By : @esterong

Cast:

Choi Siwon

Kang Hamun as YOU🙂

 

Supporting cast:

Lee Donghae

Hyemi

Si Bos

******

 

Aku duduk sambil menatap TV di ruang kantorku dengan tidak bernafsu. Aku melihat channel yang sedang menayangkan acara talk show dengan bintang tamunya yang sangat cantik. Tidak, tidak, kata itu kurang pas. SEMPURNA. Itu baru cocok. Namanya Kang Hamun, artis muda yang sedang naik daun.

“Ah tidak. Aku paling suka bertemu dengan fansku. Aku mencintai mereka melebihi diriku sendiri,” katanya sambil tersenyum anggun saat MC menanyakan apa dia lebih senang diam di rumah daripada menghadiri sebuah acara jumpa fans. Image-nya sebagai artis yang baik, religius, rendah hati, pintar dalam akademik maupun non akademik, dan multitalented, nyaris tak bercacat, membuat semua orang suka padanya, kecuali AKU dan semua pegawai yang bekerja di agensi yang membesarkan namanya ini. Alasannya adalah karena kami tahu siapa dia sesungguhnya.

Kang Hamun bukanlah gadis yang baik yang dielu-elukan di seluruh pelosok negeri ini. Dia juga bukan gadis rendah hati seperti yang dikatakan semua media. Dia hanyalah gadis dingin, egois, dan bermulut tajam. “Lakukan yang benar! Mengapa hal seperti ini saja kau tak bisa?! Kau akan kupecat!” teriak seorang gadis dari ruangan sebelah. Aku tahu siapa pemilik suara itu, Kang Hamun. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan berusaha mengabaikan hal itu. Aku tak mau ikut campur. Aku tak mau berurusan dengan gadis itu. Baru dua tahun ia menjadi artis agensi ini tapi sudah ratusan kali ia gonta-ganti manajer. Alasannya? Tidak ada yang tahan dengan Kang Hamun. Semoga aku tidak menjadi korbannya yang ke-entah berapa.

*****

Aku sedang menyelesaikan konsep panggung konser BoA saat atasanku tiba-tiba menelepon, “Choi Siwon, mulai besok kau akan menggantikan nona Hyerin. Kau akan jadi manajer Kang Hamun. Dan mulai besok kau akan tinggal di apartemen nona Hamun,” Hanya itu, lalu sambungan telepon pun terputus. Aku menatap ponselku lama lalu menghembuskan nafas panjang. Tuhan rupanya sudah mengirimkan malaikat pencabut nyawa-nya untukku.

*****

Ini baru hari pertama. Aku melirik jam tanganku dan mendecakkan lidah ku karena kesal, “Tsk! Cih”. Aku sudah 15 menit lebih berdiri di depan pintu ini dan ini sudah kesekian kalinya aku menekan bel apartemen mewah ini tapi dia belum muncul juga. “HAISH!!! DIMANA GADIS ITU!?” umpatku emosi, membuatku menekan bel itu berulang kali dengan frekuensi yang lebih cepat.

“YAA!! SIAPA SIH? KURANG AJAR SEKALI!!!!” teriak seorang gadis, bersamaan dengan pintu yang baru saja dibuka.

“Aku sudah lebih dari 15 menit berdiri disini,” balasku sebelum ia mulai membuka mulutnya untuk mengomeliku. Kang Hamun hanya menatapku dengan takjub. Bukan karena aku tampan tapi aku yakin akulah orang pertama yang berani menantangnya. “Aku manajer barumu, namaku Choi Siwon. Mulai hari ini aku akan tinggal disini dan mengurusmu,” ujarku lalu mengangkat barangku dan melenggang masuk ke dalam apartemennya meski ia belum mempersilahkannya.

“YAA!!” teriaknya sekali lagi sambil menarik lenganku, membuat berbalik dan mata kami bertemu. Ia menatapku penuh kebencian. “Jangan bertingkah seenaknya! Kau bisa saja kupecat sekarang juga!” pekiknya.

Aku berkacak pinggang sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang akan menjadi mimpi buruknya. “Kau yang jangan seenaknya, Nona. Aku tidak sama dengan manajermu yang sebelum-sebelumnya. Kau artis, aku manajer. Itu berarti aku yang mengaturmu. Bukan sebaliknya,” ujarku dengan memberikan penekanan ditiap kalimat yang kulontarkan. Hal itu membuat matanya membesar tanda shock dan tidak percaya.

*****

“Sepatu ini tak cocok untukku. Ganti,” perintah gadis itu pada suatu hari. Sudah kesekian kalinya dalam 10 menit ini, aku bolak-balik sambil membawa berbagai jenis sepatu untuk dikenakan nona iblis itu. Aku tahu, ia memang sedang mengerjaiku. “Ini terlalu tinggi! Bagaimana kau ini?!” bentaknya yang membuat emosiku naik.

Aku menatap matanya lekat tanpa keraguan apalagi ketakutan. “Kau pakai ini. Titik.” ucapku tegas sambil memberikan sepatu terakhir yang aku pegang lalu meninggalkannya yang sudah menganga tak percaya dengan perbuatanku. Tuhan, kalau Kau ingin mencabut nyawaku, Aku mohon jangan sampai seperti ini caranya.

*****

Aku mengemudikan mobil ini menuju apartemen nona Hamun begitu jadwal syuting selesai. Aku ingin segera menempel dengan kasurku. Tapi semua itu hanya mimpi selama aku masih bersama iblis ini.

“Hei, antarkan aku ke Itaewon sekarang,” pinta gadis yang sedang duduk manis di bangku penumpang. Sebuah permintaan yang menurutku cukup berbahaya dan membuatku bertanya lebih lanjut tentang apa yang akan ia perbuat, “Kau mau apa?” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponselnya itu, ia menjawab, “Bukan urusanmu.” Gadis ini sangat menyebalkan. Aku menghela nafasku panjang guna menstabilkan emosiku. “Aku masih manajermu, itu berarti kau masih di bawah pengawsanku,” jawabku yang membuatnya menatapku benci meskipun hanya sebentar.

Ia memalingkan lagi wajahnya dariku. Aku yang sedang membawa mobil, menoleh ke arah gadis itu. Aku mendapatinya sedang tersenyum kecil sambil menatap ponselnya. Sebuah senyum yang tak pernah kubayangkan bisa tersungging di bibirnya. Apa yang bisa membuatnya tersenyum? Aku ingin tahu.

“Berhenti!” pekiknya dan reflek, kakiku menginjak pedal rem mobil itu. “Aku turun disini! Kau jangan mengikutiku!” bentaknya lalu turun dari mobil dengan membanting pintu mobil ini.

Aku mendengus kesal melihat tingkahnya. Sungguh menyebalkan. Tak henti-hentinya aku mengumpat kesal dalam hati, sampai aku tak sengaja melihat ponsel gadis itu tertinggal di bangku tempat ia duduk tadi. Aku menatap ponsel itu lama. Aku penasaran kenapa sebuah ponsel bisa membuat Hamun tersenyum. Entah setan apa yang masuk dalam diriku yang mendorongku untuk membuka dan melihat isi ponsel itu.

“Aku sudah menunggumu di Itaewon, Hamun. Cepatlah datang, J — Lee Donghae”

“Aku sudah dekat jagi. Huaa senang rasanya bisa kencan seperti orang biasa malam ini. *aku deg-degan. Apa kau juga? saranghae — Kang Hamun,”

Aku membaca percakapan antara Hamun dan pacarnya. Tanpa aku sadari, aku tersenyum sendiri. Ada satu hal yang baru kuketahui tentang dirinya. Ia cukup… menarik? Apa itu kata yang tepat? Entahlah. Yang pasti ketertarikan ini membuatku keluar dari mobil dan mencari sosoknya.

Cukup mudah untuk menemukannya karena hanya dia yang menggunakan coat dan topi di musim panas seperti ini. Aku berjalan 7 meter di belakangnya memperhatikannya berjalan dengan seorang pria disampingnya. Gadis itu tersenyum ceria dan tulus. Tak ada kepalsuan. Ia berhenti di salah satu stand aksesoris yang menjual pernak-pernik murah, tidak bisa dibandingkan dengan perhiasan yang selama ini ia kenakan. “Pria itu mau membelikan barang seperti itu untuk Hamun? Kurasa pria itu sedikit tidak waras,” batinku. Hamun pasti menolaknya, pikirku — namun ternyata, hanya dengan sebuah cicin manik-manik murahan yang diberikan pria itu, Hamun bisa tersenyum lebar yang tulus dan hangat. Senyuman paling manis yang membuatnya terlihat sangat, sangat, sangat cantik. Kusadari, saat itu juga jantungku sudah berdebar kencang.

*****

Sudah 2 bulan aku menjadi managernya, ia tetap tidak menunjukan sikap bersahabat padaku. Bukan hanya padaku, namun juga pada semua pegawai di kantor agensi dan bahkan ia bersikap seperti itu pada orang tuanya. Tapi saat ia bersama pria bernama Lee Donghae itu, ia seperti berubah 180 derajat. Apa dia berkepribadian ganda? Aku jadi bingung.

“Kau mau kemana?” tanyaku pada Hamun saat ia keluar dari kamar dengan dress berwarna peach, yang membuatnya terlihat sangat manis, dan jujur saja, hal itu membuat mataku tak bisa lepas darinya. Sebenarnya, tanpa bertanya pun, aku sudah tahu kemana dia akan pergi : menemui Lee Donghae.

“Apa aku perlu melaporkan segala sesuatunya padamu?” tanyanya sinis. Aku sudah sangat terbiasa dengan hal ini. “Tentu saja, sudah berulang kali kukatakan, kalau aku ini adalah manajermu,” jawabku enteng. Ia menatapku geram.

“Terserah! Pokoknya aku mau pergi!” pekiknya.

Aku bangkit dari tempat dudukku, lalu mengambil jaket kulitku, “Aku ikut,” sahutku yang membuatnya makin geram. “Kalau kau tak memperbolehkan aku ikut, kau tak akan kuizinkan pergi,” ujarku dengan nada sedikit mengancam. Aku bisa mendengar suara hentakan kaki gadis itu. Dia pasti tak rela ada obat nyamuk di kencannya. Asal dia tahu, aku lebih tak rela kalau ia bersama Donghae.

*****

Gadis ini memang benar-benar mau bertemu dengan Donghae. Ia tadi menyuruhku mampir ke sebuah toko kue sebelum sampai di apartemen Donghae. Ia membeli sebuah kue tart kecil yang bertuliskan Happy Anniversary. Apa mungkin hari ini adalah hari jadian mereka? Tiba-tiba dadaku terasa sakit. Aku mengacak rambutku frustasi dan memutuskan untuk mengikuti Hamun.

Aku berdiri 15 meter dibelakangnya, tepat dibalik sebuah lemari  pajangan besar yang terletak di lorong apartemen ini. Dari tempatku berdiri aku bisa melihat Hamun berdiri terpaku di depan salah satu kamar apartemen. Aku melihat Ia sedang menahan air matanya agar tidak meluap. Tubuhnya bergetar berusaha menguatkan dirinya sendiri. Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis?

Aku mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya, dan tanpa sengaja, aku mendengar sebuah percakapan dari dalam ruangan tepat dimana aku dan Hamun sedang berdiri di depannya. “Hyemi, kurasa hubungan ini tidak bisa kita lanjutkan. Aku masih kekasih Hamun, sayang,” ujar seorang pria yang aku kenal suaranya sebagai, Lee Donghae.

“Memang kenapa kalau kau adalah kekasih Hamun?” jawab gadis yang bernama Hyemi santai, “Aku sudah bosan mengalah dengannya, aku mengenalmu sebelum Hamun. Aku juga sudah mencintaimu sebelum Hamun mengenalmu. Dan di saat seperti ini, juga aku yang bisa berada disisimu. Ia hanya memikirkan karirnya.

“Kalau begitu, bagaimana maumu?” sahut Donghae. Hening sejenak dari dalam kamar itu.Kita seperti ini saja dulu. Lumayan kita bisa menikmati harta dan popularitasnya,” jawab gadis yang bernama Hyemi itu kemudian.

Aku naik pitam dan nyaris mendobrak pintu kamar itu untuk melabraknya namun ternyata Hamun, yang memiliki kunci serep kamar itu, bergerak lebih cepat. Ia sudah masuk duluan. Aku mengikutinya dari belakang.

“Hamun?” pekik Donghae dan gadis yang bernama Hyemi itu bersamaan. Mereka yang awalnya sedang berpelukan, reflek saling menjauhkan diri. Mereka gelagapan. Aku menatap pasangan itu dengan rasa jijik untuk beberapa saat lalu mengalihkan perhatianku kembali pada Hamun yang menyembunyikan air matanya dibalik sikapnya yang tenang namun dingin.

Ia berjalan ke arah Donghae dan menyodorkan tart yang sudah ia beli. “Happy Anniversary untuk kalian berdua,” ujar Hamun dengan senyum di wajahnya namun suaranya terdengar sangat dingin. “Detik ini juga aku memutuskanmu. Aku tak sudi kalau kau yang memutuskanku duluan,” ujar Hamun lalu berlalu meninggalkan Donghae dan Hyemi yang mematung di tempatnya. Saat menyentuh ambang pintu, Hamun berbalik dan menatap tajam Donghae dan Hyemi. “Jangan sekali-kali berani menunjukan tampang kalian lagi dihadapanku. Aku tak akan segan-segan membuat kalian menyesal pernah mengenalku,” ancam Hamun tanpa keraguan sedikitpun.

*****

Semenjak naik ke mobil, Hamun hanya diam dan menerawang keluar jendela sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia tak menangis, namun tubuhnya bergetar. Dari matanya yang dingin, terpancar kesedihan.

“Mengapa kau membawaku kesini?” tanya Hamun dingin begitu mobil kami tiba di dekat monorail kereta ekspress. Aku memang sengaja membawanya kesini.

Tanpa menjawab pertanyaan Hamun, aku melihat jam tanganku dan berguman, “Sebentar lagi,” yang disambut tatapan bingung dari Hamun. “Saat ada kereta lewat, teriaklah. Teriaklah sepuasmu. Katakan apa yang mau kau katakan karena tidak akan ada yang akan mendengar,” ujarku. Hamun hanya diam. Sepertinya ia masih mencerna apa yang kukatakan.

Aku pun berteriak kencang saat kereta melaju, seakan memberi contoh pada Hamun apa yang harus ia perbuat. Setelah puas berteriak, aku menatap Hamun lalu menyikutnya pelan sebagai tanda kalau sekarang adalah gilirannya. Hamun menatapku ragu lalu menatap lurus kereta ekspress itu. Dapat kulihat air mata mulai mengalir dipipinya.

“YAAAAA!! KAU!! LEE DONGHAE!!!!! AKU BENCI PADAMU!! KUKIRA KAU MENCINTAIKU APA ADANYA!! DAN KAU SONG HYEMI!!  TERNYATA KAU SANGAT JAHAT!! PADAHAL KAU SUDAH KUANGGAP SEPERTI SAUDARAKU SENDIRI! BRENGSEK!! AKAN KUBUAT KALIAN MENYESAL TELAH MELAKUKAN HAL ITU PADAKU!!!” teriak Hamun kencang. Bukan, ia sudah histeris dengan air mata yang mengalir deras. Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas.

“EOMMAAA!!! AKU BENCI MENJADI BONEKAMU!! AKU BENCI MENJADI ARTIS!! SEMUA ORANG MENDEKATIKU HANYA KARENA STATUS DAN HARTAKU! SUDAH KUKATAKAN AKU BENCI PEKERJAANKU! APA AKU HARUS BUNUH DIRI AGAR KAU MENGERTI?!”  lanjut Hamun. Ia berhenti berteriak. Nafasnya tersenggal-senggal dan air matanya mengalir makin deras. Ia terlihat sangat rapuh. Hal itu membuatku tak bisa menahan diri untuk memeluknya.

“Aku tak butuh simpatimu!” pekiknya. Ia meronta, memintaku untuk melepas pelukanku. Namun hal itu tak kubiarkan. Aku tahu sekarang yang menyebabkan gadis ini jadi begitu dingin. Ia tak bisa mempercayai siapapun yang berhubungan dengan job keartisannya. Ia begitu menderita.

“Terserah kau mau menerjemahkan pelukan ini sebagai simpati atau apapun. Kau boleh mencaci makiku sepuasmu karena perbuatanku ini. Namun yang pasti, saat ini, aku ingin memelukkmu. Aku ingin menjadi kekuatanmu. Aku ingin kau mulai membuka hatimu untuk orang lain. Untukku. Karena sampai kapan pun, aku akan menjagamu. Menjaga kepercayaanmu,” ujarku lirih, tulus, sedih. Aku dapat merasakan tangan Hamun membalas pelukanku. Saat itu juga aku merasakan sebuah kehangatan mengalir ke sekujur tubuhku.

*****

“Hamun, sudah sampai,” ujarku begitu mematikan mesin mobil. Hamun tampak tidur pulas. “hei Nona Evil kita sudah sampai,” ujarku lagi sambil menguncang pelan tangannya tapi Hamun sama sekali tak terbagunkan. Aku memperhatikan wajah Hamun sesaat dan tanpa kusadari, ujung bibirku tertarik membentuk sebuah senyuman. Aku turun dari mobil lalu segera berlari kepintu tempat duduk Hamun. Aku membuka pintu itu pelan-pelan lalu menggendong Hamun dan mengunci pintunya. Aku masuk melalu jalur khusus pegawai agar tidak banyak orang yang melihat.

Setelah sampai di apartemen, aku segera menidurkan Hamun di ranjangnya. Otakku memerintahkanku untuk segera pergi dari kamarnya, namun hatiku menolak. Aku memperhatikan gadis itu sekali lagi lalu menyelimuti Hamun dan merapikan poninya yang berantakan dan hal itu membuat jantungku berdetak sangat kencang. Aku ingin lebih lama menemaninya tapi aku takut kalau ada iblis yang menguasaiku nanti. Aku takut tak bisa menahan diriku. Tapi saat aku mau beranjak dari kamar itu, aku merasa tanganku ditahan olehnya. “Jangan kemana-mana,” katanya. Aku tak tahu ia sedang memohon atau memerintah. Hanya saja, kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu membuat jantungku makin berdebar kencang.

“Yaa, kau sadar sedang menahan siapa? Aku ini pria Hamun. Kau tak takut terjadi sesuatu padamu?” balasku berusaha setenang mungkin. Hamun menatap lurus mataku lalu tersenyum. Entah jenis senyuman apa itu, yang jelas ia terlihat sangat cantik dan berhasil membuatku luluh. “Aku hanya tak mau sendirian. Lagipula kalau kau macam-macam padaku, aku tinggal menendangmu,” ujarnya yang membuatku tertawa.

“Baiklah, aku akan menemanimu,” ujarku. Aku lalu membuka pintu kamarnya dan berjalan ke sofa yang ada di kamarnya. Aku ini pria yang tahu adat dan beragama. “Selamat tidur, Hamun,” ujarku. Aku tahu ia tak akan membalasnya, hanya saja, aku tetap ingin mengucapkan hal itu.

“Kau juga. Selamat tidur Siwon sshi,” balas Hamun yang membuatku shock, senang bukan main, berbunga-bunga, argh aku tak tahu kata apa lagi yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Ini pertama kalinya ia memanggilku ‘Siwon-sshi’. Dan ini pertama kalinya ia berbicara lembut padaku. Aku mulai memejamkan mataku dan pergi ke alam mimpi dengan hati yang berbunga-bunga.

*****

“Selamat pagi Siwon-sshi,” sapa Hamun yang tak kujawab karena saat ini, aku masih tidur, tepatnya berpura-pura tidur. Aku dapat merasakan hembusan nafasnya sangat dekat denganku dan sentuhan tangannya di puncak kepalaku. Aku tak ingin bangun, karena aku tak ingin hal ini cepat berlalu namun jantungku yang berdetak terlalu kencang dan logikaku yang masih bekerja membuatku harus mau membuka mata dan mengakhiri moment ini. Aku membuka mata dan mendapati Hamun tersenyum ke arahku, namun saat mata kami bertemu, wajahnya berubah menjadi semerah kepiting rebus. Ia bahkan memukul perutku. “Yaa, bangun! Sampai kapan kau mau tidur?!” bentak Hamun tanpa memandangku. Aku tertawa kecil melihat gadis yang sudah berjalan lebih dulu didepanku. Ani, ani, ia tidak sedang marah. Ia hanya sedang malu. Entahlah, dia yang memang mudah ditebak? Atau aku yang sudah terlalu mengenalnya?

*****

“Katakan ‘annyeonghaseyo’” bisikku pada Hamun. Ia yang berada di depanku, berbalik menatapku ragu. Aku tersenyum padanya, mendorong punggungnya pelan, memberi kekuatan. Aku memperhatikannya, lalu tertawa kecil. Ia yang selalu tampil percaya diri di depan ribuan orang, jadi begitu tegang hanya karena ingin mengucapkan ‘anneyeonghaseyo’ pada semua karyawan agensi ini.

“A-a-annyeonghaseyo,” sapa Hamun pelan namun bisa membuat semua karyawan di ruangan ini menghentikan segala aktifitasnya dan mematung, terdiam, menatap Hamun dengan mata yang menyatakan keterkejutan. Suasana yang menjadi hening seketika membuat Hamun makin tegang dan mati gaya. Ia hanya membungkuk dan berkata, “Se- selamat bekerja,” ujarnya dan secepat kilat kabur dari ruangan itu.

*****

Hamun menjadi topik pembicaraan semua pegawai sepanjang hari ini. Ada yang suka dengan perubahan Hamun, ada juga yang makin membencinya.

“Ternyata tak salah kujadikan kau manager Hamun. Kau apakan dia sampai ia berubah seperti itu?” tanya bosku. Aku tak suka dengan pertanyaannya.

“Itu kemauannya, bukan aku yang mengubahnya,” jawabku jujur sambil menyesap kopi yang kupegang sedari tadi.

Aku dapat merasakan bosku itu menatapku sinis. “Wow, apa-apaan ini? Kenapa kau jadi membelanya? Kau jatuh cinta padanya?” tanyanya

Aku terdiam. Memiringkan kepalaku beberapa derajat sambil memutar semua memori ingatanku. Jantungku yang berdebar, rasa cemburu yang dulu kurasakan, keinginan untuk memeluknya, memberinya kekuatan. Itukah cinta? Kalau iya, berarti aku memang mencintai Hamun. Aku ingin menjawab pertanyaan bosku tadi namun sepertinya ia sudah mengambil kesimpulan terlebih dahulu. Kesimpulan yang sama sekali tidak masuk akal.

“Aku tahu! Kau membuatnya jatuh cinta padamu agar kau dapat merasakan kepopuleran dan hartanya kan? Kurasa semua orang yang ada di dekatnya juga menginginkan hal yang sama,” ujar bosku yang membuatku naik pitam. Aku sudah menarik kerah bajunya. Hendak memberikan sebuah bogem mentah di wajahnya, namun bersamaan dengan itu, pintu ruanganku terbuka. Hamun. Ia menatapku, dingin. Tenang, namun dingin. Atmosfer yang sama seperti saat di apartemen Donghae.

“Antar aku. Aku ada jadwal. Kau harusnya ingat itu!” bentak Hamun padaku lalu berlalu meninggalkanku yang masih bingung dengan perubahan sikapnya.

Selama di mobil, ia juga tidak bersuara. Apa.. ia mendengar perkataan bos?

*****

Aku gelisah. Hamun belum pulang, padahal sudah jam 1 pagi. Kemana dia? Tingkat kecemasanku mulai meningkat. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku segera mengambil kunci mobil dan masuk ke dalam mobil. Sebelum menginjak kopling, hapeku bergetar dengan ringtone yang kubuat khusus sebagai panggilan dari Hamun. dengan segera aku mengangkat ponselku.

“Hamun ah?! Kau dimana?!” tanyaku panik.

“Yeoboseyo? Bisakah anda segera datang? Nona Hamun sudah sangat mabuk, tuan. Aku menelpon anda karena, nomor anda ada dipanggilan darurat pertama nona Hamun. Lebih baik anda cepat sebelum ada wartawan yang melihat,” ucap penelpon yang tak kutahu siapa itu.

Ne, arraseo,” jawabku. Aku menutup hp flatku itu dan meletakkannya di dashboard mobil. Aku melaju dengan kecepatan 150 km/jam. Suasana hatiku bercampur aduk. Antara senang dan kesal. Senang karena ternyata Hamun menanggapku penting sampai ia meletakkanku di nomor 1. Kesal karena.. Apa yang sedang ia lakukan larut malam begini?! Mabuk lagi!

Aku sampai di tempat Hamun berada. “Hamun, hentikan!” desisku sambil menahan tangan Hamun yang mau menuangkan bir ke gelasnya lagi. Ia menatapku sebentar dengan mata yang tak bisa fokus. Lalu tiba-tiba air mata mengalir di pipinya. Ia mulai menangis dan memukul-mukulku.

“Yaa! Yaa Hamun! Kau kenapa?!” pekikku bingung

“Kau! Pembohong! Kau ternyata sama saja seperti Donghae! Kau tak bisa dipercaya! Bodoh sekali aku!” pekik Hamun dan sekejap kedua tangannya menangkap wajahku. Ia berjinjit lalu menarik wajahku cepat. Membuat bibirku dan bibirnya bertemu. Terasa asin, karena air mata mengalir deras. Ia mendorongku dan kembali menatapku lirih, “Padahal aku jadi begini mencintaimu, Siwon,” ujar Hamun lirih. Perasaanku bercampur aduk. Antara senang dan bersalah. Senang karena Hamun ternyata juga mencintaiku, dan merasa bersalah karena aku tak bisa menjaga kepercayaannya dan menyebabkan ia seperti ini. Ia pasti mendengar apa yang tadi bos ucapkan.

“Hamun, mianhe, mianhe,” gumanku dengan lembut dan menariknya dalam pelukanku. Aku tak mau membuatnya semakin histeris.

“Jangan menyentuhku!” pekik Hamun sambil mendorongku. Ia menatapku penuh kebencian. “Aku benci padamu!” pekiknya diiringi tangis yang semakin kencang. Aku tak tahan lagi. Aku tidak bisa menerima kata benci dari mulutnya. Perasaanku yang meluap membuat logikaku hilang. Aku menarik Hamun dan membuat bibir kami bertemu kembali. “Aku mencintaimu Hamun. Aku mencintaimu. Aku mohon, percayalah. Tak bisakah kau merasakannya?” tanyaku pada Hamun. Hamun menatapku lirih, lalu memelukku erat. Ia pasti merasakannya. Karena dari ujung rambut sampai ujung kakiku, semua bagian tubuhku menyatakan kalau aku mencintainya. Kang Hamun.

*****

Badanku ingin bangkit dari tempat tidur tapi hatiku menolak. Aku tak bisa. Aku merasa nyaman dipeluk seperti ini. Tunggu, jangan berpikir macam-macam. Kami tidak melakukan apapun semalam. Hanya saja Hamun yang mabuk tak mau melepaskanku. Aku sangat mencintai gadis ini, jadi aku akan menjaganya sampai saatnya tiba, walau aku tahu, sebenarnya hal itu pasti sangat sulit.

Aku menatap wajahnya. Ternyata gadis ini memang sangat cantik. Dia memiliki struktur wajah yang bagus. Jariku berjalan menyusuri wajahnya. “Alisnya tebal dan bulu matanya sangat lentik,” ucapku saat jariku berhenti dibagian matanya. “Hidungnya juga mancung,” kataku begitu jariku berpindah dari mata ke hidung. Terakhir jari telunjukku berhenti di bibirnya. “Dan bibirnya..”

Aku segera menggelengkan kepalaku, mensugesti diriku untuk melupakan apa yang baru saja terlintas dipikiranku. Aku menatapnya lagi, menyelipkan sedikit rambut yang menutupi wajahnya ke belakang. Mataku tak bisa lepas darinya. Jantungku berdetak kencang, terlalu kencang sampai rasanya ingin meledak. Tiba-tiba ada sebuah rasa ingin memeluknya, menciumnya. One step, two step, wajahku bergerak begitu saja mendekati wajah Hamun dan begitu aku sadar, aku sudah mengecup bibir Hamun.

“Hei, apa kau tak malu mencuri ciuman seorang gadis?” kata Hamun yang membuatku kaget sehingga segera menjauhkan diriku darinya. Aku kelimpungan, salah tingkah. Kata-katanya membuatku merasa seperti pria hidung belang.

“a.. tadi.. i.. itu…” aku bingung harus menjawab apa, mau mengelak pun percuma. “Molla molla molla. Sudah, jangan dipikirkan, Ayo bangun! Kau ada jadwal jam 8!” ucapku mengalihkan pembicaraan tapi Hamun tak bergeming sedikitpun, ia malah memelukku makin erat. “Hamun, lepaskan aku,” ucapku padanya.

“Seperti ini. Sebentar saja,” ucapnya yang membuatku tak bisa menahan diri, justru malah balas memeluknya. Memeluknya sangat erat dan mengecup keningnya. “Aku ingin segera merubah namamu jadi nona Choi Hamun,” bisikku ditelinganya.

Ia mengecup bibirku lembut lalu tersenyum manis sekali. “As soon as possible, dear,” ucapnya yang membuat aku seperti di surga.