Hyun-Ah masuk begitu saja ke kamar Jihyo begitu mendengar kabar ibu Jongwoon akan segera dimakamkan. “Jihyo, Jihyo, temani onni melayat yuk,” kata Hyun-Ah.

“Melayat siapa?” tanya Jihyo.

“ibunya teman onni ada yang meninggal. Temani onni ya.”

“oh, ibunya Kim Jongwoon ya?”

Hyun-Ah mengangguk-angguk. Hyun-Ah tidak peduli bagaimana Jihyo tahu. Mungkin Jihyo mengetahuinya dari informasi di sekolah, pikir Hyun-Ah.

“Oke. Aku siap-siap dulu ya, onni. Tapi jangan lama-lama ya,” kata Jihyo setuju menemani Hyun-Ah.

“Terima kasih ya, Jihyo. Aku tunggu kamu di teras. Kita akan pinjam supir kantor papa,” balas Hyun-Ah lalu menghubungi supir kantor ayahnya.Setelah Hyun-Ah keluar, Jihyo langsung bersiap-siap. Sepuluh menit kemudian, Hyun-Ah dan Jihyo sudah berangkat menuju rumah duka.

. . .

Hyun-Ah langsung menyalam Jongwoon, Eun Ji dan tuan Kim begitu dia sampai di rumah duka. “Aku turut berduka cita, ahjussi, onni,” kata Hyun-Ah pada Eun Ji dan tuan Kim.

“Terima kasih banyak ya nak,” sahut tuan Kim dengan ramah. Sedangkan Eun Ji tetap tak berdaya seramah ayahnya. “Terima kasih, Hyun-Ah,” sahut Eun Ji.

“Apa Changmin oppa sudah datang?” tanya Hyun-Ah.

“Belum. Dia mungkin tidak tahu. Kalaupun dia tahu, mungkin dia sibuk,” jawab Eun Ji masih tak bersemangat.

Hyun-Ah tidak bertanya lagi pada Eun Ji. Dia mengikuti Jongwoon yang sudah menyiapkan tempat duduk untuk Hyun-Ah dan Jihyo.

“Terima kasih sudah mau datang,” kata Jongwoon.

“Sama-sama. Maaf kami datang telat,” balas Hyun-Ah.

“Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah datang. Terima kasih juga tadi siang sudah meyakinkan aku,” kata Jongwoon.

“Sekali lagi, sama-sama, Jongwoon. Kita kan teman,” sahut Hyun-Ah.

Hyun-Ah dan Jihyo ngobrol sebentar dengan Jongwoon. Setelah itu, mereka baru kembali ke rumah.

. . .

Changmin dan Kibum sudah siap di ruang belajar tapi Hyun-Ah dan Jihyo belum memunculkan batang hidungnya. “Mereka kemana sih? Kok belum datang?” tanya Kibum pada Changmin yang sedang rebahan di kursi.

“Entahlah. Mungkin sebentar lagi. Aku justru senang mereka telat sehingga aku bisa istirahat sebentar,” jawab Changmin.

Baru saja Changmin mau memejamkan mata, suara Hyun-Ah terdengar dari luar, “Onni hanya minta Jongwoon untuk memaafkan ayahnya kok, Jihyo.”

Changmin langsung berdiri dari rebahannya dan bersiap-siap. Sedetik kemudian, Hyun-Ah masuk.

“Maaf, aku telat. Aku baru melayat ibu temanku,” kata Hyun-Ah pada Changmin dan Kibum.

“Iya, tidak apa-apa. Ibu siapa yang meninggal?” tanya Changmin.

“Ibunya Jongwoon. Ibunya Eun Ji onni juga. Masa kau tidak tahu oppa?”

“Aku tidak dengar kabar apapun. Kau dengar, Kibum?” Changmin menanyakan kabar tersebut pada Kibum.

“Aku tidak kuliah hari ini jadi aku tidak dengar kabar apapun,” jawab Kibum. “Maaf, Jihyo mana ya? kok tidak muncul-muncul?”

“ya ampun. Maaf lupa bilang, oppa. Dia belajarnya di ruangan sebelah,” kata Hyun-Ah sambil menunjuk ruangan di belakangnya.

Kibum lalu pergi ke ruangan sebelah. Sedangkan, Hyun-Ah mulai belajar dengan Changmin.

“Jadi, kalau garis x ini ditarik ke bawah maka, persamaannya akan menjadi y=3x+2. Paham?” kata Changmin menerangkan pelajaran matematika.

“Iya, paham,” sahut Hyun-Ah sambil menyalin apa yang baru saja diajarkan Changmin.

Sambil menyalin, Hyun-Ah mengajak Changmin ngobrol. “Oppa, kuliah itu menyenangkan gak sih?” tanya Hyun-Ah.

“Menyenangkan cuman tugas-tugasnya jauh lebih banyak,” jawab Changmin.

“Berarti oppa hebat! Sudah kuliah, kerja, les in aku. Kapan oppa main atau bikin tugasnya?”

“Haha. Kalo main ya kalo ada waktu kosong. Kalau bikin tugas atau belajar, ya malam-malam begitu sampai rumah.”

“Berarti jam tidurmu sedikit dong, oppa?”

Changmin hanya mengangguk sambil tersenyum. Hyun-Ah hendak bertanya sekali lagi tapi suara tawa di ruang sebelah mengagetkannya.

“Astaga! Jihyo dan Kibum bisa tertawa sampai sekencang itu. Ada apa sih di sebelah? Kayaknya asik banget?” ucap Hyun-Ah lalu berdiri mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Hyun-Ah mengintip ke dalam ruang belajar Jihyo, tidak terjadi apa-apa di sana. Hyun-Ah kembali ke ruang belajarnya.

“Kerjakan 100 soal ini dalam waktu 1 jam dengan target nilai 85. Kalau berhasil, kau kutraktir bulgogi,” kata Changmin begitu Hyun-Ah sudah duduk lagi di depannya.

Hyun-Ah terkejut dibuatnya. Sempat Hyun-Ah memprotes tapi tidak digubris oleh Changmin. “Kerjakan sekarang,” ucap Changmin dengan kalem tapi tegas.

Hyun-Ah tidak punya pilihan lain selain menghabiskan 1 jam dengan 100 soal, diiringi tawa-tawa cekikikan dari ruang sebelah.

Selama Hyun-Ah mengerjakan soal, Changmin membaca buku. Ini pertama kalinya Hyun-Ah melihat Changmin begitu tekun membaca. Hyun-Ah terpesona karenanya. “Oppa, kau terlihat keren kalau sedang membaca,” puji Hyun-Ah dengan tulus di sela-sela menjawab soal.

Changmin tidak bergeming. Sambil tetap berkutat dengan bukunya, Changmin berkata, “Cepat kerjakan. Jangan habiskan waktu hanya untuk memperhatikan dan memujiku.”

Wajah Hyun-Ah bersemu merah karena ternyata Changmin mengetahui Hyun-Ah memperhatikan Changmin, bukan konsentrasi dengan soal-soalnya. Maka dari itu, Hyun-Ah tidak berani menatap hal selain soal-soal yang harus dia jawab.

Sejam telah berlalu. Hyun-Ah sedang menunggu pekerjaannya selesai diperiksa. “Bagus. 100 soal selesai. Tapi nilaimu tidak sampai 85, kurang 15 poin,” kata Changmin setelah selesai memeriksa.

“Aku sudah berusaha sebaik-baiknya,” kata Hyun-Ah membela diri.

“Oke. Besok kamu akan mengerjakan 100 soal lagi dalam waktu dan target yang sama,” ujar Changmin sebelum menyelesaikan pekerjaannya.

“Baik,” sahut Hyun-Ah.

Changmin membereskan buku-bukunya lalu pulang.

. . .

Hyun-Ah memandang kertas jawabannya tadi. Tidak ada yang spesial kecuali pesan singkat yang ditulis Changmin di samping nilai.

“Bersemangatlah, cantik,” ucap Hyun-Ah sambil membaca apa yang ditulis Changmin di kertas jawabannya. Hyun-Ah tertawa melihatnya. “Dia pasti ingin membalas memujiku. hahahaha,” kata Hyun-Ah.

Seharusnya, dari dulu Hyun-Ah lebih teliti jika melihat nilai les nya.

. . .

Meskipun sudah tengah malam, Jihyo masih saja terjaga. Dia selalu ingin mendengar suara Sungmin sebelum tidur. Jadi, Jihyo menelepon Sungmin terlebih dahulu. “Halo, sayang. Lagi apa?” ucap Jihyo begitu Sungmin menjawab teleponnya.

“Bikin tugas seperti biasa. Gimana les mu dengan Kibum?” tanya Sungmin.

“Menyenangkan. Seru! Hahahahaha. Jadi pengen lanjut lagi,” jawab Jihyo.

“Hahaha. Syukurlah kalau begitu. Hyun-Ah tidak salah berarti.”

“Yup! Tapi kenapa onni tidak nyaman ya sama Kibum oppa padahal Kibum oppa seru banget orangnya!”

“Tiap orang kan beda-beda, Jihyo. Nah, lebih baik kamu tidur sekarang ya. Besok harus sekolah.”

“Gak mau. Aku masih mau ngobrol sama oppa.” Jihyo mulai bertingkah kekanak-kanakan.

Sungmin tidak mampu menolak. Dia harus menemani Jihyo sampai Jihyo tertidur.

. . .

Sudah seminggu lebih Changmin kembali mengajar Hyun-Ah. Itu berarti sudah seminggu juga jadwal Changmin jadi sangat padat. Jadwal istirahat Changmin pun jadi tidak karuan. Hampir setiap hari dia tidur hanya empat jam sehari. Akhirnya, badannya drop.

“Omo, badanmu panas, sayang,” kata ibu Changmin sambil memegang kening anaknya. “Kamu istirahat saja hari ini. Ya, nak?”

Changmin tahu badannya tidak berdaya tapi ia tetap memaksa untuk bangun. “Tidak bisa, omma. Aku harus kuliah, ada kuis. Lalu hari ini ada evaluasi di kantor appa. Setelah itu aku harus mengajar Hyun-Ah, minggu depan dia sudah tes universitas,” kata Changmin.

“Tapi demammu tinggi sekali, sayang. Istirahat sehari ini saja ya? Ibu mohon,” pinta ibu Changmin karena cemas dengan kondisi anaknya.

Changmin menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku masih kuat kok, omma. Minum obat saja sudah mendingan kok,” kata Changmin lalu bersiap-siap.

Ibu Changmin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa menyiapkan obat dan berdoa semoga Changmin akan baik-baik saja selama dirinya tidak ada.

“Kau harus jaga diri baik-baik ya. Makan lalu minum obat yang teratur. Omma harus pergi menemani appa mu ke Busan,” kata mama Changmin.

Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Iya, omma. Tenang saja,” ucapnya lalu bersiap-siap pergi ke kampus.

. . .

Beberapa hari setelah pemakaman ibunya, Jongwoon tinggal bersama ayahnya dan Eun Ji serta ibu tirinya. “Kami senang akhirnya kau mau tinggal bersama kami,” kata ibu tiri Jongwoon sambil merapikan tempat tidur Jongwoon.

“Aku biasa saja,” sahut Jongwoon datar lalu meletakkan barang bawaannya di  lemari.

“Aku mengerti tapi yang pasti aku sudah menantikan saat ini, saat kita semua berkumpul,” kata ibu tiri Jongwoon yang telah selesai merapikan tempat tidur Jongwoon. “Kau istirahat saja dulu. Nanti aku panggil kalau sudah mau makan siang.”

Jongwoon tidak menanggapi ibu tirinya. Dia berlaku seolah-olah ibu tirinya tidak ada. Dengan sedih dan kecewa, ibu tiri Jongwoon keluar dari kamar.

“Sudah menantikan saat kita semua berkumpul? Cih! Wanita itu memang mau merebut semua yang dimiliki ibuku. Mulai dari ayah lalu Eun Ji. Aku mau tinggal di sini karena ayah janji akan membiayai kuliahku. Jangan harap aku mau menerimamu,” ucap Jongwoon pada pintu yang baru ditutup ibu tirinya, dengan sinis.

. . .

Changmin tidak kuat lagi. Kepalanya pusing sekali. Dia tidak bisa konsentrasi. Tangannya tidak henti memijit-mijit kepala sedangkan pikirannya hanya ingin kuliah ini cepat berakhir.

“Kau kenapa?” tanya Sungmin yang melihat gelagat aneh Changmin.

“Tidak apa. Hanya sedikit pusing,” jawab Changmin.

“Sungguh? Kau sudah minum obat?” tanya Sungmin mulai khawatir. Sungmin tahu Changmin adalah tipe orang yang suka menguatkan diri.

Changmin hanya mengangguk lemah. Untung saja, kuliah berakhir. Changmin langsung keluar menuju mobilnya dan menyetir ke kantor secepat yang dia bisa.

Sampai di kantor, ia langsung masuk ruangannya dan minum obat. “Ya Tuhan, sakit ini mengganggu sekali. Kuatkan aku sampai nanti malam,” ucap Changmin.

Tidak lama kemudian, seseorang masuk membawa sebendel kertas evaluasi yang harus dikerjakan Changmin. Changmin mengerjakannya secepat mungkin karena ia ingin cepat pulang untuk istirahat.

. . .

Jam dinding di ruang belajar Hyun-Ah sudah menunjukkan jam setengah 8 malam tapi Changmin belum datang juga. Hyun-Ah mencoba menghubungi Changmin lewat telepon tapi tidak ada jawaban. Hyun-Ah lalu menemui Kibum yang sedang mengajar Jihyo di ruang sebelah.

“Kibum oppa, kau tahu Changmin oppa kemana? Dia belum datang juga,” tanya Hyun-Ah pada Kibum.

Kibum menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bertemu dia hari ini jadi aku tidak tahu apa-apa. Coba saja telepon,” jawab Kibum.

“Sudah, oppa. Changmin tidak menjawab,” kata Hyun-Ah.

“Maaf, aku tidak tahu. Kamu coba saja ke rumahnya,” usul Kibum.

Hyun-Ah sempat ragu dengan usul Kibum tapi tetap dilakukannya. Hyun-Ah segera pergi ke rumah Changmin dengan taksi.

Hyun-Ah memencet bel rumah Changmin begitu sampai di rumah Changmin tapi tidak ada jawaban. “Mobilnya ada. Berarti Changmin oppa ada di dalam,” gumam Hyun-Ah.

Hyun-Ah lalu mencoba membuka pintunya. “Tidak dikunci ternyata,” kata Hyun-Ah lalu masuk ke dalam. “Permisi.”

Tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah. Hyun-Ah lalu memanggil Changmin, “Changmin oppa, Changmin oppa.”

Kali ini tidak ada jawaban juga tapi salah satu pintu kamar terbuka dan muncul Changmin dari dalamnya. “Hyun-Ah? Sedang apa di sini?” tanya Changmin dengan lemas.

“Oppa tidak datang-datang jadi aku mengecekmu ke sini,” jawab Hyun-Ah.

“Ah, maaf, aku sedang tidak enak badan. Aku lupa memberitahumu,” ujar Changmin lalu keluar dari kamarnya. Tapi baru selangkah ia keluar, dirinya sudah hampir terjatuh.

Hyun-Ah berhasil menangkap tubuh Changmin dan membantunya kembali ke tempat tidur. “Kau sakit, oppa. Istirahat saja. Sudah makan obat malam ini?” ucap Hyun-Ah.

“Belum. Makan malam pun belum,” kata Changmin.

“Baiklah. Oppa istirahat saja. Aku akan menyiapkan makan malam dan obatnya,” ujar Hyun-Ah lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam.

Hyun-Ah membuat makan malam seadanya sesuai dengan bahan yang ada di dapur. Setelah itu, dia mengantarkannya ke kamar Changmin.

“Selamat menikmati,” kata Hyun-Ah sambil menaruh makanan di hadapan Changmin.

“Terima kasih,” ucap Changmin lalu memakan makanannya dengan terpaksa. “Masakanmu enak sekali tapi maaf aku tidak bisa menghabiskannya. Nafsu makanku berkurang drastis.”

“Tidak apa-apa,” kata Hyun-Ah sambil menyingkirkan sisa makanan lalu memberikan obat kepada Changmin.

Changmin meminum obatnya lalu berbaring. “Terima kasih ya, Hyun-Ah,” ucap Changmin sambil memegang tangan Hyun-Ah.

Saat itu juga, jantung Hyun-Ah rasanya berdegup lebih kencang. Suhu tubuhnya pun rasanya naik. “Aku…aku mau mencuci piringnya dulu,” kata Hyun-Ah dengan terbata-bata karena salah tingkah.

Setelah Hyun-Ah mencuci piring, ia kembali ke kamar Changmin untuk berpamitan. “oppa, aku pulang dulu. Sudah malam,” kata Hyun-Ah.

Hyun-Ah berharap bisa pulang sekarang juga karena dia tahu badannya tidak boleh berlama-lama di sini tapi Changmin menahannya. “Jangan. Temani aku sebentar lagi ya,” kata Changmin dengan nada memohon.

Hyun-Ah tidak tahu harus berbuat apa, pikirannya kacau. Akhirnya dia duduk di sebelah Changmin, menemani Changmin sebentar. Tapi kenyataannya Hyun-Ah berada di sana sampai ia dan Changmin tertidur.

. . .

Saat tengah malam, hape Hyun-Ah bergetar tanpa disadari si empunya yang sedang tertidur pulas. Justru Changmin yang merasakannya. Changmin mengambil hape itu dari tangan Hyun-Ah lalu mengangkatnya.

“Jihyo, maaf onnimu tidak bisa pulang malam ini. Dia ketiduran di rumahku setelah semalam merawatku. Aku mau mengantarnya pulang tapi tidak kuat,” kata Changmin.

“Oh, ya sudah kalau begitu. Semoga kau cepat sembuh ya, oppa,” balas Jihyo dari seberang lalu menutup telepon.

Changmin lalu turun dari tempat tidurnya dan menidurkan Hyun-Ah di sana. Changmin lalu menyelimuti Hyun-Ah dengan selimutnya.

“Terima kasih, cantik,” ucap Changmin sambil tersenyum. Changmin lalu mencium Hyun-Ah dengan lembut.

Setelah itu, Changmin pergi melanjutkan istirahatnya di kamar sebelah.

. . .

Begitu pagi datang, Hyun-Ah terbangun dan sadar dia tidak berada di kamarnya melainkan di kamar Changmin. Karena itu, dia jadi ingat apa yang terjadi kemarin dan membuat jantungnya berdegup lebih kencang. “Ya Tuhan apa yang terjadi padaku?” ucap Hyun-Ah sambil memegang dadanya. Hyun-Ah lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak karuan. “Tidak, tidak. Aku baik-baik saja. Tenang,” katanya pada dirinya sendiri.

Setelah agak tenang, Hyun-Ah keluar dari kamar dan bertemu dengan Changmin yang sudah kembali sehat. Changmin bahkan sudah bisa menyiapkan sarapan.

“Terima kasih ya semalam sudah mau ku repotkan,” kata Changmin dengan senyuman termanis yang pernah dilihat Hyun-Ah.

“I…iya. Sama-sama, oppa,” balas Hyun-Ah dengan gugup. Jantungnya berdegup lebih kencang lagi.

“Ayo sarapan. Setelah itu, aku akan mengantarkan kau pulang,” kata Changmin.

Hyun-Ah menuruti apapun kata-kata Changmin.

“Kau mau mandi dulu?” tanya Changmin saat Hyun-Ah sudah menghabiskan sarapannya.

“Apa?” tanya Hyun-Ah salah tingkah.

“Eeh, aku bisa meminjamimu baju kalau kamu mau mandi dulu sebelum kuantar pulang. Kau kan sudah capek…” kata Changmin sangat sopan.

Hyun-Ah tiba-tiba menyela Changmin, “Ah, tidak. Tidak usah. Aku langsung pulang saja.” Hyun-Ah tau pipinya sudah memerah karena tawaran Changmin. Karena itu, setelah sarapan Changmin langsung menepati janjinya mengantar Hyun-Ah pulang.

. . .

Hyun-Ah langsung masuk ke kamarnya begitu sampai di rumah. Dia bahkan tidak menghiraukan keluarganya yang sedang asik nonton televisi bersama. “Aku harus bisa menguasai perasaanku. Changmin oppa terpengaruh demamnya tadi malam,” kata Hyun-Ah pada dirinya sendiri sambil memegang kedua pipinya.

Hyun-Ah lalu mandi. Setelah itu, dia bergabung dengan keluarganya. “Apa Changmin sudah membaik?” tanya ayah Hyun-Ah.

Hyun-Ah mengiyakan pertanyaan ayahnya. “Yang ngantar aku tadi Changmin oppa kok,” ujar Hyun-Ah.

“Syukurlah,” sahut ayah Hyun-Ah lega.

Hyun-Ah lalu menonton tivi untuk mengalihkan pikirannya dari Changmin sambil mendengarkan apa yang Jihyo dan ibunya perbincangkan.

“Omma, sudah beberapa hari ini Sungmin oppa tidak menghubungiku. Aku telepon pun tidak diangkat. Aku khawatir,” kata Jihyo pada ibunya dengan cemas.

“Apa yang kamu khawatirkan? Apa yang terakhir dia lakukan sebelum tidak menghubungimu?” tanya mama Jihyo.

“Dia sibuk dengan tugas-tugasnya,” jawab Jihyo. “Tapi masa dia sesibuk itu, omma? Sampai sms ku pun ga ada yang dibalas.”

Hyun-Ah merasa aneh mendengarnya. Sungmin bukan orang yang seperti itu. Hyun-Ah lalu mengambil hapenya dan mengirimkan sms pada Sungmin.

Sungmin oppa, aku dengar kamu sudah lama tidak menghubungi Jihyo. Kenapa? -hj.

Tidak lama kemudian sms balasan datang. Maaf Hyun-Ah, aku memang sengaja tidak menghubungi Jihyo. Aku tidak mau dia terlalu manja padaku. Aku ingin dia lebih mandiri. -sw

Hyun-Ah berusaha memahami isi sms Sungmin. Jihyo memang sudah manja luar biasa dari dulu tapi mungkin semakin parah sejak bersama Sungmin oppa, pikir Hyun-Ah.

Hyun-Ah lalu mengirimkan sms terakhirnya. Ok. Aku mengerti. Tapi ingat, kalau kau menyakiti Jihyo, aku orang pertama yang akan membalasnya. Bye.

. . .

Changmin terlihat sangat bahagia meskipun tugas-tugasnya menumpuk. Dia bahkan sama sekali tidak tampak terbebani oleh tugas-tugas tersebut.

“Changmin, mana tugasmu? Nanti malam jangan lupa email ke aku,” kata Sungmin melalui skype.

“Siap, bos. Ini aku lagi buat. Sebentar lagi pasti akan aku kirim,” sahut Changmin sambil tertawa.

“Oke. Aku tunggu,” balas Sungmin. “Kau sudah sehat?”

“Puji Tuhan, sudah. Hahaha.”

“Syukurlah. Pantas saja kau cerah sekali hari ini.”

Changmin tertawa lagi. “Jelas saja. Karena hari ini hari sabtu. Tidak ada kuliah, tidak ada ke kantor, dan tidak ada ayah di rumah,” sahut Changmin.

“Oh, okelah. Selamat mengerjakan tugasmu. Jangan lupa besok malam kita bersenang-senang,” ucap Sungmin lalu memutuskan hubungan skype.

Changmin pun kembali mengerjakan tugasnya tanpa beban. Dia sadar bahagianya bukan karena hari ini hari sabtu tapi karena adanya hari kemarin.

. . .

Jihyo sudah putus asa untuk menghubungi Sungmin walapun sudah ada sedikit kemajuan. Sungmin sudah mau mengangkat telepon Jihyo dan juga sms an tapi tidak sesering dulu.

“Hyungrim, aku tidak tahu harus bagaimana lagi pada Sungmin oppa,” keluh Jihyo pada Hyungrim.

“Memang kenapa? Sungmin oppa masih tidak menghubungimu?” tanya Hyungrim.

“Tidak. Dia sudah menghubungiku tapi tidak sesering dulu. Aku selalu bertanya-tanya padanya tapi jawabannya selalu saja sedang sibuk,” kata Jihyo dengan sedih.

Hyungrim tidak tega melihat temannya dirundung sedih. Karena itu, dia mencoba membantu Jihyo sebisa mungkin.

“Kau tanya lagi saja nanti padanya kalau bertemu dengannya. Dia masih menemuimu kan?” ujar Hyungrim memberi saran.

“Iya. Nanti malam dia akan ke rumah. Aku akan mencoba menanyakannya,” sahut Jihyo lalu memeluk Hyungrim. “Terima kasih banyak ya, Hyungrim.”

“Sama-sama, Jihyo.”

. . .

Jihyo tidak sabar menunggu kedatangan Sungmin. Dia mau menanyakan apa yang sebenarnya membuat Sungmin jadi menjaga jarak akhir-akhir ini. Karena itu, Hyun-Ah sangat lega ketika Sungmin tiba.

“Halo, sayang. Lama tidak bertemu. Aku kangen banget sama kamu,” ujar Hyun-Ah sambil memeluk Sungmin.

Sungmin balas memeluk Jihyo lalu mengelus-elus kepala Jihyo. “Aku juga merindukanmu, Jihyo sayang,” kata Sungmin.

Jihyo melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Sungmin dengan manja. “Kalau gitu, kenapa oppa jarang meneleponku apalagi menemui aku?” tanya Jihyo.

“Aku sudah bilang kan kalau aku sibuk kuliah. Tugasku menumpuk, sayang,” jawab Sungmin.

“Iya aku tahu tapi masa tidak sempat sih meneleponku sekali sehari saja?” tanya Jihyo lagi hampir merajuk.

“Jihyo, aku sudah menjelaskannya berkali-kali padamu. Setiap kau telepon aku, kau pasti bertanya hal yang sama. Masa saat kita bertemu, harus membahas hal yang sama juga?” sahut Sungmin mencoba bersabar.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya merasa kau punya alasan lain,” ujar Jihyo dengan polos.

Sungmin menghela nafas panjang untuk menghadapi Jihyo. “Kau selalu saja membuatku pusing dengan sikap manjamu. Seharusnya kau bisa lebih mandiri meskipun ada aku. Kau beda sekali dengan Hyun-Ah,” kata Sungmin.

Jihyo kesal karena dibanding-bandingkan dengan Hyun-Ah. “Hyun-Ah lagi. Hyun-Ah lagi. Jangan banding-bandingkan aku dengannya!” seru Jihyo lalu masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintunya dengan keras.

. . .

Changmin dan Hyun-Ah yang sedang menyiapkan materi-materi les hari ini kaget setengah mati dibuat Jihyo.

“Kenapa Jihyo banting pintu sampai sekeras itu?” tanya Changmin heran.

Hyun-Ah hanya tertawa mendengar pertanyaan Changmin. “Paling berantem sama Sungmin oppa. Hubungan mereka agak aneh akhir-akhir ini,” jawab Hyun-Ah.

“Oh ya? Sungmin kok tidak ada cerita apa-apa padaku ya?” ujar Changmin bertanya-tanya karena biasanya Sungmin akan bercerita apapun padanya.

“Mana aku tahu, oppa,” sahut Hyun-Ah. “Lebih baik oppa mulai mengajarku sekarang. Persoalan tadi bisa oppa tanya pada Sungmin nanti setelah mengajarku.”

Changmin menggaruk-garuk kepalanya karena malu. Dia berada di sini untuk mengajar Hyun-Ah bukan hal lain. “Maaf, aku hanya heran tadi,” ujar Changmin lalu memulai pelajaran.

“Oke. Kita belajar apa hari ini?” tanya Hyun-Ah.

“Hari ini kita tidak akan belajar. Karena besok kau akan ujian masuk universitas, aku akan membuat simulasi untukmu,” kata Changmin pada Hyun-Ah sambil mengeluarkan setumpuk kertas soal.

“Jangan bilang aku harus mengerjakan semua soal-soal itu,” kata Hyun-Ah sambil menunjuk setumpuk kertas yang baru dikeluarkan Changmin.

“Sayangnya, aku harus bilang. Kau akan mengerjakan soal-soal ini sesuai petunjuk yang sudah tertulis di setiap soal. Oke?” kata Changmin dengan tegas tanpa kompromi.

“Oke!” sahut Hyun-Ah penuh dengan semangat.

Hyun-Ah mulai mengerjakan soal-soal yang ada dengan tekun. Simulasi ini dibagi menjadi empat bagian. Setiap bagiannya memiliki waktu 60 menit untuk dikerjakan. Changmin berperan sebagai pengawas.

Setiap waktu untuk satu bagian yang telah ditentukan habis, Changmin akan mengambil jawaban Hyun-Ah dan memberikan soal untuk bagian berikutnya. Begitu terus sampai semua soal selesai.

“Huah, lelah sekali. Empat jam non-stop!” ucap Hyun-Ah begitu dia menyelesaikan soal terakhirnya.

“Bersemangatlah. Besok kau akan ujian tulis lima jam non-stop ditambah wawancara,” sahut Changmin.

“Iya, aku harus semangat! Terima kasih, Changmin oppa,” ucap Hyun-Ah ceria.

Changmin lalu menilai jawaban Hyun-Ah. “Kamu sudah berusaha keras. Besok pasti sukses,” kata Changmin.

“Semoga saja. Amin,” sahut Hyun-Ah.

Karena sudah malam, Changmin segera membereskan barang-barangnya dan menyuruh Hyun-Ah untuk tidur. “Kau langsung tidur yang nyenyak ya. Besok pagi aku akan mengantarkanmu ujian,” kata Changmin.

“Ok, oppa,” kata Hyun-Ah lalu mengantar Changmin sampai di depan rumah.

Changmin lalu pergi sambil melambaikan tangannya.

“Sampai jumpa besok, oppa,” ucap Hyun-Ah sambil balas melambaikan tangan kepada Changmin. Setelah itu, Hyun-Ah langsung tidur sesuai dengan apa yang dipesankan Changmin.

. . .

Seperti biasa kalau akan menghadapi ujian, Hyun-Ah akan bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan semuanya dengan sempurna. Hanya saja karena hari ini kedua orang tuanya sedang ke luar kota maka tidak ada doa bersama.

“Tuhan, kiranya Engkau mau memberikan kelancaran padaku selama ujian berlangsung nanti. Amin,” ucap Hyun-Ah dalam hatinya saat sedang menunggu Changmin datang.

Tepat jam setengah 7 pagi, Changmin datang menjemput Hyun-Ah dan langsung mengantarkannya ke South Korea University.

“Semoga berhasil ya, Hyun-Ah. Aku akan berdoa untukmu di sini,” kata Changmin sebelum Hyun-Ah turun dari mobil.

“Terima kasih, oppa. Aku akan berusaha semaksimal mungkin,” sahut Hyun-Ah lalu turun dari mobil dan masuk ke ruang ujiannya.

Sepuluh menit sebelum ujian, Hyun-Ah sudah siap di ruang ujian. Ujian tulis akan berlangsung dari jam 7 pagi sampai 12 siang. Sedangkan wawancara akan dilakukan dari jam 1 siang sampai 5 sore.

“Bantu aku, Tuhan. Aku tidak akan bisa menjawab soal-soal ini tanpamu,” kata Hyun-Ah dalam hati tepat sebelum dia mengerjakan soal nomor satu.

Selama Hyun-Ah mengerjakan ujiannya, Changmin menunggu Hyun-Ah di dalam mobil. Changmin tidak cukup kuat untuk meninggalkan Hyun-Ah. Dia terlalu mengkhawatirkan Hyun-Ah.

“Semoga anak itu dapat mengerjakannya dengan lancar. Bantu dia, Tuhan,” ucap Changmin.

. . .

Jihyo bangun saat hari hampir menjelang siang dengan perut keroncongan. Karena itu, dia langsung pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Sayangnya, tidak ada satu pun yang bisa dimakan. Kalaupun ada, Jihyo harus memasaknya lebih dulu.

“Hhh. Masa tidak ada yang bisa aku makan di rumah ini? Mending aku tidur lagi saja,” keluh Jihyo lalu kembali ke kamarnya.

Saat Jihyo kembali ke kamarnya ternyata hapenya sudah bolak-balik berdering. Jihyo pun langsung mengangkatnya. “Annyeonghaseyo,” ucap Hyun-Ah.

“Annyeonghaseyo,” sahut Sungmin dengan suara yang agak diimut-imutkan.

“Ah, Sungmin oppa. Ada apa tiba-tiba meneleponku?” tanya Jihyo dengan dingin. Dia masih marah atas kejadian semalam.

“Aku mau minta maaf. Tidak seharusnya aku membawa-bawa Hyun-Ah semalam. Maaf ya,” kata Sungmin dengan sungguh-sungguh.

Jihyo yang terlalu cinta dengan Sungmin langsung luluh dengan permintaan maaf Sungmin. “Iya, iya. Jangan terulang lagi ya, oppa,” ujar Jihyo.

“Oke, boss!” sahut Sungmin. “Kau sudah gereja belum?”

“Aku baru saja bangun, oppa,” jawab Jihyo.

“Dasar tukang tidur. Hahaha. Kalau gitu, nanti sore aku akan menjemputmu untuk ke gereja. Setelah itu, temani aku ke sebuah acara ya,” kata Sungmin.

Jihyo menyetujui rencana Sungmin dengan senang hati. “Siap, sayang!” ujar Jihyo lalu menutup teleponnya.

. . .

Tepat jam 12 siang, ujian tulis selesai dilaksanakan dan Hyun-Ah langsung mendatangi Changmin ke mobil dengan wajah murung.

“Gimana ujiannya? Bisa kan?” tanya Changmin begitu Hyun-Ah masuk ke dalam mobil.

” Gak tau. Soalnya tadi susah-susah. Di luar ekspektasiku,” jawab Hyun-Ah lesu.

“Bersemangatlah! Kau masih bisa keterima. Tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Changmin.

Hyun-Ah mengangguk-anggukan kepalanya. “Iya, semoga aku tetap keterima.”

Changmin lalu memberikan makan siang pada Hyun-Ah. “Kau makan siang saja dulu sebelum ujian wawancara,” kata Changmin.

“Terima kasih, oppa,” sahut Hyun-Ah lalu memakan makan siangnya. Changmin juga menyantap makan siangnya.

“Oppa, kalau aku tidak keterima di sini, aku harus bagaimana?” ucap Hyun-Ah tiba-tiba.

“Kamu harus percaya kalau kamu akan keterima. Masih ada tes wawancara, kamu harus lebih maksimal,” sahut Changmin lagi-lagi menaikkan kepercayaan diri Hyun-Ah.

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku tidak akan mengecewakanmu,” kata Hyun-Ah dengan penuh semangat.

“Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan siapapun,” sahut Changmin.

Setelah makan siang, Hyun-Ah kembali ke ruang ujiannya menunggu giliran wawancara dan Changmin tetap setia di mobil menunggu Hyun-Ah selesai ujian. Untung saja, Hyun-Ah mendapat giliran wawancara di awal-awal sehingga Changmin tidak perlu menunggu terlalu lama.

Tepat jam 3 sore, Hyun-Ah sudah kembali ke mobil Changmin dengan raut wajah berbeda dari tadi siang.

“Melihat wajahmu aku yakin aku tidak akan salah kalau lebih awal mengajakmu senang-senang,” kata Changmin.

“Maksud oppa?” tanya Hyun-Ah tidak paham.

“Aku yakin kau pasti keterima. Aku akan mengajakmu jalan-jalan malam ini,” jawab Changmin.

Hyun-Ah lalu tertawa. “Kau selalu saja begitu. Waktu ujian kelulusan kau langsung memberiku hadiah padahal hasilnya pun belum keluar sampai saat ini,” kata Hyun-Ah.

“Kau pasti lulus,” ujar Changmin. “Cek saja besok ke sekolahmu. Pengumumannya besok kan?”

“Oh ya! Untung kau mengingatkan aku, oppa. Aku hampir saja lupa.”

“Itulah gunaku. Hahaha.”

Changmin lalu mengajak Hyun-Ah untuk ke gereja terlebih dahulu sebelum jalan-jalan karena hari ini hari minggu.

. . .

Jongwoon tidak pernah bermimpi akan menghabiskan minggu malamnya dengan menghadiri suatu acara, terlebih lagi bersama dengan Eun Ji.

“Nikmati acara ini. Anggap saja sebagai perkenalan sebelum masuk kuliah,” kata Eun Ji pada Jongwoon.

“Memang ini acara apa sih?” tanya Jongwoon.

“Acara para senior. Aku juga tidak tahu pasti,” jawab Eun Ji.

Eun Ji lalu menggandeng Jongwoon dan memperkenalkannya pada teman-temannya.

Pada saat perkenalan, mata Jongwoon tanpa sengaja melihat Hyun-Ah yang baru saja datang bersama laki-laki. Mata Jongwoon terpaku pada Hyun-Ah.

. . .

Hyun-Ah merasa agak kikuk begitu memasuki ruang acara. Semuanya memakai pakaian resmi sedangkan dia berpakaian seperti mau ke mall, kaus dan celana jeans.

“Oppa, ini acara apa? Ini hadiah untukku? Kalau iya, aku lebih baik gak usah dikasih hadiah,” ucap Hyun-Ah kesal. “Udah salah kostum, gak kenal siapa-siapa lagi.”

Changmin lalu tertawa melihat Hyun-Ah yang sedang merajuk. “Hahaha. Bukan. Hadiah untukmu nanti malam. Tenang saja,” ujar Changmin. “Aku ada urusan sebentar di sini. Tunggu ya.”

Changmin lalu meninggalkan Hyun-Ah sendirian dan menemui teman-temannya. Tiba-tiba, Jongwoon datang menemui Hyun-Ah.

“Hai, kebetulan sekali kita bertemu,” sapa Jongwoon. “Kau sendirian saja?”

“Hai. Iya, kebetulan ya. Aku kesini sama Changmin oppa. Kau sedang apa disini?” balas Hyun-Ah.

“Aku hanya menemani Eun Ji onni. Aku tidak tahu ini acara apa. Hahaha.” jongwoon tertawa .

“Sama. Aku juga. Makanya pakaianku tidak sesuai begini. Abis ujian lalu gereja terus kesini,” sahut Jihyo sambil menunjuk pakaiannya . “Oh ya, bagaimana ujianmu tadi? Lancar?”

“Ujian masuk universitas maksudmu?” tanya Jongwoon.

Hyun-Ah menganggukan kepalanya. Jongwoon tersenyum lalu berkata, “Aku kan sudah keterima di FK Changminnghee melalui jalur prestasi. Kau tidak pernah perhatikan aku ya.”

“Hehehe. Oh ya. Maaf, aku tidak tahu,” ujar Hyun-Ah. “Memang enak ya jadi orang pintar. Kuliah pun tidak perlu susah-susah mencari, malah dicari.”

“Hahahaha. Gak segitunya juga, Hyun-Ah. Kamu memang mau kuliah dimana?”

“Entah. Tadi aku daftar di South Korean tapi entahlah, aku kok pesimis.”

“Tenang saja, masih banyak universitas bagus yang mau menerimamu, Hyun-Ah.”

“Contohnya?”

“Changminnghee. Mereka kan masih buka penerimaan mahasiswa baru tanpa tes.”

“Oh, tidaaak. Aku pasti akan bertemu wajah-wajah kalian lagi.”

“Memangnya kau tidak senang kalau bertemu aku?” Jongwoon pura-pura tersinggung.

“Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin suasana dan teman-teman baru. Hehehe.”

Setelah Jongwoon dan Hyun-Ah mengobrol cukup lama, Changmin baru kembali dan langsung mengajak Hyun-Ah pergi.

“Ah, jongwoonssi. Aku pulang duluan ya,” pamit Hyun-Ah.

“Baik. Hati-hati ya,” balas Jongwoon sambil tersenyum.

. . .

Saat sedang menyetir, ponsel Changmin berdering. Changmin memasang earphone ke telinganya lalu menjawab panggilan tersebut. “Ooo. Aku sudah datang tadi tapi aku ada keperluan lain jadi pulang duluan,” kata Changmin pada lawan bicaranya. “Maaf ya, Sungmin. Semoga acaramu di sana menyenangkan.

Changmin lalu menutup teleponnya dan melanjutkan menyetir ke tempat yang sudah dipikirkannya sejak berminggu-minggu lalu.

Changmin mengajak Hyun-Ah pergi ke kampusnya. “Oppa, ngapain kita malam-malam ke kampusmu?” tanya Hyun-Ah bingung.

“Ada yang mau aku tunjukkan padamu,” jawab Changmin sambil menggandeng Hyun-Ah ke gerbang kampus begitu mobil sudah diparkir.

“Kenapa ke gerbang kampus, oppa? Apa yang mau kamu tunjukkan padaku?” tanya Hyun-Ah yang bertambah bingung.

Changmin hanya tersenyum sambil mencari spot ternyaman menurutnya. Setelah itu, dia baru bicara. “Menurutmu gerbang ini bagus tidak?” tanya Changmin.

Hyun-Ah semakin tidak mengerti maksud Changmin tapi dia tetap menjawab. “Jujur saja, tidak.”

“Menurutku juga tidak tapi ini tempat paling bagus menurutku,” sahut Changmin.

“Kenapa?” tanya Hyun-Ah penasaran.

“Ini tempat aku pertama kali melihatmu. Waktu itu aku dan Sungmin lagi menunggu teman di sini. Sedangkan kamu masuk ke sekolahmu itu dengan takut-takut. Mungkin karena kamu siswa baru,” kata Changmin sambil menunjuk sekolah Hyun-Ah yang letaknya persis di depan kampus Changmin.

“Oh ya? Sungguh? Bagaimana Oppa bisa tahu?” tanya Hyun-Ah terkejut. Lagi-lagi jantungnya berdegup dengan kencang, pikirannya kacau. Dia tidak menyangka Changmin akan menjawab seperti itu.

“Aku memperhatikanmu. Kamu satu-satunya siswa baru yang lama sekali berdiri di depan sekolah dan baru masuk setelah bel berbunyi,” lanjut Changmin.

Hyun-Ah tidak menyangka ternyata Changmin sudah lama memperhatikannya.

“Sejak itu aku jadi selalu memperhatikanmu. Setiap pagi, sebelum kau datang aku pasti sudah berada di sini untuk melihat kau datang. Awalnya hanya ingin tahu apa kau masih takut ke sekolah atau tidak tapi lama-lama jadi keterusan. Kalau kau mau tahu, aku melakukannya hampir 2 tahun.”

Hyun-Ah melongo mendengarnya. Dia terlalu terkejut.

“Aku tidak mau mengajakmu kenalan karena bagiku mustahil aku tertarik pada anak SMA. Sampai aku melamar magang di kantor ayahmu dan melihatmu di kantor. Aku mengganggapnya itu takdir. Aku sadar aku terlanjur. Awalnya aku gak tahu kalau kamu anak Song ahjussi. Begitu aku tahu kau anaknya dan butuh guru les aku melamar jadi guru les mu. Aku mau mengenalmu.”

“Oppa, apa maksudmu?” Hyun-Ah bertanya dengan takut-takut. Dia tahu Changmin sedang menyatakan perasaan padanya. Karena itu, dia takut kalau harus pingsan di tempat ini. Jantungnya sudah berhenti berdetak sekarang.

“Hyun-Ah~ah, kau ini bodoh atau pura-pura bodoh?” tanya Changmin sambil tertawa lalu menatap Hyun-Ah dengan lembut. “Aku sudah menyukaimu sejak lama.”

“Oppa?”

Hyun-Ah balas menatap Changmin tapi hanya sebentar. Setelah itu, ia berpaling menatap kakinya. Dia tidak tahu harus berkata apa.

Changmin menatap Hyun-Ah dengan penuh harap tapi yang ditatap tidak bereaksi sama sekali. “Hyun-Ah. Kenapa kau diam saja? Apa tanggapanmu?” tanya Changmin sambil menyikut Hyun-Ah pelan.

Hyun-Ah tersadar tapi dia masih tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Hyun-Ah hanya bisa berkata, “Eh… Ah… Umm.” sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah.

Changmin lalu melanjutkan perkataannya, “Aku tahu kau bingung. Karena itu aku beri waktu kamu sehari untuk berpikir.”

“Sehari? Itu terlalu cepat,” kata Hyun-Ah.

“Apa boleh buat. Mulai besok aku akan pergi ke Jepang dan Cina untuk mempelajari bisnis ayahku. Aku akan pergi selama setahun. Aku tidak bisa menunggu selama itu,” sahut Changmin.

“Lalu kuliahmu?” tanya Hyun-Ah.

“Aku cuti.”

Hyun-Ah lalu terdiam.

“Aku akan menunggu jawabanmu sampai besok pagi. Kalau kau mau bersamaku, antar keberangkatanku besok jam 8 pagi,” kata Changmin memecah keheningan.

“Kalau aku tidak datang?” tanya Hyun-Ah.

“Berarti kau tidak mau bersamaku dan kau akan menyesal.”

Changmin mengelus-elus kepala Hyun-Ah dengan sayang. “Kalau kau tidak datang, aku yang akan mendatangimu,” ucap Changmin dalam hatinya. Setelah itu, Changmin mengajak Hyun-Ah makan dan mengantarnya pulang.

Hyun-Ah tidur begitu nyenyak sampai-sampai dia tidak sadar bahwa saat ini sudah hampir jam 8 pagi. Dirinya terbangun karena ada telepon masuk. “Halo,” ucap Hyun-Ah dengan setengah nyawa.

“Hyun-Ah! Kau masih tidur? Kau betul-betul tidak akan datang mengantarkan aku?!” seru suara dari ujung sana dengan kencang sehingga menyadarkan Hyun-Ah.

“Changmin oppa!” pekik Hyun-Ah sambil melihat jam di kamarnya. “Hampir jam 8!”

“Iya, memang. Kau betul-betul tidak mau bersamaku ya?” tanya Changmin.

Hyun-Ah lalu melompat dari tempat tidurnya, menyambar dompet dan sandalnya lalu segera pergi mencari taksi. “Aku akan tiba sebentar lagi. Tunggu aku!” kata Hyun-Ah sambil terengah-engah.

Hyun-Ah tidak berhenti-hentinya melihat jam di hapenya sambil terus berdoa. “Ya Tuhan, semoga sempat. Semoga sempat,” ucap Hyun-Ah. “5 menit lagi. Please please, sempat.”

Hyun-Ah terus berdoa sampai di bandara. Begitu sampai bandara, Hyun-Ah langsung masuk ke terminal keberangkatan. Sekitar sepuluh menit dia mencari-cari Changmin tetapi tidak menemukannya.

Hyun-Ah berusaha menghubungi hape Changmin tapi sudah tidak aktif. “Dia sudah pergi. Aku terlambat,” kata Hyun-Ah dengan lemas. Dengan sedih Hyun-Ah kembali ke rumahnya.

Dia ingat dia harus pergi ke sekolah untuk melihat pengumuman kelulusannya tapi dia minatnya sudah hilang tak berbekas. Hyun-Ah pun meminta tolong pada Jihyo untuk melihatnya. Untung saja, dia lulus.

 

-to be continued-

@gyumontic