Yonghwa jatuh tersungkur tepat di samping Yunho. Darah mengucur deras dari hidung dan pelipisnya, namun entah mengapa ia tidak merasa sakit sedikitpun, semua emosinya selama bertahun-tahun seperti menguap begitu saja.

“Kau baik-baik saja, Yong?” suara Yunho bergema di telinga Yonghwa, terdengar sangat cemas. Ia bisa merasakan tangan Yunho menyeka darah di wajah Yonghwa. “Mianhae dongsaeng, jeongmal mianhae. Kau terluka parah sekali! Yong, bangun!”

“Kenapa kau secemas itu, hyung?” desis Yonghwa.

“Bodoh,” Yunho menyeka airmatanya. “Kau ini dongsaengku, Yong.”

Yonghwa tersenyum. Ini ekspresi yang sudah lama ia lihat semenjak HyunAh kecelakaan saat kecil. Ekspresi ini yang selalu mengingatkan Yonghwa bahwa Yunho sangat menyayangi dirinya dan HyunAh.

“Lalu mengapa kau meninggalkan kami, hyung?”

Yunho terdiam, semuanya seperti mau meledak di otaknya jika ia tidak mengeluarkannya. “Aku-““Mengapa kau hanya menulis surat selama bertahun-tahun, hyung? Mengapa kau tidak pernah menemui kami secara langsung?”

Yunho terdiam, tidak percaya dengan ucapan Yonghwa. “Kau tau tentang surat-surat itu?”

Yonghwa bangun dan duduk menghadap Yunho. “Kau sudah tau jika surat-surat itu tidak pernah sampai ke tangan kami kan? Kau tau jika selama ini haelmoni menyembunyikan semua surat itu kan?”

Yunho tetap tidak menjawab.

“Sudah kuduga kau akan diam, hyung. Sampai kapan kau akan terus seperti ini, hah?! Jika tadi bukan aku yang memancingmu untuk memukulku, kau tidak akan membalas saat aku terus memukulimu, iya kan?” suara Yonghwa meninggi. “Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu!”

“Kau tidak tau betapa sulitnya untuk-“

“Aku tau betapa sulitnya! Aku tau bagaimana hidup di dalam keluarga yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi kenyataannya tidak! Aku tau bagaimana tersiksanya saat melihat eomma yang setiap malam menangis karena memikirkanmu, appa yang lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya agar tidak mengingatmu, haelmoni yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuatmu pergi dari rumah, HyunAh yang selama bertahun-tahun berusaha untuk masuk SM agar bisa menemuimu. Kau pikir semua itu tidak sulit, Jung Yunho?”

“Kau tidak tau betapa sulitnya untuk kembali ke rumah, Yong. Saat kau menyadari semua yang kau lakukan malah membuat orang-orang yang kau cintai tersakiti.”

Mereka berdua terdiam, tidak ada satu pun yang berusaha memecahkan kesunyian. Hari semakin gelap, darah di wajah kedua saudara itu mulai mengering akibat angin malam yang kencang.

“Kau mau ikut denganku pulang ke rumah, hyung?”

Yunho memandang Yonghwa yang mulai menggigil. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan memberikannya ke Yonghwa.

“Pulanglah, Yong. Aku masih mau di sini, sendiri.”

Namun Yonghwa tidak bergeming dari posisinya, “Tidak hyung. Aku sudah pernah meninggalkanmu sendirian, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

****

“Kukira kau akan meninggalkan HyunAh,” ujar Joon.

“Aku tidak akan meninggalkannya,” Changmin menatap tajam Joon.

“Walaupun kau tau aku mencintainya? Walaupun kau tau HyunAh juga mencintaiku?”

“Ya.”

“Kau ini bodoh, Shim Changmin,” Joon tertawa. “Sudah jelas-jelas kau tidak akan pernah mendapatkan HyunAh.”

“Aku memang bodoh, tetapi ini yang membuatku tetap hidup. Aku tidak akan bisa hidup jika aku melupakan HyunAh.”

“Kau kira aku akan percaya dengan ucapan seseorang yang memanfaatkan situasi pertengkaran sahabatnya sendiri untuk mendapatkan dongsaengnya?”

“AKu tidak seperti itu,” Changmin mengepalkan tangannya, ingin sekali ia memukul Joon, namun ia tahan. “Aku menyukai HyunAh sejak pertama kali melihatnya dan aku tidak sama sekali memanfaatkan situasi! Aku benar-benar ingin Yunho hyung dan si kembar berbaikan! Aku tidak seperti apa yang kau pikirkan!”

“Tinggalkan HyunAh,” Joon menekankan setiap kata-katanya, “Maka aku akan jamin Yunho hyung dan si kembar akan berbaikan.”

“Aku tidak mau,” ujar Changmin tegas.

Joon menyeringai mendengar perkataan Changmin, pandangannya tertuju pada ujung jalan tempat mereka berdiri sekarang.“Cih. Memangnya apa sih istimewanya HyunAh hingga kau sampai seperti itu?”

“Apa maksudmu?”

“Kau mau tau yang sebenarnya, Changmin-ssi? Aku tidak pernah mencintai HyunAh,” ujar Joon santai. “Aku hanya terikat janji dengan Yonghwa untuk menjaga adik kembarnya itu.”

“Apa-apaan kau ini!”

“Seperti yang aku bilang, aku sudah terlanjur berjanji kepada Yonghwa. Aku tidak menganggap lebih HyunAh. Namun, saat aku tau kau menyukai HyunAh, aku jadi ingin menyimpan HyunAh selamanya. HyunAh milikku, tidak ada yang boleh merebutnya.”

Changmin berusaha mengontrol emosinya, “Kau pikir HyunAh itu barang?!”

“Ya,” pandangan Joon terus mengarah ke tepi jalan, ia tersenyum begitu melihat sebuah mobil mendekat. “Untukku, HyunAh itu barang yang Yonghwa titipkan kepadaku, dan begitu ada sesorang yang mencoba merebutnya, tidak akan aku biarkan. Setelah itu, terserah aku mau ku apakan barang milikku.”

“Kau kurang ajar!” Changmin memukul Joon bertubi-tubi, ia sudah tidak peduli kalau mereka di tempat umum, kalau tiba-tiba saja ada media yang merekam kejadian ini. Ia tidak peduli.

“Joon oppa!” teriak HyunAh berlari keluar dari mobil diikuti Kyuhyun.

“Changmin! Apa-apaan kau ini?! Tahan emosimu, ini tempat umum!” Kyuhyun menahan Changmin agar tidak kembali memukul Joon.

“Dia ini kurang ajar, Kyuhyun! Dia mempermainkan HyunAh!”

“Apa maksudmu?!” teriak HyunAh sambil membopong Joon. “Joon oppa tidak seperti yang kau bicarakan!”

“Sudah Hyun,” Joon mengalungkan tangannya ke pinggang HyunAh. “Tidak usah dengarkan omongannya. Ayo kita pergi.”

Changmin yang sudah terbakar emosi semakin gila melihat Joon dan HyunAh sedekat itu, ia menghempaskan pegangan Kyuhyun dan menarik Joon dari HyunAh.

“Jangan harap aku bisa memaafkanmu, Lee Joon!” Changmin menghajar Joon kembali. Namun kali ini Joon tidak tinggal diam, ia membalas pukula Changmin. Tentu saja ini tidak imbang untuk Changmin, secara Joon ahli dalam hal bela diri. Dalam beberapa pukulan saja, Changmin sudah babk belur dan hampir tak sadarkan diri.

“Kyuhyun! Tolong pisahkan mereka! Kyuhyun!” teriak HyunAh, namun Kyuhyun hanya terpaku melihat kedua sahabatnya berkelahi.

“Joon oppa, hentikan! Kumohon hentikan, oppa! Changmin sudah hampir tidak sadarkan diri! Kumohon oppa, hentikan!”

Namun Joon tidak mempedulikan, ia terus menghujam Changmind engan pukulan dan tendangan.

“Kumohon hentikan oppa! Aku mencintainya! Jangan pukul dia lagi!”

Joon langsung menahan pukulannya sangat mendengar perkataan HyunAh, “Apa kau bilang?”

“Aku mencintainya, oppa! Kumohon jangan pukul dia lagi. Kau sama saja menyakitiku, oppa. Kumohon,” HyunAh menangis.

“Kenapa kau tidak bilang dari tadi, dongsaeng?” Joon melepaskan cengkaramannya dari Changmin. “Aku kan tidak harus membuat Changmin-ssi jadi babak belur seperti ini,” Joon menyeka darah di ujung bibirnya.

HyunAh berlari memeluk Changmin, “Kau tidak apa-apa, Changmin?”

“Apa, apa tadi kau bilang, HyunAh?” ujar Changmin terbata.

“Aku mencintaimu. Jadi tolong jangan kenapa-kenapa,” isak HyunAh.

“Kerja bagus, Joon!” seru Kyuhyun merangkul sahabatnya ini. “Tidak sia-sia kau direkrut oleh Hollywood, hahaha.”

“Memang tidak sisa-sia Hollywood merekrutku, tapi kalau di sana kan aku dibayar atas luka-lukaku ini. Kalau ini, siapa yang mau tanggung jawab? Cih. Tidak kusangka pukulan Changmin-ssi kuat juga.”

“Jadi kalian mengerjai kami?” Tanya Changmin.

Kyuhyun dan Joon menyeringai. “Hehehehe, kalau tidak begini, mana mungkin kalian berdua bisa menyatakan perasaan kalian!”

****

“Kau yakin tidak aku temani masuk, Hyun?” Joon menghentikan mobilnya di depan kediaman Jung.

HyunAh menggeleng, “Tidak usah oppa, kau antar Changmin ke dorm saja ya.” HyunAh memeluk dan mengecup pipi kekasihnya.

“Eewwwww, sudah sudah, kalian anggap aku ini patung apa? Sudah Hyun, cepat masuk ke rumah!” Joon keluar dan membuka pintu belakang, menarik HyunAh dari Changmin.

“Hihihihi, ne oppa~,” HyunAh mengecup pipi Joon hingga bersemu merah. “Aku masuk dulu ya.”

HyunAh berjalan meninggalkan kedua namja tersebut, namun tak berapa lama suara Changmin menggema. “Hyun!”

“Ne, Changminnie?”

“Kau yakin tidak mau ditemani masuk?”

HyunAh menggeleng, “Tidak usah, jagi~. Tumben kau dan Joon oppa kompak sekali pertanyaannya.” HyunAh membuka pagar, ia tau mengapa Joon dan Changmin terus bertanya seperti itu. Namun ia harus menghadapinya sendiri, karena Yonghwa sudah menghadapinya sendiri pula.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi di jam tangan HyunAh, sepertinya semua orang di rumah sudah tertidur lelap, lampu telah padam. HyunAh dengan hati-hati menuju tangga, namun baru saja ia menginjakkan ke anak tangga pertama, ia mendengar suara dari dapur.

Apa itu Yonghwa? “Yong?” HyunAh mengurungkan niatnya ke lantai atas dan berjalan menuju dapur. “Yong? Yonghwa?”

Namun tidak ada jawaban. HyunAh semakin mempercepat langkahnya, hingga samar-samar matanya bisa menangkap sosok yang sedang berada di dapur. “Yong oppa?”

‘Aish, kenapa Yonghwa tidak menjawab? Atau jangan-jangan dia kenapa-kenapa?’ HyunAh setengah berlari walaupun ia tidak yakin dengan langkahnya karena gelap. “Oppa!” teriak HyunAh. “Oppa?” langkah HyunAh terhenti begitu mendapati sosok di dapur yang sedang mengompres wajahnya dengan es.

“Oppa?” suara HyunAh bergetar mengatakannya, seperti sudah lama sekali ia tidak mengucapkan kata itu. Kenyataannya, memang sudah lama sekaliia tidak mengucapkan kata itu, untuk seseorang di hadapannya.

“Kamarmu sudah kubersihkan, hyung. Kau bisa beristirahat sekarang. Lho, Hyun?” Yonghwa muncul di belakang HyunAh. HyunAh membalikkan badannya, ia dengan jelas bisa melihat banyak lebam di wajah Yonghwa, sama seperti apa yang ia lihat di wajah Yunho.

“Hyun, jangan menangis,” Yonghwa melihat mata HyunAh yang mulai berkaca-kaca,” kami tadi hanya bercanda hingga sedikit kelepasan, lebam di wajah kami ini bukan apa-apa kok,” ujar Yonghwa seperti tau apa yang di takutkan kembarannya ini.

“Oppa…”

Yunho berjalan mendekati si kembar, namun langkahnya terhenti. “Mengapa kau ada di sini?” ujar HyunAh.

“Hyun…” Yonghwa berusaha mengatakan sesuatu, namun ia melihat ke arah Yunho, ia tau kali ini urusan antara Yunho dan HyunAh yang harus diselesaikan.

“Kau tidak suka aku di sini, Hyun?”

“Tidak.”

Yunho dan Yonghwa kaget mendengar jawaban HyunAh. Namun sesaat kemudian Yunho merasakan kausnya basah, ia menunduk, kini HyunAh sudah ada di dalam pelukannya. “Tidak oppa. Aku tidak suka kau di sini, kau pasti akan meninggalkan kami lagi, kan?”

Yunho mengeratkan pelukannya, “Tidak akan dongsaeng. Aku janji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Maafkan aku.”

“Yunho hyung benar, Hyun,” Yonghwa bergabung dengan kedua saudaranya, memeluk mereka. “Aku janji, jika hyung meninggalkan kita lagi, aku tidak akan segan-segan membuat wajah lebih lebam hingga ketampanannya tidak akan terlihat lagi.”

Ketiga saudara itu tertawa lepas, tawa yang sudah lama tidak pernah terdengar di kediaman keluarga Jung, bertahun-tahun yang lalu.

***

“Ehem,” Kyuhyun berdeham kencang. “Jadi ini balasanmu kepada kami, Shim Changmin?”

Changmin hanya bisa tersenyum mendengar keluhan sahabatnya itu. Daritadi tangannya tidak bisa melepaskan genggaman dari tangan HyunAh.

“Seharusnya aku tidak membiarkan Changmin hyung menjadi namjachingu nya HyunAh noona. Sekarang noona malah tidak pernah dilepaskan. Lalu siapa lagi yang menyayangiku?” Minho memasang tampang aegyonya yang langsung dihadiahi jitakan dari Kyuhyun.

“Hyung!”

“Kau tidak pantas memasang tampang aegyo!”

“Sama saja seperti hyung, tidak pantas.”

“Kau!” Kyuhyun sudah mengepalkan tangannya namun Hyejin sudah lebih cepat memukul kepala Kyuhyun. “Awww!!! Hyejin-ah!”

Hyejin memelototi kekasihnya dengan kesal, “Kau ini, sudah cukup kau membuat Jihyo-ku mengikuti jejakmu, sekarang kau mau meracuni Minho juga?”

“Anni, jagi…” Kyuhyun mengelus kepalanya yang sakit.

MinAh hanya bisa melihat para co-membernya bersama kekasih dan sahabat terdekat mereka. Di hari libur seperti ini, sangat biasa  mereka semua berkumpul di resto favorit mereka. Hyejin sibuk mengurus sang evil magnae Kyuhyun yang mulai berulah lagi, Jihyo sejak tadi terlihat di sudut ruangan bersama Sungmin yang sesekali di-death glare-kan oleh Siwon, walaupun sang pangeran juga bersama Hamun. HyunAh terlihat sangat senang bersama Changmin, Minho, dan Taemin.

“MinAh?” panggil HyunAh menyadarkan MinAh. “Kau kenapa?”

“Gwenchana, Hyun,” MInAh tersenyum kepada sahabatnya itu. “Aku hanya sedikit sedih Jjong tidak ada sekarang.”

“Jjong kan harus syuting, MinAh,” ujar HyunAh menenangkan. “Bagaimana kalau nanti kau ikut aku ke rumah?”

“Rumahmu? Ada acara apa memangnya?”

“Hari ini akan ada makan malam keluarga sekaligus mengenalkan Changmin. Kau bisa datang kan? Eomma sudah beberapa kali menanyakanmu mengapa kau sudah jarang ke rumah.”

“Ada Yunho?” – hanya kalimat itu yang terpikirkan di kepala MinAh saat ini. Ia tau Yunho sudah kembali ke rumah keluarga Jung, dan ia sangat tidak mau bertemu dengannya.

“Aku tidak mungkin mengundangmu jika ada Yunho oppa, MinAh.”

MinAh mengangguk. Ia bisa mempercayai sahabatnya ini.

“Jadi, kau datang ya, Min? Kumohon.”

“Baiklah, Hyun.”

****

“Tidak ikut turun, oppa?” ujar MinAh.

Leeteuk menggeleng, “Anni. Aku harus memulai syuting. Tidak apa-apa kan aku tidak mengantarmu ke dalam?”

MinAh memukul lengan oppanya, “Aku bukan anak kecil lagi oppa. Aku ini sudah ahjumma gara-gara Kyumin.”

“Ah, mianhae, “ Leeteuk memasang ekspresi sedih. “Kau pasti sedih punya oppa yang sudah tua, sudah punya anak pula, huhuhuhu.”

MinAh tertawa melihat tingkah bodoh Leeteuk. Mungkin ini salah satu sebabnya mengapa ia selalu berusaha mandiri, oppa satu-satunya kadang suka lupa usia dan bertingkah kekanakan seperti ini. “Sudah, sudah. Nanti keponakanku bisa menjerit-jerit appanya tidak datang-datang,” MinAh mengecup pipi Leeteuk. “Sampaikan salam kepada baby Kyumin-ku ya.”

MinAh keluar dari mobil, tersenyum melambai ke arah Leeteuk dan memasuki kediaman Jung. Leeteuk menghela napas saat MinAh berjalan menjauhinya. “Sebaiknya kali ini rencana Heechul berhasil.”

*****

MinAh memencet bel kediaman Jung yang langsung di sambut oleh Nyonya Jung. “MinAh! Apa kabar sayangku? Ayo masuk!” MinAh tersenyum dan mengikuti eomma si kembar yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.

“Hyun kemana, ahjumma?”

“Semuanya sudah di ruang makan, sayangku. Ayo,” ujar Nyonya Jung berjalan menuju ruang makan. Namun langkah MinAh terhenti saat melihat ada sesuatu yang janggal di ruang makan. Biasanya makan malam keluarga dihadiri oleh keluarga inti Jung, haelmoni, Tuan Jung, Nyonya Jung, si kembar, dan Joon. Tetapi, kelebihan dua orang? Yang duduk di sebelah HyunAh itu Changmin, dan satu lagi, Jung Yunho? Bukankah HyunAh bilang Yunho tidak akan hadir?

“MinAh, ayo,” Nyonya Jung merangkulnya. MinAh tidak bisa membantah perkataan Nyonya Jung, ia melangkah gontai, bergabung dengan keluarga Jung.

“MinAh, kau sudah datang! Ayo duduk di samping Yunho,” ujar Tuan Jung. MinAh memaksakan senyumnya dan duduk di samping Yunho. Ia memandang ke depan, ke arah HyunAh, meminta penjelasan. Namun HyunAh hanya bisa mengucapkan “Mianhae” dengan pelan.

“Appa, aku lapar. Bisa kita mulai acara makan malamnya?” celetuk Joon meringis. Semua orang di ruang makan tertawa, namun tidak dengan MinAh.

“Kau ini selalu lapar, Joon. Berdoa dulu!” ujar Tuan Jung.

“Sudah appa,” ujar Joon mengambil makanan dengan membabi buta.

“Kalian harus membiasakan diri dengan suasana seperti ini ya, Yunho, Changmin,” ujar Nyonya Jung sambil mengambilkan makanan untuk seluruh keluarga.

MinAh hanya bisa diam dan sesekali melirik ke HyunAh ,meminta bantuan. HyunAh hapal betul apa arti ekspresi MinAh, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, walaupun ia merasa sedikit bersalah kepada sahabatnya ini.

“Kau mau makan apa, MinAh?” ujar Yunho.

“Aku bisa ambil sendiri,” ujar MinAh ketus.

HyunAh, Yonghwa, Joon, dan Changmin hanya bisa saling memberi kode melihat kejadian tersebut.

“Kau mau syamgupsal?” Yunho masih berusaha.

“Aku bilang tidak, Jung Yunho,” desis MinAh pelan agar tidak terdengar Tuan dan Nyonya Jung serta haelmoni, namun tetap saja, suasana di ruang makan menjadi berubah.

“Joon, kau ini apa-apaan sih makananku diambil?!” teriak Yonghwa memecah kekikukan.

“Kau kan bisa ambil lagi, Yong, berisik,” ujar Joon santai.

“Yong oppa! Kenapa malah ambil makananku?!” ujar HyunAh kesal.

“Aku kan oppamu, dongsaengi. Kau ambil lagi ya sendiri, hehehe”

“Kalian bertiga ini, sudah sudah,” ujar Nyonya Jung. “Aku merasa seperti punya tiga anak kembar. Lama-lama aku bisa cepat tua.”

“Eomma….” Protes si kembar Jung dan Joon.

Seluruh orang di ruangan tertawa, MinAh hanya bisa tersenyum kecil. HyunAh, Yonghwa, dan Joon hanya bisa saling berpandangan lega.

“Suasana seperti ini yang sudah lama aku rindukan dari rumah ini. Yunho sudah kembali, ditambah lagi sekarang dengan kehadiran Changmin. Aku sudah menganggap MinAh dan si bandel Joon ini sebagai anakku sendiri. Aku seperti merasa keluarga ini sudah lengkap untukku, iya kan yeobo?” ujar Tuan Jung senang.

Nyonya Jung mengangguk, “Mungkin akan lebih lengkap jika mereka semua benar-benar menjadi anggota keluarga kita, yeobo…” candanya.

“Aku tidak keberatan jadi anak angkat keluarga Jung,” Joon berbicara dengan mulut penuh makanan.

“Kami keberatan!” teriak si kembar.

“Kok kalian begitu sih? Kan aku ini sudah, uhuk, uhuk,” Joon terhenti karena tersedak. “Yong, uhuk, minum, uhuk, cepaaaaaaaaat!”

Yonghwa menyodorkan segelas air ke sahabatnya itu, “Itu akibat karena kau mau jadi anak angkat keluarga Jung!”

“Appa, eomma,” tiba-tiba Yunho bersuara. “Aku ingin melamar MinAh.”

Tuan dan Nyonya Jung terdiam, haelmoni pun bersikap sama, Changmin menggerutu pelan tak percaya Yunho akan melaksanakan saran Heechul hyung, HyunAh Yonghwa, dan Joon bertukar pandangan, MinAh hampir tersedak mendengar ujaran Yunho. Apa maksudnya?

“Kau serius, Yunho?” Tuan Jung menghentikan makannya.

“Aku serius,”

Semua orang di ruang makan terdiam mendengarnya.

“Bukankah tadi appa dan eomma mengatakan akan bahagia jika kita semua benar-benar bisa menjadi keluarga sebenarnya? Aku ingin melamar MinAh, jika dia jadi istriku maka ia bisa jadi bagian dari keluarga kita, iya kan?”

MinAh menengok ke arah Yunho, mencoba menebak apa yang ada di pikiran Yunho. ‘Dia bercanda?’

“Hahahaha, benar, Yunho hyung. Kalau begitu aku menikah dengan HyunAh saja yabiar kita bisa jadi saudara?” ujar Joon yang langsung di jitak oleh Yonghwa.

“Berisik Joon,” ujar Yonghwa menyadarkan sahabatnya jika ini bukan becandaan.

“Aku serius, appa,” Yunho menegaskan ucapannya.

Tuan dan Nyonya Jung saling berpandangan, namun akhirnya haelmoni yang angkat suara. “Aku tau serius, Yunho. Tapi tidakkah itu terlalu cepat? Lagipula kau belum bertanya ke MinAh apakah dia bersedia atau tidak.”

“Aku tidak bersedia, haelmoni,” seru MinAh sambil meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang. “Mianhae, haelmoni, ahjumma, ahjussi, aku harus pulang.” MinAh membungkukkan badannya dan berjalan meninggalkan ruang makan.

Yunho tanpa basa-basi langsung mengejar MinAh, “MinAh, tunggu!”

MinAh tidak mempedulikan teriakan Yunho, berani-beraninya ia berbicara seperti itu di depan ahjussi dan ahjumma, melamarku? Dia gila apa?

“Tunggu, Park MinAh!” seru Yunho menarik tangan MinAh. “Mengapa kau bersikap seperti itu kepadaku? Aku serius!”

Plak. MinAh menampar Yunho dengan keras. “Kau bertanya mengapa aku bersikap seperti itu kepadamu? Karena aku membencimu, sangat membencimu!”

“Aku mencintaimu MinAh, aku serius,”

“Kau pasti akan meninggalkanku sama seperti kau meninggalkan HyunAh dan Yonghwa,” desis MinAh. Matanya panas menahan agar airmatanya tidak tumpah, namun sepertinya sia-sia, ia tidak bisa menahan tangisnya. MinAh merasakan tubuhnya menghangat, Yunho memeluknya. “Lepaskan Jung Yunho, lepaskan, aku membencimu!”

Yunho mengencangkan pelukannya, “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, MinAh. Aku tidak akan pernah meninggalkan yeoja yang aku cintai. Aku benar-benar mencintaimu. Kumohon MinAh, jangan bersikap seperti ini.”

“Kau pasti akan meninggalkanku seperti mereka, Yunho. Kau akan meninggalkanku untuk MinAh.”

“Apa?” Yunho melepaskan pelukannya dan menatap MinAh. “MinAh siapa?”

“Bang MinAh,” MInAh menghapus airmatanya.

“Maksudmu Girls Day MinAh? AKu tidak ada hubungan apa-apa dengannya!” seru Yunho.

“Tapi dia sangat mengidolakanmu. Dia cantik, dia terkenal, dia-“

“Kau cantik, kau menawan, kau sangat baik, kau terkenal, kau melebihi Bang MinAh, Park MinAh. Aku hanya mencintai seorang MinAh, dan itu kau,” Yunho mengacak rambut MinAh.

“Kau benar-benar tidak akan meninggalkanku, Yunho sunbae?”

“Kalau aku meninggalkanmu, aku bisa dibunuh oleh keluargaku sendiri yang lebih menyayangimu daripada aku,” Yunho tersenyum.

MinAh tertawa mendengarnya dan memeluk Yunho.

“Pelukanmu ini artinya kau mencintaiku juga kan, jagi?” ledek Yunho. Yunho bisa merasakan MinAh mengangguk.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhh, chukkae!!!!!” suara berisik terdengar di belakang Yunho dan MinAh. Mereka berdua tertawa saat melihat anggota keluarga yang lain ternyata sejak tadi menyaksikan mereka berdua.

“Baru saja anakku yang menghilang pulang kembali, dan dia sekarang sudah membawa calon menantu untukku,” ujar Nyonya Jung terharu.

“Ahjumma, aku belum setuju dengan lamarannya!” teriak MinAh malu.

“Kau harus berusaha lebih keras oppa jika ingin melamarnya!” seru HyunAh.

“itu urusan gampang, Hyun. AKu tinggal bertanya ke Heechul hyung apalagi rencana yang sesuai untuk menaklukkan nona Park ini.”

“Maksudmu ini rencana Chullie oppa?” Tanya MinAh kaget. Yunho mengangguk.

“Arggghhhh, aku tidak jadi mencintaimu, sunbae! Kau bekerjasama dengan Heechul oppa! Ini mengerjaiku namanya! Awas nanti Heechul oppa!”

“Yasudah jika kau tidak jadi mencintaiku. Aku ke MinAh yang lain saja~” canda Yunho yang langsung dihadiahi cubitan dari MinAh.

“Tidak boleh, tidak boleh!!!! Kau milikku, Jung Yunho, selamanya!”

****

 

 

 

Selesaaaaaaaaaaaaaaaai, saudari-saudari SG!!!

Terima kasih selama berbulan-bulan ini sudah meluangkan waktu untuk membaca It’s Complicated, hehehe

Oiya, aku ada ide buat bikin FF tentang awal terbentuknya SG, tapi minta izin dulu sama terong (soalnya dulu dia pernah mau bikin ff yang ini tapi belum ada lanjutannya, hehehe)

Jadi, ditunggu saran dan juga masukan untuk ide ff!

 

-Choi Jihyo-