Huahahahahhahaha, ini dia FF buat Hyun-Ah dan Changmin!!!!

Teehee!!! Jihyo-Sungmin muncul juga looooh!!!🙂

Semoga tidak mengecewakan yaaa…

FYI, ff ini aku bagi jadi 7 part ya, gak cukup kalo cuman 1 notes🙂

selamat membaca!!!

 

 

Hyun-Ah sedang main ayunan sendirian di taman saat seorang pria datang menghampiri. “Aku mencari kamu kemana-mana ternyata kamu di sini. Ngapain kamu di sini?” tanya pria itu pada Hyun-Ah dengan suara berat tetapi terdengar ramah.

Hyun-Ah agak terusik dengan kehadiran pria tersebut yang adalah guru les privatnya. Saat Hyun-Ah ingin sendirian, gurunya itu selalu saja datang mengganggu. Dia menghela nafas panjang begitu melihatnya. “Oppa ngapain di sini?” balas Hyun-Ah dengan galak.

“Pake tanya lagi. Seisi rumah sibuk mencarimu tahu. Kau malah santai-santai di sini. Ayo, pulang,” ucap pria itu.

“Andwe,” kata Hyun-Ah lalu bangkit dari ayunan dan pergi meninggalkan guru lesnya.

Guru les Hyun-Ah rupanya belum menyerah. Dia terus mengikuti Hyun-Ah kemana pun Hyun-Ah pergi sampai akhirnya Hyun-Ah lelah sendiri. “Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” tanya Hyun-Ah kesal.

“Kamu harus pulang sekarang, Hyun-Ah. Seisi rumah mencemaskanmu,” jawabnya dengan tegas lalu menggandeng Hyun-Ah pulang.

Hyun-Ah berusaha memberontak tapi entah kenapa kekuatannya hilang. Dia tidak mampu melawan pria tersebut.

Pada saat yang sama, keadaan di rumah Hyun-Ah masih dirundung kecemasan. “Yobbo, apa ada kabar dari Changmin? Apa dia berhasil menemukan Hyun-Ah? Apa perlu kita lapor polisi?” tanya mama Hyun-Ah dengan cemas.“Sabar. Kita tunggu sebentar lagi. Kalau tidak ada kabar juga baru kita lapor polisi,” jawab sang papa Hyun-Ah yang mencoba menenangkan istrinya.

“Haduh, anak ini bikin cemas saja. Ngapain sih pergi malam-malam gini? Hapenya juga gak bisa dihubungin lagi,” ucap mama Hyun-Ah yang tidak berhenti mencemaskan anak sulungnya.

Ternyata tidak hanya mama dan papa Hyun-Ah yang cemas, adiknya pun tidak kalah mengkhawatirkan Hyun-Ah. “Mama, tenang ya. Changmin oppa pasti bisa menemukan onni,” sahut Jihyo, adik perempuan Hyun-Ah yang berusaha tenang demi mamanya.

Setelah berjalan selama beberapa menit, Hyun-Ah sampai di depan rumahnya tapi dia sama sekali tidak mempunyai nyali untuk masuk ke dalam. Kalau seisi rumah sudah cemas karenaku berarti kemungkinan besar aku akan kena marah, pikir Hyun-Ah.

“Kenapa kamu tidak masuk?” tanya Changmin, pria yang berhasil menemukan Hyun-Ah dan menemaninya sampai ke rumah.

“Aku takut,” jawab Hyun-Ah dengan jujur.

“Takut kena marah?” tanya Changmin lagi.

Hyun-Ah hanya mengangguk. Changmin lalu tertawa pelan melihatnya.

Tanpa disangka-sangka, Changmin membunyikan bel di depan pintu. “Kami pulang,” serunya dengan kencang agar semua orang di dalam rumah mendengar suaranya.

Dalam hitungan detik, pintu rumah Hyun-Ah terbuka dan muncul mama dan papa Hyun-Ah. “Akhirnya, kamu pulang juga sayang. Omma cemas setengah mati,” kata mama dengan lega sambil memeluk Hyun-Ah.

Ayah Hyun-Ah tersenyum lega melihat anaknya telah kembali dengan selamat. “Terima kasih telah menemukan Hyun-Ah, Kyu,” kata ayah Hyun-Ah pada Changmin.

“Sama-sama, Song ahjussi,” sahut Changmin lalu pamit pulang. “Aku pulang dulu. Selamat malam.”

“Baik. Sekali lagi, terima kasih banyak ya, nak,” balas mama Hyun-Ah.

Setelah Changmin pulang, Hyun-Ah pamit pada mama dan papanya untuk segera tidur. Dia terlalu lelah untuk menjelaskan penyebab dia hampir tidak pulang setelah apa yang dialaminya hari ini.

Hyun-Ah telah siap untuk tidur tapi Jihyo menyelanya. “Kenapa kau pergi dari rumah, onni?” tanya Jihyo ingin tahu.

“Cih. Aku hanya pergi lebih lama dari biasanya,” kata Hyun-Ah mengoreksi.

“Tanpa memberi kabar dan tidak bisa dihubungi,” imbuh Jihyo atas pernyataan Hyun-Ah. “Kau membuat kami semua cemas tahu. Untung tadi ada Changmin oppa yang mau membantu.”

“Ya ya ya. Kamu berisik sekali, Jihyo. Lebih baik kamu tidur sekarang,” bentak Hyun-Ah yang tidak menggubris lagi semua omongan Jihyo.

Hyun-Ah menyumbat telinganya dengan bantal lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya. Dia baru tertidur sejam kemudian.

. . .

Pagi ini, Hyun-Ah dan Jihyo pergi ke sekolah bersama Changmin karena ayah mereka sedang tidak enak badan sehingga tidak bisa mengantarkan Hyun-Ah dan Jihyo ke sekolah.

“Selamat pagi,” sapa Changmin pada Hyun-Ah dan Jihyo saat mereka masuk ke dalam mobilnya.

Seperti biasa, Jihyo membalasnya dengan ramah. “Selamat pagi, Oppa,” ucap Jihyo sambil tersenyum manis. Berbanding terbalik dengan Hyun-Ah yang sedang dalam mood terburuk, dia bahkan tidak menoleh sedikitpun.

“Hyun-Ah~ah, tidurmu nyenyak semalam?” tanya Changmin walaupun sapaannya tadi tidak digubris Hyun-Ah.

Lagi-lagi Hyun-Ah tidak menjawab. Hyun-Ah sama sekali tidak menaruh perhatian pada Changmin. Yang dilakukan Hyun-Ah hanya memandang keluar dengan tatapan kosong.

Mood Hyun-Ah yang sedang buruk menjadi semakin memburuk saat dia harus melihat seorang laki-laki yang dia benci begitu sampai di sekolah.

“Annyeonghaseyo,” sapa laki-laki itu pada Hyun-Ah, Jihyo dan Changmin.

“Ah, annyeonghaseyo, Sungmin oppa,” sahut Jihyo dengan ramah.

Melihat Jihyo membalas salam laki-laki itu, Hyun-Ah jadi semakin memburuk. Dia sama sekali tidak berminat untuk membalasnya. Hyun-Ah bahkan langsung berlari begitu saja menuju kelasnya meninggalkan yang lain.

. . .

“Ada apa antara kau dan Hyun-Ah, Sungminssi? Kenapa dia lari begitu saja begitu melihatmu?” tanya Changmin pada Sungmin dalam perjalanan menuju kelas mereka.

“Aku memutuskannya kemarin,” jawab Sungmin singkat dengan perasaan bersalah.

“Tidak mungkin! Jangan bercanda!” seru Changmin saking terkejutnya.

“Aku serius,” sahut Sungmin.

“Loh? Kenapa? Bukannya kalian saling menyayangi?” tanya Changmin.

“Memang iya tapi itu beberapa minggu lalu. Sekarang aku jatuh cinta pada Jihyo, adik Hyun-Ah,” jawab Sungmin dengan jujur.

Changmin pun bertanya lebih lanjut, “Hyun-Ah tau alasan kau memutuskannya? Maksudku, kau bilang kalau kau suka pada Jihyo?”

Sungmin mengangguk pelan. “Aku tetap harus jujur padanya. Itu lebih baik rasanya.”

Sebagai mahasiswa tingkat tiga, tentu tidak susah bagi Changmin untuk menduga apa penyebab Hyun-Ah hampir tidak pulang semalam. “Jadi itu alasannya,” gumam Changmin pelan pada dirinya sendiri.

Sungmin sudah menganggap Changmin sebagai saudaranya sendiri. Sungmin mempercayai Changmin lebih dari siapapun. Jadi wajar saja Sungmin mau menceritakan segalanya pada Changmin. Sungmin bahkan menjelaskannya dengan detil.

. . .

Setelah sekolah usai, Jihyo menjemput Hyun-Ah ke kelas kakaknya untuk pulang bersama. Sebenarnya, Hyun-Ah sedang malas sekali berurusan dengan Jihyo. Bahkan kalau bisa, Hyun-Ah ingin sekali menendang Jihyo jauh-jauh. Tapi mengingat Jihyo adalah adik kandungnya, tidak ada yang bisa dia perbuat.

“Onni, ayo kita pulang. Kyu oppa sudah menunggu kita di mobil,” ajak Jihyo. Hyun-Ah tidak bereaksi. Dengan berat hati, Hyun-Ah mengikuti Jihyo menuju mobil Changmin, tempat Changmin sudah menunggu Hyun-Ah dan Jihyo.

“Selamat siang. Bagaimana sekolah kalian hari ini?” tanya Changmin dengan ramah setelah Hyun-Ah dan Jihyo duduk di dalam mobil.

“Menyenangkan, oppa! Tapi tugas-tugasnya itu banyak sekali. Huhu,” sahut Jihyo.

“Haha. Namanya juga sekolah. Kuliah nanti lebih berat lagi,” kata Changmin. “Kalau kau bagaimana, Hyun-Ah?”

“Bukan urusan Oppa,” jawab Hyun-Ah dingin.

Changmin memahami Hyun-Ah. Dia pun tidak banyak bicara lagi pada Hyun-Ah. Dia hanya memperhatikan Hyun-Ah melalui kaca spion.

Tidak lama kemudian, Hyun-Ah dan Jihyo sudah sampai di rumah. Hyun-Ah langsung masuk kamarnya sedangkan Jihyo bermain dengan teman-temannya.

Saat Hyun-Ah sedang istirahat tiba-tiba hapenya berbunyi. Hyun-Ah mendapat telepon dari mamanya. “Halo, Hyun-Ah. Kamu udah sampai di rumah, sayang?” tanya mama.

“Udah, ma. Emang kenapa?” sahut Hyun-Ah.

“Syukurlah. Mama lupa bawa dokumen penting ke kantor. Tolong anterin dokumennnya ke kantor ya, sayang. Dokumennya ada di tempat tidur mama. Tolong ya, sayang,” kata mama Hyun-Ah meminta tolong.

Hyun-Ah yang masih capek langsung menolak permintaan mamanya. “Suruh Jihyo saja, ma. Aku lagi sibuk belajar dan bikin tugas,” katanya berbohong. “Atau gak, suruh supir kantor ambil ke rumah.”

“Aduh, sayang. Jihyo tidak bisa dihubungi. Supir juga lagi pada keluar semua. Tolong mama ya, sayang. Dokumen itu penting sekali.”

Akhirnya Hyun-Ah menyanggupi untuk mengantarkan dokumen tersebut meskipun sepanjang perjalanan Hyun-Ah tidak berhenti menggerutu dan bersumpah untuk meminta imbalan pada mamanya.

. . .

Hyun-Ah langsung mengantarkan dokumen yang dibawanya ke ruangan mamanya. “Ini dokumennya, omma,” kata Hyun-Ah sambil menaruh dokumen itu di meja kerja mamanya.

“Terima kasih ya, sayang,” ucap mama Hyun-Ah berterima kasih lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Melihat ibunya sangat sibuk, Hyun-Ah langsung pamit pulang. Dia lupa akan sumpahnya di dalam perjalanan, dia akan minta imbalan.

Saat Hyun-Ah keluar dari ruangan ibunya, tidak sengaja ia berpapasan dengan Changmin. “Ah Hyun-Ah, kebetulan sekali kamu di sini. Ada yang mau kuberitahukan padamu,” kata Changmin.

“Apa?” tanya Hyun-Ah datar.

“Aku mungkin akan lembur jadi les mu aku tunda sampai jam 8 malam ya? Bisa kan?” kata Changmin.

Hyun-Ah memandang Changmin dengan tatapan kesal. “Terserah kau saja,” sahut Hyun-Ah lalu kembali ke rumahnya.

“Jihyo, kamu mau pesan apa?” tanya Hyungrim yang sedang memesan makanan cepat saji.

“Coke float aja,” jawab Jihyo lalu mencari tempat duduk untuk mereka berdua.

Secara tidak sengaja, Jihyo bertemu dengan Sungmin dan beberapa temannya yang sudah selesai makan.

“Ah, Jihyossi. Kau sendirian saja?” tanya Sungmin saat melihat Jihyo.

“Oh, tidak kok. Aku dengan temanku. Oppa sudah selesai?” sahut Jihyo.

“Iya. Aku pulang duluan ya, Jihyo. Kau jangan pulang malam-malam ya. Salam untuk keluargamu.”

Sungmin lalu pergi dengan teman-temannya dan digantikan Hyungrim yang membawa banyak makanan.

“Itu tadi Sungmin oppa kan? Pacar Hyun-Ah onni kan?” tanya Hyungrim pada Jihyo.

“Iya. Tampan ya? Onni ku beruntung sekali mendapatkannya ya?” kata Jihyo dengan penuh kagum. “Andai saja aku punya pacar sekeren Sungmin Oppa.”

Hyungrim tertawa mendengar ocehan Jihyo. “Jangan suka mimpi di siang bolong, Jihyo. Lebih baik minum coke float mu sana,” kata Hyungrim.

. . .

Saat jam dinding di ruang belajar menunjukkan jam 8 malam, Hyun-Ah sudah duduk manis di ruang belajar menunggu Changmin datang untuk memberikan les. Papa Hyun-Ah sengaja menyewa Hyun-Ah sejak beberapa bulan lalu untuk membantu Hyun-Ah dalam persiapan ujian akhir SMA dan tes masuk universitas.

Hyun-Ah belum lama duduk, Changmin datang dan mulai memberikan pelajaran matematika. Pelajaran yang cukup dikuasai oleh Hyun-Ah tapi entah kenapa malam ini rasanya Hyun-Ah tidak mengerti apa-apa. Dia tidak bisa konsentrasi meskipun sudah dipaksa.

“Oppa, lebih baik kau pulang saja. Aku sedang tidak mood belajar,” kata Hyun-Ah pasrah. Dia sudah tidak bisa memaksa lagi dirinya untuk belajar.

“Tidak, aku bertanggung jawab atas kelulusanmu. Kau harus belajar supaya bisa lulus,” sahut Changmin menolak perintah Hyun-Ah.

“Aku tidak mau,” kata Hyun-Ah.

“Jangan menyerah pada mood-mu. Kau harus mendorong dirimu untuk belajar lebih kuat,” kata Changmin mencoba memberi semangat tapi sayang tidak di saat yang tepat.

“Tidak mau!” teriak Hyun-Ah tiba-tiba. “Aku berusaha lebih keras agar lebih pintar dari Jihyo. Aku juga belajar berdandan agar lebih cantik dari Jihyo. Tapi kenapa Sungmin oppa lebih memilih Jihyo?!”

Emosi Hyun-Ah membuatnya bicara tidak karuan. Semua yang dia pendam jadi terungkap pada orang yang seharusnya tidak perlu tahu. Air matanya yang tidak bisa ditahan lagi akhirnya pun harus dilihat orang yang seharusnya tidak perlu melihat.

Changmin mencoba menenangkan Hyun-Ah dengan mengelus-elus kepala Hyun-Ah. “Hyun-Ah, ada satu hal di dunia ini yang gak bisa kamu paksakan. Yaitu cinta,” kata Changmin dengan serius. “Kalau kamu memaksa Sungmin untuk terus bersamamu padahal dia mencintai Jihyo, percaya padaku, kamu akan lebih menderita.”

Hyun-Ah tidak bereaksi. Dia hanya menangis. “Lebih baik kau pulang sekarang, Oppa. Aku ingin sendirian saja,” kata Hyun-Ah pelan.

“Baiklah kalau begitu. Hubungi aku kalau kau sudah tenang ya,” sahut Changmin dengan lembut. Changmin lalu pergi sambil membawa buku-bukunya.

Setelah Changmin pergi, Hyun-Ah tetap berada di ruang belajar untuk mencerna semua perkataan Changmin.

. . .

Tanpa sepengetahuan Hyun-Ah, Jihyo sedang berada di depan ruang belajar saat Hyun-Ah menumpahkan emosinya pada Changmin. Mendengar pacar kakaknya jatuh cinta pada dirinya membuat Jihyo syok. Jihyo langsung berlari masuk ke kamar orang tuanya dan menemui mamanya. “Omma. Omma. Ottoke? Ternyata Sungmin oppa mencintaiku. Bagaimana ini?” tanya Jihyo dengan panik.

“Kamu ngomong apa sih, Jihyo? Jelaskan pelan-pelan pada mama,” ucap sang ibu dengan kebingungan.

Jihyo lalu menceritakan apa yang dia dengar dari ruang belajar tadi. “Aku tadi gak sengaja dengar dari mulut Onni sendiri, Sungmin Oppa ternyata mencintaiku. Mereka pasti sudah putus sekarang dan itu karena aku. Gimana ini, Omma? Onni pasti membenciku.”

Mama Jihyo mencoba menenangkan anaknya. “Jangan berpikiran yang tidak-tidak seperti itu ah. Hyun-Ah itu sayang sama kamu, Jihyo.”

“Tidak, tidak. Onni pasti benci sekali padaku sekarang. Lihat saja akhir-akhir ini dia jadi temperamen, apalagi terhadapku. Ini semua pasti karena hal itu,” kata Jihyo ketakutan sampai hampir menangis. “Aku tidak mau dibenci Onni.”

Mama Jihyo lalu memeluk Jihyo agar anaknya itu lebih tenang. “Jihyo, onnimu bukan orang seperti itu. Temperamennya sekarang seperti itu mungkin karena dia masih syok. Sebentar lagi dia pasti akan kembali seperti semula. Percaya pada omma,” kata mama Jihyo dengan lembut.

. . .

Pagi ini, saat Hyun-Ah sedang mandi, Jihyo tiba-tiba masuk. “Aku mau mandi bersamamu, onni,” katanya.

“Kau jangan bercanda. Aku tidak mau,” kata Hyun-Ah dengan galak.

Jihyo tiba-tiba menangis, membuat Hyun-Ah merasa bersalah karena membentaknya. “Jihyo, kenapa kau menangis? Haduh. Jihyo, jangan nangis dong,” ucap Hyun-Ah.

“Kau membenciku kan? Kau benci padaku karena Sungmin oppa mencintaiku kan?” kata Jihyo sambil menangis sesenggukkan.

“Kau tahu darimana?” tanya Hyun-Ah kaget. Hyun-Ah hanya menceritakannya pada satu orang. Jadi kalau Jihyo tahu, berarti orang itu yang memberi tahu Jihyo. “Awas kau, Kyu,” ucap Hyun-Ah dalam hati.

“Aku tidak sengaja mendengarnya waktu Onni bicara dengan Changmin oppa,” jawab Jihyo sambil terisak. “Aku mohon, Onni. Kau jangan membenciku. Aku akan membuat diriku lebih jelek dan lebih bodoh dari siapapun, asal Onni tidak membenciku. Aku juga tidak akan dekat-dekat dengan Sungmin Oppa meskipun nanti dia mendekatiku.”

Melihat Jihyo begitu tulus mengatakan semuanya, hati Hyun-Ah tersentuh. Hyun-Ah malah jadi ikutan menangis karenanya. Hyun-Ah sadar apa yang dia lakukan salah. Hyun-Ah tidak seharusnya melampiaskan kekecewaannya pada Jihyo, yang justru tidak bersalah sama sekali.

“Maafkan aku, Jihyo. Aku tidak membencimu. Aku hanya. . .” Hyun-Ah tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menggambarkan perilaku buruk yang dia timpakan pada Jihyo.

“Tidak apa-apa. Aku tahu Onni kecewa. Onni boleh melampiaskan kekesalan Onni padaku asal jangan membenciku. Kita ini kan saudara, harus mendukung satu sama lain,” kata Jihyo yang sudah mulai berhenti menangis.

Hyun-Ah menangis lebih parah dari Jihyo sekarang. Hyun-Ah bahkan hampir tidak bisa bernapas. “Maafkan aku ya, Jihyo.”

Jihyo lalu memeluk Hyun-Ah dan berkata, “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Onni.”

. . .

Secara tidak sengaja, kedua orang tua Hyun-Ah dan Jihyo mendengarkan apa yang terjadi di dalam kamar mandi.

“Ada apa dengan mereka?” tanya ayah Hyun-Ah pada istrinya.

“Yang aku ceritakan semalam padamu, yobbo. Untunglah mereka bisa menyelesaikannya,” jawab mama Hyun-Ah.

“Jadi, hal itu juga yang membuat Hyun-Ah hampir tidak pulang dan bertemperamen tinggi akhir-akhir ini?” tanya papa Hyun-Ah.

“Ya, tampaknya begitu. Sungmin memutuskan Hyun-Ah karena jatuh cinta pada Jihyo. Kasihan anakku,” jawab mama Hyun-Ah sedih melihat Hyun-Ah.

“Sudahlah, Hyun-Ah akan mendapatkan yang lebih baik dari Sungmin nanti. Tenang saja. Biar ini jadi proses pendewasaannya,” ujar ayah Hyun-Ah dengan tenang dan bijaksana.

Ibu Hyun-Ah dan Jihyo lalu mengajak suaminya ke ruang makan untuk makan pagi, membiarkan kedua anak mereka menikmati waktu pribadi mereka. Nanti pun Hyun-Ah dan Jihyo akan menyusul untuk sarapan bersama.

. . .

Saat keluarga Song sedang sarapan, Changmin tiba-tiba datang. “Annyeonghaseyo,” sapanya padakeluarga Song.

“Annyonghaseyo, Changmin,” balas mama Hyun-Ah dengan ramah. Begitu juga dengan yang lainnya. Changmin sudah seperti keluarga Song tampaknya.

“Ayo, sini gabung makan pagi dengan kami,” ajak ayah Hyun-Ah.

“Terima kasih, ahjussi,” kata Changmin lalu duduk di sebelah Hyun-Ah.

Saat mereka semua sedang menikmati makan pagi, papa Hyun-Ah berbicara. “Mulai hari ini, kalian ke sekolah dengan Changmin ya? Urusan kantor papa semakin lama semakin menumpuk, gak ada waktu lagi mengantar kalian,” kata papa Hyun-Ah dengan ragu-ragu.

“Yaah, papa. Jadi sekarang tiap pagi kita cuman sempet sarapan sama-sama doang dong,” protes Jihyo, yang memang senang sekali jika papanya yang mengantar ke sekolah. Dia pasti akan pamer pada teman-temannya betapa tampan dan baik ayahnya.

Sedangkan Hyun-Ah yang tahu bahwa jika papa mengantar kami sekolah tiap pagi maka dia tidak akan punya waktu istirahat sebelum bekerja. Jadi, Hyun-Ah mengerti maksud ayahnya. “Oke, appa. Semoga kerjaan appa lebih cepat selesai,” kata Hyun-Ah.

“Loh? Onni kok setuju. Kalau appa tidak mengantarkan kita lagi ke sekolah aku tidak bisa pamer pada teman-teman kalau appa itu tampan,” sela Jihyo ikut-ikutan protes pada Hyun-Ah.

“Sudahlah, Jihyo. Kyu oppa juga bisa kamu pamerkan ke teman-temanmu. Dia tidak kalah tampan kok,” kata Hyun-Ah sambil tertawa karena melihat Jihyo mendengus kesal.

Setelah semua selesai makan pagi, Hyun-Ah pamit kepada kedua orang tuanya. “Appa, Omma, kami berangkat dulu ya,” kata Hyun-Ah sambil mencium pipi kedua orang tuanya diikuti oleh Jihyo.

“Iya, hati-hati ya, sayang,” sahut mama Hyun-Ah. “Changmin, bawa mobilnya hati-hati ya. Jangan ngebut.”

“Tentu saja, ahjumma,” ucap Changmin dengan sopan

Mereka bertiga lalu masuk ke dalam mobil dan berangkat ke sekolah.

. . .

Sepanjang perjalanan, Hyun-Ah tidak pernah berhenti tertawa mendengar lelucon-lelucon yang dilemparkan oleh Changmin dan Jihyo. Hyun-Ah bahkan sampai menangis saking lucunya.

“Kau sudah waras lagi ya, Hyun-Ah?” tanya Changmin saat melihat Hyun-Ah senyum-senyum sendiri mengingat leluconnya.

“Hahahahaha. Iya. Terima kasih ya, oppa,” jawab Hyun-Ah.

“Sama-sama. Aku senang kamu sudah kembali ceria,” sahut Changmin sambil mengacak-acak rambut Hyun-Ah dengan gemas.

. . .

Sungmin sudah lama menunggu kedatangan mobil Changmin di parkiran kampus mereka. Maka saat mobil itu datang, dia lega bukan main. Terutama saat Hyun-Ah dan Jihyo turun dari dalamnya.

“Annyeonghaseyo, oppa,” sapa Jihyo dan Hyun-Ah bersamaan lalu pergi ke sekolah mereka yang bersebelahan dengan kampus Changmin.

“Sungminssi! Kenapa tiap pagi kau harus selalu menungguku sih? Udah kayak apa aja,” tanya Changmin.

“Aku tidak menunggumu tahu tapi cewek-cewek yang kau bawa tiap hari,” jawab Sungmin dengan jujur.

“Kalau sekarang aku paham kenapa kau menunggu Jihyo tapi menunggu Hyun-Ah, buat apa?”

“Aku hanya mau memastikan keadaannya baik-baik saja setelah kami putus.”

Changmin tahu Sungmin mempunyai hati yang baik. Sungmin tetap merasa bertanggung jawab atas Hyun-Ah. Jika ada sesuatu yang buruk menimpa Hyun-Ah, itu mungkin saja karena Sungmin.

“Yaaah untungnya Hyun-Ah sudah membaik. Kau tidak perlu terlalu sering menampakkan wajahmu di depannya,” ucap Changmin.

“Iya, aku tahu. Dia sudah bisa tersenyum dan menyapaku. Dengan seperti itu saja, aku sudah lega,” sahut Sungmin. Changmin hanya tersenyum mendengarnya.

. . .

Setelah sekolah selesai, Hyun-Ah harus mengikuti pelajaran tambahan dari sekolah karena ujian kelulusan sudah di depan mata. Ditambah lagi les privat setiap malam. Hal ini membuat 3/4 hidup Hyun-Ah adalah BELAJAR.

“Kita pelajaran tambahan sampai jam berapa sih?” tanya Hyun-Ah pada Nara, teman sekelanya.

“Jam 5,” jawab Nara.

“Jam 5?!” seru Hyun-Ah kaget.

Kalau seperti itu, berarti begitu aku pulang hanya sempat mandi lalu belajar lagi dengan Kyu oppa. Sama sekali tidak ada waktu istirahat, pikir Hyun-Ah. Hyun-Ah hanya bisa menghela nafas membayangkan nasibnya.

“Aku capek sekali seperti ini, Hyun-Ah,” kata Nara tiba-tiba. “Begitu pulang, aku akan mengulang-ulang lagi pelajaran ini sampai tengah malam.”

“Hah? Tengah malam? Kenapa?” tanya Hyun-Ah kaget. Ternyata nasib Nara lebih mengenaskan daripada Hyun-Ah. Hyun-Ah begitu selesai les privat jam 9 atau 10 malam, langsung tidur.

“Kau tahu kan aku tidak terlalu pintar apalagi aku tidak punya uang buat les, jadi aku harus berjuang mati-matian sendirian,” jawab Nara dengan lesu.

Hyun-Ah selalu tidak tega melihat orang-orang seperti Nara. Karena itu, Hyun-Ah menawarkan Nara untuk les bersamanya. “Kau les privat denganku saja,” kata Hyun-Ah menawarkan bantuan.

“Les privat denganmu?” tanya Nara dengan bingung.

“Maksudku, les privat bersamaku. Aku punya guru yang pintar sekali. Dia bisa membuat kita cepat menguasai semua pelajaran,” kata Hyun-Ah mengoreksi tawarannya. “Dan yang paling penting, kau tidak perlu bayar.”

“Sungguh?!” seru Nara dengan semangat.

Hyun-Ah mengangguk-anggukan kepalanya dengan sungguh. “Tapi, aku harus bicara dulu dengan ayah dan guru lesku. Jika mereka setuju, aku akan mengabarimu ya.”

Saat itu juga Nara langsung memeluk Hyun-Ah. “Terima kasih banyak, Hyun-Ahssi.”

Hyun-Ah membalas pelukan Nara. “Sama-sama, Nara. Aku senang bisa membantumu,” ucap Hyun-Ah dengan tulus.

. . .

Jihyo sedang menunggu Hyun-Ah di parkiran bersama Changmin dan Sungmin sambil membaca komik.

“Mana kakakmu?” tanya Changmin pada Jihyo.

“Pelajaran tambahan,” jawab Jihyo singkat tanpa mengalihkan perhatian dari komiknya. Jihyo malah tertawa-tawa sendiri karena komiknya.

“Sampai jam berapa?” tanya Changmin lagi.

“Jam 5.” Jihyo masih belum mengalihkan perhatiannya.

Changmin mengambil komik tersebut lalu menegur Jihyo, “Pandang lawan bicaramu kalau diajak bicara, Jihyo.”

“Ah, oppa. Mianhaeyo. Tolong kembalikan komikku,” ucap Jihyo demi komik yang sedang berada di tangan Changmin segera pindah ke tangannya.

Changmin lalu menyerahkan kembali komik tersebut kepada Jihyo. “Ayo pulang,” kata Changmin.

“Lalu onni?” tanya Jihyo sambil memandang Changmin. Jihyo sudah mendapatkan komiknya kembali tapi tidak berani membacanya di depan Changmin. Dia takut komiknya diambil lagi.

“Oppa akan kembali menjemputnya nanti setelah mengantarkan kau pulang, Jihyo,” jawab Changmin lalu beralih ke Sungmin. “Sungminssi, kami pulang duluan ya. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa,” balas Sungmin. “Jangan lupa acara kita nanti malam.”

“Ok. Aku akan langsung ke tempatnya nanti.”

“Ok,” sahut Sungmin.

Sungmin lalu sengaja membukakan pintu mobil untuk Jihyo, yang ditanggapi dengan salah tingkah. “Terima kasih, oppa,” ucap Jihyo lalu masuk ke dalam mobil.

Setelah itu, Changmin pun langsung tancap gas pulang.

Jihyo agak merasa bersalah pada Hyun-Ah karena mau pintunya dibukakan oleh Sungmin. Sepanjang perjalanan, Jihyo dihantui perasaan tidak enak. “Oppa, apa Hyun-Ah onni tidak marah kalau melihat Sungmin oppa membukakan pintu untukku seperti tadi?” tanya Jihyo pada Changmin sebelum ia turun dari mobil.

“Dia tidak akan marah. Tenang saja. Dia sudah pulih kok,” jawab Changmin sambil tersenyum.

“Tapi aku sudah berjanji pada Onni tidak akan dekat-dekat dengan Sungmin Oppa. Masa iya Onni tidak akan marah?” kata Jihyo.

“Oppa yakin 100%!” sahut Changmin meyakinkan Jihyo.

“Oh, gitu ya? Syukurlah kalau begitu,” kata Jihyo lalu masuk ke dalam rumah sambil bertanya-tanya dalam hati, Aku heran kenapa Changmin Oppa begitu memahami Onni.

Saat Hyun-Ah sedang menunggu jemputan Changmin tiba-tiba Sungmin sambil membawa minuman kesukaan Hyun-Ah.

“Hai,” sapa Sungmin dengan kaku.

Hyun-Ah mencoba membalasnya dengan ramah, “Hai, oppa. Belum pulang?”

“Belum. Aku masih ada urusan di kampus. Kamu lagi menunggu Changmin ya?” tanya Sungmin mencoba rileks.

“Iya,” jawab Hyun-Ah. Dia tidak tahu harus berkata apalagi.

Sungmin lalu duduk di sebelah Hyun-Ah dan menyodorkan minuman yang dia bawa pada Hyun-Ah. “Untukmu,” kata Sungmin pada Hyun-Ah.

“Terima kasih,” sahut Hyun-Ah sambil menerima minuman itu dan membukanya.

“Kau pasti sangat lelah belajar untuk kelulusanmu ya?” tanya Sungmin berusaha mencairkan suasana kaku di antara mereka berdua.

“Iya begitulah. Untung saja Kyu oppa mau membantuku.”

“Ya. Kau beruntung mendapatkan guru secerdas Kyu.”

Hyun-Ah mulai menegak minumanku sambil mendengarkan Sungmin oppa bicara. Setelah berbicara ngalor ngidul, Sungmin sampai juga pada inti pembicaraannya. Dia meminta maaf karena telah menyakiti Hyun-Ah. “Maaf aku sudah mengecewakanmu,” ucap Sungmin dengan tulus. “Aku tidak pernah tenang setelah berpisah denganmu tapi perasaanku tidak bisa aku paksakan.”

“Iya, aku mengerti kok, Oppa. Kyu oppa juga bilang seperti itu padaku. Tidak baik memaksakan perasaan seseorang,” kata Hyun-Ah sambil tersenyum. “Lagipula, aku sudah tidak apa-apa, Oppa. Tenang saja.”

“Terima kasih ya, Hyun-Ah,” ucap Sungmin.

Hyun-Ah tersenyum manis lalu berkata, “Meskipun Jihyo bilang dia tidak mau dekat-dekat denganmu tapi aku yakin kalian akan bahagia kalau bersama. Aku mendukung kalian.”

“Aku juga yakin kau akan mendapatkan yang lebih baik dari aku, Hyun-Ah,” balas Sungmin.

Hyun-Ah tidak tahu darimana dia berani berkata akan mendukung Jihyo bersama dengan Sungmin. Tapi Hyun-Ah tahu itu adalah kejujuran dari dalam hatinya. Perkataan Changmin begitu membekas di hatinya. Begitu juga dengan persaudaraan Hyun-Ah dengan Jihyo. Kalau memang Jihyo nantinya akan bahagia bersama Sungmin, Hyun-Ah akan ikut bahagia.

Hyun-Ah lalu berdiri karena melihat mobil Changmin yang sudah datang menjemputnya. “Aku pulang duluan ya, Oppa,” pamit Hyun-Ah pada Sungmin.

“Oke. Hati-hati ya. Bilang padaku kalau Kyu membahayakan nyawamu,” sahut Sungmin sambil tertawa.

Hyun-Ah jadi ikutan tertawa. “Oke, oppa!” kata Hyun-Ah lalu masuk ke dalam mobil. Hyun-Ah tidak lupa melambaikan tangan pada Sungmin saat mobil sudah mulai berjalan.

. . .

Hyun-Ah sempat ragu untuk menceritakan pada Changmin apa yang baru saja dia bicarakan dengan Sungmin tapi akhirnya Hyun-Ah bercerita pada Changmin. “Kalau Sungmin oppa benar-benar jadian sama Jihyo, gimana denganku ya?” tanya Hyun-Ah pada Changmin yang sedang menyetir mobil.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Changmin.

“Tadi saat aku menunggu oppa datang, aku ngobrol dengan Sungmin Oppa. Tanpa sengaja aku berkata aku akan mendukungnya jika dia jadian dengan Jihyo,” jawab Hyun-Ah.

“Kalau begitu, kau tidak akan kenapa-kenapa. Kau justru akan bahagia kalau mereka benar-benar bersama,” kata Changmin.

“Kenapa Oppa bisa begitu yakin?” tanya Hyun-Ah.

“Aku hanya memiliki keyakinan yang terlalu besar padamu,” jawab Changmin sambil tersenyum.

Hyun-Ah tidak mengerti apa yang dikatakan Changmin tapi hal itu membantunya untuk lebih percaya diri.

Hyun-Ah segera mandi dan makan malam begitu sampai di rumah. Sedangkan Changmin memilih untuk pulang dulu ke rumahnya dan akan datang ke rumah Hyun-Ah jam 7 malam.

“Onni, aku ikut kamu ke ruang belajar ya? Aku takut sendirian di kamar,” kata Jihyo saat Hyun-Ah sedang mempersiapkan buku-buku pelajarannya.

“Tumben. Ada apa memangnya?” tanyaku keheranan karena Jihyo tidak biasanya seperti ini.

“Biasa, onni. Film-film horor itu membuatku takut,” jawabnya sambil menunjuk tumpukan dvd di depan tv.

Hyun-Ah hanya tertawa melihatnya. Jihyo memang akan takut sendirian kalau habis nonton film horor. “Baiklah, tapi kau harus tenang ya. Otakku sudah hampir pecah karena belajar seharian jadi butuh konsentrasi tinggi nanti,” kata Hyun-Ah.

Jihyo pun berjanji tidak akan mengganggu walaupun Hyun-Ah agak menyangsikannya mengingat Jihyo tipe orang yang sama sekali tidak bisa diam.

. . .

Tepat jam 7 malam, Changmin sudah berada di ruang belajar, siap dengan materi yang akan dia sampaikan pada Hyun-Ah. Hyun-Ah segera duduk di depan Changmin sedangkan Jihyo duduk di samping Hyun-Ah.

“Wah, Kyu oppa lebih rapi dari biasanya. Lebih wangi juga. Oppa mau kencan ya?” ucap Jihyo dengan polos begitu ia duduk.

“Hahaha. Tidak kok. Aku hanya akan pergi karaoke dengan teman-temanku nanti,” sahut Changmin.

“Aah, asiknya. Aku boleh ikut tidak, oppa?” tanya Jihyo. “Boleh ya? Ya? Ya?”

“Kalau kamu ikut, kakakmu di rumah sama siapa?” tanya Changmin.

“Onni, kau ikut juga ya? Ya? Ya?” kata Jihyo kepada Hyun-Ah. “Aku mohon.”

Hyun-Ah tahu jadinya akan seperti ini. Jihyo hampir selalu berhasil membuat dirinya tidak belajar terutama jika otakku sudah terlalu penuh. “Kau itu sudah janji tidak akan menggangguku tadi,” tegur Hyun-Ah.

“Iya, aku tahu, Onni. Maafkan aku. Tapi kan tidak ada salahnya kalau kita main setelah onni selesai belajar. Iya  kan?”

Jihyo hampir berhasil mempengaruhi Hyun-Ah. “Memangnya kita boleh ikut, Jihyo? Itu kan acara oppa dan teman-temannya. Harusnya kamu tanyakan itu dulu pada Kyu oppa,” kata Hyun-Ah yang masih berusaha agar keadaan mendukungnya untuk belajar.

“Sejujurnya, ini acara bebas. Siapa saja boleh datang,” sahut Kyu oppa.

Hancur sudahlah pertahanan Hyun-Ah untuk terus belajar. Dia terpancing untuk bersenang-senang. “Baiklah, tapi selesai aku belajar,” kata Hyun-Ah.

Jihyo mengangguk-angguk senang dan secara ajaib, Jihyo sama sekali tidak mengganggu Hyun-Ah sampai Hyun-Ah selesai belajar. Jihyo baru bergerak ketika Hyun-Ah menutup buku pelajaran.

“Ayo, onni. Kita siap-siap,” kata Jihyo sambil menarik Hyun-Ah. Dengan hati senang, Hyun-Ah dan Jihyo langsung ganti baju dan berdandan. Setelah itu, mereka mengikuti Changmin masuk ke dalam mobil.

. . .

Dalam hitungan menit, Hyun-Ah dan Jihyo serta Changmin sudah sampai di tempat karaoke. Jihyo yang berdandan sangat cantik langsung mendapatkan perhatian dari teman-teman Changmin, terutama Sungmin.

Sedikit ada rasa sakit hati dalam hati Hyun-Ah saat melihat Sungmin menatap Jihyo dengan kagum tapi Hyun-Ah tidak membiarkan rasa itu menghancurkannya. Hyun-Ah berusaha untuk tetap tenang.

“Ayo, kita masuk. Yang lain sudah menunggu di lantai 3,” kata salah satu teman Changmin dan Sungmin.

Changmin menggandeng Hyun-Ah masuk. “Jangan jauh-jauh dariku. Aku bisa gila kalau kau hilang,” kata Changmin.

Hyun-Ah tertawa karena mendengar ucapan Changmin yang agak berlebihan. Hyun-Ah lalu beralih pada Jihyo, yang sudah berbaur dengan Sungmin dan teman-temannya. “Kyu oppa, apa Jihyo akan baik-baik saja?” tanya Hyun-Ah khawatir.

“Aku tetap mengawasinya. Kau tenang saja,” jawab Changmin. Hyun-Ah percaya Changmin akan mengawasi Jihyo.

Saat Hyun-Ah tiba di lantai 3, dia sadar ini bukan hanya sekedar karaoke tapi juga pesta. Makanan dan minuman tersedia di setiap tepi ruangan. Orang-orang yang hadir pun tampak seperti menikmati sebuah pesta bukan karaoke. “Ini sih bukan karaoke tapi pesta,” gumam Hyun-Ah.

“Hyun-Ah, kau mau berdiri sampai kapan?” tanya Changmin yang telah duduk lebih dahulu.

“Ah, iya,” sahut Hyun-Ah lalu duduk di sebelah Changmin, yang memang telah disediakan Changmin untuknya.

Setelah duduk, Hyun-Ah mencari-cari Jihyo tapi matanya tidak berhasil menemukan Jihyo. Ruangannya terlalu ramai. Akhirnya, Hyun-Ah bertanya pada Changmin. “Jihyo mana?”

Changmin menunjuk ke arah kumpulan yang sedang menyanyi dan menari. “Dia di sana bersama Sungmin,” jawab Changmin.

Hyun-Ah melihat ke arah kumpulan itu dan tampak sekali Jihyo sedang menyanyi dan menari dengan gembira. Sedangkan Sungmin menatap Jihyo dengan terpesona. Hyun-Ah langsung memalingkan wajahnya saat melihat Sungmin ikut menyanyi dan menari dengan Jihyo.

Changmin melihat Hyun-Ah berubah murung setelah melihat Sungmin dan Jihyo. Karena itu, Changmin lalu merangkul Hyun-Ah dan mengajaknya makan. “Kamu mau makan apa? Spaghetti? Kebab? Bulgogi? Atau apa?” tanya Changmin saat mereka sudah berada di bagian makanan.

Hyun-Ah melihat makanan-makanan yang tersedia tampaknya enak sekali. Hyun-Ah ingin mencicipi semuanya tapi perutnya pasti tidak akan cukup. Karena itu, dia hanya mengambil spaghetti dan kebab. Sedangkan Changmin mengambil doubouki.

“Makanannya enak sekali, Oppa,” kata Hyun-Ah. “Kalian semua patungan untuk mengadakan acara ini?”

Changmin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Sejujurnya aku tidak tahu ini acara apa. Aku hanya diundang makanya aku datang,” jawab Changmin.

“Oppa bilang tadi ini karaoke tapi menurutku ini seperti pesta,” kata Hyun-Ah.

“Mungkin juga. Aku juga tidak terlalu paham,” sahut Changmin.

Saat sedang menikmati makanannya, Changmin didaulat teman-temannya untuk bernyanyi. Dengan senang hati, Changmin menyanggupinya. “Kau mau ikut menyanyi?” tanya Changmin pada Hyun-Ah.

“Ah, tidak. Suraku tidak bagus,” jawab Hyun-Ah menolak.

Walapun Hyun-Ah menolak, Changmin tetap menariknya untuk bernyanyi bersama. Hyun-Ah pun sudah tidak bisa berkutik lagi.

. . .

Saat Hyun-Ah sedang asik bernyanyi, mamanya yang berada di luar kota menelepon. Sayangnya Hyun-Ah tidak mengetahui ada telepon.

“Hyun-Ah dan Jihyo kenapa tidak ada yang mengangkat hape ya, Pa? Telepon rumah juga tidak ada yang angkat. Mereka kemana?” tanya mama Hyun-Ah pada suaminya.

“Sudah tidur paling,” jawab papa Hyun-Ah sambil merapikan pakaiannya.

“Gak mungkin. Hyun-Ah harusnya masih belajar jam segini,” sahut  mama Hyun-Ah yang melihat jam di tangannya belum menunjukkan waktu tidur anaknya.

“Mungkin tidak dengar atau apa. Sudah, jangan terlalu cemas. Nanti kita telepon mereka lagi.”

Setelah yakin dengan penampilannya, sang ayah mengajak istrinya pergi. “Ayo, kita tidak boleh membuat tuan Kang Gain menunggu,” kata papa Hyun-Ah.

Mama Hyun-Ah mengambil tasnya dan mengikuti suaminya keluar dari kamar hotel.

. . .

Demi apapun, tidak ada yang boleh menukar hari ini! Hyun-Ah terlalu senang sampai lupa bahwa harus sekolah besok pagi. “Jihyo, ayo kita pulang. Sudah malam. Besok kita harus sekolah,” ajak Hyun-Ah pada Jihyo yang sedang asik ngobrol dengan teman barunya.

“Bentar lagi ya, onni? Kyu oppa juga belum mau pulang. Ya kan, oppa?” ucap Jihyo sekaligus memastikannya pada Changmin.

“Hah? Apa?” seru Kyu oppa yang ternyata tidak mendengar apa yang baru dikatakan Jihyo.

“Pulang. Aku mau pulang. Besok harus sekolah,” kataku sebelum didahului Jihyo.

“Oh iya, maaf aku lupa,” sahut Changmin lalu pamit pada teman-temannya.

Melihat Changmin sudah berpamitan, Hyun-Ah dan Jihyo juga ikut-ikutan pamit pada mereka semua. “Lain kali kalian ikut lagi ya. Senang mengenal kalian. Sampai jumpa,” kata salah satu teman Changmin pada Hyun-Ah dan Jihyo.

“Ayo kita pulang,” kata Changmin pada Hyun-Ah dan Jihyo. Hyun-Ah dan Jihyo mengikuti Changmin ke tempat parkir mobil. Sungmin juga ada bersama mereka.

Hyun-Ah tahu Sungmin hanya ingin mengantarkan Jihyo sampai ke mobil dengan selamat. Dia juga tahu dirinya tidak boleh cemburu. Dia sudah berkomitmen untuk melepaskan Sungmin sepenuhnya.

. . .

Changmin langsung pulang ke rumahnya begitu dia sudah mengantar kami sampai di rumah dengan selamat. Hyun-Ah dan Jihyo pun segera masuk dan istirahat. Acara malam mereka ini ternyata cukup menguras energi.

Jihyo segera terlelap di kasurnya. Sedangkan Hyun-Ah tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Akhirnya Hyun-Ah memutuskan untuk minum saja di dapur. Sambil meneguk air putih hangat, Hyun-Ah mengecek pesan masuk di telepon rumah. Ternyata ada satu pesan dari mama.

“Hyun-Ah, Jihyo. Kalian kemana? Kok telepon gak diangkat? Hyun-Ah, jangan lupa belajar ya, nak. Besok kamu Tryout loh. Nanti kalau sempat, mama telpon lagi.” suara mama terdengar jelas dari speaker telpon dan menggema jelas di otakku.

“Matilah aku! Bagaimana aku bisa lupa kalau besok aku Tryout? Aku belum belajar sama sekali,” kata Hyun-Ah dalam hati. Andai try out bisa diundur.

Hyun-Ah lalu segera menyiapkan bahan-bahan tryout untuk besok dan mempelajari sekuat-kuatnya.

 

-to be continued-

@gyumontic