JIHYO STORY

“Aku mau jadi fotografer, omma,” ucapku pada ommaku.

Hari ini, aku memutuskan untuk mulai memperjuangkan cita-citaku dan inilah langkah awalku walau aku tahu kemungkinan besar ia menyetujuinya adalah 0%.

Omma mulai menatapku dengan mata dinginnya dan berkata, “Jihyo, kau tak berhak memiliki cita-cita lain selain menjadi penerusku. Kubur cita-citamu itu karena sampai kapan pun omma tak akan mengijinkannya,” ujarnya.

Aku gentar tapi aku tak boleh kalah. Aku sudah janji pada diriku sendiri.

“Akan kubuktikan, omma,” ucapku dan ia hanya tertawa, “Ya, aku akan menunggunya walau aku tahu kau pasti tak bisa, kau kan cuma anak manja omma yang selalu bergantung padaku,” ujarnya dengan senyum sinis khasnya.

Aku segera keluar dari ruang kerjanya dan membereskan barang-barangku. Aku ingin membuktikan pada omma kalau aku bisa hidup dengan kekuatanku sendiri. Aku tak mau ia menata hidupku. Sampai sekarang aku masih sering berpikir, “apa dia ibu kandungku?” dia sungguh seperti iblis! Grrrrrrr

*****

Yeah, this is good. Kabur dari rumah hanya dengan bermodal kamera, tas, dan uang 50.000 won. Tak mungkin aku menginap di hotel seterusnya. Lalu makanku bagaimana? Aish jinja!

“Ladies and gentlemen, this is Super Junior!”

Aku mendengar suara ribut-ribut dan tepuk tangan yang membahana di sekitar taman ini. Hal itu membuat pikiranku tentang keuangan teralihkan.

Aku mencari sumber suara dan mendapati 13 orang pria sedang menari bersama dan bernyanyi dengan gembira.

“ehm, siapa mereka?” tanyaku pada salah satu penonton yang sangat antusias di sampingku.

“what? Kamu tak tau mereka? Kau bukan orang daerah sini ya? Mereka itu artis jalanan paling keren disini. Malam hari, mereka biasa tampil disini. Sayang sekali belum ada pencari bakat yang menemukan mereka, padahal aku yakin mereka bisa jadi terkenal nanti,” ujar gadis itu dengan rinci. Ia terus saja berteriak histeris menyerukan nama para pria itu satu persatu.

Aku pun mulai terhanyut dengan euforia para penonton disitu. Kuakui, penampilan mereka sangat memang sangat menakjubkan. Jenis musik mereka funky, wajah mereka tampan, suara mereka merdu, dan tarian yang mereka suguhkan juga enerjik. Tak heran kalau para penonton sampai histeris seperti ini.

Aku melihat mereka satu-persatu dengan seksama. Tampan. Sungguh! Namun dari 13 pria itu, ada satu yang menarik perhatianku, yang membuatku tak berhenti memotretnya. Pria diujung sana, yang sedang menari diiringi senyum manis yang mempertunjukan lesung pipinya.

Mataku tak bisa lepas darinya. Angle yang kurang strategis dari tempatku berdiri sekarang membuatku tanpa sadar berjalan sendiri menerobos kerumunan para penonton untuk mendapatkan posisi terbaik, yang membuatku dapat dengan jelas melihat pria itu.

Akhirnya setelah mengerahkan seluruh tenaga, aku mendapatkan posisi terbaik itu. Posisi yang membuatku dapat dengan jelas melihat pria manis berlesung pipi itu.

Tapi saat kameraku tepat mengarah ke wajahnya.. Astaga, mataku tidak salah lihat kan? Aku menjauhkan kameraku dari wajahku dan dengan mata kepalaku sendiri, yang sudah membesar saking terkejut, aku melihatnya dengan amat sangat jelas.

Pria yang tadi kubilang manis dengan lesung pipinya, pria yang sekarang menatapku dengan mata yang juga menyatakan ‘keterkejutan’ bahkan ia sampai menghentikan tariannya..

Dia adalah tangan kanan ommaku, murid kesayangan tiap guru di sekolahku yang menjadi ketua osis sekolahku, si dingin LEE SUNGMIN?

Pria yang bahkan tak pernah tersenyum meski memperoleh nilai perfect dalam setiap pelajarannya itu, bukan??

Tapi bagaimana bisa? Murid kesayang omonim bekerja sambilan sebagai penari jalanan? Bukankah bekerja sambilan adalah salah satu larangan sekolah kami? Dia sebagai ketua osis harusnya lebih mengerti tentang hal itu kan??

*****

“Leeteuk hyung, aku pulang duluan ya,” pamit Sungmin pada temannya yang bernama Leeteuk Hyung.

Aku tak percaya, aku menunggunya seperti ini seperti seorang stalker.

Tapi bagaimana lagi? Senyumnya tadi sudah menghipnotisku. Membuatku ingin mengenalnya lebih jauh.

“Hati-hati Sungmin-ah, besok jangan telat,” ujar orang itu yang dibalas dengan acungan jempol oleh Sungmin.

Aku menunggu saat yang tepat untuk menyapanya dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat.

“Annyeonghaseyo, Lee Sungmin,” sapaku riang padanya.

Tapi bukannya balas menyapa, ia malah melewatiku begitu saja. Ia bahkan tidak menatap mataku! Kemana senyum lesung pipinya yang manis tadi?

*****

Jujur saja, aku sangat terpesona dengan senyum lesung pipinya itu. Sangat manis, hangat dan tulus. Sama sekali tak pernah aku bayangkan orang seperti dia bisa tersenyum ramah seperti itu.

Sejak kemarin begitu tiba di hotel sampai pagi ini di kelas, aku tak bisa lepas dari kameraku. Yang kulakukan hanya memandangi foto-foto Lee Sungmin tersenyum yang sempat kuabadikan dalam kameraku.

Aish kurasa aku sudah gila.

“Choi Jihyo, ditunggu nyonya Choi di kantornya,” itulah suara speaker yang baru saja berkumandang. Aish kurasa ibu satu itu memang bukan ibu kandungku. Dia mau apa lagi sekarang?

Dengan sangat terpaksa, kulangkahkan kakiku menuju ruangan keramat itu. Selamatkan aku ya Tuhan.

*****

SUNGMIN STORY

Aku melangkahkan kaki menuju ruang kepala yayasan yang sekaligus merangkap sebagai kepala sekolahku ini dengan setumpuk file penting ditanganku.

Baru saja aku mau mengetuk pintunya, tak sengaja aku mendengar sebuah perdebatan sengit antara..

“Aku akan memperjuangkan mimpiku. Akan kubuktikan pada omma kalau aku mampu meski tanpa turun tanganmu,” ujar seorang gadis yang kutebak adalah Choi Jihyo, anaknya. Berarti ini adalah perdebatan sengit antara anak dan ibu.

Sesaat, aku sempat terkagum dengan jawaban tegas yang Jihyo berikan. Tapi bukan itu yang harus kupikirkan.

‘Apa dia akan membocorkan tentang pekerjaan sambilanku sebagai penari jalanan itu?’ itulah masalahku saat ini, dan sebaiknya aku menyiapkan batinku untuk menerima hukuman skorsing atau lebih parah lagi, dikeluarkan.

“Menyerah saja. Kau tinggal dimana? Makan apa? Apa kau punya uang?” tanya ibunya itu dengan nada merendahkan.

“Aku akan berjuang, bagaimana pun caranya. Aku akan bertahan hidup dengan caraku sendiri dan tenang saja, aku tetap akan berada di jalan yang benar,” jawab Jihyo yang sekali lagi membuatku kagum. Tapi apa iya dia bisa? Dia hanya seorang anak manja yang selalu bergantung pada ommanya.

“hanya itu saja yang mau omma bicarakan? Buang waktu saja. Annyeong nyonya Choi,” pamit Jihyo yang tentu saja membuatku kaget.

Begitu saja? Dia tak melaporkanku?

“Oh, annyeonghaseyo Sungmin sshi,” sapa Jihyo ramah padaku saat ia keluar dari ruang ommanya itu.

Mengapa ia masih bersikap ramah padaku seperti ini? Aku menatapnya tajam, mengamati gerak-geriknya untuk meneliti apa dia punya sebuah rencana licik padaku. “Mengapa kau tak melaporkanku?” tanyaku dingin.

Aku memang selalu seperti ini pada siapapun di sekolah meski aku tak membencinya. Dingin, kaku, diam.

Hanya saja untuk gadis ini, aku memang tak suka.

Tidak, tidak, dia tak pernah melakukan apapun yang menyakitiku. Haniya saja aku benci dengan sikapnya yang santai, rebel, manja -meski aku tak pernah melihat ibunya itu memanjakan anaknya-, dan aku benci matanya yang ramah namun menusuk. Mata yang seolah-olah bisa melongok sampai kedalam hati siapapun yang bertatapan dengannya.

“Tentang apa?” tanyanya polos, entah memang polos atau pura-pura.

“Jangan berpura-pura,” balasku masih tetap dingin.

Dia terdiam sebentar sambil memiringkan kepalanya seperti berpikir. “Assa!!” serunya sambil menjentikkan jarinya.

“Maksudmu yang kemarin?” tanyanya

“Lalu mengapa kau tak melaporkannya?” tanyaku singkat, padat, dan tetap cool.

Jihyo menatapku lekat beberapa detik lalu tersenyum sangat lembut, “Aku suka sekali dengan senyumanmu kemarin,” katanya.

Aku ingin meyakinkan diriku kalau dia hanya berpura-pura baik padaku namun wajahnya sangat tulus, tidak ada kepalsuan. Ketulusannya entah mengapa membuat lidahku kelu. Tak mampu membalasnya atau sekedar melontarkan pertanyaan.

“Sungmin sshi, kau kah itu?” tanya nyonya Choi yang menyelamatkanku dari atmosfer canggung antara kami. Atau tepatnya, hanya aku yang merasa canggung.

“Kau dipanggil. Annyeong Sungmin sshi,” kata Jihyo lalu beranjak meninggalkanku. Aku menyerahkan semua file yang sudah kubawa pada nyonya Choi, dan setelah ia puas dengan hasil kerjaku, aku pun keluar dari ruang keramat itu.

Aku berjalan menyusuri koridor untuk kembali ke kelas, namun tanpa kusadari langkahku terhenti dengan sendirinya saat aku melihat Jihyo sedang tertawa gembira bersama teman-temannya.

Apa yang terjadi denganku? Mengapa aku jadi memperhatikannya seperti ini? Aish jinja. Aku mengacak rambutku tanda frustasi lalu melanjutkan langkahku kembali.

Aku memang harus menjauhinya. Gadis itu sudah membuat pikiranku kacau.

*****

“Sungmin sshi,” panggil seorang gadis yang suaranya kukenal suaranya sebagai, Choi Jihyo. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati dirinya sedang berlari-lari kecil menghampiriku. Lucu. Ha? Apa yang kupikirkan barusan? Gadis itu aish jinja. Mau apa dia kesini?

Donghae menyikutku, “Siapa dia Sungmin-ah? Manis,” bisiknya dan entah mengapa, bisikkannya itu membuatku naik pitam.

“Yaa Donghae!” seruku tanpa sadar padanya yang membuat semua hyung menatapku dan Donghae sekarang.

“Mi-mianhe,” gumanku. Apa yang baru saja kulakukan?

“Annyeonghasimika,” sapa Jihyo dengan ramah dan sopan pada semua hyung dan dongsaengku.

“Penampilan kalian daebak!” puji Jihyo sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Ahh, gumapseumnida,” balas Leeteuk dan yang lainnya bersamaan

“Siapa namamu agasshi?” tanya Donghae diiringi senyum yang tak kalah ramah dari Jihyo

“Choi Jihyo imnida, bangaseumnida,” jawab Jihyo dengan senyum manisnya. Manis? Ya ampun, apa lagi yang kupikirkan!

“Aku teman sekolah Sungmin,” lanjutnya yang entah mengapa membuatku sedikit kecewa. Hey, Lee Sungmin. Apa yang kau harapkan?

“Teman sekolahnya? Sungguh?” tanya Leeteuk Hyung antusias sambil menghampiri Jihyo dan memegang tangan Jihyo

“Sungmin selalu berkata ia tak punya teman di sekolah. Katanya dia tak bisa percaya siapapun. Aku senang akhirnya Sungmin bisa membuka hatinya,” ujar Leeteuk Hyung sembari memeluk Jihyo. Dan hal itu lagi-lagi membuatku naik pitam.

“Dia bukan temanku, hyung!” seruku sambil menjauhkan Jihyo dari pelukan Leeteuk hyung.

Aku menarik tangan Jihyo dan membawanya menjauh dari kerumunan para hyungdeul dan dongsaengdulku itu.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku dengan sedikit emosi yang masih bergejolak didada.

“Tentu saja, memotretmu,” jawabnya singkat diiringi senyumnya yang ramah

“Untuk apa?”

“Aku kan sudah bilang, aku suka dengan senyumanmu. Dan hal itu membuatku ingin mengenalmu lebih jauh. Makanya aku datang kesini,” jawabnya masih tetap dengan senyumannya itu.

“Mengenalku lebih jauh? Apa untungnya bagimu? Beginilah aku, tak ada yang perlu kau ketahui lagi!” balasku

Jihyo diam sesaat, menatapku dalam dengan kedua mata yang aku benci itu, lalu tersenyum. “Ani, kau yang saat ini bukanlah dirimu yang sesungguhnya. Lee Sungmin yang asli bukanlah seorang yang dingin dan tak peduli siapapun. Lee Sungmin yang asli adalah seorang yang hangat, yang selalu memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Aku percaya itu,” ujarnya yang membuat emosi naik. Bagaimana dia bisa menyimpulkan hal itu!? Bahkan berbicara pun sebelumnya kami tak pernah.

“Jangan menyimpulkan sesuatu dengan mudahnya! Kita bahkan tak pernah bicara sebelumnya!” pekikku emosi

Aku tak tahu terbuat dari apa manusia ini. Sudah aku bentak-bentak, ia tetap saja tenang dan tersenyum padaku.

“Kalau Lee Sungmin adalah manusia dingin, darimana asal senyuman hangat dan tulus itu? Senyuman yang membuatku datang kesini untuk sekedar memotretmu. Senyuman yang membuatku ingin mengenalmu lebih jauh. Senyuman yang membuatku memiliki keyakinan tentang dirimu. Senyuman yang membuatku jatuh hati pada si dingin Lee Sungmin,” ujarnya

Aku mendengus kesal. Bagaimana bisa dengan mudahnya ia mengatakan ‘suka’ padaku? Ia mau mempermainkanku? Dengan mudahnya juga ia mengatakan kalau ia percaya padaku?

“Maaf nyonya, tapi sayangnya, aku membencimu,” ujarku singkat.

“Kenapa?” tanyanya sambil menatapku dalam. Senyumnya sedari tadi hilang dari wajahnya.

“Aku benci padamu karena kau pembohong,”

“Bohong?! Bohong soal apa?” tanyanya

“Semua. Semua yang kau katakan tadi adalah kebohongan!” seruku dan tiba-tiba saja Jihyo menarik kerah kemejaku lalu untuk sesaat, detik seakan berhenti bergulir. Jihyo menciumku kilat namun terasa hangat.

Jihyo menatapku dengan matanya yang mulai meneteskan air mata. “Aku menyukaimu, itu kenyataan,” katanya dan lalu ia pergi meninggalkanku.

Aku terpaku ditempat. Memori otakku kembali memutar ingatanku. Kecupan yang hangat, tubuhnya bergetar seakan menguatkan dirinya sendiri, mata yang menatapku lekat dan air matanya adalah bukti ketulusannya. Apa yang tadi kukatakan padanya? Aku membencinya?

Kau sungguh bodoh Lee Sungmin. Kau pengecut. Kau takut kalau ia masuk lebih jauh ke dalam hatimu. Kau takut kalau ia suatu saat akan melukaimu.

Kau melukainya karena kau takut.

Kau takut untuk menerima kenyataan bahwa kau, dirimu, hatimu, sudah jatuh hati pada gadis itu.

Apa benar aku mencintainya?

Tentu saja. Jantungmu berdebar tiap kali melihatnya, bibirmu kelu setiap melihat senyumnya, langkahmu terhenti hanya untuk memperhatikannya secara diam-diam, dan kau marah saat Leeteuk hyung memeluknya atau saat Donghae mengatakan Jihyo manis, itu sudah cukup menjadi bukti kalau Lee Sungmin telah jatuh cinta pada Choi Jihyo

Namun karena ketakutanmu, kau kehilangan gadis yang mencintai dan kau cintai itu.

*****

Seharian ini, aku tak berbicara dengan Jihyo. Jangankan berbicara, bahkan saat kami berpapasan, menatapku pun tidak. Aku dirundung penyesalan. Benar kata pepatah, penyesalan selalu datang terakhir. Tapi apa tidak ada kesempatan kedua untukku?

“Kau kenapa Sungmin ah?” tanya Leeteuk hyung yang menyadari keadaanku. Aku diam saja, tak menjawab. Mianhe hyung, hanya saja saat ini aku sedang tak mood untuk membicarakan tentang masalahku.

“ASSA!” seru hyung yang menarik sedikit perhatianku.

“Kau tak semangat karena Jihyo tak datang kan?” tanya Leeteuk hyung sambil menatapku antusias. Jihyo. Lagi-lagi Jihyo. Mengapa Jihyo harus dibawa-bawa dalam pembicaraan ini?

Aku bangkit dari tempatku duduk. “Kajja, kita bersiap-siap. Sudah banyak yang datang,” ujarku mengalihkan pembicaraan dengan Leeteuk Hyung tapi sepertinya naluri ke-abang-an Leeteuk hyung tidak dapat dibohongi.

“Jadi benar, karena Jihyo hari ini tidak datang?” tanya Leeteuk hyung.

Aku menghela nafas panjang, berusaha menerima kenyataan pahit ini. “Jihyo tidak datang. Ia tak akan datang lagi. Untuk seterusnya,” jelasku.

“Urineoun Syupoe Juni oe~!!” seru Leteuk hyung sebagai tanda dimulainya performance kami.

Aku berusaha tampil semaksimal mungkin tapi aku tak bisa. Pikiranku hanya dipenuhi dengan penyesalan dan Jihyo.

Aku memejamkan mataku karena saat ini kita sedang menyakikan lagu ballad dan saat ini bukan giliranku bernyanyi. Aku memohon pada Tuhan.

Tuhan, berikan aku kesempatan. Kalau Jihyo datang, aku berjanji tak akan melepaskannya lagi. Tak akan.

“SUNGMIN!” seru sebuah suara.

Aku membuka mataku, dan kudapati Jihyo sudah berdiri tepat dihadapanku!

Duniaku sekejap terasa kosong, hanya ada aku dan Jihyo dihadapanku. Waktu disekitarku terasa berhenti bergulir.

‘Kau sedang apa disini? Jihyo maafkan aku. Aku mencintaimu.’ Ingin sekali aku mengatakan hal itu padanya. Namun lidahku kelu, jantungku berdetak terlalu kencang.

“SUNGMIN, kajja!” seru Jihyo yang membuat duniaku dan kesadaranku kembali. Ia mengandeng erat tanganku dan membawaku lari entah kemana.

“Jihyo, ada apa?” tanyaku  namun ia tak menjawab dan terus saja membawaku berlari

“Aish, kenapa hujan harus turun sekarang?” gerutunya saat gerimis mulai runtuh dari langit

“Jihyo, ada apa?” tanyaku dan lagi-lagi ia tak menjawab.

“Jihyo,” panggilku sekali.

“Jihyo,” kedua kali

“Jihyo!” pekikku yang membuat Jihyo menghentikan langkahnya.

“Apa yang terjadi?!” tanyaku sedikit kesal karena dari tadi Jihyo tak menjawab pertanyaanku

“Ommaku dan guru-guru yang lain sedang melakukan inspeksi di daerah sini!” jelasnya dan membuat kedudukan kami berganti. Sekarang aku yang menggenggam tangannya erat dan membawanya lari bersamaku.

Hujan yang semakin deras membuatku harus mencari tempat persembunyian. Aku tak mau Jihyo sakit. Untung saja ada kotak telepon tak jauh dari tempatku saat ini. Aku berlari dan membawa Jihyo sembunyi di dalam sana. Ruang yang sempit membuat posisi kami cukup dekat.

“Tak apa-apa?” tanyaku pada Jihyo yang sudah basah kuyub. Tangannya bergetar.

“Kameraku tak apa. Tas kameraku kedap air,” jawabnya riang yang membuatku kesal

“Maksudku, dirimu Jihyo! Apa yang kau lakukan disana tadi?! Mengapa menolongku sampai kau kedinginan seperti ini?” tanyaku lirih saat kudapati tangannya bergetar kedinginan. Aku menggosok tangannya lalu meniupnya, memberikan kehangatan.

Jihyo tersenyum manis padaku. “Aku ingin menjaga senyumanmu,” jawabnya singkat namun mampu membuatku berbunga-bunga. Aku dengan sekejap menarik Jihyo kedalam pelukanku dan memeluknya erat.

“Mianhe Jihyo, mianhe,” gumanku dan tanpa kusadari, air mataku sudah mengalir. Air mata penyesalan yang bercampur dengan air mata kebahagiaan.

*****

“Sungmin sshi, kau tak membenciku lagi?” tanya Jihyo tiba-tiba dalam perjalanan kami menuju rumah sementara Jihyo.

Aku terdiam menatapnya tak mengerti dengan maksud pertanyaannya. “Kau kemarin bilang, kalau kau membenciku. Tapi dari tadi kau malah mengandengku terus. Bahkan kau tadi memelukku,” jelas Jihyo yang membuatku sadar akan perbuatanku dan hal itu membuatku malu seketika lalu melepaskan tangan Jihyo.

“Ka-kalau tak suka, bilang saja,” gerutuku kesal bercampur malu namun aku merasakan sebuah tangan yang mungil menyelinap ke jemari tanganku.

“Aku suka sekali. Terasa hangat,” ujar Jihyo sambil mengeratkan genggaman tangannya.

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Terdiam dan merunduk. Aku terlalu takut untuk menatap wajahnya. Takut, kalau tiba-tiba jantungku meloncat dari tempatnya.

“Kita sampai!” seru Jihyo riang namun berbeda terbalik dengan reaksiku sekarang.

“Kau tinggal disini?” tanyaku ragu dan dia mengangguk antusias

Aku tak percaya ini. “Kau tinggal di Love Hotel? LOVE HOTEL?” tanyaku sungguh tak percaya

“Memangnya ada yang salah Sungmin sshi?” tanya Jihyo bingung. Sungguh, darimana saja kau selama ini Jihyo?! Apa dia tak tahu tempat apa ini?!

“Hotel ini sangat murah! Kamarnya pun banyak kaca. Bibi pegawai hotel pun sangat ramah. Kajja Sungmin sshi, kukenalkan kau pada ajjuma,” ujar Jihyo riang yang membuat kepalaku cenat-cenut tidak habis pikir. Mengapa aku bisa jatuh cinta pada gadis ini?

“Jihyo, kemasi barang-barangmu,” ujarku

“Buat apa?”

“Lebih baik kau tinggal di apartemenku daripada disini”

*****

“Klek,” pintu kamarku terbuka dan muncullah gadis itu dengan piyama yang terlihat kebesaran untuknya.

“Sungmin ah lihat! Piyamamu sangat besar. Bahkan tanganku tidak terlihat,” katanya dengan polos yang membuatku geli

“Makanlah, aku sudah memasakannya untukmu,” ujarku sambil menyuguhkan makanan yang sudah kumasak sepenuh hati ini

“Selamat makaaaan,” seru Jihyo riang dan dengan lahap menyerbu makanan yang ada dihadapannya

“Kau tinggal sendiri?” tanya Jihyo padaku di tengah makan malam ini

“Mamaku selingkuh dengan pria lain, appaku menyibukkan diri untuk memperoleh uang yang lebih banyak. Daripada melihat mereka satiap hari bertengkar, lebih baik aku pindah ke apartemen,” jelasku. Ini pertama kalinya ada orang luar yang tahu tentang masalahku. Sudah lama aku menutup diri dari orang sekitarku, namun entah mengapa saat bersama gadis ini, rasanya aku ingin mencurahkan semua isi hatiku padanya.

“Aku juga selalu sendirian di rumah,” balas Jihyo tak lupa dengan senyumannya. Tapi senyuman itu bukanlah senyum ramah yang akhir-akhir ini sering membuatku berdebar. Senyum itu terasa menyakitkan.

“Bagaimana kalau untuk seterusnya kau tinggal disini?” tanyaku pada Jihyo tanpa sadar. Aku bodoh sekali! Bagaimana pertanyaan seperti itu bisa terlontar begitu saja. Lihatlah. Jihyo terpaku menatapku!

“Kau melamarku Sungmin ah?” tanya Jihyo polos. Aku yang sudah mati kutu saking malunya hanya bisa mengalihkan wajahku darinya.

“Ka- kalau iya, memang kenapa?” tanyaku berusaha setenang mungkin sambil tetap menjauhkan mataku darinya.

Jihyo bangit dari kursinya dan mendekati wajahku. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, yang membuatku terpaksa mendongak dan berkontak mata dengannya. Beberapa saat Jihyo terdiam. Ia menjelajahi wajahku dengan tatapannya, membuat wajahku langsung berubah merah padam.

“Kalau iya, aku mau menikah denganmu Lee Sungmin-nim,” jawab Jihyo diiringi oleh kecupannya yang hangat.

Ya Tuhan, gadis ini sudah membuatku gila!

*****

AUTHOR POV

Sungmin tak bisa tidur. Ia gundah gulana mencari posisi tidur yang tepat. Kalau menghadap kesini, yang ia pandang hanya tembok. Namun kalau ke sebelah sini, ia akan melihat wajah tidur Jihyo dengan jelas dan hal itu sungguh tidak baik untuk jantung dan jiwa.

“Benar tak masalah?” tanya Sungmin ragu pada Jihyo masih dengan posisi tidur yang memunggungi Jihyo

“Tentu saja tidak,” ujar Jihyo santai. “Aku tak mau kau sakit karenaku,” lanjutnya.

“Tapi aku ini juga laki-laki Jihyo,” ujarku memohon pengertian Jihyo.

Tiba-tiba aku merasa Jihyo menyikut pelan punggungku. “Sungmin ah, lihat sini,” celetuk Jihyo yang membuat Sungmin berbalik ke arah Jihyo.

“Say cheese!” seru Jihyo dan blits kamera, sekejap menyinari wajah Sungmin. Jihyo melihat hasil fotonya tadi dan tersenyum puas.

“Foto pertama di rumah tuan besar Lee Sungmin. Nomu joha,” ujar Jihyo yang membuat hati Sungmin berbunga-bunga. Sungmin menatap gadis yang tidur disampingnya itu dan tanpa sadar ujung bibirnya sudah tertarik membentuk senyum simpul yang manis.

“Kau mau jadi fotografer? Aku tak sengaja mendengar perdebatanmu dengan ommamu,” tanya Sungmin basa basi.

Jihyo yang sedari tadi hanya fokus pada kameranya, kini mengalihkan perhatiannya dan menatap Sungmin lekat. “Itu benar. Karena aku suka sekali dengan foto,” jawab Jihyo diiringi senyumnya itu

“Mengapa?” tanya Sungmin penasaran

“Manusia itu sering melupakan hal-hal baik dan hal-hal buruk. Tugas fotolah untuk mengembalikan ingatan itu. Hebat bukan? Momen yang hanya sekejap pun memiliki kenangan yang berharga,” jawab Jihyo

“Segitu sukanya?” tanya Sungmin. Ada perasaan sedikit cemburu. Iya, dia tahu kalau cemburu pada hal ini adalah sesuatu yang bodoh, namun bagaimana lagi? Perasaan sudah berkata demikian.

“Ya, segitu sukanya. Karena berkat foto itulah aku bisa melihat senyummu dan bisa jatuh cinta padamu, Sungmin sayang,” jawab Jihyo yang membuat Sungmin tak mampu berkata apa-apa. Ini sudah kesekian kalinya untuk hari ini Jihyo membuatnya berbunga-bunga.

“Oia Sungmin ah, beberapa tahun lagi aku pasti jadi photografer profesional dan kau harus jadi modelku ya,”

“Kenapa?” tanya Sungmin tak mengerti

“Karena aku ingin kau selalu berada dalam lensa kameraku,” ujar Jihyo yang membuat Sungmin tak mampu menahan dirinya lagi

“Apa yang harus kulakukan Jihyo? Dari tadi kau selalu membuatku berbunga-bunga. Aku tak bisa menahan diri lagi,” desis Sungmin frustasi

“Kau boleh memelukku,” celetuk Jihyo yang membuat Sungmin tercengang.

“Aku serius Sungmin-nim. Karena aku percaya padamu. Pada perasaanmu. Kalau kau sungguh mencintaiku, kau pasti akan menjagaku,” jelas Jihyo

“Jihyo ah, sungguh boleh aku memelukmu? Aku janji tak akan melakukan apapun. Kau bisa menendangku kalau aku mulai macam-ma..”

“Kau terlalu lama, Sungmin ah,” omel Jihyo yang tiba-tiba saja memeluk Sungmin lebih dahulu

Sungmin membalas pelukan Jihyo lalu, mengelus kepala Jihyo dan menyelipkan sebagian rambutnya yang menutupi wajah ke belakang telingnya.

“Jeongmal Saranghaeyo, Choi Jihyo,” bisik Sungmin tepat ditelinga Jihyo.

Jihyo terlalu yang terlalu senang tak bisa melukiskan perasaannya dengan kata-kata. Ia hanya membalas pernyataan cinta Sungmin dengan memeluknya lebih erat.

*****

3 tahun kemudian

“Omona!! Super Junior akhirnya merilis album pertama mereka! Foto-foto teaser mereka juga jadi bahan pembicaraan! Super Junior Daebak!”

“Lihat ekspresi Sungmin! Sangat bagus! Pesonanya sungguh terasa! Hebat sekali fotografernya!”

“Iya benar! Nama fotografernya juga sering dibicarakan akhir-akhir ini. Kalau tak salah namanya.. Choi Jihyo,”

“JIHHHHYYYOOOO AAAH!!!! Jangan menyentuh Donghae seperti itu!” protes Sungmin saat melihat Jihyo, pacarnya, yang juga fotografer pribadi Super Junior itu, menyentuh Donghae untuk menata pose yang tepat untuk pemotretan.

“Mianhe Sungmin sayang, tuntutan pekerjaan,” balas Jihyo tanpa mengalihkan perhatiannya dari Donghae.

“Lihat, bahkan untuk menatapku saja kau tak sempat,” gerutu Sungmin kesal

“Apakah aku secerewet ini saat melihat adegan ciumanmu di drama terbarumu itu?” balas Jihyo masih tetap tenang namun ada kecemburuan dibalik itu semua.

Sungmin menatap Jihyo takjub. “Jihyo.. kau.. cemburu?” tanya Sungmin tak percaya karena memang selama ini Jihyo tak pernah menyatakan kecemburuannya sampai kadang Sungmin menjadi ragu dengan perasaan Jihyo.

Jihyo yang menyadari belangnya telah ketahuan hanya bisa merunduk, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah. “A- aku tidak cemburu,” elakknya.

Sungmin yang sangat senang semakin semangat menggoda Jihyo. Ia mendekati Jihyo lalu mencolek pipi Jihyo yang sedikit chabby itu.

“Katakan saja kalau kau cemburu Jihyo,” goda Sungmin

“Aniyo,” balas Jihyo

“Hei, hei, kalian berdua. Aku bukan patung disini,” celetuk Donghae yang membuat Jihyo dan Sungmin merasa bersalah

“Mianhe,” balas Jihyo lalu melanjutkan tugasnya pada Donghae

“BRAK!!” pintu ruang pemotretan terbuka dengan kasar. Leeteuk hyung datang bersama dengan koran ditangannya. Wajahnya penuh dengan keringat dan nafasnya pun tersenggal-senggal.

“Ada apa hyung?” tanya Sungmin bingung

“LIHAT!” seru Leeteuk hyung sambil memperlihatkan headline koran hari ini.

“LEE SUNGMIN DAN FOTOGRAFERNYA CHOI JIHYO TINGGAL BERSAMA!” itulah judul headline hari ini

“Wah, ketahuan ya,” celetuk Jihyo santai

“Kalau sudah seperti ini, untuk apa ditutupi lagi. Bagaimana kalau sekalian saja?” tanya Jihyo diiringi senyum manisnya. Sungmin yang sudah sangat mengenal Jihyo luar-dalam, tahu persis apa maksud Jihyo tanpa perlu bertanya lagi.

“Boleh. Dengan senang hati calon nona Lee,” balas Sungmin sambil menggenggam erat tangan Jihyo

*****

HEADLINE HARI INI!

LEE SUNGMIN DAN CHOI JIHYO AKAN MENIKAH MINGGU INI!

“Aku sedikit menyesal tentang hal ini,” celetuk Jihyo lalu menutup korannya

“Hal ini? Pernikahan?” tanya Sungmin heran

“Iya,” jawab Jihyo singkat diiringi helaan nafasnya

“Kenapa?!” seru Sungmin

Lagi-lagi Jihyo menghela nafasnya. “Mempelai pria yang menatap takjub sang mempelai wanita yang sedang berjalan menuju altar adalah momen yang paling indah dalam suatu pernikahan,” jawab Jihyo yang masih tak dimengerti Sungmin

“Lalu?” tanya Sungmin

“Kalau aku yang jadi mempelai wanitanya.. yang akan memotretmu saat menatapku takjub siapa dong?” tanya Jihyo polos yang membuat Sungmin tertawa geli.

Sungmin menatap gadis yang tidur disampingnya ini lalu memeluknya.

“Kau lebih memilih kameramu atau menjadi nyonya Lee?” tanya Sungmin menggoda Jihyo

“Ehm.. Aku pilih menjadi Nyonya Lee,” jawab Jihyo

“Bagus! Kalau begitu jadilah mempelai wanitaku Jihyo.”

END