini terutama nyonya Jung dan ahra yang sangat cerewet tapi baik luar biasa. Kalau aku dan mamaku sudah berkumpul dengan mereka berdua dapat dipastikan tempat kami berkumpul akan sangat heboh. Hihihi.

 

===

 

Aku duduk di depan meja yang memang sengaja diletakkan nyonya Jung di kamar ini karena ia tahu aku sering kemari untuk belajar. Awalnya aku dan nyonya Jung bolak balik mengangkut meja ini setiap awal dan akhir belajar tapi entah sejak kapan meja ini jadi bertengger terus di situ.

Aku meletakkan buku-buku dan alat tulisku di atas meja. Sembari menunggu Yunho datang, aku membaca-baca sedikit bahan pelajarannya.

Saat membaca halaman kesekian, aku mendengar ada suara pintu dibuka. Otomatis aku menoleh ke arah suara itu dan melihat Yunho muncul dari dalamnya hanya dengan menggunakan handuk kecil yang menutupi bagian pinggul sampai setengah dengkulnya.

“Aaah!” pekik Yunho terkejut. “Sedang apa kau? Balikkan badanmu!”

Aku sama kagetnya dengan Yun tapi aku tidak mampu berkata apa-apa. Aku segera berbalik dan berusaha menenangkan diriku sendiri.

“Lain kali kalau masuk kamarku bilang dulu padaku. Kita ini bukan anak kecil lagi,” kata Yunho sambil duduk di depan sisi meja yang lain sudah lengkap dengan pakaiannya.

Aku membalik tubuhku lagi dan menatap Yunho. “Maaf, aku tidak tahu. Omma menyuruhku langsung masuk jadi ya aku masuk saja,” kataku.

“Dasar ibu,” gumam Yunho lalu mulai membuka buku-bukunya. “Kita lanjutkan yang tadi.”

“Iya,” kataku patuh. Inilah awal otakku bisa mengebul lagi demi nilai B.

 

===

 

3 jam yang sangat intim dengan matematika akhirnya usai! Aku segera ngacir keluar dari kamar Yunho setelah berterima kasih padanya. Aku melihat ruang keluarga sudah sepi tinggal si Bibik yang sedang nonton tivi. “Bik, Ahra mana? Sudah tidur?” tanyaku.

“Iya, agashi. Ahra sudah tidur. Anda sudah mau pulang?” kata Bibik padaku.

“Iya. Aku pulang dulu ya, Bik. Bilang pada Ahra maaf gak jadi cerita-cerita malam ini. Annyeong, Bibik.”

si Bibik lalu mengantarkan aku pulang sampai ke rumah meskipun sebenarnya hanya tinggal menyeberang jalan selebar 10 meter.

Aku segera masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terima kasih kepada beliau.

“Minah-ah! Apa ini? Kok baunya tidak enak?” tanya oppaku sambil menunjuk sebuah gelas yang ada di meja ruang keluarga.

Aku yang sudah mau melangkahkan kaki ke kamar jadi berubah haluan mendekati gelas tersebut. Aku mencium isinya. “Yek, aneh baunya,” kataku. “Apa ini?”

“Mana aku tahu. Kata Bibik kau menyuruhnya membuat itu untukmu tadi,” sahut oppa.

Aku menepuk jidatku. Aku tadi meminta tolong Bibik untuk menyeduh teh pelangsing. Ternyata seperti ini baunya. Aneh sekali. Tapi demi program pelangsinganku, aku menegak semua isinya sampai tak bersisa sambil menahan nafas.

“Apa sih itu?” tanya oppa.

“Teh pelangsing,” jawabku. Aku tahu dia pasti akan tertawa jika mendengar jawabanku tadi makanya aku langsung menyambar, “Jangan tertawa, oppa. Aku tahu terlihat konyol.”

Oppa sudah tertawa terbahak-bahak sebelum aku menyambarnya tadi. “Kenapa kau tiba-tiba pengen langsing? Pasti karena Choi Siwon. Ya kan?” ujarnya dengan santai.

Aku tersipu malu sekaligus kaget. “Bagaimana oppa bisa tahu?” tanyaku.

“Aku sudah kenal kau lebih dari 20 tahun dan darah yang mengalir di nadi kita ini sama. Bodoh!” jawabnya.

“Maksudnya apa sih?” tanyaku tidak mengerti.

“Haish. Dasar IQ jongkok. Sudah, lupakan saja. Sebentar lagi kau minta tambahan uang jajan untuk make-up. Lihat saja.”

Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oppa. Dia memang begitu. Kalau ngomong tidak pernah jelas. Salut buat mama, papa dan Yoona onni yang mampu menangkap semua perkataannya.

 

= = =

 

Sudah seminggu lebih aku melakukan diet ketat dan olahraga. Setiap pagi aku hanya makan satu apel. Sedangkan untuk makan siang aku mengkonsumsi susu murni dan roti gandum. Untuk malam, aku memilih untuk tidak makan. Sedangkan untuk olahraganya aku rajin fitness, yoga dan pilates 3x seminggu setiap pagi di gym dekat rumah. Aku juga tidak pernah lupa mengkonsumsi teh dan se-tas besar paket perawatan dari mama. Hasilnya sangat sangat memuaskan. Dalam seminggu aku sudah berhasil turun 10kg dan kulitku juga sudah semakin mulus dan putih.

Siwon pasti akan memuji aku jika bertemu nanti.

Aku siap berangkat ke kampus tapi tertahan sebentar karena harus menyapa Yoona onni, pacar oppaku, yang tiba-tiba datang.

“Minah, kau kurusan ya sekarang. Cantik sekali,” pujinya.

“Terima kasih, onni. Tapi tetap masih cantikan onni,” balasku.

“Haha. Kamu bisa aja. Semua ini hasil kerja keras kok. Kalau gak kayak gini, oppamu bisa kabur nanti. Hehehe,” katanya sambil tertawa memamerkan deretan giginya yang rapi.

Yoona onni memang adalah gadis tercantik, terbaik dan terpintar dari semua gadis yang pernah jadi pacar oppa. Aku dengar-dengar dulu dia finalis miss negeri ini. Aku tidak tahu bagaimana gadis sesempurna ini mau jadi pacar oppaku yang biasa-biasa saja. Oke, oppaku memang menarik dan pandai bergaul tapi menurutku belum setara lah sama Yoona onni. Hahaha.

“Onni, aku pergi kuliah dulu ya. Nanti kita cerita-cerita lagi ya. Annyeong!” kataku lalu pergi ke mobilku. Dalam hitungan detik aku sudah berada di jalan menuju kampusku yang untungnya tidak jauh dari rumahku.

Sesampai di kampus, aku memarkir mobilku. Aku mengambil buku-buku dan tasku lalu beranjak ke kelas. Dalam perjalanan, aku melihat Siwon dan Yunho sedang berjalan bersama seorang gadis cantik, sangat cantik. Badannya tinggi langsing dengan kulit putih. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang dan tertawa-tawa. Aku menyusul mereka.

“Annyeong!” sapaku ketika sudah berada di samping mereka.

“Ah, annyeong, Minah-ah,” balas Siwon dengan ramah seperti biasa. Gadis di sebelahnya yang sangat cantik itu menatap Siwon dengan tatapan bertanya ‘siapa dia’. “Kenalkan ini teman kami, namanya Minah. Dia dua tahun di bawah kita,” kata Siwon pada gadis itu lalu mengenalkannya padaku. “Minah, ini teman sekelas kami namanya Han Hamun.”

Aku membungkukkan badanku lalu menyapanya, “Annyeong, onni. Senang bertemu dengan onni cantik sepertimu.”

Gadis yang bernama Hamun itu tersenyum lalu mengucapkan, “Gomawo. Kau juga cantik.”

Aku membalas senyumnya lalu beralih ke Siwon tapi Yunho tiba-tiba menyela, “Seingatku kelas matematika dasarmu hari ini ada kuis. Masuk kelas sana. Aku gak mau tahu.” Yunho lalu menarikku menjauh dari mereka, lebih tepatnya dari Siwon dan Hamun karena Yunho ikut berjalan bersamaku.

“Kenapa kau menarikku sih? Aku kan masih mau ngobrol sama Siwon,” kataku.

“Karena kau harus segera masuk kelas,” sahutnya santai.

“Oh ya, Hamun onni itu cantik sekali ya. Badannya juga bagus,” kataku mulai melantur.

“Iya tapi berisiknya minta ampun. Heran aku Siwon bisa suka padanya,” sahut Yunho.

Saat itu juga aku merasa kecewa. Sakit hati dan kesal bercampur jadi satu. Segala yang aku lakukan ternyata sia-sia.

“Maaf, aku lupa kau sedang tertarik padanya,” lanjut Yunho merasa bersalah saat menyadari perubahan moodku.

“Tidak apa. Aku justru berterima kasih. Karena kau, aku jadi tahu yang sebenarnya,” kataku lemas. “Aku duluan ya.” Aku lalu masuk kelasku dan mengikuti pelajaranku seperti biasa serta mengerjakan kuis semampuku saja. Setelah itu, aku pulang ke rumah seperti biasa.

 

===

 

Aku meminta tolong Bibik untuk menyediakan makan siang menjelang soreku sedangkan aku mandi karena dunia ini rasanya panas sekali, sepanas hatiku. Saat aku mau masuk kamar, papa keluar dari kamarnya.

“Loh, pa? Tumben jam segini udah pulang. Ada apa?” tanyaku.

“Emang papa gak boleh pulang lebih cepat? Kamu lebih senang papa gak di rumah ya? Hahaha,” ujar papaku yang tentu saja hanya bercanda. “Hari ini papa baru dapat rejeki jadi papa mau ngajak semua makan di restoran langganan kita.”

“Semua siapa, pa?” tanyaku.

“Ya kamu, jungsu, bibik, mamang, sama keluarga Jung. Oh sama Yoona juga,” jawab papa.

“Loh mama?”

Papa lalu mengelus-elus dahiku sambil tertawa. “Mama dan Papa mu ini satu paket, sayang. Hahaha,” katanya. “Sudah, mandi dulu sana. Nanti jam 6an kita berangkat ya. Jangan telat.”

Aku mengangguk senang lalu mandi. Setelah memakai baju, aku keluar kamar lagi untuk menyantap roti gandum dan susu yang telah disiapkan Bibik.

Saat sedang asik makan, aku lihat Yoona onni memasuki rumah. Dia datang menggunakan gaun semi formal selutut warna ungu muda dan stiletto senada yang sangat pas di kakinya. Aku melihat wajahnya juga dipoles tapi terlihat natural. Aku membandingkannya dengan diriku. AKU KALAH JAUH!

Aku memandang Yoona onni dengan tatapan kagum sekaligus iri. “Minah! Kamu makin cantik deh, sayang,” katanya dengan ramah seperti biasa.

“Iya, tapi aku masih kalah cantik dari onni. Terlebih lagi ada cewek super cantik yang lagi ditaksir gebetanku,” sahutku.

Yoona onni tertawa renyah sekali. Ia lalu memamerkan kotak yang dibawanya kepadaku, yang mirip seperangkat kotak make up mama. “Makanya aku membawa ini. Jungsu bilang padaku kamu sedang naksir cowok dan dia minta padaku untuk membantumu. Semalaman aku berpikir keras apa yang bisa aku lakukan untukmu dan hanya ini yang bisa aku lakukan. Make up alias tata rias wajah,” katanya ceria.

Aku melompat senang dari kursi makanku lalu memeluk Yoona onni. “Terima kasih banyak, onni ku!” seruku kegirangan. “Tapi cowok itu sudah suka sama cewek lain, onni.”

“Masih ada banyak yang bisa kau taklukan. Lebih enak dikejar-kejar daripada mengejar toh?”

Aku hanya bisa nyengir kesenangan. Yoona onni lalu menggandengku masuk kamar. Dia mendudukkan aku di depan meja rias yang hanya aku gunakan untuk berkaca saat sisiran dan akhir-akhir ini memakai krim perawatan dari mama.

Yoona onni membuka lemariku dan memilih-milih baju dan sepatu yang sesuai. Pilihannya jatuh kepada terusan mini berlengan panjang warna merah dan biru sebagai ornamennya. Kalau onni tidak membuka-buka lemariku mungkin aku tidak tahu aku punya baju itu. Untuk sepatu onni memilih mini boots warna coklat yang aku juga tidak tahu kapan aku punya sepatu itu.

“Onni, aku tidak ingat pernah punya baju dan sepatu seperti itu,” kataku.

Lagi-lagi dia tertawa. “Jungsu diam-diam membelikan ini semua untukmu. Dia tahu adiknya sudah mulai genit. Hihihi,” ujarnya.

“Onni ah…” kataku malu.

Yoona onni lalu memintaku untuk mengganti pakaian yang sedang aku pakai dengan pakaian itu. Aku pun menurutinya. Setelah berganti pakaian, Yoona onni mendandaniku sambil mengajarkan aku caranya berdandan yang benar.

Tidak lama, wajahku sudah tidak kalah cantik dari Yoona onni. Lebih cantik bahkan! Hehe. Yoona onni memandangku lalu mendecak bangga. “Akhirnya! Hahaha. Ayo, kita keluar.”

Aku segera memakai sepatuku lalu mengikuti Yoona onni keluar kamar. Oppa, papa dan mama ternyata sudah menunggu di ruang tamu.

“Ah, anakku ternyata cantik sekali kalau mau merawat diri,” puji papa lalu merangkulku.

“Siapa dulu mamanya,” sahut mama tidak mau kalah lalu tertawa.

“Iya, iya,” kata papa lalu gantian merangkul mama.

Aku menatap oppa penuh arti. “Apa kau lihat-lihat begitu? Apa ada yang salah denganku?” tanyanya.

“Bagaimana adikmu? Cantik banget ya? Hehehe,” kataku lalu memeluk dan mengecup pipinya. “Jeongmal gomawo, oppa! Aku tahu kau sebenarnya sangat sayang padaku.” Aku mendelikkan mataku ke tubuhku sendiri dengan penuh makna lalu pergi  menyusul papa dan mama ke dalam mobil.

 

===

 

Aku berjalan masuk restoran sambil menggelayutkan lenganku di lengan papa meskipun papa merangkul mama. Jungsu oppa dan Yoona onni berjalan di belakang kami sambil mengobrol. Sedangkan bibik dan mamang berjalan di belakang oppa dan onni.

Kami masuk ke dalam ruangan khusus yang memang sudah dipesan terlebih dulu oleh papa.

Papa mengambil tempat duduk di ujung terdalam. Mama memilih duduk di sebelah papa dan aku memilih tempat di sebelah mama. Sedangkan oppa dan Yoona onni duduk dimana mereka suka asal tetap berdua.

Tidak lama kemudian, keluarga Jung datang dengan formasi sangat lengkap bahkan ada tambahan satu gadis seumuranku yang tidak aku kenal.

Seperti biasa, Ahra langsung berlari ke arahku sambil memekik, “Onni! Onni! Kau cantik sekali malam ini! Aku jadi makin cinta padamu!”

“Terima kasih Ahra cantik. Hihi. Ayo, sini duduk di sebelahku,” kataku. Ahra lalu duduk di sebelahku. Aku lalu menghampiri tuan dan nyonya Jung untuk memberi salam. Bedanya, jika dengan nyonya Jung ada tambahan, “Omma, ternyata laki-laki itu sudah punya gebetan.”

“Tenang sayang, masih banyak ikan di laut. Hohoho. Kapan-kapan ikut ke lokasi syuting omma. Banyak cowok-cowok oke di sana. Mati satu tumbuh seribu,” kata nyonya Jung penuh dengan semangat. Aku tersenyum semangat juga.

Aku kembali ke tempat dudukku lalu bercerita dengan Ahra. Aku mendengarkan seluruh ceritanya mengenai Jongwoon, pacarnya yang sedang sibuk kuliah di luar negeri sampai tidak sempat mengabarinya. Bahkan sambil makan pun kami bercerita dengan seru, tertawa-tawa sendiri sampai mama harus memperingatkan kami berkali-kali, “Jangan keras-keras tertawanya. Malu. Kalian itu wanita.”

Sambil ngobrol dengan Ahra aku memperhatikan 2 bibik dan mamang juga sedang berbincang sambil tertawa terkekeh-kekeh. Jungsu oppa terus saja berbicara sedangkan Yoona onni mendengarkannya sambil makan dan sekali-kali tersenyum. Kalau mama dan omma tentu saja membahas dunia mereka yang tak lepas dari kecantikan dan teman-temannya sedangkan si om dan papa membicarakan bisnis atau bola kesukaan mereka. Dan yang terakhir yang membuatku paling terusik adalah Yunho dan gadis tak dikenal itu yang daritadi terus saja menempel pada Yun. Masak iya itu pacarnya? Kalau iya, Yun pasti bilang padaku. Aku benar-benar penasaran siapa dia.

Tidak terasa sudah hampir jam 11 malam. Papa pun segera membayar semua pesanan. Tiba-tiba manajer restoran diikuti beberapa pelayan lain masuk ke dalam dan memberitahukan bahwa papa terpilih sebagai pelanggan paling setia bulan ini, “Selamat! Anda adalah pelanggan setia kami bulan ini! Sebagai hadiahnya semua makanan yang dipesan FREE!”

Sontak aku dan Ahra berteriak senang. “Wah! Papa benar-benar beruntung. Selamat, Pa!” kataku. Ahra juga tidak kalah girang. “Selamat ya, om tante!” katanya.

Manajer restoran dan anak buahnya itu hanya tersenyum saja melihat tingkah kami. Mereka lalu meminta foto kami. Dengan senang hati, kami berfoto bersama. Awalnya keluarga Jung enggan tapi aku berhasil memaksa mereka.

Aku tidak tahu bagaimana posisi foto kami yang pasti aku di sebelah mama dan Ahra sedangkan Yunho berdiri di belakangku.

“Dandanan mu tebal sekali. Aku sampai kaget tadi melihatmu. Aku pikir mayat hidup ikut diundang ke sini. Lebih baik dandani otakmu lebih dulu,” kata Yunho pelan sambil tertawa-tawa.

Aku menginjak sepatunya dengan bootsku sekuat tenaga. Aku tidak tahu dia kesakitan atau tidak yang penting dia tahu aku marah.

Selesai berfoto, aku langsung pergi meninggalkan ruangan. “Mamang, antar aku ke mobil,” kataku.

Aku tidak mau tahu apa-apa kecuali pulang sekarang juga. Aku benar-benar tersinggung kali ini.

 

===

 

Meskipun kesal, aku tidak lupa minum teh ku sebelum tidur. Bibik menyiapkannya saat aku sedan mencuci muka. Setelah minum, aku segera tidur dengan nyenyak. Pagi-paginya aku bangun sudah dengan badan yang lebih segar dan pikiran yang tenang.

Aku keluar kamar dengan wajah cerah dan menemui keluargaku yang sudah berkumpul di ruang makan. “Selamat pagi,” sapaku.

“Selamat pagi, sayang,” balas mama dan papa.

“Selamat pagi. Mood mu sudah membaik ya? Semalam kamu kenapa sih?” balas oppa.

Aku duduk di sebelah mama lalu mengambil satu buah apel dan berkata pada Jungsu oppa, “Ih oppa ini pagi-pagi bahasannya udah ga enak. Merusak suasana deh.”

“Habisnya sih semalam kamu tiba-tiba ngambek. Aku kan cemas. Ada apa sih?”

“Ih, ternyata oppa mencemaskanku juga ya? Hihi.”

“Kau ini! Gah! Ya sudah kalau gak mau cerita sama oppa. Wek!”

Aku tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan oppa yang seperti anak kecil jika merengek cerita dariku padahal dia sudah berumur 28 tahun. “Nanti aku ceritakan ya, oppaku sayang. Tenang saja. Tapi…”

“Tapi apa?” tanyanya tidak sabaran.

“Tapi ada bayarannya,” jawabku sambil nyengir.

“Gak usah kalau gitu. Wek!”

Aku tertawa sekeras-kerasnya sampai mama dan papa hanya bisa geleng-geleng melihatku.

Bibik tiba-tiba datang sambil membawa telpon yang lalu diberikan kepada mama.

“Hari ini klinik saya buka cuman agak siang… Iya, tentu saja boleh. Dengan senang hati… Baik, nanti saya sampaikan ke anaknya… Terima kasih loh, nyonya Jung,” ucap mama sambil sesekali tertawa keras lalu menutup telepon. Ternyata bakat tertawa kerasku menurun dari mama. Haha!

“Siapa, ma?” tanya papa.

“Nyonya Jung. Dia mau ngajak Minah yoga bareng terus ke klinik mama terus apalagi tadi itu sampai mama lupa, pa,” jawab mama. “Oh, ke lokasi syutingnya. Kamu mau gak, Nak?”

Tanpa berpikir dua kali aku mengiyakannya. Hari ini aku libur. Daripada nganggur di rumah mending ikut omma saja.

“Ya sudah, nanti habis sarapan langsung ke rumah Jung ya. Jangan lupa bawa baju yoga dan baju gantimu,” kata mama.

Aku mengangguk paham.

Setelah apelku habis, aku memasukkan baju yoga, baju ganti dan peralatan mandi ke dalam tas lalu aku kembali ke ruang makan untuk berpamitan kepada keluargaku, “Aku pergi dulu ya!”

“Oh ya oppa, nanti tolong tanyakan Yoona onni make up yang dia pakai. Aku rasa aku sudah membutuhkannya,” tambahku kepada oppa sebelum keluar rumah.

Tidak sampai 5 detik, aku sudah sampai di depan rumah keluarga Jung. Rupanya omma sudah siap karena dia langsung menyuruhku masuk mobil begitu aku datang. “Kamu duduk di depan saja ya, Minah. Biar omma dan manajer omma yang di belakang karena ada yang mau kami bicarakan,” kata nyonya Jung.

Aku menurutinya. Aku masuk ke dalam mobil dan kaget setengah mati karena Yunho sudah siap di belakang kemudi. “Aakh! Kenapa kau di sini?” tanyaku.

“Omma yang suruh, sayang. Supir dipake Ahra. Jadi daripada anak ini nganggur di rumah ya omma suruh aja jadi supir sehari kita. Hehehe,” kata nyonya Jung sambil mencolek pipi anak sulungnya itu.

Aku hanya bisa tertawa-tawa.

“Tawamu jelek sekali,” kata Yunho.

“Biar. Tak ada ruginya juga buat kamu kalau tawaku…atau otakku jelek,” sahutku menyindir.

Yunho tidak mendebatku. Dia hanya diam sambil mengemudikan mobil menuju gym langganan omma.

Aku segera turun dari mobil dan menghampiri omma. Kami berjalan ke dalam sambil tertawa-tawa tidak jelas sedangkan Yunho tidak tahu pergi kemana.

Aku dan omma langsung masuk kelas yoga setelah berganti pakaian. Kelas yoga selama 1,5 jam ini kami ikuti dengan serius demi ketenangan jiwa. Ceileh!

 

===

 

Selesai yoga, aku dan Omma mandi dan berganti pakaian lagi. Kami keluar dari kamar ganti menuju lobby. Di sana Yunho sedang duduk sambil menikmati kwetiaw goreng. Aku berlari menghampirinya lalu merebut sumpit dan piring kwetiaw-nya.

“Mashitta!” ujarku setelah berhasil memasukkan satu jepit kwetiaw goreng ke mulutku.

“Dasar perampok. Orang lagi lapar asal ambil aja,” kata Yunho sambil mengambil kembali sumpit dan piringnya.

“Cuman bagi dikit kok. Pelit amat sih. Iih!”

Aku duduk di sebelah Yunho sedangkan omma dan manajernya duduk di depan kami berdua. Kami terpaksa duduk dahulu disini karena Yunho harus menghabiskan makanannya lebih dahulu baru bisa pulang.

Duduk di sebelahnya membuat aku bisa mencium bau kaporit yang sudah mau hilang dari tubuh temanku ini.

“Kau habis berenang ya?” tanyaku pada Yunho.

“Iya, memang kenapa?” jawabnya.

Aku tahu dari dulu Yunho memang jago renang. Tidak pernah ada yang bisa mengalahkannya sewaktu SMA. Gak heran setiap ada pertandingan renang antar sekolah, dia selalu menjadi wakil dari sekolah kami dulu.

“Udah lama gak berenang bareng ya? Kapan-kapan kita lomba renang ya?” kataku.

“Kau tidak mungkin menang. Buat apa capek-capek melawanku?” sahut Yunho terlalu percaya diri.

“Ih, kepedean tinggi banget sih! Kalau gitu minggu depan, eh jangan, 2 minggu lagi kita tanding renang di sini. Siapa yang kalah harus jadi pelayan yang menang selama 1 minggu! Gimana?” tantangku sok percaya diri.

“Deal!” sahut Yunho tepat setelah suapan terakhirnya.

Kami pun akhirnya berhasil keluar dari tempat ini dan berpindah ke tempat lain, lokasi syuting nyonya Jung.

 

===

 

Omma memang salah satu artis terkenal di zaman ini meskipun tidak lagi termasuk papan atas seperti dulu. Sejak menikah dan punya anak, akting hanya menjadi pekerjaan sampingan saja buatnya. Tapi dia tetap dihormati oleh rekannya di lokasi.

Aku mengekor omma kemana pun dia pergi kecuali pada saat dia sedang take. Aku sangat menikmati setiap detik berada di lingkungan ini. Jiwaku rasanya begitu bebas.

Saat aku sedang memperhatikan omma syuting, aku mendengar seseorang yang sepertinya asisten sutradara yang sedang marah-marah di teleponnya, “Bagaimana bisa dia akan telat selama itu?! Memangnya produksi ini bisa seenak dia?! Aku gak mau tahu, dalam satu jam dia harus ada di sini!”

Asisten sutradara itu lalu melaporkan apa yang baru dia dapatkan kepada sutradaranya yang dapat dilihat sangat berang. “Artis baru saja belagu. Jika dalam satu jam dia tidak datang, segera cari penggantinya!” teriak sutradara tersebut.

Omma sudah selesai mengambil scene pertama sampai kelimanya tapi belum bisa melanjutkan scene berikutnya karena artis yang dipasangkan dengan omma belum datang.

“Baru jadi artis pemula saja sudah berani telat. Lebih dari 3 jam pula!” omel omma di dalam mobil.

Aku hanya tertawa-tawa berusaha menenangkan beliau, “Tenang, omma. Kan lumayan bisa buat istirahat.”

“Tapi makin cepat selesai kan makin enak, Minah. Omma kan sudah janji mau ke klinik mamamu,” sahut beliau lagi.

“Buat omma, mama siap 24 jam kok. Hehe,” kataku.

Dari luar aku mendengar teriakan sutradara, “Sudah, gantikan saja dia. Cari penggantinya cepat!”

Semua kru dibuat kelimpungan karenanya. Omma pun jadi ikutan naik darah. “Kau saja yang gantikkan artis sombong itu. Ayo turun,” kata omma dengan galak.

Aku yang tidak pernah melihat omma semarah itu jadi kaget dibuatnya. Aku ikut omma turun dari mobil dan menemui sutradara.

“Coba saja dulu anak ini,” kata omma kepada sutradara.

Sutradara itu memperhatikanku dari atas sampai bawah. “Oke, kita coba. Semuanya siap untuk scene berikutnya.”

Aku diberikan script dan pengarahan langsung oleh sutradaranya. Ketika aku sudah paham, pengambilan gambar pun dimulai.

Aku melakukan sesuai dengan apa yang diarahkan sutradara. Script nya pun tidak sulit aku hapalkan. Semuanya dapat aku jalani tanpa banyak masalah. Sutradara pun tampaknya puas dengan apa yang aku lakukan.

“Besok datang lagi ya. Kita akan mengurus kontrak dan segala macamnya. Setelah itu, kamu bisa mulai syuting yang sesungguhnya,” kata sutradara.

“Maksud bapak?” tanyaku bingung.

“Ya kau akan menjadi salah satu pemeran di film ini. Bukan peran besar sih tapi cukup penting,” jawab sang sutradara.

Aku tidak tahu harus berkata apa, aku hanya mengangguk-angguk. Aku senang sekali. Omma menatapku sambil tersenyum.

Aku dan Omma sedang dibersihkan make up nya saat tiba-tiba Yunho masuk ke dalam ruangan kami. “Lama sekali sih. Aku sudah lapar nih,” protes Yunho.

“Sabar ya, sayang. Sebentar lagi,” kata omma.

Aku lalu menyambar, “Yun, aku ditawari jadi pemain di film ini loh.”

“Kau jadi apa? Pemegang kabel? Atau yang beres-beres?” sahut Yunho.

“Ih, serius. Tanya saja sama omma. Wek!”

“Yang benar, bu? Jadi apa anak ini?” tanya Yunho pada ibunya.

“Jadi anaknya ibu,” jawab omma.

“Berarti dia sering muncul dong? Terus kuliahnya gimana?” tanya Yunho.

“Itu gunanya kamu, Yun, ” kataku. “Kau jadi manajerku saja. Dengan begitu kau kan bisa jadi mengajariku juga.”

“Enak saja. Terus kuliahku gimana? Masa cuman demi kamu aku gak kuliah?”

“Ya disambil dong. Pintar-pintar kamu ngatur waktu aja.”

“Kamu berani bayar berapa?” tanya Yun.

“50% honorku,” jawabku tanpa ragu.

“Deal!” sahut Yun.

“Ah, kau memang sahabatku yang paling baik dan tampan! Saranghae!” kataku sambil memeluknya.

Yunho langsung melepaskan pelukanku. “Jangan sembarangan memeluk dan mengatakan cinta padaku,” katanya lalu keluar.

“Ih, dia kenapa sih omma? Akhir-akhir ini suka begitu deh. Nganggep aku kayak orang asing aja,” tanyaku heran.

Omma hanya tertawa kecil. “Omma juga tidak tahu.”

 

===

 

Aku dan Omma sedang menuju mobil saat mobil yang aku kenali sedang menuju ke arah kami. Itu mobil Siwon. Aku kenal betul.

Benar saja. Setelah mobil itu diparkir, Siwon keluar dari mobil itu diikuti gadis yang aku kenali bernama Hamun.

“Ngapain mereka di sini?” gumamku. Aku memperhatikan kemana mereka berjalan. Mereka berjalan secepat mungkin ke arah sutradara.

“Hei, ayo naik. Kau mau menyuruh kami menunggu sampai kapan?” seru Yunho dari dalam mobil.

Sambil menatap Siwon dan Hamun, aku naik ke dalam mobil.

“Omma, tadi liat Siwon datang?” tanyaku.

“Tidak. Memang kenapa?” sahut Omma.

“Tadi aku lihat Siwon dan Hamun onni datang ke lokasi. Buat apa ya mereka ke sini?” kataku.

“Han Hamun maksudmu?”

Aku menganggukkan kepalaku.

“Buat dimarahi sutradara. Mungkin dia sudah dipecat sekarang. Dari awal omma sudah tidak sreg dengannya. Dia pikir, mentang-mentang anak konglomerat bisa seenaknya. Enak saja.”

Aku lihat omma memang sangat emosi terhadap Hamun onni. Walau begitu aku tetap kasihan pada Hamun onni. Dia yang sudah bersusah payah mendapatkan peran itu masak harus tergantikan begitu saja? Olehku lagi!

“Omma, kalau aku menolak menggantikan dia bagaimana?” tanyaku takut-takut.

“Kenapa memangnya? Kau tidak senang bekerja jadi aktris?”

“Bukan. Aku tidak enak pada Hamun onni. Dia pasti sudah susah payah untuk mendapatkan peran ini. Masak aku ambil gitu aja.”

“Itu salahnya dia sendiri kok.”

“Tapi… Aku merasa tidak enak hati, omma.”

“Heh! Berhenti ngomong tidak enak hati. Perutku sudah tidak enak ini,” sela Yunho yang tampaknya gusar. “Ibu mau makan dimana?”

“Ibu mau pulang. Capek sekali,” kata omma.

“Ibu, aku lapar,” rengek Yunho.

“Nanti delivery saja makanan apa yang kau mau,” kata omma.

Yunho menyerah. Ia mengemudikan mobil menuju rumah.

 

– to be continued-

@gyumontic