Perasaan Hyun-Ah tidak bisa dibohongi. Dia sedih karena kepergian Changmin. Perasaan itu ditambah karena dia tidak keterima di South Korea University. Dengan terpaksa, dia kembali belajar untuk mendaftar di Kyunghee.

Hyun-Ah mengambil semua materi yang pernah diberikan Changmin, termasuk hasil tes-tesnya. Hyun-Ah memperhatikan kertas tersebut. Selalu ada pesan kecil dari Changmin untuknya.

Be strong, cantik. Hwaiting! tertulis di salah satu kertas. Selain itu ada Hyun-Ah cantik, go go! Good Luck. Jangan pernah menyerah ya, Cantik!

Tanpa Hyun-Ah sadari, air matanya sudah menetes. Hyun-Ah sangat merindukan Changmin.

Hyun-Ah berusaha menghubungi hape Changmin tapi tidak pernah aktif. Semua saluran komunikasi lain pun dicoba oleh Hyun-Ah tapi tidak pernah berhasil. Rindunya semakin menjadi.. . .

Suatu malam, Jihyo menemukan Hyun-Ah sedang menghitung jumlah uang yang ada di tabungannya. “Buat apa onni menghitung uang tabunganmu?” tanya Jihyo.

“Entah. Kira-kira tabunganku cukup tidak ya untuk menyusul Changmin oppa ke Jepang?” ucap Hyun-Ah.

Jihyo menghela nafas panjang. Dia tahu kakaknya akan seperti ini. Changmin sudah seminggu lebih pergi tapi tidak juga menghubungi Hyun-Ah sama sekali. “Sudahlah, onni. Setahun lagi Changmin oppa akan kembali. Sabar ya,” ucap Jihyo.

“Itu terlalu lama, Jihyo. Aku ingin bertemu dengannya sekarang,” sahut Hyun-Ah.

Hape Hyun-Ah lalu berdering. Ternyata ada sms yang masuk ke hapenya tapi Hyun-Ah tidak mengenal nomor pengirimnya. Hyun-Ah lalu membuka pesan tersebut dan melihat fotonya yang sedang berdiri dengan wajah bingung. Hyun-Ah ingat dari baju yang dipakai di foto, itu dirinya saat sedang mencari-cari Changmin di bandara seminggu lalu.

Di bawah foto itu tertulis. Terima kasih sudah mau datang.

Hyun-Ah hendak membalas pesan tersebut tapi hapenya sudah lebih dulu berbunyi. Nomor penelepon tersebut sama dengan nomor pengirim pesan bergambar. “Halo,” ucap Hyun-Ah menjawab panggilan tersebut.

“Hai, cantik,” balas suara di seberang sana. “Maaf baru menghubungimu. Aku benar-benar minta maaf.”

Hyun-Ah tidak butuh waktu untuk mengenali suara yang meneleponnya. “Changmin oppa!” seru Hyun-Ah.

“Iya, ini aku. Apa kabar?” tanya Changmin.

Hyun-Ah tidak menjawab. Dia malah menangis saking senangnya. “Aku merindukanmu setengah mati. Tapi kau sama sekali tidak bisa dihubungi. Jahat sekali.” Hyun-Ah mengucapkannya sambil menyeka air mata dengan tangannya.

“Maafkan aku ya, cantik. Aku baru bisa menghubungimu sekarang. Selama seminggu ini nomorku tidak bisa dipakai jadinya aku beli nomor baru. Disimpan ya,” kata Changmin dengan lembut.

“Iya,” ujar Hyun-Ah yang sudah mulai tenang. “Bagaimana keadaanmu di sana sekarang, oppa?”

“Aku baik-baik saja. Di sini menyenangkan sekali tapi lebih menyenangkan kalau ada kamu. Kapan-kapan kau harus kesini.”

Hyun-Ah merasa wajahnya sudah memerah mendengar ucapan Changmin. “Kapan oppa pulang?” tanya Hyun-Ah seperti anak kecil.

Changmin tertawa pelan mendengarnya. “Setahun lagi. Mungkin bisa lebih cepat tapi aku tidak mau berjanji. Kau akan menungguku kan?”

Hyun-Ah tidak berpikir dua kali saat ia menjawab, “Ya. Makanya kau cepat pulang ya, oppa.”

Changmin mengangguk-anggukan kepalanya. “Terima kasih, cantik.”

Hyun-Ah baru menutup teleponnya 15 menit kemudian karena teringat Changmin menelepon dari luar negeri. Hatinya sudah jauh lebih baik sekarang dan untuk setahun ke depan.

. . .

Setahun kemudian.

Hari ini Hyun-Ah berangkat pagi-pagi ke kampus seperti biasanya karena kelasnya akan dimulai jam 7 pagi. “Omma, appa, aku berangkat dulu ya,” kata Hyun-Ah setelah selesai makan pagi sambil menyambar kunci mobil di dekat gelas susunya.

“Hati-hati ya, sayang. Jangan lupa kabari appa atau omma kalau pulang telat,” sahut mamanya.

Hyun-Ah menggangguk lalu pergi ke kampusnya.

Tahun ini Jihyo juga sudah mulai kuliah tapi dia selalu berangkat dengan Sungmin meskipun Jihyo dan Hyun-Ah kuliah di tempat yang sama.

Hyun-Ah langsung memarkir mobilnya di tempat parkir yang terdekat dengan kelasnya. Tanpa sengaja, Hyun-Ah melihat Jongwoon sedang berjalan ke arahnya.

“Hai, Jongwoon,” sapa Hyun-Ah begitu Jongwoon berada di depannya.

“Hai. Kau baru sampai ya? Tidak langsung masuk ke kelas?” tanya Jongwoon.

“Ah, kelasku masih dimulai sepuluh menit lagi. Mau jalan bersama?”

“Tentu saja.”

Jongwoon mempersilahkan Hyun-Ah untuk berjalan di sebelahnya. “Kenapa kampus FK jauh sekali,” gerutu Jongwoon pada dirinya sendiri karena ia tidak sampai-sampai juga di fakultasnya.

“Hahaha, salahmu sendiri kenapa parkir di FE. Emangnya di FK tidak ada parkiran lagi?” sahut Hyun-Ah sambil tertawa.

“Ada, tapi penuhnya bukan main. Tempatnya sempit sih tidak seluas FE,” ujar Jongwoon.

Tanpa terasa, Hyun-Ah sudah sampai di lobi fakultasnya. Karena itu dia berpamitan pada Jongwoon yang harus melanjutkan perjalanannya sampai ke FK.

Hyun-Ah langsung naik ke lantai 2 dan masuk ke ruang 202. Hyun-Ah melihat kelas tersebut belum terlalu ramai meskipun kelas sudah mau dimulai. Hyun-Ah memilih tempat duduk di baris ketiga. Sambil menunggu kuliah dimulai, Hyun-Ah membaca materi perkuliahan hari ini. Tanpa dia sadari ada seorang laki-laki yang duduk di sebelahnya.

Laki-laki itu berperawakan tinggi, memakai pakaian kasual ditambah jaket dan kacamata. “Boleh aku duduk di sampingmu?” tanya laki-laki itu dengan sopan.

“Silahkan. Tidak ada yang menempati kok,” jawab Hyun-Ah dengan ramah walaupun dia tidak berpaling dari bacaannya.

Laki-laki itu lalu melepas topi dan kacamatanya dan menatap Hyun-Ah dengan penuh makna. “Aku rasa kau sudah melupakan suaraku ya?” ucap laki-laki tersebut yang membuat Hyun-Ah terkejut.

Hyun-Ah segera memalingkan wajahnya pada laki-laki itu dan tidak bisa melawan keterkejutannya. “Changmin oppa!” pekik Hyun-Ah.

“Kau pasti terkejut. Ya kan?” balas Changmin sambil mencubit hidung Hyun-Ah dengan gemas.

“Aaaah, sakit,” seru Hyun-Ah yang hanya ditanggapi dengan ledakan tawa dari Changmin. “Kenapa tidak memberitahuku kalau kau pulang hari ini, oppa? Katamu besok.”

“Memangnya kalau aku memberi tahumu, kau mau menjemputku?”

“Ya mungkin saja. Aku kan sudah bisa bawa mobil sekarang.”

“Hohoho. Cantikku sudah gaya sekarang! Aku hanya mau memberi kejutan.”

Changmin menepuk-nepuk kepala Hyun-Ah dengan lembut. Tangan di kepala Hyun-Ah langsung membuat darah berdesir kencang. Sejujurnya Hyun-Ah tidak mau tangan itu lepas dari kepalanya tapi entah kenapa justru dirinya yang melepaskan tangan tersebut.

“Tidak enak dilihat teman-teman, oppa,” kata Hyun-Ah sambil menurunkan tangan Changmin dari atas kepalanya.

Tangan Changmin memang terlepas dari kepala Hyun-Ah tapi sekarang berganti menggenggam tangan Hyun-Ah. “Kalau aku terus menggenggam tangamu terus seperti ini memang mereka mau bilang apa?”

“Ah, dosennya sudah datang,” kata Hyun-Ah sambil buru-buru melepaskan tangannya.

Changmin hanya tertawa melihat kelakukan gadis yang sedang duduk di sampingnya. Meskipun gayanya banyak berubah, tapi Hyun-Ah tetap terlihat menarik buat Changmin.

Jihyo tidak ada kuliah pagi hari ini tapi dia tetap berangkat dengan Sungmin karena dia tidak suka berangkat kuliah sendirian. Jihyo lebih baik menunggu di perpusatakaan atau kantin.

“Kau tidak bilang-bilang pada Hyun-Ah kalo Changmin pulang haari ini kan?” tanya Sungmin pada Jihyo yang duduk di depan kelasnya setelah kuliahnya bubar.

“Tentu saja tidak,” jawab Jihyo sambil menggelengkan kepalanya. “Hyun-Ah onni pasti terkejut setengah mati melihat Changmin oppa tiba-tiba muncul di hadapannya.”

“Pasti,” sahut Sungmin. “Kau mau makan dahulu sebelum kuliah?”

“Tidak kuragukan. Perutku sudah main orkes dari tadi,” kata Jihyo sambil mengelus-elus perutnya.

Jihyo dan Sungmin lalu pergi ke kantin kampus mereka untuk makan. Mereka bergabung dengan Changmin dan Hyun-Ah yang sudah berada di sana lebih dulu.

Setelah selesai makan siang, Changmin mengantarkan Hyun-Ah ke mobil gadis itu. “Pulangnya hati-hati ya. Jangan meleng pas nyetir,” pesan Changmin sebelum Hyun-Ah pergi.

“Ok, bos. Siap,” sahut Hyun-Ah sambil memberikan tanda hormat dengan tangannya.

“Jangan lupa nanti sore aku jemput ke rumahmu.”

“Memang kita mau kemana nanti sore?”

“Ke rumahku. Ada yang mau aku berikan padamu.”

Hyun-Ah menganggukan kepala tanda mengerti. Setelah melambaikan tangan, ia pergi dengan mobilnya.

. . .

Changmin bergabung dengan Sungmin dan Jihyo yang sedang berbincang-bincang dengan mesra di kelas.

“Kau ikut kelas ini juga, Jihyo?” tanya Changmin menyela perbincangan Jihyo dan Sungmin.

“Iya, oppa. Memangnya kenapa?” sahut Jihyo.

“Tidak apa. Aku lupa aku dan Sungmin mengulang kelas ini.”

Changmin lalu mengambil tempat duduk di belakang Jihyo dan Sungmin. Hidungnya sengaja didenguskan dengan kencang saat Sungmin mengelus-elus kepala Jihyo dengan sayang sambil tersenyum.

“Hei, kau sudah punya Hyun-Ah. Jangan cemburu dong,” kata Sungmin.

Changmin hanya tertawa-tawa lalu mulai membaca materi kuliahnya.

. . .

Begitu Hyun-Ah sampai di rumah, dia langsung mengerjakan tugasnya agar selesai sebelum Changmin datang menjemputnya. Hyun-Ah tidak tahu pasti kapan Changmin datang. Karena itu, Hyun-Ah menyelesaikan tugasnya secepat mungkin dan langsung mandi begitu ia selesai.

. . .

Changmin langsung membereskan bukunya dan keluar kelas begitu kuliahnya selesai. Dia segera menginjak gas, melaju ke rumah Hyun-Ah.

Setelah sejam menunggu, Hyun-Ah akhirnya dijemput oleh Changmin. Tanpa banyak bicara, Hyun-Ah masuk ke dalam mobil.

Changmin meminta Hyun-Ah untuk menutup mata sebelum mereka masuk ke dalam rumah. Dia berniat untuk memberikan kejutan untuk Hyun-Ah.

“Jangan coba-coba ngintip. Awas kau,” ucap Changmin dengan galak sambil senyum-senyum walaupun Hyun-Ah tidak dapat melihatnya.

“Oppa, apa yang mau kamu tunjukkan? Kenapa mataku harus ditutup?” tanya Hyun-Ah penasaran.

“Aigoo. Cerewet sekali kau. Sudah, ikut aku saja,” jawab Changmin sambil menggandeng Hyun-Ah ke dalam rumah.

Changmin membawa Hyun-Ah ke kamarnya, yang masih berantakan. Changmin menuntun Hyun-Ah dengan hati-hati agar gadis itu tidak tersandung barang-barang yang berserakan di lantai, lalu mendudukannya di tempat tidur.

“Silahkan buka matamu,” ujar Changmin.

Hyun-Ah lalu membuka matanya dan terkejut melihat sekelilingnya. “Oppa berhasil mengejutkanku. Kamar ini berantakan sekali!” ucap Hyun-Ah.

“Ini memang kejutannya. Aku mau kau membereskan kamarku sampai rapi,” sahut Changmin bermaksud bercanda tapi ditanggapi lain oleh Hyun-Ah. Hyun-Ah menganggap Changmin serius.

Hyun-Ah menghela nafas agak berlebihan. “Baiklah. Aku akan mulai dari barang-barang yang berserakan di lantai mu ini,” kata Hyun-Ah lalu membuktikan perkataannya.

Changmin tidak bisa lagi menahan tawanya. “Kau benar-benar tidak bisa bercanda ya? Hahaha. Awas kamu cepat tua. Aku tidak mau punya pacar yang cepat tua,” kata Changmin sambil tertawa terbahak-bahak.

Mendengar kata “pacar”, jantung Hyun-Ah berdegup lebih kencang. Dia menjadi salah tingkah. “Lalu, apa yang mau Oppa tunjukkan sebenarnya?” tanya Hyun-Ah dengan terbata-bata salah tingkah.

Changmin lalu membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah scrap book serta kalung. “Ini oleh-oleh buatmu,” kata Changmin.

Hyun-Ah menerima kedua benda itu dengan senang hati. “Setahun meninggalkanku hanya memberikan buku dan kalung?” ujar Hyun-Ah untuk menggoda Changmin.

“Haish. Lalu kau mau oleh-oleh apa? Rumah? Mobil?” balas Changmin.

“Ya kurang lebih. Kau kan sukses berat,” ucap Hyun-Ah.

“Dasar matre. Huh!” kata Changmin.

Hyun-Ah lalu tersenyum memandang Changmin. Dia lalu menyerahkan kalung tersebut kepada Changmin. “Pasangkan di leherku,” kata Hyun-Ah sambil memunggungi Changmin dan menaikkan rambutnya.

Pada saat itu, dunia Changmin serasa berhenti. Darahnya berdesir dari ujung kaki ke ujung kepala. Pikirannya kacau, tidak terkontrol. Changmin lalu menarik nafas untuk menenangkan pikirannya tapi tidak berhasil.

“Kau pakai saja sendiri. Aku mau menyiapkan makan malam,” kata Changmin dengan gugup sambil menyerahkan kembali kalung itu pada Hyun-Ah. Changmin lalu keluar dari kamar tersebut.

Hyun-Ah menatap Changmin yang keluar kamar dengan heran. “Haish. Orang aneh. Mau membeli tapi tidak mau memasangkan. Huh,” gerutu Hyun-Ah sambil memasang kalung itu di lehernya. Sambil tersenyum, Hyun-Ah mengelus liontinnya yang berbentuk kunci.

Tiba-tiba, suara Changmin terdengar memanggil Hyun-Ah. “Hyun-Ah, aku di dapur. Cepat kesini!” Hyun-Ah pun segera menyusul Changmin ke dapur.

. . .

Pada saat makan malam, kedua orang tua Hyun-Ah mempertanyakan keberadaan anak sulung mereka pada Jihyo. “Jihyo, onni mu tidak ikut makan malam?”

Jihyo yang sedang kesal menjawabnya dengan setengah hati. “Onni lagi pergi sama Changmin oppa.”

“Changmin sudah kembali ke Korea?” tanya papa Jihyo.

“Sudah. Tadi pagi dan dia langsung menculik onni,” jawab Jihyo.

“Kau cemburu ya? Karena onni mu ada yang menculik sedangkan kau harus tertahan makan malam bersama kami?” goda papa Jihyo.

Jihyo menundukkan kepalanya dengan malu. “Bukan begitu, appa. Sungguh. Aku hanya tidak suka Changmin oppa langsung memonopoli Onni,” ucap Jihyo pelan.

Mama Jihyo tersenyum mendengar perkataan anaknya. “Sudah, biarkan saja. Namanya juga baru ketemu lagi. Kamu jangan berpikir aneh-aneh ah. Lebih baik kamu cepat habiskan makananmu biar bisa telpon-telponan sama Sungmin.”

Jihyo tersenyum tersipu malu mendengar ibunya mengucapkan nama Sungmin dan segera menghabiskan makanannya.

. . .

Hyun-Ah duduk dengan manis sambil menunggu Changmin yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. “Selamat makan,” ucap Changmin setelah menaruh makanan terakhir yang dimasaknya.

“Selamat makan,” sahut Hyun-Ah dengan riang. “Aku harap masakan Oppa tidak mengecewakan.”

Hyun-Ah lalu mengambil makanan dan mulai mencicipinya satu per satu. “Humm. Tidak mengecewakan,” ucap Hyun-Ah dengan wajah datar.

Changmin tersenyum mendengarnya. Dengan semangat, ia mendorong Hyun-Ah untuk mencicipi semua masakannya. Sampai akhirnya Hyun-Ah tidak sanggup lagi.

“Kenyang,” kata Hyun-Ah dengan susah payah sambil mengelus-elus perutnya.

Changmin tertawa puas melihat Hyun-Ah menikmati masakannya. “Kapan-kapan aku masak lagi buatmu.”

Sebenarnya Hyun-Ah ingin membantu Changmin membereskan piring-piring tapi karena kekenyangan, Hyun-Ah hanya duduk memperhatikan saja.

Pada saat Changmin sedang beres-beres, orang tuanya datang bersama Eun Ji.

Mama Changmin yang tidak tahu anaknya sudah pulang kaget setengah mati melihat Changmin. “Changmin! Kau sudah pulang!” pekik beliau sambil memeluk Changmin dengan bahagia. “Kapan kau pulang? Kenapa tidak memberitahu kami?”

Changmin hanya tersenyum melihat kegembiraan ibunya. “Tadinya aku mau memberi kejutan tapi kalian keburu pulang,” kata Changmin.

“Urusanmu di jepang dan cina sudah selesai?” sela ayah Changmin.

“Sudah, appa,” sahut Changmin yang masih memeluk ibunya.

“Bagus kalau begitu. Mulai besok kamu sudah bisa kembali ke kantor,” ujar papa Changmin yang lebih cenderung memerintah.

Changmin mengangguk patuh pada ayahnya. Setelah itu dia melepaskan pelukan ibunya dan menyapa Eun Ji. “hai,” ucap Changmin datar.

“Hai,” balas Eun Ji dengan ramah. “Lama tidak bertemu. Apa kabar, Changmin?”

“baik.”

Untuk beberapa lama, tidak ada yang sadar keberadaan Hyun-Ah. Sampai akhirnya Changmin memperkenalkan Hyun-Ah pada kedua orang tuanya. “Appa, omma. Kenalkan ini Hyun-Ah. Song Hyun-Ah,” kata Changmin sambil menunjuk Hyun-Ah.

Hyun-Ah membungkukan tubuhnya dengan sopan. “Senang berkenalan dengan Anda, ahjussi, ahjumma,” ucap Hyun-Ah.

“Senang berkenalan denganmu, Hyun-Ah,” balas mama Changmin. “Changmin sudah lama bercerita tentangmu tapi baru sekarang kita bertemu. Appa mu apa kabar?”

“Appa sehat, ahjumma.”

“Sampaikan salamku untuk appa mu ya. Terima kasih banyak sudah memberikan Changmin banyak pengalaman.”

papa Changmin langsung paham siapa song Hyun-Ah sebenarnya. “ah, kau anak tuan Song Jung Soo ya? Bagaimana KAP appa mu? Lancar?” tanya papa Changmin.

“Lancar, ahjussi,” jawab Hyun-Ah.

Mereka berbincang-bincang cukup lama. Sampai Eun Ji memutuskan pembicaraan. “Makan malam sudah siap,” kata Eun Ji.

“Ah, bagaimana kalo kita makan malam dulu. Obrolannya kita lanjutkan nanti,” kata papa Changmin.

“Ehm, kita sudah makan duluan tadi. Sekarang aku mau mengantarkan Hyun-Ah pulang,” sahut Changmin.

“Baiklah kalau begitu. Kalian hati-hati ya,” ucap papa Changmin.

Changmin lalu mengantarkan Hyun-Ah pulang ke rumahnya.

. . .

Jihyo membukakan pintu saat Hyun-Ah sampai di rumah. Kedua orang tuanya sudah tidur karena kelelahan.

“Onni, akhirnya kau pulang juga,” kata Jihyo senang.

“Kau menungguku pulang?” tanya Hyun-Ah kaget melihat Jihyo membukakan pintu untuknya.

“Tidak juga. Aku lagi nonton tivi. Mana Changmin oppa?”

“dia langsung pulang.”

Hyun-Ah lalu masuk ke dalam kamarnya sambil diikuti Jihyo yang terus berceloteh. “Kau mau ikut aku mandi?” tanya Hyun-Ah karena melihat Jihyo masih di belakangnya saat dia mau mandi.

“Tidak. Aku sudah mandi tadi,” jawab Jihyo. Dia menunggu kakaknya di luar kamar mandi sampai kakaknya selesai mandi.

Begitu Hyun-Ah keluar dari kamar mandi, Jihyo lagi-lagi mengikutinya.

“Onni, besok kau libur kan? Tidak ada acara kan? Temani aku nonton ya di bioskop,” ucap Jihyo dengan nada memohon.

“Memangnya Sungmin oppa tidak mau menemanimu?” goda Hyun-Ah.

“Bukan. Aku mau pergi sama Onni,” sahut Jihyo dengan polos.

Hyun-Ah tersenyum melihat Jihyo. “ok. Ok. Aku akan menemanimu besok tapi sekarang izinkan aku untuk tidur,” kata Hyun-Ah sambil masuk ke dalam selimutnya.

“Meskipun Changmin oppa tiba-tiba mengajak onni pergi, onni akan tetap menemaniku kan?”

“Iya, Jihyo.”

“Ok,” kata Jihyo dengan ceria lalu masuk ke dalam kamarnya.

. . .

Pagi datang lebih cepat dari yang dibayangkan Hyun-Ah. Rasanya dia baru saja tidur tapi Jihyo sudah membangunkannya. “Onni, ayo bangun. Kita nonton yang jam 1. Sekarang sudah jam 10 loh.”

Dengan malas-malasan Hyun-Ah bangun lalu mandi. Setelah itu, dia bersiap-siap. “Onni mau makan dulu,” kata Hyun-Ah setelah siap.

“Omma gak masak. Karena itu aku bangunin onni lebih cepat. Kita makan dulu di mall sebelum nonton,” ujar Jihyo.

“Harusnya kau bilang dari tadi, Jihyo. Ayo kita pergi,” kata Hyun-Ah sambil menyambar kunci mobilnya. Mereka berdua lalu pergi ke mall terkenal dekat rumah mereka.

. . .

Changmin tidak menyangka dia harus pergi menemani Eun Ji berbelanja setelah makan siang padahal dia sudah berencana untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

“tapi appa, aku harus menyelesaikan tugas kuliahku sekarang,” ucap Changmin menolak permintaan ayahnya.

“sebentar saja temani Eun Ji membeli beberapa barang. Ini juga untuk keperluan perusahaan. Ayo cepat kau siap-siap. Eun Ji akan datang sebentar lagi,” kata papa Changmin memaksa.

Changmin tidak berdebat lagi. Dia segera siap-siap dan langsung masuk mobil begitu Eun Ji datang.

“Kenapa aku harus menemanimu?” tanya Changmin dengan dingin.

“Karena ayahmu yang memintanya,” jawab eun ji.

Changmin mendengus kesal lalu melemparkan pandangannya ke luar mobil.

“kenapa kau tidak pernah bersikap manis padaku sih?” tanya Eun Ji tiba-tiba.

“Buat apa? Tidak ada untungnya buatku kan?” balas Changmin.

eun ji menghela nafas sangat panjang dalam menghadapi pria di sebelahnya. “Terserah kau saja. Lebih baik aku diam,” ucap Eun Ji.

Changmin dan Eun Ji akhirnya tidak berbicara selama perjalanan.

. . .

Hyun-Ah menyuruh Jihyo membelikan makanan untuknya sedangkan dia duduk di salah satu kursi menunggu Jihyo dan makanannya datang.

“Tidak rugi aku punya adik. Haha,” gumam Hyun-Ah sambil membuka hapenya. “Tidak ada kabar apapun dari Changmin oppa padahal hari sudah siang. Apa dia masih tidur ya?” Hyun-Ah lalu menyimpan kembali hapenya ke dalam tas.

Tanpa sengaja dia melihat Changmin berada di sebuah toko furniture bersama Eun Ji. “Sedang apa Changmin oppa di sana? Kenapa tidak bilang-bilang padaku?” tanya Hyun-Ah pada dirinya sendiri.

Hyun-Ah lebih memperhatikan Changmin sampai dia tidak sadar Jongwoon sudah berada di hadapannya.

“hai! Sedang apa kau di sini?” tegur Jongwoon, menyadarkan Hyun-Ah.

“Oh, Jongwoonssi. Aku sedang menunggu adikku. Kau sendirian?” sahut Hyun-Ah.

“Yup. Aku harap kedatanganku tidak menganggumu,” ucap Jongwoon sambil nyengir.

“tentu tidak dong. Kau gabung saja sama aku dan adikku. Kita mau nonton habis makan. Bagaimana?”

“dengan senang hati.” jongwoon tidak lupa memamerkan senyum manisnya.

Tidak lama kemudian Jihyo datang dengan membawa makanan yang dipesan Hyun-Ah.

“Ah, jongwoon oppa. Kau di sini juga rupanya. Apa kabar?” sapa Jihyo.

“Baik sekali, Jihyo. Kau apa kabar?” balas jongwoon.

“Aku juga baik kok. Oppa tidak makan?”

jongwoon menggelengkan kepalanya. “Aku sudah makan di rumah tadi,” ujarnya.

“Beruntung sekali. Di rumah kami sedang tidak ada makanan makanya kami makan ke sini.” Jihyo mulai berceloteh panjang lebar. Hyun-Ah hanya senyum-senyum melihatnya sambil menikmati makanannya. Berbeda dengan Jongwoon, yang mendengarkan Jihyo dengan seksama walaupun tidak jarang dia berusaha menarik perhatian Hyun-Ah.

. . .

Eun Ji sedang memilih-milih meja kerja dan kursi sedangkan Changmin hanya duduk tidak peduli.

“Menurutmu, mana yang lebih bagus, Changmin? Meja ini atau itu?” tanya Eun Ji sambil menunjuk kedua meja secara bergantian.

“Terserah kau saja,” jawab Changmin cuek, yang justru mengeluarkan psp nya lalu bermain game.

Di tempat lain, Hyun-Ah, Jihyo, dan Jongwoon berbincang seru mengenai film yang baru mereka tonton.

“Edward keren banget. Real man. Tapi aku lebih suka sama Jacob. Cool!” ujar Jihyo dengan semangat.

“Yah, not bad lah,” sahut jongwoon.

Jihyo baru mau melanjutkan komentarnya tapi hapenya keburu berbunyi dan memaksanya untuk menjawab panggilan tersebut. Jongwoon tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bicara dengan Hyun-Ah.

“Kau langsung pulang kah?” tanya Jongwoon.

“Entah. Hidupku di tangan Jihyo hari ini. Terserah dia saja,” jawab Hyun-Ah sambil tertawa. “Kau sendiri akan langsung pulang kah?”

“Rasanya iya. Aku harus mengerjakan tugas. Aku hanya mau refreshing sebentar kok kesini.”

“Oke deh kalau begitu. Lebih baik kamu pulang sekarang. Semakin cepat pulang semakin cepat tugasmu selesai.”

“Betul. Kalau begitu, aku pulang duluan ya, Hyun-Ah. Terima kasih sudah mengajakku senang-senang. Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa.”

jongwoon melambaikan tangannya kepada Hyun-Ah sambil melangkah pergi. Tiga menit kemudian, Jihyo baru memutuskan teleponnya.

“Onni masih ada yang mau dibeli?” tanya Jihyo.

“Tidak ada. Memang kenapa?” sahut Hyun-Ah.

“Tidak apa. Kalau gitu, kita langsung pulang ya? Sungmin oppa mau ke rumah nanti malam.”

Hyun-Ah mengangguk paham lalu berjalan menuju ke parkiran mobilnya bersama Jihyo. Tanpa sengaja, Hyun-Ah melewati toko furniture tempat dia melihat Changmin bersama Eun Ji tadi siang. Hal itu membuatnya teringat pada Changmin.

. . .

Eun Ji mengantarkan Changmin sampai ke depan rumah pria itu. Setelah mengucapkan terima kasih dengan singkat, Changmin segera masuk ke dalam rumahnya dan membiarkan Eun Ji pergi.

Changmin langsung masuk ke kamarnya dan menelepon Hyun-Ah.

“Halo, cantik. Maaf ya baru telepon,” kata Changmin begitu Hyun-Ah mengangkat teleponnya.

“Iya. Oppa darimana saja?” balas Hyun-Ah dari seberang.

“Tadi aku nemenin Eun Ji beli meja sama kursi buat kantor. Membosankan sekali,” ujar Changmin. “Kamu hari ini ngapain aja?”

“cuman ke bioskop sama Jihyo, nonton eclipse. Seru deh.”

“Sayang aku gak ikut. Huhuhu.”

“Gak apa. Oh ya, oppa. Malam ini mau makan malam di rumah ku gak?  ada Sungmin oppa juga.”

“baiklah. Jam berapa?”

“Jam 7an. Jangan telat ya. Soalnya kasian appa omma kalau harus menunggu.”

“Siap, bos.”

Changmin lalu menutup teleponnya sambil senyum-senyum.

. . .

Changmin datang sejam lebih cepat dari yang diharuskan. Karena itu, Hyun-Ah menyuruhnya untuk menunggu di ruang belajar.

“sudah lama aku tidak masuk ruangan ini padahal dulu hampir setiap hari,” ucap Changmin sambil duduk di salah satu kursi.

Tidak lama kemudian, Hyun-Ah datang dengan membawa scrap book yang diberikan Changmin.

“Aku ingin melihat isi scrap book ini tapi terkunci. Aku tidak tahu cara membukanya,” kata Hyun-Ah dengan bingung.

Changmin melihat Hyun-Ah sebentar lalu tertawa. “Kuncinya itu tergantung di lehermu, sayang,” ujar Changmin.

Hyun-Ah lalu menundukkan kepalanya dan melihat liontin kunci yang tergantung di lehernya. Ia lalu mencoba memasukkan kunci tersebut ke lubang gembok yang terpasang pada scrap book. Rantai kalungnya yang pendek, agak menyulitkan Hyun-Ah.

“Oppa, tolong bantu aku membukanya,” ucap Hyun-Ah.

“bilang dulu dengan gayamu yang paling imut, baru aku mau membantu,” kata Changmin.

Dengan senang hati, Hyun-Ah menuruti Changmin. “Oppa, tolong bantu aku,” ucap Hyun-Ah seimut mungkin.

Changmin tertawa lalu membantu Hyun-Ah membuka scrap book tersebut.

“Terima kasih,” ujar Hyun-Ah lalu membuka lembaran-lembarannya di atas meja.

Hyun-Ah melihat berbagai foto dan banyak tulisan di dalamnya, yang sebagian besar adalah catatan harian Changmin.

Hyun-Ah membaca setiap lembarnya dengan seksama dan waktu serasa berjalan berbanding terbalik dengan degupan jantungnya.

Tidak ada satu lembar kertas pun yang tidak tertulis nama Hyun-Ah. ‘Aku merindukanmu, Hyun-Ah. Aku harap kau juga merindukanku.’ salah satu tulisan yang paling eksis di scrap book tersebut.

“Aku selalu merindukanmu selama setahun ini. Aku tidak tahu kau juga merasakan hal yang sama atau tidak tapi aku berterima kasih karena kau tidak pernah bilang rindu padaku. Coba kalau kau bilang rindu padaku sekali saja, aku pasti akan langsung pulang menemuimu,” kata Changmin.

“Terima kasih, oppa. Aku juga sangat merindukanmu sebenarnya,” balas Hyun-Ah sambil tersenyum malu-malu.

Tanpa sadar, Changmin sudah mencondongkan tubuhnya mendekati Hyun-Ah. Pikirannya mulai tidak menentu. Matanya menatap mata Hyun-Ah dengan dalam. Sebelum Hyun-Ah sadar, Changmin sudah menarik tubuhnya lebih dulu.

“Aku mau ke tempat-tempat ini kapan-kapan,” kata Hyun-Ah sambil menunjuk berbagai foto yang ditempel di scrap book oleh Changmin.

Tiba-tiba Jihyo masuk dengan panik. “Onni, Sungmin kecelakaan. Ayo kita ke rumah sakit sekarang?” kata Jihyo hampir histeris.

Melihat adiknya panik bukan main, Hyun-Ah juga jadi ikutan panik. “iya, iya. Kita ke rumah sakit sekarang. Aku ambil jaket sama tas dulu. Kamu tunggu aja di mobil.”

“Biar aku yang mengantar kalian,” sela Changmin.

“Oke. Oke,” sahut Hyun-Ah yang lalu pergi ke kamar mengambil jaket untuk dia dan adiknya serta tasnya dan tas adiknya. Setelah itu dia menemui appa ommanya, yang langsung bertanya apa yang sedang terjadi. “Adikmu kenapa? Kok panik gitu? Omma tanya ada apa bilangnya nanti dia jelasin,” tanya omma Hyun-Ah bingung.

“Itu yang mau aku jelaskan. Appa, omma. Maaf, kami tidak bisa ikut makan malam bareng. Sungmin kecelakaan, aku dan Changmin oppa mau menemani Jihyo ke rumah sakit,” jawab Hyun-Ah.

“Sungmin kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya omma Hyun-Ah cemas.

“Aku juga tidak tahu. Sampai di rumah sakit, aku akan memberi kabar,” jawab Hyun-Ah. “Aku pergi dulu.”

“Hati-hati,” ujar appa Hyun-Ah.

Hyun-Ah lalu menyusul Jihyo dan Changmin ke mobil. Changmin pun langsung tancap gas ke rumah sakit.

. . .

Jihyo langsung menghambur keluar dari mobil dan berlari menuju ruang operasi. Hyun-Ah dan Changmin ikut berlari di belakangnya. Sampai di depan ruang operasi, Jihyo langsung bertanya pada adik perempuan Sungmin, Lee Jiwon.

“Oppa. Bagaimana keadaan oppa sekarang?” tanya Jihyo.

“Masih dioperasi. Tampaknya tidak terlalu parah. Kau tenang saja, Jihyo,” jawab Jiwon.

Hyun-Ah dan Changmin yang tiba 30 detik setelah Jihyo, langsung mendekati Jihyo dan Jiwon yang memancarkan aura kecemasan.

“Aku yakin dia baik-baik saja di dalam,” kata Changmin dengan tenang.

Jihyo tidak bergeming. Berbeda dengan Jiwon yang langsung memeluk Changmin. “Changmin oppa. Ternyata kau datang juga. Aku cemas menunggu Sungmin oppa sendirian disini,” kata Jiwon sambil menangis.

“Appa dan omma mu memang kemana?” tanya Changmin sambil mengelus-elus kepala Jiwon.

Saat itu, dunia Hyun-Ah serasa berhenti. Dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Changmin mengelus kepala gadis lain selain dirinya. Bahkan memeluk gadis itu.

Hyun-Ah tidak pernah menyangka kisahnya akan jadi serumit ini. Dia memilih untuk menghindar sementara.

. . .

Hape Hyun-Ah berdering saat dirinya sedang memilih-milih makanan. “Jihyo. Ada apa?” tanya Hyun-Ah begitu membuka hapenya.

“Onni dimana? Operasi Sungmin oppa berhasil. Sekarang dia sudah masuk kamar rawat,” sahut Jihyo.

“Syukurlah. Aku akan menyusul sebentar lagi. Aku beli makanan dulu. Kita belum sempat makan malam kan tadi,” ucap Hyun-Ah.

“Oke. Nanti onni langsung ke kamar 407 ya.”

Setelah Jihyo menutup telepon, Hyun-Ah membeli 4 set makanan dan minuman lalu membawanya ke ruang 407.

Di dalam ruang 407, ternyata juga sudah ada omma nya Sungmin. Dengan terpaksa, Hyun-Ah merelakan makanannya untuk wanita itu.

“Ahjumma, silahkan dimakan,” ucap Hyun-Ah dengan sopan sambil menyerahkan 1set makan malam kepada omma nya Sungmin.

“Terima kasih banyak ya, sayang,” sahut omma Sungmin.

Setelah itu, Hyun-Ah memberikan set yang lain kepada Jihyo, jiwon dan Changmin.

Sebenarnya Hyun-Ah ingin menemani Jihyo di dalam tapi hatinya bisa habis kemakan melihat Jiwon yang terus menyender pada Changmin. Karena itu, Hyun-Ah menunggu di luar kamar sambil menelepon kedua orang tuanya.

“iya, omma. Operasinya berhasil. Sekarang Jihyo sedang menunggu Sungmin sadar… Iya, aku rasa dia tidak akan mau pulang sampai Sungmin sadar. Baik, aku akan pulang sebentar lagi,” kata Hyun-Ah pada ommanya lalu menutup telepon.

Tiba-tiba Changmin keluar menghampirinya. “Kau sudah makan malam?” tanya Changmin.

“Sudah,” jawab Hyun-Ah berbohong.

“Syukurlah. Kau kemana saja dari tadi? Kenapa tiba-tiba menghilang?”

“Aku hanya mencari makanan untuk kalian. Aku mau pulang dulu.”

“Oke. Ayo.”

Changmin segera berdiri dan menggandeng Hyun-Ah tapi ditolak oleh gadis itu. “Kau di sini saja. Aku titip Jihyo ya,” ucap Hyun-Ah lalu pergi meninggalkan Changmin.

. . .

Jihyo menghabiskan malam dengan menunggu Sungmin sadar. Penantiannya baru tercapai jam 5 pagi.

“Kau sadar juga, oppa. Syukurlah,” kata Jihyo tanpa menutupi rasa leganya.

“Iya. Kau di sini semalaman? Sendirian?” tanya Sungmin pelan.

“Iya tapi aku tidak sendirian. Changmin oppa dan Jiwon menunggu di luar,” jawab Jihyo lagi. “kau jangan banyak bicara dulu. Aku panggilkan dokter ya.”

Jihyo lalu memencet bel yang ada di atas tempat tidur Sungmin. “Sungmin sudah sadar. Sepertinya dokter harus memeriksa keadaannya,” kata Jihyo pada suster yang langsung datang begitu bel dibunyikan.

“Baiklah. Tunggu sebentar,” kata suster tersebut lalu memanggil dokter.

Tidak lama kemudian dokternya datang dan memeriksa Sungmin. “keadaannya sudah membaik tapi Sungmin harus tetap dirawat intensif,” kata dokter.

Jihyo mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama dan berusaha mematuhinya.

Sekitar jam 8 pagi, Hyun-Ah datang ke rumah sakit dengan membawa baju ganti untuk Jihyo.

“Kau harus tetap kuliah. Setelah kuliah baru kesini lagi,” kata Hyun-Ah dengan tegas.

“Tapi aku bolak-balik naik apa? Kampus – rumah sakit jauh. Tidak ada kendaraan umum. Aku kan gak punya mobil,” sahut Jihyo berusaha mencari alasan tidak kuliah.

“Aku akan mengantar jemputmu,” balas Hyun-Ah.

“Lalu, yang akan menjaga Sungmin siapa?” Jihyo mencari berbagai alasan yang tentu ditolak Hyun-Ah.

“Ada jiwon dan Changmin di luar yang bisa menjaganya,” kata Hyun-Ah sambil menggedikkan kepalanya ke arah pintu dengan sinis. “Aku pergi dulu.”

Hyun-Ah lalu keluar dari kamar dan langsung melihat pemandangan yang tidak enak. Jiwon tidur di pangkuan Changmin dengan nyenyak.

“Kau mau kuliah?” tanya Changmin tanpa bisa bergerak.

“Iya.” Hyun-Ah menjawabnya sesingkat mungkin lalu pergi.

. . .

Hyun-Ah tidak bisa konsentrasi dalam kuliahnya. Terlebih lagi setelah mendengar obrolan teman sekelasnya.

“Pacarku menciumku kemarin akhirnya. Itu bukti dia sayang padaku,” kata salah satu gadis.

“Oh ya? Kalau aku, dari berpegangan tangan saja aku tahu pacarku sayang padaku,” sahut gadis yang lainnya.

“Ah, kalau berpegangan tangan saja atau pegang kepala atau apa bisa dilakukan dengan siapa saja.”

Obrolan itu terus terngiang di telinga Hyun-Ah. Bahkan pada saat makan siang pun dirinya juga tidak fokus. Teleponnya cukup sering berbunyi tapi tidak ada satupun yang dia angkat begitu melihat nama Changmin terpampang di layar hapenya.

Tanpa dia sadari, tangan Hyun-Ah memencet nomor telepon jongwoon.

“Ah, Hyun-Ahssi. Ada apa meneleponku?” tanya Jongwoon.

Hyun-Ah yang sedang tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya, akhirnya tidak tahu juga apa yang harus dikatakannya.

“Ehm? Kau sedang sibuk tidak sekarang?” tanya Hyun-Ah.

“Tidak. Memang kenapa?”

“Kau mau menemaniku jalan-jalan?”

“Oke. Jam berapa?”

“Sekarang. Aku tunggu di depan kampusku ya.”

Hyun-Ah menutup teleponnya dan bangkit berdiri menuju lobi kampusnya. “Apa yang aku lakukan? Aku pasti sudah gila,” gumam Hyun-Ah sambil berjalan.

 

-to be continued-

@gyumontic