Malam natal yang sangat indah ini aku habiskan bersama kekasihku, Kang Hamun. “Oppa, tahun depan kita merayakan natal bersama lagi ya…” katanya saat kami berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri jalan menuju rumah kami yang dipenuhi salju. Aku mengelus kepala Hamun yang terkulai di bahuku dengan lembut. “Iya, tahun depan kita ke Gereja sama-sama lagi,” sahutku sambil tersenyum meskipun dia tidak melihatnya. Hamun terlalu nyaman dalam dekapanku.

Aku terus berjalan dengan menggandeng Hamun lebih erat karena malam yang semakin dingin. Hamun mengajakku mengobrol tapi aku menjawab seadanya saja karena ada seseorang yang mengalihkan perhatianku. Seorang gadis berjalan cepat, nyaris berlari, ke arah aku dan Hamun. Tampaknya gadis itu sedang buru-buru. Selain karena jalannya yang cepat, ia juga tidak memakai pakaian yang seharusnya dipakai di malam sedingin ini. Gadis itu hanya memakai kaus tipis dan celana jeans, tak ada mantel yang menghangatkannya.

Gadis itu berjalan semakin cepat. Wajahnya menunduk terus sehingga tanpa ia sadari ia telah menabrakku. “Ah, jwisonghamnida,” ucapnya singkat lalu kembali berjalan. Aku memperhatikannya saat ia meminta maaf tadi. Wajahnya tampak jelas di mataku, begitu juga air mata yang sedang mengalir di pipinya. Mengapa dia menangis di malam natal?

Setahun kemudian….

Natal kali ini tidak aku habiskan seperti natal sebelumnya. Kali ini aku hanya ke Gereja dan diam di rumah bersama keluargaku. Aku dan Hamun sudah putus beberapa bulan lalu. Hamun memutuskanku karena ia menganggap aku sudah tidak layak baginya. Ia menganggap aku sudah menduakan cintaku padanya. Aku hanya tertawa. Bagaimana mungkin aku menduakan cinta jika gadis yang aku kenal di dunia ini hanya Kang Hamun?

“Kyuuu, tolong bukakan pintu,” teriak noona-ku dari dapur. Aku meletakkan remote tv di meja dan berdiri untuk membukakan pintu, meskipun aku tidak mendengar adanya suara bel rumahku yang berbunyi.

“Annyeonghaseyo. Maaf mengganggu malam-malam,” ucap seorang gadis yang aku temukan di depan rumahku begitu aku membuka pintu. Aku melihatnya membungkukkan badan dan menegakkannya kembali beberapa kali. Aku memperhatikannya. Aku ingat dia adalah gadis yang tahun lalu nyaris berlari-tanpa mantel-sambil menangis di hari natal yang dingin. Bedanya dengan hari ini, dia sudah tidak nyaris berlari, memakai mantel, dan tidak menangis. Dia bahkan melihatku sambil tersenyum lebar.

Ahra noona tiba-tiba muncul dari belakangku. “Hyejin-aaah!!! Akhirnya kau datang juga. Ayo masuk! Aku dan eomma sudah memasakkan sesuatu untukmu!” seru noona-ku dengan girang sambil memeluk gadis yang bernama Hyejin itu. Noona juga langsung membawa Hyejin masuk ke dalam rumah, meninggalkanku untuk menutup pintu dan membawakan koper-koper gadis itu. “Buat apa dia bawa koper sebanyak dan sebesar ini?” batinku takjub dengan bawaannya yang sangat berat!

Kami berlima : aku, appa, eomma, ahra noona dan Hyejin, duduk bersama di meja makan untuk menyantap makan malam natal yang khusus disiapkan oleh eomma dan noona. Aku makan dengan lahap karena aku sangat menyukai masakan mereka. Tidak ada yang tidak aku makan jika sudah dihidangkan makanan yang terbuat langsung dari tangan-tangan orang yang aku sayangi. Saking seriusnya aku makan, aku sampai tidak menyadari bahwa keluargaku sudah fokus pada tamu kami.

“Hyejin-ssi,” ucap ayahku yang disahut oleh gadis itu dengan ceria, “Ne, ahjussi.” Ayahku tertawa. “Jangan panggil aku ahjussi. Panggil saja appa. Aku sudah menganggapmu anakku sendiri, Hyejin,” kata ayahku kemudian. Hyejin tersenyum. “Kamsahamnida, appa,” ujarnya. Ayah balas tersenyum, begitu juga dengan eomma dan noona. “Kalau begitu kau harus memanggilku eomma ya, sayang,” kata ibuku dengan tatapan lembut, bahkan sambil mengelus lengan Hyejin. Aku tidak mengerti. Siapa dia sebenarnya?

Selesai makan, noona menyuruhku membawakan lagi koper-koper Hyejin masuk ke dalam kamarnya. Aku semakin tidak mengerti. Kenapa Hyejin tidur bersama noona sedangkan kamar tamu kosong. “Noona, siapa gadis itu?” tanyaku begitu aku dan noona memiliki waktu berdua. “Dia anak sahabat Appa. Mulai hari ini dia akan tinggal bersama kita. Baik-baiklah dengannya,” jawab noona lalu kembali masuk ke kamarnya, membuatku semakin tidak mengerti. Aku tidak masalah dengan statusnya sebagai anak sahabat appa tapi mengapa dia tinggal di sini? Aku ingin tahu.

Aku melihat jam di ruangan ini sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Meskipun aku masih penasaran tapi aku harus mengalah pada rasa itu. Aku harus segera tidur. Aku butuh istirahat.

*****

“Noona!! Noona! Apa kau yang meminjam ipad-ku?” seruku yang tanpa menunggu sahutan noona langsung masuk ke kamarnya. Aku membuka pintu dan melihat gadis yang sedang memakai baju. “Mianhe,” ucapku lalu langsung menutup pintu. Jantungku berdebar kencang. Aku merasa bodoh sekali. Bahkan ketika gadis itu muncul dari kamar noona, aku belum beranjak sedikitpun. Aku masih berdiri menatap pintu, mengontrol debaran jantungku.

“Kyu, kenapa masih di sini? Apa kau tidak terlambat?” tanyanya menyadarkanku kembali. Aku melihat jam tanganku dan sadar bahwa aku sudah terlambat. Secepat kilat aku berlari ke mobilku dan memacunya menuju kantorku. Meskipun begitu, aku masih sempat melihat Hyejin melambaikan tangannya kepadaku sambil tersenyum sebelum aku pergi meninggalkan rumah. Hebatnya, aku ingat betul kejadian itu setiap milidetiknya.

*****

Aku berjalan menuju lobby dan menemukan Hyejin yang sedang berdiri sambil tersenyum dengan tangannya yang melambai memanggilku. “Aku pasti sakit,” batinku. Aku yakin itu hanya imajinasiku saja, efek kejadian tadi pagi. Aku pun melewati imajinasiku begitu saja. “Yaaa!” teriak imajinasiku. Aku menengok ke belakang dan melihat Hyejin berlari ke arahku dengan cemberut. Dia memukul lenganku pelan. “Tega sekali kau melewatiku begitu saja padahal aku sudah capek menunggumu,” ujarnya. Aku mencubit pahaku tanpa sepengetahuan Hyejin. Rasanya sakit sekali. Aku tersenyum. Rupanya aku sedang tidak berimajinasi.

Hyejin menggelayutkan tangannya di lenganku. “Ayo kita makan siang bersama. Kau yang traktir,” katanya tanpa malu-malu. Aku menatap gadis yang sangat berani ini dengan takjub. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya yang rupanya menangkap tatapanku. “Tidak apa,” jawabku sambil menggeleng. Hyejin kembali tersenyum. Dia lalu menarikku keluar dari kantor. “Ayo kita pergi sekarang,” katanya tanpa melepas gelayutan tangannya.

Hyejin mengajakku makan di sebuah restoran khas Indonesia. Dia memesan berbagai macam makanan yang belum aku pernah coba sebelumnya. “Kau pasti belum pernah mencoba makanan-makanan ini kan? Coba deh. Kau pasti ketagihan,” katanya. Hyejin lalu mulai mengambil makanan dan memasukkannya ke mulut. Aku menatap cara makannya yang unik, cepat dan anggun.

“Ayo makan,” kata Hyejin sambil menyuapkan seiris daging ke mulutku. Aku membuka mulutku dan mengunyah makanan itu. “Enak,” ucapku setelah menelannya lalu mengambil irisan berikutnya dengan tanganku sendiri. Hyejin tersenyum. “Sudah kubilang kau pasti akan ketagihan,” katanya. Aku balas tersenyum menanggapinya. Iya, aku pasti akan ketagihan dirimu, bukan makanannya.

*****

Appa mengajak kami sekeluarga pergi ke Jeju. Dia mendapat hadiah liburan gratis selama seminggu dari kantornya. Sayangnya appa hanya mendapat jatah untuk 4 orang. “Appa, eomma, eonni dan Kyu bersenang-senanglah. Aku akan menjaga rumah ini dengan baik,” kata Hyejin tanpa rasa sedih sedikitpun. Justru noona yang hampir menangis karena tidak tega meninggalkan Hyejin sendirian di rumah. “Maafkan aku ya Hyejin. Kalau tidak karena sekalian bertemu pacarku, aku pasti akan menemanimu di rumah,” kata noona sambil memeluk Hyejin dengan erat. Aku menatap kedua gadis itu dengan heran. Bagaimana mereka bisa berpelukan dengan sangat erat padahal mereka hanya berpisah untuk seminggu? Aneh, pikirku. Tapi aku merasa diriku jauh lebih aneh daripada mereka.

Aku mengangkat handphone-ku dan mendekatkannya ke telingaku. “Ne. Ne. Arraseo,” ucapku lalu menutup telepon. Aku menghampiri kedua orang tuaku dan noona yang sudah siap di dalam mobil. “Maaf, aku tidak bisa ikut. Kantor tiba-tiba membutuhkanku,” ucapku yang untungnya bisa dipahami oleh mereka. “Kalau begitu, kau jaga rumah dan Hyejin baik-baik ya,” pesan Appa sebelum pergi meninggalkan rumah, aku dan Hyejin. Lambaian tanganku menghantarkan mereka.

Hyejin menatapku dengan heran saat aku berbalik sambil membawa tasku. “Kau tidak jadi ikut?” tanyanya. Aku menggeleng dengan santai lalu masuk ke dalam rumah. Hyejin menyusulku. “Kenapa?” tanyanya. Aku hanya diam. Aku meletakkan tasku di pinggir sofa lalu menyalakan tv. “Kenapa kau tidak ikut?” tanyanya lagi, sedikit mendesak. Aku duduk dengan santai di sofa. “Ada hal yang lebih penting yang harus aku urus di sini,” jawabku. “Urusan apa?” tanya Hyejin lagi. Aku tidak akan menjawabnya. Aku tidak akan bilang bahwa aku pura-pura punya kerjaan mendadak hanya karena aku tidak bisa meninggalkan Hyejin sendirian di rumah. Ya, aku berbohong pada kedua orang tua dan noona-ku bahwa aku tiba-tiba dibutuhkan di kantor. Sebenarnya, aku hanya ingin berdua di rumah bersama gadis yang baru aku sadari sudah setahun ini menyita pikiranku.

*****

Hari pertama hanya berdua dengan Hyejin, membuatku bangun lebih semangat. Aku keluar dari kamarku tanpa menguap sekali pun. “Selamat pagi!” sapa Hyejin dengan semangat begitu melihatku keluar dari kamar. “Pagi,” balasku. Hyejin mondar-mandir dapur – ruang makan. Aku melihat sepiring salad buah dan semangkuk sup krim jamur serta segelas anggur di meja makan, berharap Hyejin membuatkannya untukku. “Hye, kau buat salad ini untuk sarapan? Mana untukku?” tanyaku agak kencang agar Hyejin mendengarnya. “Itu semua yang ada di meja untukmu, Kyu. Makanlah,” jawab Hyejin. Dengan sumringah, aku segera duduk dan melahap semuanya.

“Enak?” tanya Hyejin yang sudah duduk di depanku sambil memakan roti isi tuna. Aku mengangguk. “Kau pintar masak ternyata,” pujiku. “Terima kasih,” balasnya sambil tersenyum. Aku suka sekali, baik makanannya dan senyumannya.

“Apa hari ini kau pergi?” tanyaku saat aku mulai menyentuh sup krim-ku.

“Tampaknya begitu. Aku harus ke kampus mengumpulkan tugasku lalu menghadiri pesta ulang tahun temanku,” jawabnya. “Memang kenapa?”

“Boleh aku ikut?” Aku merasa sangat bodoh telah mengajukan pertanyaan seperti itu.

Hyejin menatapku dengan heran. “Bukankah kau mau mengurus sesuatu?” tanyanya.

Aku tersenyum. Ini aku mau mengurus sesuatu, batinku. “Aku bisa mengurusnya nanti. Aku malas kalau hanya di rumah,” jawabku padanya.

“Baiklah kau boleh ikut asal kau tidak macam-macam,” katanya.

“Macam-macam maksudmu?” tanyaku bingung.

“Jangan kecentilan pada gadis-gadis di kampusku dan jangan cari masalah dengan para pria-nya,” jawab Hyejin.

Dalam hati, aku ingin sekali melompat dari bangkuku dan memeluk Hyejin tapi mana mungkin aku melakukannya! Aku hanya tersenyum dan berkata, “Oke.” Tidak mungkin aku kecentilan pada gadis-gadis jika sudah ada seorang gadis yang sangat sempurna di dekatku. Tunggu, mengapa dia pesan aku tidak boleh menggoda gadis-gadis? Apa dia cemburu? Aku menatap Hyejin lebih dalam meskipun ia sibuk mengunyah roti tuna-nya. Semoga memang iya, batinku.

*****

Aku mengikuti kemanapun Hyejin berjalan, ke ruang dosen, ke kelas, menemui temannya bahkan hampir saja aku mengikutinya ke toilet. Aku berjalan sambil memperhatikan lingkungan di sekeliling Hyejin. Tidak ada yang menarik kecuali para pria yang menatapku saat aku berjalan bersama Hyejin. Meskipun tidak semua tapi cukup berbahaya bagiku jika mereka berkumpul dan menghajarku. Aku berasumsi mereka adalah pria-pria yang senasib denganku : terperangkap dalam pesona Hyejin.

Hyejin mengajakku ke kantin untuk makan bersama teman-temannya, yang semuanya adalah wanita dan membuatku pusing. Mereka mengobrol dan tertawa seperti mereka satu-satunya penghuni bumi ini. Mereka menceritakan hal yang sama dengan panjang lebar dan diakhiri dengan, “Nanti kita cerita lagi yang lebih detil di pesta Hamun ya? Kau datang kan, Hye?” kata salah satu teman Hyejin. “Tentu saja,” jawabnya lalu memisahkan diri dari teman-temannya.

“Pulang sekarang?” tanyaku.

“Ne,” jawabnya dengan singkat.

Aku mengikutinya berjalan menuju mobil dengan perasaan tidak enak. Aku merasa terganggu. Bukan karena jawaban singkat tanpa senyum yang dilontarkan Hyejin tapi karena ada nama Hamun disebut tadi. Apa aku akan menghadiri ulang tahun teman Hyejin yang bernama Hamun? Apa dia Hamun yang sama dengan Hamun-ku?

*****

Aku memasuki ruangan pesta dengan Hyejin yang sangat cantik mengamit lenganku. Aku tahu sebagian besar mata pria memandangnya tapi mataku tidak bisa. Aku menjelajah seluruh ruangan mencari orang yang sedang ulang tahun ini. “Mana temanmu yang ulang tahun, Hye?” tanyaku. “Itu ada di sana,” katanya sambil menunjuk ke suatu arah. Aku mengikuti telunjuk Hyejin tapi mataku tidak cukup tajam untuk melihat jarak jauh. “Mana? Tanyaku lagi. Hyejin mengeluh dan langsung menarikku menuju sana.

“Hamun, saengil chukkae!” ucap Hyejin sambil memeluk Hamun. “Panjang umur ya, sayang.” Hamun tersenyum dan balas memeluk Hyejin. “Gomawo, eonni,” ucapnya. Hyejin lalu melepaskan pelukannya dan menarik tanganku. “Kyu, ini Kang Hamun. Dia yang ulang tahun hari ini,” ucap Hyejin sambil mengenalkan temannya padaku. “Hamun, ini Cho Kyuhyun,” ucapnya kemudian pada Hamun.

Aku menatap Hamun tanpa berkedip. Dia benar-benar Hamun, mantan kekasihku. Hamun balas menatapku. Tanpa perlu penerjemah pun, aku tahu makna dari tatapan matanya kepadaku. Tatapan bahagia, tertarik, sekaligus sedih. Aku tahu dia masih ada rasa padaku tapi tidak ada yang bisa aku perbuat. “Selamat ulang tahun, Hamun-ssi,” ucapku canggung sambil mengulurkan tanganku. Hamun membalas uluran tanganku. “Gomawo, oppa,” balasnya. Tangan kami terpaut cukup lama dan aku masih bisa merasakan sedikit aliran yang menyengat ketika tangan kami bertemu. Hamun tersenyum sambil menatapku. Aku rasa dia juga menyadarinya.

Hyejin pelan-pelan memisahkan tangan kami lalu mengamit tanganku dengan tangannya. Perasaanku langsung bercampur aduk antara senang dan marah. Aku senang Hyejin menggenggam tanganku tapi aku marah dia memisahkannya dari Hamun. Begitu juga saat dia tiba-tiba menciumku dan berkata pada Hamun, “Sekarang Kyuhyun pacarku.”

*****

Sepanjang perjalanan, bahkan sampai kami masuk rumah, tidak ada satu patah kata pun yang keluar di antara aku dan Hyejin. Aku masih marah padanya yang telah berbuat seenaknya tapi aku tidak tahu apa yang membuat Hyejin diam membisu. Aku pun tidak berminat untuk mengetahuinya. Aku langsung masuk ke dalam kamarku begitu Hyejin masuk ke dalam kamar noona. Dia tidak ada urusannya denganku. Lebih baik aku tidur.

*****

Aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih enak. Hatiku tidak lagi panas. Sambil mengucek-ucek mata, aku bangkit dari kasurku dan keluar kamar. Aku melangkah menuju ruang makan berharap Hyejin sudah menyiapkan sarapan untukku. Puji Tuhan, harapanku terkabul. Aku pun segera melahap sepiring nasi goring sosis di hadapanku. “Gomawo, Hye!” seruku setelah selesai makan. Aku menunggu sahutan dari Hyejin tapi tidak ada suara sama sekali. Aku mencarinya ke dapur tapi tidak menemukannya. Begitu juga di kamar noona. Dia tidak ada di seluruh pelosok rumah ini. Apa dia pergi? Apa dia benar-benar marah padaku?

“Haish!” seruku kesal saat gagal menghubungi ponsel Hyejin. “Kemana dia?!” seruku frustasi. Aku segera membawa mobilku menuju kampus Hyejin. Kutanya semua teman-temannya, juga semua orang yang aku temui tapi jawaban mereka tetap sama : TIDAK TAHU atau TIDAK LIHAT. Hyejin, kau kemana? Aku benar-benar bingung.

“Oppa,” panggil seorang gadis. Aku langsung membalikkan tubuhku dan mencelos kecewa karena ternyata yang aku temui bukanlah Hyejin melainkan Hamun. Aku bahkan sudah lupa bahwa kemarin aku marah kepada Hyejin karena gadis ini. “Oppa sedang apa di sini? Kenapa seperti orang bingung seperti itu?” tanyanya lagi.

“Apa kau melihat Hyejin?” tanyaku begitu saja. Tidak ada kata-kata lain di otakku. Hamun menatapku. Aku tidak bisa membedakan itu tatapan kecewa atau apa tapi aku menerjemahkannya sebagai tatapan datar. “Apa Oppa kesini untuk mencari Hyejin?” tanyanya balik, sama sekali tidak membantu. Aku hanya tersenyum lalu pamit meninggalkannya.

*****

Kembali ke rumah dengan tangan kosong sama sekali tidak menyenangkan saat ini. Aku sangat mencemaskan Hyejin. Bolak-balik aku menghubungi ponselnya dan selalu gagal. “Arrrrgh!” teriakku kesal. Aku nyaris melempat ponselku saking kesalnya. “Hyejin, kau dimana?” ucapku berkali-kali.

Tiba-tiba pintu kamar noona terbuka. Aku memandangnya dengan tajam. Seorang gadis lalu keluar dari dalamnya. “Berhentilah berteriak. Kepalaku pusing,” katanya dengan suara parau. Aku melihatnya dan sadar bahwa dia adalah Hyejin. Reflek aku berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat. Aku mencium kepalanya. “Kau kemana saja? Dari tadi aku mencarimu tahu. Ponselmu juga mati. Kau mencemaskanku saja,” kataku. Hatiku sangat lega melihat Hyejin berada di depanku.

Hyejin mendorongku menjauh. Dia menatapku tanpa ekspresi. “Kau mencemaskanku? Jangan bercanda. Aku rasa kalau pun aku mati, kau tidak akan peduli,” katanya dengan sinis. Aku paham dia pasti masih marah padaku. Aku tersenyum sambil mengelus kedua pipinya. “Mianhe,” ucapku. Hyejin membalasnya dengan senyuman sinis. “Terserah apa katamu.”

Hyejin hendak kembali masuk ke dalam kamar tapi aku lebih dulu menahannya. “Apa lagi?” tanyanya dengan ketus. Aku tidak peduli. Aku mendekati wajahnya lalu mencium bibirnya. “Jwisonghamnida,” ucapku lembut lalu memeluknya. “Jangan marah lagi padaku.”

Hyejin tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya berdiri dan menatapku dengan datar. “Aku tidak berminat padamu,” ucapnya dingin lalu kembali masuk ke dalam kamar. Empat kata yang cukup membuatku kembali frustasi.

*****

Sampai appa, eomma dan noona pulang, tidak ada kemajuan di antara aku dan Hyejin. Kami hanya berbicara seperlunya. Hyejin bahkan tidak pernah mau berada di ruangan yang sama denganku. Anehnya, dia bersikap sebaliknya saat ada keluargaku. “Kyu, Hye, kalian berdua baik-baik saja kan selama kami tinggal?” tanya eomma setelah memeluk kami bergantian. “Ne, eomma,” jawab Hyejin sambil tersenyum, senyum yang lama tidak kulihat. Dia membuatku semakin frustasi.

“Kyuhyun menjagamu dengan baik kan, Hye?” tanya noona dengan cemas sambil menggenggam tangan Hyejin.

“Ne, eonni. Kyuhyun sangat baik padaku kok,” jawab Hyejin membuat noona tersenyum puas lalu mengecup pipiku dengan puas.

“Kau adikku yang hebat!” pujinya lalu masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan aku dan Hyejin berdua di ruang keluarga.

Hyejin bergerak meninggalkanku. “Kau mau kemana? Ada yang masih ingin aku bicarakan!” kataku yang rupanya mampu menghentikan langkahnya. “Bicara apa?” tanyanya kembali dingin. Aku menarik nafas panjang sambil berjalan mendekatinya. “Berhentilah menghukumku dengan sikap dinginmu itu. Aku sudah minta maaf,” kataku.

“Setelah kau marah yang begitu hebatnya?”

“Salahmu juga menciumku seenaknya. Bahkan mengaku kalau aku pacarmu.”

Aku melakukan kesalahan dengan memancing perdebatan. Hyejin tersenyum dingin. “Itu mengganggumu kan? Kau tenang saja. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Anggap saja kedua hal itu tidak pernah terjadi dan kau bisa kembali kepada Hamun,” ujarnya. Aku menangkap nada cemburu dari suaranya.

“Kau menyukaiku kan?” tanyaku dengan pede. Aku ingin menggodanya.

“Jangan harap!” jawabnya ketus tapi wajahnya memerah malu.

Aku semakin gemas. “Kalau begitu kenapa wajahmu merah?”

“Itu karena…karena aku kepanasan.” Hyejin memegang kedua pipinya untuk menutupi salah tingkahnya.

Aku tidak kuat lagi. Aku segera memeluknya sambil mengelus punggungnya. “Aku juga menyukaimu, sejak setahun yang lalu,” ucapku.

“Setahun lalu?” tanyanya kaget.

“Iya, tepat di hari natal tahun lalu. Aku melihatmu berjalan cepat sekali sambil menangis. Tanpa sengaja kau menabrakku lalu meminta maaf. Entah apa kau masih ingat atau tidak,” jawabku tanpa melepaskan pelukanku.

“Oh itu. Aku sudah tidak ingat,” sahutnya. Entah dia benar-benar lupa atau tidak. Aku tidak peduli. Aku hanya peduli padanya sekarang. Dia membiarkan aku memeluknya saja sudah cukup membuatku senang. Aku tidak mau mengahncurkan moment ini hanya karena masalah ingatan. Yang penting sekarang dan seterusnya, Hyejin adalah milikku. Masa bodoh dengan masa lalunya.

*****

Aku masuk ke dalam kamar noona yang sekarang didiami oleh Hyejin seorang diri karena noona kuliah ke Swiss. Hyejin masih berbaring di tempat tidur dengan selimut yang dia pegang sampai menutupi lehernya. Diam-diam aku naik ke tempat tidurnya dan duduk di sebelahnya. Kuperhatikan setiap lekuk di wajahnya dengan tuntunan jariku yang menjelajahinya. “Cantik,” gumamku.

Aku menyingkirkan rambutnya yang terurai menghalangi pandanganku untuk menikmati wajah polosnya. Aku belai-belai rambutnya. Tiba-tiba aku tersenyum. Aku ingin menciumnya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Tinggal beberapa senti lagi aku akan menciumnya.

“Kyaaaa! Eomma!!” seru Hyejin dengan kencang sampai membuatku menjauh. Dia lalu bangkit dan duduk di tempat tidurnya. “Apa yang kau lakukan?! Kau mau mencuri ciuman dariku kan?!” tanyanya dengan galak.

Jantungku masih berdebar saking kagetnya. “Tidak!” jawabku.

“Bohong! Eomma!!!” seru Hyejin yang membuatku terpaksa membekap mulutnya.

“Hentikan teriakanmu. Eomma bisa bangun karenanya,” ucapku. “Aku mengaku tadi mau menciummu. Sekarang, jangan berteriak lagi.

Hyejin berhenti bersuara. Ia tidak lagi memaksaku untuk melepas bekapan tanganku di mulutnya. Aku melepas tanganku dengan keinginanku sendiri.

Hyejin tertawa geli menatapku. “Kau mau menciumku?” tanyanya sambil menatapku seduktif. Hyejin, aku mohon berhenti menatapku seperti itu, batinku.

Dengan bodohnya aku mengangguk. Hyejin berhenti tertawa dan mendekatiku. Hanya dalam sedetik, dia sudah menciumku meskipun tidak lama karena pintu kamar yang tiba-tiba dibuka.

“Eomma!! Kyu mengganggu tidurku,” keluh Hyejin dengan manja kepada eomma. Eomma menatapku dengan tajam. “Kyu, kembali ke kamarmu. Siapa yang suruh kau kesini?” tegur eomma.

“Ne, eomma,” jawabku.
Aku menatap Hyejin dengan kesal tetapi gadis itu hanya senyum-senyum jahil. “Kau berhutang satu ciuman lagi padaku karena telah membuat eomma marah padaku,” bisikku. Hyejin hanya menjulurkan lidahnya mengejekku.

“Kyu, ayo kembali ke kamarmu,” ujar eomma memaksaku segera bangkit berdiri dan pindah ke kamarku. Tak berapa lama aku mendapat SMS dari ponsel Hyejin.

Saranghae . Love you.

Aku tersenyum membaca SMS-nya. Hatiku sangat senang. Tapi itu tidak cukup membuatku membalas sms tersebut. Biar saja gadis itu uring-uringan di kamarnya. Yang penting, aku tahu dia tidak akan lari kemanapun. Hihihihi J