Ujian pertama Hyun-Ah sudah berlangsung dan Hyun-Ah merasa puas dengan apa yang telah dikerjakannya tadi. Hyun-Ah mengistirahatkan otaknya sebentar di taman sebelum ujian kedua dimulai 15 menit lagi.

Tidak sengaja Hyun-Ah bertemu Jongwoon. “Hyun-Ahssi, bagaimana ujian pertamamu? Pasti lancar kan?” tanya Jongwoon.

“Puji Tuhan lancar, Jongwoonssi. Kau juga kan?” jawab Hyun-Ah sekaligus bertanya.

“Kurang lebih begitu, seperti ujian biasa saja,” jawab Jongwoon sambil tersenyum lebar.

“Haha. Enak ya jadi orang pintar kayak kamu. Ujian akhir saja dianggap biasa,” celetuk Hyun-Ah.

Jongwoon lalu tertawa mendengarnya. “Aku juga belajar keras tahu. Ayo, semangat untuk ujian berikutnya!” kata Jongwoon sambil memegang kepala Hyun-Ah dengan gemas lalu mengajak Hyun-Ah kembali ke kelas saat bel ujian kedua berbunyi.

. . .

Changmin memarkir mobilnya di lantai dasar lalu masuk ke dalam kantor. “Selamat siang, nuna,” sapa Changmin kepada seniornya yang sedang makan siang.

“ah, Changminssi. Kau sudah datang rupanya,” balas wanita itu. “Tadi tuan Song mencarimu. Katanya kalau kau sudah datang, langsung temui beliau.”

Changmin pamit pada seniornya lalu segera menemui tuan Song.

“Masuk.” Suara tuan Song terdengar dari dalam ruangan setelah Changmin mengetuk pintunya. Maka, Changmin pun masuk.

“Selamat siang, ahjussi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Changmin.

Tuan Song menunjukkan sebuah surat ke hadapan Changmin lalu balik bertanya, “Kamu benar-benar mau mengundurkan diri sekarang?”

Changmin menatap lama surat pengunduran diri yang dia ajukan dua hari lalu. Keputusannya sudah bulat. “Betul, ahjussi. Saya mau konsentrasi terhadap kuliah saya dan…” Changmin menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya, “dan saya harus melanjutkan perusahaan ayah saya.”

Tuan Song sebenarnya merasa enggan menerima pengunduran diri Changmin tapi dia mengerti alasan Changmin. “Baiklah. Jujur saja, saya sebenarnya keberatan tapi kalau memang harus begitu mau apalagi,” ujar tuan Song tanpa kehilangan wibawanya.

“Sejujurnya, saya juga enggan berhenti, pak. Baik dari magang ataupun memberi les pada Hyun-Ah. Tapi ya sudahlah,” kata Changmin dengan jujur.

“Iya, saya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Terima kasih sudah banyak membantu kami,” sahut tuan Song.

Changmin membungkukan badan lalu keluar dari ruangan tuan Song. Setelah itu, dia membereskan meja kerjanya dan berpamitan pada semua rekan kerjanya.

. . .

Hyun-Ah lega bukan main karena semua ujian kelulusannya telah selesai. Dia tinggal menunggu hasilnya dan berdoa agar hasilnya memuaskan.

Hyun-Ah hendak menuju tempat biasa dia menunggu Changmin menjemput tapi rupanya Changmin datang lebih awal.

Hyun-Ah melihat Changmin berdiri di depan mobilnya yang parkir di depan sekolah. Hyun-Ah pun menghampirinya.

“Gimana ujianmu tadi? Lancar kan? Sukses?” tanya Changmin penuh keingintahuan.

Hyun-Ah tersenyum lebar lalu mengajak Changmin melakukan tos. “Sukses dan lancar! Terima kasih, oppa,” jawab Hyun-Ah dengan senang.

“Bagus. Kalau begitu aku akan mengajak kamu jalan-jalan sebagai hadiahnya. Tapi kalau hasilnya tidak bagus, awas kau ya!” kata Changmin dengan tegas tapi langsung tersenyum begitu melihat wajah Hyun-Ah yang berubah dari kegirangan menjadi cemberut.

“Kalau begitu oppa harus mengajakku jalan-jalan lagi kalau hasilnya bagus,” ucap Hyun-Ah lalu masuk ke dalam mobil tanpa bisa menyembunyikan kegembiraannya.

. . .

Eun Ji melihat Changmin dan Hyun-Ah pergi dari jauh tapi maksud Eun Ji berada di sekolah Hyun-Ah bukan untuk itu. Eun Ji ingin bertemu dengan Jongwoon. Jongwoon pun sudah menunggu di depan sekolahnya.

“Ada apa sampai kau mau bertemu denganku?” tanya Jongwoon dengan dingin.

“Ah, kau tetap saja dingin. Menyebalkan. Aku hanya ingin bertanya kabar ibu. Apa dia baik-baik saja?” Eun Ji mengutarakan maksud kedatangannya pada Jongwoon.

“Dari dulu, dia selalu baik-baik saja tanpa kau apalagi ayah,” jawab Jongwoon.

“Jongwoon, kau mau sampai kapan seperti ini padaku? Yang salah kan ayah tapi kenapa kau juga ikut-ikut membenci ku?” tanya Eun ji dengan sedih.

“Karena kau ikut-ikut yang salah.”

Jongwoon lalu meninggalkan Eun Ji yang terus berteriak, “Aku melakukannya demi kau dan ibu. Mengertilah!”

. . .

Changmin menghampiri Hyun-Ah, yang sedang menunggunya, setelah mendapatkan tiket nonton film yang mereka inginkan. “Film nya masih 1jam lagi. Kita makan dulu. Yuk,” ajak Changmin sambil merangkul Hyun-Ah.

Hyun-Ah menatap tangan yang sedang bertengger di bahunya. “Aku pasti akan senang sekali kalau punya oppa sepertimu,” ujar Hyun-Ah.

“Tapi aku tidak mau jadi oppa mu. Hahahaha,” sahut Changmin.

Hyun-Ah memanyunkan mulutnya sebentar lalu ikutan tertawa. “gak apa-apa deh. Asal oppa terus menraktirku seperti ini. Hahaha,” kata Hyun-Ah.

Mereka berdua makan bersama lalu nonton.

. . .

Jihyo duduk di pinggir taman sambil membaca buku. Tiba-tiba di depannya muncul sebuah es krim. Jihyo melihat es krim itu lalu mendangak kepada pembawanya. “Sungmin oppa, gamsahamnida. Kau baik sekali,” ucap Hyun-Ah dengan nada senang.

“Tentu saja dong. Hohoho,” sahut Sungmin tidak kalah senang. “Ada apa memanggilku kesini?”

“Huu. .ada yang mau aku bicarakan dengan oppa,” kata Jihyo dengan lancar dan percaya diri. “Aku mulai suka padamu. Aku mau kita pacaran.”

Sungmin kaget setengah mati mendengar ucapan Jihyo. Sungmin, yang tidak menyangka akan mendapatkan pengakuan seperti ini, diam seketika.

“Oppa, kenapa diam? hei!” seru Jihyo menyadarkan Sungmin.

Sungmin tidak tahu harus menjawab apa. Dia terlalu senang dengan apa yang baru saja dia dapatkan. “Humm…tidak apa-apa. Aku hanya terlalu senang. Aku tidak menyangka akan secepat ini,” kata Sungmin dengan terbata-bata.

“Kalau begitu, kita pacaran sekarang?” tanya Jihyo harap-harap cemas.

Sungmin tersenyum lalu memeluk Jihyo. “Tentu saja. Aku tidak mungkin melepaskan kamu, Jihyo. Aku janji,” ucap Sungmin dengan lembut.

“Apa oppa juga berkata seperti itu dulu pada onni?” tanya Jihyo.

Sungmin lalu teringat pada Hyun-Ah. “Hyun-Ah. Aku tak pernah menjanjikan apapun padanya. Apa dia akan menerima hubungan kita ya?” gumam Sungmin.

“Aku sudah bilang padanya dan dia setuju. Aku yakin dia tulus,” sahut Jihyo.

Sungmin melepas pelukannya lalu menggenggam tangan Jihyo. “Aku akan bicara dengan Hyun-Ah besok,” kata Sungmin.

. . .

Setelah selesai menonton film, Changmin langsung mengantar pulang Hyun-Ah.

“Terima kasih banyak ya, oppa sudah mengajakku senang-senang hari ini. Besok, aku harus belajar lagi untuk masuk universitas. Doakan aku ya,” kata Hyun-Ah.

Changmin menatap mata Hyun-Ah lama sekali. Niatnya hampir saja terpatahkan. Dia menghela nafas panjang lalu bicara, “Hyun-Ah, mulai besok aku tidak bisa mengajarmu. Maaf, jeongmal mianhe.”

Hyun-Ah tidak terkejut mendengarnya tapi dia langsung merasa sedih dan kesepian. “Kenapa? Lalu siapa yang akan mengajarku?” tanya Hyun-Ah.

“Aku mau konsentrasi untuk kuliah. Aku sudah mendapatkan penggantiku. Besok kau akan les dengannya,” kata Changmin.

“Baiklah kalau begitu. Aku mengerti. Sampai jumpa, oppa! Jeongmal gomawo,” ucap Hyun-Ah lalu masuk ke dalam rumahnya.

Changmin menatap pintu rumah Hyun-Ah dengan sedih. “Kalau saja kau meminta aku tidak berhenti,” gumam Changmin.

Tiba-tiba hape Changmin bergetar karena ada sms masuk. Sukses untuk kuliahmu, oppa. Kapan-kapan kita main bersama lagi ya. -hj-

Changmin tersenyum lalu pulang ke rumahnya.

. . .

Hyun-Ah resmi menjadi pengangguran sejak ujian kelulusan berakhir. Dia tidak lagi ke sekolah. Kerjaannya hanya belajar di rumah. Sesekali main bersama teman-temannya.

Kadang, Hyun-Ah ingin bermain dengan Jihyo tapi Jihyo lebih banyak menghabiskan waktu dengan Sungmin.

Hyun-Ah kembali mengingat perbincangannya dengan Sungmin beberapa hari lalu.

“Hyun-Ah, aku sungguh-sungguh menyayangi Jihyo. Aku mohon, ijinkan aku bersamanya. Aku janji tidak akan menyakitinya,” kata Sungmin dengan serius.

Hyun-Ah melihat juga adanya keseriusan itu dari mata Sungmin. Hyun-Ah percaya pada Sungmin melebihi siapapun. “Aku percaya padamu. Tapi, kalau kau sampai membuat Jihyo sedih atau kecewa, aku orang pertama yang akan menghajarmu,” kata Hyun-Ah.

Sungmin mengangguk mengerti. “Gomawo, Hyun-Ahssi,” ucap Sungmin.

Sekarang, Hyun-Ah agak menyesal telah memperbolehkan Jihyo pacaran karena waktu untuknya jadi tidak ada.

. . .

Masih dengan baju tidurnya, Hyun-Ah turun ke ruang makan untuk sarapan bersama ayah, ibu dan Jihyo.

“Selamat pagi, semua,” sapa Hyun-Ah lalu duduk di sebelah Jihyo.

“Pagi, sayang,” balas ayah dan ibunya.

“Onni, kau enak sekali. Pagi-pagi begini masih pakai baju tidur. Habis sarapan paling tidur lagi. Sedangkan aku, harus sekolah dan menghadapi ujian kenaikan kelas. Omo,” kata Jihyo iri dengan ketidakadakerjaan Hyun-Ah.

Hyun-Ah hanya tertawa lalu berkata, “Tapi kau bertemu dengan teman-teman dan yang penting bisa bersama Sungmin oppa setiap hari. Hihihi.”

Jihyo nyengir mendengar kata-kata Hyun-Ah lalu menghabiskan sarapannya secepat kilat. Sungmin sudah menunggu Hyun-Ah di depan rumah untuk mengantarnya ke sekolah.

Hyun-Ah hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan adiknya.

. . .

“Omma, aku ikut ke kantor ya? Ya?” rengek Hyun-Ah saat ibunya sedang bersiap-siap.

“Buat apa? Nanti kau bosan di sana. Tidak ada yang kau kerjakan, nak,” kata mama Hyun-Ah.

“Aku bisa belajar atau membantu mama. Aku akan lakukan apa saja deh. Aku bosan sekali di rumah, omma. Aku mohon,” kata Hyun-Ah terus memohon sampai omma nya menyerah.

“Oke. Dengan syarat, kamu gak boleh mengganggu ya,” ujar mama Hyun-Ah.

Hyun-Ah melonjak kegirangan. Dia langsung bersiap-siap. Sepuluh menit kemudian, Hyun-Ah sudah duduk di dalam mobil bersama kedua orang tuanya menuju kantor.

. . .

Changmin sudah duduk manis di ruangannya bahkan sebelum ayahnya datang. “Aku tidak percaya aku akan ada di ruangan ini. Hhh,” kata Changmin pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Eun Ji datang ke ruangan Changmin. Dia datang dengan beberapa file di tangannya. “Aku senang akhirnya kau membuat keputusan yang tepat,” kata Eun Ji sambil menaruh file-file tersebut di meja Changmin.

“Ya ya ya,” sahut Changmin dengan malas-malasan lalu bertanya sambil menunjuk file yang ditaruh Eun Ji, “apa ini?”.

“Itu dokumen perusahaan yang harus kau pelajari. Semangat!” jawab Eun Ji lalu keluar dari ruangan Changmin.

Changmin membaca semua file tersebut tapi tidak ada satupun yang berhasil masuk ke otaknya. Pikirannya berada di kantor tuan Song. Mendalami laporan keuangan rasanya lebih menyenangkan dibandingkan dengan membaca sejarah perusahaan ayahnya.

“Kalau saja ibu tidak bicara padaku, aku pasti masih bekerja pada tuan Song sekarang. Haish.”

Changmin tidak sabar menunggu jam 11 untuk kuliah siang. Dia terpaksa kembali membaca semua dokumen tersebut sampai waktunya kuliah.

. . .

Hyun-Ah disuruh ibunya duduk dengan manis di meja tempat Changmin dulu bekerja. Mejanya sudah bersih, tersisa hanya komputer.

Meskipun begitu, Hyun-Ah mencoba mencari-cari bolpen di meja itu. Hyun-Ah membuka-buka laci meja tersebut dan menemukan sebuah buku. Hyun-Ah membuka buku tersebut dan melihat nama pemiliknya, Shim Changmin.

“Oppa lupa buku matematikanya. Aku akan mengembalikannya setelah makan siang,” ucap Hyun-Ah lalu kembali mencari bolpen dan hasilnya nihil.

Akhirnya, Hyun-Ah menyalakan komputer dan browsing internet.

. . .

Selesai sekolah, Jihyo langsung pulang ke rumah karena harus belajar untuk ujian kenaikan kelasnya. Jihyo kesal bukan kepalang kalau sudah harus belajar. Untung saja otaknya cerdas, jadi dia tidak perlu belajar lama-lama.

Jihyo tiba-tiba mendapat telepon setelah selesai belajar. “Hai, sayang. Udah selesai kuliah?” tanya Jihyo pada Sungmin, yang meneleponnya.

“Belum. Kamu udah belajar buat ujian besok?” Sungmin membalas pertanyaan Jihyo.

“Baru saja selesai. Hihihi. Kita jalan-jalan yuk,” jawab Jihyo.

“Tidak. Besok kau ujian. Selesai ujian baru kita jalan-jalan,” kata Sungmin dengan tegas tapi Jihyo tidak mau mendengar rupanya.

“Hahaha. Lihat saja nanti,” sahut Jihyo lalu menutup teleponnya.

Sambil senyum-senyum, Jihyo masuk kamar mandi dan bersiap-siap.

. . .

Sungmin dan Changmin segera keluar kelas begitu kuliah mereka selesai. Mereka berdua segera menuju mobil masing-masing. Sungmin dan Changmin sama-sama kaget begitu melihat Jihyo sudah berdiri di depan mobil Sungmin.

“Sedang apa kamu di sini? Aku kan sudah bilang kamu harus belajar di rumah,” tanya Sungmin.

“Aku mau jalan-jalan. ayolah, sayang,” jawab Jihyo sambil menggelayut manja di lengan Sungmin.

Sungmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan pacarnya. Sedangkan Changmin hanya bisa memandang takjub.

“Kalian sudah pacaran?” tanya Changmin pada Sungmin dan Jihyo.

Jihyo menggangguk dengan semangat sedangkan Sungmin berkata, “Maaf, tidak memberi tahu mu.”

Changmin lalu tertawa takjub. “Hahaha. Selamat! Selamat. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Wow!” ucap Changmin.

Sungmin lalu tersenyum bangga sekaligus senang. “Kau harus segera mengikuti jejakku,” kata Sungmin sambil tertawa.

Changmin ikut tertawa lalu meninggalkan Sungmin dan Jihyo. Ia harus segera kembali ke kantor.

. . .

Hyun-Ah menyerahkan secarik kepada supirnya. “Kita pergi ke alamat yang ada di kertas itu sekarang, pak,” kata Hyun-Ah.

Hyun-Ah merasa heran kenapa bibi di rumah Changmin menyuruhnya datang ke alamat tersebut karena setahu Hyun-Ah itu adalah daerah perkantoran.

“Apa iya dia sudah punya tempat magang baru? Tapi katanya dia kan mau konsen kuliah.” Hyun-Ah bertanya-tanya dalam hati begitu sampai di tempat tujuan.

Hyun-Ah segera masuk ke dalam gedung dan berbicara dengan resepsionis, “Apa ada yang bernama Shim Changmin disini?” tanya Hyun-Ah.

“Oh, tunggu sebentar. Anda siapa?” sahut resepsionis tersebut.

“Hyun-Ah. Song Hyun-Ah,” jawab Hyun-Ah.

Resepsionis mengangguk tanda mengerti lalu ia menghubungi asisten sementara Changmin. Setelah mendapatkan informasi dari atas, resepsionis meminta Hyun-Ah untuk menunggu. “Tuan Shim belum kembali. Tunggu sebentar saja,” kata resepsionis.

Hyun-Ah pun mengikuti kata resepsionis disertai sejuta tanya. Kenapa Changmin harus dipanggil dengan sebutan ‘tuan’. Sampai ia duduk di lobi sambil membaca majalah pun, pertanyaan itu masih menghantui.

Tidak lama kemudian, Changmin datang. Dia langsung menghampiri Hyun-Ah begitu diberi tahu oleh resepsionis kantornya.

“Hyun-Ah ah, ngapain kamu di sini?” tanya Changmin.

Hyun-Ah langsung bangkit berdiri dan menyahut, “Ah, Changmin oppa. Aku hanya mau mengembalikan bukumu yang ketinggalan di meja. Nih.” Hyun-Ah lalu menyerahkan buku tersebut pada Changmin.

Changmin menerimanya dengan enggan. “Terima kasih,” ucap Changmin.

“Sama-sama, oppa,” sahut Hyun-Ah. “Oh ya oppa, kenapa resepsionis tadi memanggilmu ‘tuan’ ya?”

Changmin menghela nafas, dia berpikir jawaban apa yang paling baik. Akhirnya dia berkata, “Aku bekerja di sini sekarang. Kantor ini milik ayahku jadi. . .”

“Jadi kamu harus melanjutkannya? Hebat! Hebat! Semangat, oppa! Aku juga ingin melanjutkan kantor appa setelah aku lulus,” sela Hyun-Ah dengan semangat.

Changmin hanya tersenyum melihat Hyun-Ah lalu memegang kepala Hyun-Ah. “Kau juga semangat ya, Hyun-Ah!” ucap Changmin.

Hyun-Ah mengangguk dengan semangat dan tersenyum senang.

. . .

Eun Ji sudah lama melihat Changmin dan Hyun-Ah di lobi tapi tidak segera dia hampiri karena ia ingin tahu apa yang terjadi. Setelah ayah Changmin meneleponnya untuk segera mencari Changmin barulah Eun Ji menghampiri mereka.

“Changmin, tuan Shim mencarimu. Segera temui beliau di ruangannya,” kata Eun Ji lalu menatap Hyun-Ah dari atas sampai bawah.

Hyun-Ah merasa risih dilihat seperti itu. “Apa ada yang salah denganku, onni?” tanya Hyun-Ah salah tingkah.

“Tidak. Aku hanya merasa pernah melihatmu. Kau yang waktu itu bertanya Changmin dimana ya?” jawab Eun Ji sok-sok manis.

“Aah, annyeonghaseyo onni,” kata Hyun-Ah sambil membungkukan badan.

Eun Ji balas membungkukan badan lalu tersenyum dan berpamitan untuk kembali bekerja.

Changmin pun  ikut berpamitan pada Hyun-Ah. “Sampai jumpa, Hyun-Ah. Jangan lupa belajar terus ya,” ucap Changmin.

Hyun-Ah tersenyum memahami maksud Changmin. Hyun-Ah pun kembali ke kantor ayahnya setelah Changmin sudah naik ke ruangannya.

. . .

Hyun-Ah sudah beberapa hari ini les dengan Kim Kibum tapi selalu saja merasa tidak nyaman. Tidak seenak bersama Changmin. Bersama Kibum, Hyun-Ah tidak bisa bertanya macam-macam apalagi bercanda. Kibum terlalu kaku dan pendiam.

Hyun-Ah lalu menelepon Changmin begitu Kibum pulang, “Oppa. Kembalilah mengajarku. Aku mohon. Aku tidak paham apa-apa dengan Kibum oppa.”

Changmin bingung harus bagaimana. Tekadnya tidak boleh tergoyahkan. “Hyun-Ah, aku benar-benar tidak bisa lagi mengajarmu. Kerjaanku cukup banyak. Maaf, maafkan aku,” kata Changmin.

“Oppa, aku mohon. Tolong aku ya. Sampai aku masuk universitas saja.” Hyun-Ah kembali memohon-mohon tapi Changmin tetap menolaknya. Akhirnya, Hyun-Ah menutup teleponnya dengan kesal. Hyun-Ah ngambek.

. . .

Hyun-Ah sudah kehabisan akal untuk membujuk Changmin menjadi guru lesnya lagi. Mulai dari memohon-mohon sampai mengirimkan SMS yang agak menyakitkan. Hyun-Ah berharap Changmin akan melunak tapi yang ada Changmin selalu bilang tidak bisa. Bukan Hyun-Ah tidak bisa belajar sendiri tapi jika ada Changmin, Hyun-Ah dapat lebih cepat mengerti.

“Onni! Ngapain mondar-mandir terus sih?!” tegur Jihyo karena kesal melihat Hyun-Ah berjalan mondar-mandir di ruang tamu.

“Aku tidak berhasil membujuk Changmin oppa untuk mengajarku! Bagaimana ini?” sahut Hyun-Ah cemas.

“Haduh, emangnya Kibum oppa kenapa?” tanya Jihyo.

“Ga enak. Ga nyaman aku belajar sama dia. Terlalu kaku,” jawab Hyun-Ah yang akhirnya duduk juga.

“Ya udah, onni emang ga bisa belajar sendiri apa?!” ujar Jihyo yang sedang kesal.

“Kau sama sekali tidak membantuku, Jihyo. Hhh,” sahut Hyun-Ah dengan melemparkan pandangan mencela Jihyo.

“Kalau gitu, belajar sama Sungmin oppa saja,” usul Jihyo.

Hyun-Ah menggeleng-gelengkan kepala dengan kencang. “Andwe. Yang ada dia pacaran sama kamu,” kata Hyun-Ah menolak dengan tegas.

“Sama Kibum gak mau, sama Sungmin juga gak mau. Terserah kau lah, onni,” ucap Jihyo dengan galak.

“Kok kamu jadi marah sama onni sih? Kalau lagi kesal sama Sungmin jangan dilempar ke orang lain dong,” balas Hyun-Ah tidak kalah galak lalu pergi ke kamarnya.

. . .

Sungmin datang telat untuk kesekian kalinya, pantas saja Jihyo langsung marah-marah begitu Sungmin datang. “Oppa! Kau itu bisa gak sih gak pake telat?!” kata Jihyo kesal.

“Mianhe, Jihyo. Aku harus mencari ini dulu,” ucap Sungmin dengan lembut sambil memberikan bunga mawar dan setumpuk bintang kertas. “Untukmu. Selamat atas kenaikan kelasmu.”

Jihyo berubah 180 derajat. Wajahnya jadi cerah ceria. “Terima kasih, oppa,” katanya sambil menerima semua pemberian Sungmin. “Tapi hasil ujianku kan belum keluar. Bagaimana kau bisa tau aku naik kelas?”

“Anak cerdas sepertimu tidak mungkin tidak naik kelas,” jawab Sungmin sambil tersenyum lalu memeluk Jihyo.

Hyun-Ah tanpa sengaja terbangun dan melihat mereka berpelukan saat dirinya keluar kamar. Hatinya agak sakit tapi keinginan tersenyum untuk kebahagiaan adiknya jauh lebih besar dibanding rasa sakit itu.

“Semoga kalian berbahagia,” gumam Hyun-Ah dengan tulus.

. . .

Changmin pusing setengah mati dibuat Hyun-Ah. Dia merasa bersalah karena menolak untuk mengajar Hyun-Ah padahal Hyun-Ah sudah memohon-mohon.

Lebih parah lagi, sekarang Hyun-Ah sama sekali tidak mau mengangkat telepon dari Changmin. Kata-kata terakhir yang didapat Changmin dari Hyun-Ah adalah Oppa jahat, aku gak mau berteman lagi sama kamu. Aku gak mau ketemu kamu lagi. Titik!

Setiap Changmin teringat kata-kata yang dikirim Hyun-Ah melalui SMS itu, dia langsung merasa tidak tentram. Akhirnya, Changmin memutuskan untuk langsung menemui Hyun-Ah.

“Ada apa?” tanya Hyun-Ah dengan galak begitu melihat Changmin yang sedang menunggunya di ruang tamu.

“Aku mencemaskanmu. Kamu tetap belajar kan?” ucap Changmin tanpa menyembunyikan perasaan bersalah, cemas, dan kalut yang bercampur jadi satu.

“Apa urusan oppa? Oppa kan sudah tidak peduli padaku. Urusi dirimu sendiri saja,” kata Hyun-Ah masih dengan galak.

“Hyun-Ah, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Jangan marah begitu padaku. Aku akan lakukan apa saja supaya kamu memaafkan aku,” kata Changmin dengan putus asa sampai dia tidak berpikir lagi atas kata-kata yang akan dikeluarkannya.

Sebuah senyum mengembang jelas di wajah Hyun-Ah. “Kalau gitu, mulai besok Oppa jadi guru les ku lagi. Ok?” kata Hyun-Ah.

“Hyun-Ah, aku sudah bilang berkali-kali aku tidak bi…”

Jihyo langsung memotong omongan Changmin, “Oppa bilang akan melakukan apa saja tadi. Laki-laki harus mempertanggung jawabkan perkataannya.”

Changmin menyerah, kalah telak. Dirinya sendiri yang membuatnya terjatuh ke kondisi ini. “Baiklah, ruang belajar setiap hari jam 7 malam. Ok?” kata Changmin.

Hyun-Ah tersenyum senang, terlalu senang bahkan. “Terima kasih banyak, oppa,” ucap Hyun-Ah sambil menggelayut manja di lengan Changmin.

Changmin jadi tersenyum melihat Hyun-Ah. Hatinya sudah lega sekarang.

. . .

Pagi ini, Hyun-Ah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan buat semua anggota keluarganya. Hal ini tidak biasa dilakukan oleh Hyun-Ah jadi tentu saja membuat ayah, ibu dan Jihyo terkejut begitu mereka berkumpul di meja makan.

“Ini Onni yang menyiapkan semuanya?” tanya Jihyo tak percaya.

Hyun-Ah mengangguk mantap sambil tersenyum cerah. “Silahkan dicoba. Semoga enak,” kata Hyun-Ah.

Jihyo menyuapkan satu sendok masakan Hyun-Ah ke dalam mulutnya. “Enak! Betul-betul enak!” kata Jihyo tanpa menunggu makanannya tertelan lebih dulu.

Appa dan omma tidak percaya. Mereka pun mencoba sendiri makanan tersebut.

Appa mengangguk-angguk puas setelah mencoba masakan Hyun-Ah sedangkan omma langsung komentar.

“Omo! Ternyata kamu bisa masak, sayang. Siapa yang ngajarin?” seru mama Hyun-Ah gembira.

“Gak ada, ma. Cuman liat bibi aja kalau lagi masak. Hehe. Syukurlah kalau enak,” sahut Hyun-Ah puas karena  semua anggota keluarganya menyukai hasil masakannya.

“Tau gitu dari dulu kamu aja yang siapin sarapan. Hahaha,” celetuk Jihyo.

“Yee, dulu kan aku sekolah. Sekarang, mumpung nganggur. Hehe,” sahut Hyun-Ah sambil nyengir.

Omma Hyun-Ah mencium ada ketidak beresan pada Hyun-Ah. Pagi ini Hyun-Ah terlalu ceria. Karena itu, omma langsung bertanya pada Hyun-Ah, “Sayang, kamu habis dapat hadiah ya? Kok kelihatannya senang banget?”

Hyun-Ah melihat mamanya dengan senyum yang merekah. “Gak kok. Kayak biasanya ah perasaan,” jawab Hyun-Ah sambil menepuk-nepuk wajahnya.

Tiba-tiba Jihyo menyela, “Omma benar! Onni tampak terlalu ceria pagi ini. Pantas daritadi aku merasa ada yang beda dari Onni.”

“Ah, omma dan Jihyo berlebihan deh. Appa pasti berpendapat lain. Ya kan, appa?” kata Hyun-Ah pada ayahnya yang sedang membaca koran.

Ayah Hyun-Ah memalingkan matanya dari koran lalu menatap wajah Hyun-Ah dengan seksama. “Iya, kamu lebih ceria dari biasanya. Ada apa?” ujar ayah Hyun-Ah.

Hyun-Ah kembali menepuk-nepuk wajahnya lagi. “Masa sih aku seceria itu pagi ini, omma?” tanya Hyun-Ah kepada ibunya.

Ibu Hyun-Ah tanpa ragu mengiyakan pertanyaan Hyun-Ah. “Onni lagi jatuh cinta ya?” sambar Jihyo tanpa basa-basi.

Dengan cepat Hyun-Ah membalas, “Ngawur kamu. Jatuh cinta sama siapa?! Mungkin karena aku sudah tidak tertekan ujian makanya jadi lebih fresh.”

“Yah, mungkin juga karena itu. Tapi kan onni masih harus menghadapi ujian masuk universitas jadi seharusnya. . .”

appa Hyun-Ah yang daritadi diam lalu menyela, “Selesai sarapan baru boleh bahas masalah ini lebih lanjut. Jangan berisik di meja makan.”

Seketika Jihyo dan Hyun-Ah menyantap sarapan mereka dalam diam.

. . .

Hyun-Ah agak memperlambat keberangkatan ayahnya ke kantor karena ada yang harus dia bicarakan.

“Ada apa, Hyun-Ah?” tanya appa Hyun-Ah dengan wibawa.

“Aku hanya mau memberitahu mulai hari ini Changmin oppa akan kembali jadi guru les ku,” jawab Hyun-Ah sambil senyum-senyum.

“Lalu Kibum?” tanya ayahnya.

“Nanti aku akan bicara dengannya atau kita jadikan Kibum guru les Jihyo saja,” kata Hyun-Ah.

“Appa lebih setuju dengan pilihan kedua. Bicara baik-baik pada Kibum dan Jihyo sekalian ya. Appa pergi dulu,” kata appa Hyun-Ah lalu mencium pipi Hyun-Ah.

“Appa, aku belum selesai bicara,” ujar Hyun-Ah sambil menarik tangan ayahnya.

“Ada apa lagi?” tanya ayah Hyun-Ah tetap dengan kewibawaan dan penuh kasih sayang.

“Appa tidak mau tahu bagaimana aku membujuk Changmin untuk kembali?” Hyun-Ah tersenyum jahil kepada ayahnya sambil menaik-naikan alisnya.

Appa Hyun-Ah lalu tertawa terbahak-bahak. “Kau pasti menghalalkan segala cara. Mulai dari memohon-mohon lalu merajuk. Iya kan?” kata appa Hyun-Ah.

Hyun-Ah terbelalak mendengar jawaban ayahnya. “Kok ayah bisa tahu?” tanya Hyun-Ah heran.

“Appa pasti akan melakukan hal yang sama untuk membawanya kembali ke kantor. Sayangnya appa tidak bisa, sayang. Appa menghargai keputusannya.”

Hyun-Ah merasa terharu dengan jawaban ayahnya yang bijaksana. Ayahnya jauh lebih bisa menghargai orang lain dibandingkan dengan Hyun-Ah.

. . .

Jihyo tidak berhenti mengomel sejak diberi tahu bahwa Kibum akan menjadi guru lesnya. “Aku sudah bilang berapa kali padamu, onni? Aku tidak suka les. Aku bisa belajar sendiri.” ucap Jihyo menolak adanya les untuk dirinya.

“Aku mohon, Jihyo. Aku sudah bilang padanya tadi kau akan les padanya,” kata Hyun-Ah dengan nada memelas.

“Selalu begitu. Onni kan bisa tanya dulu padaku! Huh!” Jihyo jadi tambah galak karena keputusan sepihak ini.

Hyun-Ah yang tidak suka dibentak, jadi naik pitam. “Aku gak mau tahu. Mulai hari ini setiap jam 7 malam, kau akan belajar dengan Kibum!” seru Hyun-Ah lalu pergi meninggalkan Jihyo.

Jihyo tidak mau kalah dengan Hyun-Ah. “Aku tidak akan datang! Lihat saja!” teriak Jihyo dengan kencangnya.

. . .

Kibum langsung menemui Changmin di perpustakaan setelah mendapat telepon dari Hyun-Ah, yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan mengajar Hyun-Ah lagi tapi Jihyo.

“Changminssi, maaf aku tidak bisa membantumu lagi. Hyun-Ah mengoper aku kepada adiknya. Padahal aku sudah berusaha keras,” kata Kibum dengan nada menyesal.

“Tidak usah dipikirkan. Hyun-Ah memang agak susah beradaptasi dengan orang lain. Beda dengan Jihyo,” ujar Changmin dengan santai.

“Lalu Hyun-Ah akan diajar siapa? Aku tahu dia sudah pintar tapi sepertinya dia tetap butuh guru les,” kata Kibum.

“Aku yang kembali mengajarnya,” sahut Changmin dengan tenang.

“Kau?! Tidak salah? Habis kuliah kau langsung ke kantor ayahmu lalu pergi mengajar Hyun-Ah lagi? Apa tidak capek?” tanya Kibum tidak percaya dengan apa yang dilakukan Changmin.

“Apa boleh buat? Hanya itu yang bisa aku lakukan,” jawab Changmin sambil senyum-senyum.

“Kalau begitu caranya kau tidak akan punya waktu istirahat. Tapi kok kau malah senyum-senyum?” Kibum memandang Changmin dengan keheranan.

“Aigoo. Kau tidak perlu mencemaskan aku. Lebih baik kau siapkan materi untuk Jihyo. Dia akan naik kelas 12. Jangan lupa lapor pada Sungmin kalau kau kesusahan menghadapi Jihyo,” kata Changmin sambil tertawa.

. . .

Jongwoon sedang berdiri di depan ruang rawat saat Eun Ji datang dengan tergopoh-gopoh. “Bagaimana keadaan ibu?” tanya Eun Ji dengan nafas tersengal-sengal.

Jongwoon menatap Eun Ji dengan mata sembap. “Kau terlambat. Ibu sudah tidak ada,” jawab Jongwoon tak berdaya.

Eun Ji langsung jatuh terduduk di salah satu kursi di depan kamar rawat ibunya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. “Aku akan mengurus pemakamannya lalu menghubungi ayah,” kata Eun Ji sambil bangkit berdiri.

Dalam kesedihannya, Jongwoon masih bisa meraung marah, “Jangan panggil dia! Tak ada gunanya.”

“Aku mohon untuk kali ini saja, Jongwoon, jangan bertingkah egois. Ayah tetap berperan penting di sini. Lagipula, setelah ini kau akan tinggal bersama kami,” ucap Eun Ji dengan mata memelas bercampur sedih luar biasa.

“Tidak akan. Aku tidak akan pernah tinggal dengannya.” Jongwoon bersikeras dengan pendiriannya.

“Jongwoon! Hentikan keegoisanmu! Kau pikir karena siapa ibu meninggal? Kenapa kita terus terpisah? Itu semua karena kau terlalu egois!” seru Eun Ji, yang sudah tidak bisa menahan emosinya.

Jongwoon menatap Eun Ji. Dia tidak pernah menyangka akan ditampar seperti ini. Apalagi di salahkan karena kematian ibunya. “Jangan salahkan aku. Ini semua karena ayah yang tega meninggalkan keluarga kita demi wanita lain! Paham?” teriak Jongwoon lalu pergi ke luar rumah sakit.

Dia menenangkan diri di coffee shop terdekat dengan rumah sakit.

. . .

Hyun-Ah merasa sangat lapar setelah berbelanja berjam-jam di supermarket. Karena itu, dia mampir ke coffee shop yang jadi satu dengan supermarket.

Saat mencari tempat duduk, Hyun-Ah tidak sengaja melihat Jongwoon yang sedang duduk sendirian dengan tatapan kosong.

“Jongwoonssi, jongwoonssi, kau sendirian saja? Boleh aku duduk bersamamu?” sapa Hyun-Ah.

Jongwoon sedikit terkejut tapi bisa segera mengendalikannya. “Ah, Hyun-Ahssi. Silahkan silahkan duduk,” sahut Jongwoon dengan ramah.

Hyun-Ah lalu duduk di depan Jongwoon. “Kau sedang ada masalah ya?” tanya Hyun-Ah karena melihat raut muka suntuk Jongwoon.

“Darimana kau tahu?” balas Jongwoon terkejut.

“Wajahmu jelas sekali sedang suntuk. Kalau kau mau cerita, aku siap mendengarkan,” kata Hyun-Ah sambil tersenyum menandakan dia siap jadi teman yang baik.

Jongwoon menundukkan wajahnya sehingga bau kopi yang dia pesan tercium dengan jelas. “Ibuku baru saja meninggal,” kata Jongwoon pelan.

“Aku turut berduka cita, Jongwoon. Aku yakin ibumu akan lebih bahagia di surga,” sahut Hyun-Ah bersimpati.

“Aku tahu. Aku juga senang jika dia lebih bahagia di sana. Kasihan jika dia terus sakit-sakitan.”

Hyun-Ah terus mendengarkan cerita Jongwoon. Ternyata hidupnya tidak sebahagia yang disangka Hyun-Ah. Terlalu banyak masalah yang dihadapi Jongwoon.

“Masalahnya aku tidak mau tinggal bersama ayahku. Aku benci dia,” kata Jongwoon.

Hyun-Ah berpikir keras kata-kata apa yang harus diucapkannya agar tidak menyakiti Jongwoon. “Jongwoonssi, menurutku lebih baik kamu memaafkan ayahmu. Aku yakin hatimu akan lebih tenang,” kata Hyun-Ah.

“Hahahaha, mana mungkin. Mencariku saja jarang,” ucap Jongwoon dengan sinis.

Hyun-Ah menatap Jongwoon lama sekali. “Jongwoon, tolong coba maafkan ayahmu ya. Aku tahu itu sulit tapi kamu pasti bisa.”

jongwoon melihat Hyun-Ah begitu yakin pada dirinya, dimana tidak pernah ada yang melakukannya seumur hidup Jongwoon.

“Aku akan mencobanya,” kata Jongwoon berubah pikiran 180 derajat.

. . .

Jihyo menelepon Sungmin untuk mengatakan bahwa dia tidak mau ikut les tapi Sungmin justru menegurnya.

“Hyun-Ah sudah capek meminta tolong Kibum untuk mengajarimu tapi kau malah seperti ini. Kau harus les!” kata Sungmin.

“Aku tidak mau. Aku bisa belajar sendiri kok. Buktinya nilaiku selama ini bagus-bagus kan?” balas Jihyo.

“Demi apapun, Jihyo. Tolong mengertilah kerja keras Hyun-Ah dan Kibum yang peduli pada pendidikanmu,” kata Sungmin lagi.

“oppa, kau ini pacarku atau onni sih? Onni itu memaksaku les tau! Tapi kok kau membelanya terus?” Jihyo mulai kesal dengan Sungmin.

“Bukan begitu. Aku pikir tak ada ruginya kalau kau les. Kamu malah akan lebih pintar. Coba dulu saja, sayang.”

Panggilan sayang dari Sungmin begitu ampuh meluluhkan Jihyo. “Oke, aku coba dulu tapi kalau aku tidak sanggup, aku tidak mau meneruskan. Deal?”

“Deal.”

Sungmin tersenyum senang akhirnya Jihyo mau ikut les dengan Kibum.

. . .

Jongwoon kembali ke rumah sakit dan menemukan jenazah ibunya siap dibawa ke rumah duka. Jongwoon mendampingi jenazah ibunya sampai di rumah duka. Di sana sudah ada kerabat-kerabatnya, termasuk ayahnya.

“Kami turut berduka cita ya, Jongwoon, Eun Ji dan tuan Kim,” kata setiap pelayat yang datang.

Ayah Jongwoon, Kim Jin Ki, menerima semua pelayat dengan ramah. Meskipun sedih, ia masih bisa berbincang dengan para pelayat. Berbeda dengan Jongwoon dan Eun Ji, yang hanya mampu berterima kasih atas kedatangan setiap pelayat. Mereka berdua terlalu sedih.

“Aku menyesal tidak sempat membuat ibu melihatku masuk kuliah,” kata Jongwoon pada Eun Ji sambil melihat peti ibunya dengan sedih.

“Dia sudah bangga memiliki anak seperti kau, Jongwoon,” kata Eun Ji tidak kalah sedih.

“Aku harap dia bahagia di surga,” kata Jongwoon lalu terdiam lama. Jongwoon kembali melanjutkan omongannya, “Aku sudah memutuskan. Aku akan ikut dengan kalian. Aku sadar, aku terlalu egois selama ini. Tidak pernah memberikan kesempatan pada ayah.”

Eun Ji kaget bukan main mendengar keputusan Jongwoon. Dengan terharu, Eun Ji memeluk Jongwoon. “Aku senang kau akan bersama kami lagi. Aku harap hubungan kau dan ayah akan membaik,” ucap Eun Ji.

Jongwoon hanya bisa mengangguk-angguk. Dirinya juga tidak percaya dapat berubah secepat itu, hanya karena Hyun-Ah.

 

-to be continued-