ANNYEOOOOONG!!!

Park Minah disini. Sekarang aku sedang menyelesaikan semester terakhir dari 8 semester perkuliahanku, yang menurutku sangat membosankan sekaliiii. Aku hanya ke kampus  dua kali seminggu. Sekali untuk kuliah sekali untuk mengurus tugas akhirku. Selebihnya, aku hanya diam di rumah menunggu panggilan casting atau pemotretan. Sesekali memanjakan diriku juga sih dengan ke mall atau salon. Hehehe.

Saat ini aku sedang merintis karir sebagai model dan aktris padahal aku kuliah di jurusan matematika. Tidak ada hubungannya sama sekali kan? Memang. Ini semua berawal sewaktu sepupu kekasihku membutuhkan foto model untuk koleksi busananya dan kekasihku yang bernama Jung Yunho itu menyodorkanku untuk jadi modelnya. Singkat cerita, katalog hasil pemotretan busana tersebut dilihat oleh nyonya Jung alias ibunya Yunho dan dikirimkan ke seorang produser film kenalan beliau. Beruntungnya aku, sang produser itu tertarik padaku. Dia memberikan aku peran di filmnya, bukan peran utama tapi tetap penting. Puji Tuhan, film itu laku di pasaran. Job untukku pun tidak lagi sedikit.

===

Aku melihat jam di dinding kamarku. Sudah jam 4 sore. Aku harus segera bersiap karena hari ini aku akan menghadiri pernikahan temanku sewaktu main film bersama. Aku akan pergi bersama nyonya Jung, yang sering aku panggil omma.

Tepat jam 6 sore aku menjemput omma ke rumahnya yang hanya terpisah 15 meter dari depan rumahku.

“Ommaaaa,” panggilku dengan ceria. “Ayo kita berangkat.”Omma menyahut dari dalam kamarnya, “Sebentar ya, sayang. Omma pakai sepatu dulu.”

“Iya, omma,” balasku.

Aku menunggu omma sambil menonton tivi di ruang keluarga. Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh kepalaku dari belakang. “Mau kemana, cuYunhogku?” tanya orang yang memiliki tangan itu.

Ini dia kekasihku, Jung Yunho, pria yang paling mematikan buatku. Maksudku, aku bisa mati tanpanya. Hehe. Walaupun rumah kami seberang-seberangan, aku hanya punya waktu bertemu dengannya sabtu dan minggu karena senin sampai jumat dia sibuk dengan berbagai macam pekerjaannya.

Aku memutar kepalaku untuk menatapnya. “Loh, kamu udah pulang? Kok gak bilang?” kataku kaget.

“Yee ni anak, ditanya malah balik tanya. Aku pulang mau mandi dulu habis ini ada meeting sama klien yang mau menggunakan jasa kantor fotografiku. Mau ngasih tau kamu eh kamunya ada di sini. Kamu mau kemana sih?”

“Mau ke resepsi pernikahan Adrian oppa. Ini lagi nungguin mama siap.”

“Oh, ya sudah. Aku mandi dulu ya, cuyung. Kalau udah mau pergi bilang aku.”

Aku mengangguk mengerti. Dia lalu masuk ke kamarnya.

Aku tidak tahu sepatu apa yang akan dipakai omma sampai harus selama ini memakainya. Aku memanggil omma lagi, “Omma.. Omma.”

“Iya, sayang,” sahut omma lalu keluar dari kamarnya diikuti suami tercintanya.

Aku tersenyum melihat mereka berdua. “Halo, om,” sapaku ceria sambil menyalamnya. Ayah Yunho menyalam dan memelukku. Dari tubuhnya tercium parfum omma yang khas. Pantas saja lama sekali omma memakai sepatunya. Hehehe.

“Hai, Minah. Makin hari kamu makin cantik saja. Yunho harus sujud syukur berhasil mendapatkanmu,” puji beliau yang membuatku tersipu malu.

“Si om terlalu melebih-lebihkan deh. Aku yang beruntung anak om yang satu itu mau sama aku,” kataku. Aku dan om pun tertawa.

Orang yang sedang kami bicarakan tiba-tiba datang dan nimbrung, “Loh kok belum berangkat?”

“Bentar lagi,” sahut omma. “Kamu mau kemana lagi? Kok rapi banget?”

“Kejar setoran,” jawab Yunho sambil mencium kedua pipi ibunya lalu menyalam ayahnya. “Buat biaya hidup si cuYunhog ini.” Yunho menunjukku sambil tertawa jahil. “Aku pergi dulu ya, cuYunhog. Hati-hati di jalan.”

“Iya, kamu juga hati-hati. Sudah sana cepat pergi,” kataku.

Yunho melambaikan kedua tangannya kepada kami lalu pergi. Sedangkan aku dan omma menyusul keluar rumah 5 menit kemudian.

===

Aku berjalan masuk ke dalam gedung sambil menggandeng omma. Mataku melihat ke sana ke mari. Pesta ini sungguh meriah. Tamu berdatangan tak henti. Rangkaian bunga ucapan selamat juga berderet rapi di depan gedung. Tidak ketinggalan para wartawan yang ramai meliput.

“Pestanya ramai ya, omma. Bagus lagi. Kesannya megah,” ujarku saat kami sudah masuk ke dalam ruang resepsinya.

“Iya, omma setuju. Kalau nanti kau menikah dengan Yun, omma janji akan membuat pesta sebagus ini,” sahut omma yang membuatku menelan ludah.

“Ahahaha, omma bisa saja. Terima kasih, omma,” ucapku. Omma pun tersenyum senang.

Acara ini ramai sekali, banyak yang tidak aku kenal. Berbanding terbalik dengan omma yang tampaknya justru mengenal semuanya. Beliau bahkan mengenalkan aku dengan beberapa produser kenalannya yang hadir di pesta ini. Tidak heran mengapa beliau masih bertahan jadi artis top padahal umurnya sudah lumayan tua, channelnya kuat-kuat.

“Selamat malam, pak,” sapa omma kepada seorang pria.

“Ah, nyonya Jung. Apa kabar? Lama tidak berjumpa,” balas pria itu.

“Aku baik-baik saja apalagi setelah bertemu Bapak. Hahaha. Sedang sibuk apa sekarang, Pak?” kata omma mulai berbasa-basi.

“Tidak ada yang lain kecuali memproduksi film. Hahaha. Omong-omong, film terakhir nyonya sangat menakjubkan. Aku menontonnya sampai berkali-kali. Akting Anda benar-benar bagus.”

Omma tertawa pelan. “Terima kasih banyak. Kru film kami bekerja keras membuatnya… Oh iya, ini anakku namanya Minah, dia aktris juga tapi baru mulai.”

Aku memberikan salam kepada produser itu dan melemparkan senyuman yang paling menawan. “Selamat malam,” ucapku dengan sopan. Produser itu memperhatikanku dengan seksama lalu membalas senyumanku. Aku tahu dia tertarik padaku.

“Anda cantik sekali,” ucap produser itu padaku.

“Ah, terima kasih banyak Tuan,” balasku.

Produser itu kembali berbicara dengan omma. Dari seluruh percakapan mereka, aku merasa omma tidak hanya mengenalkanku tapi juga mempromosikan aku.

Omma terus saja begitu setiap bertemu dengan kenalan yang kira-kira dapat meningkatkan karirku. Omma baru berhenti saat kami menyalam pengantin untuk memberikan selamat dan saat pulang. Hahahaha. Aku sangat berterima kasih padanya.

===

Aku pulang ke rumah setelah mengembalikan omma ke rumahnya dengan selamat. Di ruang keluarga, aku melihat mama, papa dan oppa sedang berkumpul.

“Eh jelek, sini kamu,” panggil oppa sambil nyengir lebar. Aku menghampiri mereka dan duduk di samping Papa. “Ada apa ini?” tanyaku.

“Aku akan menikah,” kata oppa dengan wajah berseri-seri. “Tadi aku melamar Yoona dan dia setuju menikah denganku.”

Aku melonjak gembira dan langsung memeluk oppa. “Wah, chukkae oppa! Chukkae! Aku senang sekali” seruku senang.

“Kamu jangan terlalu senang dulu, Minah. Oppamu belum selesai bicara itu,” ujar Papa.

“Memang ada apa lagi?” tanyaku. Aku menatap Papa dan oppa bergantian. Oppa terlihat ragu melanjutkan bicaranya.

“Bilang pada Minah apa rencanamu setelah menikah,” ujar papa.

Aku melihat oppa sedang menatapku. Dia terlihat ragu untuk mengatakannya. “A…aku akan pindah rumah setelah menikah,” kata oppa akhirnya.

Aku begitu terkejut. Aku telah hidup bersamanya hampir seperempat abad dan sebentar lagi kami harus berpisah? Tidak mau. Aku tidak mau.

“Tidak boleh. Oppa tidak boleh pindah,” kataku dengan galak. “Kalau oppa pindah aku di rumah sama siapa?”

“Aku akan tetap main-main kesini kok. Aku akan tetap mengunjungi adikku yang cantik ini,” kata oppa.

“Kenapa oppa harus pindah? Ajak saja onni tinggal di sini biar rumah kita makin ramai. Kalau nanti oppa punya anak, pakai saja kamarku biar aku tidur di ruang tamu.”

Aku bicara terus ngalor-ngidul sampai tidak sadar air mataku telah mengalir. Aku begitu sedih membayangkan harus berpisah dengan oppa.

Oppa memelukku dan membelai-belai rambutku. “Oppa pindah rumah karena oppa ingin membangun rumah tangga yang mandiri. Oppa harap kamu bisa memakluminya ya? Oppa pindah bukan berarti oppa meninggalkan kamu. Ya?”

Aku menganggukkan kepala sambil sesenggukan. Papa dan mama hanya menatapku sedih.

“Kapan oppa akan menikah?” tanyaku.

“Kita harus bicara dulu sama keluarga Yoona. Kamu bantuin oppa ya,” jawab oppa sambil mengusap air mataku.

“Iya.” Aku mengangguk dengan mantap. Aku tidak boleh cengeng. Aku harus mendukung pilihan oppa. “Kapan kita akan bicara dengan keluarga onni?” tanyaku.

“Minggu depan. Kamu mau ikut?”

“Mau tapi aku ngapain di sana? Aku bantuin yang lain aja, kayak baju, undangan, foto atau apa asal jangan ngomongin tanggal atau mas kawin. Itu urusan orang tua.”

Oppa tertawa mendengar jawabanku lalu mencubit kedua pipiku dengan gemas. “Oke, adikku. Nanti bantuin oppa sesuai janjimu ya?”

“Oke, bos!”

“Syukurlah. Mama pikir tadi akan sulit mengatasi Minah karena kami tahu kamu pasti menolak kepindahan oppamu.Sekarang Minah istirahat saja. Kamu pasti capek sekali,” ucap mama. Dari raut wajahnya tergambar kelegaan dengan jelas.

Aku menuruti kata-kata mama karena memang aku capek sekali. Aku masuk kamar dan mandi. Setelah itu, aku tidur pulas.

===

Aku terbangun karena cahaya yang terlalu terang berhasil menembus mataku. Mataku mengerjap-ngerjap berusaha menyesuaikan dengan keadaan kamarku yang telah terang benderang.

“Kau mau tidur sampai kapan? Ayo, bangun! Kita jogging dulu sebentar,” kata Yunho sambil bercermin di meja riasku.

Aku langsung meloncat dari tempat tidurku untuk memeluk Yunho. “Selamat pagi,” ucapku sambil cengengesan girang. Hari ini hari sabtu, berarti waktunya kencan! Hihi.

Aku segera berlari ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku. Tidak lupa aku memakai sepatu joggingku.

“Aku siap! Ayo berangkat,” ujarku.

Yunho hanya tertawa melihat tingkahku yang seperti anak kecil. Dengan gemas dia memencet hidungku. “Kelakuanmu gak berubah-berubah,” katanya terbahak-bahak. “Ayo berangkat.”

Yunho lebih dulu keluar rumah dan aku menyusul setelah pamit kepada mama dan papa.

Yunho mengajakku jogging keliling komplek. Sambil jogging aku menceritakan rencana oppa yang akan menikahi Yoona onni dan kepindahannya. Aku mengomel kenapa oppa harus pindah tapi Yunho hanya menanggapinya dengan tawa.

“Sekarang, kalau kita menikah, kau mau tinggal di rumahku?” kata Yunho.

“Kenapa tidak?” ujarku.

“Aku berani jamin dalam waktu 24 jam kau pasti akan minta pindah,” kata Yunho sambil tertawa.

“Kenapa? Keluargamu menyenangkan kok,” sahutku.

“Memang tapi kau tidak pernah tinggal bersama mereka, sayang. Setiap rumah tangga memang sebaiknya punya tempat tinggal sendiri agar tidak terpengaruh pihak-pihak tertentu. Lagipula menurutku bagus juga, agar lebih mandiri.”

“Ih, kamu sama aja deh sama oppa. Huh,” ujarku kesal karena dia tidak membelaku.

Aku berlari meninggalkan Yunho dan mengambil tempat duduk kosong di salah satu sudut taman. Yunho menyusul beberapa detik kemudian.

“Hei, kau ngambek ya?” tanya Yunho sambil mencolek pipiku.

“Gak kok. Aku cuman pengen duduk. Capek,” jawabku jujur.

Mataku menerawang membayangkan hari-hariku. “Kira-kira, setelah oppa menikah aku akan jadi apa ya?” tanyaku.

“Ya tetap jadi dirimu sendiri. Memang kamu mau jadi apa? Kambing?” sahut Yun sambil tertawa.

“Bukan itu maksudku. Kalau oppa sudah menikah kan aku jadi tidak bisa seenaknya lagi memeluknya, menciumnya, minta ini-itu.”

“Kan masih ada aku. Tenang saja. Kamu bisa loh seenaknya peluk aku. Cium aku. Minta apa aja juga boleh.”

Aku memukul lengan Yunho dengan gemas. “Iih, ini diajakin ngomong serius juga.”

“Sayang, dunia ini berputar. Setiap orang akan mengalami berbagai fase hidup. Jalani saja. Tidak usah khawatir.”

Aku selalu merasa tenang setiap Yunho sudah mengeluarkan kata-kata bijaknya. “Gomawo,” ucapku sambil meletakkan kepalaku di bahunya. Lama-lama aku malah ketiduran.

===

Aku merasa kepalaku baru saja dijitak. Aku membuka mataku dan melihat Yunho yang menatapku dengan kesal. “Udah tau bisa ketemu cuman seminggu sekali, diajak kencan malah tidur. Kau itu bagaimana sih? Tau gitu aku mending tidur di rumah,” omel Yunho padaku.

Aku meminta maaf karena aku tau aku salah, “Maaf, aku tidak sengaja. Aku merasa nyaman sekali di bahumu makanya aku ketiduran. Maaf ya.”

“Ck,” decak lidah Yunho. “Sudahlah, lebih baik kita segera pulang saja. Sudah terlalu panas untuk jogging.”

Aku menurutinya. Segera aku angkat tubuhku dari kursi taman ini dan menyusul Yunho yang sudah berjalan lebih dulu. Meskipun sedang kesal, dia tetap mengantarkanku sampai ke dalam rumah.

“Mandi sana. Jangan lupa makan. Jangan bandel,” pesannya sebelum pulang.

“Iya. Terima kasih banyak ya,” ucapku. “Nanti kamu kesini lagi kan?” Aku harus memastikan bahwa malam mingguku tetap bersamanya.

“Gak. Ngapain? Kamu toh nanti tidur juga kan?”

“Gak kok. Janji deh. Aku bakal minum kopi supaya gak ketiduran. Kamu kesini lagi ya,” bujukku dengan mata memelas.

“Males ah. Aku mau istirahat di rumah saja,” kata Yunho sambil menguap.

Aku mulai menggelayut di lengannya. “Kalau gitu nanti aku aja yang ke rumah kamu. Pokoknya kita harus malam minggu bareng!”

Yunho menatapku lalu tertawa terbahak-bahak. “Kena kau! Takut amat sih gak aku temenin malam ini? Iya, iya. Nanti aku kesini lagi kok, cuYunhogku yang cantik,” katanya sambil tersenyum jahil.

Aku memukul lengannya. “Dasar jahil ih kamu! Nyebelin!”

“Biarin! Wek! Sudah mandi sana.”

Aku terpaksa mandi karena Yunho sudah mendorongku masuk kamar mandi. Dari dalam kamar mandi aku bisa mendengar oppa sedang mengobrol dengan Yunho.

“Yun, nanti malam ada acara?” tanya oppa.

“Ehm, rasanya tidak ada, hYunhog. Memang kenapa?” jawab Yunho.

Apa-apaan Yunho ini? Masak dia bilang malam ini gak ada acara? Ini kan malam minggu! Dia pasti ada acara bersamaku! Apa-apaan dia itu? Awas kau!

“Aku ingin membicarakan soal foto pernikahanku dengan Yoona. Apa kau ada waktu?” ujar oppa.

“Ne, hYunhog. Nanti malam  aku akan ke sini. Sekarang, aku pulang dulu. Permisi,” balas Yunho.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar mandiku. “Heh, jelek. Aku pulang dulu. Nanti sehabis mandi kau ke rumahku ya. Daaah!” ujar Yunho.

“Iyaaaa,” jawabku.

Aku mempercepat mandiku lalu bersiap-siap. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu lebih banyak lagi.

===

Aku langsung pergi ke rumah Yunho begitu selesai mandi. Rumah Yunho tampak sepi, yang aku temui hanya Bibik.

“Kok rumah sepi, Bik?” tanyaku.

“Nyonya, Tuan dan Ahra pergi, Non. Yang ada cuman Yunho di kamarnya,” jawab Bibik.

“Jinna?” tanyaku teringat gadis menyebalkan itu.

“Oh, dia ada di kamarnya kok Non. Sibuk belajar buat ujian,” jawab Bibik.

Aku hanya ber’oh’ ria lalu beranjak ke kamar Yunho. Aku mengendap-endap masuk ke kamarnya. Aku lihat dia sedang duduk membelakangiku di tempat tidurnya. Pelan-pelan aku mendekatinya lalu mengalungkan tanganku di lehernya dan mengecup pipinya.

“Halo, tampan,” bisikku di telinganya dan mengendus tengkuk lehernya. “Eumh, wangi sekali.”

“Hhh.. Jangan mulai menggodaku. Dasar nakal,” omel Yunho tapi dia sama sekali tidak menolak. Dia bahkan membalas mengecupku.

Dia membalikkan tubuhnya dan memeluk pinggangku. Wajahnya semakin lama semakin dekat. Detik berikutnya, bibirku sudah habis dikulum bibirnya.

“Itu hukuman karena kau nakal,” ucapnya setelah melepas bibirku.

Aku mengikik geli sambil menggelitik leher Yunho. “Kalau gitu aku mau jadi anak nakal saja terus ah.”

“Berarti kau harus dihukum terus. Ya kan?”

Mata Yunho mengedip nakal lalu semakin mendekapku erat dan menciumku lagi. Hatiku tertawa girang bukan main.

“Tok, tok, tok.” suara pintu kamar Yunho diketuk. “Oppa, makan siang dulu.” Aku tahu itu suara Jinna. Ngapain sih cewek itu? Untung aku sedang sibuk, kalo gak udah aku jambak rambutnya.

Baik Yunho apalagi aku tidak menggubrisnya. Kami sibuk sendiri dengan permainan kami tanpa sadar Jinna sudah masuk ke dalam kamar.

“Oppa,” panggil Jinna.

Yunho yang kaget langsung melepaskan ciumannya dan menyahut Jinna, “I…iya. Kenapa, Jinna?”

“Makan siang dulu, oppa,” ujar Jinna parau.

Aku melihat Jinna sudah hampir menangis. Hatiku senang bukan main.

“Rasakan! Makanya jangan terus-terusan menggangu aku dan Yunho,” batinku.

Yunho melepaskan tangannya dari pinggangku. Ia hendak berdiri tapi aku menahannya. Aku tidak mau melepaskan tanganku yang dari tadi mengalung di lehernya. “Nanti saja makannya ya. Aku belum lapar,” kataku manja plus pasang wajah memelas.

Aku tahu Yunho tidak mampu menolakku. “Iya, Jinna. Nanti oppa makan kok. Terima kasih ya,” ujar Yunho pada Jinna. Aku makin bersorak girang, dalam hati.

Jinna akhirnya keluar dari kamar Yunho.

“Dasar kamu ini. Jahat sekali sih pada Jinna,” ujar Yunho gemas. Pipiku dicubitnya lalu ditepuk-tepuknya seolah-olah aku anak bayi yang sangat lucu.

“Salahnya sendiri. Udah tau kau sudah punya aku tapi tetap saja mengganggu. Ngapain ngajak makan siang? Kamu kan bisa makan siang sendiri,” kataku kesal. Aku membela diriku.

Yunho hanya tertawa mendengar ucapanku. “Sudah, sudah. Ayo kita makan dulu. Habis itu ke studio,” katanya sambil membantuku bangkit berdiri dari tempat tidurnya.

“Ngapain kita ke studio? Masak kita mau kencan ke sana?” Aku bertanya heran.

“Siapa yang bilang kita mau kencan di sana? Aku hanya mau mengambil contoh foto-foto dan video pernikahan orang buat Jungsu hYunhog. Aku janji meeting dengannya nanti malam.”

“Oh. Arasseo. Arra. Kalau gitu, ayo kita cepat makan dan ke studio.”

Yunho lalu menggandengku keluar kamar untuk makan siang. Setelah makan siang, kami pergi ke studionya.

===

Aku menunggu di dalam mobil saat Yunho mengambil barang-barang dari studionya. “Heh nyonya besar, mau kemana kau sekarang?” tanya Yunho setelah selesai memasukkan semua barang-barangnya ke mobil.

“Humm. Kemana ya? Enaknya kemana?” sahutku.

“Kalau gitu balik ke rumah aja deh.”

“Aah, gak mau.” Aku memutar otak agar tidak kembali ke rumah. “Nonton aja deh. Yuk.”

“Ih, nonton lagi?”

“Terus mau ngapain? Kalau gak mau, ya udah deh pulang aja.”

Aku ngambek, bertingkah seperti anak kecil. Yunho tertawa terbahak-bahak.

“Kamu mau nonton apa, cuYunhog?”

Ternyata pria ini hanya menggodaku. Dasar anak iseng emang. Hah!

===

Aku dan Yunho akhirnya pergi nonton Harry Potter walaupun kami telat setengah jam! Di sana, kami bertemu dengan Siwon dan Hamun onni yang ternyata sedang berkencan juga.

“Hai, YunMin!” sapa Siwon pada kami berdua. “Kalian lagi kencan juga ya?”

Yunho menjawab, “Ne.” sedangkan aku hanya mengangguk. Aku memperhatikan Hamun onni yang tampak lebih gemuk. “Onni, kau gemukan ya,” komenku terus terang.

Onni tidak marah. Ia malah tersenyum malu. “Ne, Min. Aku sedang mengandung Siwon junior,” katanya.

Aku menatap Hamun onni dengan perasaan kaget dan bahagia. “Wah, cepat sekali onni! Selamat ya! Sudah berapa bulan?” tanyaku.

“4 bulan lebih,” jawab onni.

“Wah, berarti begitu menikah langsung isi ya?”

“Ya, begitulah. Puji Tuhan.”

Aku tersenyum bahagia sekali. “Siwon-ah! Kau harus jaga istri dan anakmu baik-baik,” ujarku pada Siwon.

“Tentu saja. Kalian berdua kapan nyusul? Perasaan sudah lama juga kalian pacaran,” sahut Siwon sambil menatap aku dan Yunho secara bergantian.

“Wonni, aku ini kuliah saja belum lulus apalagi mikirin nikah dan punya anak. Masih lama itu,” kataku.

“Awas nanti Yun keburu diambil cewek lain loh,” goda Siwon.

Aku menggeleng-geleng mantap. “No way! Tidak akan ada cewek yang bisa merebut dia dariku. Enak saja. Ya kan, Yun?”

“Entah ya. Kalau ada yang…”

Yunho belum selesai ngomong, aku sudah mencubit perutnya. “Jangan macam-macam,” ancamku.

Lagi-lagi Yunho hanya menggodaku. Dia tetap tertawa terbahak-bahak meski perutnya sakit habis aku cubit. Melihat kami, Siwon dan Hamun onni juga ikutan tertawa.

Aku tidak menyangka, aku bisa seakrab ini lagi dengan Siwon dan Hamun onni, bahkan sewaktu mereka menikah aku menjadi pendamping pengantin wanitanya. Setelah semua yang terjadi di antara kami. Hahaha.

Siwon memang sahabatku dari dulu tapi aku sempat menyukainya, sayangnya dia menyukai Hamun onni. Aku sempat patah hati tapi ternyata sahabatku dari lahir yang bernama Jung Yunho ini yang mampu menyembuhkannya kembali. Hohoho.

===

Hari sudah sore. Karena Yun sudah ada janji dengan oppa jam 7, kami harus segera pulang. Sebelum pulang, Yun membelikan aku es krim durian yang aku nikmati selama perjalanan.

“Es krimnya enak loh. Kapan-kapan belikan lagi untukku ya, Yun,” kataku.

“Kapan-kapan kapan? Kalau besok, gak bisa,” sahutnya.

“Ehm. Kapanpun aku mau,” jawabku sambil nyengir lebar.

“Iya, cuYunhog. Kapan pun kamu mau nanti aku belikan.”

“Asik! Thank you, sayang.”

Tidak terasa, kami sudah sampai di rumah. Yunho memarkir mobilnya di depan rumahku karena dia tidak akan langsung pulang ke rumahnya. Kami berdua masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang keluarga. Ternyata, oppa dan Yoona onni sudah menunggu Yunho di sana.

“Maaf ya, hYunhog, nuna sudah menunggu. Ini aku sudah bawakan contoh-contoh seperti yang diminta hYunhog,” ujar Yunho sambil menyerahkan beberapa portofolio.

“Gomawo, Yun,” ucap oppa.

Oppa dan onni sedang sibuk memilih-milih konsep apa yang ingin mereka gunakan buat pernikahan mereka. Aku beberapa kali memberikan saran tapi tidak ada yang sesuai dengan keinginan oppa dan onni. Akhirnya, aku diam saja. Aku biarkan saja oppa dan onni berdiskusi sendiri dengan Yunho. Mereka asik sekali berdiskusi sampai seolah-olah aku tak ada di sana. Aku sakit hati. Aku pergi ke kamarku. Kubuka laptopku untuk menyelesaikan tugas akhirku karena besok aku harus menghadap dosenku.

Saat sedang mengetik, tiba-tiba teleponku berdering. “Yoboseyo,” ucapku.

“Yoboseyo. Apa ini Park Minah?” balas si penelepon.

“Ne, Park Minah imnida. Mworago?”

“Ah, kami dari Aentertainment. Mau menawarkanmu untuk jadi model MV Lee Joon. Apa kau mau?”

Jantungku berhenti berdetak. Lee Joon! Lee Joon, penyanyi kesukaanku yang tampan yang mempunyai suara yang sangat seksi itu kan? Lee Joon yang setiap mendengar suaranya, aku pasti hampir pingsan!

“Lee Joon? Lee Joon mantan member MBLAQ itu kan?” tanyaku memastikan.

“Iya. Memang ada Lee Joon yang lain?”

Jantungku hampir meloncat keluar dari tempatnya berada. Sungguh benar-benar mukjizat aku bisa bertemu dengan Joon! Menjadi model MV nya pula! Aaah!

“Tentu aku mau,” kataku.

“Oke. Kalau gitu, besok kau datang ke kantor jam 8 pagi ya. Terima kasih.”

“Terima kasih kembali.”

Aku melonjak-lonjak gembira di kamarku. Ini job paling membahagiakan yang pernah aku terima. Ah, aku tak sabar menunggu esok pagi! Aku terlalu excited.

===

Saking senangnya, aku baru tidur jam 2 pagi dan bangun jam 5. Aku langsung mandi dan bersiap-siap. Meskipun baru akan bertemu jam 8, aku sudah siap dari jam 6. Aku bolak-balik menatap jam tanganku berharap segera jam 7 agar aku segera berangkat. Tik, tok, tik, tok. Jamnya bergerak lambat sekali. Aaah!

Jam 7 kurang 15, aku memutuskan untuk segera berangkat. Masa bodoh mau kecepatan atau apa tapi aku mau bertemu Lee Joon secepatnya.

Aku menyetir mobilku dengan gugup. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana jika nanti bertemu dengan Joon.

Jam setengah 8, aku sudah sampai di gedung Aentertainment. Aku langsung masuk dan memberitahukan resepsionis lobi, “Park Minah imnida. Aku ada perlu dengan manajer Lee Joon. Aku ditawarkan untuk jadi model MV-nya.”

Resepsionis lobi lebih dulu menelepon manajer Joon, tampaknya, untuk mengkonfirmasi kebenaran omonganku. Setelah itu dia baru mengantarkan aku sebuah ruangan. Dia mempersilahkan aku masuk ke ruangan itu. Aku masuk dan aku nyaris pingsan!

Lee Joon berada di ruangan itu. Dia duduk di sebelah kiri ruangan. Matanya melihatku saat aku memasuki ruangan.

“A..annyeonghaseyo. Pp..park Minah imnida,” kataku terbata-bata saking gugupnya.

Seorang pria mempersilakan aku duduk maka aku pun duduk. Dia mengenalkanku pada Joon. “Joon, ini Park Minah. Model MV mu nanti. Apa sudah sesuai?”

Joon memperhatikanku dari atas ke bawah lalu tersenyum. “Sempurna! Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik,” ujarnya.

“Nnn..ne,” sahutku. Ya Tuhan, kenapa kau bisa menciptakan pria sesempurna ini?! Aku akan pingsan sebentar lagi.

Pria yang tampaknya merupakan produser MV ini berbicara lagi padaku, “Karena Joon sudah setuju, langsung saja aku berikan kontrakmu. Kalau setuju, kamu tanda tangan di bawah sini.” Dia menunjukkan sebuah kontrak kepadaku dan tempat dimana aku harus membubuhkan tanda tanganku.

Aku melihat kontrak itu sekilas lalu menandatanganinya. Aku rela melakukan apapun demi Lee Joon! Tidak dibayar pun aku rela.

Seorang pria lain yang memperkenalkan dirinya sebagai sutradara MV ini mulai bicara soal konsep,

“Lagu ini kan bercerita tentang seorang wanita yang mengejar pria. Awalnya si pria tidak suka tapi karena wanitanya gigih sekali, si pria akhirnya jatuh cinta pada wanita ini. Jadi, nanti kau harus menunjukkan ekspresi kegigihan cinta yang kuat pada Joon.”

Aku mengangguk mengerti. “MV ini nanti ada 3 versi. Versi drama, versi dance dan versi Joon menyanyi sendiri. Kamu akan muncul di versi drama dan dance-nya. Kamu bisa menari kan?”

“Bb..bisa,” kataku.

“Lebih mudah kalau begitu. Mulai besok sampai 3 hari ke depan, kamu akan belajar menari bersama Yun. Setelah itu kita akan syuting versi dance. Sedangkan yang versi drama akan kita mulai besok setelah kalian latihan dance.”

Aku menyanggupi semua omongan sutradara. Aku tidak akan mengecewakan seorang Lee Joon!

“Oke. Karena jadwal Joon yang padat hari ini, kita gak bisa lama-lama. Ini script untuk drama, silahkan kamu pelajari. Sedangkan untuk tariannya, akan diajarkan padamu setelah ini oleh koreografer kami,” lanjut sang sutradara.

“Baik. Aku mengerti,” kataku. “Kalau begitu, aku permisi. Sampai jumpa besok.”

“Sampai jumpa besok,” ujar sang sutradara.

Aku pamit kepada semuanya, termasuk Joon. Dia membalas dengan senyuman mautnya. “Sampai jumpa besok, Minah. Senang bisa mengenalmu,” katanya.

“Senang bisa mengenalmu juga, Joon oppa,” balasku.

Aku lalu diantarkan ke ruang latihan oleh salah satu kru. Sang koreografer menyambutku dengan ramah bahkan langsung akrab denganku. Dia bercerita banyak hal dulu sebelum mengajariku tarian yang akan muncul di MV Joon.

Awalnya, dia menari dulu sendirian baru mengajarkan langkah-langkahnya kepadaku. Setelah itu, baru dia berperan sebagai Joon.

Aku berlatih sekuat tenagaku. Menghafalkan setiap gerakannya dan bergerak seluwes mungkin. Untung aku memang pandai menari dari kecil jadi ini tidak sulit untukku.

“Oh ya, tarian terakhirnya nanti Joon akan menarikmu lalu menciummu. Tapi itu tergantung Joon. Kalau dia mau, ya jadi. Kalau tidak ya paling hanya dipeluk.”

Aku terkejut. Yang benar saja aku akan berciuman dengan Joon?! Gak mungkin. Gak mungkin.

“Gak mungkin ah. Apa itu tidak memancing amarah fans kalau aku harus berciuman dengan Joon? Manajemennya juga mana mungkin memperbolehkan,” kataku.

Aku sudah hafal apa yang boleh dan tidak boleh muncul di MV seorang idol demi image mereka sendiri dan keselamatan si model. Tapi aku sudah tidak peduli dengan sekelilingku. Yang ada di otakku sekarang hanyalah Lee Joon yang sangat mempesona itu. Aaaah! Sepanjang latihan, yang terbayang di depanku adalah Joon. Dalam perjalanan pulang pun, yang teringat adalah wajah Joon. Aku sampai senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

=

Aku langsung mempelajari script drama yang diberikan oleh sutradara tersebut. Aku juga sudah membayangkan kira-kira adegan apa yang akan aku lakoni nanti. Aku bahkan sudah mulai berakting sendiri sesuai dengan skripnya.

Aku terlalu antusias dengan job ini sampai aku lupa memberitahukan Yun. Begitu teringat aku langsung menelepon Yun, “Heh jelek! Aku dapat job baru. Tebak job apa?”

“Job apa?” tanya Yun.

“Aku akan jadi model MV Lee Joon! Lee Joon yang suaranya seksi itu,” seruku girang.

“Wah, wah. Selamat! Selamat! Lalu kau akan jadi apa di MV itu?”

“Aku akan jadi wanita yang mengejar-ngejar Joon sampai dia akhirnya luluh karena kegigihanku.”

“Apa ada adegan-adegan romantisnya? Ehm, intim maksudku.”

“Ehm, di versi dance nya sih ada tapi itu pun kalau Joon mau. Kalau di versi dramanya…” Aku membuka-buka skrip dan mencari-cari adegan intim yang dimaksud Yun. “Tidak ada, paling hanya pelukan,” kataku ketika aku baru membuka skrip setengahnya.

“Yakin?”

Aku membuka skrip ku sampai akhir dan menemukan adegan intim yang dimaksud Yunho. “Aaa! Adegan terakhirnya aku harus berciuman dengan Joon,” pekikku panik.

“Batalkan saja. Bilang kamu gak mau,” kata Yun.

“Mana bisa. Aku udah tanda tangan kontrak,” ujarku.

“Hhhh,” Yunho menghela nafas panjang. “Kenapa kau tidak bilang-bilang dulu padaku?”

“Maaf, aku sangat antusias menerimanya. Kamu tau sendiri betapa aku suka pada Joon.”

“Ya sudah, mau apalagi? Jalani saja. Kalau bisa, bilang pada sutradara adegan terakhir itu tidak usah dilakukan tapi kamera yang mengsyutnya seolah-olah kalian berciuman.”

“Iya, besok aku akan bilang pada sutradara.”

“Ya sudah.”

Yunho lalu mematikan teleponnya. Dia pasti marah padaku. Haduuuh! Susah deh kalau dia udah marah.

Aku keluar dari kamar. Papa dan Mama belum pulang dari acara kantornya Papa sedangkan oppa pasti sedang sibuk mengurus pernikahannya dengan onni meskipun tanggalnya belum ditetapkan.

Aku pergi ke rumah Yunho untuk meminta maaf tapi dia sibuk dengan kerjaannya. “Yun, kamu marah ya? Maaf ya,” kataku tapi Yunho tidak bergeming. Dia tetap sibuk mengerjakan kerjaan kantornya. Aku sudah mengajaknya bercanda tapi dia tetap tak ada reaksi. Dia malah mengusirku, “Kamu mending pulang deh. Aku mau nyelesain kerjaanku dulu. Kalau kamu di sini, konsentrasiku terganggu.”

Dengan sedih bercampur marah, aku keluar dari kamar. Tepat di luar kamar, Jinna memberikanku sebuah senyuman mengejek. “Gak usah seneng dulu lo, cewek centil!” sentakku lalu beranjak ke kamar Ahra.

“Hai, onni. Kenapa mukamu suram begitu?” tanya Ahra saat aku masuk kamarnya tanpa semangat.

“Oppamu marah karena aku jadi model MV Lee Joon,” jawabku lesu.

Ahra melompat dari meja belajarnya dan mencengkram lenganku. “Lee Joon?! Lee Joon yang suaranya seksi itu?” serunya tidak percaya.

“Emang ada berapa Lee Joon di negara kita?”

“Oppa pasti gila. Masak dia marah hanya karena onni jadi model MV Joon?! Lee Joon loh! Ini Lee Joon!”

“Iya, onni juga menganggapnya begitu. Tapi yang bikin dia marah, aku tidak bilang dulu padanya dan karena adegan ciumannya. Aku terlalu excited jadi aku lupa. Aku sudah minta maaf tapi dia malah mengusirku dari kamarnya. Mana si Jinna girang banget liat onni diusir.”

Aku mengomel panjang lebar dan Ahra mendengarkanku dengan sabar. “Sabar ya, onni. Oppa cuman marah sesaat aja kok. Dia lagi cemburu itu,” hibur Ahra.

“Semoga saja. Kalau lama-lama, aku bisa mati. Kau tahu itu kan?”

Ahra tersenyum lalu memelukku. “Tentu saja aku tahu onni sangat mencintai oppaku. Hihi. Sudah, tidak usah dipikirkan. Onni istirahat saja dulu.”

Aku merasa tenang setelah bercerita pada Ahra. Aku menurutinya untuk beristirahat. “Boleh aku tidur di sini? Rumahku lagi sepi,” kataku meminta ijin pada Ahra untuk tidur bersamanya.

“Tentu boleh lah, onni. Gitu aja nanya. Ya ampun.”

Aku mengecup pipi Ahra lalu naik ke tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, aku sudah terlelap nyenyak.

===

Aku terbangun karena ada yang berteriak pelan padaku, “Heh nyonya besar! Bangun kau! Mau tidur sampai kapan?!”

Aaah, itu suara Yunho. Dengan mata setengah terpejam, aku melihat jam di hapeku. “Yun, ini masih jam 2 pagi. Kenapa kau sudah membangunkan aku?” sahutku.

“Pindah ke kamarku. Aku mau bicara padamu.”

Yunho berjalan ke luar kamar Ahra dan aku mengikutinya. Dia mempersilahkan aku masuk lebih dulu  ke kamarnya. Setelah itu baru dia. Dia menyuruhku duduk di pinggir tempat tidurnya sedangkan dia duduk di kursi kerjanya tepat di hadapanku.

“Kapan kau dapat tawaran job jadi model mv itu?” tanya Yunho tanpa basa-basi.

“Kemaren malam. Waktu kamu sibuk sama oppa, aku kan masuk kamar buat ngerjain tugas akhir. Nah, pas itu aku dapat telepon dari agensi si Joon,” jawabku.

“Lalu kenapa kau tidak bilang padaku sebelum menerima job itu?”

“Aku lupa. Sungguh, aku benar-benar lupa. Kau tahu betapa aku menyukai Joon jadi begitu aku ditawarkan, aku tidak pikir panjang lagi. Maafkan aku.”

“Kenapa kau tidak pelajari dulu konsepnya sebelum menerimanya?”

“Aku kan sudah bilang. Aku tidak kepikiran. Yang ada di otakku hanya ingin menjalani job ini karena aku akan bekerjasama dengan Joon.”

“Kau begitu menyukainya ya?”

Wajah Yun yang keras tadi berubah jadi cemas. Dia takut aku menyukai Joon melebihi dirinya. Ya Tuhan, harus dengan apa aku menjelaskannya.

“Aku suka pada Joon, sangat suka malah, tapi dia itu hanya seorang idola. Tidak lebih. Jujur saja, aku deg-degan setiap mendengar suaranya tapi aku masih bisa hidup tanpanya. Beda denganmu. Aku bisa mati tanpamu.”

Senyum manis sudah mengembang di wajah Yunho tapi kecemasan masih tampak di sana. “Maafkan aku ya,” ujarku sambil menatap Yunho penuh dengan perasaan menyesal.

Yunho lalu mengusap kepalaku. “Iya, aku maafkan. Asal kau berjanji akan bekerja keras dan menunjukkan hasil yang terbaik. Bukan untuk siapa-siapa tapi untukmu sendiri. Oke?” katanya.

Aku tersenyum lega dan bahagia. “Siap, bos!” ucapku lalu menciumnya.

Yunho mendorongku menjauh. “Yaa! Park Minah! Ini hampir jam 3 pagi dan kau sedang berada di kamarku!” seru Yunho.

“Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan jam 3 pagi dan berada di kamarmu?” tanyaku pura-pura tidak mengerti lalu menciumnya lagi.

Sebenarnya, aku sedang mengundang bencana. Kali ini, Yunho tidak lagi memprotesku. Tangannya sudah memeluk punggungku sedangkan bibirnya sudah balik melumat bibirku. Perlahan tapi pasti, dia mendorongku sampai aku telentang di tempat tidurnya. Dia berada di atasku bertumpu dengan kedua tangannya di samping tubuhku. Bibirnya bolak balik bergerilya dari bibirku ke leher lalu ke bahu lalu telinga dan kembali ke bibir.

Aku mendekapnya erat sampai tubuhnya nyaris menempel denganku. Aku membuka kakiku dan menekuknya agar terasa lebih nyaman. “Kau sendiri yang minta maka kau yang tanggung kalau terjadi apa-apa denganmu,” ucapnya lalu menciumku lagi.

Aku hanya tertawa geli mendengarnya. Aku terlalu menikmati setiap sapuan bibirnya di tubuhku sambil mengusap punggungnya dari balik kausnya.

Semakin lama aku merasa semakin panas karena mungkin iblis berada di sekitar kami. Ampuni kami ya, Tuhan.

Aku menarik baju Yunho agar lepas dari pemiliknya. Yunho pun melakukan hal yang sama padaku, untung masih ada tanktop yang melindungiku.

Aku balas menciumi Yunho sama seperti yang dia lakukan padaku dan itu membuatnya makin gila. Dia menurunkan tali tanktopku dan menciumi dadaku. Aku merasa ini sudah kelewatan, kalau diteruskan bisa tamat riwayatku.

Aku mendorong Yunho pelan-pelan. “Jangan diteruskan. Bahaya,” kataku nyaris berbisik.

Yunho langsung berhenti. Dia menaikkan kembali tali tanktopku lalu mengecup keningku. “Aku bersumpah akan langsung menikahimu begitu kau lulus! Aku bisa gila jika terus-terusan begini,” katanya.

Aku tertawa dan menggodanya, “Sabar ya, sayang. Menungguku 21 tahun aja bisa masa nunggu 1 tahun lagi aja gak bisa?”

“Iya, cerewet. Huh!”

“Eh, berarti bener dong kamu udah suka sama aku dari aku bayi?”

“Ya gaklah, waktu kamu bayi aku baru umur 2 tahun tahu. Ngerti suka kayak apa aja belom.”

“Kalau gitu dari kapan dong?”

“Sumpah, gak inget. Yang pasti udah lama. Bahkan waktu jaman aku punya pacar, aku juga memikirkanmu.”

“Terus, kamu dulu juga sering bercumbu sama pacar-pacarmu ya?”

“Kamu ini banyak nanya deh.”

Yunho berguling ke sampingku lalu memeluk aku seolah aku ini gulingnya. “Selamat tidur,” ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku mencubit hidungnya. “Jawab dulu pertanyaanku baru boleh tidur,” paksaku.

“Haduh, apa kau harus tahu? Itu kan masa lalu. Ngapain dibahas sih?”

“Aku asumsikan berarti iya. Sudah berapa gadis yang kau gerayangi tubuhnya sebelum aku?”

“Hei, aku tidak mau menjawab bukan berarti iya loh.”

“Lalu kenapa gak mau jawab?”

“Susah emang punya pacar cerewet. Aku itu baru pacaran 3x tahu! Dan semuanya mutusin aku dengan alasan mereka merasa aku tidak menyukai mereka karena tidak pernah menyentuh mereka.”

“Kenapa kau tidak mau menyentuh mereka?”

“Entah. Aku hanya tidak ingin. Lagipula buat apa sih pacaran pake gitu-gituan segala?”

“Lalu kenapa kalau denganku malah sebaliknya?”

“Karena aku hanya ingin memberikan apapun yang kamu inginkan. Aku gak mau kamu merasa aku tidak mencintaimu hanya karena aku tidak mau menyentuhmu. Lagipula, aku baru melakukannya jika kamu minta.”

“Enak aja. Kapan aku pernah minta?”

Yunho tertawa mendengar protesku. Dia memainkan rambut yang menutup dahiku. “Aku tahu kok kapan kau menginginkan aku.”

“Kok bisa?”

Aku terus menyerang Yun dengan berbagai pertanyaan karena aku penasaran tapi Yunho tidak mau menjawabnya. “Sudah ya, aku mau tidur. Selamat tidur,” ujarnya sambil memelukku seperti gulingnya lebih erat lalu terlelap.

Aku menyusul beberapa menit kemudian.

 

-to be continued-

@gyumontic