Hidupku indah. Itulah satu-satunya kata yang sangat cocok untuk menggambarkan kehidupanku saat ini.

Tampang tampan mempesona? Aku punya.

Senyum yang bisa meluluh-lantahkan hati para wanita? Aku punya.

Tubuh tinggi dan sexy? Aku punya.

Otak cerdas dan pendidikan bagus? Aku punya.

Uang banyak? Jelas, aku punya. Sampai 7 keturunan pun tak akan habis.

Hidupku indah, bergelimang harta dan wanita. Kemana aku pergi, selalu ada wanita yang mendekat. Aku memang cassanova sejati! Hahaha.


“Kyuhyun, kita bisa berpesta sepuasnya di rumahmu kan?” tanya salah seorang gadis bule sexy yang sedang bergelanyut manja padaku. “Tentu saja sayang, lakukan sesukamu dan teman-teman,” ujarku padanya.

Aku mengangkat gelas wine yang ada ditanganku. Dengan sedikit sempoyangan aku berseru, “Everyone!!” Semua yang hadir di sini menatapku. “Put your hands up! And get your drinks up! Yeaaaay!” seruku sambil meneguk wine yang aku pegang dari tadi. Pesta pun DIMULAI.

*****

“CHO KYUHYUN!” panggil seseorang padaku ditengah pesta. Seketika, suasana meriah tadi menghilang. Aku merasakan aura mulai mencekam dan suasana menjadi hening. Aku mengenal suara ini tapi siapa dia?

Aku yang sedang mabuk berat tak dapat berpikir apa-apa. Aku berjalan menuju orang yang sedang berdiri diambang pintu rumahku itu, orang yang tak-tahu-adat-yang-masih-punya-nyali-dan-berani memanggil namaku dengan lantang tadi.

“Hei.. huk! Siapa kau?! huk!” tanyaku rancau sambil cecegukan berkat vodka yang barusan aku habiskan. Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk memperjelas penglihatanku. Saat ini, aku terlalu mabuk untuk dapat melihat dengan jelas sosok yang sedang berdiri di hadapanku ini. Samar-samar, dia terlihat. “Hei.. huk! Kenapa kau.. huk! mirip sekali dengan ayahku? huk!” Orang ini mirip dengan ayahku yang-amat-sangat-kolot-keras-kejam-dan… tak perlu kulanjutkan.

“Apa ini… huk! Patung lilinnya? huk!” tanyaku sambil menepuk-nepuk wajahnya.

“Cho Kyuhyun, ini aku,” ujar seseorang. Aku menoleh kanan-kiri namun tak kutemukan siapa-siapa, hanya aku dan patung lilin menyerupai ayahku ini.

“Hei.. huk! Bagaimana bisa patung lilin ini bicara? Hebat sekali.. huk!” ujarku pada sekelilingku namun tidak ada sahutan.

Aku terlalu excited dengan keberadaan sosok yang aku anggap itu adalah patung lilin. Namun karena efek wine ini terlalu hebat, Aku merasa pusing dan mual luar biasa. “Oh-mo-na, aku mau.. huk! HUEEEK!” Aku muntah. Kepalaku semakin pusing. Detik berikutnya, yang kulihat hanyalah gelap.

*****

“chirp, chirp, chirp, chirp,” suara kicauan burung dan sinar matahari yang menembus tirai membuatku terbangun. Aku membuka mataku perlahan, dan mulai bertanya-tanya, “Dimana aku?” Aku merasa tak asing dengan sekelilingku, namun ini bukan kamar tidurku di Los Angeles. Ini kamar tidurku saat aku di Seoul dulu.

Seoul, batinku terperanjat. Aku pun secepat kilat bangkit dari tidurku namun gerakan yang berlebihan dan akibat wine semalam membuat kepalaku cenat-cenut. Aku memegang kepalaku, karena masih terasa sangat sakit sekali. “Mengapa aku bisa ada di Seoul?” tanyaku meski tak ada orang selain diriku sendiri di kamar-tidur-super-huge-dengan-kasur-ukuran-king-size-dan-perabotan-super-luxurious-lainnya.

“Tuan muda,” panggil seseorang yang berdiri diambang pintuku. “Tuan besar berpesan, agar anda segera mandi dan menemuinya,” lanjutnya.

Tuan besar? Appa maksudnya? Aku terdiam beberapa saat dan sekelebat bayangan tentang peristiwa tadi malam seakaan kembali terputar diotakku. Ya-am-pun. Aku tahu hidupku sedang berada diambang kematian berkat kelakuan-super-duper-bodoh yang kulakukan tadi malam. Oh-mo-na.

*****

Suasana dimeja makan ini sungguh tidak bersahabat. Aku melirik ke ayahku yang makan dengan tenang dikursi keagungannya. Ya, dia terlihat tenang, namun aura pembunuh sangat terasa kental. Aku berusaha bertingkah sewajarnya, seolah-olah tak mengingat apa yang terjadi kemarin, karena kau tak mau mati muda, tragisnya, dibunuh oleh ayah sendiri karena kebodohanku.

Selama 15 menit, aku, omma, dan appa menyantap sarapan pagi dalam diam. Namun tiba-tiba appa membuka suara. “Kau akan ditunangkan, Cho Kyuhyun” ucap appaku dengan tegas.

Dia adalah orangtua paling kejam! Aku rasa dia benar-benar mau membunuhku! Apa-apaan ini? Dari tadi diam, sekali bicara langsung membuatku hampir mati spot jantung! “Ditunangkan? Shiro!” bantahku. Tentu saja. Siapa yang mau ditunangkan dengan orang yang tak kita cintai bahkan kita tak mengenalnya? Oh, please, ini bukan jaman dinasti lagi, kenapa aku harus ditunangkan?!

“Kau harus mau, Kyuhyun. Kau tak punya kuasa untuk menolak. Gadis ini tinggal sebatang kara. Kakek gadis ini telah menolong kakek di masa mudanya. Kakek berhutang nyawa pada kakek gadis itu dan ia telah berjanji akan selalu melindungi keluarga gadis itu. Kedua orangtuanya meninggal seminggu yang lalu dan oppanya hilang entah kemana dengan meninggalkan hutang yang banyak padanya. Anggap saja kau menolong orang lain,” ucap appaku menjelaskan, masih dengan tenang, meski aku tahu ia hanya berusaha menahan emosinya.

Aku mendengus kesal, “Lucu sekali. Kenapa kakek yang berhutang lalu aku yang membayarnya dengan pertunangan ini? Kenapa bukan kakek saja yang bertunangan dengan gadis itu?”

“Cho Kyuhyun! Jaga ucapanmu!” bentak appaku namun kali ini aku tak takut. Hal seperti ini sungguh sangat tak logis!

“Sampai kapan pun aku tak akan menerima perjodohan ini!” seruku menolak dengan tegas.

“Baiklah kalau itu pilihanmu, sekarang kemas barang-barangmu dan keluar dari rumah ini sekarang juga,” ucap Appa.

“What?! Bagaimana bisa appa tega mengusirku hanya karena gadis yang appa sendiri tak kenal?” protesku padanya. Aku tidak habis pikir appa bisa sekolot ini. Maksudku, dia memang kolot, hanya aku baru tahu stadium kekolotannya sudah stadium 4!

“Ini keputusan kakek. Appa hanya menjalankan bagian appa. Kurasa kau juga perlu ditempa seperti ini. Kau sudah terlalu lama hidup enak di luar negeri. Kau terlalu sering buang-buang uang. Appa harap, kau segera berubah pikiran dan kembali ke rumah dengan pribadi yang lebih baik,” ucapnya lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.

“Appa! Appa!” panggilku tapi ia tak menoleh padaku. Aku menatap omma yang masih ada disampingku. “Omma, tolong bujuk appa,” pintaku namun omma hanya menggeleng.

“Omma rasa keputusan appa ada benarnya. Kau berubah Kyuhyun, kau bukan anak baik omma yang dulu. Maaf, Omma tak bisa membantu,” ucapnya lalu pergi menyusul ayahku.

What? Jadi kalian lebih mementingkan gadis itu daripada anaknya? Oke, fine. Aku tak akan merubah keputusanku dan akan kubuktikan kalau aku bisa hidup tanpa kalian!

*****

Haish! Itukah yang disebut teman? Sudah kutraktir minum sampai uangku hanya bersisa 100.000 won, ia tak mengijinkanku tinggal di rumahnya? Dasar, semua orang memang penjilat!

Dengan soju yang masih ada ditangan kananku, aku jalan sempoyangan, luntang-luntung tanpa arah. Aku tak tahu harus pergi kemana.

“Hei, berikan dompetmu” paksa seorang pria mengerikan padaku. Ya ampun, sudah luntang-luntung begini, aku masih dipalak? Ternyata wajahku ini memang wajah orang kaya rupanya. Hahahaha.

“Ha? aku tak membawa dompet. Aku sedang dalam pelarian” jawabku bohong soal aku tak membawa dompet.

“Jangan bohong, kalau begitu berikan tasmu. Cepat!” bentak pria lainnya, yang tak kalah menyeramkan, sambil memaksa merebut tasku.

“Jangan. Berhenti!” cegahku.

“BRRAAK!!” suara pukulan terdengar sangat keras dan aku mendapati pria satunya sudah tergeletak lemah ditanah.

“Jjangmyun 3700 won. Belikan aku itu, aku akan membereskan yang seorang lagi” ucap yooja yang menghantam pria tadi. Aku terdiam, memandang yeoja itu dengan takjub. “Hei bagaimana?” tanyanya padaku.

Aku tersenyum geli mendengar penawarannya, “Ya, baiklah, aku akan mentraktirmu” jawabku dan dengan segera ia menghantam namja itu sekuat tenaga.

“Pergi kalian. Jangan hanya mencuri. Berusahalah bodoh!” omelnya pada para namja itu dan dengan segera mereka berdua kabur terbirit-birit. Dengan nafas yang tersenggal-senggal gadis itu datang menghampiriku, “Nah sekarang tepati jan..” belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ia tiba-tiba terjatuh. Untung, aku dengan gesit menangkapnya.

“Yaa, agasshi? Gwencana?” tanyaku sampil menepuk-nepuk pipinya. Aku khawatir. Kukira dia pingsan, ternyata dia hanya tertidur. Aku bisa mendengar suara dengkurannya yang kecil.

“YAA! Bagaimana kau bisa tidur seenaknya sampai membuatku khawatir!?” omelku meski aku tahu ia tak mungkin mendengarnya. Namun tanpa kusadari, aku tersenyum-senyum sendiri melihat gadis ini.

*****

Untung aku sedang tak terlalu mabuk, jadi aku bisa menggendongnya di punggungku, membawanya ke bangku taman terdekat, dan menidurkannya di atas pangkuanku. Aku memperhatikan wajah yang sedang tidur itu. Manis sekali ternyata. Ini pertama kalinya aku berdebar karena seorang gadis.

Banyak gadis di sekelilingku yang selalu kuperlakukan bak putri raja, tapi aku tak pernah menemukan seorang pun yang mampu membuat jantungku berdebar seperti ini, meski mereka sudah memelukku atau menciumku. Apa aku sedang jatuh cinta?

“Lapar…” erang gadis ini dan aku bisa mendengar suara perutnya berdemo minta makan. Aku tertawa cukup keras, namun untung aku sadar kalau suaraku bisa membangunkannya, jadi aku mengecilkan volume tawaku. Tanpa aku sadar, tanganku mulai membelai kepalanya. Aku pun mulai memperhatikan seluk beluk wajahnya. Aku seperti dihipnotis. Iblis sungguh menguasaiku. Dengan sendirinya, aku mendekatkan wajahku padanya. Tinggal sesenti lagi aku hampir menciumnya.

“KYAAA!!!” Gadis itu terbangun dan langsung berteriak. Aku yang kaget, reflek menjauhkan wajahku darinya. Gadis itu menatapku tajam. “Apa yang mau kau perbuat padaku,  Psycho?!” ujarnya sambil memukul lenganku. “Dasar mata keranjang! Gak waras! Playboy!” hinanya bertubi-tubi sambil memukulku bertubi-tubi pula.

“YAAAA! Hentikan! Kau tak tahu siapa yang sedang kau pukul ini haa?” bentaku sambil menahan kedua tangannya. Ia menatapku dari bawah ke atas. “Sudah tahu siapa aku?” tanyaku sambil menyunggingkan senyum penuh percaya diri.

“Aku tahu!” jawabnya mantap. Aku puas sekali mendengar jawabannya. Aku memang popular rupanya. “Kau itu hanya anak orang berada yang manja, yang selalu hidup dengan menghambur-hamburkan uang orangtuamu. Kau selalu menganggap dirimu hebat karena kau kaya. Iya kan?” lanjutnya yang membuatku ingin sekali menjahit mulutnya agar ia tak melanjutkan omongannya.

“Kau! Jaga omonganmu!” bentakku yang tak ia perdulikan.

“Harusnya kau tahu diri. Yang kaya itu orang tuamu! Bukan kau! Yang bekerja keras mendapatkan uang itu, mereka! Bukan Kau! Yang berhak untuk menghambur-hamburkan uang itu, mereka! Bukan kau!” ujarnya yang seakan menampar pipiku keras-keras. “Aish!! Aku paling benci dengan orang manja macam kau yang tidak bisa berdiri pada kedua kakimu sendiri, selalu bergantung dan menyebabkan penderitaan pada orang lain!” ujarnya lagi sambil bangkit dari tempat duduknya.

Aku merasa seperti terhipnotis olehnya. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Aku juga merasakan, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa yang sedang terjadi padaku?

“Tapi janji tetap janji. Aku tak mau cuma karena aku benci kau, aku kehilangan jjangmyun yang kau janjikan” lanjut gadis itu yang membuatku tertawa geli. Gadis itu mulai berjalan tapi aku tetap diam di tempatku hanya untuk memandangnya. “Yaa, kenapa kau masih duduk disitu? Ppaliwa! Aku tahu tempat yang enak buat makan jjangmyun!” seurnya yang lebih terkesan memerintah dan entah kenapa aku jadi sangat penurut begini. Aku berdiri dan berjalan mengikutinya.

“Aish! Kenapa kau jadi cowok lamban sekali?!” omelnya saat mendapati aku berjalan 3 meter dibelakangnya. Ia menghampiriku, lalu menggengam tanganku. “Aish! Kau tak tahu aku sudah hampir mati kelaparan? Ppali!” perintahnya lagi dan aku menurutinya lagi. Aku membiarkan ia menarikku kemana ia mau pergi dan aku hanya menatap tanganku yang sedang ia genggam dengan takjub. Baru kali ini aku merasa sebuah genggaman tangan ternyata bisa membuat jantung berdebar.

*****

“Aaahh.. kenyang!!” teriaknya puas setelah menghabiskan piring yang terakhir.

Aku memberikan applause untuknya karena ketakjubanku. “Hebaat! Daebak! Baru kali ini aku melihat seorang gadis makan 5 piring tanpa memperdulikan kalori, lemak, atau zat apalagi yang ada didalamnya!” ujarku takjub yang dibalas oleh senyum kemenangan darinya.

“Kau tahu? Aku sudah 2 hari tak makan. Terakhir kali pun aku cuma makan roti! Hebat sekali bukan?” ujarnya bangga padahal menurutku itu adalah hal yang mengenaskan.

Aku tertawa kecil karena tingkahnya. Aku melihat saos yang ada diujung bibirnya dan tanpa kusadari aku menghapus saos itu dengan jempolku lalu menghisapnya. Gadis itu menatapku tajam. Ia tak mengalihkan pandangannya meski aku sudah ganti menatapnya. “Kenapa kau menatapku seperti itu ha?” tanyaku bingung.

Ia memicingkan matanya padaku. “Itukah.. cara yang digunakan playboy sepertimu untuk memancing wanita?” tanyanya.

Oh-my! Gadis ini sungguh menyebalkan! Kenapa dia selalu negative thinking padaku?! Aissh! Bodoh sekali aku berdebar karenanya! Baru aku mau membalas pernyataannya, ia sudah menyela, “Aish.. Aku tak peduli kau playboy jenis apa, yang jelas kau harus bayar semua yang kumakan ini,” ujarnya. Aku dan gadis ini pun berjalan menuju kasir untuk membayar semua pesanan kami.

“6 jjangmyun, 2 teh hijau, jadi semuanya 200.000 won” kata penjaga kasir. Aku mengambil dompetku, mengeluarkan salah satu credit card, dan menyerahkan kepada penjaga kasir itu. “Tidak bisa tuan,” katanya yang tentu saja membuatku agak panik. Aku mengeluarkan credit card yang lain dan hasilnya pun sama. TIDAK BISA.

“Yaa, apa tak ada uang tunai?” tanya gadis itu. Aku memeriksa isi dompetku dan hanya kutemukan 100.000 won.

“Jadi bagaimana tuan?” tanya penjaga itu padaku.

Aku berpikir sebentar. “Aku hanya punya 100.000 won, sisanya kami bayar dengan tenaga kami. Kami bisa jadi pelayan atau cuci piring sampai nanti malam. Cukup kan?” tawarku. Penjaga kasir itu berdiskusi sebentar dengan manager restauranya dan ia pun menyetujuinya. Jadilah aku dan gadis ini sebagai tenaga cuci piring restoran.

*****

“Maaf,” ucapku tulus pada gadis ini. Aku merasa bersalah padanya. Meski ia menghinaku manja-playboy-psycho-gila atau hinaan lainnya yang sebagian besar memang aku banget, aku ini tetap seorang pria gentle yang seharusnya selalu menepati janji. Maka dari itu, aku meminta maaf padanya.

“Maaf untuk? Kurasa kau tak melakukan kesalah apapun,” ujarnya yang membuatku kaget. Apa gadis ini punya alzeimer?

“Yaa, aku baru saja tak menepati janjiku, agasshi” ujarku.

“No, you did. Kau sudah mentraktirku kan?”

“Tapi-”

“Sudahlah, kita bersihkan saja piring-piring ini ya,” ujarnya kemudian sambil mulai mengoleskan sabun ke piring-piring di hadapannya.

Aku menatap piring yang sedang aku pegang dengan bingung, “Ehm, tapi-”

“Apalagi sekarang?” selanya dengan nada kesal.

“Aku tak tahu caranya mencuci piring,” jawabku jujur. Aku ini tuan muda. Aku tak pernah masuk dapur selama ini. Ia menatapkan dengan mata yang membesar dan mulut yang sudah setengah terbuka. Ia terdiam.. dan detik berikutnya ia sudah tertawa terpingkal-pingkal. Aku tak tahu dimana sisi humor dari pernyataanku tadi sampai membuatnya tertawa seperti itu. Dia terlihat sangat cantik. Aish! Apa yang kupikirkan? Dia sedang menertawakan dirimu Cho Kyuhyun!

“Yaa! Berhentilah tertawa! Ini bukan hal yang patut dijadikan bahan tertawaan!” omelku kesal.

“Mi- mianhe, aku kelewatan. Baiklah, akan kuajarkan,” ujarnya sambil menepuk pundakku. Dia mencontohkan bagaimana cara mencuci piring. Mulai dari cara memegang piring, mengoleskan sabun sampai membilasnya.

Ternyata mencucui piring itu mudah dan menyenangkan. Sesekali ia mencipratkan air padaku dan kemudian kubalas atau menoelkan sabun padaku dan ku balas. Aaah, 5 jam terasa 5 menit jika aku bersamanya. Apa yang sedang terjadi padaku?

*****

“Gomawo, aku pergi dulu ya,” pamitnya begitu kami sudah selesai mencuci semua piring kotor yang ada di restaurant ini.

Entah mengapa, ada perasaan tidak rela dan sedih saat ia berpamitan. Aku melihantnya melambaikan tangan padaku dan mulai berjalan menjauh. Apa hanya berakhir seperti ini? Tidak.

“Tunggu!” panggilku dilangkahnya yang 7. Langkahnya terhenti dan ia menoleh ke arahku.

“Mworago?” tanyanya judes. Aish, gadis ini jutek sekali memang.

“A- a- aku belum tahu namamu,” ujarku jujur

“My name? I won’t tell you so you can’t bad mouth about me to others,” jawabnya. “Ani, tak ada hal yang buruk yang kulakukan,” lanjutnya. “Hal ini sangat menguntungkan bagimu, karena aku tak akan bisa memberitahukan siapapun tentang kau, pria playboy-manja-psycho pada orang lain,” ujarnya sambil tertawa puas. Aish! Gadis ini sungguh menyebalkan!

“Tunggu!” panggilku lagi saat ia hendak melangkah. Ia menoleh dan menatapku tajam, “Apa lagi?!” tanyanya.

“Aku ikut denganmu!” ujarku lalu menyusulnya.

*****

“Kau tidur.. disini?” tanyaku ragu saat ia membawaku ke tepi sungai Han. Ia mengangguk mantap.

“Untuk makan saja aku tak bisa, apalagi tidur di hotel,” ujarnya yang membuatku, tanpa sadar, menatapnya iba.

“Yaa, Aku tak perlu kau kasihani” omelnya padaku sambil meletakkan badannya di rerumputan yang beratapkan langit malam.

Aku pun meletakkan badanku disampingnya. Aku menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Indah. Ternyata bintang bisa terlihat sangat indah padahal selama di LA aku tak pernah memperhatikan hal-hal seperti ini. Aku tersenyum, menyadari bahwa hari ini aku mengalami suatu perubahan.

Hari pertama bersama gadis ini merubahku menjadi pria yang tak lagi berintrik. Ia membuatku kembali seperti anak kecil yang polos, yang  mengagumi kerlap-kerlip bintang.

“Hei, Aku rasa tidur disini bagus juga,” ujarku. Aku diam menanti tanggapannya namun ia tetap tak bersuara.

“Yaa Aggas-” baru saja aku mau menegurnya, tapi yang kudapati malah ia sudah tertidur lelap. “Aish, kau ini,” keluhku walau pada akhirnya aku menyunggingkan sebuah senyuman.

“Kira-kira besok apalagi yang akan aku alami bersamamu ya?” gumamku sambil menatap gadis yang tidur dengan lelap di sebelahku.

*****

Aku terbangun mendengar suara teriakan gadis itu di telingaku, “YAAA! SAMPAI KAPAN KAU MAU TIDUR, TUAN MUDA? KITA HARUS SEGERA MENCARI UANG!” Dengan gelagapan, aku bangkit dan menyusul gadis itu yang sudah berjalan cepat di depanku. Aku mensejajarkan langkahku dengan langkahnya. “Kita mau kemana?” tanyaku.

“Cari kerja,” jawabnya santai sambil menengok ke kanan dan kiri. “Ah, kesana,” katanya kemudian sambil berbelok ke kanan. Aku pun mengikuti langkahnya.

“Cari kerja kemana?” tanyaku lagi.

Ia terdiam sesaat. Memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri dan matanya terpaku pada salah satu toko yang ada diujung jalan sana. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menarikku dan membawaku ke restoran yang sejak tadi tak lepas dari pandangannya.

Aku memasuki restaurant itu dengan tatapan heran. Restaurant ini sama sekali tak menarik, baik arsitekturnya ataupun interiornya. Pengunjungnya pun sangat sedikit dan mayoritas adalah para pria setengah baya yang tampak seperti pengangguran.

“Kami mau bekerja disini. Apapun. Yang penting kami bisa dapat uang,” ujar gadis-yang-sampai-saat-ini-belum-kuketahui-namanya-siapa pada manager restauran itu. Aku membelalakan mataku saking tak percayanya dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulutnya. Aku yang tak mengerti jalan pikiran makhluk ini hanya memilih diam dan mengikuti permainannya. Mungkin akan ada hal positif yang kudapatkan –sugestiku pada diriku sendiri.

Manager itu menatap kami berdua dari atas kebawah lalu keatas lagi. Sebuah senyum tersungging diwajahnya. Aku tak melihat ketulusan di wajahnya namun aku juga tak bisa mengartikan apa maksud senyumannya itu. Yang ku tahu, gadis-yang..argh-pokoknya-itulah, sudah tersontak riang karena manager itu menerima kami berdua sekaligus.

Manager itu masuk ke dalam ruangannya dan tak beberapa lama kemudian ia keluar lagi dengan 2 tumpuk baju di tangannya. Ia memberikan baju itu padaku dan pada gadis itu –baiklah, mulai saat ini aku akan memanggilnya gadis ini, gadis itu, atau aggashi—. “Pakailah. 5 menit lagi kalian sudah harus siap untuk bekerja,” ujarnya.

*****

“Yaa! Kau! Bekerjalah yang benar! Jangan melamun!” bentak manager itu padaku. Ini sudah kesekian kalinya dalam 2 jam ini aku diomeli oleh manager itu dan gadis itu yang mendengar omelan manager itu menatapku dengan tatapan awas-kalau-kita-dipecat-karena-kau!

Aku mengacak rambutku frustasi. Aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Perhatianku tertuju pada gadis itu yang sedari tadi bolak-balik dapur-meja tamu dengan seragamnya yang.. Argh! Rok itu terlalu pendek untuknya! Membuat semua om-om itu menatapnya dengan tatapan pria hidung belang yang erggh! Menjijikan! Aku tak dapat mengontrol emosiku. Aku sudah kalap apalagi saat aku mendapati ada seorang om yang hendak menyentuh gadis itu.

Aku menghampirinya dan dengan gesit menahan tangannya sebelum sempat ia menyentuh gadis ini. Memelintir tangannya dan membuatnya berteriak kesakitan. Nyaris saja tangannya patah kalau saja gadis itu tidak menghentikan perbuatanku dengan teriakannya, “YAA TUAN MUDA!! HENTIKAN!”

“Mengapa kau lakukan hal itu?! Dasar kau! Pshycho! Tak waras!” entah hinaan apa lagi yang keluar dari mulut gadis itu. Aku tak menjawabnya. Aku berjalan di depannya dan tak memperdulikannya. Gadis itu memang tak ada lembut-lembutnya!

“Yaa! Kau!” pekik gadis itu sambil menarikku dan membuatku, membuat mataku dan matanya bertemu. Ia menatapku tajam dan hal itu membuat jantungku berdetak kencang. Aku menelan ludahku, berusaha mengabaikan debaran jantungku yang kian lama makin kencang karena gadis itu menatapku makin lama, makin lekat. “Tatap aku kalau aku sedang berbicara,” ujarnya tenang namun terkesan sangat dingin.

“Mengapa kau lakukan hal itu?” tanyanya masih dengan gaya bicara tenang namun dingin. Matanya membuatku tak bisa berpikir. “Aku punya alasan tersendiri,” jawabku sambil mengalihkan pandanganku darinya. Aku sudah tak kuat menahan debaran jantungku sendiri.

Aku hendak berjalan meninggalkannya langkahku terhenti saat aku sadar kalau dia masih belum melepaskan tanganku.

“Aku punya hak untuk tahu apa alasanmu,” ujar gadis itu yang membuatku mengacak rambutku frustasi.

“Pria itu mau menyentuhmu! Aku tak suka melihatnya! Dia pikir kau gadis sepeti itu?! Aku tak terima!” jawabku tanpa sadar dengan emosi yang sedari tadi kusimpan dalam-dalam.

Gadis itu melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan tanganku dan terpaku menatapku. Aku tak bisa menafsirkan jenis tatapan apa itu dan aku yang masih dirundung emosi tak sempat menerka-nerka untuk mengambil kesimpulan.

Aku meninggalkannya dan berjalan di depannya, belum sampai 10 langkah aku berjalan lagi-lagi ia memanggilku. “Apa?!” balasku ketus.

“Gomawo,” ujarnya singkat dan pelan sambil berjalan secepat kilat melewatiku. Aku menatap gadis ajaib yang sudah berjalan di depanku ini dengan takjub. Dia ajaib. Seenaknya saja berubah kepribadian. Kadang sangat kasar dan menyebalkan, kadang sangat seenaknya, dan kadang ia jadi begitu manis.

“YA KAU! LAMA SEKALI JALANNYA!” serunya saat mendapatiku sudah tertinggal jauh di belakangnya. Tuh kan, padahal sedetik lalu ia sangat manis tapi sekarang ia sudah kembali jadi begitu menyebalkan!

*****

Aku menatap langit malam yang tak terhalang oleh sebuah atap seperti rumah selayaknya. Cantik. Bintang-bintang itu sangat cantik. Tak hanya bintang-bintang itu, gadis disampingku ini juga sangat cantik.

Aku menatap gadis yang sedang tertidur disampingku itu. Aku menyingkirkan rambutnya yang terurai menghalangi mataku menjelajahi lekuk wajahnya yang tak sesempurna seperti para artis, namun ia tetap terlihat cantik dimataku.

Aku belai-belai rambutnya. Tiba-tiba aku tersenyum. Aku ingin menciumnya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya. Tinggal beberapa senti lagi aku akan menciumnya.

Namun, “Hachiiieem!” gadis ini memang tak ada romantisnya! Dia bersin disaat tak tepat. lalu memutar tubuhnya kearah yang berlawanan denganku dan menggosok-gosok lengannya dengan telapak tangannya. Dia kedinginan.

Aku bangkit dari alas tidurku dan menatap gadis ini sedih. Aku menatap sekelilingku mencari sesuatu yang berbau uang. Aku mengoptimalkan kerja indra penglihatan dan menciumanku lalu menemukan apa yang kucari.

*****

Hyejin POV

Aku bangun dari tidurku tanpa menguap sekali pun. Dengan segera aku bangkit dari alas tidurku dengan gerakan yang berlebihan karena aku tak melihat keberadaan pria manja itu disampingku.

“Kemana dia?” hanya itu pertanyaan yang berualang kali kutanyakan pada diriku sendiri dan aku tak mendapatkan jawabannya.

Aku segera melangkahkan kakiku dan membiarkan kaki yang membawaku, karena aku sendiri tak tahu harus mencarinya kemana.

Apa dia sudah kembali ke rumahnya? Pikiran itu tiba-tiba terlintas dipikiranku dan entah mengapa di rongga dadaku ini ada sebuah rasa sedih dan sakit.

“Hei Ratu bawel!” panggil seseorang yang membuatku segera membalikkan badanku ke sumber suara. Aku kenal suara ini. sangat kenal. Ia berjalan menghampiriku dengan wajah yang sumringah.

Aku menatapnya heran. Berusaha menerka apa arti senyumannya itu.

“TADAA!” pekiknya sambil memamerkan uang lembar Korea Selatan yang nominalnya 100.000 won. Aku menatap pria itu dan uang itu bergantian, dengan takjub.

“Kau dapat darimana?” tanyaku namun ia tak menjawab. Ia hanya tersenyum dan tiba-tiba saja ia menggenggam tanganku.

“Kita main sepuasnya hari ini! dan nanti kita akan menginap di hotel!” serunya riang lalu menarikku dan membawaku entah kemana.

Aku dapat merasakan perbedaan di tangannya. Tangannya terasa sangat kasar. Juga di bajunya tercium lekat aroma bahan bangunan. Aku melihat sekelilingku, berusaha mencari sesuatu yang terlintas di pikiranku and.. gotcha. Ada sebuah pembangunan di ujung sana. Pria ini baru saja menjadi kuli? Aku berusaha menyangkal pikiranku namun sepertinya tangannya yang jadi sangat kasar ini sudah cukup sebagai bukti kalau dia sudah bekerja keras. Dan saat itu juga, aku menyadari kalau jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang berkat pria ini.

*****

Kami berdua menatap uang yang tersisa di tangan kami dan hotel yang ada dihadapan kami bergantian dengan ragu. Aku menghela nafas panjang dan membuat keputusan.

“Mau bagaimana lagi? Uang kita hanya cukup untuk di hotel ini,” ujarku yang dengan cepat disanggah olehnya.

“Uang kita bahkan hanya cukup untuk memesan satu kamar saja,” ujarnya yang lagi-lagi membuat kami menghela nafas bersamaan.

“Bagaimana lagi? Kau terlalu asik bermain game tadi,” omelku

“Apa kau tak ingat seberapa banyak makanan yang sudah masuk keperutmu itu, ha?” tanyanya yang tak bisa kulawan karena kenyataannya, uang itu memang lebih banyak habis untuk membayar semua makanan yang sudah terlanjur masuk ke perutku.

*****

Aku menatap pria yang sedang tidur di sova kamar hotel ini. Entah setan apa yang merasuki tubuhku, yang jelas setan itu membawaku untuk turun dari tempat tidurku dan berjalan menghampiri pria itu.

Aku terduduk di lantai agar posisi wajahnya sejajar denganku. Aku menatap lekat wajahnya. Menelusuri lekuk wajahnya yang sempurna, tak kalah sempurna dengan wajah para model papan atas Korea.

Mataku tak bisa lepas darinya, aku terus menatapnya sambil membelai puncak kepalanya. Namun tiba-tiba saja pria itu membuka matanya dan mata kami bertemu. Reflek, tanganku yang sedang membelai tadi berubah fungsi jadi memukulnya pelan. “Ada nyamuk,” ujarku berusaha setenang mungkin. Dan dengan segera aku kembali ke tempat tidur sebelum ia melihat wajahku yang secara otomatis berubah warna jadi merah.

*****

Kyuhyun POV

Aku bangun dari tidurku dengan semangat, bahkan tanpa menguap. Aku baru saja mimpi indah. Semalam aku bermimpi gadis itu berada sangat dekat denganku dan membelai kepalaku. Mimpi itu terasa sangat nyata karena dalam mimpi aku seakan bisa merasakan hembusan nafasnya. Andaikan saja itu bukan mimpi.

Setelah kami bersiap-siap, kami segera check out dari love hotel ini. Gadis itu merenggangkan badannya begitu keluar dari hotel lalu menghirup dalam-dalam angin pagi yang sejuk ini.

“Baiklah, karena kau kemarin sudah bekerja untukku, hari ini giliranku,” ujarnya padaku.

“Apa yang mau kau lakukan?” tanyaku penasaran sekaligus sedikit khawatir karena otak gadis ini memang agak sedikit tidak benar.

“Aku melihat ada sebuah kantor yang sedang dibangun di jalan ini. Mungkin saja mereka membutuhkan tenaga bantuan. Uangnya lumayan untuk menyambung hidup,” jawabnya.

“Kau mau melamar jadi apa memang?”

“Kuli,” jawabnya

Jawaban yang sangat mengagetkanku dan membuatku kesal. Gadis ini pasti gila. Aku menarik tangannya yang otomatis jadi menghentikan langkahnya. “Kenapa?” tanyanya.

“Kau tidak bisa bekerja seperti itu,” seruku

“Mengapa tidak? Kemarin kau bisa. Kenapa aku tidak? Lagipula uangnya cukup besar!” balasnya. Darimana ia tahu aku bekerja sebagai kuli kemarin? Aish, kupikirkan hal itu nanti.

“Kau ini wanita,” ujarku yang tetap saja tak ia perdulikan.

“Aku mau bekerja sebagai kuli. Tititk,” ujar gadis itu yang sekali lagi membuatku kesal bukan main.

“Kau tidak bisa bekerja seperti itu. Dan kau tak kuijinkan. Ikut aku!” jawabku lalu memanggil taksi. Aku harus membawanya pulang dan mewaraskan pikirannya. Aku tidak peduli jika sampai di rumah Appa akan memarahiku dan yang lebih parah, langsung menikahkanku dengan gadis pilihan kakek.

*****

“Jiyeon-ssi!!!!” teriakku memanggil pelayanku sambil memegang gadis yang terus memberontak di sampingku. “Lepaskan! Lepaskan aku!!!!” teriak gadis itu tidak kalah kencang dari teriakanku tadi.

“Berhentilah berteriak. Suaramu akan menghebohkan satu rumah ini,” kataku padanya.

Gadis itu tidak peduli. Dia justru berteriak semakin kencang, “AKU TIDAK PEDULI! AKU MAU PULANG! LEPASKAN AKU!”

Aku tiba-tiba meneriakinya, “DIAM! AKU HANYA INGIN MENOLONGMU!” Emosiku sudah mencapai puncaknya. Gadis itu diam, tidak bergerak sama sekali. Dia hanya memandangku dengan kesal dan menahan air mata keluar dari matanya. “Maaf,” ucapku kemudian dengan lembut.

Jiyeon tidak kunjung datang. Aku pun memanggilnya sekali lagi, “JIYEON!!!!” Bukan Jiyeon yang datang melainkan ibuku yang muncul. Beliau muncul dengan tampang wibawanya yang seram. Gadis yang bersamaku pun langsung bersembunyi di balik tubuhku.

“Ada apa teriak-teriak di rumah pagi-pagi begini?!” serunya sambil memandangku dengan kesal. “Kau selalu saja merepotkan, Kyu!”

Aku tidak mendebat ibuku. Aku butuh Jiyeon. “JIYEON! SINI CEPAT! LAMA SEKALI SIH!!!!” teriakku kesal. Jiyeon datang tidak lama kemudian tapi dihadang oleh ibu.

“Tutup mulutmu, Kyu. Kau tak berhak lagi bersuara di rumah ini kecuali kau mau dijodohkan dengan…”

“Aku mau dijodohkan dengan siapapun yang Appa dan Omma inginkan asal kalian mau membantuku,” selaku. Aku menyingkirkan badanku yang menyembunyikan seorang gadis di belakangku. “Aku mohon Omma menolongnya,” ucapku kemudian.

Omma menatap gadis itu dengan mata membelalak. Mulutnya menganga lebar. “Hyejin?” tanyanya kaget.

“Ba…bagaimana Anda bisa tahu nama saya?” tanya gadis itu tidak kalah kagetnya dengan Omma.

Omma berjalan menghampiri gadis yang ternyata bernama Hyejin itu dan memeluknya dengan erat. “Hyejin, akhirnya kami menemukanmu. Kemana saja kamu, Nak? Aku dan ahjussi sudah lama mencarimu,” ujar Omma yang membuatku lebih kaget dari mereka berdua. Ada apa ini sebenarnya?

*****

Kami berempat berkumpul di meja makan, melahap makanan kami dalam diam. Namun tiba-tiba omma membuka suaranya.

“Mulai hari ini kau bisa tinggal di rumah ini Hyejin sayang,” kata ommaku dengan lembut. Aku menatap Hyejin yang duduk di sebelahku. Ia menghentikan proses makan-nya dan meletakkan mangkuk di meja makan.

“Gamapseumnida ajjuma, tapi aku tak bisa menerimanya jika itu gratis,” ujar Hyejin yang membuatku sesaat terkagum-kagum padanya.

“Kau tidak perlu merasa sungkan Hyejin,” ujar appaku tegas namun lembut. Beda sekali caranya seperti saat berbicara denganku.

“Aku tak akan tinggal di rumah ini jika dengan cuma-cuma,” ujar Hyejin tegas namun tetap hormat. Omma appaku tampak saling melirik, bingung mau memberi keputusan apa.

“Bagaimana kalau Hyejin jadi sekretaris pribadiku saja?” usulku yang membuat Hyejin menatapku dengan tatapan apa-apaan-kau! Berbanding terbalik dengan kedua orangtuaku yang menataku dengan tatapan ide bagus!

“Tugasnya sangat mudah. Kau hanya perlu mengatur jadwal dan mengikuti semua instruksiku,” jawabku yang tentu saja langsung disetujui omma dan appa dan tentu saja membuat Hyejin tak bisa menolak. Hahahaha

*****

Ini sudah hari ke 7 Hyejin bekerja sebagai sekretaris pribadiku. Tak ada yang berubah diantara kami. Dia tetap kasar seperti sebelumnya dan aku tetap saja berdebar tiap kali melihatnya.

“Yaa! Cho Kyuhyun!” seru sebuah suara yang kukenal sebagai, Song Hyejin bersamaan dengan pintu ruanganku yang terbuka. Belum sempat aku menelan kopiku, aku sudah lebih dulu tersedak dan terbatuk-batuk berkat gadis itu.

Mataku tak bisa lepas darinya padahal ini bukan pertama kalinya aku melihatnya dengan pakaian kantoran seperti itu. Dia sangat cantik dengan kemejanya dan jas hitam yang pas ditubuhnya. Rambut yang diikat kebelakang membuat leher jenjangnya terlihat makin jelas. serta stiletto cokelat setinggi 7 cm kepunyaan Pierre Cardin membuat tubuhnya semakin tinggi semampai.

Aku menelan ludahku. Bersikap sesantai dan se-bossy mungkin untuk mengkamuflase debaran jantungku yang kian lama makin cepat.

“Mana pesananku?” tanyaku. Ia menatapku kesal dan meletakan sebuah piring berisi sandwich di mejaku.

Aku menatap sandwich ini lekat-lekat dan menciuminya pula. Sepertinya ada yang beda dengan yang biasa dibuatkan oleh Jiyeon. Ada bau wine kesukaanku di sandwich ini.

“Aku menambahkan wine kesukaanmu,” ujarnya, seakan dia tahu apa yang sedang kupertanyakan dalam hati.

“Bagaimana caramu tahu kalau ini wine kesukaanku?” tanyaku penasaran.

Ia menunjuk tong sampah di ruanganku, “Botolnya selalu ada di tong sampahmu, lagipula dari tubuhmu tercium lekat aroma wine itu,” jawabnya yang membuatku sedikit berharap.

“Hyejin,” desisku. Ia menatapku lekat, begitu pula aku, “Apa kau menyukaiku?” tanyaku. Terdiam. Hening selama beberapa menit. Hyejin tak menjawab namun wajahnya seketika berubah jadi merah.

“A.. a.. mo.. molla! Pertanyaan macam apa itu?! Kau sakit! Dasar pshyco!” gerutunya lalu bergegas meninggalkan ruanganku. Namun sebelum ia sampai diambang pintu, aku menahannya dan menariknya dalam pelukanku. Aku tak tahu setan apa yang sedang merasukiku, namun yang jelas aku sangat ingin memeluknya saat ini. dia terlalu manis. Perasaanku sudah meluap.

“Yaa Kau lepaskan Pshycho!” teriaknya sambil meronta berusah lepas dariku.

Bukan melepaskan, malah aku memeluknya makin erat. “Biarkan seperti ini, sebentar saja,” gumanku tepat ditelinganya. Perlawanannya mengendor. Ia tak berkata apapun dan tak membalas pelukanku namun aku dapat merasakan kehangatan mengalir kesetiap pembuluh darahku. Dapat kurasakan jantungku dan jantungnya berdebar dengan kencang dan pada tempo yang berbeda membentuk suatu beat yang sangat kacau, namun terasa sangat manis.

“Cho Kyuhyun,” seru appaku bersamaan dengan pintu ruanganku yang dibuka tiba-tiba. Sontak Hyejin segera mendorongku.

Aku rasa appa pasti melihat apa yang baru saja terjadi. Namun anehnya, kenapa kali ini dia tidak marah? Bahkan ia mengajak kami untuk makan siang bersama.

“Kebetulan sekali ada Hyejin, kita makan siang bersama ya,” ujar appaku

*****

Kami berempat makan dengan tenang, namun atmosfer itu berubah tepat saat appa berkata, “Sebenarnya kalian ini adalah tunangan,”

Aku dan Hyejin yang sedang dalam proses menelan makanan, tersedak dibuatnya.

“Ditunangkan?” tanya kami berdua bersamaan

“Maksud appa, gadis yang seharusnya ditunangan denganku itu.. Hyejin?” tanyaku yang dijawab dengan anggukan mantap oleh appa

*****

Hyejin POV

Berita ini sungguh mengejutkan namun di dalam hatiku tidak ada pemberontakan, justru entah mengapa terselip rasa bahagia.

Sejak kecil aku tahu aku memiliki tunangan. Dulu aku sangat menolak hal ini, namun kalau Kyuhyun orangnya.. mungkin aku mau menjalaninya.

Kyuhyun bangkit dari tempat duduknya dan membungkuk, “Mianhe, omma, appa, aku tak bisa menerima pertunangan ini,” itulah kalimat yang baru saja keluar dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Sebuah kalimat yang dapat membuat pikiranku jadi kosong, dadaku sakit, tangaku mendingin, dan tanpa kusadari air mata mengalir dari mata kananku.

Aku tak tahu apa yang terjadi. Semuanya terasa seperti mimpi kecuali saat aku mendengar suara tamparan yang terdengar sangat jelas.

“APA-APAAN KAU INI?!” pekik ajjusi. Ia sudah nyaris menampar Kyuhyun untuk kedua kalinya.

“Hentikan, ajjushi,” gumanku. Ajjuma, ajjushi, dan Kyuhyun menatapku dengan tatapan campur aduk. Lirih, sedih, iba, kesal, marah, dan entah jenis tatapan apalagi itu.

“Kalau Kyuhyun memang tak mau, aku tak masalah,” ujarku. Aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi meninggalkan mereka setelah membungkuk mengucapkan salam.

*****

Kyuhyun POV

“Hyejin tunggu!” teriakku sambil berusaha mengejarnya namun appaku malah menahanku.

“Buat apa kau mengejarnya? Untuk membuatnya sakit hati lagi?!” seru appaku sambil menarik kerah kemeja. Mungkin dia satu-satunya appa di dunia ini yang bergitu kasar pada anaknya, namun aku tahu dia seperti itu untuk mendidikku menjadi pria yang dewasa.

“Appa, omma, dan Hyejin salah paham,” ujarku yang membuat omma appa menatapku bingung.

“Aku membatalkan pertunangan ini, karena aku ingin mengejar Hyejin dengan usahaku sendiri. Aku mau dia menikah denganku atas dasar cinta, bukan karena ikatan perjodohan kedua kakek kami. Asal appa tahu, aku sangat mencintainya,” ujarku yang membuat appa melepaskan tangannya dari kerah bajuku.

“Lalu sekarang bagaimana? Hyejin sudah menangis sepert itu,” ujar appa yang membuatku ikut khawatir

“Bukankah itu tanda kalau dia juga mencintaimu? Dia shock karena kamu menolak pertunangan ini kan?” ujar ommaku yang dengan segera membangkitkan semangatku. Aku bangkit dari tempat dudukku dan segera bergegas meninggalkan restaurant itu. Tak lupa aku mencium ommaku, wanita yang paling cerdas yang pernah kutemui.

*****

Sudah berkeliling aku mencari Hyejin. Namun aku sama sekali tak melihat batang hidungnya! Kemana dia selarut ini?! frustasi. Aku meneguk wine kesukaanku sambil menajamkan indra penglihatanku.

“Hei, berikan dompetmu” paksa seorang pria mengerikan padaku. Ya ampun, apalagi ini? apa kau tak tahu aku sedang sibuk mencari Hyejin?

Aku tak menggubrisnya, dan berjalan melewatinya namun sepertinya pria itu tak mau menyerah. Ia justru mengancamku dengan pisau sekarang.

“Aku tak membawa dompet,” jawabku bohong.

“Jangan bohong! Dari gayamu kau terlihat sepeti orang kaya! Meski kau tak bawa dompet kau pasti punya barang berharga! Cepat!” bentak pria lainnya, yang tak kalah menyeramkan, sambil mendekatkan mata pisau itu ke pipiku.

Namun..  “BRRAAK!!” suara pukulan terdengar sangat keras dan aku mendapati pria satunya sudah tergeletak lemah ditanah.

“Jjangmyun 3700 won. Belikan aku itu, aku akan membereskan yang seorang lagi” ucap yooja yang menghantam pria tadi. Aku terdiam, memandang yeoja itu dengan takjub. “Hei bagaimana?” tanyanya padaku.

Aku tersenyum geli mendengar penawarannya, “Ya, baiklah, aku akan mentraktirmu” jawabku dan dengan segera ia menghantam namja itu sekuat tenaga.

“Pergi kalian. Jangan hanya mencuri. Berusahalah bodoh!” omelnya pada para namja itu dan dengan segera mereka berdua kabur terbirit-birit.

Gadis itu menghampiriku dan menatapku tajam. “Tepati janjimu. Aku tak mau karena aku benci padamu, aku jadi kehilangan jjangmyunku,” ujarnya. Ia lalu menarikku restaurant jjangmyun yang sama seperti yang dulu pernah kami datangi.

Ia melahap jjangmyun yang ada dihadapannya dengan lahap. Gadis ini memang rakus! Aku tertawa geli melihat tingkahnya.

“Mwo?” tanyanya dengan nada kesal. Aku melihat ada saos diujung bibirnya. Aku bangkit dari tempat dudukku dan mengusap saos itu, bukan dengan ibu jariku melainkan dengan bibirku.

“Saranghae, Song Hyejin. Jeongmal Saranghae,” bisikku tepat diteliganya.

Namun reaksi Hyejin sama sekali tak seperti yang kubayangkan. Kupikir ia akan senang, namun ia malah menangis.

“Ya, ya, kau kenapa Hyejin-ah?” tanyaku sambil mengusap air mata yang mengalir dipipinya dengan ibu jariku.

“Kau pembohong!” pekiknya parau. “Kalau kau mencintaiku kenapa membatalkan pertunangan ini?!” lanjutnya . Oh, jadi itu alasannya menangis?

Aku menyunggingkan sebuah senyum padanya,“Karena aku ingin, kau menikah denganku bukan karena ikatan perjanjian kedua kakek kita. Melainkan karena kau sendiri yang menginginkanku. Sama seperti aku sangat menginginkanmu,” ujarku yang kuakhiri dengan kecupan di keningnya.

“Jeongmal saranghaeyo Hyejin,”

“Na.. na.. nado,”  balas Hyejin gelagapan, salah tingkah.

*****

Hyejin POV

“CHO KYUHYUN! SONG HYEJIN! APA-APAAN KALIAN BERDUA?!” aku mendengar suara teriakan ajjushi yang sontak membuatku terbangun. Aku menguap sekali lagi lalu  menggosok-gosok mataku  sambil berusaha mencerna kembali apa yang ajjusi katakan tadi.

Berdua? Cho Kyuhyun? Kyuhyun?! Dengan kilat aku sudah mencapai kesadaran penuh, dan menoleh ke sisi sampingku dan mendapatkan Cho Kyuhyun sedang tertidur lelap.

Aku menatap Kyuhyun dan ajjushi bergantian. Ajjushi menatapku dengan tatapan meminta penjelasan. “Ajjushi, ini.. kami.. aku.. Argh!! Kami tak melakukan apapun ajjushi. Percayalah,” ujarku memohon.

“Aish! Kau Cho Kyuhyun bangun! Mengapa kau bisa sampai di kamarku?!” seruku membangunkannya. Alih-alih bangun, ia hanya menggeliatkan badannya, merentangkan tangan lalu menarikku ke dalam pelukannya  dan kemudian ia menciumku. Habislah kau, Cho Kyuhyun.

“YAAAAAAA!!!!” teriak ajjushi yang kurasa mampu membuat seluruh penghuni rumah ini dari lantai satu hingga lantai 3 terbangun.

Kyuhyun pun terkejut dan segera melepaskanku dari tangannya. “Appa,” gumannya pelan, salah tingkah. “Mianhe,” ujarnya kemudian yang dibalas dengan tatapan tajam dari tuan Cho.

“Jangan mancam-macam! Kalian ini masih tunangan! Belum suami istri! Kalau mau segera tidur sekamar, makanya segeralah menikah!” seru ajjushi yang tak bisa kami lawan dan hanya bisa mengucapkan, “Mianhe,”

“Kalau sudah tahu, kenapa Kau, Cho Kyuhyun, masih disini?!!!” seru ajjushi lagi yang membuat Kyuhyun salah tingkah dan bergegas meninggalkan kamarku ini. namun sebelum ia benar-benar keluar dari kamarku, ia kembali lagi dan dengan secepat kilat ia mencium bibirku.

“YAA KAU CHO KYUHYUN! DASAR TAK TAHU MALU!” seru ajjushi sambil melepaskan sepatunya dari kakinya. Sebelum ia benar-benar di timpuk oleh sepatu itu, Kyuhyun segera berlari kembali menuju kamarnya.

Ajjushi yang sedari tadi berseru-seru kesal pada Cho Kyuhyun, kini menatapku sambil tersenyum.

“Hei, kapan kalian menikah? Appa tak sabar menggendong cucu,” ujar appa yang hanya bisa kubalas dengan senyuman pasrah.

“Aku akan menikahinya secepatnya appa!” teriak Kyuhyun dari kamar seberang yang membuatku berbunga-bunga.

Mungkin perkataan tadi bukan lamaran resmi, namun aku menganggap statementnya barusan adalah lamaran paling manis.
Tak kusangka cowok playboy, manja, pshyco itu kini telah berubah menjadi pria dewasa, gentle, dan romantis. Saranghae Cho Kyuhyun.

END.