“Oppa! Oppa! Minah onni kemana? Kok tidak ada di kamarku?” seru Ahra dengan panik sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Yunho.

Dengan panik, Yunho menyembunyikan aku di balik selimutnya lalu membuka pintu kamarnya.

Dari dalam selimut aku bisa mendengar pembicaraan Yun dan Ahra.

“Ada apa, Ahra?” tanya Yunho pura-pura tenang.

“Minah onni hilang. Dia gak ada di kamarku,” jawab Ahra dengan panik. Aku jadi tidak tega tapi aku tidak mungkin menunjukkan diri bahwa aku tidur bersama Yun.

“Dia sudah pulang paling.”

“Tapi hape dan sandalnya masih ada di kamarku. Masak iya dia pulang nyeker?”

Tamat riwayatku. Haduh. Aku mendengarkan pembicaraan mereka yang akhirnya berkesimpulan aku sudah pulang dan meninggalkan hape dan sandalku di kamar Ahra. Yunho pun mengambil hape dan sandalku dari kamar Ahra.“Kamu sebaiknya pulang sekarang,” kata Yunho setelah memberikan hape dan sandalku. Aku pun menuruti perintahnya.

Sampai di rumah, Papa Mama dan oppa sudah berkumpul di meja makan menyantap makan pagi mereka. “Selamat pagi. Aku pulang,” sapaku.

“Pagi, sayang. Semalam tidur di rumah Yunho ya?” balas mama.

“Iya. Abis di rumah sepi sih. Niatnya cuman mau cerita-cerita sama Ahra eh kebablasan tidur,” ujarku.

“Tidur sama Ahra atau oppanya?” sambar jungsu oppa sambil tersenyum penuh makna.

“Oppa apaan sih? Ya sama Ahra lah,” kataku setengah berbohong. Awalnya aku kan memang tidur sama Ahra baru pindah ke kamar Yun jam 2 pagi.

“Ah, yang bener? Aku kok mencium bau-bau Yunho ya dari tubuhmu.” Oppa terus saja menggodaku.

“Oppa, apaan sih?”

“Sudah. Sudah bertengkarnya. Jungsu, kau sudah mau menikah tapi masih saja menggoda adikmu seperti zaman kamu SMA,” kata papa yang langsung menghentikan pertengkaran aku dan Oppa. “Ayo, Minah. Duduk dan makan sarapanmu.”

Aku menatap jam di tangan mama. “Sori, ma, pa. Minah gak sempat. Aku ada syuting sebentar lagi,” ujarku sambil lari ke kamar mandi.

“Syuting apa?” tanya mama dengan suara lebih kencang karena aku sudah tidak berada di dekatnya.

“Syuting mv LEE JOON!” seruku dengan girang lalu masuk kamar mandi dan segera siap-siap.

 

===

 

Aku sampai lebih dulu dari Joon maka aku menunggunya sambil berlatih gerakan-gerakan yang sudah diajarkan koreografer kemarin. Menurut koreografer, gerakanku sudah bagus walaupun belum sempurna.

Tidak lama kemudian, Joon datang tanpa manajernya. “Maaf aku telat,” ucapnya meminta maaf.

Aku tentu saja sangat memakluminya karena memang dia artis dengan jadwal yang padat. Telat-telat dikit bisa aku toleransi. Tapi rupanya sang koreografer tidak setoleran aku. Dia langsung menyuruh Joon mempelajari tariannya dan segera mempraktekannya.

Untuk pertama kalinya aku akan menari bersama seorang Lee Joon, menyentuhnya dan bahkan mungkin akan menciumnya. Aaaah!

“Aduh,” pekikku ketika kaki Joon menginjakku karena langkah kami yang tidak selaras.

“Maaf aku tak sengaja,” ujar Joon.

“Tidak apa kok,” balasku sambil tersenyum dan kami kembali latihan.

3 jam latihan cukup membuat kami lebih selaras dan kompak dalam setiap gerakan. Keringat sudah mengucur di tubuh kami tapi kami harus segera meluncur ke lokasi syuting versi drama. Aku menyempatkan diri untuk mandi sebelum berangkat.

Sampai di lokasi, aku langsung didandani dan dipakaikan baju beserta aksesorisnya.

Scene 1 dapat dilewati dengan mudah karena aku hanya perlu bolak-balik menatap Joon dengan tatapan ‘aku tertarik padamu’. Scene 2, 3 dan seterusnya yang masih bercerita aku mengejar Joon terlewati dengan mudah. Jadwal yang seharusnya hari ini selesai jam 6 jadi lebih cepat 1 jam.

“Kau cepat sekali menangkap maksud sutradara ya, Minah. Aku senang sekali bekerjasama dengan kamu. Harusnya dari dulu kau saja yang jadi modelnya,” ujar Joon memujiku yang membuatku terbang.

“Terima kasih tapi kau lebih hebat. Bisa kerja tanpa henti. Habis ini kamu ada syuting lagi kan?” balasku.

“Yup! karena jadwalku makanya kita harus stop dulu syutingnya. Kalau tidak, aku yakin bisa menyelesaikannya hari ini juga. Aku harus ke stasiun TV untuk mempromosikan laguku.”

“Ne. Aku mengerti. Semangat, oppa!”

“Semangat! Sampai jumpa.”

“Ne. Sampai jumpa, oppa.”

Lee Joon lalu berbalik menuju mobilnya. Dia benar-benar pekerja keras! Aku semakin kagum padanya.

Setiap hari aku semangat sekali untuk bertemu dengannya dan menyelesaikan syuting mv ini. Dalam 2 hari, kami berhasil menyelesaikan versi drama dan menyempurnakan tarian kami meskipun perlu waktu lebih banyak untuk adegan terakhir.

Awalnya aku minta sutradara untuk mengilangkan adegan itu dan mengsyutnya seolah-olah kami berciuman tapi dengan alasan totalitas aku dan Joon benar-benar berciuman. Butuh waktu 2 jam sendiri untuk menyempurnakan adegan itu.

“Cut! Good!” seru sutradara diiringi sorakan kru yang senang karena syuting sudah berakhir.

Sutradara menghampiri aku dan Joon dengan wajah sumringah. “Aku benar-benar puas. Sudah cepat dan tidak melelahkan. Kau benar-benar menyenangkan, Min,” kata sang sutradara. Aku tersenyum berterima kasih. “Lalu apa kalian sudah menguasai tariannya? Kalau sudah, besok kita langsung syuting versi dance tapi kalau tidak versi Joon sendiri saja dulu,” lanjut sutradara.

“Besok biar versiku dulu saja. Aku masih perlu latihan,” ujar Joon.

“Baiklah kalo gitu. Kita mulai syuting besok seperti biasa ya, Joon.”

Sutradara meninggalkan kami. “Terima kasih ya. Sampai jumpa besok di latihan,” ucapnya lalu langsung pergi meninggalkanku. Dia pasti kecapekan.

Aku juga capek tapi aku sangat bersemangat untuk mv ini sehingga aku berlatih mati-matian  hingga tarianku sempurna. Rupanya usahaku tidak sia-sia. Dalam 4jam, syuting versi dance dapat diselesaikan dengan baik. Semua saling memuji kerja keras terutama antara aku dan Joon yang berakhir dengan saling bertukar nomor telepon.

“Kau benar-benar pekerja keras. Aku kagum. Sampai bertemu lagi,” puji Joon lalu pergi karena dia harus melanjutkan syuting versinya sendiri.

Aku memandang hapeku dengan takjub! Aku tak percaya ada nomor hape berlabel Lee Joon yang tersimpan di hapeku. Aku benar-benar beruntung. Sekarang, aku hanya bisa berharap suatu hari nomor ini akan menghubungi aku.

 

===

 

Aku capek sekali. Aku langsung membaringkan tubuhku di sofa ruang tamu begitu sampai di rumah. Mataku hampir terpejam saat hapeku berbunyi. Aku mengambil hapeku dan langsung bangkit dari tidur ayamku begitu melihat nama yang tertera di layar hapeku. Lee Joon.

“Yoboseyo?” ucapku dengan gemetaran.

“Ne, yoboseyo. Neo Minah-ssi?” balas Joon.

“Ne. Ada apa, oppa?”

“Ani. Hanya mau mengecek kamu memberikan nomor yang benar atau tidak. Haha. Oh ya sudah malam, kau lebih baik istirahat sekarang. Selamat tidur.”

Joon langsung menutup hapenya sedangkan aku hanya melongo sambil memegang hapeku. “yaa! Apa-apaan ini?” omelku pada hapeku yang sudah tidak tersambung pada Joon.

“Apa-apaan apa?” tanya oppa yang ternyata sudah ada di depanku.

“Gak, gak apa. Oppa ngapain disini?” jawabku.

“Mau ngasih tahu kamu tanggal pernikahan oppa sudah ditetapkan.”

“Kapan?”

“4 April.”

Lagi-lagi, aku harus melongo karena dibuat heran oleh orang. “4 April? Itu 2 minggu lagi! Cepat sekali?” kataku kaget.

“Kalau lebih dari tanggal itu tidak bisa soalnya orang tua Yoona akan kembali ke London,” ujar oppa menjelaskan alasannya.

“Tapi apa cukup buat mempersiapkan semuanya? Undangan, makanan, gedung, baju, dan sebagainya.”

“Semua sudah diurus. Kamu tenang saja. Bahkan pakaianmu saja sudah disiapkan.”

“Oppa mengurusnya sendirian?”

“Tidak. Yunho mengenalkan aku pada sebuah WO untuk mengurus semuanya.”

Bagus! Dulu mereka ingin aku membantu mereka tapi pada akhirnya aku tidak terlibat sama sekali. Kalau begitu, aku juga bisa tidak peduli.

“Selamat ya, oppa. Maaf tidak bisa bantu apa-apa. Aku tidak sangka akan secepat ini,” kataku dengan maksud menyindir.

“Tidak apa. Kau lebih baik konsentrasi buat sidang tugas akhirmu,” sahut oppa.

Ya, ya, baiklah. Aku akan konsentrasi untuk tugas akhirku.

Aku pamit pada oppa dan masuk ke kamar. Langsung kunyalakan laptop dan printerku. Aku masukkan satu rim kertas ke tatakan kertas printerku. Aku buka dokumen tugas akhirku dan print!

Aku tinggal mesin-mesin itu tidur. Aku terlalu lelah. Besok pagi akan aku rapikan sebelum aku kumpulkan. Oh tugas akhirku.

 

===

 

5 kopi tugas akhir telah tersusun dengan rapi dan siap dikumpulkan. Tanpa hasrat yang terlalu menggebu, aku berangkat ke kampus untuk menyerahkan 5 bendel kertas itu ke departemenku dan mendaftar sidang. Setelah itu, tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali pergi ke mall untuk mencuci mataku yang sudah sepat ini.

Saat aku sedang mencuci mata, aku melihat ada lensa kamera yang memang sedang diincar Yun diskon 50%. Aku pun segera menelepon Yun untuk memberitahunya.

“Hello, Yun…” sapaku yang langsung disambar olehnya, “Telepon nanti lagi saja. Aku sibuk banget.” dan Yunho langsung menutup teleponnya.

Aku dongkol setengah mati. Belum aku bilang apa-apa, dia sudah menutup hapenya. Aku mengumpat dalam hati lalu memasukkan hapeku ke dalam tas.

Aku lalu masuk ke sebuah restoran dan duduk di pojok. Tiba-tiba ada orang yang menghampiriku.

“Tidak disangka di dunia yang seluas ini, kita bisa bertemu di sini,” kata orang itu.

Aku menatap orang itu dan memekik, “Joon oppa!”

“Hallo,” ujarnya diiringi senyum ramah seorang bintang sambil duduk di hadapanku. “Kau sendirian?”

“Ne. Oppa juga?”

“Tidak juga. Ada kamu kan?”

Aku tersipu malu mendengar jawabannya. “Ah, oppa bisa saja. Oh ya oppa, apa tidak bahaya berjalan sendirian di mall seperti ini?”

“Bahaya gimana? Dikerubutin fans atau gimana gitu?”

Aku mengangguk.

“Tidak. Mereka tidak mengganggu kok kalau aku memang tidak mau diganggu,” ujar Joon oppa masih dengan senyumnya yang menawan.

“Oh gitu. Aku pikir oppa tidak akan bisa jalan-jalan ke mall dengan aman. Hehehe.”

Oppa hanya tertawa. “Kau kenapa? Tadi aku lihat wajahmu kesal saat masuk kesini. Berantem sama pacar?” tanya oppa yang ternyata sudah melihat aku daritadi.

Aku tersenyum kecut. “Gak sih cuman dia belagak sibuk aja,” jawabku.

Oppa tertawa lagi membuat hatiku gembira lagi. Dia mengajakku ngobrol macam-macam yang membuat aku tertawa terus sampai tidak terasa kami sudah melewatkan banyak waktu.

Joon oppa sudah dipanggil manajernya. Itu berarti dia sudah harus pulang. Karena aku tidak ada tujuan lain, aku pun ikut-ikutan pulang.

Meskipun hari belum malam tapi formasi lengkap keluargaku sedang berkumpul di ruang keluarga. Tampaknya mereka sedang membicaran pernikahan oppa karena aku mencium bau-bau WO di sana ditambah Yunho dengan segepok portofolionya dan Nari onni dengan sejuta desain bajunya.

Tanpa menyapa mereka, aku masuk ke kamarku. Aku ingin segera mandi lalu belajar untuk sidangku.

“Drrt, drrt,” getar hapeku dari bawah buku matematika lanjutan 2-ku. Aku mengambilnya dan membaca sms yang masuk.

From : Lee Joon

Ternyata kau gadis yang seru. Senang mengenalmu. Sampai jumpa. Gak usah balas.

Aku tertawa geli membaca sms-nya. Dasar idol aneh. Hahaha. Aku ingin sekali membalas smsnya tapi karena dia bilang gak usah balas ya gak aku balas. Aku lebih baik melanjutkan belajarku.

Saat aku sedang membaca bab terakhir dari bukuku, aku mendengar ada yang mendekati kamarku. Aku yang sedang malas bertemu orang memilih pura-pura ketiduran di atas bukuku.

Pintu kamarku terbuka dan suara kaki mendekatiku. Orang itu mengelus pipiku. “Maafkan aku ya sayang karena tak punya waktu untukmu. Sampai kau harus belajar sendiri untuk sidangmu. Maaf ya,” kata orang yang aku kenali sebagai Yunho.

Dia menyelimutiku lebih dulu baru keluar. Setelah yakin dia sudah jauh, aku membuka mataku dan kembali belajar.

Aku terima permintaan maafmu tapi sekali-kali kau harus dihajar! Kau harus tahu aku tidak boleh tidak lebih penting dari kerjaanmu, apapun itu! Kebiasaan!

 

===

 

Semua orang sibuk dengan pernikahan oppa sedangkan aku sibuk dengan sidangku yang akan digelar seminggu lagi. Aku sudah panik setengah mati. Kerjaanku hanya belajar dengan serius di kamar. Tidak ada jalan-jalan, main-main atau yang lainnya. Bahkan untuk menyentuh telepon saja tidak sempat. Hal ini yang membuat aku dan Yunho semakin jauh. Aku sibuk, Yunho pun sama saja! Kami sudah tidak berhubungan hampir seminggu.

Aku tidak tahan lagi. Rinduku pada Yunho sudah sampai puncaknya. Di sela-sela waktu luangku, aku mendatanginya ke kantornya.

“Hai, Yun,” sapaku dengan suara dan wajah paling manis yang bisa aku berikan padanya.

“Hai. Sedang apa kamu di sini? Bukannya kamu harusnya belajar buat sidangmu besok?” sahut Yunho sambil memandangku dengan tatapan heran dan terganggu.

Dalam hati aku sudah kecewa setengah mati tapi aku berusaha sabar. “Belajarnya udah selesai kok. Aku kangen sama kamu,” ujarku dengan manja.

Entah hanya perasaanku atau hal ini benar-benar terjadi. Yunho menatapku sebentar dengan putus asa lalu membereskan kertas-kertas yang ada di mejanya. “Kamu pulanglah. Belajar lagi buat sidangmu besok. Aku mau rapat. Besok kita ketemu lagi,” katanya lalu pergi meninggalkanku.

Aku marah. Kalau tidak ada orang di sekitar kami, mungkin tas ku ini sudah melayang ke kepalanya sekarang! Dasar pria aneh bin menyebalkan.

Aku akhirnya pulang kembali ke rumah dengan pikiran yang tidak karuan. Konsentrasiku untuk sidang besok buyar semua. Mau belajar lagi, teleponku bolak-balik berdering!

“Halo, sayang. Kata Ahra, besok sidang ya sayang?” tanya omma Yunho padaku. Beliau adalah penelepon kesekian hari ini.

“Iya, omma. Doain lancar ya biar aku lulus,” jawabku.

“Tentu saja dong, sayang. Biar abis lulus kamu langsung susul Jungsu.”

“Susul apa, omma?” Aku tidak mengerti maksud beliau.

“Nikah, sayang. Minggu depan kan Jungsu. Bulan depannya kamu. Hehehe.”

Aku hanya tertawa getir. Mau tanya sama siapa, jawabnya nanti pasti sama anaknya tapi mana beliau tahu anaknya nelpon aku sekali saja tidak. Beri semangat juga gak. Yang dia tahu cuman kerja, kerja dan kerja. Ditambah sama acara oppa, semakin terlupakanlah aku. Bagus!

Setelah omma, masih banyak sodara-sodaraku yang menelepon memberikan aku semangat. Bahkan sampai aku tidur pun aku masih merasakan hapeku bergetar tapi aku abaikan saja. Aku mau tidur dengan tenang sebelum berhadapan dengan sidangku besok!

 

===

 

Aku merasa ada yang menciumku dan hal itu membuatku terbangun. Aku membuka mataku dan menemukan sosok Yunho sedang duduk di hadapanku.

“Hai, sayang. Selamat pagi. Udah siap sidang hari ini?” sapanya dengan manis. Hatiku melonjak girang melihat kenyataan Yun tidak melupakanku. Tapi sayang sekali, ingatanku terlalu tajam untuk mengingat kejadian kemarin di kantornya.

“Siap gak siap tetap harus sidang kan? Lagipula apa pedulimu sih?” sahutku kesal bercampur marah.

Yunho tersenyum padaku lalu memainkan rambutku. “Kau marah padaku ya? Maaf ya, sayang. Akhir-akhir ini aku benar-benar sibuk. Kemarin juga, aku ditekan deadline. Maaf kamu jadi kena imbasnya,” katanya berusaha menjelaskan.

Aku menerima alasannya tapi aku masih kesal. Tidak semudah itu pulih sehabis dicuekin seminggu lebih. Aku diam saja dengan wajah tertekuk.

“Ya sudah kalau masih marah tapi jangan lama-lama ya, sayang. Sekarang kita ke ruang keluarga yuk. Yang lain udah nunggu,” katanya lagi.

“Siapa yang lain?” tanyaku.

“Jungsu hYunhog, om dan tante. Kita mau doa bersama dulu buat sidangmu nanti. Ayo.”

Yunho menggandengku ke ruang keluarga lalu menyuruhku duduk di tengah-tengah mama dan papa sedangkan dia duduk di sebelah oppa. Aku menurutinya.

Papa dan mama menggenggam tanganku lalu doa dimulai dengan pimpinan Papa.

“Allah Bapa Kami yang ada di surga. Pagi ini kami sekeluarga berkumpul untuk menyerahkan anak dan saudara kami, Park Minah, yang akan menghadapi sidang tugas akhirnya sebentar lagi. Kiranya Engkau mau memberkati dia, Bapa, memberikan roh kecerdasan padanya agar sidangnya dapat berjalan lancar dan dia dapat lulus dengan hasil memuaskan…”

Aku hampir meneteskan air mataku. Aku pikir mereka sudah melupakanku tapi ternyata tidak. Mereka masih sangat mengingatku hanya saja ada hal lain yang tidak kalah penting.

Aku mencium kedua orang tuaku setelah kami berdoa. “Terima kasih ya, Pa, Ma,” ucapku. Aku memandang oppa sebentar lalu menciumnya juga. “Makasih, oppa. Maaf ya gak bisa bantu-bantu buat pernikahanmu.”

Oppa mengelus-elus kepalaku. “Sama-sama, dongsaengku sayang. Gak masalah kok. Yunho udah bantu ngurus semua kok. Katanya, biar kamu bisa konsentrasi supaya Lulus nilai bagus ya? Kalau gak, nanti gak oppa kasih jajan lagi,” kata oppa dengan gaya jahilnya yang khas. Aku tersenyum.

Berpindah ke Yunho, aku salah tingkah. Aku sudah salah sangka padanya. Dia hanya mau aku konsentrasi ke sidangku. Tapi, aku tetap tidak terima caranya yang malah nyuekin aku mentang-mentang sibuk.

Aku memajukan tubuhku mau memeluknya tapi mundur lagi. Yunho tertawa melihat tingkahku. “Good luck ya, cuYunhog,” ujarnya sambil mengelus-elus puncak kepalaku. “Ingat, aku gak terima nilai selain A.”

Aku memanYunhokan bibirku. “Seenaknya deh. Udah gak mau ngajarin berani minta nilai A pula,” protesku.

Yunho tertawa lagi. “Ih cuYunhog, bukan gak mau tapi gak sempat. Maaf ya,” katanya membela diri.

Aku sudah mau mendebat tapi mama lebih dulu mencegahnya. Beliau menyuruhku untuk segera siap-siap. Aku tidak dapat menolak. Diiringi tawa kemenangan Yunho, aku masuk kamar mandi lalu bersiap-siap.

 

===

 

Tubuhku kebas bukan main. Jantungku sudah berdegup sangat kencang saat memasuki ruang sidang. Selama 1 jam lebih aku menyajikan dan ditanya-tanya mengenai skripsiku. 5 dosen pengujiku memberondongku dengan berbagai pertanyaan. Puji Tuhan, aku lulus dengan nilai A!

Aku ingin segera menelepon Yun dan keluargaku untuk mengabarkan hal ini tapi telepon yang masuk ke hapeku mendahuluinya.

“Yoboseyo?” ucapku.

“Ne, yoboseyo Minah-ah. Apa kamu ada waktu siang ini?” balas si penelepon yang sangat aku kenali.

“Joon oppa!” pekikku senang. “Ne, ne. Aku ada waktu kok. Ada apa, oppa?”

“Nanti jam 2an, kamu datang ke kantor ya? Ke kantor manajemenku maksudnya. Ada yang mau kami bicarakan.”

“Soal apa, oppa?”

“Kami punya tawaran untukmu. Nanti saja kita bicarakan lagi lebih lanjut.”

“Ye, ye. Sebentar lagi aku sampai. Aku masih di kampus, baru saja selesai sidang.”

“Oh ya, bagaimana hasil sidang skripsimu?”

“Puji Tuhan, aku lulus oppa! Dengan nilai A!”

Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.

Joon oppa pun menanggapiku dengan tidak kalah girang. “Selamat! Selamat! Wah, aku harus memberimu hadiah nih! Kamu mau hadiah apa?”

“Apa ya? Humm? Aku berpikir dulu ya, oppa.”

“Baiklah. Sambil mikir, kamu segera ke kantor ya. Aku tunggu.”

Joon oppa menutup teleponnya. Aku pun mengikutinya. Setelah itu, aku ke mobilku dan segera berangkat ke kantor AEntertainment sambil berpikir hadiah yang tepat.

 

===

 

Aku langsung masuk ke ruangan manajemen Joon begitu sampai. Hanya ada Joon dan manajernya yang menyambutku.

“Hai, Minah. Senang bertemu lagi denganmu,” ujar sang manajer sambil menyalamku.

“Senang bertemu oppa lagi,” balasku ceria.

Joon oppa tersenyum padaku dan aku membalasnya. Manajer oppa menyuruhku duduk dan langsung mengajukan tawaran untukku.

“Langsung saja ya, Minah. Kami tertarik untuk merekrutmu jadi main dancer di setiap show Joon. Maksudku, pasangan dance Joon lebih tepatnya,” kata manajer oppa.

Lagi-lagi aku melongok kaget dibuat mereka. Otakku tidak bisa berpikir normal saking senang sekaligus terkejut.

Manajer oppa menyodorkan sebuah kontrak yang langsung aku tanda tangani begitu selesai aku baca dengan seksama. Aku tidak peduli dengan berapa besar bayaranku, yang penting aku bisa bersama idolaku terus.

“Terima kasih atas kerjasamanya, Minah. Maaf merepotkanmu lagi,” kata Joon.

“Tidak kok, oppa. Aku malah senang sekali. Lagipula hanya untuk satu lagu kan?” sahutku.

Joon oppa mengangguk. “Tapi mungkin kalau kamu bisa merambah ke lagu lain, aku akan senang hati menari bersamamu. Hehe.”

“Kontraknya cuman 1 lagu, oppa. Lagu barumu itu saja. Gak sesuai kontrak, beda bayaran. Hihi.”

“Tenang, bisa diatur. Hahahaha.”

Aku dan Joon oppa sama-sama tertawa menanggapi lelucon kami. Sang manajer hanya bisa geleng-geleng kepala lalu meninggalkan kami.

“Oppa, aku sudah dapat hadiah yang aku mau,” kataku dengan bersemangat.

“Oh ya, apa?” sahutnya.

“Oppa menyanyi di pernikahan oppaku tanggal 4 April nanti. Bisa kan?”

Aku menatap Joon oppa penuh harap. Aku tahu jadwalnya sangat padat bahkan mungkin tidak ada waktu kosong apalagi di hari Sabtu seperti tanggal 4 April nanti. Tapi, aku berharap keajaiban akan terjadi.

“Jam berapa?” tanyanya.

“Jam 7 malam, oppa. Bisa ya? Ya? Please…”

Aku mengeluarkan jurus memohon yang tidak mungkin ditolak.

“Oke, oke. Nanti aku cek dulu dengan manajerku ya? Berdoa saja aku bisa.” Joon oppa nyengir lebar.

Aku refleks memeluk Joon oppa dengan girang. “Terima kasih, oppa,” ujarku.

“Telat-telat jam 8 juga boleh kok, oppa. Yang penting oppa datang dan nyanyi. Ya?”

“Tapi kalau aku gak sempet checksound gak apa ya?”

Aku mengangguk dengan mantap.

“Oke. Tunggu aja kabar dariku ya. Tapi jangan lupa, kamu harus datang setiap latihan. 8 April itu comeback show pertamaku, kau harus ada.”

Aku nyengir lebar sambil memberi hormat padanya. “Siap, bos!” kataku.

Setelah itu, baru aku pulang. Aku tidak sabar menemui keluargaku.

 

===

 

Suasana rumahku sudah seperti kapal pecah. Bertumpuk-tumpuk perlengkapan pernikahan oppa tergeletak manis di beberapa sudut rumah ini. WO bolak-balik keluar masuk rumah ini seolah ini markas mereka. Yang paling mengerikan adalah Nari onni yang langsung mengejarku begitu aku sampai rumah.

“Minah-ah! Kamu belum fitting bajumu. Sini,” panggilnya sambil menyodorkan sebuah gaun panjang berwarna emas.

Aku langsung menghampirinya dan mengambil gaun itu. Aku masuk ke kamarku untuk mencobanya. “Onni, lingkar dadanya kebesaran, talinya juga kependekan,” kataku kepada Nari onni kekurangan gaunku setelah aku keluar dari kamar.

Nari onni langsung mengukur ulang tubuhku dan menyuruhku melepas gaunku. Aku kembali ke kamar untuk melepas gaunku lalu mengembalikannya kepada Nari onni.

Aku tinggalkan Nari onni dengan baju-baju kami lalu menghampiri ketua WO yang menangani pernikahan oppa.

“Onni, apa daftar acara sudah dibuat?” tanyaku.

“Sudah. Memang kenapa?” balasnya.

“Selipin satu acara lagi di jam 7 atau 8 bisa gak? Aku dan temanku ada yang mau nyanyi. Bisa ya?” Untuk kedua kalinya dalam satu hari aku mengeluarkan jurus memohon tidak bisa ditolak.

Onni mengecek daftar acara di mapnya lalu mengangguk-angguk. “Bisa. Bisa. Siapa nama yang mau nyanyi? Biar MC bisa siapin nanti,” tanyanya.

“Park Minah dan Lee Joon,” jawabku enteng.

Aku tahu onni itu akan kaget. Matanya membelalak tapi aku santai saja. “Bilang saja nanti hadiah dari dongsaeng kesayangan oppa,” lanjutku sambil nyengir.

Aku pusing melihat orang sliweran di rumahku jadi lebih baik aku tidur saja di kamarku sampai orang-orang ini pergi. Hah…

 

===

 

Aku sedang duduk bersama Papa dan mama saat oppa dan onni masuk ke ruang keluarga. Aku yakin sedang bermimpi sekarang. Bisa-bisanya aku lihat oppa dan onni sama-sama memakai kaus dan celana panjang tapi wajah mereka benar-benar full make-up. Sudah gitu, rambut onni tertata dengan sangat gaya dan rapi.

“Kenapa dandanan oppa dan onni seperti itu? Pake kaus tapi kok dandan segala,” tanyaku heran.

“Kami baru selesai foto pre-wedding, sayang. Belum sempat hapus make-up,” jawab Yoona onni sambil mengecup pipiku. “Gimana sidangmu tadi?”

Karena pertanyaan ini, aku jadi ingat kabar gembira yang harus aku beritakan. “Aku lulus! Nilai A! Woohoo..” pekikku senang.

Yoona onni memberi ucapan selamat diikuti pelukan hangat. Sedangkan oppa menepuk-nepuk kepalaku sambil berkata, “Itu baru adikku! Hoho.”

Mama dan Papa tidak kalah gembira mendengarnya. “Kok gak cerita daritadi sih, sayang? Mama juga gak berani tanya karena kamunya diam aja,” kata Mama sambil memelukku.

“Sori, Ma, Pa, aku lupa. Kebanyakan hal yang harus diurus hari ini. Hehe,” ujarku.

Papa yang sangat senang langsung mengajak kami makan ke restoran sesuai keinginanku. Aku senang sekali. Hohoho!

Sambil makan, aku menceritakan pekerjaan baruku bersama Joon oppa. Keluargaku tidak protes atau apa meskipun mereka tahu itu akan menyita waktuku lebih banyak lagi meskipun bayarannya tidak seberapa.

“Gak apa buat pengalaman. Lumayan kan bisa ketemu Joon, idolamu, terus dapat duit lagi. Orang lain malah keluar duit buat ketemu dia,” ujar Papa yang membuatku semakin bersemangat.

“Terima kasih, Pa,” kataku senang.

Aku baru teringat belum memberi tahukan kabar gembira ini kepada Yunho saat aku kembali ke rumah. Meskipun sudah jam 11 malam, aku tetap nyelonong masuk ke rumah Yunho. Aku masuk dari samping karena aku lihat Bibi baru mau menguncinya.

“Bi, bi. Tunggu, jangan dikunci dulu. Aku mau masuk,” kataku menahan Bibi mengunci pintu. Bibi malah membukakan pintu untukku.

“Silahkan masuk, agashi. Yunho ada di kamarnya. Tuan dan Nyonya belum pulang. Nona Ahra sedang di kamarnya juga,” kata Bibi lengkap sebelum aku tanya.

“Terima kasih, Bibi sayang,” balasku lalu beranjak ke kamar Yunho.

Aku melihat pintu kamarnya terbuka dan lampu yang masih menyala. Aku semakin mendekat dan mendengar suara.

“Jadi, kalo x=7 maka hasil dari x kuadrat dibagi 3 perempat adalah…” Aku tahu ini suara Yunho. Dia pasti sedang ngajarin Ahra tapi kata Bibi, Ahra di kamarnya. Berarti, gadis menyebalkan bernama Jinna!

“Oppa, aku menyukaimu,” kata gadis itu yang sesuai perkiraanku adalah Jinna.

“Aku tahu,” balas Yunho.

“Aku mau jadi pacar oppa,” kata Jinna lagi.

Oke. Aku jadi menguping pembicaraan mereka sekarang.

“Kau tahu itu tidak mungkin. Aku sudah memilih Minah, mungkin dari aku bayi, dan pilihanku tidak mungkin berubah,” kata Yunho tegas. Aku mengurai senyum kemenangan.

“Rasakan kau, Jinna!” batinku.

“Aku mau jadi yang kedua atau selingkuhanmu atau apa pokoknya bisa jadi milikmu, Oppa,” paksa Jinna.

“Jinna, aku mohon. Kita sudah ribuan kali membahas hal ini dan jawabanku tidak akan pernah berubah. Aku tidak akan menduakan siapapun.”

Diam sesaat. Aku lalu melihat bayangan yang beranjak keluar dari kamar. Itu Jinna. Dia hendak menutup pintu kamar Yunho. Refleks, aku menahannya.

“Apa yang mau kau lakukan hah? Keluar dari kamar Yunho sekarang!” kataku galak.

Aku tahu Jinna kaget dengan keberadaanku. Tangannya langsung melepas kenop pintu dan pergi menghindari aku.

“Bawa buku-bukumu juga!” seruku saat Jinna memutuskan untuk keluar dari kamar Yunho. Dengan ketakutan bercampur marah, dia mengambil buku-bukunya lalu keluar.

Dengan gaya kesal, aku membanting pintu kamar Yunho sampai menutup lalu menguncinya. “Rasakan kau, gadis nakal. Kerjaannya ganggu pacar orang terus!” ocehku.

Tiba-tiba Yunho menyahut, “Aku kenal gadis yang lebih nakal. Malam-malam masuk ke kamar pacarnya terus kerjaannya godain pacarnya terus. Pake acara ngunci pintu kamar segala lagi. Lebih nakal kan?”

Aku langsung mendelikkan mataku kepada Yunho dengan tajam. “Aku tahu maksudmu,” kataku tersinggung.

Yunho balas menatapku lalu tertawa terpingkal-pingkal. “Kau lucu sekaligus seram kalau lagi cemburu. Aku senang melihatnya,” ujarnya senang.

Dengan kesal, aku duduk di atas meja tepat di hadapannya. “Pacarnya kesal malah ketawa. Huh! Kalau gak diam, aku gak jadi kasih tau hasil sidang nih,” ancamku.

Mendengar ancamanku, Yunho langsung menahan tawanya. “Bagaimana hasilnya?” tanya Yunho.

“Lulus! Nilai A! Hebat kan aku?” jawabku.

Yunho bertepuk tangan. “Wah! Hebat! Selamat! Selamat! Aku senang mendengarnya. CuYunhogku memang yang paling hebat!”

Aku berlagak belagu dengan mendongakkan wajahku. “Memang! Baru tahu?” kataku dengan sombong.

Yunho lagi-lagi malah tertawa. Dia juga malah menggelitik pinggangku. “Gak kok. Aku udah lama tahu kehebatan cuYunhogku ini. Hihi,” ujarnya.

Aku yang mudah geli jika digelitik refleks bergeliat kesana kemari. Tubuhku meliuk-liuk ke kanan kiri sedangkan kakiku menendang-nendang. “Yun, Yun, sudah. Aku geli. Ampun, ampun,” kataku memohon.

Yun pun berhenti menggelitikiku tapi dia masih tertawa terbahak-bahak. Sialan!

“Aku sudah lulus dengan nilai A. Sekarang, aku minta hadiahku!” kataku sambil menyodorkan tangan.

“Hadiah apa?” tanya Yunho.

“Cincin berlian,” jawabku enteng tapi aku hanya bercanda.

“Dasar matre! Gak ada duit,” balas Yunho.

Aku diam saja. Aku menatap ke dalam mata Yunho sambil memegang kedua bahunya. “Aku mau kamu,” kataku dengan serius.

Yunho menatapku dengan terkejut. “Kamu serius mau melakukannya denganku? Sekarang? Kamu sudah siap?” tanyanya tidak kalah serius.

Rasanya aku salah ngomong. Aku menampar pelan pipi Yunho. “Piktor! Maksudku, aku mau kau terus bersamaku. Aku ingin jiwa dan ragamu terus mencintai aku. Kalaupun nanti hidup kita susah, aku mau menjalaninya sama kamu,” kataku menjelaskan apa yang aku mau.

“Kau melamarku?”

Aku mengangguk dengan mantap. “Apapun yang terjadi, kau harus tetap setia padaku.”

Yunho menggendongku turun ke pangkuannya. “Kalau bukan setia, selama ini aku padamu kau sebut apa hah?”

Ucapannya membuatku merasa bodoh dan mengigik geli. “Aku sayang padamu, Yun,” bisikku di telinganya lalu menciumnya lembut. Detik berikutnya, aku tahu dia akan melakukan pembalasan yang lebih panas yang tidak akan berhenti dalam hitungan menit.

 

-THE END-

@gyumontic