LAST PART!!! Teeheee!!!🙂

 

Aku merasa badanku diguncang-guncang yang ternyata adalah Bibik yang sedang membangunkanku. “Minah, ayo bangun agashi. Sekarang sudah hampir jam 3 sore. Mama minta supaya agashi cepat siap-siap,” kata Bibik.

Mendengar kata jam 3 sore, aku langsung melompat dari tempat tidur. Acara dimulai 2 jam lagi dan aku baru bangun! Apa-apaan tidurku lebih dari 12 jam!

“Bibik kenapa tidak membangunkan aku dari tadi,” kataku panik. Aku berlari bolak-balik di kamarku mencari handuk dan kawan-kawannya yang lain. “Haduh, kemana lagi handukku?” Aku sudah seperti orang gila yang suka ngomong dan ngomel-ngomel sendiri.

Aku mandi secepat yang aku bisa tanpa melewati satu ritual pun. Setelah itu, dengan berbalut handuk, aku mencari gaun yang pas untukku. Aku mendadak panik karena aku tidak bisa menemukan gaun yang aku inginkan.

“Bik! Bibik! Bibik!” seruku dengan suara kencang karena panik luar biasa tapi Bibik tidak juga muncul.

Panikku bertambah ketika mama menelepon menyuruhku segera menyusul ke tempat perayaan.“Bik! Bibik!” teriakku.

Pintu kamarku dibuka. “Bibik kemana aja sih? Aku panggil dari…”

Aku tidak bisa meneruskan ucapanku karena aku kaget melihat orang yang masuk ke dalam kamarku. “Berisik banget daritadi teriak-teriak terus. Ini gaunmu. Jungsu hyung menyuruhku memberikannya kepadamu. Kamu ini bikin repot saja,” kata Yunho sambil menyerahkan sebuah gaun hijau tua, yang tergantung rapi di hanger, kepadaku.

“Te…rima kasih,” ucapku salah tingkah. Aku tidak mampu lagi mendebat Yunho. Aku benar-benar malu. Yunho melihatku hanya berbalutkan handuk.

“Cepat ganti,” katanya galak.

Aku kembali ke kamar mandi dan memakai gaun tersebut. Resletingnya yang terlalu susah dinaikkan membuatku terpaksa meminta Yunho untuk menolongku. Masa bodoh deh. Yang penting aku segera siap.

Aku menghampiri Yun dan berdiri membelakanginya, “Yun, tolong naikkan resletingku,” kataku.

Tanpa banyak bicara, Yun menaikkan resleting gaunku. “Terima kasih,” ucapku.

“Sama-sama,” balasnya.

Yunho memegang kedua bahuku yang tidak terlapisi apapun dan mengelus-elusnya. “Selamat ulang tahun,” ucapnya dengan lembut, berbeda 180 derajat dari yang biasanya. “Aku tunggu di luar ya. Bergerak secepat mungkin ya. Semua sudah menunggumu.”

Aku menatap Yunho yang sedang keluar dari kamarku penuh dengan ketidakpercayaan. “Kenapa dia?” gumamku sambil memoles wajahku dengan make-up paket lengkap.

Setelah siap, aku menyusul Yunho yang sudah menungguku di luar. Dia mempersilahkan aku masuk ke mobilnya seperti putri. Aku rasa dia sedang kesambet malaikat.

Selama perjalanan, mataku terus menatap heran kepada Yunho. Apa yang terjadi padanya, hatiku bertanya-tanya. Meskipun dia sadar aku terus menatapnya tapi Yunho tidak bergeming, dia tetap konsentrasi mengemudi.

 

===

 

Aku berhasil sampai di tempat tepat waktu, yah setidaknya tidak parah lah telatnya. Acara segera dimulai dengan kebaktian kecil. Baru setelah itu, acara makan-makan dan ramah tamah.

Sebagai tuan rumah, aku tidak bisa seenaknya. Aku harus berdiri manis di tempatku menerima ucapan selamat dari tamu-tamu. Tidak jarang juga sekalian perkenalan dengan rekan-rekan mama dan papa sekaligus anak-anak mereka. Sebentar lagi, kakiku bisa putus! Perutku pun sudah minta diisi. Haduh. Dan aku baru bisa makan setelah acara ini selesai.

“Akhirnya,” seruku lega sambil meluruskan kakiku di dua kursi. “Pegeeel.”

Mama datang lalu duduk di sebelahku dengan sepiring nasi daging yang sepertinya sangat lezat. “Mau, ma,” kataku.

“Ini, makanlah,” kata mama sambil menggeser makanannya ke hadapanku lalu memanggil oppa. “Jungsu, ambilkan lagi nasi daging buat mama. Buat papa juga ya.”

Setelah makan, kami baru pulang. Aku menuju mobil dengan kaki telanjang karena aku sudah tidak kuat lagi memakai hak tinggi. Sepatu aku tenteng di sebelah kiri sedangkan tangan sebelah kanan membawa beberapa hadiah yang diberikan para tamu. Aku melempar semua barang tersebut ke bagasi dahulu lalu masuk ke dalam mobil.

Baru aku duduk, Ahra tiba-tiba datang mengetuk jendela mama. Mama pun menurunkan kacanya. “Ada apa, sayang?” tanya mama.

“Tante, Ahra sama ibu pinjam Minah onninya dulu malam ini ya. Boleh? Ahra janji besok pagi Ahra balikin ke tante,” jawab Ahra dengan sopan.

Dalam hati, aku sudah berharap mama menolak tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. “Pinjem saja. Gak dikembalikan juga gak apa-apa kok. Lumayan ngurangin pengeluaran tante,” kata mama diirini tawa usilnya.

Ahra tersenyum cerah sekali. Ia mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan ceria lalu menarikku keluar dari mobil. Ahra menggandengku masuk ke mobilnya yang langsung disambut ceria oleh nyonya Jung.

“Selamat ulang tahun ya, sayang,” ucap beliau sambil mencium kedua pipiku penuh sayang. “Semoga sehat selalu. Lancar rejeki. Sukses kuliahnya dan yang penting enteng jodoh. Hihihi.”

Ahra tidak mau kalah dari mamanya. Dia memelukku erat saat mengucapkan selamat ulang tahun. “Semoga onni diberkati Tuhan selalu. Amin,” ujarnya.

“Terima kasih banyak, Ahra,” balasku.

“Kamu ulang tahun yang keberapa hari ini? Maaf, omma lupa,” tanya nyonya Jung.

“21, omma,” jawabku.

Nyonya Jung bertepuk penuh semangat. “Antar kami ke tempat mister John, pak,” perintah nyonya Jung pada supirnya.

“Baik, nyonya,” sahut supir keluarga Jung yang langsung mengemudikan mobil ke tempat mister John yang aku tidak tahu itu tempat apa.

Nyonya Jung menggandengku masuk ke tempat mister John yang ternyata adalah pub kelas atas yang memiliki suasana romantis. Pantas banyak pasangan yang berkencan walau hanya untuk minum segelas sampanye.

“Buat apa kita kesini, omma?” tanyaku bingung.

“Merayakan ulang tahunmu dong, sayang,” jawab omma.

Omma mendudukkan aku di salah satu kursi dan ia duduk di sebelahku. Sedangkan Ahra dan Yunho di depan kami. Aku baru menyadari kehadiran Yunho karena dia tidak bersuara sama sekali.

“Hei, kenapa kamu diam saja? Kalau kamu gak duduk di depanku mungkin aku gak akan tahu kamu bersama kami,” ujarku pada Yunho.

“Kalau aku ikutan bicara, dunia ini akan runtuh. Cukup kamu, Ahra dan mama saja yang bicara,” sahutnya.

Sifat aslinya sudah kembali! Hah! Dasar pria aneh.

Nyonya Jung memanggil pelayan dan berbicara akrab dengannya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi yang pasti beberapa saat setelahnya, penyanyi pub menjemputku untuk maju ke depan.

“Here’s our birthday girl today, Park Minah,” ujarnya semarak lalu memberikan isyarat kepada pianisnya untuk memainkan sebuah lagu.

“Saeng..il chu..kka..hamni..da..,” nyanyi sang penyanyi dengan merdu dan perlahan sesuai dengan melodi yang dimainkan pianisnya. Lama-lama mereka mempercepat tempo. “Happy birthday to you. Happy birthday to you…”

Sambil menyanyi, sang penyanyi juga mengajakku menari. Aku mengikuti gerakannya yang lincah sambil tertawa. Hatiku senang sekali.

Aku kembali ke meja dengan wajah berseri-seri. “Terima kasih banyak sudah mengajakku kesini, omma. Aku senang sekali,” ujarku ceria.

“Ah, ini belum apa-apa sayang. Hoho,” sahut omma.

Kami lalu minum bersama kecuali Ahra yang belum cukup umur. Dia harus puas hanya dengan lemon tea.

Meskipun Ahra tidak cukup umur untuk minum tapi dia tidak ketinggalan untuk menari bersama kami, yang sudah lebih dahulu turun berdansa. Omma bahkan menyumbahkan satu lagu untukku. Aku bertepuk tangan meriah saat omma menyelesaikan bait terakhir lagunya.

“Ah, omma senang sekali. Ayo kita pulang sayang. Sudah hampir jam 4 pagi,” kata omma sambil mengambil tasnya dari meja lalu pergi keluar pub.

Ahra segera mengikuti ibunya menuju mobil sedangkan aku menyusul beberapa menit kemudian setelah keluar dari kamar mandi.

Mungkin karena agak banyak minum aku jadi pusing. Jalanpun jadi tidak seimbang. Alhasil aku terjatuh di pintu masuk pub. “AAAH,” pekikku pelan karena kesakitan. Aku mencoba berdiri tapi Yunho sudah lebih dulu membopongku.

“Terima kasih,” kataku dengan jantung yang berdegup kencang. Kedua tangannya memegangku dengan mantap. Dadanya tegap dan bidang. Tanpa sadar, aku sudah bersandar padanya.

“Hei,” ucap Yunho sambil menatapku lembut. Aku deg-degan setengah mati. “A..apa?” tanyaku.

“Kamu ringan banget. Udah terlalu kurus. Jangan diet lagi ya,” ujarnya lagi-lagi dengan lembut.

Wajahku memanas. Tubuhku sudah tidak karuan, rasanya seperti tersengat. Aku hanya sanggup mengucapkan, “i..iya.”

Yunho pun tersenyum lalu memasukkanku ke dalam mobil. Setelah itu, mobil berjalan.

 

===

 

Aku mengerjapkan mataku karena terusik oleh cahaya matahari. Aku terbangun dan menemukan diriku berada di sebuah mobil.

“Hai, selamat pagi,” ucap Yunho dari jok bagian depan sambil tersenyum manis sekali.

Lagi-lagi aku deg-degan karenanya. “Kenapa aku di sini?” tanyaku.

“Semalam kamu ketiduran di sini. Nyenyak sekali, jadi aku tidak tega membangunkanmu. Ya sudah, akhirnya aku temani saja,” jawab Yunho yang untuk kesekian kalinya membuatku sesak nafas.

Aku menimpuk wajahnya dengan bantal. “Eh, hentikan sikap manismu. Kau nyaris membuatku pingsan tahu,” kataku jujur.

“Pingsan kenapa?” tanya Yun dengan lugu.

Aku tidak mungkin bilang kalau aku deg-degan jika melihatnya. “Sudah lupakan saja,” kataku. “Aku pulang dulu.”

“Sebentar,” kata Yun. Dia mengambil sebuah kotak kecil dari kantong celananya. “Ini hadiahmu. Selamat ulang tahun ya.”

Aku menerima kotak itu dengan tatapan tidak percaya. Ini memang bukan hadiah pertama darinya, waktu kecil setiap aku ulang tahun dia memberiku hadiah dan begitu sebaliknya bahkan sampai sekarang juga aku masih memberikan hadiah untuknya (tapi dia tidak. Huh!). Aku terkejut dengan caranya memberikan kotak itu, yang menurutku aneh. Ini terlalu romantis untuk seorang Jung Yunho!

“Terima kasih banyak,” ucapku lalu turun dari mobil dan masuk ke rumah.

 

===

 

Meskipun aku sudah kembali ke rumah pagi-pagi tetap saja aku baru bisa berkumpul dengan keluargaku lagi nanti malam. Sekarang mereka semua sudah pergi bekerja ke kantor masing-masing.

Dengan langkah gontai, aku masuk kamar mandi untuk membasuh seluruh tubuhku terutama make up yang sudah menempel lebih dari 12jam.

Selesai mandi, aku keluar kamar dan menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Bibik. Sambil membalas ucapan selamat ulang tahun di hapeku, aku memasukkan nasi ayam buatan Bibik sesuap demi sesuap ke mulutku. Makananku sudah habis tapi ucapan yang harus aku balas belum habis juga.

Aku pindah ke ruang keluarga dan nonton televisi disana. Tentu saja tivi itu tidak sepenuhnya mendapat perhatian dariku. Aku lebih fokus pada hapeku.

Waktu berlalu dengan cepat. Rasanya baru tadi aku makan tapi sekarang perutku sudah lapar lagi. Aku lihat jam, sudah jam 2 siang. Pantas saja. Aku kembali ke ruang makan dan menyantap makan siangku dengan nikmat.

Saat aku makan siang, aku mendapat telepon dari oppa.

“Eh, kamu dimana?” tanya oppa tanpa basa-basi begitu telepon aku angkat.

“Di rumah. Emang kenapa?” balasku.

“Jemput oppa ke kantor dong. Mobil oppa mogok nih.”

“Ealah. Mobil baru kok bisa mogok? Makanya kalo beli mobil baru, adeknya juga dibeliin.”

“Gundulmu. Duit darimana, nona? Udah, jemput oppa sini. Nanti oppa traktir.”

“Asik! Gitu dong. Hahaha.”

“Jemputnya sekarang ya. Gak usah pake dandan, entar lama lagi.”

“Yaelah oppa, cerewet amat! Ini aku langsung berangkat kok. Bye.” Aku menutup teleponku lalu mengambil kunci mobil dan tasku di kamar. Beberapa menit kemudian, aku sudah melaju di jalan dengan mobilku.

 

===

 

Oppa langsung masuk ke dalam mobil begitu aku tiba. “Adik yang baik,” katanya sambil terkekeh.

“Dari dulu kali,” sahutku. “Mobil oppa gimana?”

“Sudah ditarik ke bengkel tadi. Saluran bensinnya gak bener karena habis dimodif kemaren.”

“Kebanyakan gaya sih, dimodif segala.”

“Ya ampun, cuman di pasang lampu bawah doang. Huh, cerewet! Mending kamu nyetir aja ke Lune plaza. Oppa mau cari sepatu. ”

“Jangan lupa traktir aku.”

“Iya. Cerewet deh kamu.”

Aku membawa oppa ke tempat sesuai permintaannya. Aku juga menemaninya membeli sepatu di toko langganannya. Setelah dapat apa yang ia inginkan, barulah giliranku.

“Kamu mau apa?” tanya oppa.

“Baju,” jawabku mantap karena memang ada baju yang aku inginkan di sini.

Aku menarik oppa masuk ke toko baju wanita kesukaanku tapi langsung meninggalkannya untuk memilih-milih. Aku mengambil satu buah mini dress, celana pendek dan bf blazer untuk dicoba.

Aku menitipkan tasku kepada oppa lalu masuk ke dalam fitting room. Aku mencoba mini dress dan blazer sekaligus lalu keluar untuk minta pendapat pada oppa. “Bagus gak?” tanyaku.

Oppa melihatku lalu berkata, “Kamu baru beli cincin ya?”

Aku bingung dengan maksudnya. “Aku gak pernah beli cincin,” kataku.

“Lalu ini apa?” tanya oppa lagi sambil menunjukkan kotak kecil pemberian Yun tadi pagi yang sudah dibuka. Di dalamnya ada cincin yang aku pilih sewaktu bertemu dia beberapa waktu lalu.

“Itu hadiah ulang tahun dari Yun. Dia memberikannya tadi pagi padaku,” jawabku jujur.

“Wow! Wow! Wow!” seru oppa seperti terkejut. “Crazy! He’s absolutely crazy!”

“Oppa? Kenapa sih?” Belum habis keterkejutanku karena cincin itu, oppa sudah menambahkannya dengan kebingungan.

“Kau tahu? Cincin ini punya arti khusus dan harganya mahal! Yunho pasti punya perasaan khusus padamu.”

“Oppa ngomong apa sih? Itu cuman hadiah, lagipula aku yang memilihnya waktu dia membelinya.”

“Maksudmu kamu sudah tahu cincin ini sebelumnya?”

“Iya, beberapa waktu lalu aku tidak sengaja bertemu Yun di toko perhiasan. Aku lihat dia sedang bingung memilih cincin jadi aku pilihkan saja yang itu karena menurutku paling bagus. Katanya dia akan memberikannya buat gadis pujaannya. Mungkin dia salah kasih. Biar nanti aku kembalikan.”

Oppa menatapku dengan heran lalu menoyor kepalaku pelan. “Dasar IQ jongkok!”

“Ih, oppa apa sih. Ini gimana bajunya. Bagus gak buat aku?”

“Bagus, bagus. Ayo, mana baju yang mau kaubeli?” kata oppa.

“Semuanya,” sahutku.

“Pilih salah satu,” kata oppa menolak.

“Dua deh ya?” bujukku.

“Oke! Dua,” kata oppa yang memang mudah melunak jika terkena bujuk rayuku.

Setelah berganti pakaian dengan pakaian awalku, aku membawa mini dress dan blazernya ke kasir untuk dibayar oppa. Menit berikutnya, aku keluar toko dengan sebuah tas belanjaanku, tidak lupa sambil menggelayut di tangan oppa.

“Jeongmal gomawo, oppaku sayang,” kataku sangat manis dengan wajah berseri-seri.

“Sama-sama. Sekarang kita pulang. Duit oppa sudah kamu kuras habis,” balasnya.

Aku hanya tertawa terkekeh mendengarnya. Aku tahu oppa hanya menggodaku. Dia tidak akan pernah membiarkan duit di dompetnya habis.

 

===

Aku langsung menuju rumah Yun begitu mobil sudah terparkir rapi di depan rumahku. Aku menyelonong masuk dengan hadiah ulang tahun dari Yun yang tergenggam kuat di tanganku. Aku masuk kamar Yun dan lagi-lagi harus melihat wajah Jinna. Gadis itu sedang belajar bersama Yun tapi yang aku rasakan dia hanya menikmati setiap detik karena bisa dekat dengan Yun. Aku bisa melihat dari tatapan matanya. Hah! Awas kau Jinna.

Aku menghampiri mereka dan duduk menempel di sebelah Yun. Aku senang dengan perubahan raut wajah Jinna yang jadi muram. Rasakan!

Yunho yang merasakan kehadiranku membawa aura peperangan langsung mengusir Jinna dengan halus, “Jinna, nanti lagi belajarnya ya. Sekarang giliran Minah.”

Jinna memandangku lalu kembali pada Yun. “Iya, oppa,” ujarnya lalu keluar dari kamar.

“Mana bukumu?” tanya Yunho padaku.

“Buku apa? Aku kesini bukan untuk belajar. Aku mau mengembalikan ini,” kataku sambil menyerahkan cincin beserta kotaknya. “Aku rasa kau salah kasih.”

Yun menatapku lalu tertawa, “Itu memang buatmu. Aku tidak salah kasih.”

“Tapi waktu itu kamu kan bilang akan membelinya untuk gadis pujaanmu. Selain itu, cincin ini terlalu berharga untukku. Kata oppa cincin ini mempunyai makna yang dalam. Mahal lagi.”

“Kau sudah tau maknanya?” tanya Yunho.

Aku menggeleng. “Entah, tapi pasti sangat dalam. Menurut oppa.”

Yunho tersenyum padaku. Aku kembali jantungan dibuatnya. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku. “Jangan tampar aku ya. Maaf,” ucap Yunhun sambil terus mendekat. Sedetik kemudian, bibir kami sudah bersentuhan. Otakku membeku. Saraf-saraf kewarasanku sudah mati. Aku merasakan kenyamanan dari bibir Yunho. Aku tahu sentuhan itu makin dalam tapi aku sama sekali tak menolak. Aku bahkan ingin Yunho tidak melepaskannya. Aku mengalungkan tanganku di lehernya. Tanpa sadar, tanganku sudah berpindah ke belakang kepalanya, menahan agar ia tidak melepaskan bibirnya atau mungkin secara instingku semakin memperdalam ciumannya. Aku pasti sudah gila.

Yunho sepertinya menerima sinyalku. Ia mendorong tubuhku hingga aku terbaring di lantai. Tubuhnya hampir menindihku.

Gila! Gila! Ini gila! Aku mengelus punggung Yun dan aku rasakan dia juga semakin menggila. Bibirnya kini sudah menyentuh daguku lalu turun ke leher. “Kau..wanita paling..bodoh! Tahu?” katanya terbata-bata sambil mengatur nafas.

Aku mendorongnya menjauh dan kembali duduk. “Bodoh karena mau jadi pelarianmu?” tanyaku marah. Aku marah karena dibilang bodoh setelah semua yang telah kami lakukan.Aku tidak munafik. Aku merasa sangat bahagia saat setiap senti kulitku bersentuhan dengan Yun.

Yunho tersenyum menatapku. Tangannya mengusap setiap jejak yang dia tinggalkan. “Ini hukuman buatmu yang bodoh karena tidak bisa menyadari perasaanku selama ini.”

Aku terkejut mendengar pengakuannya. Otakku makin membeku. “Maksudmu, ka..mu suka padaku?” tanyaku polos.

Yunho menggeleng mantap. “Cinta. Sejak kecil dan rasa itu semakin akut sekarang,” ujarnya.

Aku menatap Yunho, tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Sahabatku dari kecil baru saja menyatakan cinta padaku dan aku gugup setengah mati. Jiwaku rasanya sudah terbang ke langit ke tujuh saking bahagianya. Tapi, apa aku merasakan hal yang sama?

“Jadi, cincin ini benar-benar untukku?” tanyaku.

“Astaga, Park Minah. Setelah apa yang aku lakukan padamu masak kamu gak bisa tahu?” balas Yunho. “Aku melamarmu, bo to the doh to the max.”

Aku syok sekaligus senang. “Tapi Yun, aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaanku padamu. Jujur saja, aku sangat senang kau menciumku dan… Argh! Aku bingung,” kataku  malu sambil mencakar-cakar lengan Yun. “Haduh! Kenapa tiba-tiba begini sih? Gak ada angin gak ada hujan. Gak ada pendekatan.”

“Mau pendekatan bagaimana lagi? Aku sudah dekat denganmu selama 21 tahun. Sudah tau luar dalam mu. Apa lagi yang harus dijajaki?”

“Setidaknya berikan aku tanda-tanda dong. Jangan tiba-tiba gini.”

“Ih, dari dulu juga sudah cuman karena kau terlalu bodoh makanya gak tangkap!”

Aku memukul lengannya. “Terus saja deh bilang aku bodoh. Emang kau melakukan apa? Tiap hari galak padaku. Aku cerita cowok, kau tidak pernah marah. Waktu aku suka Siwon, kau juga tidak cemburu. Kau juga gak pernah perhatian padaku.”

“Ah, susah menjelaskan padamu. Sudahlah, yang penting kau sudah tahu sekarang. Sana pulang kau!”

“Tuh! Galak lagi. Mana aku percaya kau mencintaiku.”

Diiring senyum setannya yang menyebalkan, Yunho memelukku dan berbisik di telingaku, “Jangan suruh aku mengulanginya. Saranghae…”

Yunho melepasku. Aku lihat wajahnya memerah, mungkin karena malu. Sedangkan aku duduk mematung. Dia lagi-lagi mengalihkan duniaku.

“Sudah kau pulang dulu sana. Mandi, makan, lalu kesini lagi buat belajar. Sebentar lagi ujian. Kalau kau tidak mendapat nilai A, aku akan menghukummu.”

“Mwo?”

“Sudah sana pulang ah! Jangan lupa kembali lagi.”

Yunho mendorong aku keluar kamarnya. Aku pun kembali ke rumah.

 

===

 

Aku berjalan masuk ke kamarku tapi oppa menahanku. “Minah-ah,” panggilnya.

“Apa, oppa?” sahutku.

Oppa menatapku dari atas sampai bawah dan berhenti di leherku. “Lehermu kenapa merah-merah begitu?” tanya oppa.

Aku kaget setengah mati. Ini pasti jejak yang Yun tinggalkan. Mati aku. Awas kau, Yun!

“Ini gatal, oppa. Kena getah pohon di depan,” jawabku berbohong.

Oppa menatapku tak percaya. Dari tatapannya aku tahu dia menuntut jawaban yang sebenarnya tapi aku tidak mau mengatakannya. Aku memilih kabur ke kamarku. “Aku mandi dulu ya, oppa.”

Di kamar mandi, aku langsung bercermin dan melihat tanda-tanda merah yang sangat jelas di leherku. “Mati kau, Yun. Bikin repot saja,” gumamku kesal sekaligus senang.

Setelah mandi, aku sibuk memilih pakaian yang pas. Pilihan awalku jatuh pada kaus dan celana pendek tapi menurutku ini terlalu simpel jadi aku menggantinya. Aku menggantinya beberapa kali sampai akhirnya aku memilih legging selutut dan kaus lengan panjang yang kebesaran serta scarf tipis untuk membebat leherku. Aku juga tidak lupa berdandan minimalis dan memakai parfum.

“Aku pasti sudah gila. Ini kan hanya belajar bersama tidak perlu sampai seperti ini,” kataku pada diriku sendiri.

Aku lalu menyiapkan buku-buku dan membawanya keluar. Aku menyantap makan malamku terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah Yunho.

Begitu aku masuk, ternyata semuanya sedang berkumpul di ruang keluarga. Om, omma, Yunho, Ahra dan…Jinna. Eugh!

“Selamat malam,” sapaku.

Omma melihatku pertama kali dan langsung menyuruhku bergabung dengan mereka. “Sini sayang, kami lagi membicarakan Yunho. Om dan omma mau menjodohkan dia dengan Jinna. Bagaimana menurutmu?” ujar omma dengan gaya cerianya yang khas.

Aku syok mendengarnya. Aku menatap Yunho dan Jinna bergantian lalu Ahra yang juga sedang menatapku. “Gak usah buru-buru, omma. Yun baru mau 24 tahun. Buat apa dijodohkan cepat-cepat. Lagipula mungkin Yun punya pujaan hatinya sendiri,” ujarku.

Jinna menatapku penuh dengan kebencian sedangkan Ahra mendukungku habis-habisan, “Benar kata Minah onni, bu. Oppa masih muda. Buat apa sih dijodoh-jodohkan. Dia juga bisa cari sendiri.”

“Iya, tapi sudah hampir 24 tahun dia tidak ada tanda-tanda serius pacaran. Semua putus di tengah jalan. Mama bahkan lupa kapan terakhir dia punya pacar. Iya kan,pa?” sahut omma.

Tuan Jung hanya mengangguk-angguk, entah setuju atau tidak. “Tapi kalau papa, lebih setuju dia kerja dulu, ma. Mapan dulu. Kalau dia belum mantap, dia tidak akan mandiri. Pasti masih menempel kita.”

“Tapi nanti kalau udah keasikan kerja lupa cari pasangan hidup. Mama gak mau Yun jadi perjaka tua.”

Akhirnya Yunho membuka suara, “Sudah, kalian semua tenang saja. Aku tidak akan jadi perjaka tua. Percayalah.”

Yun lalu bangkit berdiri dan menggedikkan kepalanya kepadaku agar mengikutinya.

“Permisi dulu ya, om, omma, Ahra, Jinna. Aku mau belajar dulu,” pamitku.

“Selamat belajar ya, sayang,” ujar omma.

Aku mengikuti Yunho masuk ke kamarnya dan duduk di depan meja belajar seperti biasanya. Aku berharap dia akan segera bicara sesuatu mengenai perjodohannya tadi. Tapi dia malah bertanya mengapa aku memakai scarf. Rasanya aku mau mencakar-cakarnya.

“Kau mau dijodohkan?” tanyaku akhirnya.

“Tergantung kamu. Kalau kamu membalas perasaanku jelaslah aku tak akan mau dijodohkan,” jawab Yunho sambil membuka-buka buku matematikaku.

“Kalau tidak?” tanyaku.

“Ya aku terima. Aku juga gak mau jadi perjaka tua dong. Sudah, ayo belajar.”

Yunho mulai mengajariku dengan sabar. Menjelaskan semuanya sedetil mungkin. Dia juga membantuku mengerjakan soal-soal latihan yang aku tidak mengerti. Hah! Kenapa aku jadi memujinya seolah-olah dia sangat sempurna padahal dia masih galak juga.

“Yun, sudah ya. Aku capek,” ujarku memelas.

Yunho tidak bergeming. Aku memohon sekali lagi dengan lebih memelas. “Kerjakan soal-soal itu dulu sampai selesai baru kamu boleh pulang,” kata Yun akhirnya.

Aku tersenyum dan langsung mengerjakan soal terakhir secepat mungkin lalu menyerahkannya kepada Yun untuk diperiksa.

“Kau mengalami banyak kemajuan. Selamat,” pujinya. “Semua tidak lepas dari tangan dinginku yang tekun mengajari kamu.”

“Narsis gak abis-abis!”

Yunho hanya tertawa terbahak-bahak. “Sudah pulang sana, istirahat. Besok kau harus kuliah dan ke tempat Nari nuna,” perintahnya.

“Ngapain ke tempat onni?” tanyaku bingung.

“Pilih foto buat katalog,” jawabnya. “Oh ya, cincinmu ketinggalan. Nih!” Dia memasangkan cincin itu di jari manis kananku. Aku benar-benar tidak ingat meninggalkan cincin ini tadi. “Kau akan mati kalau berani melepasnya apalagi menghilangkannya.”

Aku memanyunkan bibirku. Maksudku aku ngambek tapi Yun langsung menyambarnya. “Selamat malam. Sampai jumpa.”

Hanya dengan senyumannya, aku langsung luluh.

 

===

 

Aku terlambat bangun jadinya aku buru-buru pergi ke kampus. Sampai di kampus, ternyata kelasku dibatalkan. Menyebalkan sekali. Aku akhirnya pergi ke perpustakaan. Di sana aku melihat Siwon dan Hamun onni yang sedang bermesraan di belakang rak buku paling belakang.

“Saranghae,” ujar Siwon pada Hamun onni. Dari wajahnya aku tahu Siwon sangat jujur.

Hamun onni menatap Siwon dengan wajah cerah dan mengangguk. “Nado saranghae, Siwon,” balas Hamun onni.

Aku menatap mereka. Andai saja yang berada di samping Siwon itu adalah aku. Ah, bicara apa aku ini? Aku kan sudah melupakannya. Aku pergi meninggalkan mereka dan mengambil tempat duduk jauh dari mereka. Aku berusaha memfokuskan diri untuk belajar tapi pikiranku masih ke kemesraan Siwon dan Hamun onni tadi.

Aku akhirnya memilih keluar saja dari perpustakaan dan pergi ke klinik mama.

 

===

 

Aku langsung masuk ke ruangan mama begitu sampai karena kebetulan pasien mama sedang sepi. “Halo, nak. Kamu kok di sini? Gak kuliah?” tanya mamaku.

“Kelasku kosong. Gak ada dosen. Jadi aku kesini aja deh buat perawatan biar makin cantik dan mulus,” jawabku terkekeh.

“Perawatan apalagi?” tanya mama.

“Body massage aja deh, ma.”

“Kalo gitu, kamu ganti baju sana biar nanti petugas mama massage kamu. Mama ada janji sama pasien sejam lagi.”

“Loh kok gitu? Padahal aku mau cerita-cerita sama mama.”

“Cerita apa?”

Aku memamerkan cincin di jari manisku kepada mama. “Yunho melamarku. Ternyata selama ini dia mencintaiku,” ujarku jujur.

Mama menatapku serius. “Lalu dirimu bagaimana?” tanya beliau.

“Aku tidak yakin. Aku sangat sangat bahagia saat mendapat cincin ini. Aku juga nyaman sekali saat dia…menciumku. Aku tidak tahu ini cinta atau hanya perasaan senang karena ada yang mencintaiku. Tapi aku cemburu kalau dia dekat dengan wanita lain, terutama Jinna,” jawabku.

“Baiklah, mama yang akan memijatmu. Mama penasaran. Tapi, hanya sejam ya?”

Aku menggangguk senang lalu berganti baju. Sembari dipijat, aku bercerita panjang lebar dan mama mendengarkannya dengan seksama. “Wah, anak gadis mama sudah besar sekarang. Sudah punya penggemar ternyata,” goda mama sambil tertawa.

Aku hanya tersipu malu saat mama menggodaku. “Mama apaan sih ah. Malu tau. Aku serius ini, ma,” kataku.

Mama tertawa sebentar lalu kembali serius. “Mama tahu Yunho anak yang baik. Sayang kalau kau menolaknya tapi mama setuju kau harus memastikan perasaanmu lebih dulu. Hanya kau sendiri yang tau apa kau mencintainya juga atau tidak. Jangan sampai kau salah mengartikan perasaanmu dan malah menyakitinya. Dia sudah terlalu baik pada keluarga kita,” ujar mama.

Aku mengangguk mengerti. Yunho memang sangat baik kepada keluarga kami. Semua dilakukannya untuk kami. Aku tidak pernah menemukan laki-laki sebaik dia seumur hidupku, bahkan mantan-mantan pacarku sekalipun. Apa ini yang dia namakan perhatian? Cinta? Aduh, aku memang benar-benar bodoh.

Meskipun hanya sejam, aku lega telah menceritakan semuanya kepada mama. Aku merasa lebih tenang, tidak kebingungan sendiri.

 

===

 

Pijatan-pijatan mama rasanya menyegarkan sekali. Aku merasa lebih percaya diri. Aku pun langsung meluncur ke butik Nari onni dengan semangat. Betapa girang hatiku melihat mobil Yunho sudah nangkring di depan butik onni. Dengan ceria aku turun dari mobil dan masuk ke dalam butik.

Yunho yang melihatku lebih dulu memanggilku sambil melambaikan tangannya. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Rupanya dia sedang melihat foto-fotoku kemaren. Aku tidak tahu fotografi tapi buat mata awamku hasilnya memuaskan. “Foto-foto ini menakjubkan!” pujiku.

“Karena kau modelnya?” sahut Yun jahil.

“Aku tidak narsis sepertimu. Kau memang hebat. Bisa segala hal.”

“Terima kasih,” ucapnya dengan manis.

Hah. Lagi-lagi aku meleleh karenanya. Jantungku berdetak cepat sekali. “Nari onni mana?” tanyaku.

“Ada pelanggan. Dia sepenuhnya percaya pada kita untuk memilih foto-foto yang akan masuk katalog. Lebih baik kita bekerja sekarang.”

Aku dan Yunho pun mulai memilih foto-foto. Semua koleksi harus masuk di katalog. Karena begitu banyak pilihan, perdebatan juga semakin sering.

“Jangan masukkan foto itu. Kakiku terlihat aneh disitu,” kataku.

“Gak ah. KaChoiu bagus, ekspresimu juga bagus sekali,” bantah Yunho.

“Cari dulu foto yang lain,” perintahku.

Selama 5 jam, kami berdua begitu terus sampai akhirnya semua foto yang akan masuk katalog selesai diseleksi. Kadang foto pilihanku yang masuk kadang pilihannya, tak jarang pilihan kami berdua.

Karena sudah malam, aku pamit pulang pada Nari onni. “Onni, aku pulang dulu ya. Nanti aku ke sini lagi main-main ya,” kataku.

“Iya. Makasih ya, sayang. Jangan bosan-bosan ke sini ya. Oh iya, ini honormu. Aku hanya mampu memberikan segini,” kata Nari onni sambil menyerahkan sebuah amplop yang lumayan tebal.

Aku segan untuk menerimanya karena dari awal aku memang hanya ingin membantu. “Aku harus menerimanya gak, on?” tanyaku.

“Harus! Gak boleh nolak,” jawab Nari onni.

Dengan segan aku menerima amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Terima kasih ya, onni,” ucapku.

Nari onni mengelus pipiku sambil tersenyum. “Senang bisa mengenalmu. Kapan-kapan jadi modelku lagi ya, sayang? Beruntung sekali Yun mengenalmu,” ujarnya.

Aku tersenyum malu. Onni ini berlebihan deh. Sama kayak omma. Hahahaha.

 

===

 

Minggu ini minggu tenang sebelum ujian akhirku dimulai minggu depan. Kerjaanku setiap hari hanyalah belajar, makan, tidur, nonton tv, olahraga. Begitu terus sampai aku mau mati bosan karenanya. Tapi aku tidak boleh mengeluh. Target nilai-nilaiku kali ini adalah A. Aku harus belajar keras untuk itu. Aku tidak boleh main-main. Aku bahkan membuat jadwal belajar yang sangat ketat. Seperti hari ini, sehabis olahraga aku langsung mandi agar segar selama belajar. Apalagi kalau Yunho yang mengajarku, aku harus bisa bertahan minimal 3 jam!

Dengan berbalut handuk Choiono, aku mengeringkan rambutku dengan hair dryer. Suara hairdryer yang keras aku tidak mendengar saat Yunho masuk. Tau-tau saja aku mendengar, “Maaf, aku akan menunggu di luar.”

Aku mematikan hairdryer ku dan berbalik menatap Yunho. Aku menghampirinya. “Tidak apa. Tunggu di sini saja,” kataku menahannya sambil memegang dadanya. Kami saling menatap dalam diam.

Aku deg-degan. Park Minah, apa yang kau lakukan bodoh?!

Yunho menatapku lalu semakin mendekatkan wajahnya. Detik berikutnya, bibir kami sudah saling bertaut. Tanganku mengalung di lehernya. Tangannya memeluk punggungku. Tidak lama kemudian, aku sudah berada dalam gendongannya. Dia membawaku ke tempat tidur dan membaringkan aku di sana. Dia berada di atasku dan terus menciumiku. Aku memeluk punggungnya dan menarik tubuhnya agar semakin dekat saat ciumannya semakin panas. Aku sungguh-sungguh bahagia. Ini surga dunia bagiku. Aku juga semakin mendekatkan tubuhku tapi aku merasa ada yang aneh. Ada yang mengganjal di antara kedua pahaku. Rasanya seperti sesuatu yang akan menusuk tapi terhalang sesuatu.

Aku tersadar lalu mendorong Yunho menjauh dariku. Aku menatapnya dan dia menatapku dengan perasaan bersalah. “Maaf, aku tidak bisa mengontrol nafsuku,” kata Yunho benar-benar menyesal.

Aku mengubah posisiku jadi duduk di sebelahnya. “Aku juga yang salah. Sudah, yang penting belum kejadian. Kita harus lebih hati-hati,” ujarku sambil mengelus punggungnya dengan lembut.

“Aku janji tidak akan mengulanginya. Aku akan menjagamu dengan baik.”

Aku tersenyum dan berkata, “Aku percaya padamu. Sekarang,aku mau ganti baju dulu. Tunggu sebentar ya.”

Aku segera mengganti bajuku dan belajar bersama Yunho. Belajar kali ini lebih sunyi dari biasanya. Yunho tidak banyak bicara. Aku jadi merasa bosan.

“Kau kenapa diam saja sih, Yun? Ga seru ah. Ga asik,” kataku. “Padahal tadi kau aktif sekali.”

“Minah, jangan menggodaku. Kalau aku lagi diam lebih baik kau biarkan aku diam daripada kau nanti menyesal. Aku ini laki-laki. Otakku agak konslet kalau berurusan denganmu,” sahut Yunho. “Kau paham kan maksudku?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Kita harus bisa saling menjaga diri agar kau tetap aman,” kata Yunho.

“Maksudmu?”

“Jangan sampai kebablasan. Untung tadi belum sempat terjadi apa-apa.”

Aku paham maksud Yunho sekarang. Aku menganggu-angguk. Kami harus bisa saling menjaga. Jangan sampai terjadi apa-apa. Apalagi perasaanku juga belum jelas. Ah, lebih baik aku konsentrasi ke ujianku.

 

===

 

Selama seminggu berkutat hanya dengan belajar dan ujian, akhirnya hari ini aku mendapatkan kebebasanku lagi. Aku bisa jalan-jalan lagi, main-main lagi. Aku menelepon sahabatku dan mengajaknya bermain, “Yunuu!!! Temani aku berenang yuk! Ya ya ya?” Aku meminta dengan manja.

“Aduh, aku sedang sibuk sekali hari ini. Katalog Nari nuna harus segera aku masukkan ke percetakan,” kata Yunho dari seberang sana.

“Aku mohon. Nanti selesai kamu ke percetakan saja kita berenang. Kita kan belum jadi-jadi tanding renang,” paksaku. “Ayolah.”

Aku mendengar Yunho menghela nafas. Aku tahu itu tanda dia luluh. “Baiklah. Nanti setelah urusanku selesai aku akan menemuimu di kolam renang,” ujarku.

Senyumku mengembang. “Terima kasih yaaa, jeleeek,” ucapku sambil tertawa-tawa.

Aku menyetir mobilku ke rumah lebih dulu untuk mengambil peralatan renang dan baju ganti. Setelah itu, aku langsung menuju gym. Aku memilih untuk yoga terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Yun. Yoga membuatku lebih rileks, apalagi setelah minggu ujian yang benar-benar menguras otakku. Selama 2 jam, aku fokus untuk merilekskan diriku. Baru setelah itu, aku bersiap untuk renang. Aku mengganti pakaianku lalu mulai pemanasan. Saat sedang pemanasan aku melihat Yunho datang sambil celingak celinguk. Dia pasti mencariku.

“Yun! Jung Yunho, sini!” panggilku.

Yunho melihatku dan langsung menghampiriku. “Wah! Sudah siap kalah ya?” godanya karena melihatku sudah siap nyemplung ke kolam renang.

“Enak aja. Aku pasti menang,” jawabku percaya diri walau sepertinya kemungkinannya kecil.

“Kita lihat saja nanti.” Yunho melepas pakaiannya sampai hanya tinggal celana renangnya saja lalu melakukan pemanasan selama 10menit.

“Oke. Kau siap? Siapa yang kalah harus jadi pelayan sang pemenang selama sebulan!” kata Yunho dengan mantap.

“Sebulan? Kok naik? Waktu itu katanya seminggu,” protesku.

“Kau takut, huh?” tantang Yunho.

Aku menjawab tantangan Yunho dengan mantap, “Oke, deal! Sebulan!”

Kami bersiap di tepi kolam renang. “2 kali bolak-balik. Oke?” kata Yun. Aku mengangguk.

Kami sama-sama menghitung, “satu..dua..tiga!” kami langsung melompat ke dalam kolam dan berenang secepat mungkin.

Putaran pertama aku masih sanggup menyaingi Yunho, aku tidak pernah jauh di belakangnya, tapi begitu putaran kedua aku mulai kehilangan tenaga. Aku tertinggal jauh dari Yunho meskipun Yun sudah memperlambat lajunya. Aku berusaha sekuat tenaga menyentuh tepi kolam renang meski Yunho sudah menyentuhnya lebih dulu. “Hhh… Hhh… Hhh.” Aku berusaha mengatur nafasku. Yunho mendekatiku dan berkata, “Kau baik-baik saja kan?”

Aku mengangguk. Dia lalu mengajakku untuk istirahat sejenak. “Kau hebat! Tidak menyerah meskipun tahu aku sudah menang,” pujinya sambil mengusap puncak kepalaku.

“Terima kasih atas pujianmu tapi aku lebih butuh belas kasihmu nanti selama aku jadi pelayanmu,” balasku.

Yunho tertawa terbahak-bahak. “Tenang, aku sudah memikirkan tugasmu selama sebulan ini. Gampang kok,” ujarnya.

“Memang apa tugasku?” tanyaku.

“Yang pasti, setiap pagi kau harus menyiapkan sarapan untukku. Selain itu, kau harus ada dimana pun aku berada. Tidak boleh jauh sedikit pun!” jawabnya.

“Terus kapan aku bersama keluargaku?”

“Aku bisa membuat pengecualian untuk itu. Pokoknya kalau aku memanggilmu, kau harus datang. Tengah malam sekalipun.”

Aku melongo mendengar ucapan Yunho. Dia benar-benar menjadikan aku pelayannya! Teganya pria ini. Argh!

 

===

 

Ujian akhir sudah berakhir berarti itu artinya liburan. Senang-senang. Tapi buatku liburan kali ini membuat stres! Setiap pagi aku harus bangun jam 6 pagi dan menyiapkan sarapan untuk Yunho, yang entah kenapa selalu sudah bangun setiap aku mengantarkan sarapan ke kamarnya.

“Selamat pagi,” salam Yunho dengan ramah. “Kamu paling cantik saat mengantarkan sarapanku. Pelayan yang baik.”

Aku menjulurkan lidahku dan Yunho hanya tertawa lalu menyantap makan paginya.

Selain menyiapkan makan paginya, aku mengekor kemanapun dia pergi. Ke percetakan katalog, ke butik Nari onni, ke kampus meskipun libur dan keluar kota menemaninya hunting foto atau mengikuti pemotretan bersama komunitasnya.

Aku bertemu dengan banyak teman baru yang rata-rata jago fotografi juga model-modelnya. Aku bahkan juga sempat dijadikan model mereka, baik secara gratisan atau dibayar.

“Kau model yang sempurna, Minah-ah! Ekspresimu bagus sekali,” puji salah satu teman Yunho yang baru saja selesai mengambil fotoku untuk poster promosi restoran ayahnya. “Kalau nanti ada proyek lagi, aku pasti akan menghubungimu. Terima kasih banyak ya.”

Lama-lama aku senang juga menjalani liburanku. Liburanku bermanfaat. Tabunganku pun bertambah, walaupun tidak banyak tapi rasanya sangat puas bisa mendapatkan uang dengan kerja keras sendiri.

Aku yang awalnya sebal sekarang jadi bingung kalau setiap pagi menyiapkan sarapan tapi Yunho malah tidak ada atau Yunho tidak mengajakku pergi bersamanya kemana pun ia pergi.

“Kau dimana?” tanyaku melalui telepon karena sudah beberapa hari ini dia tidak muncul dan tidak ada kabarnya.

“Sebentar ya, aku lagi sibuk. Nanti aku telepon,” ujarnya lalu mematikan hapenya.

Aku melempar hapeku dengan kesal ke tempat tidur. “Apa-apaan sih dia ini? Ngapa-ngapain gak ada kabarnya. Ditelpon, bilang sibuk langsung tutup. Awas aja kalau ketemu!” gerutuku.

Malam ini, di rumahku tidak ada siapa-siapa. Mama dan Papa ada acara keluarga di luar negeri. Jungsu oppa sibuk kejar setoran buat menikah mungkin. Yang ada hanya si Bibik dan Mamang. Aku mana nyambung sama mereka. Akhirnya aku mengungsi ke rumah Yunho. Niatnya mau main sama Ahra tapi ternyata dia sedang kedatangan tamu penting, Choi Jongwoon, kekasih hatinya. Aku melihat mereka sedang bermesraan di sofa ruang keluarga dan timbul keinginan mengganggu mereka. Aku mendekati mereka dan menyapa, “Ehem, apa oppamu ada, Ahra?”

Seketika itu juga mereka menghentikan kemesraan mereka dan menatapku dengan salah tingkah. “Op..ppa belum pulang, onni. Mungkin sebentar lagi,” jawab Ahra dengan muka bersemu merah.

Aku tertawa geli dalam hati melihat mereka berdua. “Ah, gak usah malu-malu gitu sama onni. Gwenchana, gwenchana,” ujarku. “Kalau oppamu pulang, bilang aku menunggunya di kamar ya? Ada yang mau aku bicarakan dengannya.”

“I..iya, onni.”

Aku lalu meninggalkan Ahra dan kekasihnya. Aku masuk ke kamar Yunho dan langsung menyalakan tv. “Percuma aku ke sini. Yunho mana sih? Kok ga pulang-pulang?” kataku tanpa ditujukan kepada siapapun.

Baru beberapa menit kemudian aku mendengar suara mobil yang diparkir. Itu mobil Yun. Aku keluar dari kamar untuk menyambutnya tapi ternyata gadis sialan bernama Jinna itu lebih cepat! Dia membukakan pintu untuk Yunho dan menyambutnya seolah Yun adalah suaminya. Cih! Jijik aku melihatnya.

Aku masuk kembali ke kamar biar Yunho kaget saat melihatku.

“Kenapa kau ada disini?” tanyanya.

“Mau bertemu denganmu,” jawabku. “Kamu darimana? Kok baru pulang?”

“Cari duit. Emang kenapa?”

“Kenapa tidak memberitahuku? Sudah berapa hari ini kau tidak ada di rumah. Tiap hari tidak ada kabarnya. Setiap aku telepon, bilang sibuk. Kau tahu tidak aku disini kebingungan setengah mati memikirkanmu?!”

“Lalu kenapa?”

“Lalu kenapa?! Lama-lama aku bisa gila kalau kau terus-terusan begini. Meninggalkan aku, tidak menghiraukan aku, apalagi kalau sudah memikirkanmu bersama wanita lain, rasanya aku ingin segera menyusulmu! Tapi aku tidak tahu kau dimana.”

“Jadi?”

“Jadi apa? Aku tidak mengerti.”

Yunho mendekati aku dan menatap mataku. “Jadi, kau cinta padaku atau tidak?” tanyanya dengan tegas.

Aku menatap mata Yunho yang tajam dengan ragu-ragu. “Aku… Aku tidak tahu seperti apa rasanya mencintai. Yang pasti yang aku rasakan kepadamu sekarang ya seperti itu. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” kataku.

Yunho tersenyum padaku lalu mengecup keningku dengan lembut. Aku merasakan ada kelegaan dalam kecupannya. “Terima kasih. Untuk sekarang, kau tidak bisa hidup tanpaku saja sudah cukup. Tapi nanti kau harus berani bilang cinta padaku. Harus!” ucapnya.

“Tapi kau harus janji tidak akan meninggalkanku lagi seperti ini. Kau juga harus rajin mengabariku. Jangan membuatku cemas lagi,” kataku.

Yunho memencet hidungku karena gemas. “Tentu dong, cuyuuuungku,” sahutnya sambil tertawa girang.

Aku menarik tangannya sampai ia terjatuh ke atasku. Aku meraih wajahnya lalu mencium bibirnya dalam. “Kau tidak boleh pergi dariku,” ucapku.

Yunho tersenyum. “Iya, sayang. Tenang saja. Dari dulu aku juga selalu di sampingmu,” ujarnya.

Aku bahagia sekali. Sangat sangat sangat bahagia.

 

.the end.

@gyumontic