Aku suka saat seperti ini. Saat dimana kelasku menjadi penuh sesak karena semua gadis kelas lain mengunjungiku sambil membawakan beragam hadiah untukku.

“Siwon-ah, kau sudah putus dengan artis itu? Jeongmalyo? Kyaaaaaaa,” teriak salah satu gadis yang mengerumuniku

“Nde.. dia terlalu posesif. Aku bosan” jawabku dengan senyum mempesona yang aku yakin, bisa meluluhkan hati semua gadis hanya dalam hitungan detik

“Kalau begitu, pacaran denganku saja Siwon,” kata seorang gadis yang lain.

“Bodoh, mana mau Siwon pacaran dengan anak kecil sepertimu. Dia tentu lebih memilih aku yang seksi. iya kan Siwon?” goda salah seorang kakak kelas yang membuatku tertawa geli

“Tapi bukankah Siwon mengatakan kalau dia suka pada wanita yang pintar membuat kimchi? Dan kurasa aku sangat sesuai dengan kriteria Siwon,” ujar salah seorang yang lain yang hanya bisa kusambut dengan senyuman.

“Bodoh sekali kalian,” sahut seseorang. Aku dan semua gadis yang berada disekitarku menatap seorang gadis yang merupakan sumber suara tadi. Seorang gadis kutu buku dengan gaya cupunya, Kang Hamun.


“Bodoh sekali kalian mau dibodohi oleh pria itu. Coba kalian pikir, gadis Korea mana yang tak bisa membuat kimchi? Dia mengatakan hal itu agar membuat kalian senang dengan berpikir, ‘omona, aku adalah tipe idealnya’ ya, dia hanya melakukan semacam fan service,’ jelasnya. Aku dapat merasakan aura pembunuh yang sangat kental dari gadis-gadis disekelilingku

“Oia, bisakah kalian kembali ke kelas masing-masing? Bel sudah berbunyi. Apa cinta kalian pada pria itu membuat kalian tak bisa mendengar apapun?” ujarnya yang dibalas dengan tatapan sinis, benci, entah jenis tatapan apa lagi yang aku lihat sekarang dari para gadis itu.

“Cih, Siwon nanti kami kembali lagi ya. Ada pengganggu. Bye,” ucap perwakilan para gadis itu.

“Bye, aku menunggumu,” balasku dengan senyum yang selalu membuatku terlihat sangat tampan.

Semua sudah keluar. Namun aku masih tak habis pikir dengan perilaku gadis ini.

“yaa kutu buku, tunggu,” panggilku sebelum ia kembali duduk di kursinya. Ia menoleh kearahku dan menatapku tajam

“Namaku Kang Hamun,” sahutnya

“Aku tak peduli,” balasku

“Baiklah, aku juga tak peduli,” ujarnya yang membuatku kesal setengah mati

“Aish! Yaa, Kang Hamun, kenapa kau selalu mengganggu kesenanganku? buat apa kau mengusir mereka?” tanyaku kesal. Aku terdiam sesaat sambil memiringkan kepalaku seakan berpikir. “ASSA!” seruku sambil menjentikkan jari. “kau cemburu. ya kan?” tanyaku yakin

“Cemburu?” tanya Hamun lalu ia mendengus tanda ‘tak percaya’ mendengar pertanyaanku itu. “Mana mungkin. Aku membencimu. Kau bodoh, narsis, playboy, kepedean dan masih banyak lagi. Perlu kubuat listnya?” ucapnya sinis dan berlalu meninggalkanku yang sudah mematung, speechless.

Kang Hamun, aku sungguh membencimu!

*****

Akhirnya istirahat juga. Inilah yang kunantikan dari tadi. Setiap istirahat pasti banyak yooja di sekolah ini yang datang kepadaku dan memberiku makanan. Tapi hal itu tak berlaku sekarang.

“kepada Choi Siwon. Segera ke ruang guru. Ditunggu Leeteuk seonsaengnim. gamsahamnida” itulah yang dikumandangkan oleh speaker di kelasku

Apalagi ini? Kenapa selalu saja ada yang mengganggu kesenanganku?

“Sem ada apa memanggilku saat istirahat seperti ini? aku lapar,” gerutuku pada Leeteuk sem, guru paling tampan dan berkarisma di sekolah ini, sekaligus wali kelasku.

“Lihat” ucapnya sambil menjejerkan daftar nilai yang ku tebak adalah nilaiku dan ternyata benar.

Hanya satu komentar, “Parah” ucapnya disambut anggukan setuju dariku. Ku akui, kali ini nilaiku sungguh parah. bukan sekedar nilai dengan tinta merah tapi ada bantalan merah di bawah nilainya. Itu berarti aku diambang ketidak-lulusan.

“Kau tahukan arti bantalan merah ini? itu tandanya kau harus mendapat nilai bagus di Ujian Akhir nanti jika kau mau naik kelas,”

“Ya ampun, yang benar saja? Ujian Akhir sekolah 2 bulan lagi sem,”

“Kau tahu itu. Kau pasti bisa, asal kau mau belajar. Aku sarankan, kau minta Kang Hamun untuk mengajarimu. Dia murid paling pintar seangkatanmu. Ia bahkan sudah mendapat beasiswa di Seoul University. Tapi terserah padamu, aku hanya menyarankan”

“Minta tolong pada.. Kang Hamun?” tanyaku sekali lagi memastikan kalau apa yang kudengar tidak salah. Aku berharap, tadi aku salah dengar namun Leeteuk sem mengangguk mantap.

Minta tolong pada Kang Hamun? Haruskah? Mengapa harus gadis itu??

“Benarkah aku harus meminta tolong padanya? Ohmona. Bagaimana ini? mau dikemanakan harga diriku?” hati dan pikiranku pun mulai berperang antara gengsi, kekhawatiran, dan rasa cuek.

Lebih baik aku menanggung malu sekarang daripada harus menanggung malu karena tidak naikkelas. Itu lebih pathetic.

*****

Aku sungguh membenci gadis ini. Lidahnya tajam, dingin, judes, menyebalkan, dan dia juga seorang kutu buku yang selalu berpenampilang cupu. Lihatlah, rambutnya seperti tambang dan kaca matanya seperti botol susu. Kurasa bukan hanya aku yang membencinya, seisi sekolah ini pasti tak menyukainya -kecuali para guru-

“Apa tadi pagi matahari terbit di sebelah barat? Seorang Choi Siwon meminta tolong padaku?” tanya Hamun yang lebih terkesan menyindir. Ya, karena dia memang sedang menyindirku.

“Hamun, tolong jangan mempersulit posisiku dengan pertanyaanmu yang menyindir itu,” pintaku padanya. “Aku akan memberikan apapun yang kau mau,” tawarku. Hamun terdiam sesaat. Berpikir. Aku harap ia menyetujuinya.

“Kalau aku tidak mau, apa yang kau lakukan?” tanyanya

“Aku akan memaksa,” jawabku yakin. Aku sudah membuang semua harga diriku jadi dia harus mau menjadi guruku.

“Baiklah, sepulang sekolah, di kelas ini. Jangan terlambat. 5 menit saja kau telat, akan kutinggal,” ujar Hamun masih dengan gayanya yang dingin. Aku senang bukan main, reflek, hampir saja aku memeluk Hamun kalau ia tidak berkata, “Kau mau membuatku diserbu oleh semua fansmu dengan kau memelukku?”

“Mianhe,” desisku namun tak mendapat tanggapan apapun darinya. Ia malah sudah terpaku dengan buku ditangannya.

Haish, aku benar-benar membencinya. Semoga aku bisa tahan.

*****

“Salah, salah, salah. Choi Siwon-nim, apa yang kau lakukan saat guru menjelaskan?” tanya Hamun -lebih tepatnya, menyindir- sambil mencoret nomor soal lembar yang baru kukerjakan.

Aku menatapnya kesal. Baru berapa menit aku bersamanya, ia sudah membuatku makin membencinya. Bagaimana bisa aku mengerjakan soal itu kalau ia tidak menjelaskannya terlebih dahulu?

Aku sudah salah memilih guru. Leeteuk Sem kau menjerumuskanku ke jalan yang salah!

“Hari ini sampai disini dulu,” ujar Hamun mengakhiri pelajaran tambahan ini.

“He? Secepat ini?” tanyaku tak percaya

“Ya, secepat ini. Hari ini aku hanya ingin tau sampai dimana kemampuanmu. Namun ternyata kau sangat payah,” ujarnya lalu berlalu begitu saja meninggalkanku yang tak bisa membalas perkataannya.

Aku mengacak rambutku tanda frustasi. Aku benar-benar membencimu Kang Hamun!!

*****

Karena keperluan syuting, hari ini aku absen sekolah. Karena aku tak memiliki nomor hp si kutu buku, Kang Hamun, aku jadi tidak bisa mengabarinya. Dan itulah yang membuatku gundah gulana dan dengan kesadaran diri penuh, aku melajukan mobilku dari tempatku syuting menuju sekolah meski itu sangat jauh dan aku sudah sangat lelah. Apa yang kupikirkan? Aku melakukan ini karena berpikir Hamun akan menungguku? hey, Choi Siwon, sekolah sudah 4 jam berlalu, Hamun tak mungkin menungguku. Gadis dingin sepertinya tak mungkin mau membuang waktu hanya untuk menunggu orang yang ia benci.

Kalau ia menunggumu, itu namanya keajaiban.

Mataku membesar, tak percaya dengan yang aku lihat saat aku membuka pintu kelasku. Keajaiban. Bahkan keajaiban itu terlihat sangat indah karena sinar matahari yang akan terbenam di ufuk barat menyinari dia yang sedang tertidur sambil duduk di deretan bangku dekat jendela.

Tanpa kusadari, kakiku sudah berjalan sendiri mendekatinya lalu duduk dihadapannya. Mataku tak bisa lepas darinya dan membuat ujung bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman.

Perhatianku teralihkan sebentar saat tanpa sengaja, aku melihat sebuah buku tulis di meja itu. Di cover depan tertulis, “Untuk kau yang kubenci, Choi Siwon”

Aku tertawa kecil saat membacanya namun tawa itu berganti dengan rasa takjub saat aku melihat isi dari buku itu.

Ringkasan materi dari kelas X sampai XII, semua disusun dengan rapi, Isinya singkat, padat, dan sangat jelas, bahkan ditulis dengan bulpen warna-warni untuk mempermudah mengingatnya. Dan yang membuatku makin takjub adalah, semuanya ini adalah tulisan tangan? Aku menatap gadis yang masih tertidur ini dengan tatapan ‘tak percaya’, namun sedetik kemudian aku sudah tertawa. Tidak, tidak, aku tidak menertawakan karena aku merasa hebat sampai ia rela membuatkan ringkasan seperti itu untukku. Aku tertawa, karena aku menyadari dia adalah pribadi yang unik. Bagaimana ia bisa membuat sebagus ini untuk seseorang yang ia benci? Untuk orang yang ia benci saja, ia sampai seperti ini. Bagaimana dengan orang yang ia sukai? Apa yang akan ia lakukan untuknya?

Aku mulai membuka buku itu dan membacanya satu persatu. Dasar gadis bodoh. Kalau kau sudah sampai seperti ini, tak mungkinkan kalau aku malas-malasan? Aku akan membuatmu bangga padaku, Kang Hamun.

“Kau sudah datang?” tanya Hamun yang tiba-tiba saja sudah terbangun. Apa mungkin aku terlalu berisik ya?

Aku tersenyum padanya, cukup lama aku tersenyum sambil menatapnya sampai ia bertanya, “Waeyo?”

Aku mengangkat buku catatan tadi, “Kau segitu membenciku sampai membuatkan catatan sampai sebagus ini ya?” tanyaku dengan senyum usil yang membuat wajahnya berubah menjadi merah padam

“A- aku hanya melakukan kewajibanku,” jawabnya singkat. Terkesan dingin, namun suaranya bergetar. Kurasa dia ingin menyembunyikan rasa malunya. Kau ternyata lucu juga Kang Hamun.

Aku tertawa sekali lagi. “Kau bahkan menungguku,” imbuhku yang membuatnya berubah jadi apel.

“I- itu karena aku yakin kau akan datang. Sudahlah! Tak perlu dibahas! Ayo cepat belajar!” omelnya yang tak membuatku takut, justru malah membuatku ingin tersenyum.

“Senyummu tak akan mempan untuk merayuku,” sahutnya.

Aku benar-benar membenci gadis ini. Kemarin, dengan cepat ia membuatku makin membencinya Dan sekarang, dengan cepat pula ia membuatku tertarik dengannya, ingin lebih mengenalnya. Aku pun mulai menikmati pelajaran tambahan ini.

*****

“Bagaimana nilaiku?” tanyaku pada Hamun yang sedang mengoreksi hasil kerja kerasku.

“Kau hanya dapat 45,” sahut Hamun yang membuatku kecewa. Padahal aku sudah usaha setengah mati.

“Jangan sedih. Itu sudah kemajuan. Sebelumnya kau malah mendapat 0,” imbuh Hamun yang sepertinya menyadari kekecewaanku hanya dari ekspresiku. Gadis ini memang ajaib.

“Begini saja, bagaimana kalau kita taruhan?” usul Hamun tiba-tiba yang tak kumengerti.

“Target nilai hari ini 50. Kalau kau tak bisa memperoleh nilai 50, kau ikuti kemauanku. Tapi kalau kau bisa, aku ikuti kemauanmu,” jelas Hamun yang membuatku, tanpa pikir panjang, langsung menyetujuinya. Kurasa cara Hamun berhasil. Semangatku sudah menggebu-gebu sekarang.

“Bagaimana?” tanyaku harap-harap cemas pada Hamun.

Ia tersenyum. Menyunggingkan senyum sinisnya yang menyebalkan itu. Gadis ini ternyata memang agak menyebalkan. “Sayang sekali ya, Choi Siwon. Kau belum bisa mendapatkan nilai 50 sekalipun,” ujarnya.

Aku menghela nafas panjang, menyiapkan batin untuk menerima apa yang akan dimintanya.

“Aku ikuti kemauanmu. Kau mau apa?” tanyaku pasrah pada Hamun.

Ia terdiam, tampak seperti berpikir.

“Aku ingin kau berhenti menjadi seorang casanova,” ujarnya yang membuatku kaget.

“Hamun, apa kau sedang mencoba mengeksploitasiku?” tanyaku sedikit menggoda. Wajah Hamun berubah padam. Ia mulai gelagapan. Lucu sekali.

“I-ini demi kebaikanmu sendiri! Aku tak punya tujuan apapun!” elakknya walau aku tak tahu ia memang sedang berusaha mengelak atau ia sedang berkata jujur. Yang jelas, karena dia sudah meminta, aku akan melakukannya.

“As your wish, Hamun,” jawabku akan tantangan Hamun, diiringi senyumku yang paling manis, yang hanya dalam sedetik bisa meluluhkan hati semua gadis kecuali Kang Hamun.

“Kalau begitu aku pulang sekarang,” pamitnya tanda berakhirnya pelajaran tambahan ini. Entah mengapa aku tak suka ini berakhir dan mulutku dengan sendirinya meluncurkan kata, “Bagaimana kalau aku mengantarmu?” tanyaku

Hamun menatapku sambil tersenyum. Bukan senyum sinis menyebalkan. Aku juga tak tahu jenis senyuman apa itu, hanya saja ia terlihat manis. “Kalau kau sudah dapat 50, akan kuberi kau kesempatan untuk mengantarku pulang. Lagipula aku tak mau, esok pagi wajahku menghiasi headline koran korea selatan karena kau ketahuan mengantarkanku,” ujarnya lalu berlalu meninggalkanku yang masih terpaku ditempat.

“Aku benar-benar benci padamu Kang Hamun,” gumanku diiringi tawa kecil. Aku tak habis pikir, ada gadis yang menolakku mentah-mentah seperti ini.

Kau seharusnya hati-hati padaku Hamun, karena aku sudah tertarik padamu.

*****

“Ohmona, Siwon ah! Kau belajar?” tanya Donghae yang takjub saat mendapatiku belajar ditengah-tengah break syuting.

Aku sendiri tak percaya. Aku rela mengorbankan break syutingku hanya untuk belajar demi memperoleh nilai yang ditargetkan Hamun. Semuanya kulakukan karena, Hamun. Aish, aku benci padamu Hamun. Kau membuatku seakan tergila-gila padamu.

*****

“Bagaimana?” tanyaku harap-harap cemas saat Hamun memeriksa lembar kerjaku. Dapat kulihat Hamun menghela nafas panjang.

“51. Kau mau apa dariku?” ujarnya lirih tanda ia pasrah.

Aku menyunggingkan senyum kemenangan padanya. “Aku minta nomor ponselmu,” ujarku

“Untuk apa? Shiroe,” serunya.

“Kau sendiri yang membuat taruhan ini nona Hamun! Lagipula aku sudah melakukan kemauanmu. Sekarang tak ada lagi gadis yang ke kelas kita kan?” terangku. Hamun lagi-lagi menghela nafas panjang, namun aku tak peduli. Yang penting aku sudah memiliki nomor hpnya!

*****

‘Hai Hamun. Aku sedang syuting Poseidon,’ itulah sms singkat yang kukirimkan pada Hamun disela-sela break. Butuh waktu 30 menit untuk menulis sms sesingkat itu. Jantungku berdetak kencang menantikan jawabannya. Dan tak sampai 2 menit, hpku pun bergetar.

Oke’ hanya itu balasan dari Hamun. Ha? “Hanya ‘Oke‘?” seruku tanpa sadar menyuarakan isi hatiku. Semua kru menatapku heran dan terpaksa membuatku membungkuk berulang kali sambil mengatakan “Mianhe, mianhe,”

‘Hanya ‘oke’? Mengapa kau tak memberiku semangat atau apapun? Kau tak punya hati nona Kang Hamun!’ balasku pada Hamun dengan emosi. Tak lama kemudian, hpku bergetar lagi.

‘Semangat’ balasnya yang membuatku tidak cukup puas dan membuatku tanpa sadar menelponnya.

“Mengapa balasan smsmu selalu sangat singkat?” seruku saat orang yang diseberang mengangkat teleponnya. Lagi-lagi aku membuat semua kru menatap heran padaku dan terpaksa aku pergi ketempat yang lebih sepi.

“Jangan meneriakiku. Apa yang kauharapkan?” tanya Hamun

“Aku ingin kau membalas smsku lebih panjang!” omelku

“Aku tak suka smsan,” balasnya

“Kalau begitu, kebetulan sekali aku menelponmu. Sekarang katakan, ‘Hwaiting Choi Siwon’ ” ujarku sambil memberikan aksen aegyo pada kata ‘Hwaiting Choi Siwon’

“Kalau kau dapat nilai 60, aku akan melakukannya,” ujar Hamun yang membuatku kesal setengah mati padanya.

“Kirimkan beberapa soal sekarang juga!!” seruku lalu menutup hp flapku dengan emosi yang masih membara.

“Aku benar-benar membencimu Kang Hamun!” gumanku

*****

“Sayang sekali ya, yang kemarin gagal,” ujar Hamun dengan senyum kemenangan tersungging jelas di wajahnya. Ya, kemarin aku tak bisa memperoleh nilai 60 padahal Donghae sudah membantuku. Aish, apa yang kuharapkan darinya? Ia sama bodohnya denganku.

“Hari ini aku akan mendapatkan nilai 60 dalam tiap lembar soal yang kau berikan!” tantangku

“Baiklah, kerjakan ini,” ujar Hamun sambil menyodorkan 3 lembar soal sekaligus.

Aku mengerjakannya sambil mengingat-ingat kembali rumus-rumus yang telah kuhafalkan.

3 jam berlalu dan aku telah menyelesaikan semuanya.

“Bagaimana?” tanyaku percaya diri karena aku yakin, aku mampu mengerjakannya.

Hamun menghela nafas panjang, “61,63,62, chukae,” ujarnya tak tulus.

Aku menyunggingkan senyum kemenangan yang membuat Hamun semakin merasa terpuruk.

Aku menatap lekat Hamun. Menjelajahi wajahnya sambil berpikir apa yang kuinginkan.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan berjalan ke tempat duduknya. Aku berlutut sambil menatap lekat Hamun yang kepalanya terpaksa menunduk karena aku dibawahnya.

“Yang pertama, kacamatamu,” gumanku sambil melepaskan kacamata Hamun dari wajahnya. Jantungku berdetak kencang saat Hamun menatapku dengan matanya tanpa melalui perantara kacamatanya. Ia memiliki mata yang indah yang selama ini ia sembunyikan dibalik kacamatanya.

“Yang kedua, rambutmu,” gumanku lalu melepaskan ikatan yang berada diujung kepangan rambut Hamun.

Sinar matahari diufuk barat, yang menembus jendela kelas kami, membuat wajah Hamun terlihat sangat jelas. Cantik. Sangat cantik. Hamun, dengan matanya yang indah dan rambutnya yang terurai sangat cantik. Aku tak percaya sosok kutu buku itu menyembunyikan sosok secantik ini.

Jantungku berdetak kencang sampai seakan mau keluar dari tempatnya.

“Ya-ya-yang keti-tiga,” gumanku gelagapan karena tak bisa mengabaikan jantungku yang terlalu hyperactive ini.

“Aku ingin kau seterusnya berpenampilan seperti ini,”

*****

“Cantik sekali,” seru salah satu temanku yang menatap pintu gerbang dari jendela kelasku namun aku tak peduli, karena sudah ada Hamun yang menjadi gadis paling cantik dihatiku.

“Itu bukannya Kang Hamun?” tanya temanku yang dengan segera membuatku melongok ke jendela.

Ya, itu Hamun. Cantik sekali tanpa kacamata dan kepangannya.

“Aku tak menyangka Hamun secantik itu. Kalau begini, aku akan mengejarnya,” ujar temanku itu yang dengan cepat kusela, “Maaf, gadis itu milikku,” ujarku diiringi senyum kemenangan.

Dengan segera aku keluar dari kelas dan menghampiri Hamun.

“Hai Hamun,” sapaku padanya. Tanpa banyak berkomentar, aku membawakan tasnya sambil mengandeng tangannya. Aku tau semua mata sedang memandang kami sekarang, karena memang itu tujuanku. Perbuatanku yang barusan adalah ultimatum bagi sapa saja yang mau mendekati Hamun. Mereka harus melawanku terlebih dahulu karena Hamun dari ujung rambut, sampai kakinya, adalah milikku.

“Kau mau membuatku diserbu oleh semua fansmu?” tanya Hamun saat kami berjalan ditengah koridor.

“Tidak, aku hanya ingin menyatakan pada mereka, kalau kau milikku. Jadi tak akan ada yang berani mendekatimu,” jawabku jujur

“Sejak kapan aku milikmu?” tanya Hamun sinis

“Sejak awal, kau sudah berada digenggamanku Hamun,” balasku yang sungguh tak kusangka membuat Hamun tertawa kecil. Dan apa kau tau? Hal itu memberikan efek yang dahsyat padaku. Jantungku sudah berdetak tak karuan sekarang.

“Sial!” gumanku sambil menjambak pelan rambutku.

“Wae?” tanya Hamun

“Kau jadi terlalu cantik sekarang. Sainganku akan jadi sangat banyak!” gerutuku

“Kau sendiri yang minta,”

“Ya, kusesali itu,” gumanku lirih

*****

begitu bangun dari tidur, aku merasakan badanku tak enak. Kepalaku pusing dan badanku sedikit hangat. Aku menelpon managerku untuk datang dan saat ia mengecek keadaanku ternyata aku demam tinggi.

Sial. Sungguh sial. Badanku panas tinggi. Aku tak bisa kemana-mana selain tidur di kamar. Masalah syuting sudah dibereskan oleh managerku tapi bagaimana dengan Hamun? Kalau ada pria lain yang mendekatinya bagaimana?

Aku tak bisa tenang. Hanya Hamun dipikiranku. Aku pun memutuskan untuk menelponnya.

“Aku sakit,” ujarku saat ia telah mengangkat teleponnya.

“Ya, aku tahu, sem sudah mengatakannya,” balas Hamun

“Bisakah kau mengirimkanku beberapa soal? Aku ingin kau berbuat sesuatu untukku,” ujarku parau. Aku benar-benar sakit ternyata. Menyedihkan, terlihat lemah dihadapan orang yang ingin kita lindungi.

“Baiklah,” balas Hamun lalu menutup telepon itu. Tak lama kemudian, sebuah email datang padaku.

Dari Hamun, yang berisi soal-soal. Dengan kekuatan yang masih tersisa, aku mencoba mengerjakannya.

“Bagaimana?” tanyaku pada Hamun via telepon

“Sayang sekali Choi Siwon,” balas Hamun yang membuatku makin lemas.

“Baiklah, bye Hamun,” ujarku mengakhiri percakapan ini.

Kekuatanku benar-benar sudah terkuras habis. Namun bel rumahku berbunyi. Awalnya kuacuhkan namun frekuensinya semakin memekikkan telinga.

“Aish! Apa kau tak tahu kalau aku sedang sakit?!” omelku sembari membuka pintu rumahku.

“Orang sakit tidur saja,” ujarnya dingin. Ia melenggang masuk begitu saja meski belum kuijinkan masuk.

“Sampai kapan kau mau berdiri disitu, aku sudah disini. Tidurlah,” ucapnya

Aku berjalan mendekati gadis itu. Menangkup wajahnya sehingga ia terpaksa mendongak, menatapku yang lebih tinggi darinya. Aku menjelajahi wajahnya. “Hamun?” tanyaku memastikan kalau aku tak salah lihat.

“Tentu saja aku Hamun, kau mengharapkan orang lain?” tanyanya. Aku terlalu senang dengan kenyataan ini, aku pun masih menganggap ini mimpi. Aku memeluk Hamun erat. Bukan karena reflek, namun karena aku menginginkannya.

“Jangan menulari aku dengan penyakitmu,” gumannya tanpa membalas pelukanku.

Aku benar-benar benci gadis ini. Ia selalu membuat perasaanku bereaksi berlebihan seperti saat ini. Jantungku hampir saja lepas dari tempatnya.

“Hamun, berikan aku soal,” pintaku sembari melepaskannya dari pelukanku

“Untuk apa?” tanya Hamun tak mengerti sambil mengeluarkan beberapa lembar soal dari tasnya.

“Target hari ini berapa?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Hamun sebelumnya

“75,” balasnya dan aku mulai mengerjakan soal-soal itu dengan serius.

Setelah 1,5 jam, akhirnya aku bisa menyelesaikan soal itu. “Bagaimana?” tanyaku pada Hamun yang sedang mengoreksi lembar kerjaku

“80. Kau mau apa dariku?” tanya Hamun seakan mengerti tujuanku

Aku menatapnya lekat sesaat lalu menariknya dalam pelukanku, “Aku ingin kau menginap disini,” ujarku pada Hamun

“Kau mau apakan aku?” tanya Hamun

Aku tertawa, “Aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Tenang saja, aku tak akan macam-macam,” ujarku yang membuat Hamun tertawa

“Aku percaya padamu,” imbuh Hamun

*****

Kekuatan cinta memang dahsyat. Kurang dari 24 jam, berkat Hamun, panasku sudah hilang. Karena Hamun menginap di apartemenku semalam, kami berangkat sekolah bersama dan hal itu langsung menarik perhatian semua murid yang sudah terlebih dahulu berada di sekolah.

“Yaa, Siwon ah, kau apakan si Hamun?” tanya salah seorang temanku saat aku terlebih dulu tiba di kelas. Aku berpisah dengan Hamun di koridor tadi karena Leeteuk Sem memanggilnya.

Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan temanku. “Apa maksudmu?”

“Bagaimana caramu merayunya sampai kau bisa mengubahnya sedemikian cantik?” tanyanya

“Aku tak..” aku bermaksud menjawab pertanyaannya itu namun ia sudah menyela terlebih dahulu.

“Kau memang casanova sejati! Bahkan Hamun yang kutu buku itu pun bisa kau buat jatuh hati!” ujarnya

“Aku tak..” aku ingin menjelaskan pada mereka kalau aku, kali ini, sudah benar-benar jatuh cinta pada Hamun. Namun aku tak bisa melanjutkan kalmatku saat aku tercekat karena mataku sedang berkontak langsung dengan mata Hamun yang sedang berdiri di ambang pintu kelasku.

Aku melihat tubuhnya bergetar, air matanya sudah mengalir tanpa ekspresi. Aku ingin mengejarnya, namun kaki tercekat karena hatiku tak sanggup melihat air matanya.

*****

Seharian ini Hamun tak mengikuti pelajaran. Tak melihat wajahnya membuatku hatiku gelisah. Aku pun menunggunya, berharap ia datang karena saat ini adalah jam pelajaran tambahan. Dan penantianku ternyata tak sia-sia. Hamun datang dengan mata yang membengkak. Ia menangis. Entah mengapa, hal itu sedikit membuatku senang. Itu tandanya ia menyukaikukan?

“Hari ini kau harus bisa memperoleh 90. Besok Ujian akhir sudah dimulai,” ujar Hamun tanpa basa-basi. Ia langsung memberikanku lembar kerja tanpa mengajakku bicara lagi sampai aku selesai mengerjakan soal-soal itu.

“Bagaimana?” tanyaku pada Hamun

“90. Kau mau apa?” tanya Hamun dingin tanpa menatapku

Aku bangkit dari tempat dudukku lalu menangkup wajah Hamun dengan kedua tanganku. “Aku ingin menciummu,” ujarku sambil menatap lekat matanya.

Tiba-tiba setitik air mata, mengalir dari mata Hamun, “Kau hanya mempermainkanku kan? Kalau kau tidak menyukaiku, jangan membuatku berharap,” sahut Hamun parau.

Aku membalas pertanyaan Hamun dengan senyuman. “Kau akan tahu sendiri jawabannya,” gumanku sambil mencium lembut bibir Hamun.

“Apa kau sudah tahu jawabannya?” tanyaku. Dengan air mata yang masih membasahi pipinya, Hamun tersenyum, namun ia menggelengkan kepalanya

Aku membalas senyuman Hamun,”Baiklah, sampai kau tahu jawabannya,” ujarku lalu kembali mengecupnya.

Aku sungguh membencimu Kang Hamun. Kau sudah membuatku jatuh cinta padamu.

*****

“Hamun, kalau besok aku dapat 100, kau menikah denganku ya,”

“Kalau aku tak mau?”

“Kau harus mau,”

“Yaa, Choi Siwon! Aku membencimu,”

“Tapi aku sangat mencintaimu nona Hamun,”

 

END

by @esterong