Aku langsung tergeletak di tempat tidurku begitu sampai di rumah dan baru bangun keesokan subuh-subuh. Aku keluar dari kamar dan menemukan mama sedang yoga di ruang keluarga.

“Ma, kemaren waktu nemenin Jung omma aku di tawarin kontrak film. Syutingnya cuman 2 bulan kok, ma. Boleh?” tanyaku walaupun aku tahu itu pasti menganggu konsentrasi mama.

Mama menghentikan yoganya lalu berbicara denganku, “Film apa?”

“Film yang sama kayak Jung omma. Aku berperan sebagai anaknya,” jawabku.

“Lalu kuliahmu bagaimana? Apa tidak terganggu?”

“Aku akan mengatur waktuku sebaik mungkin. Yunho akan menjadi manajer sementaraku.”

“Kamu yakin bisa melakukannya?”

“Aku akan mencobanya sebaik yang aku bisa.”

“Boleh. Terserah kamu saja asal kamu bisa bertanggung jawab.”

Aku memeluk mamaku penuh terima kasih. Setelah itu aku berbicara dengan papaku yang tentu saja mendukung apapun yang ingin aku lakukan kecuali jika itu tidak baik.

Aku pun mulai sadar jadwalku akan padat merayap setiap harinya. Kuliah, syuting, gym dan belajar dengan Yunho. Semoga saja aku bisa membagi waktunya dengan baik. 

===

 

Sekitar jam 7 pagi saat aku sedang jogging, hapeku berbunyi. Aku segera mengangkatnya dan memekik tertahan saat si penelepon mengaku dari PH yang memproduksi film Jung omma kemarin.

“Iya, baik. Aku akan kesana nanti siang,” jawabku semangat.

Aku menutup teleponku lalu berlari menuju rumah Yunho. Tanpa permisi, aku masuk ke dalam rumahnya lalu menyelonong masuk kamarnya.

Aku melihat Yunho masih tidur tapi aku tidak peduli. Aku harus berbagi kebahagiaan ini dengannya. Aku tarik selimutnya lalu menguncang-guncang tubuh yang sedang tidur itu.

Tidak butuh waktu lama, Yunho sudah terbangun. “Ngapain kau di sini?” tanyanya galak.

“Aah! Manajerku!!” seruku. “Tadi aku di telpon PH agar datang ke sana nanti siang untuk tanda tangan kontrak. Nanti temani aku ya?”

“Gah! Kau pagi-pagi membangunkan aku hanya untuk bilang itu?!”

Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Jangan lupa honorku 50%!”

“Tentu saja! Terima kasih banyak ya, Yunho,” kataku terlalu senang. Aku memeluknya lalu mengecup kedua pipi sahabatku ini.

Lagi-lagi Yunho mendorongku menjauh darinya. “Sudah aku bilang jangan sembarangan memelukku apalagi menciumku. Aku tidak suka. Memangnya aku pacarmu?” kata Yunho jauh lebih galak dan membuatku takut.

Aku pergi menjauh darinya. “Kau kenapa? Kok jadi galak banget akhir-akhir ini? Memang aku ada salah ya?” tanyaku takut-takut.

Yunho belum menjawab pertanyaanku saat pintu kamar diketuk.

“Masuk saja,” kata Yunho.

Lalu masuklah seorang gadis yang tidak aku ketahui namanya yang waktu itu ikut di acara makan malam papa.

“Oppa sudah bangun. Ini aku bawakan susu dan roti,” katanya dengan manis sambil menaruh nampan berisi susu dan roti di sebelah tempat tidur Yunho.

“Terima kasih banyak ya, Jinna,” balas Yunho dengan lembut, yang tidak pernah dilakukan seumur-umur padaku!

Aku keluar kamar itu dengan perasaan kacau. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Aku bahkan hampir lupa dimana rumahku. Untung aku segera sadar bahwa rumahku hanya berjarak 10 meter di depan rumah Yunho.

Aku segera masuk ke kamarku dan mengguyur seluruh tubuhku dengan air dingin. Setelah itu, aku berpakaian dan mengambil buku-bukuku. Aku melakukan segalanya dengan lancar tapi pikiranku entah dimana. Aku mengambil kunci mobil tapi lalu mengurungkan niatku untuk membawa mobil sendiri. “Mang, antar Minah ke kampus ya. Ayo,” kataku pada mamang, supir papa yang kebetulan lagi nganggur. Aku pun ke kampus dengan si mamang.

Aku segera masuk kelas dan kuliah seperti biasa. Setelah selesai kuliah, aku pergi ke perpustakaan dan duduk di belakang rak ‘Matematika’, tempat duduk kesukaan Yunho. Aku mengeluarkan bukuku lalu membaca-bacanya tiba-tiba Siwon dan Hamun onni datang di hadapanku.

“Beraninya kau mengambil peran yang sudah aku dapatkan dengan susah payah!” seru Hamun onni padaku penuh dengan amarah.

Aku menatap Hamun onni dengan bingung lalu berganti ke Siwon. “Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba datang marah-marah?” tanyaku.

“Kamu masih berani tanya kenapa?! Dasar mental pencuri! Kau mencuri peranku tahu!” seru Hamun onni.

Aku mencoba sabar dan tidak terpancing emosi. Aku biarkan dia memakiku sesuka hatinya sampai akhirnya dia pergi sendiri.

“Kau tidak ikut pergi dengannya?” tanyaku pada Siwon.

“Ada yang harus aku bicarakan denganmu,” jawabnya.

“Ada apa?” tanyaku.

Siwon menatapku dengan serius. “Minah, kau benar-benar mau jadi aktris?” tanyanya.

“Entah. Aku hanya merasa sangat nyaman saat berakting,” jawabku.

“Kau tahu kan kalau syuting itu menyita banyak waktu. Kamu tidak takut kuliahmu terganggu? Kamu juga harus benar-benar jaga kesehatan.”

“Iya, aku tahu.”

“Aku mohon, pikirkan lagi baik-baik ya, sebelum terlambat.”

Mata Siwon menatapku dengan sangat lembut yang membuat hatiku terenyuh. Aku jadi berpikir lagi. Ada benarnya juga dia.

“Baiklah, akan aku pikirkan lagi nanti,” kataku.

“Terima kasih, ya.”

Siwon mengusap keningku lalu pergi. Meski hanya diusap sekali tapi perasaan senang sudah menjalar ke seluruh tubuhku. Aku jadi teringat nilai minimal B – ku. Bagaimana aku bisa mencapainya kalau tidak belajar keras. Syuting pasti akan menganggunya.

 

===

 

Aku tiba di kantor PH lebih awal dan sendirian. Aku berjalan ke arah resepsionis dan berkata, “Park Minah mau bertemu dengan sutradara Oh Ji Man.”

Resepsionis itu menghubungi ruang Oh Ji Man lalu mengantarkan aku ke ruangannya.

“Silahkan masuk,” kata Oh Ji Man padaku.

Aku pun masuk dan memberikan salam.

Oh Ji Man memperlakukanku dengan sangat baik. “Langsung saja, kamu mau honor berapa untuk film ini?” tanya beliau dengan mata berbinar-binar.

Aku menatap sang sutradara lalu berkata, “Saya sangat berterima kasih atas kesempatan yang Anda berikan buat saya tapi setelah saya berpikir masak-masak saya tidak bisa menerimanya. Peran ini tidak seharusnya untuk saya. Orang yang saya gantikan pasti sudah bersusah payah sebelumnya untuk mendapatkan peran ini. Saya tidak bisa menerimanya begitu saja meskipun saya begitu ingin,” kataku.

Wajah sutradara yang cerah berubah jadi suram. “Kamu yakin?” tanyanya.

“Iya, saya yakin sekali, pak,” jawabku.

Sutradara itu berusaha membujukku tapi aku tetap pada pendirianku pada akhirnya. Aku tetap menolaknya.

Aku keluar dari PH dan meminta mamang untuk segera mengantarku pulang. Dalam perjalanan hapeku berbunyi. “Ada apa, Yun?” tanyaku begitu mengangkat panggilan darinya.

“Heh! Dimana kau? Jadi gak ke PH itu?” sahutnya dari seberang.

“Sudah. Aku sudah dari sana,” kataku.

“Loh? Kok tidak jadi ngajak aku?”

“Tadi aku dipanggil saat kamu masih kuliah. Maaf ya tidak memberi tahu.”

“Sekarang kamu dimana? Kok lemas begitu?”

“Di jalan pulang. Aku ngantuk. Oke? Sudah ya? Bye.” Aku lalu mematikan hapeku.

“Mang, mampir toko kue dulu. Belikan cake blueberry untukku,” kataku lalu tidur karena badanku lemas sekali.

 

===

 

Aku sampai di rumah dan langsung mengkonsumsi susu dan roti gandumku lebih banyak dari biasanya karena aku lapar sekali. Tapi entah kenapa, aku justru memuntahkannya. Aku memanggil Bibik ke kamarku untuk membantuku membersihkan muntahanku. Aku merasa sangat pusing dan mual. Aku berusaha menuju kamar mandi dengan sekuat tenaga tapi aku tidak sanggup mencapainya. Aku sudah keburu terkapar di depan pintunya.

Aku terbangun entah berapa lama kemudian. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku pingsan dan siapa yang membawaku ke sini, rumah sakit yang sangat aku benci. Aku melihat sekelilingku dan menemukan Yunho yang sedang duduk sambil menatapku.

“Kenapa kau tidak bilang kau sakit waktu tadi aku meneleponmu?” tanya Yunho.

“Aku tidak sakit. Aku hanya lemas!” protesku. “Kenapa kau yang ada di sini?”

“Karena aku yang membawamu ke sini. Bibik berlari panik ke rumahku memberitahukan dirimu pingsan. Ya sudah, aku gotong saja kau kesini,” jawab Yunho.

“Aku mau pulang,” kataku sambil melepaskan infusku. “Kenapa harus diinfus segala sih?”

“Salahmu sendiri. Dokter bilang dietmu terlalu berlebihan. Selain itu, katanya kau kebanyakan pikiran. Kau kenapa jadi begini sih? Gara-gara Siwon?”

Aku tersenyum kecut. “Udah tahu nanya,” kataku.

“jangan bilang kau menolak kontrakmu karena siwon memintamu untuk tidak mengambil peran hamun,” tuding Yunho.

“Tidak. Dia bilang padaku untuk memikirkan kuliahku. Karena itu memilih fokus pada kuliahku saja.”

Yunho mendecakkan lidahnya. “Sebenarnya kau hidup untuk Siwon atau bagaimana sih? Kuliah ikut-ikut Siwon. Apa yang Siwon katakan, kau ikuti. Kau ini gila atau bagaimana sih?” ujar Yunho padaku sambil marah-marah.

Aku melempar bantalku ke wajah Yun. “Kau berisik banget sih! Aku memang tergila-gila pada Siwon. Dari dulu aku memikirkan Siwon. Lalu kenapa?” balasku.

Hal ini terjadi sangat cepat sampai aku tidak sadar yang terjadi sebenarnya. Yunho menciumku. “Aku muak akan ke-Siwon-an mu!” kata Yunho tajam lalu keluar dari kamar rawatku.

Aku berjalan keluar kamar menyusulnya tapi rupanya aku belum cukup kuat sehingga aku terjatuh di tengah jalan. “Aww, Yun! Tolong!” pekikku. Yunho berbalik menatapku dan berjalan ke arahku. Dia menjulurkan tangannya lalu membopongku ke kamar. Dia menaruhku di tempat tidur.

“Aku mau pulang,” kataku memaksa.

“Iya, aku tahu. Kau sabar dikit kenapa sih? Aku mau mengurus administrasi RS dulu tahu,” sahut Yunho.

Aku tersipu malu. Aku pikir tadi dia mau meninggalkanku.

Yunho lalu pergi mengurus administrasi RS sedangkan aku menunggu di kamar. Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa kursi roda. Jujur saja, aku kecewa. Aku ingin digendong seperti tadi saja. Rasanya sangat nyaman dan hangat. Tapi aku tidak banyak protes. Aku naik kursi roda itu sampai ke mobil yang akan membawaku kembali ke rumah.

 

===

 

Aku masuk ke dalam kamar digendong oleh Jungsu oppa. Dia membaringkan aku di tempat tidurku. “Aku panik setengah mati waktu Bibik telepon tadi. Aku pikir kau sekarat atau bagaimana ternyata sehat-sehat saja. Menyesal aku pulang cepat-cepat. Mending kau pingsan lagi saja biar kepulanganku tidak sia-sia,” ocehnya padaku. Aku tahu oppa hanya menggodaku. Aku berani bertaruh dia lega bisa pulang lebih cepat dan tidak mau melihatku dalam keadaan pingsan.

“Terima kasih oppaku yang baik dan ganteng yang sudah rela pulang demi adiknya yang cantik ini. Buah tangannya mana buat adik yang lagi sakit?” kataku sedikit melunjak.

“Tetep yaa, udah sakit bukan minta doa eh minta barang juga. Mau apa emang kamu?”

“Makeup kayak punya Yoona onni. Yang lengkap itu loh. Ya oppa ya? Beliin buat aku ya?” Aku merengek dengan manja sampai akhirnya dia mengabulkan permintaanku, “Iya, iya. Nanti aku belikan. Dasar!”

“Asik, terima kasih oppaku sayang,” kataku senang sambil memeluk oppa. “Btw, mama papa tahu aku sakit?”

“Tahu tapi aku bilang hanya sakit perut biasa. Aku tidak mau membuat mama papa khawatir. Memang kenapa kau bisa sampai pingsan sih?”

“Gak tahu, oppa. Kecapekan kali ya?”

“Dietmu kali terlalu ketat.”

“Gak kok, kata mama masih wajar aja. Kata dokter, aku kebanyakan pikiran. Pikiran apa coba?”

“Mana oppa tahu. Kuliah? Cowok? Atau apa?”

Aku menggeleng-geleng bingung. “Aku juga tidak tahu,” kataku.

“Ya sudah. Kau istirahat dulu dan berdoa semoga nanti malam make-up mu sudah ada,” ujar oppa.

Aku memekik girang sebelum oppa keluar dari kamarku, “Oppa, saranghae!”

 

===

 

Aku mencoba menelepon Siwon untuk memberitahukan bahwa aku sudah menolak kontrak film itu dan sekarang aku sedang sakit tetapi tidak ada satupun telepon dariku yang dijawabnya. Aku pun akhirnya memberinya kabar melalui sms dengan harapan Siwon akan membalasnya nanti.

Aku bolak-balik melihat layar hapeku tapi tidak ada balasan. Akhirnya aku memilih untuk mandi saja. Saat aku sedang melepas atasanku tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku berbalik badan dan seketika berteriak, “Aaaaah!” Saat itu juga pintu langsung ditutup dan aku segera memakai baju-bajuku lagi.

“Mianhe. Mianhe. Aku tak sengaja. Sungguh,” kata suara dari balik pintu yang aku ketahui adalah suara Yunho.

Aku berjalan ke arah pintu lalu membukanya. “Kau tidak melihat apa-apa kan?” tanyaku tajam.

“Bulu ketekmu yang belum dicukur,” jawab Yunho sambil melenggang masuk ke kamarku.

“Aaah! Bohong! Aku cukur bulu ketiakku kok setiap hari. Katakan apa yang kau lihat?” paksaku.

“Tidak ada ah. Makanya kunci pintumu,” ujar Yunho.

“Kau kan bisa ketuk pintu dulu!” balasku.

Yunho terdiam. “Baiklah. Aku yang salah. Aku minta maaf.”

Aku tersenyum senang penuh kemenangan. “Kau mau menjengukku ya? Bawa apa kesini?” tanyaku penuh semangat.

Yunho menurunkan tasnya ke atas tempat tidurku lalu mengeluarkan buku aljabar kampus kami.

Aku mendesah pelan. “Aku kan sedang sakit, Yun. Masak harus belajar juga? Aku kan harus istirahat,” kataku.

“Siapa juga yang mau ngajarin orang bodoh macam kamu aljabar,” ujar Yun. “Aku disuruh mengawasimu selama keluargamu belum pulang.”

Yunho lalu duduk di sofa kamarku sambil membaca buku aljabar yang dibawanya. Pantas saja dia jadi cerdas begitu kalau tiap saat dia nganggur bacaannya buku kuliah. Mengerikan!

 

===

 

Hari sudah malam tapi baik mama papa atau oppa belum juga pulang. Aku menelepon mereka, katanya mereka belum bisa pulang karena macet total di jalan. Untung saja tiba-tiba Ahra datang untuk menjengukku. Dia langsung ikutan berbaring di tempat tidurku.

“Onni, onni. Sakit perutnya udah sembuh?” tanya Ahra.

“Sakit perut?” tanyaku heran.

“Kata oppa, onni sakit perut tadi. Memang onni kenapa bisa sampai sakit perut sih?” ujar Ahra.

Aku menatap ‘apa maksudnya ini’ kepada Yunho yang dibalas dengan tatapan ‘ya sudah bilang saja iya’.

“Onni juga gak tahu kenapa bisa sakit perut tapi yang pasti tadi sakit banget,” kataku.

“Tapi sekarang udah gapapa kan?” tanya Ahra.

“Udah jauh lebih baik kok. Apalagi kalau Ahra menemani aku terus. Besok pasti sembuh.”

Ahra tersenyum senang. “Kalo gitu, malam ini Ahra tidur sama onni ya di sini.”

“Serius?” tanyaku tidak kalah senang. “Ah, aku senang sekali!”

Ahra lalu berpaling ke oppanya. “Oppa, segera pulang gih. Kasian Jinna sendirian di rumah. Bilang juga padanya aku tidak bisa menemaninya tidur malam ini,” perintah Ahra.

“Iya, iya. Cerewet banget sih kamu. Iih!” kata Yunho lalu menghampiriku. Dia menyeka keningku dengan tangannya yang terasa sangat hangat dan menenangkan.

“Kau sudah menghilangkan honorku 50% dari honormu itu. Jangan sampai kau juga menghilangkan kesempatanku untuk menjadikanmu pelayanku selama 1 minggu. Ingat kita tanding renang beberapa hari lagi. Cepat sembuh!” kata Yunho padaku lalu pulang ke rumahnya.

“Jung Ahra… Kenapa oppamu begitu menyebalkan sih?! Aku udah lemes begini masih inget aja tanding renang beberapa hari lagi. Dia juga selalu saja menggangguku, mengata-katai aku, galak padaku padahal sama Jinna dan yang lainnya dia begitu lembut dan baik. Orang aneh!” kataku.

Ahra hanya tertawa mendengar ocehanku. “Aku juga tidak paham kenapa, onni. Oppaku itu emang ajaib kalau udah ketemu onni. Semua tingkah anehnya pasti langsung muncul,” katanya sambil tertawa-tawa.

“Oh ya, Jinna itu siapa sih?” tanyaku yang tiba-tiba teringat gadis yang tadi pagi kulihat mengantarkan sarapan buat Yunho seakan Yun adalah suaminya. Cih!

“Jinna itu anak paman jauh kami. Istilahnya sepupulah tapi masih jauh kaitan darahnya. Dia diangkat ayah dan ibu jadi anggota keluarga kami,” kata Ahra.

“dan dia pasti naksir oppamu. Iya kan?” ucapku dengan kesal yang bergulir begitu saja dari mulutku.

“Kayaknya sih gitu, on.”

“Dan oppamu naksir dia juga?”

“Yah gak lah, on. Mana mungkin. Oppa itu cuman doyan sama 1 cewek. Matanya udah buta, kagak bisa liat cewek lain.”

“Siapa? Siapa ceweknya?”

“Ups! Aku udah janji sama oppa gak bakal bilang ke siapa-siapa tentang ceweknya itu.”

“Mereka udah deket?”

Aku mulai menginterogasi Ahra. Aku tidak terima Yunho tidak pernah bercerita mengenai asmaranya padahal aku selalu cerita. Aku harus mengetahuinya dengan detil.

“Deket banget, on! Setahuku sih.”

“Sejak kapan?”

“Gak tahu, on. Oppa ga pernah cerita.”

“Cantik gak?”

“Bagiku sih cantik tapi kalau bagi oppa udah cuantik buanget deh!”

“Kamu udah pernah ketemu orangnya? Asik gak?”

“Menurutku asik. Asik banget malah!”

“Terus hubungan mereka udah sejauh apa?”

“Aku gak tahu, on kalo itu. Oppa ga pernah cerita.”

Aku menggeram kesal. “Bagaimana bisa oppamu itu tidak menceritakan sedikitpun hal itu ke onni?! Onni kan sahabatnya!” omelku.

“Nah, onni kan sahabat oppa dari kecil. Kok bisa gak paham soal oppa?”

Aku terdiam. Aku memutar otakku siapa wanita itu tapi tidak ketemu satu nama pun di otakku. Sampai tidur pun kesimpulan yang aku dapat : wanita itu pasti bukan Jinna.

 

===

 

Aku dan Ahra tidur sangat larut karena kami begadang nonton dvd sambil cerita-cerita. Alhasil kami baru bangun jam 11 siang.

Badanku sudah lebih baik dari kemarin tapi lemasnya masih ada. Aku menelepon bibik di dapur melalui intercom.

“Bik, semua udah pada pergi kerja?” tanyaku.

“Udah, agashi. Mereka sudah berangkat dari jam 8 pagi tadi,” jawab Bibik.

“Apa mama papa atau oppa ada pesan untukku?”

“Katanya jangan lupa minum obanya. Biar cepet sembuh, makan-makan lagi. Gitu katanya,”

“Oke bik. Makasih ya.” Aku lalu memutus intercomku.

Hapeku lalu berbunyi dan terpampang nama Choi siwon di layarku. Aku segera menjawabnya, “O, Siwon?”

“Minah, maaf baru bisa telepon. Bagaimana keadaanmu?” tanya Siwon penuh perhatian seperti biasa.

“Sudah sehat kok. Sudah bisa jalan-jalan di dalam rumah tapi belum kuliah lagi, belum kuat,” jawabku.

“Kamu emang kenapa sih? Kok bisa sampai sakit gitu?”

“Entah, kata dokter banyak pikiran. Mungkin juga kebanyakan diet. Gak tau aku. Biar deh, yang penting udah mendingan.”

“Ya udah. Obatnya rajin diminum ya biar cepet sembuh.”

“Siap, bos. Kamu jenguk aku dong ke rumah. Ya?”

“Iya, nanti habis makan siang aku ke rumahmu ya.”

“Asik! Makasih ya.” Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.

“Sama-sama. Oh ya, terima kasih ya sudah menolak kontrak film itu. Maafkan Hamun yang sudah berlaku tidak enak padamu waktu itu.”

Gah! Hamun onni lagi! Muak aku mendengarnya. Aku kesal setiap Siwon menyebutnya tapi berusaha tetap santai. “Iya, sama-sama. Sudahlah. Aku juga mau fokus kuliah.”

Pembicaraan kami tidak lagi berlangsung lama. Aku segera menutup teleponku.

Pintu kamarku diketuk. “Masuk saja,” kataku. Lalu seorang pria masuk. Ternyata Yunho. “Ada apa?” tanyaku.

“Memanggil anak itu,” jawab Yunho sambil menunjuk gadis yang masih tidur dengan nyenyak di sampingku.

“Tapi Ahra kan masih tidur,” sahutku.

“Emang dia mau tidur sampai kapan?” balas Yunho lalu membangunkan adiknya. “Jung Ahra. Ayo bangun. Jongwoon udah  datang ke rumah. Ahra..”

Tidak sulit membangunkan Ahra walaupun Yunho butuh beberapa alasan untuk itu dan yang paling jitu adalah menyebutkan nama Jongwoon. Ahra langsung ngibrit pulang begitu tahu pacarnya sudah datang ke rumahnya.

“Sudah sehat?” tanya Yunho padaku.

Aku mengangguk dengan ceria. “Anyway, Siwon nanti mau datang menjengukku. Aaah,” kataku senang.

“Pantas kau senang sekali.”

Aku hanya tertawa cengengesan lalu beranjak dari tempat tidurku. “Aku harus mandi dulu dan dandan yang cantik,” kataku lalu masuk kamar mandi tanpa membawa apapun. Parahnya, aku baru sadar setelah aku selesai mandi.

“Yun! Kau masih disana?” seruku dari dalam kamar mandi.

“Iya,” sahut Yun. “Kenapa?”

“Tolong ambilin handuk dan bajuku di lemari ya,” kataku.

Tidak lama kemudian, pintu kamar mandiku diketuk. Aku membukanya sambil bersembunyi di balik pintu. Yunho menyodorkan handuk dan bajuku. “Terima kasih,” kataku sambil menerimanya lalu menutup pintu lagi.

Aku segera mengeringkan badanku dan memakai pakaian lalu keluar dari kamar mandi. “Yun, kau jangan pulang dulu sebelum Siwon datang. Udah lama kan kita gak ngumpul bareng. Hoho,” kataku.

Yunho hanya mengangguk dari atas tempat tidurku. Dia sedang berbaring sambil menonton tivi.

 

===

 

Siwon tiba di rumahku tepat setelah aku selesai makan siang dan menelan obatku. Aku pikir dia akan datang sendiri tapi membawa Hamun juga. Mereka menghampiri aku dan Yunho yang sedang duduk di meja makan.

“Eh ada Yun juga. Wah kita jadi ngumpul gini,” kata Siwon yang mengambil tempat duduk di sebelah Yunho dan Hamun di sebelahnya lagi.

Hamun lalu memberikan sekeranjang buah kepadaku. “Cepat sembuh ya, Minah. Maaf baru bisa jenguk. Maafkan aku juga soal masalah di perpustakaan waktu itu ya,” kata Hamun dengan tulus.

“Terima kasih ya, onni. Aku sudah sehat kok,” balasku.

“Aku merasa sangat bersalah. Aku sadar aku tidak pantas marah-marah padamu tapi aku mohon maklumi keadaanku ya?”

Aku tersenyum. “Iya, onni. Semoga filmnya sukses ya,” kataku.

Kami berempat lalu mulai mengobrol. Sayang sekali pas sedang seru-serunya, Hamun onni harus pergi.

“Minah aku pulang duluan ya. Aku harus syuting,” kata Hamun.

“Aku juga ya, Minah. Aku mau mengantarkan Hamun,” sambung Siwon.

Gah! Sekarang yang ada di otak Siwon hanya Hamun. Dia sudah lupa punya teman bernama Hamun yang selalu nunggu dia. Hash!

Dengan tidak rela aku memperbolehkan mereka pergi. “Iya,” sahutku lalu mengantar mereka sampai ke pintu depan. Dari pintu depan aku dapat melihat dengan jelas Siwon menggandeng Hamun sampai ke mobil dan memperlakukan gadis itu seperti ratu. Aku cemburu melihatnya. Aku patah hati.

“Eh, kau harus istirahat lagi,” kata Yunho tiba-tiba dari belakang.

Aku membalikkan badanku dan menatap Yunho dengan lesu. “Aku patah hati,” kataku lalu masuk ke  kamarku dengan tidak bersemangat.

 

===

 

Selama beberapa hari, aku memulihkan kesehatan dan hatiku dengan jalan-jalan, belanja, ke salon, dan ke klinik kecantikan mama. Pokoknya aku benar-benar memanjakan diriku. Make up kit dari Jungsu oppa juga membantu menyembuhkan patah hatiku.

“Besok sudah mulai kuliah lagi kan kamu? Udah gak masuk seminggu lebih loh,” tanya mama saat sedang mengoleskan krim pencerah di wajahku.

“Iya dong, ma. Minah udah kangen kampus. Hahaha,” jawabku.

“Udah kuat? Maksud mama, udah bisa kalau ketemu Siwon dan Hamun?” tanya mama lagi.

Aku tertawa mendengar pertanyaan mama. “Kata omma, mati satu tumbuh seribu. Pria gak cuman Siwon,” jawabku dengan santai.

Mama pun ikutan tertawa. “Hahahaha. Nyonya Jung memang ahlinya kalau soal asmara,” kata mama. “Lalu kau sudah mulai mencari?”

“Sebentar lagi, ma. Keluar dari sini, semua pria pasti terpesona padaku. Hohoho.”

Selesai perawatan, aku kembali ke rumah. Belum masuk ke dalam, nyonya Jung sudah memanggilku ke rumahnya. Aku pun menurutinya karena aku memang sedang tidak ada kerjaan.

“Minah, ini keponakan omma namanya Jung Nari. Dia seorang desainer baju,” kata omma memperkenalkan seorang gadis berumur akhir 20an di depanku. “Nari, kenalkan ini Park Minah. Dia cantik kan? Aku rasa dia pas untuk jadi modelmu.”

Aku menatap omma dan Nari onni bergantian. “Maksudnya?” tanyaku tidak paham.

“Minah sayang, aku butuh model untuk katalog koleksi baju terbaruku. Aku masih merintis usaha ini jadi aku butuh model yang mau membantuku. Kau mau kan membantuku?” ujar Nari onni dengan sungguh.

Aku menerima tawaran tersebut. Itung-itung cari pengalaman dan tidak salah membantu orang dekat sendiri.

“Kamu bisa datang ke studio kapan?” tanya Nari onni.

“Setiap hari bisa kok, on tapi harus di atas jam makan siang. Aku kuliah dulu soalnya,” jawabku.

Nari onni tersenyum puas lalu memelukku. “Terima kasih ya, sayang. Gak salah Yunho memilih kamu,” kata Nari onni.

“Hah? Memilihku untuk apa?” tanyaku heran.

“Iya jadi modelku. Dia bilang ada temannya yang cantik yang pasti mau membantuku.”

“Dia bilang aku cantik, on? Serius?”

“Iya.”

Aku tersenyum lebar sekali, penuh kemenangan.

Tampaknya Nari onni dan omma sedang asik ngobrol makanya aku pergi meninggalkan mereka untuk menemui Yunho. Aku mau men-skakmat-nya dulu. Hehe.

Seperti biasa, aku menyelonong masuk ke dalam kamar Yunho dan melihat hal yang benar-benar menyesakkan dadaku.

Aku melihat Jinna sedang mencium Yunho meskipun temanku itu sedang tidur. Tanpa ragu, aku menarik Jinna agar ciumannya terlepas lalu menghempaskannya ke lantai.

Jinna berteriak keras sekali sampai membuat Yunho terbangun. “Ada apa ini?” tanyanya.

“Dia diam-diam menciummu sewaktu kamu tidur. Untung aku melihatnya! Langsung saja aku tarik dia darimu,” jawabku sambil menunjuk Jinna yang sedang menangis di lantai karena kesakitan. Rupanya aku terlalu kencang melemparnya tapi masa bodo lah!

Yunho melihat Jinna menangis karena itu dia justru menghampiri gadis itu dan membantunya berdiri. “Maafkan Minah ya, Jinna. Dia tidak sengaja melakukannya. Tenaganya memang terlalu kuat dari dulu. Maaf ya,” kata Yunho dengan lembut. Yunho juga membantu gadis itu kembali ke kamarnya. Aku jadi naik darah dibuatnya. Gah!

Semenit kemudian, Yunho kembali padaku. “Kau gila ya melempar anak orang ke lantai sampai ia menangis?! Untung dia gak kenapa-kenapa,” seru Yunho.

“Salahnya sendiri seenaknya mencium kamu. Suka sih suka tapi kan gak usah pake acara curi-curi ciuman kayak gitu,” balasku.

“Memang kenapa? Gak suka? Ada ruginya buat kamu? Gak ada kan?” seru Yunho lagi.

“Gak ada! Tapi aku gak suka dia cium kamu seenak jidatnya gitu! Emang kamu boneka yang bisa dia cium kapanpun dia mau? Enak aja!”

Aku tidak henti-hentinya marah-marah saking kesalnya aku tapi aku merasa belum puas. Aku tidak suka ada bekas bibir Jinna di bibir Yunho. Aku mau hal tadi tidak pernah terjadi.

“Sudah ya marah-marahnya. Aku rasa satu komplek ini dengar suaramu yang cempreng itu,” kata Yunho dengan tenang lalu tersenyum. Aku berhenti marah-marah. Aku baru sadar dartitadi aku hanya marah-marah sendirian saja. Yunho hanya mendengarkanku sambil duduk di kursi belajarnya. Tidak ada sedikitpun komentar atau pembelaan yang keluar dari mulutnya.

 

===

 

Hari ini aku mulai kuliah lagi seperti biasa tapi dengan tampilan yang tidak biasa. Aku bukan lagi Minah yang gemuk, dekil dan acak-acakan. Aku telah menjelma menjadi putri yang cantik. Hoho.

Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam kampus dengan percaya diri. Aku sadar banyak mata yang melirik padaku, terutama lelaki. Haha. Benar kata omma, masih banyak ikan di laut.

Aku menuju kelas sambil menikmati tatapan orang-orang kepadaku. Ternyata asik juga jadi pusat perhatian. Hihihi.

Yah, aku tahu walaupun fisikku sudah cantik tapi otakku belum mengalami kemajuan pesat seperti fisikku. Aku akan berusaha semampuku. Sekarang aku harus melaju ke studio untuk pemotretan koleksi Nari onni.

Sesampai di sana, aku langsung di dandani dan diberikan sederet koleksi baju Nari onni. Aku memakainya sesuai dengan nomor urut yang sudah dipasang di setiap baju.

Setelah siap dengan baju pertama, aku masuk ke ruang pemotretan dan melihat Yunho dan Nari onni sedang ngobrol.

“Aaaakh!” pekikku kaget.

Yunho dan Nari onni langsung menoleh kepadaku. “Ada apa, sayang?” tanya Nari onni.

“Akh, kau ini bikin kaget saja!” ujar Yunho.

“Kenapa kau di sini?” tanyaku pada Yunho.

“Aku fotografernya,” jawabnya sambil melambai-lambaikan tangannya kepadaku sebagai komando agar aku bersiap.

Aku menurutinya tapi tetap bertanya-tanya, “Sejak kapan kau bisa fotografi?” tanyaku.

“Sudah lama tahu. Makanya jangan diet aja yang ada di otakmu,” jawab Yunho. “Sudah diamlah. Pasang gaya sekarang.”

Aku melihat gaun yang aku pakai dan bergaya alami sesuai dengan gaunnya. Setelah beberapa kali jepret aku berganti pakaian lagi. Begitu seterusnya sampai baju terakhir. Aku tidak mengalami kesulitan untuk gaun malam atau dress santai. Tapi berbanding terbalik untuk minidresses yang seksi-seksi. Yunho harus bolak-balik memperbaiki gayaku.

“Aduh, bukan begitu. Buka kaChoiu lebih lebar. Tenggadahkan kepalamu sedikit,” ujar Yunho memberikan pengarahan. Aku sudah melakukan sesuai instruksinya tapi tetap saja salah.

Yunho akhirnya mendekatiku dan memperbaiki gayaku. Aku tahu dia ragu tapi keadaan memaksa. “Maaf,” katanya sebelum memperbaiki gayaku.

Aku duduk dengan tenang mengikuti setiap sentuhannya. Dia melebarkan jarang antar kedua kakiku. Menengadahkan kepalaku sehingga leherku yang jenjang dapat terlihat.

Yunho sangat dekat denganku. Aku bisa mencium bau tubuhnya, merasakan nafasnya bahkan mendengar detak jantungnya yang teratur. Yang aneh, jantungku malah berdetak tidak karuan, kulitku seperti tersengat listrik. Haduh, aku kenapa?

 

===

 

Aku tidak tahu sejak kapan tapi rasanya akhir-akhir ini aku jadi sering sekali bertemu makhluk bernama Yunho entah di kampus, rumah, gym bahkan mall. Istilahnya dimana pun aku berada, Yunho pasti juga ada di sana.

Aku sedang creambath di salon sama mama dan  Yoona onni waktu gak sengaja aku lihat Yunho di toko perhiasan di seberang salonku. Dengan rambut berbalut handuk, aku menyambangi Yunho.

“Kenapa sih kemana pun aku pergi selalu aja ketemu sama kamu? Kamu sengaja ngikutin aku ya?” godaku sambil mencoel-coel lengannya.

“Jodoh kali,” sahutnya yang sedang memilih-milih cincin dengan gaya cuek khasnya.

Aku cemberut karena tidak digubris Yunho. Apalagi hanya karena cincin. Jangan-jangan dia sedang membeli cincin untuk gadis pujaannya itu. Aku penasaran setengah mati jadi aku menggodanya lagi, “Cincin buat siapa? Gadis pujaan ya?”

“Iya.”

Hatiku mencelos. Yunho benar-benar serius pada gadis itu. Aku mencoba mengorek lebih dalam. “Siapa sih gadis itu? Kasih tahu aku dong. Waktu kapan itu Ahra pernah cerita kalau di hatimu cuman ada gadis itu. Kok ga pernah cerita aku sih? Jahat deeh,” kataku sambil bergelayut di lengannya. “Cerita dong.”

“Jangan harap,” sahutnya.

“Ih, dasar. Katanya temen tapi rahasia-rahasiaan.”

Yunho tetap tak bersuara. Dia sibuk memilih cincin. Aku memperhatikan cincin yang dia pilih tidak terlalu bagus. “Jangan yang itu. Terlalu polos,” kataku. “Yang ini saja.”

Aku menunjuk cincin emas putih yang matanya membentuk angka 8 mendatar yang berlapis tiga.

Yunho mendecakkan lidahnya. “Kau cerewet banget deh. Mending kau kembali ke salon sana. Cih,” katanya sambil mendorongku menjauh. Karena sudah diusir, aku kembali ke salon. Rupanya aku sudah ditunggu oleh kapsterku.

“Aduh, Minah akhirnya balik lagi. Sini aku bilas rambutnya,” kata kapster langgananku itu.

Aku menikmati sekali pijatan di kepalaku saat dibilas dan juga perawatan lain saat pengeringan rambut. Aku merasa sangat segar begitu keluar dari salon.

“Saatnya makan siang!” ujarku kepada mama dan Yoona onni. Aku menarik mereka ke sebuah restoran Cina kesukaanku.

Kami duduk dan makanan pun langsung berdatangan. Aku mengambil dim sum kesukaanku dan melahapnya dengan nikmat.

“Minah pelan-pelan makannya nanti kamu keselek,” kata Yoona onni. “Kamu udah ga diet?”

“Khusus dim sum aku tidak mampu diet. Hahaha.”

aku terus melahap dim sum ku dengan nikmat. Saking nikmatnya, aku tidak sadar bahwa mama dan Yoona onni sedang menatapku serius.

“Ada apa?” tanyaku bingung.

“Kamu itu perempuan. Kalo makan anggun dikit dong. Jangan kayak kuli gitu,” tegur Yoona onni.

“Ampun onni. Habis dimsum ini enak sekali,” sahutku sambil memperbaiki cara makanku.

“Nah gitu kan lebih cantik,” kata Yoona onni. “Iya kan omma?”

“Yoona memang pintar! Kamu harus banyak belajar darinya, Minah,” kata mama menjawab penegasan onni.

“Iya, aku tahu,” sahutku.

Aku makan dim sum sampai benar-benar kenyang lalu baru aku mau diajak pulang.

Sesampai di rumah aku senang sekali ternyata oppa dan papa sudah pulang. Mereka sedang ngobrol sambil nonton tivi.

“Papa!” seruku senang lalu berlari menghampiri beliau dan duduk di sebelahnya dengan manja. “Tumben udah pulang. Pasti kangen sama Minah. Hehehe.”

“Ge er banget ih,” sambar oppa yang aku balas dengan juluran lidahku. Oppa tidak mau kalah, ia menjulurkan juga lidahnya tapi segera ditarik lagi ke dalam mulutnya karena sudah kena tatapan maut Yoona onni.

“Rasain. Udah tua sih tapi masih suka merong,” kataku.

“Haduh, kalian berdua ini. Selalu saja ribut kalau udah ketemu,” ujar papa sambil geleng-geleng melihat kelakuan kedua anaknya. “Oh ya Minah, besok kamu ada acara?”

“Gak ada. Emang kenapa?” ujarku.

“Besok papa mau ngadain ucapan syukur kecil-kecilan aja atas ulang tahun pernikahan mama papa yang ke 30 sekaligus ulang tahunmu.”

Rasanya aku orang paling bodoh. Bisa-bisanya aku lupa ulang tahunku sendiri. Meskipun akhir-akhir ini aku memang sibuk memulihkan hati tapi harusnya aku tidak boleh melupakan ulang tahunku sendiri!

Aku tersenyum memandang papaku lalu memeluknya. “Makasih ya, papa udah mau bikin ucapan syukur untuk ulang tahunku. Aku saja lupa besok ulang tahunku,” kataku.

Papa membelai rambutku sambil berkata, “Sama-sama. Ya sudah, kau istirahat saja dulu.”

Aku mengangguk paham lalu melepaskan pelukanku. “Aku ke kamar duluan ya. Selamat malam,” kataku kepada semua anggota keluarga. Khusus untuk oppa aku menambahkan, “Jangan lupa hadiah untukku ya oppa tampan.”

Sebelum tidur, aku menyempatkan diri untuk mandi. Mungkin karena ini aku jadi tidak bisa tidur. Aku sudah berusaha berbaring dan memejamkan mata tapi tidak juga tidur. Akhirnya, aku memilih untuk belajar saja. Belajar! Ya ampun, pilihan macam apa itu? Tapi ternyata itu mampu membuatku tertidur pulas.

 

-to be continued-

@gyumontic