Changmin sudah terlelap saat tiba-tiba hapenya berdering di jam 2 pagi. Dia melihat nama Song Hyun-Ah di layar hapenya. Changmin pun langsung mengangkatnya.

“Oppa, oppa kau harus membantuku,” ucap Hyun-Ah diiringi isak tangis.

Mendengar Hyun-Ah menangis, Changmin langsung panik. Dia mengira ada sesuatu terjadi di rumah Hyun-Ah. “ada apa, Hyun-Ah?” tanya Changmin.

“Oppa, aku lupa kalau besok aku tryout. Aku belum belajar. Tolong bantu aku. Kesini, ajari aku. Aku mohon,” jawab Hyun-Ah dengan nada sangat memelas. Dia hampir putus asa karena tidak bisa melahap semuanya dalam semalam.

Changmin, yang merasa bertanggung jawab dengan kelulusan Hyun-Ah, tanpa diminta dua kali langsung meluncur ke rumah Hyun-Ah.

Sebelum pergi, dia pamit kepada ibunya. “Omma, aku pergi dulu ya. Ada gawat darurat yang harus segera aku tangani.”

“Pagi-pagi buta begini? Kayak dokter aja. Emang ada apa sih?” tanya mama Changmin setengah sadar dari tidurnya.

“Muridku butuh bantuan,” jawab Changmin sambil mencium kening omma-nya lalu pergi ke rumah Hyun-Ah. Sedangkan, omma Changmin kembali terlelap.

. . .

Hyun-Ah langsung menyuruh Changmin oppa masuk ke ruang belajar untuk mengajarinya. “Aku tidak paham dengan soal no.8. Aku sudah berulang kali menghitungnya tapi tidak ketemu jawabannya,” kata Hyun-Ah sebal.

Changmin menatap soal itu lalu menatap Hyun-Ah dan berkata, “Kerjakan lagi ulang semuanya dengan tenang. Tidak usah terburu-buru.”

“Kerjakan ulang? Mana sempat. Masih banyak yang harus aku pelajari,” sahut Hyun-Ah terkejut.

“Kalau begitu, yang kau tidak pahami saja.”

Hyun-Ah menuruti semua perkataan Changmin oppa. Dia bisa mengerjakan semua soal dengan lancar walaupun masih ada beberapa yang salah.

“Kau hanya panik karena diburu waktu. Kalau kau tenang, bisa kau kerjakan kan?” kata Changmin oppa pada Hyun-Ah sambil menilai pekerjaan gadis itu. “Sekarang, bahan berikutnya.”

Changmin oppa membantu Hyun-Ah belajar hingga jam 5 pagi. Karena itu, tidak ada lagi bahan try out yang tersisa dan Hyun-Ah siap menghadapi try out sebentar lagi.. . .

Omma Hyun-Ah memencet nomor hape anak tertuanya dan langsung tersambung dalam beberapa detik. “Selamat pagi, Nak. Sudah siap tryout hari ini?” tanyanya pada Hyun-Ah.

“Pagi, omma. Aku sudah siap. Doakan semoga berhasil ya, ma,” sahut Hyun-Ah.

“Pasti, sayang. Mana Jihyo?” tanya mama Hyun-Ah. Dia mencari putri bungsunya.

“Masih tidur. Dia kan libur hari ini,” jawab Hyun-Ah.

Begitu telepon ditutup, Hyun-Ah langsung pergi ke sekolah agar dia tidak telat mengikuti tryout.

. . .

Changmin melihat Jihyo sedang asik makan kue sambil menonton kartun ketika dia tiba di rumah Jihyo. “Kakakmu tadi berangkat ke sekolah dengan siapa?” tanya Changmin.

“Gak tahu. Aku masih tidur tadi,” jawab Jihyo tanpa memalingkan perhatiannya dari tivi.

“Biasanya pulang jam berapa kalau tryout?” tanya Changmin lagi.

“Jam 9 atau 10.”

Changmin menghampiri tivi lalu mematikannya. “sudah dari dulu aku bilang. Perhatikan lawan bicara kalau diajak ngomong,” tegurnya.

“Iya, iya. Maafkan aku, oppa,” ucap Jihyo lalu menyalakan tivinya kembali dan tidak mempedulikan kepergian Changmin.

. . .

Kedatangan Changmin disambut dengan manis oleh Sungmin. “Selamat pagi,” sapa Sungmin dengan manis seolah-olah Changmin adalah seorang gadis.

“Sungminssi, aku sedang tidak membawa gadis-gadis itu jadi jangan bersikap seperti itu. Aku geli melihatnya,” ucap Changmin dengan tegas.

“Aku tahu tapi maket presentasiku ada di bagasi mobilmu. Aku hanya takut kau akan merusaknya,” sahut Sungmin.

“Seharusnya aku rusak dari tadi. Huah.”

Changmin lalu membuka bagasi mobilnya dan menyuruh Sungmin mengambil maket yang dimaksud. Setelah itu, mereka baru masuk kelas diskusi dan presentasi.

. . .

Seorang wanita dengan tinggi semampai dan pakaian yang modis tiba-tiba datang menghampiri Changmin. Wanita itu langsung duduk di sebelah Changmin.

“Ada apa kau tiba-tiba datang kesini, Eun Ji?” tanya Changmin dengan dingin pada wanita itu.

“Aduh, Changmin. Kau bisa tidak sih tidak galak-galak padaku? Aku hanya ingin bertemu kau kok, tampan,” jawab Eun Ji merayu.

Changmin menatap Eun Ji dengan aneh. “Maaf, aku sedang sibuk,” kata Changmin sambil berdiri dari tempatnya.

“Kau mau kemana? Menjemput anak bos mu ya?” tanya Eun Ji berusaha menunda kepergian Changmin.

“Bukan urusanmu!” Changmin pun segera pergi meninggalkan Eun Ji.

“Cih, kau itu magang di kantor akuntan atau jadi sopir pribadi sih?!” ucap Eun Ji setelah Changmin pergi.

. . .

Changmin mampir dulu ke kantor ayah Hyun-Ah sebelum mengantar Hyun-Ah pulang. “Tunggu sebentar ya. Aku mau mengantar laporan ini,” kata Changmin.

“aku ikut, oppa,” ucap Hyun-Ah sambil menyusul Changmin masuk ke dalam kantor.

Hyun-Ah melihat karyawan ayahnya sibuk bekerja dengan komputernya masing-masing dan tumpukan kertas. Ada beberapa mereka terlihat lesu dan pucat.

“Kerja di sini capek ya, onni?” tanyaku pada salah satu karyawan.

“Kerja dimana pun pasti capek, Hyun-Ah. Haha. Nanti kamu juga ngalamin kok,” jawabnya.

Changmin sudah selesai urusannya. Karena itu dia langsung mengajak Hyun-Ah pulang.

“Oppa, kau harus membantuku belajar. Aku mau meneruskan kantor appa. Kalau aku berhasil, kamu akan jadi partnerku!” kata Hyun-Ah begitu masuk mobil.

“Haha. Bagus! Aku pasti membantumu. Ngomong-ngomong gimana tryout mu tadi?” sahut Changmin.

“Lancar jaya, oppa. Ya, walaupun ada beberapa yang tidak bisa tapi sedikit kok. Terima kasih ya, oppa.”

Changmin oppa menggangguk sambil tersenyum manis.

. . .

Sebelum jam makan siang, Hyungrim menjemput Jihyo dengan supirnya. Hyungrim mengajak Jihyo untuk menemaninya ke apgujeong. Hyungrim mau membeli kado buat pacarnya.

“Jihyo, menurutmu Jonghyun enaknya dikasih apa ya?” tanya Hyungrim.

“Kasih jam tangan kek atau baju aja,” jawab Jihyo.

“itu mah biasa banget, Jihyo. Yang lebih berkesan dong,” ujar Hyungrim menolak saran Jihyo.

“Terserah kamu, Hyungrim. Kasih bola basket atau mobil aja sekalian,” sahut Jihyo kesal.

“Aduh, Jihyo jangan marah dong. Tenang, tenang. Idemu bagus kok. Kita lihat nanti apa yang bagus saja deh.”

Selama berjam-jam, Hyungrim memilih-milih. Dia akhirnya membeli jaket, jam tangan dan sepatu untuk Jonghyun. Jihyo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa banyak uang yang dihabiskan Hyungrim.

“Hyungrim, aku lapar. Ayo makan dulu,” ajak Jihyo.

“Iya, iya,” sahut Hyungrim sambil membayar sepatu, kado terakhir yang dia beli. Hyungrim lalu menggandeng Jihyo sampai ke salah satu restoran.

“Itu Sungmin oppa bukan sih?” tanya Hyungrim pada Jihyo saat mereka sedang makan.

“Mana?” Jihyo mencari-cari sosok Sungmin.

Hyungrim menunjuk sosok pria yang sedang masuk ke dalam restoran.

“Sungmin oppa!” seru Jihyo.

Sungmin yang mendengar namanya dipanggil langsung mendekati yang memanggilnya. “Jihyo ah. Kebetulan sekali kita bertemu. Ada apa ke apgujeong?” ujar Sungmin.

“Haha, aku hanya menemani Hyungrim membeli kado buat pacarnya, oppa. Oppa ada apa kesini?” tanya Jihyo.

“Aku mau beli tas untuk omma ku tapi mau makan dulu. Lapar. Hahaha,” jawab Sungmin.

“Oppa, kau sendirian? Kalau iya, duduk sama kami saja,” sela Hyungrim.

“Ide bagus,” sahut Sungmin. Sungmin pun akhirnya makan bersama Hyungrim dan Jihyo. Baru setelah makan, Sungmin membeli tas sedangkan Jihyo dan Hyungrim pulang.

. . .

Papa dan mama Hyun-Ah tiba kembali di Seoul malam hari tepat setelah Changmin selesai memberikan les buat Hyun-Ah. Changmin pun langsung disuruh masuk ke dalam ruangan papa Hyun-Ah.

“Ini gaji kamu bulan ini sekaligus tambahan karena sudah mau menjaga kedua anak saya. Terima kasih banyak ya, Changmin,” kata papa Hyun-Ah sambil menyodorkan satu amplop yang penuh dengan uang.

“Sama-sama, ahjussi. Terima kasih banyak juga atas kesempatan yang sudah ahjussi berikan pada saya,” sahut Changmin lalu mengambil amplop itu dengan sopan.

Changmin sudah mau pamit pulang tapi papa Hyun-Ah menahannya. “Tunggu sebentar, Changmin. Masih ada yang mau saya bicarakan,” ujar papa Hyun-Ah.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, ahjussi?” tanya Changmin.

“Iya, mulai besok kamu saya tugaskan ke Incheon. Kamu akan mengaudit perusahaan Tuan Kang Gain bersama karyawan yang lain,” jawab papa Hyun-Ah.

“Bukan saya gak mau, ahjussi, tapi saya kan masih magang lagipula saya ada kuliah,” ujar Changmin menolak.

“Astaga. Saya lupa kamu masih kuliah. Maaf, maaf. Kalau begitu kamu pergi ke sana setiap selesai kuliah. Soal transport dan makan, saya bisa siapkan.”

Changmin bingung bagaimana menanggapi tawaran tersebut. Itu berarti dia tidak bisa lagi memberi les buat Hyun-Ah.

“Terus bagaimana dengan les Hyun-Ah, ahjussi?” tanya Changmin yang lebih mencemaskan Hyun-Ah.

“Nanti aku akan mencari guru les baru saja untuknya,” jawab papa Hyun-Ah.

“Ah, tidak perlu, ahjussi. Aku bisa mengundurnya sampai jam 9, ahjussi. Selesai dari Incheon, aku akan langsung mengajarnya.”

Papa Hyun-Ah pun langsung menyetujuinya.

. . .

Changmin segera menemui mamanya begitu ia sampai di rumah. Tapi dia tidak hanya bertemu dengan mamanya. Dia juga bertemu dengan ayahnya, yang sudah lama meninggalkannya.

“Annyeonghaseyo,” sapa Changmin dengan kaku.

“Ah, annyeonghaseyo, Changmin. Sudah pulang rupanya. Apa kabar?” sahut ayahnya.

“Baik,” ujar Changmin singkat.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya ayahnya penuh perhatian.

“Lancar-lancar saja.”

papa Changmin lalu menawarkan pekerjaan untuk Changmin. “Sebentar lagi, kau akan lulus. Sebaiknya kau langsung kerja di perusahaan ayah saja. Kau harus menggantikanku,” kata ayahnya.

Changmin tidak pernah bermimpi menjadi penerus ayahnya karena dia tidak pernah suka dengan usaha ayahnya. Ayahnya selalu pergi meninggalkan Changmin dan ibunya karena kesibukan yang sangat menguras waktu. Karena itu juga, Changmin tidak pernah bisa dekat dengan ayahnya sendiri.

“Ah, aku belum memikirkan hal itu,” kata Changmin dengan sopan.

“Oh ya? Tapi aku dengar dari ibu kau sudah magang di KAP Song Jung Su. Aku yakin kau pasti dapat banyak pengalaman di sana,” kata ayahnya lagi.

“Oh, aku belum lama magang di sana jadi belum ada pengalaman apa-apa,” sahut Changmin.

“Tapi itu bisa jadi dasar buat bekerja di perusahaan ayah,” ujar ayahnya lagi.

“Akan aku pikirkan lain kali,” sahut Changmin lalu berbalik menuju kamarnya.

Dia merasa sebal dengan ayahnya yang selalu seenaknya. Tidak pernah ingat keluarga jika sudah berbisnis. Sekalinya pulang, bisnis pun dibawa-bawa ke rumah.

. . .

Sungmin sedang sibuk membuat power point untuk presentasinya besok. Tiba-tiba hapenya berbunyi. Changmin meneleponnya. “Oi, ada apa telpon malem-malem?” tanya Sungmin.

“Sori ganggu, aku boleh menginap di rumahmu malam ini?” sahut Changmin.

“Boleh sih tapi kasian omma mu di rumah sendirian,” ujar Sungmin.

“Appa ku sudah pulang. Aku malas bertemu lama-lama dengannya. Sebentar lagi aku akan sampai ke rumahmu,” kata Changmin tanpa mendapat persetujuan lebih lanjut dari Sungmin.

Sungmin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa menyiapkan tempat tidur buat Changmin di kamarnya.

. . .

Hyun-Ah dan Jihyo segera menyusul appa dan ommanya yang sudah menunggu di dalam mobil. Mereka hendak pergi ke sekolah.

“Kenapa Changmin oppa tidak mengantar kami ke sekolah lagi?” tanya Hyun-Ah yang sudah beberapa hari tidak diantar oleh Changmin.

“Dia sedang sibuk. Papa menyuruhnya bolak-balik ke Incheon. Mungkin dia butuh istirahat,” jawab papa Hyun-Ah.

“kenapa papa suruh ke sana? Kasian, pa. Dia kan masih kuliah,” sahut Hyun-Ah.

“Mau gimana lagi? Papa yakin dia yang mampu,” balas tuan Song. “Karena itu juga jadwal les mu jadi jam 9 malam ya, Hyun-Ah.”

“Apa?! Kenapa malam sekali?” protes Hyun-Ah.

“Kalau kamu keberatan, papa bisa cari guru baru.”

Hyun-Ah langsung menolak tawaran papanya dengan tegas. Lebih baik dia tetap les dengan Changmin oppa dibanding harus menyesuaikan diri lagi dengan guru baru.

“Oh ya, pa. Ada temanku yang tidak bisa menyewa guru untuk mengajari materi-materi pelajaran kami. Boleh dia gabung denganku?” tanya Hyun-Ah saat teringat Nara yang tidak bisa les.

“Boleh asal dia tidak mengganggumu,” jawab ayahnya.

“Terima kasih banyak ya, appa,” ujar Hyun-Ah sambil mencium pipi appanya.

Tidak lama kemudian, Jihyo dan Hyun-Ah sudah sampai di sekolah dengan selamat.

. . .

Nilai tryout akan diumumkan hari ini dan pemilik nilai yang tertinggi akan diberikan hadiah oleh sekolah. Hyun-Ah gak sanggup melihat nilainya sendirian. Karena itu, dia mengajak Jihyo untuk menemaninya.

“Wah, Hyun-Ah hebat ya. Nilainya meningkat. Prestasinya juga semakin bagus,” kata salah satu teman Hyun-Ah tanpa tahu bahwa Hyun-Ah berada di sekitar situ juga.

Hyun-Ah yang tidak sengaja mendengarnya hanya tersenyum senang. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengganggu kesenangannya.

“Ya jelaslah nilainya bagus-bagus. Appanya kan punya banyak uang untuk menyogok sekolah,” seru Nara. Hyun-Ah tidak menyangka ternyata Nara menusuknya dari belakang. Hyun-Ah hampir saja menamparnya kalau tidak didahului Jihyo.

“Heh! Kalo ngomong tuh jangan asal ya. Kakakku bisa seperti itu karena usahanya sendiri!” tegur Jihyo dengan keras lalu mengajak Hyun-Ah pergi.

“Kau tahu, onni? Kalau aku tidak ingat ini sekolah, udah aku tampar habis dia! Ngomong kok asal banget!” seru Jihyo mengekspresikan kekesalannya.

Hyun-Ah juga masih kesal tapi dia berusaha tidak memanaskan emosi Jihyo, “Sudah. Tenang saja. Tapi jujur saja, onni senang tadi kau menegurnya. Kau tahu, dia itu teman kakak yang mau kakak ajak les bersama.”

“Orang itu, kak?! Untung tadi kita dengar apa yang dia omongin, jadi kita tau aslinya. Kalau aku jadi kamu sih, gak bakalan aku ajak!” Emosi Jihyo semakin tinggi.

“Tapi yang penting, nilai onni ada peningkatan. Gak sia-sia belajar sama Changmin oppa,” kata Hyun-Ah senang bukan main. “Onni mau memberitahukan Changmin oppa dulu ya.”

Hyun-Ah lalu pergi menemui Changmin oppa di kampusnya.

. . .

Baru saja Jihyo masuk ke dalam kelas tapi dia sudah harus keluar lagi karena dipanggil oleh wali kelasnya.

“Ada apa, seosangnim?” tanya Jihyo dengan sopan.

“Saya dengar, tadi kamu memarahi Nara, siswi kelas 12 ya? Ada apa emangnya?” tanya wali kelas Jihyo.

“Gak marah sih, bu. Saya cuman negur dia aja abisnya omongannya gak diatur banget, bu!” jawab Jihyo mencoba menjelaskan.

“Emang Nara ngomong apa, Jihyo?” tanya wali kelasnya ingin keterangan lebih lanjut.

“Dia bilang prestasi onniku meningkat karena appa menyogok sekolah. Adek mana yang gak bakal kesel, seosangnim?” jawab Jihyo.

Wali kelasnya berpikir sebentar. “Sudah saya duga Nara pasti yang cari masalah duluan. Ya sudah, kamu kembali ke kelas sekarang ya?” kata wali kelas Jihyo. Jihyo pun kembali ke kelasnya.

. . .

Hyun-Ah berhasil sampai di fakultas tempat Changmin oppa kuliah tapi Hyun-Ah tidak tahu dimana tepatnya Changmin berada sekarang. Hyun-Ah akhirnya bertanya pada salah seorang wanita yang sedang duduk di depan perpustakaan.

“Permisi, onni. Apa onni kenal dengan Shim Changmin?” tanya Hyun-Ah pada wanita itu.

Wanita itu menatap Hyun-Ah dari atas sampai bawah. “Dia ada di ruang 403 kayaknya. Naik saja ke lantai 4 lalu belok kiri,” jawab wanita itu.

“Gamsahamida, onni,” ucap Hyun-Ah sambil membungkukan badan lalu menuju ruang 403.

Hyun-Ah langsung dapat menemukan Changmin begitu dia sampai di ruang 403. “Oppa, nilai tryout ku bagus. Peringkatku juga naik. Karena Oppa sudah membantuku, aku akan mentraktir oppa makan,” kata Hyun-Ah memberitakan kabar terbaru mengenai hasil tryoutnya.

“Oh ya? Syukurlah!” sahut Changmin yang juga merasakan kesenangan yang sama dengan Hyun-Ah. “Kalau begitu, kau mau traktir aku dimana?”

“Di mana saja terserah oppa tapi harus sesuai kantongku ya?” ujar Hyun-Ah.

“Ok. Kalau gitu nanti setelah kita les, kamu traktir aku makan,” ujar Changmin.

“Ehm, kemaleman kalo kayak gitu. Mending kita pindah saja tempat belajarnya ya, oppa. Sampai jumpa,” kata Hyun-Ah.

Hyun-Ah lalu kembali ke sekolahnya tepat sebelum kelasnya dimulai. Sepanjang pelajaran, dia mengandai-andai akan betapa menyenangkan les nanti malam.

. . .

“Kau mau pergi kemana malam ini dengan anak itu?” tanya Eun Ji yang tiba-tiba sudah berada di samping Changmin.

Changmin menghela nafas panjang begitu melihat Eun Ji. “Kau itu tidak bosan-bosannya menggangguku ya? Masih banyak hal yang bisa kamu lakukan selain mendengarkan pembicaraanku,” ucap Changmin dengan galak.

“Aku heran padamu, Changmin. Apa menariknya sih anak ingusan seperti dia?” Eun Ji tidak bisa berhenti mengusik Changmin.

“Dia tidak berisik sepertimu,” kata Changmin lalu meninggalkan Eun Ji sendirian di ruang 403 tapi Eun Ji tidak kehilangan akal.

. . .

Tuan Song Jung Soo menelepon Changmin untuk kedua kalinya tapi tidak juga diangkat. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk.

“Ya, silahkan masuk,” ujar tuan Song dengan penuh wibawa.

Changmin pun langsung masuk begitu dipersilahkan. “Maaf saya terlambat, pak. Kelas saya agak lama tadi,” kata Changmin tanpa mengurangi rasa hormat pada Tuan Song.

“Tidak apa. Kamu segera ke Incheon sekarang ya. Jangan lupa cari data selengkap mungkin,” perintah tuan Song tanpa basa basi.

“Baik, pak,” sahut Changmin menyanggupi pekerjaannya. Sebelum meninggalkan ruangan tuan Song, Changmin tiba-tiba teringat pada Hyun-Ah. Changmin pun melanjutkan ucapannya, “Pak, nanti malam sepertinya Hyun-Ah ingin les di suatu tempat selain di rumah.”

“Ya sudah, ikuti saja apa maunya. Yang penting dia mau belajar dan tolong saya agar dia bisa masuk ke fakultas yang sama dengan kamu. Dia harapanku satu-satunya,” ujar tuan Song menyetujui apapun yang diminta oleh anaknya. Changmin mengangguk mengerti. Setelah itu, dia segera meluncur ke Incheon.

. . .

Jihyo langsung menyambut Hyun-Ah begitu Hyun-Ah sampai rumah. “Onni, sekolahmu lama sekali sih? Aku bosan sendirian terus di rumah,” ucap Jihyo.

“Aku kan harus ikut pelajaran tambahan, Jihyo. Mau gimana lagi?” sahut Hyun-Ah.

“Kenapa harus pelajaran tambahan lagi sih? Enakan pulang sekolah, main denganku. Baru malam nanti les dengan Changmin oppa.” Jihyo kembali protes pada Hyun-Ah yang akhir-akhir ini jadi tidak punya waktu untuk Jihyo.

“Itu diwajibkan dari sekolah, Jihyo. Kalau gak wajib, aku juga mending tidur di rumah,” sahut Hyun-Ah.

“Ih, jahat banget! Daripada tidur mending main sama aku deh.”

Hyun-Ah hanya tertawa mendengar ocehan Jihyo. Hyun-Ah harus segera mandi lalu mengabarkan kepada Changmin tempat les sekaligus tempat makan mereka hari ini.

“Oppa, kita ketemu di Ton’s jam 8 ya. Aku mohon jangan telat,” ucap Hyun-Ah. Dia meninggalkan pesan suara di hape Changmin.

Setelah memastikan bahwa semua barang yang dia butuhkan telah dia bawa, Hyun-Ah pergi menuju Ton’s.

. . .

Jihyo tidak tahu bahwa tinggal dia seorang diri di dalam rumah. Appa dan omma belum pulang dari kantor. Sedangkan Hyun-Ah sudah pergi tanpa berpamitan dulu pada Jihyo. Baru setelah Jihyo menelpon Hyun-Ah, dia tahu bahwa Hyun-Ah sedang pergi.

“Onni, kau dimana? Aku cari-cari di rumah kok tidak ada?” tanya Jihyo melalui telepon.

“Maaf, aku sedang belajar di perpus sekarang. Maaf ya,” jawab Hyun-Ah tidak jujur lalu cepat-cepat menutup teleponnya.

Jihyo baru saja menutup telepon. Tiba-tiba hapenya berbunyi lagi. “Sungmin oppa, ada apa?” tanya Jihyo setelah mengangkat teleponnya.

“Kau ada acara tidak malam ini? Kalau tidak ada, makan sama aku yuk. Mau?” Sungmin oppa menawarkan malam yang setidaknya tidak akan membosankan seperti sendirian di rumah.

Jihyo menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Sungmin oppa. Mereka sepakat Sungmin akan menjemput Jihyo lebih dahulu baru pergi ke tempat tujuan.

. . .

Di Ton’s, Changmin sedang melahap big burgernya dengan santai sambil menunggu Hyun-Ah menyelesaikan soal latihan bahasa Inggris. “By the way, thank you for the burgers. I love it! Sangat membantu setelah menempuh Seoul-Incheon-Seoul,” kata Changmin penuh terima kasih.

“Your welcome, oppa,” sahut Hyun-Ah diiringi senyum yang sangat manis. Dari wajahnya terlihat Hyun-Ah sangat bahagia.

Sayangnya, Changmin sempat melihat perubahan ekspresi 180 derajat Hyun-Ah. “Ada apa? Kenapa tiba-tiba sedih?” tanya Changmin ingin tahu.

Hyun-Ah berusaha menyembunyikan apa yang terjadi. “tidak ada apa-apa kok,” jawab Hyun-Ah dengan gugup sambil menundukkan wajah.

Changmin menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari tahu apa yang membuat Hyun-Ah sedih. Dia menemukan sosok Sungmin dan Jihyo yang baru saja datang dan makan bersama.

“Bukannya kau sudah merelakan Sungmin?” tanya Changmin pelan.

“Aku sedang berusaha,” jawab Hyun-Ah hampir tak terdengar.

Changmin segera membereskan buku-buku dan membayar semua pesanan. Setelah itu, Changmin mengajak Hyun-Ah pergi.

. . .

Sungmin dan Jihyo yang tidak mengetahui bahwa Hyun-Ah berada di dekat mereka beberapa waktu lalu asyik mengobrol.

“Kau tahu oppa? Kalau kau tidak mengajakku keluar, aku pasti sudah membusuk di rumah,” kata Jihyo.

“Hahaha. Kau bisa saja, Jihyo. Aku senang kamu mau keluar denganku,” ujar Sungmin sambil tersenyum.

“Tapi bukan berarti aku juga su…” Jihyo belum selesai bicara tapi Sungmin memotongnya, “Iya, aku tahu. Haha.”

Sungmin lalu mengacak-acak poni Jihyo dengan sayang.

. . .

Changmin mengajak Hyun-Ah ke tepi sungai Han untuk menenangkan diri. Tidak lupa juga, Changmin membelikan coklat panas untuk Hyun-Ah.

“Terima kasih, oppa,” ucap Hyun-Ah sambil menerima coklat panas dari Changmin.

“Sama-sama,” balas Changmin yang sudah duduk di sebelah Hyun-Ah. “Aku harap kau tidak menutupi sesuatu di depanku. Sudah, tidak usah ditahan lagi.”

Seketika, Hyun-Ah mengalirkan air mata yang sudah dia tahan-tahan sejak di Ton’s. “Aku tidak menyangka, merelakan Sungmin oppa akan sesulit ini,” isak Hyun-Ah.

Changmin melihat masih banyak kesedihan pada Hyun-Ah yang disebabkan oleh Sungmin. Changmin jadi tidak tega. Reflek, Changmin merangkul Hyun-Ah dan berkata, “Aku mengerti. Tapi aku mohon segera lupakan dia. Kalau tidak, kau yang akan semakin menderita.”

Hyun-Ah menatap dalam mata Changmin. Hyun-Ah tahu Changmin bermaksud baik tapi emosi membutakannya, “Aku sudah bilang tadi, aku sedang berusaha. Tidak mudah melihat mantan pacar kencan dengan adik sendiri,” ucap Hyun-Ah.

“Aku paham. Aku paham. Aku akan membantumu. Tenang saja,” ujar Changmin sambil mengusap air mata Hyun-Ah.

. . .

Papa dan mama Hyun-Ah sedang duduk di ruang tamu menunggu kedua anak mereka yang belum pulang meskipun hari sudah malam.

“Kemana mereka berdua?! Kenapa belum pulang juga? Ini sudah jam berapa?! Anak-anak ini juga tidak ada kabarnya.” Tuan Song sudah mulai mengamuk di dalam rumahnya. Istrinya yang tahu kalau papa Hyun-Ah sudah marah, tidak bisa ditenangkan.

Tiba-tiba pintu depan terbuka dan Jihyo masuk melalui pintu. “Jihyo, darimana saja kamu?! Kenapa baru pulang?” seru papanya dengan galak.

Jihyo langsung mengkeret ketakutan begitu disentak ayahnya. “Maaf, appa. Aku habis pergi dengan temanku,” sahut Jihyo.

Ayah Jihyo mengajukan pertanyaan lagi, “Kamu tahu gak sekarang udah jam 1 pagi?! Pergi sama siapa kamu?!”

“Sungmin oppa, appa.”

tiba- tiba Hyun-Ah dan Changmin datang. “Selamat malam, ahjussi. Maaf sampai tengah malam seperti ini. Hyun-Ah perlu belajar lebih keras,” kata Changmin pada Tuan Song.

“Baik. Terima kasih. Tapi lain kali jangan sampai jam segini ya, Changmin,” sahut Papa Hyun-Ah lalu menyuruh Changmin untuk pulang.

Papa Hyun-Ah juga langsung menyuruh Hyun-Ah masuk ke kamar. Dari kamarnya, Hyun-Ah sempat mendengar suara ayahnya yang sedang marah pada Jihyo. Seharusnya, Hyun-Ah ke ruang tamu untuk menenangkan ayahnya tapi dia enggan, mengingat apa yang dilakukan Jihyo bersama Sungmin tadi.

. . .

Ujian akhir akan diadakan seminggu lagi. Oleh karena itu, Hyun-Ah mempersiapkan diri dengan benar. Dia belajar 20jam sehari. Makan lebih banyak dari biasanya dan minum vitamin.

“Kamu sudah makan? Vitaminnya jangan lupa,” tanya Changmin melalui telepon setiap jam makan Hyun-Ah.

“Sudah, oppa. Tenang saja. Vitaminnya juga sudah kok,” jawab Hyun-Ah.

“Bagus, bagus. Jangan tidur larut malam ya. Kerjakan semua soal yang aku berikan. Besok pagi aku periksa,” kata Changmin.

“Oppa, kau kejam sekali. Bagaimana aku bisa tidur cepat kalau harus terus mengerjakan soal-soal darimu?” keluh Hyun-Ah.

“Hahaha. Kau mau lulus kan? Kalau iya, kerjakan sana! Haha,” kata Changmin mengacuhkan keluh kesah Hyun-Ah.

Telepon ditutup dan Hyun-Ah kembali belajar. Akhir-akhir ini Hyun-Ah hanya tahu belajar dan sekolah. Dia bahkan jadi sangat jarang berkomunikasi dengan keluarganya, termasuk Jihyo yang tidur sekamar dengannya.

“Onni, kau masih belajar?” tanya Jihyo saat bertemu Hyun-Ah yang sedang membuat kopi di dapur.

“Iya,” jawab Hyun-Ah singkat. Hyun-Ah sengaja menghindari Jihyo karena menurutnya Jihyo dapat mengganggu konsentrasi belajarnya.

Hyun-Ah segera kembali ke ruang belajarnya begitu kopinya selesai dibuat. Hyun-Ah melanjutkan belajar sampai jam 3 pagi.

. . .

Hyun-Ah lari terburu-buru dari kamarnya menuju mobil Changmin. “Pa, Ma, Jihyo ah, aku berangkaaat! Dadah!” seru Hyun-Ah sambil berlari.

“Hati-hati, Nak. Belajar yang serius ya,” balas mama Hyun-Ah dari ruang makan.

Jihyo yang sedang menyantap sarapannya langsung berkomentar, “Aku tidak akan memaafkan Onni kalau setelah lulus dan masuk universitas dia masih memperlakukan kita seperti ini.”

“Kita sabar saja ya, Nak. Jangan lupa berdoa untuk kakakmu supaya cita-citanya tercapai,” sahut papanya dengan bijaksana.

“Iya, itu pasti. Tapi aku suka kesel lihat dia belajar mulu. Bahkan kalau aku ajak ngomong, dia suka ga jawab,” ucap Jihyo.

“Iya, papa ngerti tapi ya sudah lah.”

keluarga Hyun-Ah berusaha saling mengerti akan apa yang sedang dihadapi Hyun-Ah.

. . .

Changmin jadi seperti tukang antar jemput Hyun-Ah sejak tugasnya di Incheon berakhir. Setiap pagi, Changmin menjemput Hyun-Ah untuk berangkat sekolah. Changmin menjemput Hyun-Ah setengah jam lebih cepat dari biasanya karena mau mengecek pekerjaan Hyun-Ah.

“Bagus. Nilai-nilaimu selalu ada peningkatan,” kata Changmin begitu selesai menilai pekerjaan Hyun-Ah.

“Oh ya? Syukurlah. Semoga aku bisa lulus lalu kuliah. Hahaha,” kata Hyun-Ah senang sekali. Saking senangnya, dia lupa bahwa dia sedang mengunyah.

Changmin tertawa melihat Hyun-Ah berbicara dengan mulut penuh makanan. “Hahahaha. Telan dulu makananmu baru bicara,” kata Changmin sambil mengacak rambut depan Hyun-Ah.

. . .

Eun Ji menunggu Changmin di taman kampus tepat sesuai perjanjian. Changmin pun datang menepati janjinya.

“Kau harus datang ke acara makan malam ayahmu bersama rekan-rekan bisnisnya. Beliau mau memperkenalkanmu pada mereka,” kata Eun Ji sambil menyodorkan undangan dari ayah Changmin.

Changmin menatap sebentar undangan itu dengan tatapan kecewa. “Tolong sampaikan pada ayahku kalau aku tidak bisa datang. Aku ada urusan,” kata Changmin begitu bertemu Eun Ji.

Eun Ji seolah putus asa melihat Changmin. “Percuma aku datang. Aku pikir kau mau memenuhi undangannya. Memang kau ada urusan apa? Sama bocah bernama Hyun-Ah itu ya?” tanya Eun Ji.

“Bukan urusanmu,” jawab Changmin singkat.

“Apa bagusnya anak itu sampai kamu mengorbankan kepentingan ayahmu?” Eun Ji tetap yakin bahwa Changmin mengistimewakan Hyun-Ah.

“Setidaknya dia tidak suka ikut campur urusan keluarga orang lain dan tidak reseh,” kata Changmin dengan nada menyindir Eun Ji.

Eun Ji mendekat pada Changmin lalu berkata, “Aku hanya terlalu peduli padamu, Changmin. Kau tahu kan kenapa aku begini?”

“Aku tidak pernah minta. Lebih baik kau tidak muncul lagi di hadapanku,” balas Changmin dengan tidak berperasaan.

“Aku tidak akan menyerah padamu,” ucap Eun Ji dengan tegas.

Changmin menatap Eun Ji dengan kasar lalu pergi meninggalkannya.

. . .

Hyun-Ah menghabiskan waktu istirahatnya dengan membaca buku di perpustakaan. Seorang teman laki-laki Hyun-Ah datang menghampirinya. “Hai, Hyun-Ah. Akhir-akhir ini kamu sering di perpustakaan ya?” sapa cowok itu.

“Ah, Jongwoonssi. Kamu di sini juga rupanya. Iya, aku lagi senang belajar sekarang. Hahaha,” sahut Hyun-Ah sambil tersenyum. “Kau pasti sedang belajar juga ya? Kau pasti mau masuk universitas Korea kan?”

“Hahaha. Tidak kok. Memang kamu mau masuk mana?” ucap Jongwoon.

“Yaah, aku juga mau ke sana tapi jika keterima di Changminnghee juga cukup. Hehehe,” kata Hyun-Ah sambil nyengir lebar.

Jongwoon duduk di depan Hyun-Ah lalu membuka bukunya lalu mengobrol dengan Hyun-Ah. “Kalau gitu nanti kita tes bersama saja. Bagaimana?”

“Tentu saja. Kalau orang pintar sepertimu sih pasti masuk, Jongwoon.”

“Kau pasti juga masuk. Aku lihat kemajuanmu menakjubkan.”

Hyun-Ah tersenyum menanggapi Jongwoon. “Ternyata diam-diam kau memperhatikan aku ya. Hahaha,” kata Hyun-Ah sambil tertawa.

. . .

Sungmin janji menjemput Jihyo jam 7 malam tapi dia tidak datang-datang juga. “Mana sih Sungmin oppa? Kok ga datang-datang? Aku telpon juga gak diangkat-angkat,” ucap Jihyo sambil menatap hapenya.

Mama Jihyo yang baru saja pulang dari kantor pun jadi bertanya ada apa dengan anaknya. “Kau kenapa, Jihyo? Ngomel aja,” tanya mama Jihyo.

“Ini loh, ma. Sungmin oppa janji menjemputku jam 7 tapi jam segini dia belum datang,” jawab Jihyo tidak sabar lagi menunggu Sungmin.

“Memang kalian mau kemana?” tanya mama Jihyo.

“Nonton terus makan paling, ma. Gak lama kok.” Jihyo menjawab dengan meyakinkan.

Tiba-tiba pintu rumah diketuk dan masuklah Sungmin setelah bibi membuka pintu itu. “Selamat malam, tante,” ucap Sungmin memberikan salam.

“Malam, nak,” balas mama Jihyo sambil tersenyum.

Jihyo lalu berpamitan pada mamanya dan segera pergi dengan Sungmin. Sungmin juga pergi setelah pamit pada mama Jihyo.

. . .

Changmin dan Hyun-Ah baru saja menyelesaikan pelajaran saat mama Hyun-Ah tiba-tiba masuk.

“Selamat malam, Changmin. Sudah selesai lesnya?” tanya mama Hyun-Ah.

“Selamat malam, ahjumma. Tante datang tepat waktu. Kami baru saja selesai,” jawab Changmin lalu membereskan buku-bukunya.

“Bagaimana prestasi belajar Hyun-Ah, Changmin?” Mama Hyun-Ah bertanya karena ingin mengetahui kemajuan anaknya.

“Ehm. . Sebenarnya sih sudah lumayan tapi Hyun-Ah masih perlu banyak belajar,” jawab Changmin sambil tersenyum jahil.

“Ih, tadi oppa bilang aku pasti masuk Universitas Korea tanpa perlu belajar! Huu,” sela Hyun-Ah yang dibalas dengan tawa terbahak-bahak Changmin.

“Ahjumma, saya pamit pulang. Terima kasih banyak,” ucap Changmin pada mama Hjyejin dengan sisa-sisa tawanya.

“Terima kasih telah banyak membantu kami ya, Changmin,” balas mama Hyun-Ah.

Setelah Changmin pergi, mama Hyun-Ah berpaling pada Hyun-Ah. “Ada yang perlu mama tanyakan sama kamu,” kata mama Hyun-Ah tanpa basa-basi.

“Apa, ma?” tanya Hyun-Ah.

“Kamu tahu kalau Jihyo akhir-akhir ini sering jalan sama Sungmin?”

Hyun-Ah seketika jadi tidak terlalu bersemangat. “Mama sukses buat aku jadi bete. Tentu aku tahulah,” jawab Hyun-Ah.

“Maaf ya, sayang. Kamu masih, ehm, sayang sama Sungmin?”

“Gak, ma. Tapi aku masih gak rela aja. Mama ngerti kan?”

“Iya, mama ngerti kok. Mama cuma kha…”

“Mama gak usah khawatir sama aku apalagi Jihyo. Sungmin orang baik kok, ma.”

Setelah itu Hyun-Ah membereskan bukunya dan kembali ke kamar.

. . .

“Oppa, kau benar-benar penyelamatku! Gamsahamnida,” ucap Jihyo kepada Sungmin dengan senang karena ia berhasil mendapatkan apa yang dia cari.

“Sama-sama, Jihyo. Aku hanya berusaha menolong kok. Semoga Onni mu senang ya, Jihyo,” sahut Sungmin.

“Semoga saja. Hihihi.” Jihyo tersenyum senang dengan barang pilihan Sungmin.

. . .

Dari dulu, tidak ada yang pernah mempermasalahkan jika Changmin pulang larut malam atau bahkan tidak pulang. Tapi sejak ayahnya pulang ke rumah, semua berubah.

“Darimana saja kamu?!” bentak ayahnya Changmin.

“Kuliah, magang, les,” jawab Changmin dengan sabar. Changmin tidak mau terpancing emosi.

“Tapi harusnya gak perlu sampai sepagi ini. Kapan kamu belajarnya?! Nanti nasib perusahaan siapa?” ayah Changminhun terus membentak-bentak Changmin.

Changmin tidak pernah suka dibentak tapi juga tidak mau melawan. “Appa, maaf. Tapi appa tidak perlu cemas. Aku bisa membagi waktuku. Permisi,” kata Changmin tetap dengan sopan sambil menekan emosinya.

Ayah Changmin tetap marah-marah meskipun Changmin sudah berada di kamarnya.

“Berisik sekali orang tua itu. Menyebalkan,” gerutu Changmin.

. . .

Jihyo langsung masuk ke kamar Hyun-Ah begitu dia sampai di rumah. “Onni, onni!” seru Jihyo dengan ceria.

Hyun-Ah, yang sedang gugup tingkat tinggi, merasa terganggu dengan kedatangan Jihyo. “Ada apa sih? Datang-datang kok berisik banget. Argh!” balas Hyun-Ah.

Jihyo tahu kakaknya kesal tapi ia tidak memasukkannya ke dalam hati. “Onni, aku punya hadiah untukmu,” kata Jihyo sambil menyodorkan sebuah kalung.

Hyun-Ah menatap kalung itu dan merasa kalung itu memang sangat indah. “Buat apa kalung ini?” tanya Hyun-Ah.

“Sebentar lagi, onni akan lulus dan kuliah. Waktu kita untuk bersama jadi makin sedikit. Aku beli kalung ini supaya onni selalu ingat aku,” jawab Jihyo sambil berusaha menahan tangis.

Hyun-Ah menerima kalung tersebut. Dia tahu Jihyo akan menangis sebentar lagi. Karena itu, Hyun-Ah memeluknya lalu berkata, “Jihyo, terima kasih ya. Jangan sedih. Kita kan akan tetap bertemu di rumah.”

Jihyo tidak menyahut. Dia malah memeluk Hyun-Ah dengan erat lalu menangis sampai tersedu-sedu. “Maafkan aku jarang berbuat baik untuk Onni. Aku cuman bisa membuat susah Onni terus. Dan…dan sekarang aku mulai menyukai Sungmin oppa tanpa tahu seperti apa perasaan Onni sekarang,” kata Jihyo.

Hyun-Ah terkejut dengan pengakuan Jihyo tapi dia tidak sampai hati untuk berbuat egois, sesuai kehendak hatinya. “Jujur, Onni masih tidak rela Sungmin oppa pergi tapi kalau kalian sudah saling suka, aku akan mendukung kalian. Onni janji,” kata Hyun-Ah dengan tulus.

Jihyo menangis lebih parah setelah mendengar ucapan kakaknya. Hyun-Ah pun jadi ikutan menangis karenanya. Hyun-Ah merasa terharu.

. . .

 

Changmin sedang tidur dengan nyenyak saat tiba-tiba mamanya masuk ke dalam kamarnya. Mamanya duduk di sebelah Changmin lalu membelai-belai dahi Changmin. Tanpa disengaja, Changmin bangun dan melihat ibunya. “Ada apa, omma? Malam begini kok di kamarku?” tanya Changmin.

“Tidak terasa kamu sudah besar sekarang. Sudah dewasa,” kata mama Changmin sesuai isi hatinya. “Sudah mau lulus. Menanggapi ayahmu yang sedang marah pun lebih bijak. Mama senang.”

“Tidak kok, ma. Aku hanya terlalu capek untuk berdebat tadi,” sahut Changmin.

“Mama tahu kamu kesal dengan ayahmu tapi bagaimana pun dia ayahmu. Dia hanya ingin kamu melanjutkan perusahaannya. Andai kamu bukan anak tunggal, kami tidak akan memaksa seperti ini,” kata mama Changmin sambil membelai tangan anaknya.

Changmin mengubah posisi tidurnya menjadi duduk selonjor. Changmin lalu merangkul ibunya. “Andai dia tidak sering meninggalkan kita, aku akan menuruti semua permintaanya, omma,” kata Changmin dengan lembut.

“Dia sering meninggalkan kita juga untuk kita. Kalau tidak begitu, kamu gak akan kuliah di Changminnghee, punya mobil dan kamu gak akan bisa memiliki semua yang sudah kamu miliki,” balas mamanya Changmin sambil menujuk semua penjuru kamar Changmin.

Changmin hanya tersenyum pahit melihat semua penjuru yang ditunjuk ibunya. Perkataan ibunya membuat Changmin berpikir.

. . .

Hari ini Hyun-Ah akan menempuh ujian akhirnya, yang akan menentukan dia lulus atau tidak. Saking gugupnya, Hyun-Ah sudah bangun pagi-pagi sekali dan mempersiapkan peralatan ujiannya. Tidak lupa, Hyun-Ah juga sambil mengingat-ingat semua bahan ujian yang telah dipelajarinya.

Jam 6 pagi, seluruh isi rumah terbangun oleh weker yang dipasang oleh Jihyo. Pintu kamar Jihyo pun terdengar dibuka begitu waker berhenti beberapa detik kemudian. “Appa! Omma! Bangun! Ayo kita berdoa bersama dulu buat kelancaran ujian Onni nanti,” seru Jihyo dengan suara menggelegar.

Tidak lama, keluarga Song sudah berkumpul di ruang keluarga. “Kita bertiga harus mendoakan Onni. Mulai dari appa lalu omma dan yang terakhir aku,” ucap Jihyo lalu mereka berdoa.

Hyun-Ah hampir meneteskan air mata saat Jihyo memanjatkan doanya, “Tuhan yang baik, aku berdoa padaMU untuk kelancaran ujian Onni hari ini. Kiranya Engkau mau memberkati Onni sehingga dia dapat mengerjakan ujian dengan baik dan lulus pada akhirnya. Aku tahu setelah dia lulus, kami tidak akan punya banyak waktu untuk bersama tapi kiranya Tuhan mau tetap menyatukan hati kami. Amin.”

Tepat setelah doa selesai, Changmin datang menjemput Hyun-Ah lalu mengantarnya ke sekolah.

. . .

Changmin memasangkan gelang ke pergelangan tangan kiri Hyun-Ah sambil berdoa. “Tidak usah cemas. Tuhan pasti bersamamu. Percayalah,” kata Changmin dengan lembut sambil memegang tangan Hyun-Ah. “Kalau kau terdesak, tatap salib di gelang ini. Berdoa sama Tuhan. Jangan nyontek.”

“Iya. Terima kasih banyak, oppa. Kau memang tidak ada tandingannya,” sahut Hyun-Ah dengan semangat dan percaya diri untuk mengerjakan ujian. Tidak ada kegugupan lagi di dirinya.

 

-to be continued-

@gyumontic