Pada saat yang sama di rumah sakit, Changmin kelimpungan setengah mati karena Hyun-Ah tidak mau mengangkat teleponnya.

“Jihyo, kakakmu kemana? Teleponnya kok tidak diangkat?” tanya Changmin pada Jihyo.

“Masih kuliah mungkin,” jawab Jihyo.

“Sekarang bukan jam kuliah. Lagipula bukannya seharusnya dia menjemputmu untuk kuliah?”

“Sudahlah, oppa. Mungkin onni lupa. Lagipula aku masih ingin disini menemani Sungmin oppa.”

Jihyo bersyukur karena onninya lupa menjemput jadi dia bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Sungmin. Berbanding terbalik dengan Changmin yang sudah cemas setengah mati sampai akhirnya dia datang ke kampus.

. . .

Hyun-Ah segera masuk ke dalam mobil Jongwoon begitu pria itu sampai di depan kampusnya.

“Kau mau jalan-jalan kemana?” tanya Jongwoon.

“Entahlah. Bagaimana kalau ke kebun binatang?” ujar Hyun-Ah.

Jongwoon menyambut ide Hyun-Ah dengan baik. Dia langsung tancap gas ke kebun binatang sesuai keinginan Hyun-Ah.

Begitu sampai, jongwoon segera membeli tiket masuk untuk mereka berdua.

Keadaan kebun binatang sangat ramai karena ada anak SD yang sedang studi tour di sana. Karena itu, Hyun-Ah meminta Jongwoon untuk menggandengnya. “Aku tidak mau hilang,” kata Hyun-Ah.

Sambil tersenyum, Jongwoon menggandeng Hyun-Ah.“Ternyata bergandengan tangan bisa dilakukan dengan siapa saja,” gumam Hyun-Ah pelan sambil menghela nafas panjang.

Selama sejam berjalan dalam kebun binatang, selama itu juga Hyun-Ah bergandengan dengan Jongwoon.

“Jongwoon, aku lelah. Kita duduk dulu yuk,” ajak Hyun-Ah saat melihat ada bangku kosong di dekat mereka.

Hyun-Ah lalu duduk di bangku itu diikuti oleh Jongwoon yang memilih duduk di sebelahnya.

“Jongwoonssi, apa kau pernah punya pacar?” tanya Hyun-Ah tiba-tiba.

“Humm. Pernah, waktu aku SMP,” jawab Jongwoon.

“Apa kau pernah memperlakukan pacarmu dengan spesial?”

“Jelas dong. Tidak mungkin tidak.”

“Jadi, kau tidak mungkin memeluk gadis lain atau membiarkan gadis itu dekat denganmu jika ada pacarmu kan?”

“Jelas tidak mungkin. Aku rasa hanya pria tidak waras yang bisa melakukannya.”

Hyun-Ah menghela nafasnya dengan berat lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Jongwoon. “Aku rasa wanita yang mau bersama pria seperti itu jauh lebih tidak waras,” kata Hyun-Ah dengan pelan.

Jongwoon menatap kepala yang sedang bertengger di bahunya dan refleks mengelus-elusnya.

. . .

Changmin berusaha mencari-cari Hyun-Ah ke seluruh pelosok kampus tapi tidak menemukannya sama sekali. Yang mampu dia temukan adalah mobil Hyun-Ah yang masih terparkir dengan rapi di parkiran FE. Dengan terpaksa, Changmin menunggu di depan mobil Hyun-Ah sampai Hyun-Ah datang sejam kemudian.

Hyun-Ah datang diantarkan oleh Jongwoon. Tangan Hyun-Ah dilambaikan sambil memancarkan senyumnya sebelum mobil Jongwoon melaju.

Setelah itu, Hyun-Ah berjalan ke mobilnya dan menemukan Changmin yang sudah berdiri di depan mobilnya dengan galak.

“Kau kemana saja? Kenapa tidak memberi kabar sama sekali? Teleponku juga tidak diangkat,” ujar Changmin bertubi-tubi.

“Aku hanya jalan-jalan dengan Jongwoon ke kebun binatang. Maaf tidak ada kabar. Hapeku rusak,” sahut Hyun-Ah.

Changmin lalu memeluk Hyun-Ah dengan erat. “Ya Tuhan, terima kasih. Untung kau baik-baik saja,” ucap Changmin dengan perasaan lega.

Hyun-Ah menarik tubuhnya dari pelukan Changmin. “Aku harus ke rumah sakit sekarang,” kata Hyun-Ah dengan gugup.

Kali ini dia tidak merasa jantungnya berdegup lebih kencang atau darahnya berdesir tapi lebih merasa bersalah atas apa yang dilakukannya bersama Jongwoon. Karena itu, Hyun-Ah langsung masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas ke rumah sakit.

Walaupun Hyun-Ah sudah berjalan secepat mungkin, Changmin berhasil menyusulnya. “Hyun-Ah, kau kenapa? Kok lari terus dariku?” tanya Changmin.

Hyun-Ah hanya menjawab, “Tidak apa-apa,” kata Hyun-Ah lalu masuk ke dalam ruang rawat Sungmin dengan santai.

“Onni!” seru Jihyo dengan gembira. “Terima kasih karena lupa menjemputku.”

“Sial. Besok aku tidak akan lupa menjemputmu,” sahut Hyun-Ah dengan tampang pura-pura kesal. Dia lalu berpaling pada Sungmin. “Bagaimana keadaanmu, oppa?”

“Sudah membaik,” jawab Sungmin sambil tersenyum. “Jihyo merawatku dengan baik. Hehehe.”

“Kapan kau boleh pulang?” tanya Hyun-Ah.

“Seminggu atau dua minggu lagi. Aku harap aku bisa meminjam adikmu selama itu,” sahut Sungmin sambil tersenyum memohon.

“Boleh, boleh. Asal dia tetap kuliah dan pulang ke rumah,” ujar Hyun-Ah.

“Tentu saja. Kalau dia tidak mau, aku yang akan menendangnya keluar.”

Tawa seisi ruangan langsung meledak karenanya. Hanya Jihyo yang cemberut memanyunkan bibirnya.

Hyun-Ah lalu berpamitan pada Sungmin dan ommanya. Hyun-Ah juga menyuruh Jihyo untuk pulang bersamanya tapi Jihyo menolak.

“Aku pulang nanti malam sama omma dan appa. Mereka mau jenguk oppa setelah pulang kerja,” kata Jihyo.

Hyun-Ah tidak memaksa. “Terserah kau saja,” kata Hyun-Ah lalu keluar kamar tanpa memandang Changmin sedikitpun, yang tentu saja sedang digelayuti Jiwon.

. . .

Changmin merasa ada yang tidak beres dengan Hyun-Ah. Sepanjang hari, Hyun-Ah bersikap tidak peduli padanya. Meskipun Changmin berusaha mendekati Hyun-Ah tapi tidak ada reaksi.

“Jiwon, oppa pulang dulu ya. Oppa harus mandi dan mengerjakan tugas,” kata Changmin pada Jiwon yang sedang bersender padanya.

“Tapi oppa akan kesini lagi kan?” tanya Jiwon.

Changmin menganggukan kepalanya sambil menepuk-nepuk kepala Jiwon. “Pasti.”

Changmin lalu berpamitan pada Sungmin, omma Sungmin dan tidak lupa Jihyo. “Kalau paman dan bibi nanti malam jadi kesini berarti onnimu sendirian di rumah?” tanya Changmin saat pamit pada Jihyo.

“Iya. Memang kenapa?” sahut Jihyo.

“Berarti aku harus menemaninya,” ujar Changmin sambil mengedipkan mata sebelah kirinya.

Changmin pun segera pulang dan mandi. Sejam kemudian, dia meluncur ke rumah Hyun-Ah.

. . .

Hyun-Ah baru saja selesai mandi saat bel rumahnya berbunyi. “Siapa sih yang datang malam-malam gini?” gerutu Hyun-Ah sambil berlari kecil menuju pintu depan. “Sebentar.”

Hyun-Ah lalu membuka pintu rumahnya dan menemukan Changmin berdiri di depannya sambil membawa setangkai bunga mawar. “Hai, cantik,” sapa Changmin sambil menyodorkan bunga tersebut kepada Hyun-Ah.

Hyun-Ah menerima bunga itu dengan ragu-ragu. “Masuklah,” ucap Hyun-Ah lalu menyuruh Changmin duduk di ruang tamu.

Changmin memilih duduk di kursi panjang sedangkan Hyun-Ah duduk di kursi single di depannya.

“Kenapa tidak duduk di sebelahku? Aku sudah mandi kok. Sudah wangi. Tidak usah khawatir,” kata Changmin dengan santai sambil menepuk-nepuk kursinya.

“Aku lagi flu. Nanti oppa tertular,” kata Hyun-Ah bohong.

Changmin lalu bangkit berdiri dan pindah duduk di hadapan Hyun-Ah. “Kau bohong. Aku tahu kau sedang menghindariku. Kau kenapa sebenarnya?” tanya Changmin sambil membetulkan rambut Hyun-Ah.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sedang flu,” kata Hyun-Ah berusaha meyakinkan Changmin, yang tidak ada hasilnya.

“Sudahlah, sayang. Katakan yang sebenarnya. Ada apa, humm?”

Hyun-Ah menghela nafas lalu menceritakan apa yang terjadi padanya. “Aku berciuman dengan Jongwoon tadi siang,” kata Hyun-Ah dengan jujur.

Changmin terkejut setengah mati mendengarnya tapi tetap berusaha tenang. “Kenapa kau melakukannya?” tanya Jongwoon.

Hyun-Ah lalu menjelaskan semuanya mulai dari Jiwon yang tidak pernah lepas dari Changmin, obrolan teman-teman sekelasnya sampai ciuman yang terjadi di kebun binatang.

“Jadi kau mau aku bagaimana mulai sekarang?” tanya Changmin dengan lembut saat Hyun-Ah selesai bicara.

“Jangan dekat-dekat dengan perempuan lain selain aku. Termasuk Jiwon,” jawab Hyun-Ah.

“Baiklah, nyonya besar. Asal kau tidak…ehm…mencium pria lain lagi selain aku. Oke?” sahut Changmin.

Hyun-Ah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku janji.”

Changmin balas tersenyum lalu mengambil handuk dan sisir yang dipegang Hyun-Ah. “Sini, aku rapikan rambutmu,” kata Changmin.

Hyun-Ah menurut saja. Sambil rambutnya dirapikan, Hyun-Ah bertanya pada Changmin. “Oppa dekat ya sama Jiwon?”

“Dia sudah seperti adikku sendiri, sayang.”

“Tapi kenapa rasanya dia tidak menganggapmu sebagai oppanya?”

“Aku tidak berkuasa sampai situ. Kalau dia hanya menganggapku biasa saja, masak aku harus memaksa dia menganggapku sebagai oppanya?”

Hyun-Ah membalikkan tubuhnya sehingga ia berhadapan dengan Changmin. “Bukan itu maksudku. Aku rasa dia suka padamu sebagai pria,” ujar Hyun-Ah serius.

Changmin lalu memegang kedua pipi Hyun-Ah dengan tangannya. “Kalau seperti itu, aku juga tidak bisa menyuruhnya untuk tidak menyukaiku. Yang penting, aku tetap bersamamu kan?”

Pipi Hyun-Ah terasa lebih panas. Jantungnya serasa mau keluar. Sarafnya seperti beku. Matanya menutup tanpa diperintah. Detik berikutnya, ciuman Changmin mendarat di keningnya. Rasa cemburu dan bersalah Hyun-Ah agak terobati karenanya.

Setelah itu, Hyun-Ah hanya menonton tivi sambil menyender pada Changmin dengan perasaan nyaman. Saking nyamannya, dia sampai ketiduran dan membuat Changmin harus menggendongnya ke kamar.

“Selamat malam ya, cantik,” ucap Changmin lalu mencium Hyun-Ah dengan lembut. “Maaf, aku hanya berani menciummu di saat kamu tidur.” Changmin lalu keluar dari kamar Hyun-Ah dan menunggu keluarga Hyun-Ah pulang.

. . .

Sejak kejadian di kebun binatang, Jongwoon lebih perhatian pada Hyun-Ah. Istilahnya mungkin lebih cocok dibilang pendekatan. “Hyun-Ahssi. Mau makan siang bersamaku?” tanya Jongwoon melalui telepon saat Hyun-Ah keluar kelas.

Hyun-Ah menggaruk-garuk pelipisnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. “Humm, baiklah. Ketemu di kantin fakultasku ya?” jawab Hyun-Ah akhirnya.

Jongwoon menyetujui lalu menutup telepon. Hyun-Ah pun menutup teleponnya. Setelah itu, dia berpaling pada Changmin yang berada di sebelahnya.

“Kau harus ke kantor sekarang? Tidak makan siang dulu bersamaku?” tanya Hyun-Ah setengah merajuk.

Changmin meletakkan tangannya di kepala Hyun-Ah. “Maaf aku gak bisa, sayang. Tapi nanti malam akan aku usahakan makan bersamamu. Bagaimana?” ucap Changmin.

Hyun-Ah hanya mengangguk lemah lalu menghela nafas. Berpikir apa dia perlu memberi tahu Changmin soal rencana makan siangnya bersama Jongwoon. Tapi Changmin keburu pergi sebelum Hyun-Ah mengutarakan rencananya.

“Aku pergi dulu ya. Sampai nanti,” ucap Changmin sambil berlalu pergi. Baru selangkah dia pergi, badannya berbalik. “Oh ya, nanti aku mau jenguk Sungmin. Ada pesan?”

“Bawa Jihyo pulang dari rumah sakit.”

“Baik, nyonya.”

Changmin lalu benar-benar melangkah pergi kali ini. Sedangkan Hyun-Ah pergi ke kantin untuk menemui Jongwoon.

. . .

Kantin di kampusnya selalu ramai setiap jam makan siang. Karena itu, agak sulit menemukan Jongwoon di tempat ini. Untung saja Jongwoon menghampirinya.

“Kampusmu seperti pasar. Sesak sekali,” kata Jongwoon bercanda.

“Hahaha. Memang. Kau mau protes?” balas Hyun-Ah juga dengan bercanda.

“Tentu saja tidak.”

Jongwoon lalu mengambil tempat duduk yang baru saja ditinggalkan sekelompok mahasiswa. “silahkan duduk,” kata jongwoon pada Hyun-Ah. “Kau mau makan apa?”

“seharusnya aku yang tanya padamu. Ini fakultasku,” jawab Hyun-Ah sambil tertawa. “tapi aku mau nasi goreng dan jus alpukat saja.”

“Ok. Tunggu sebentar,” ucap Jongwoon lalu melesat membeli makanan Hyun-Ah dan kembali beberapa menit kemudian.

“Silahkan,” kata Jongwoon sambil menaruh makanan Hyun-Ah di hadapan gadis itu.

“Terima kasih banyak,” kata Hyun-Ah.

Sambil menikmati makan siang, mereka berdua mengobrol. “bagaimana tinggal bersama ayah dan kakakmu?” tanya Hyun-Ah.

Jongwoon mengangkat bahunya sedikit lalu menjawab, “Tidak seburuk yang aku kira. Tapi aku tetap tidak suka ibu tiriku.”

“yah, setidaknya perlakukan dia sebaik dia memperlakukanmu.”

“baiklah, nona penasehat.”

“lalu, bagaimana kabar eun ji onni? Apa dia baik-baik saja?” tanya Hyun-Ah.

“Dia selalu baik-baik saja. Akhir-akhir ini dia semakin sibuk. Sering pulang larut malam.”

Hyun-Ah berpikir, jelas saja onni akan selalu pulang larut kalau setiap hari harus ke rumah Changmin dahulu.

Tidak terasa, Jongwoon dan Hyun-Ah sudah menghabiskan waktu 3 jam di sana.

“Aah. Aku harus kembali ke kampus. Ada kuliah sebentar lagi. Kau tidak ada kuliah?” kata Jongwoon.

“Tidak. Aku harus langsung pulang,” sahut Hyun-Ah.

Jongwoon lalu melambaikan tangannya kepada Hyun-Ah dan kembali ke fakultasnya. Sedangkan Hyun-Ah pergi menuju mobilnya.

. . .

Sebelum Hyun-Ah pulang ke rumah, dia menyempatkan diri untuk belanja bahan makanan untuk makan malam. Malam ini, Hyun-Ah mendapat giliran untuk memasak.

Begitu sampai rumah, Hyun-Ah menaruh belanjaannya di dapur lalu istirahat sejenak.

Dirinya baru mulai memaksa tubuhnya untuk bangkit di jam 5 sore. Hyun-Ah memilih untuk mandi lebih dulu. Setelah itu, baru mulai masak.

Hyun-Ah baru menyelesaikan separo masakannya saat pintu depan terdengar terbuka dengan kasar dan suara derap kaki yang tergesa-gesa.

Hyun-Ah keluar dari dapur dan menemukan Changmin sedang berjalan ke arahnya dengan tenang. “Siapa yang membuka pintu sekasar itu?” tanya Hyun-Ah.

“Jihyo. Dia kesal karena aku paksa pulang. Dia masih mau menemani Sungmin,” jawab Changmin sambil tersenyum.

“Dasar Jihyo. Nanti aku akan bicara padanya. Maafkan dia ya.”

Changmin lagi-lagi tersenyum seolah tidak ada yang pernah terjadi. “Kau sedang memasak ya? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Changmin.

“Humm. Aku butuh bantuan untuk mencuci semua peralatan masakku.”

Dengan gesit, Changmin segera mencuci semua benda kotor yang ada di rak cuci. “Aku rasa kita cocok untuk kerja sama dalam rumah tangga,” ucap Changmin.

Pada saat yang sama, Hyun-Ah tidak sengaja menjatuhkan sendok masaknya karena begitu terkejut dengan ucapan Changmin. “pikiranmu terlalu jauh,” kata Hyun-Ah.

“Aku tidak mengajakmu menikah. Tenang saja. Tapi situasi kita sekarang seperti…”

“Jangan berpikir terlalu jauh seperti itu.”

Changmin yang telah selesai mencuci lalu mengeringkan tangannya dan mendekati Hyun-Ah. Hyun-Ah berdiri terpaku di tempatnya. Tubuhnya menegang begitu juga dengan saraf-sarafnya.

Hyun-Ah berpikir Changmin akan melakukan sesuatu padanya tapi ternyata pikirannya salah.

“Masakanmu pasti enak. Aku tidak sabar mencobanya,” kata Changmin lalu keluar dari dapur.

Tubuh dan saraf Hyun-Ah langsung melemas seketika. “Kalau kau membuatku mati kutu lagi seperti tadi, aku sumpah akan membuatmu tidak bisa hidup tanpaku,” gerutu Hyun-Ah.

. . .

Jihyo tidak ikut makan malam bersama Hyun-Ah dan Changmin. Dia lebih memilih berada di kamarnya berteleponan dengan Sungmin.

“Oppa, apa kau sudah makan malam?” tanya Jihyo.

“Sudah. Makanannya tidak enak sekali. Huh,” jawab Sungmin. “Apa makan malammu lebih enak?”

“Aku tidak makan malam.”

“Kenapa?”

“Tidak lapar. Oppa, cepat pulang dong. Aku kesepian.”

perbincangan di telepon berlangsung lebih dari satu jam. Setelah itu, Jihyo menyambungnya dengan Hyungrim.

“Jihyo ah. Kemana saja kau? Kok jarang kelihatan di kampus?” tanya hyungrim.

“aku menemani Sungmin oppa di rumah sakit. Aku gak mau ninggalin dia sendirian,” jawab Jihyo.

“Ah, so sweet. Manis sekali.”

“Apa ada yang aku lewatkan selama jarang ke kampus?”

“Tidak ada. Paling hanya beberapa tugas, yang tentu saja terselamatkan karena teman kelompok kita pintar2.”

Jihyo terus mengobrol dengan hyungrim tanpa tahu kapan berakhir.

Pada saat yang sama, Hyun-Ah dan Changmin sedang membereskan meja makan.

“Bisa tolong aku cuci piring-piring ini sekali lagi?” kata Hyun-Ah.

“siap, bos,” sahut Changmin lalu segera mencuci piring-piring kotor.

Setelah itu, Changmin dan Hyun-Ah duduk di ruang tivi lalu bermain uno.

“Siapa yang kalah harus mau melakukan apa aja buat yang menang. Deal?” kata Hyun-Ah.

“Deal,” sahut Changmin.

Ronde pertama, Changmin menang dengan mudah dan meminta Hyun-Ah untuk menyapu rumah sambil menari Nobody.

“Oh, imut sekali,” ucap Changmin jahil saat melihat Hyun-Ah melakukan hukumannya.

“Tunggu pembalasanku!” ujar Hyun-Ah tapi kenyataannya dia tetap saja kalah di ronde-ronde berikutnya.

“Ah, permainan selesai. Oppa selalu menang. Tidak adil,” kata Hyun-Ah sambil melempar kartunya ke meja dengan cemberut.

Changmin tertawa melihat kelakuan pacarnya. “Kau curang tahu! Selalu saja membubarkan permainan setiap kalah. Huu,” ucap Changmin.

“Biarin. Wuek! Emang aku pikirin. Oppa gak pulang? Sudah malam lho.”

“Tumben menyuruhku pulang. Masa kau sampai semarah itu padaku? Hahahahaha.”

“Bukan, bukan. Besok kan oppa kuliah pagi terus ke kantor.”

“Baiklah, sayang. Baiklah. Kau hati-hati ya di rumah. Kabari aku kalau appa omma mu sudah pulang.”

“Oke, boss.”

Changmin lalu pulang. Hyun-Ah mengecek keadaan Jihyo, yang sudah tidur. Hyun-Ah kembali ke ruang tivi untuk belajar sambil menunggu kepulangan orang tuanya.

. . .

Changmin langsung masuk ke dalam kamarnya begitu sampai di rumah. Dia tidak memedulikan ayah dan ibunya serta Eun Ji yang sedang menikmati makan malam bersama.

“Changminssi. Changminssi. Kau tidak ikut makan malam lagi?” seru ayah Changmin dari meja makan.

Changmin yang mendengar seruan itu keluar dari kamar dan menemui ayahnya. “Aku sudah makan. Terima kasih,” ujar Changmin.

“paling tidak cicipi sedikit. Eun Ji sudah susah payah membuatnya,” kata ayahnya lagi.

Changmin memandang Eun Ji tanpa ekspresi sebentar lalu kembali menatap ayahnya. “Maaf, aku sudah kenyang. Sisakan saja buat sarapanku besok,” kata Changmin lalu kembali ke kamarnya dan mandi.

Tanpa Changmin tahu, ommanya sudah menunggu di dalam kamar. “aku sangat merindukanmu, nak,” ujar mamanya dengan pelan. “Pergi pagi pulang malam.”

“Omma, jangan buat aku merasa bersalah,” sahut Changmin sambil memeluk mamanya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu tapi aku benar-benar merindukanmu beberapa tahun belakangan ini.”

“Omma, kita kan bertemu setiap hari. Lagipula omma selalu di hatiku.”

“Aku tahu. Hanya saja sekarang juga ada Hyun-Ah di sana. Aku takut kau menduakanku.”

Changmin tersenyum menenangkan. “aku melipatgandakan cintaku untuk kalian berdua.”

“ayahmu?”

Changmin menggeleng dengan lemah. “setelah semua yang dia lakukan padaku…”

“dia melakukan semuanya untukmu, sayang. Jangan seperti itu pada ayahmu sendiri.”

“baiklah. Setidaknya aku sudah mau mengikuti semua maunya.”

“itu tandanya kau juga sayang ayahmu. Kau tahu cara buat dia bahagia.”

“Omma…”

“aku tahu perasaanmu, nak.”

“mungkin omma benar tapi aku juga tidak mau perusahaan appa jatuh ke tangan orang lain padahal masih ada aku.”

“oh, anak yang pintar.”

omma Changmin lalu mencium anaknya dengan penuh kasih sayang lalu membiarkannya istirahat.

“saranghae, anakku.”

“i love you too.”

. . .

Hyun-Ah pasti akan tertidur kalau saja Jihyo tidak tiba-tiba datang padanya. “Jihyo, bukankah kau sudah tidur? Apa kau terbangun?” tanya Hyun-Ah.

“Iya. Aku mau gantian menunggu appa dan omma pulang. Onni tidur saja,” jawab Hyun-Ah.

“Tidak apa. Kau kembali tidur saja. Appa omma paling pulang sebentar lagi.”

Jihyo tahu kakaknya sudah ngantuk luar biasa. Karena itu, dia memaksa Hyun-Ah untuk tidur. “Sudah, onni tidur saja. Besok kan kau harus kuliah.”

“kau kan juga kuliah besok.”

“tapi aku sudah tidur beberapa jam tadi. Sudah, masuk kamar sana.”

Jihyo terus memaksa Hyun-Ah masuk ke kamarnya sampai berhasil. Hyun-Ah merasa kuat untuk terjaga tapi nyatanya dia langsung tertidur begitu ketemu tempat tidurnya.

. . .

Jihyo tidak menunggu cukup lama sampai kedua orang tuanya pulang. “Maaf membuatmu menunggu sampai semalam ini. Omma janji tidak akan lupa bawa kunci rumah lagi,” ucap omma Jihyo begitu menginjakkan kaki di rumahnya lalu mencium Jihyo.

“Onni sudah tidur?” tanya appa.

“Sudah. Baru saja. Sebenarnya dia daritadi yang menunggu. Aku menggantikannya barusan,” jawab Jihyo.

“Kalau gitu kau lebih baik menyusul. Terima kasih ya, sayang,” ucap appa sambil memeluk Jihyo.

Jihyo lalu segera berjalan ke kamarnya. “Oh ya, di meja makan masih ada makanan kalau appa dan omma lapar,” kata Jihyo yang langsung tidur begitu bertemu bantalnya.

. . .

Hyun-Ah mungkin akan terlambat ke kampus kalau Jongwoon tidak meneleponnya.

“hai, jongwoonssi. Ada apa meneleponku sepagi ini?” tanya Hyun-Ah sambil menguap.

“Hyun-Ah-ah. Ini sudah jam 8 pagi. Aku mau menemuimu tadi di kampus. Aku pikir kau datang terlambat tapi ternyata masih tidur.”

saat itu juga Hyun-Ah langsung melompat bangun. “Yang benar?! Matilah aku,” pekik Hyun-Ah.

“tenang Hyun-Ah, tenang. Kamu kan tidak pernah bolos jadi bolos sekali rasanya bukan masalah besar kan?” ujar jongwoon.

Hyun-Ah merasa bersalah karena tidak kuliah tapi kalaupun dia berangkat sekarang, sudah terlambat. “Aku rasa begitu. Alamat di rumah seharian deh aku,” keluh Hyun-Ah.

“aku bisa menemanimu nanti. Kalau kau mau tentu saja.”

“Tidak usah. Merepotkan saja ah.”

“gak apa-apa kok. Selesai kuliah, aku akan ke rumahmu. Bagaimana?”

“Terserah padamu, Jongwoonssi.”

Hyun-Ah lalu menutup teleponnya setelah jongwoon pamit masuk kelas. Setelah itu, dia turun ke ruang makan.

. . .

Jihyo duduk sendirian di ruang makan sambil menikmati roti kacangnya. “Selamat pagi, onni. Apa tidurmu nyenyak semalam?” sapa Jihyo.

“selamat pagi. setidaknya aku tidak perlu bermimpi tentang kau. Itu sudah lebih dari cukup,” balas Hyun-Ah bercanda.

Hyun-Ah lalu duduk di sebelah Jihyo dan memakan roti coklat yang sudah dibuatkan adiknya.

“Terima kasih banyak ya, dongsaeng. Mulai besok kau yang buat sarapan ya. Oke?”

“gak mau. Aku tidak sanggup bangun pagi terus. Tidak. Tidak.” ucap Jihyo menolak. “Onni tidak kuliah?”

“Aku sudah telat. Kau tidak kuliah?”

“sebentar lagi. Aku mau ke rumah sakit dulu.”

“baiklah. Appa omma mana? Masih tidur?”

“sudah berangkat kantor malah.”

“ya tuhan. kapan aku bisa bertemu mereka lagi? Selalu saja begini.”

“yah, onni ke kantor saja. Gak repot kan?”

“adik pintar.”

Jihyo lalu mengambil tasnya dan menemui Hyun-Ah lagi. “kau tidak mau mengantarkanku, onni?” tanya Jihyo.

“tidak. Aku jaga rumah saja. Sori.”

Jihyo lalu pergi dengan bis umum.

. . .

Bolos kuliah secara tidak sengaja membuat Hyun-Ah mati gaya. Hari sudah beranjak siang tapi dia belum melakukan apa-apa, kecuali nonton tivi.

Pada saat Hyun-Ah sedang menonton kartun kesukaannya, telepon berdering.

“yobbosaeyo?” ucap Hyun-Ah ketika mengangkatnya.

“Hyun-Ah ah. Kau tidak kuliah ya? Aku tadi ke kelasmu tapi tidak ada dirimu. Kenapa?” sahut Changmin.

“iya. Aku bangun kesiangan.”

“dasar! Tadi malam juga lupa mengabari aku.”

“maaf, oppa.”

“yah sudah. berarti hari ini kita gak akan ketemu dong. Aku akan lembur di kantor sampai malam.”

“ayo, oppa. Semangat! Semangat!”

“terima kasih. Kamu baik-baik ya di rumah. Jangan bandel. Sampai ketemu besok.”

Hyun-Ah lalu menutup telponnya. Beberapa detik kemudian, hapenya yang berbunyi. Panggilan dari jongwoon.

“Jongwoonssi, ada apa?” tanya Hyun-Ah.

“aku akan menjemputmu sebentar lagi. Kita akan jalan-jalan,” jawab jongwoon.

“tapi aku belum mandi!” pekik Hyun-Ah panik.

“aku beri waktu 10 menit. Cepat mandi sana!”

Hyun-Ah lalu segera mandi dan bersiap-siap. 10 menit kemudian, Jongwoon sudah membawa Hyun-Ah melintasi jalan raya dengan mobilnya.

. . .

Changmin sedang makan siang dengan ayah dan rekan kerjanya saat dia melihat seorang gadis keluar dari sebuah mobil.

“Hyun-Ah? Ngapain dia disini?” batin Changmin bingung. Dirinya lebih bingung lagi saat ada laki-laki bersama gadis itu. “sama Jongwoon lagi. Buat apa?”

Changmin memperhatikan Hyun-Ah dan jongwoon masuk ke restoran yang ada di seberang tempat dia makan sekarang. Pikirannya fokus ke Hyun-Ah sekarang.

“Changmin. Changmin!” tegur ayah Changmin yang membuatnya jadi sadar. “Jadi menurutmu apa kita lakukan untuk mempercepat penjualan?”

“Aku rasa jika kita bekerja sama dengan tuan Lee, penjualan kita akan semakin cepat. Kerja sama ini akan saling menguntungkan,” jawab Changmin.

“Tentu saja. Bisnis ini menyenangkan sekali,” sahut tuan Lee, mitra bisnis ayahnya.

Percakapan bisnis berlangsung sambil menikmati makan siang. Setelah selesai, Changmin kembali ke kantor bersama ayahnya.

. . .

Hape Hyun-Ah berdering tepat setelah dia keluar dari restoran bersama Jongwoon. “ya, oppa. Ada apa?” tanya Hyun-Ah saat menjawab telepon dari Changmin oppa.

“yaa. Hyun-Ah ah! Kau dimana?” sahut Changmin dengan galak sambil berkacak pinggang di dalam ruangannya.

Hyun-Ah terkejut mendengar suara Changmin yang lebih keras dari biasanya. “Aku habis makan siang dengan Jongwoon di restoran ayahnya,” ujar Hyun-Ah.

“Kenapa kau tidak bilang-bilang padaku? Pulang sekarang!”

“apa-apaan sih? Kenapa oppa marah-marah? Aku masih ada urusan.”

“Aku bilang, pulang sekarang.”

Hyun-Ah tidak peduli, dia menutup teleponnya lalu menyusul jongwoon yang sudah lebih dulu masuk mobil.

“kau mau kemana?” tanya Jongwoon dengan ramah.

“terserah kau saja. Aku ikut,” jawab Hyun-Ah dengan kesal akibat Changmin yang tiba-tiba marah padanya.

“kau kenapa? Kesal padaku?” tanya jongwoon yang merasakan ada yang tidak beres dengan Hyun-Ah.

“tidak apa. Sudah, jalankan saja mobilnya.”

jongwoon lalu menjalankan mobilnya menuju suatu tempat kesukaannya.

. . .

Changmin tidak berhenti mondar-mandir gelisah di dalam ruangannya. Dia terlalu memikirkan Hyun-Ah sampai-sampai Eun Ji masuk pun, dia tidak tahu.

“Changmin, kau kenapa?” tanya Eun Ji.

Changmin berhenti mondar mandir dan menatap Eun Ji. “ada apa kau kesini?” tanya Changmin dengan dingin.

“ya Tuhan. Aku hanya mau memberitahu sesuatu. Bisakah kau berhenti bersikap dingin padaku?” keluh Eun Ji.

“setelah semua yang kau lakukan padaku?”

“aku mohon, Changmin. Itu sudah bertahun-tahun lalu. Aku juga sudah minta maaf. Apa kau…”

“kita bahas nanti,” sela Changmin. “ada apa?”

“paman menyuruhku memanggilmu. Dia mau bicara.”

“kenapa harus menyuruhmu? Dia kan bisa meneleponku.”

“Aku rasa beliau sudah mencobanya tapi…”

Changmin tidak tahu apa lagi yang dikatakan eun ji. Dia segera menuju ruangan ayahnya.

. . .

Jihyo, yang tidak jadi pergi ke rumah sakit sebelum kuliah, akhirnya pergi setelah kuliah terakhirnya selesai.

“oppa…” ucap Jihyo saat masuk ke dalam ruang rawat Sungmin.

“Akhirnya kamu datang, Jihyo. Aku sudah mau mati rasanya,” sahut Sungmin. Dari matanya terlihat Sungmin senang melihat kedatangan Jihyo.

“Jangan mati. Aku masih mau bersamamu,” canda Jihyo. “mana ahjumma dan Jiwon?”

“omma kerja. Jiwon kuliah. Aku dari tadi sendirian. Kau lama sekali datangnya,” kata Sungmin sambil menggelayut manja di lengan Jihyo.

“Aigoo… Manisnya,” ucap Jihyo sambil menepuk-nepuk kepala Sungmin. “kapan boleh pulang?”

“entah. Mungkin lusa atau minggu ini. Tergantung dokternya.”

“asik. Kita bisa jalan-jalan lagi.”

“iya, tapi tunggu aku pulih sepenuhnya dulu ya.”

Jihyo mengangguk dengan senang. Ia lalu menemani Sungmin sambil main monopoli sampai Jiwon datang. Tidak lama kemudian, Jihyo ijin pulang.

. . .

Jihyo tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam rumahnya tapi suara saling membentak itu terdengar jelas sekali dari pintu tempatnya berdiri sekarang.

“Kau anggap aku apa?! Jalan-jalan sama pria lain sampai sesore ini! Tanpa bilang-bilang aku lagi!” seru seseorang.

“Oppa juga pernah jalan dengan Eun Ji onni tanpa bilang-bilang aku dulu,” balas seorang gadis yang dikenali Jihyo sebagai kakaknya.

Jihyo tidak berhenti lama di arena pertengkaran. “haish. Lagi ada perang rupanya,” gumam Jihyo lalu naik ke kamarnya.

Jihyo mulai membuat tugasnya tapi konsentrasinya terpecah karena mendengar seruan yang saling menyahut dan tidak berhenti-berhenti.

“Sayang sekali yang lagi berantem itu onniku sendiri. Kalau tidak, sudah aku tendang keluar,” keluh Jihyo sambil naik ke tempat tidurnya. “Mending aku tidur dulu.”

. . .

Changmin dan Hyun-Ah masih saling mengeluarkan nada-nada tinggi tanpa peduli sekitarnya.

“Jadi kau mau aku bagaimana, Hyun-Ah?” tanya Changmin.

“Ya pikir aja oppa harus bagaimana,” jawab Hyun-Ah.

“Kau selalu saja begitu! Tidak mau mengatakan kau mau aku bagaimana. Hah!”

“baiklah. Tadi kau minta aku tidak jalan-jalan dengan laki-laki lain apalagi kalau gak memberitahu lebih dulu. Lakukan hal yang sama untukku! Satu lagi, aku tidak suka oppa dekat-dekat Jiwon.”

“Hyun-Ah, Jiwon itu sudah seperti adikku sendiri.”

“Tidak ada alasan apapun! Aku mau kau menjauh darinya.”

Changmin menghela nafas panjang. “Terserah kau saja lah,” ucap Changmin lalu pergi.

Hyun-Ah lalu dengan kesal melempar coklat ke punggung Changmin. “Menyebalkan! Pergi sana!” pekik Hyun-Ah sambil menangis.

Meskipun sedang marah, hati Changmin teriris juga mendengar Hyun-Ah menangis. Karena itu, dia segera berbalik dan memeluk Hyun-Ah. “Maafkan aku ya. Jangan menangis,” ucap Changmin dengan lembut lalu mencium kepala Hyun-Ah.

“Kau sangat menyebalkan, oppa. Aku benci padamu!” kata Hyun-Ah dengan sesengukkan.

“Kau boleh marah sepuasmu padaku tapi aku mohon jangan benci aku ya. Maaf, aku minta maaf.”

Hyun-Ah tidak berkata apa-apa lagi. Dia terus memeluk Changmin sampai tangisannya berhenti.

. . .

Jongwoon membaca kamus kedokterannya sambil senyum-senyum sendiri.

“Aku baru tahu kalo kamus kedokteran itu lucu,” kata Eun Ji kepada Jongwoon.

Jongwoon mengalihkan perhatiannya kepada Eun Ji. “Nuna, kau bisa kan mengetuk pintu kamarku dulu?” kata Jongwoon.

“Maaf, aku lupa,” ucap Eun Ji dengan santai. “Ayo, kita makan malam. Ayah ibu sudah menunggu di bawah.”

“kenapa tidak memanggil saja?” tanya Jongwoon tanpa maksud untuk dijawab. “Kau tidak ke rumah Changmin hyung lagi?”

“jawaban untuk kedua pertanyaanmu adalah tidak, aku capek. Ayo makan.”

Mereka berdua lalu keluar dari kamar dan bergabung dengan ayah dan ibu tiri mereka di meja makan.

“senang rasanya bisa makan bersama seperti ini,” ucap ibu tiri Jongwoon sambil menaruh nasi ke setiap mangkok anggota keluarganya. “Semoga besok bisa seperti ini lagi.”

“Aku harap juga begitu, omma,” kata Eun Ji sambil tersenyum.

Jongwoon tidak banyak bicara. Dia hanya berbicara jika ditanya. Ayahnya juga tidak banyak bicara. Beliau lebih banyak tersenyum mendengar obrolan anak perempuan dan istrinya.

. . .

Jihyo memutuskan untuk membuat tugas di ruang belajar bersama dengan Hyun-Ah.

“Aku boleh buat tugas di sini?” tanya Jihyo.

“Asal dengan tenang,” jawab Hyun-Ah sambil membuat tugasnya.

Jihyo lalu menduduki kursi di depan Hyun-Ah. Tanpa segan dia bertanya,”Kenapa onni dan Changmin oppa bertengkar tadi? Sampai menangis?” begitu melihat mata onninya bengkak sisa menangis.

“Kok kau tahu?” tanya Hyun-Ah.

“Aku gak sengaja lihat tadi.”

“Oh.” Hyun-Ah terdiam sebentar. “Dia marah aku jalan dengan Jongwoon,” lanjut Hyun-Ah.

“Bagus dong. Changmin oppa cemburu namanya itu.”

“Tapi gak usah langsung marah-marah dong. Bikin kesal saja. Kan bisa ngomong baik-baik.”

“Iya sih. Tapi namanya udah cemburu pasti ada emosi, onni. Kesal. Pengen marah.”

Hyun-Ah mendecakkan lidahnya dengan kesal. “Cih. Sudahlah. Kerjakan tugasmu sana,” kata Hyun-Ah.

Saat itu juga Jihyo mulai mengerjakan tugasnya. Tapi belum ada satu nomor selesai, Hyun-Ah sudah bertanya padanya. “Bagaimana keadaan Sungmin?”

“Sudah sehat tapi belum boleh pulang,” jawab Jihyo.

“Kapan bolehnya?”

“tergantung dokter. Bisa lusa atau minggu ini.”

“Oh gitu. Sampaikan maafku karena ga bisa jenguk dia sering-sering.”

“Sip. Nanti aku sampaikan.”

Hyun-Ah lalu menyuruh Jihyo untuk menyelesaikan tugasnya tapi kembali mengganggu adiknya tepat setelah adiknya menyelesaikan satu nomor. “Oppa sama omma pulang jam berapa ya? Kita perlu begadang lagi gak?” tanya Hyun-Ah.

Jihyo menatap Hyun-Ah dengan setengah kesal. “Onni menyuruh aku tenang tapi Onni tidak tenang sama sekali,” ucap Jihyo. “Kalau onni terus bertanya aku akan begadang karena tugasku tidak selesai-selesai bukan karena menunggu oppa dan omma pulang. Omma bawa kunci rumah. Tenang saja.”

“Maaf, maaf,” kata Hyun-Ah malu lalu kembali pada buku kuliahnya.

Akhirnya, Jihyo dapat mengerjakan tugasnya dengan tenang meskipun juga harus sampai seluruh isi rumahnya terlelap.

. . .

Pagi-pagi, Changmin sudah datang ke rumah Hyun-Ah sambil membawa bunga dan sekeranjang kue.

“Selamat pagi,” ucap Changmin sambil tersenyum imut pada Hyun-Ah, yang membukakan pintu untuknya.

“Pagi,” balas Hyun-Ah dengan dingin.

Changmin mengerutkan alisnya karena bingung. “Kamu masih marah padaku?” tanya Changmin.

“Iya. Emang kenapa? Gak boleh?”

“Aku kan sudah minta maaf. Ini juga aku bawa bunga dan kue-kue kesukaanmu. Jangan marah lagi ya, sayang.” Changmin memohon dengan manja sambil memberikan bawaannya kepada Hyun-Ah.

Hyun-Ah mendengus sekeras-kerasnya ke bunga dan kue yang dipegangnya sekarang. “Iya, aku marah karena kuenya cuman sedikit,” kata Hyun-Ah lalu menyengir lebar.

“Sial, aku dikerjain,” kata Changmin sambil mencubit pipi Hyun-Ah. “Kau bandel sekarang ya. Dasar.”

Hyun-Ah nyengir lebih lebar. “Ayo, sarapan bareng sama yang lain,” ajak Hyun-Ah.

Changmin berjalan menuju ruang makan bersama Hyun-Ah dan bergabung dengan Jihyo serta kedua orang tua Hyun-Ah.

“Annyeonghaseyo, ahjumma, ahjussi,” sapa Changmin sambil membungkukan badan dengan sopan.

“Annyeonghaseyo,” balas orang tua Hyun-Ah.

“Silahkan duduk, Changmin. Selamat menikmati sarapan kami yang seadanya,” kata omma Hyun-Ah.

“Terima kasih, ahjumma,” sahut Changmin lalu duduk di sebelah Hyun-Ah.

Hyun-Ah mengambilkan sarapan untuk Changmin sedangkan pria itu asyik mengobrol dengan ayahnya.

“Jadi, perusahaanmu butuh auditor baru untuk mengaudit laporan keuangannya?” tanya oppa Hyun-Ah dengan serius.

“Iya. Kami sudah 5 tahun menggunakan auditor ini jadi tahun ini kami harus ganti,” jawab Changmin yang tidak kalah serius.

Oppa Hyun-Ah berpikir sebentar lalu berkata, “Oke, kita bisa bicara lebih panjang lagi nanti di kantor. Kita bicarakan lagi nanti.”

“Jeongmal gamsahamnida, ahjussi,” kata Changmin.

“Tapi tidak ada perlakuan khusus karena kau dan Hyun-Ah pacaran ya?”

“Tentu saja, ahjussi. Itu tidak akan ada pengaruhnya.”

Changmin sudah mau melanjutkan pembicaraan audit mengaudit tapi yang keluar justru pekikan. “Aw, sakit!”

Changmin menatap Hyun-Ah yang baru saja menyikutnya. “Kenapa kau lakukan itu?” tanya Changmin.

“oppa terlalu banyak bicara. Makan dulu sarapanmu,” jawab Hyun-Ah dengan tenang ditambah senyum sumringah saat ibunya mendukung.

“Hyun-Ah benar. Bicarakan hal ini nanti lagi ya,” dukung omma Hyun-Ah.

Changmin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia menurut. “Siap, ahjumma,” kata Changmin sambil tersenyum malu-malu.

 

-to be continued-

@gyumontic