Here’s the LAST PART

Semoga gak garing yaa…

Maaf kalo tidak puas🙂

 

 

Pada saat yang sama, orang tua Changmin menikmati sarapan sambil berbincang-bincang.

“Mana Changmin? Kenapa dia tidak ikut sarapan? Apa masih tidur?” tanya oppa Changmin bertubi-tubi pada istrinya.

“Tidak, yobbo. Dia sudah ke rumah Hyun-Ah pagi-pagi sekali. Mau sarapan bersama katanya,” jawab omma Changmin dengan sabar.

“Rumah Tuan Song berarti?” tanya sang kepala keluarga dengan semangat.

“Betul sekali.” omma Changmin tidak lupa menganggukkan kepalanya.

“Aku harap dia bisa negosiasi dengan baik dengan Tuan Song. Aku menyuruh dia untuk melobi Tuan Song jadi auditor baru kita.”

“Humm? Tapi kau tidak ada maksud apa-apa kan dengan melobi Tuan Song?” omma Changmin sedikit curiga pada suaminya.

“Tidak, tidak. Tentu saja tidak. Tapi aku harap Tuan Song dapat sedikit membantu. Aku harap.”appa Changmin lalu menyantap sarapannya dengan tatapan penuh harap.

. . .

Changmin mengantarkan Hyun-Ah dan Jihyo ke kampus setelah selesai sarapan. Setelah itu, dia pergi ke kantor dan langsung menemui ayahnya.

“Aku sudah bertemu Tuan Song. Beliau mau pembicaraan lebih lanjut dan serius,” lapor Changmin.

“Bagus. Kalau begitu, nanti siang hubungi dia untuk makan siang bersama. Cari tempat yang paling bagus dan enak di Seoul ini,” kata ayah Changmin.

“Baik, appa.”

Changmin lalu menghubungi Tuan Song dan komite audit serta dewan komisaris untuk makan siang bersama di hotel Le Meridien. Dia juga tidak lupa mengingatkan ayahnya untuk hadir.

“Kau juga ikut sama appa,” kata ayah Changmin.

“Aku?” tanya Changmin tidak percaya.

“Iya kau. Terus siapa kalau bukan kau? Ini kan nanti jadi perusahaanmu juga lagipula kau juga pernah kerja pada Tuan Song,” jawab ayah Changmin.

“Tapi apa dewan lain memperbolehkan aku ikut?” tanya Changmin lagi.

“Haruskah aku bilang lagi padamu siapa pemilik perusahaan ini?”

Changmin tidak mendebat. Dia menuruti perkataan ayahnya.

. . .

Hyun-Ah tidak percaya kuliahnya bisa selesai lebih cepat dari biasanya. Padahal dosen yang mengajar adalah dosen paling on-time sedunia.

“Onni, cepat sekali kuliahmu selesai?” ucap Jihyo saat Hyun-Ah menemuinya di kantin.

“Mrs. Kim harus ke Jepang sejam lagi. Terpaksa dia menyelesaikan kuliah lebih cepat,” sahut Hyun-Ah. “Kau sendiri cepat sekali sudah di sini.”

“Dosenku tidak ada. Bikin capek aja. Ke kampus pagi-pagi tapi gak guna.”

“Kenapa gak langsung ke rumah sakit?”

“Aku mau minta onni mengantarkan aku.”

“Aku tidak bawa mobil, Jihyo. Masa kau lupa?”

Jihyo menepuk kepalanya sendiri. “Bodoh! Kalau gitu, buat apa aku menunggu Onni? Ya sudah, aku berangkat sekarang ya,” ucap Jihyo.

Hyun-Ah terpikir untuk ikut. Tidak ada salahnya aku ikut, pikir Hyun-Ah. “Jihyo, aku ikut,” ujarnya.

“Berarti onni yang bayar taksi,” kata Jihyo sambil nyengir lebar.

“Menyebalkan,” gerutu Hyun-Ah tapi tetap mengabulkannya.

. . .

Jihyo senang bukan main begitu melihat Sungmin yang sudah tidak diinfus tapi tangan dan kakinya masih diperban. Dengan riang, Jihyo memeluk Sungmin.

“Oppa! Infusmu sudah dilepas. Yay!” seru Jihyo ceria.

Senyum Sungmin terkembang cerah di wajahnya. “Iya. Doakan aku cepat pulang ya,” kata Sungmin.

“Tentu saja!” Jihyo jelas sekali terlihat senang.

Hyun-Ah merasa dirinya terlupakan. “Ehem, masih ada orang ya di sini,” kata Hyun-Ah menyadarkan Jihyo dan Sungmin.

“Ah, Hyun-Ah. Maaf, maaf. Aku tidak melihatmu,” kata Sungmin.

“Berani sekali kau bilang seperti itu setelah menculik adikku berhari-hari,” gurau Hyun-Ah.

“Hahaha. Maaf, Hyun-Ah. Apa kabar dirimu?” kata Sungmin.

“Baik. Puji Tuhan. Kau sudah jauh lebih baik. Senang melihatnya,” kata Hyun-Ah.

“Terima kasih.”

“Aku loh, onni yang buat dia cepat sembuh,” sela Jihyo dengan bangga.

“Ya ya ya. Aku percaya,” kata Hyun-Ah. “Sudah, kau belikan aku teh dan kentang goreng dulu sana.”

Jihyo sedikit cemberut karena Hyun-Ah menyuruhnya meninggalkan Sungmin tapi toh tetap dilakukannya tanpa banyak berdebat.

Selama Jihyo keluar, suasana kamar terasa kaku. Hyun-Ah tidak tahu harus berkata apa pada Sungmin begitu juga sebaliknya.

“Ehh, silahkan duduk,” kata Sungmin dengan kaku.

“Iya,” jawab Hyun-Ah lalu duduk di sofa.

Hanya itu percakapan mereka.

Keadaan memburuk saat Jiwon datang tanpa menyapa Hyun-Ah sama sekali. Jiwon langsung menyapa oppa-nya.

“Oppa, sudah lepas infus. Asik. Berarti bisa pulang sebentar lagi,” kata Jiwon.

“Iya, doakan saja ya,” sahut Sungmin.

“Aku akan mengabarkannya ke Changmin oppa. Dia pasti senang sekali,” kata Jiwon dengan semangat lalu mengabari Changmin melalui sms.

Hyun-Ah merasa suhu di sekitarnya naik berpuluh-puluh derajat. Hatinya panas. Darahnya mendidih. Untung saja Jihyo datang dengan membawa pesanannya.

Hyun-Ah lalu mengambil teh dan kentang goreng dari tangan Jihyo sambil mengucapkan terima kasih. Hyun-Ah memutuskan untuk menikmatinya di luar kamar.

“Apa-apaan si Jiwon itu?! Ngerasa deket banget sama Changmin. Menyebalkan!” gerutu Hyun-Ah.

Gadis ini tidak berhenti menggerutu kesal sampai kentangnya habis.

“Mending aku pulang,” ucapnya.

Hyun-Ah lalu kembali masuk ke dalam kamar dan pamit pada seisi kamar. Jihyo mengantarkan Hyun-Ah sampai di lobi karena dia tidak ikut pulang. Jihyo bilang dia akan pulang nanti sore setelah Omma Sungmin datang.

. . .

Changmin memperhatikan orang-orang tua di hadapannya saling bernegosiasi dan sepakat untuk membuat engagement letter.

“Terima kasih sudah setuju jadi auditor kami, Tuan Song,” kata appa Changmin sambil menyalam appa Hyun-Ah.

“Sama-sama, Tuan Shim. Kami harap kita dapat saling membantu selama pengauditan nanti,” sahut appa Hyun-Ah.

“Tentu saja. Tentu saja.” appa Changmin mengatakannya sambil tersenyum.

“baiklah. Kalau begitu, kami pulang dulu.” appa Hyun-Ah lalu beranjak dari kursinya diikuti oleh beberapa rekan yang datang bersamanya dan juga Changmin.

“Mari saya antar, ahjussi,” kata Changmin lalu mengantarkan para auditor tersebut ke mobil mereka. Setelah itu, dia kembali ke ayahnya.Keadaan Sungmin sudah jauh membaik dan dia sudah diperbolehkan pulang. Seperti yang sudah diperkirakan Hyun-Ah, Jihyo akan ikut mengantar Sungmin pulang. Dengan senang hati, Hyun-Ah mengantarkan Jihyo sekaligus membantu membawa barang-barang.

“Aku tunggu di luar ya,” kata Hyun-Ah sebelum keluar dari kamar Sungmin.

“Terima kasih banyak ya, Hyun-Ah,” ucap omma Sungmin.

“Sama-sama, ahjumma. Tidak berat kok,” sahut Hyun-Ah.

“Terima kasih banyak juga Hyun-Ah aku sudah boleh meminjam adikmu selama seminggu lebih,” ujar Sungmin.

“Tidak masalah,” kata Hyun-Ah lalu keluar dari kamar Sungmin dan menelepon Changmin.

“Yobbosaeyo,” ucap Changmin dengan suara diimut-imutkan lalu tertawa. “Sungmin sudah sampai rumah?”

“Sudah. Ini aku ada di rumahnya. Kamu gak kesini, oppa?” kata Hyun-Ah.

“Iya. Nanti aku ke sana setelah kerjaanku selesai. Biar aku tidak diganggu appa terus,” ujar Changmin.

“Baiklah. Inget, jangan deket-deket sama Jiwon kalo ke sini.”

“Iya. Iya. Kamu kan liat sendiri aku udah gak deket-deket sama dia.”

“iya, karena kamu deket-deket waktu aku gak ada. Jelas aja aku gak liat. Huu.”

“Gak kok. Beneran deh. Ketemu aja seminggu yang lalu.”

“Ya udah, awas kalo deket-deket.”

Pembicaraan mereka terputus karena telepon omma Hyun-Ah menyela.

“Sayang, jemput mama ke kantor ya nanti. Mama mau jenguk Sungmin. Ya, sayang ya?” ucap mamanya.

“Iya, ma. Jam berapa?” tanya Hyun-Ah.

“Jam 3an aja. Ok?”

“Siap, ma. Tapi traktir takoyaki ya?”

“Iya, iya.”

Hyun-Ah lalu menutup teleponnya dan melihat Jiwon yang sudah berdiri di hadapannya dengan tampang sebal.

. . .

“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Hyun-Ah pada Jiwon.

“Kenapa kau melarang Changmin oppa dekat-dekat denganku? Memangnya kau siapa?” hardik Jiwon dengan galak.

Untuk pertama kalinya, Hyun-Ah langsung terpancing. “Kau yang siapa sampai berani dekat-dekat dengan pacarku?! Hah?!”

“Maksudmu, Changmin oppa pacaran denganmu?” seru Jiwon.

“Betul sekali! Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja padanya nanti,” balas Hyun-Ah tidak kalah galak lalu bangkit berdiri.

Jiwon menarik tangan Hyun-Ah dengan kasar saat Hyun-Ah mau beranjak pergi. “Tunggu. Aku tidak akan membiarkan Changmin oppa pacaran denganmu,” ucap Jiwon dengan tajam.

Hyun-Ah berusaha mengulas senyum manis sambil berkata, “Kita lihat saja, apa dia bisa hidup tanpa aku? Aku tidak akan membiarkanmu bertindak macam-macam.”

Hyun-Ah mengibaskan tangannya dari cengkraman Jiwon lalu pergi meninggalkan gadis muda itu sendirian.

Hyun-Ah tidak pernah menyangka teman baiknya dulu harus menjadi saingan yang harus dimusnahkan sekarang.

. . .

Sungmin sedang merajuk pada ibunya saat agar ia diperbolehkan keluar rumah. “Ayolah, omma. Aku sudah bosan tiduran terus,” bujuk Sungmin.

“Tidak boleh, Sungmin. Kau kan dengar kata dokter tadi. Kau bahkan belum boleh berjalan,” sahut omma Sungmin.

“Kalau begitu biarkan aku jalan-jalan setidaknya di dalam rumah.” Sungmin terus berusaha meluluhkan ommanya.

“Jangan paksa omma untuk mengunci kamarmu kalau kau tidak mau nurut.” omma Sungmin berkata dengan tegas hingga Sungmin tidak berani membantah lagi.

Jihyo menatap Sungmin dengan sedih. “Sabar ya. Nanti kalau udah sembuh, oppa bisa pergi kemana pun oppa mau,” hibur Jihyo.

Sungmin melihat Jihyo lalu tersenyum. “untung saja ada kau. Kalau tidak, aku bisa mati bosan mungkin. Hehehe.”

Jihyo tertawa mendengarnya. Perasaannya jauh lebih baik karena Sungmin sudah bisa bercanda.

. . .

Setelah menghabiskan 2 jam tanpa arah, Hyun-Ah akhirnya mengemudikan mobilnya menuju kantor ommanya. Dia tidak menunggu lama untuk membawa ommanya ke rumah Sungmin.

Omma Hyun-Ah merasa anaknya tidak bersemangat. “Kau kenapa Hyun-Ah? Capek ya menyetir terus? Kalau iya, biar omma aja yang nyetir,” kata omma Hyun-Ah.

“Bukan, ma,” sahut Hyun-Ah dengan lesu.

“Lalu kenapa?” tanya omma Hyun-Ah.

“Hhhh… Aku harus bertemu lagi dengan Jiwon sebentar lagi,” jawab Hyun-Ah.

“Memangnya kau ada masalah dengan Jiwon? Bukankah kalian berteman baik?”

Hyun-Ah lalu bercerita pada ommanya, “Itu dulu waktu aku masih dengan oppanya tapi sekarang lain, omma. Dia tidak rela aku pacaran dengan Changmin. Aku rasa dia juga suka sama Changmin.”

“Lalu?”

“Aku tidak tahu. Aku takut dia akan berbuat macam-macam untuk memisahkan aku dan Changmin.”

omma Hyun-Ah berpikir sebentar lalu tersenyum menenangkan. “kau tidak usah khawatir. Percaya saja hubungan kau dan Changmin akan baik-baik maka hubungan kalian tidak akan kenapa-kenapa,” ujar omma Hyun-Ah bijaksana.

“Iya, aku tahu. Tapi Jiwon selalu saja mendekati Changmin. Aku tidak suka melihatnya. Aku sudah melarang Changmin untuk dekat-dekat dengan Jiwon tapi aku tidak tahu apa dia menepatinya.”

Omma Hyun-Ah melihat raut kecemasan di wajah anaknya. Karena itu dia berusaha sebisa mungkin untuk menghilangkannya. “Sayang, kau harus belajar percaya pada Changmin bukan menuntut macam-macam. Kalau itu berhasil, kalian pasti akan aman.”

Hyun-Ah merasa hatinya lebih tenang sekarang. “Terima kasih, omma.”

. . .

Hyun-Ah dan ommanya tiba di rumah Sungmin tepat saat keluarga Sungmin sedang mengadakan jamuan minum teh. Omma Sungmin mengajak semua orang yang ada di rumahnya untuk mengikuti jamuan tersebut di dalam kamar Sungmin.

Sambil menikmati teh, semuanya mengobrol kecuali Hyun-Ah. Dia menikmati tehnya dalam diam sambil menatap tajam ke arah Jiwon dan Changmin. Lagi-lagi, mereka terlihat dekat.

Hyun-Ah berusaha sabar tapi tidak bertahan lama. Dia akhirnya memilih untuk keluar dari kamar.

Changmin yang melihat Hyun-Ah keluar segera menyusulnya. “Hai. Kenapa kau keluar?” sapa Changmin.

“Di dalam panas. Aku tidak kuat,” sahut Hyun-Ah dengan kalimat bermakna ganda.

Changmin tahu apa yang sebenarnya dirasakan Hyun-Ah pasti menyangkut dirinya. “Maafkan aku ya tidak bisa menghindari Jiwon. Dia terus mendekat padaku,” kata Changmin sambil merangkul Hyun-Ah.

Hyun-Ah menghela nafas dan mengingat setiap perkataan ommanya. “Tidak apa-apa. Aku percaya padamu, oppa,” sahut Hyun-Ah.

Changmin tersenyum mendengar Hyun-Ah. “Aku akan menjaga kepercayaanmu.”

. . .

Sekitar jam 6 sore, Jihyo keluar bersama ommanya dan omma Sungmin. “aku pulang dulu ya, ahjumma. Terima kasih sudah mau aku ganggu terus,” ucap Jihyo.

“Ah, Jihyo. Justru kami yang selalu merepotkanmu. Terima kasih banyak,” balas Omma Sungmin.

“Sama-sama, ahjumma,” sahut Jihyo sambil tersenyum.

Setelah itu gantian omma Jihyo yang berpamitan. “Terima kasih sudah dijamu. Kami pulang dulu. Semoga Sungmin cepat sembuh.”

“Iya. Terima kasih banyak, nyonya Song. Kami mohon doanya.”

omma Sungmin lalu mengantarkan Jihyo dan ommanya sampai ke mobil, dimana Hyun-Ah sudah menunggu. Hyun-Ah lebih dulu berpamitan sebelum masuk ke mobil.

Walaupun Hyun-Ah sudah memacu mobilnya, dia tetap masih bisa melihat Jiwon yang bergelayut manja di lengan Changmin.

“Terserah kau saja, Jiwon. Aku yakin Changmin oppa bisa menanganimu,” ucap Hyun-Ah dalam hati sambil tersenyum.

. . .

Changmin berusaha menarik diri setiap Jiwon mendekat padanya tapi Jiwon selalu berhasil menempel padanya.

“Jiwon, aku perlu bicara berdua saja dengan oppamu. Bisa kau meninggalkan kami sebentar?” kata Changmin dengan tenang.

“Tentu saja,” sahut Jiwon lalu keluar dari kamar Sungmin.

Changmin lalu mengunci pintu dan berbicara dengan Sungmin. “Hhh, adikmu buatku pusing.”

“Kenapa?” tanya Sungmin.

“dia selalu saja menempel padaku,” jawab Changmin.

“bukannya memang selalu seperti itu? Aku pikir kau tidak keberatan,” ujar Sungmin bingung.

“aku memang tidak keberatan tapi Hyun-Ah jelas keberatan. Dia melarangku dekat-dekat Jiwon, maksudnya membiarkan Jiwon menempel padaku.”

“Jangan bercanda. Hyun-Ah tidak mungkin melakukan itu. Dia tidak suka melarang orang berbuat sesuatu meskipun dia tidak suka.”

“buat apa aku bohong, Sungmin? Apa untungnya buatku?”

saat itu juga Sungmin membuka mulutnya tapi tidak tahu harus berkata apa. “Hyun-Ah banyak berubah,” ujar Sungmin.

“Komentar itu tidak membantuku sama sekali, kawan.”

“hahaha. Maaf. Aku hanya terkejut.. Lebih baik kau ngomong langsung saja pada Jiwon. Kalau aku yang bilang, tidak ada gunanya.”

Setelah berbicara dengan Sungmin, Changmin memutuskan untuk berbicara sendiri dengan Jiwon. Karena itu sebelum pulang, dia menyempatkan untuk menemui Jiwon. “Jiwon, kau sedang belajar ya? Boleh aku bicara sebentar?” ujar Changmin sambil mengetuk pintu kamar Jiwon.

Begitu mendengar suara Changmin, Jiwon langsung membuka pintu kamarnya. “Ada apa, Oppa?” tanya Jiwon.

“Boleh aku masuk?” Changmin menunggu untuk dipersilahkan masuk.

“Tentu saja. Silahkan,” kata Jiwon.

Changmin lalu masuk ke dalam kamar Jiwon dan duduk di kursi belajar Jiwon. “Ehm, sebenarnya aku bingung harus mulai darimana tapi aku harus mengatakannnya padamu sekarang,” ucap Changmin dengan hati-hati.

Jiwon merasa waktu berjalan sangat lambat, jantungnya berdetak cepat sekali. “Ada apa sih, Oppa? Katakan saja,” ujar Jiwon malu-malu.

“Ehm, sebaiknya kau tidak, eeh, tidak sering-sering lagi menempel padaku. A..aku agak risih sebenarnya,” kata Changmin tetap dengan hati-hati.

Pipi Jiwon serasa ditampar mendengarnya. Darahnya mendidih karena teringat Hyun-Ah. “Aku tahu bukan kamu yang risih tapi si Hyun-Ah kan yanng melarang Oppa untuk dekat-dekat denganku? Hak dia apa sih? Baru jadi pacar aja banyak gaya! Mending oppa cari pacar yang gak suka nuntut aneh-aneh deh,” ucap Jiwon.

Changmin lalu mengelus kepala Jiwon dengan pelan. “Jiwon, aku menanti Hyun-Ah itu lebih dari dua tahun. Tidak mungkin aku melepaskannya begitu saja. Bisa-bisa aku mati kalau dia tidak ada.”

“Tapi dia tidak pantas untukmu. Masih banyak gadis yang lebih baik dari Hyun-Ah. Kalau aku yang jadi pacarmu, aku tidak akan melarangmu untuk dekat dengan siapapun karena aku percaya kamu tidak akan mengkhianati aku!”

“Jiwon, aku tau masih ada semilyar gadis yang lebih baik dari Hyun-Ah tapi hanya dia yang terbaik buat aku. Aku juga tahu kau akan memperlakukanku dengan sangat baik jika aku bersamamu tapi aku tidak layak mendapatkannya.”

“Tapi menurutku, kau yang terbaik untukku.”

“Jiwon, coba kau pikirkan. Apa aku pernah melakukan suatu yang berharga untukmu?”

“Banyak. Kau selalu ada untukku kalau Sungmin oppa tidak ada.”

“Nah, itu dia. Aku hanya menggantikan posisi Sungmin Oppa. Kau sayang padaku hanya sebagai oppa dan begitu juga aku sayang padamu sebagai dongsaeng. Beda dengan perasaanku terhadap Hyun-Ah. Kau paham sekarang?”

“Tapi dia tetap tidak berhak melarang oppa dekat-dekat denganku.”

“Sebetulnya memang tidak berhak tapi aku sudah memberikan dia kuasa atas diriku sejak aku memilihnya.”

“Oppa…”

Jiwon tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menangis karena merasa sedih.

“Tenang saja, aku akan tetap ada untukmu kalau kau butuh aku tapi sekali lagi, tidak menempel terus padaku. Aku yakin suatu hari nanti kamu mendapatkan pria yang bisa bersamamu setiap saat.”

Jiwon tidak sanggup bicara apa-apa lagi. Dia hanya menangis dan Changmin berusaha menenangkannya. Setelah Jiwon tenang dan memahami semua perkataan Changmin, pria itu baru pulang ke rumahnya.

“Jihyo ah,” panggil Sungmin dengan manja.

“o? Ada apa?” sahut Jihyo.

“Suapin,” kata Sungmin dengan mata memohon.

“Oppa, aku mohon jangan pasang mata seperti itu. Uuh,” ucap Jihyo lalu mulai menyuapi Sungmin.

Sungmin langsung nyengir lebar begitu Jihyo mengabulkan permintaannya. “Terima kasih banyak ya, sayang. Hihihi. Aku jadi makin sayang sama kamu deh.”

Telinga Jihyo tidak pernah kebal dengan ucapan-ucapan manis Sungmin. Mukanya seketika merah karena tersipu.

“Aku paling suka kalau kamu malu-malu seperti ini,” ucap Sungmin sambil mencubit pipi Jihyo dengan gemas.

Jihyo sudah melambung tinggi sekarang dan Sungmin terus saja menggodanya dengan rayuan-rayuan.

“Oppa, sudah jangan goda aku lagi. Aku bisa tidak tidur berhari-hari nanti,” kata Jihyo malu-malu.

“Iih, kok gitu? Aku emang sayang sama kamu kok. Udah cantik, baik lagi. Walaupun manjanya minta ampun. Hehehe,” goda Sungmin tiada henti.

Sedikit lagi saja Sungmin menggoda Jihyo maka Jihyo yakin tidak akan mampu menginjak bumi lagi. Untung saja, Hyungrim datang menyelamatkannya.

“Sungmin oppa! Jihyo!” seru Hyungrim begitu masuk kamar.

“Hyungrim! Jonghyun! Bagaimana bisa kalian sampai di sini?” tanya Jihyo kaget.

“Aku tadi mau jenguk ke rumah sakit ternyata oppa sudah pulang jadi aku tanya Hyun-Ah onni rumah Sungmin oppa dimana,” jawab Hyungrim. “beraninya kau lupa mengabari aku, Jihyo.”

“Hahaha. Begitulah temanmu ini, Hyungrim. Ingatannya sangat payah,” sahut Sungmin sambil tertawa. “Terima kasih karena kalian sudah mau menjengukku ya.”

“Sama-sama, Oppa. Ini buah-buahan buat Oppa,” ujar Hyungrim sambil memberikan buah-buahan yang dibawanya kepada Jihyo.

“Terima kasih ya, Hyungrim,” balas Sungmin.

“Hyungrim, kau tahu tidak kau terlalu banyak bicara? Jonghyun sampai tidak punya kesempatan bicara sedikitpun,” kata Jihyo saat hyungrim mau bicara lagi.

“Hahaha. Dia memang aku merekrutnya untuk jadi juru bicaraku,” canda Jonghyun.

“Oh, jadi bukan pacar ya? Heh?” kata Hyungrim sambil mencubit Jonghyun.

“Iya. Iya itu juga kok,” ucap Jonghyun sambil meringis minta ampun.

Sungmin dan Jihyo tertawa melihat kelakuan Hyungrim dan Jonghyun. Saat itu, Jiwon masuk sambil membawakan obat untuk Sungmin.

“Wow, banyak sekali yang jenguk oppa ku,” ucap Jiwon. “berarti aku harus masak lebih banyak.”

“Ah, tidak usah repot-repot, Jiwon. Aku dan Jonghyun sudah mau pulang kok,” sahut Hyungrim.

“No. No. Kalian tidak boleh pulang sebelum mencicipi masakanku,” paksa Jiwon lalu keluar dari kamar.

Setengah jam kemudian, Jiwon mengajak Jihyo, Hyungrim dan Jonghyun untuk makan malam bersama. Dengan senang hati, mereka menikmatinya.

. . .

Malam ini, Hyun-Ah menginap di rumah Changmin karena rumahnya sedang kosong. Orang tua Hyun-Ah sedang di luar kota dan Jihyo menemani Sungmin di rumah pria itu.

Hyun-Ah sedang memasak makan malam saat tiba-tiba ada angin kecil yang meniup rambutnya.

“Oppa, berhenti meniup-niup rambutku,” kata Hyun-Ah dengan keyakinan tinggi bahwa Changmin yang sedang meniup-niup rambutnya dari belakang.

Changmin lalu tertawa. “Bagaimana kau tahu?” tanya Changmin. “Ah, ternyata hati kita sudah sedekat itu sekarang. Senangnya.”

Hyun-Ah tertawa mendengarnya. “Baumu yang membantuku. Hahaha. Sudah, mandi dulu sana. Setelah itu baru makan.”

“Siap, nyonya cantik,” ucap Changmin sambil mengecup pipi Hyun-Ah lalu kabur masuk kamar mandi.

Gak sampai sepuluh menit, Changmin sudah wangi dan duduk manis di ruang makan. Dia menunggu Hyun-Ah menghidangkan makanan.

“Cantik, cepatlah. Aku sudah lapar,” seru Changmin sengaja memburu-buru Hyun-Ah.

“Sabar. Sebentar lagi,” sahut Hyun-Ah yang tidak lama kemudian memang menghidangkan masakannya.

“Humm. Kalau setiap hari seperti ini aku pasti akan makin subur,” kata Changmin.

Hyun-Ah tertawa senang mendengar pujian dari Changmin. Ia lalu menaruh nasi dan berbagai masakannya di mangkuk Changmin.

“Terima kasih, cantikku sayang,” ucap Changmin lalu melahap makan malamnya.

Hyun-Ah hendak melahap makan malamnya tapi tiba-tiba bel pintu berbunyi. Hyun-Ah segera berdiri dan membukakan pintu. “Oppa, ada Eun Ji Onni,” serunya kepada Changmin. “Silahkan masuk, Onni.”

Hyun-Ah meminta Eun Ji untuk mengikutinya ke ruang makan. “Kami sedang makan malam. Ayo Onni ikut gabung,” kata Hyun-Ah.

“Tidak usah, Hyun-Ah. Aku sudah makan malam kok,” ucap Eun Ji menolak tawaran makan malam bersama.

Hyun-Ah dan Eun Ji sudah sampai di ruang makan. Hyun-Ah langsung duduk di tempatnya semula tapi Eun Ji tetap berdiri.

“Ada perlu apa kesini?” tanya Changmin tetap dengan dingin.

“Hanya mau memberikan laporan,” jawab Eun Ji sambil menyerahkan sebendel kertas.

“Kenapa tidak di kantor saja besok?” tanya Changmin. Terdengar nada kesal di suara Changmin.

“Ahjussi menyuruhku untuk memberikannya secepat mungkin padamu,” jawab Eun Ji.

“Ya sudah, taruh saja di meja,” kata Changmin lalu kembali makan malam membiarkan Eun Ji tetap berdiri. Suasana terasa tegang.

“Onni yakin tidak mau mencicipi masakanku? Enak loh,” kata Hyun-Ah berusaha mencairkan suasana.

“Kapan-kapan aku pasti akan mencobanya. Sekarang, aku pulang dulu ya,” sahut Eun Ji sambil tersenyum.

Hyun-Ah mengantarkan Eun Ji sampai pintu depan lalu kembali ke ruang makan dengan kesal.

“Kenapa makananmu tidak dihabiskan?” tanya Changmin yang menyadari Hyun-Ah tidak menyentuh makan malamnya lagi sejak kembali.

“Sudah tidak nafsu,” jawab Hyun-Ah. Ia diam sebentar lalu kembali bicara, “Kenapa Oppa selalu dingin pada Eun Ji onni? Memang dia punya salah apa?”

“Banyak,” jawab Changmin singkat.

“Apa oppa tidak bisa memaafkannya?”

“Tidak. Dia sudah keterlaluan padaku.”

“Memang dia sudah berbuat apa pada oppa? Meninggalkan oppa?”

“Iya.”

“Kalau aku meninggalkan oppa berarti nanti oppa juga akan bersikap dingin padaku?”

mata Changmin menatap Hyun-Ah dalam. “Jangan pernah berpikir seperti itu. Kau dan dia itu berbeda.”

“Apa bedanya? Sama-sama manusia. Punya hati. Punya akal.”

“oke. Oke. Lalu kau mau aku bagaimana?”

“Bersikaplah lebih hangat padanya. Aku lihat dia baik pada Oppa. Apapun kesalahannya, maafkan saja. Aku yakin oppa akan merasa lebih baik.”

Changmin agak tersenyum pahit. “Oke. Aku akan melaksanakannya asal kau yang cuci piring,” kata Changmin sambil menaruh mangkuknya yang sudah kosong di hadapan Hyun-Ah. Ia lalu beranjak ke ruang tivi sambil membawa laporan yang tadi diberikan Eun Ji.

. . .

Setelah selesai mencuci piring, Hyun-Ah menyusul Changmin ke ruang tivi. Ia melihat Changmin sedang fokus membaca laporan. Tanpa maksud mengganggu, Hyun-Ah duduk di sebelah Changmin. Tapi rupanya Changmin berpaling padanya. “Sudah selesai cuci piringnya?” tanya Changmin sambil tertawa jahil.

“Lain kali oppa yang memasak,” jawab Hyun-Ah.

Changmin tertawa terbahak-bahak. “Kau bisa mati kalau aku yang masak,” sahutnya.

Hyun-Ah membayangkan apa yang terjadi jika Changmin yang memasak lalu ikutan tertawa.

Hyun-Ah lalu menyalakan tivi dan menontonnya dengan fokus untuk setengah jam pertama. Setengah jam berikutnya, rasa bosan mulai menyergap.

Hyun-Ah bolak-balik menengok Changmin tapi pacarnya itu tetap fokus pada apa yang sedang dibacanya.

Hyun-Ah mencoba mengajak Changmin untuk ngobrol tapi selalu dibalas “ya, tidak, mmm.”

Hyun-Ah mulai kesal. Ia terang-terangan menganggu Changmin sekarang. Hyun-Ah merapatkan tubuhnya pada Changmin lalu menyusup ke dalam rangkulan Changmin.

“Kau kenapa? Kedinginan?” goda Changmin. Senyum jahil tersirat jelas di wajahnya. Sayangnya Hyun-Ah tidak melihat.

“Bukan. Aku tidak kedinginan,” kata Hyun-Ah dengan manja.

“Ngantuk? Kalau iya, masuk kamar sana. Aku sudah menyiapkannya kok.” Changmin semakin  gencar menggoda Hyun-Ah.

Kejahilan Changmin ternyata berhasil. Hyun-Ah tampak kesal. Dia melepaskan diri dari rangkulan Changmin. “Tampaknya aku tidak semenarik laporan itu,” kata Hyun-Ah dengan kesal lalu bangkit berdiri.

Changmin menarik Hyun-Ah untuk kembali duduk lalu merangkulnya lagi. “Percayalah, kau hal paling menarik di hidupku,” kata Changmin.

“Bohong. Dari tadi oppa nyuekin aku kok. Klasifikasi menarikmu itu gimana sih?” sahut Hyun-Ah galak.

“Uuh, cantikku marah ya? Maaf ya, sayang. Jangan marah lagi ya.” Changmin berusaha meredam kekesalan Hyun-Ah dan tampaknya berhasil karena setelah itu Hyun-Ah sudah kembali manja.

Kali ini Hyun-Ah mengajak Changmin ngobrol dan ditanggapi dengan baik meskipun itu berarti Changmin harus memahami laporan yang dibacanya dua kali lebih lambat.

Tanpa terasa, Hyun-Ah sudah tertidur di pelukan Changmin. Awalnya Changmin akan memindahkan Hyun-Ah ke kamar setelah selesai membaca laporannya tapi ternyata ia juga ketiduran. Jadi ia tidur duduk sambil memeluk Hyun-Ah sampai pagi. Tidak heran kalau begitu bangun, seluruh badannya akan pegal-pegal.

. . .

Changmin sudah menyelesaikan permasalahannya dengan Jiwon maka tidak adil rasanya jika Hyun-Ah tidak menyelesaikan persoalannya dengan Jongwoon. Hyun-Ah sudah bertekad untuk menjelaskan yang sebenarnya pada Jongwoon. Karena itu, hari ini Hyun-Ah bela-belain untuk datang ke rumah Jongwoon.

“Hai, Hyun-Ah. Ada apa tiba-tiba mau datang ke rumahku?” tanya Jongwoon saat Hyun-Ah tiba di rumahnya.

“Ada yang mau aku bicarakan denganmu,” jawab Hyun-Ah.

“Soal apa?” tanya Jongwoon sambil mempersilahkan Hyun-Ah untuk duduk.

“Soal hubungan kita. Aku harus jujur padamu kalau aku hanya menganggapmu sebagai sahabat. Apa yang terjadi di antara kita, itu hanya sebatas sahabat. Maafkan aku,” kata Hyun-Ah yang langsung menjelaskan duduk permasalahannya.

Jongwoon duduk dengan tenang di depan Hyun-Ah, dia bahkan tersenyum. “Aku sudah tahu. Aku juga tidak menuntut lebih. Aku paham perasaanmu. Kau tidak bisa lepas dari Changmin hyung. Aku sudah lama tahau hal itu tapi setidaknya aku punya banyak kenangan indah bersamamu,” ucap Jongwoon.

“Jongwoonssi…,” ucap Hyun-Ah tidak percaya melihat Jongwoon yang tetap tenang. “Kau tidak marah padaku? Aku…Aku kan sudah mempermainkan perasaanmu.”

Lagi-lagi Jongwoon tersenyum dengan tenang. “Dari awal kau tidak pernah mempermainkan perasaanku. Aku saja yang berharap terlalu banyak dari dirimu. Aku yang salah, Hyun-Ah. Kau tidak perlu meminta maaf.”

Hyun-Ah tersenyum mendengarnya lalu memeluk Jongwoon. “Aku senang jika bisa menjadi sahabatmu,” kata Hyun-Ah hampir menangis karena terharu dengan perkataan Jongwoon.

“Kau ini bicara apa sih? Tentu saja kita sahabat, bodoh. Susah senang kita akan habiskan bersama. Kalau ada yang mengganggu atau membuatmu kesal, aku akan ada di sampingmu untuk menghajarnya,” sahut Jongwoon sambil nyengir, memamerkan deretan giginya yang berbaris rapi.

“Terima kasih,” kata Hyun-Ah lalu membalas cengiran Jongwoon dengan cengirannya. Jihyo lega bukan main saat itu. Setidaknya satu masalahnya sudah selesai.

Hyejijn lalu menghabiskan waktunya sebentar untuk mengobrol dengan Jongwoon. Setelah itu, baru Hyun-Ah pamit pulang. Tapi tampaknya Tuhan belum memperkenankan Hyun-Ah untuk pulang. Tanpa sengaja, Hyun-Ah bertemu dengan Eun Ji saat mau masuk mobilnya.

“Annyeonghaseyo,” sapa Hyun-Ah dengan sopan sambil membungkukan badannya.

“Annyeonghaseyo,” balas Eun Ji. “Sudah mau pulang?”

“Iya, onni.”

“Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali ngobrol denganmu setelah kau memperbaiki hubunganku dengan Changmin. Terima kasih banyak ya. Kalau tidak ada kamu, persahabatan kami mungkin akan dingin sampai dunia kiamat.”

“Ah, onni berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan kok,” ucap Hyun-Ah.

“Haish, anak ini selalu merendah. Jadi membuatku semakin tidak enak. Kalau begini, aku harus menraktirmu minum kopi,” sahut Eun Ji. Eun Ji lalu naik ke dalam mobil Hyun-Ah dan memaksa Hyun-Ah menyetir ke Ton’s.

Eun Ji mentraktir secangkir kopi susu dan dua donat untuk Hyun-Ah. Sedangkan dia membeli tiga cangkir cappucino untuk dirinya sendiri. “Apa Changmin bercerita penyebab dinginnya persahabatan kami?” tanya Eun Ji tanpa basa-basi sambil menikmati cappucino pertamanya.

“Tidak. Dia hanya bilang, dia sudah lelah untuk jadi sahabat onni. Dia tidak menjelaskan apa penyebabnya,” jawab Hyun-Ah.

“Hahaha. Jelas saja dia tidak akan mau menceritakannya. Aku berterima kasih karena itu. Dulu, siapa yang tidak akan lelah jadi sahabatku berarti manusia yang hati dan imannya teguh. Aku akui, sampai sekarang Changmin adalah yang mempunyai hati dan iman paling teguh,” sahut Eun Ji.

Hyun-Ah tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Eun Ji tapi dia berusaha memahami. Hyun-Ah mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Eun Ji dengan seksama.

“Aku dulu sangat nakal. Bertindak semauku, tidak peduli benar atau salah. Changmin selalu menegurku kalau aku salah tapi aku tidak pernah mau dengar. Sampai akhirnya suatu hal buruk menimpaku dan aku pergi tanpa memberitahunya. Dia berusaha menghubungiku tapi aku memblokir semua akses. Aku tidak mau berhubungan dengannya. Singkat cerita, dia sakit hati karena aku menyianyiakan dia sebagai sahabat.” Eun Ji mulai bercerita penyebab dinginnya persahabatannya dengan Changmin.

“Kenapa onni tidak mau berhubungan dengan Changmin?” tanya Hyun-Ah.

“Hidupku waktu itu terlalu rumit. Kusut. Aku tidak mau membuat Changmin ikut-ikutan susah karena aku. Aku tidak tega. Dia terlalu baik,” jawab Eun Ji.

“Onni bilang tidak alasan Onni memutuskannya, maksudku alasan Onni tidak mau berhubungan dengannya?”

“Tidak. Aku tidak berani. Melihat wajahnya saja aku tidak berani. Butuh waktu setahun lebih untuk mengumpulkan keberanian menemuinya.”

“Lalu saat onni kembali, reaksinya dingin seperti yang sering aku lihat?”

“Yup! Dia selalu bersikap dingin padaku. Seperti yang sering kau lihat. Tepat sekali!”

“Aku ini tidak membela Changmin oppa loh ya, onni. Aku rasa kalau aku jadi dia mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tapi Oppa tidak boleh memperlakukan onni dengan dingin karena dia sahabat Onni. Seharusnya dia menyambut Onni dengan hangat. Senang karena Onni sudah kembali.”

“Aku rasa apa yang baru saja kau katakan hanya berlaku di sinetron.” Eun Ji meminum cappucinonya yang kedua lalu melanjutkan omongannya. “Kalau aku boleh tahu, apa yang kau katakan pada Changmin sehingga dia jadi lebih hangat padaku?”

“Aku hanya bilang, memaafkan Eun Ji onni apa susahnya sih? Tidak ada ruginya buat oppa. Malah membuat oppa lebih baik.”

“Awalnya memang kau tanya apa padanya sampai kau bisa bicara seperti itu?” tanya Eun Ji.

Hyun-Ah menceritakan semuanya pada Eun Ji. “Waktu itu aku tanya kenapa Oppa dingin sekali pada Onni, kadang bahkan kasar. Dia bilang sakit hati pada Onni tapi tidak mengatakan apa sebabnya. Tanpa tahu masalahnya aku bilang saja padanya seperti tadi itu.”

Eun Ji tersenyum kagum mendengar Hyun-Ah. “Aku rasa kau memang dipilih untuk bersama Changmin. Aku tahu dengan jelas sudah banyak yang berkata seperti itu, termasuk Sungmin dan kedua orang tuanya, tapi hanya kau yang didengar.”

Hyun-Ah hanya tersipu malu mendengar kekaguman Eun Ji pada dirinya. “Onni jangan terlalu berlebihan seperti itu. Mungkin pada saat aku ngomong, dia sudah diberikan kelembutan hati sama Tuhan,” kata Hyun-Ah.

“Anggap saja begitu. Toh tetap saja kau yang berperan penting. Bahkan mungkin Tuhan yang memilih kamu untuk bersama Changmin.”

“Onni, jangan buat aku ge-er ah. Aku hanya melakukan hal kecil. Jangan dibesar-besarkan.”

Eun Ji ingin melanjutkan obrolan tapi Changmin sudah lebih dulu menelepon agar Hyun-Ah cepat datang menemuinya di taman kampus.

“Onni, kalau aku mengantarkan Onni pulang sekarang bagaimana?” tanya Hyun-Ah ragu-ragu.

“Changmin sudah memanggilmu ya?” sahut Eun Ji yang dibalas dengan annggukan kepala oleh Hyun-Ah.

“Hahaha. Dasar anak itu. Tidak bisa lepas darimu sebentar saja,” kata Eun Ji sambil tertawa lalu berdiri dari kursinya. “Ayo, kita pulang.”

Hyun-Ah segera mengantarkan Eun Ji pulang lalu memutar balik menuju kampusnya. Dia berjalan secepat mungkin menuju taman setelah memarkir mobilnya. Taman itu cukup ramai saat ini tapi tidak butuh waktu lama bagi Hyun-Ah untuk mengenali kekasihnya sendiri. Hyun-Ah sedikit berlari menghampiri Changmin yang sedang berdiri di dekat air mancur.

“Maaf aku baru datang,” ucap Hyun-Ah terengah-engah.

Changmin tidak berbalik menatap Hyun-Ah. Matanya tertuju pada kolam di depannya. “Bolpen darimu jatuh ke dalam. Bagaimana ini?” ucap Changmin dengan nada menyesal sambil menunjuk kolam tersebut.

Hyun-Ah mendekatkan tubuhnya ke kolam dan melongok ke dalam berusaha mencari benda kurus, panjang berwarna biru dongker bernama bolpen pemberiannya. “Mana? Tidak ada,” ucap Hyun-Ah lalu berbalik menghadap Changmin yang sudah tersenyum lebar.

“Memang. Orang ada di kantongku dari tadi,” sahut Changmin. Tangannya memegang cincin tepat di depan mata Hyun-Ah.

“Apa ini?” tanya Hyun-Ah bingung sekaligus terkejut.

“Cincin, cantikku yang bodoh,” jawab Changmin sambil memasangkannya di jari telunjuk Hyun-Ah yang sebelah kanan. “Ini artinya kau tidak boleh tebar pesona lagi pada laki-laki lain.”

“Aku tidak pernah tebar pesona. Enak aja. Mereka saja yang tertarik padaku dengan sendirinya,” protes Hyun-Ah.

“Yah apapun lah itu, pokoknya kau akan-menjadi-milikku sekarang. Tunggu sampai aku memasangkan cincin lain di jari manismu.”

“Oppa melamarku?” tanya Hyun-Ah malu-malu.

“Dalam skala yang lebih kecil, iya. Aku mau menegaskan padamu kalau hubungan kita ini serius, sangat serius malah,” jawab Changmin.

Hyun-Ah tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Senyum cerah terus terkembang di wajahnya. Tangan kirinya tidak berhenti mengelus-elus cincin yang baru saja dipasangkan itu. “Terima kasih ya, tampan,” ucap Hyun-Ah.

Kening Changmin sedikit berkerut. “Hanya itu yang mau kau ucapkan?” tanyanya.

“Humm. Kenapa oppa sekarang memasangnya di jari telunjukku?” sahut Hyun-Ah.

Changmin menarik nafas sepanjang yang dia bisa lalu menghembuskannya dengan berlebihan seolah-olah dia sedang tertekan. “Simpel. Karena banyak hal dilakukan dengan telunjuk. Menunjuk orang, menunjuk diri untuk bertanya atau bahkan mengupil. Hal-hal itu membuat semakin sering cincin ini terlihat. Semua orang jadi tahu kau akan-menjadi-milik siapa. Hohoho. Ideku bagus kan?”

Walaupun alasan itu terdengar konyol tapi Hyun-Ah tersenyum bangga. “pacarku pintar! Saranghae. Jeongmal saranghae,” ucap Hyun-Ah.

Sikap Changmin langsung berubah 180 derajat. Dunia serasa berputar hanya untuknya. Changmin mengelus kepala Hyun-Ah dengan sayang. “Akhirnya kau mengucapkan kata-kata itu juga. Aku pikir sampai mati aku tidak akan mendengarnya. Hahahaha.”

“Karena itu baik-baiklah padaku agar Oppa bisa sering-sering mendengarnya,” canda Hyun-Ah.

Hyun-Ah lalu menggandeng tangan Changmin dan mengajaknya berjalan menyusuri taman tanpa peduli sekitar mereka. Saat ini, rasanya dunia hanya milik mereka berdua.

 

.THE END.

@gyumontic