By:  @gyumontic

Cast:

Cho Kyuhyun

Song Hyejin

*****

“Kyuuuu!! Kyuhyun-ah!! Cho Kyuhyun!! Buka pintunyaaaa!! Aku mau menginap!!!” Teriak seorang gadis sambil terus memencet bel pintu apartemenku. Aku melihat jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 11 malam. Aku hanya bisa menghela nafas panjang lalu turun dari tempat tidurku untuk membukakan pintu.
“Hyejin-ah, ngapain kamu malam-malam ke apartemenku?” Tanyaku. Gadis bernama Hyejin itu tidak langsung menjawab. Dia terlebih dahulu melenggang masuk ke dalam apartemenku, menyusuri ruang tamu, ruang tivi lalu masuk ke dalam kamarku. Aku menyusulnya setelah menutup pintu.
“Aku tidur di sini ya? Rumahku sedang berantakan. Aku tidak kuat membereskannya,” ujarnya lalu naik ke tempat tidurku dan menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. “Selamat tidur,” ucapnya dari balik selimut. Aku tahu dia tidak tidur. Dia hanya menyembunyikan sesuatu di balik benda yang sekarang tampak bergerak-gerak tidak wajar.
Aku mendekati Hyejin dan duduk di sampingnya. “Orang tuamu bertengkar lagi?” Tanyaku tanpa basa-basi. Seketika itu juga Hyejin menyingkapkan selimutnya dan memandangku dengan tatapan menyayat hati.
“Aku ingin mati saja, Kyu. Aku sudah tidak kuat,” jawabnya pelan.
Seumur hidupku, Hyejin adalah satu-satunya orang yang sangat aku pedulikan. Aku tidak tega melihatnya tersiksa setiap hari hanya karena kedua orang tuanya yang tidak pernah berhenti bertengkar. Dari dia berumur 4 tahun sampai sekarang 20 tahun, aku tidak melihat adanya perubahan.
Aku ingat pertama kali bertemu Hyejin, saat aku dan keluargaku pindah ke apartemen ini, gadis itu sedang duduk di taman sambil berbicara dengan bonekanya yang bernama Mini. Dia berbicara tidak seperti anak umur 4 tahun pada umumnya. “Mini, kau tahu tidak? Setiap malam aku berdoa pada Tuhan agar aku tidak bangun esok pagi. Aku minta padaNya untuk tinggal di surga. Jadi, kalau Tuhan mengabulkan doaku, kau baik-baik ya di kamarku.”
Saat itu aku merasa sangat penasaran dengannya. Aku lalu mengajaknya bicara. “Kenapa kau ingin mati?” Tanyaku waktu itu. Dia sama sekali tidak berekspresi. Jawabannya pun cukup mengagetkanku, “Aku hanya tidak mau hidup.”
“Bukankah hidup itu sangat menyenangkan? Kita bisa bermain, makan, jalan-jalan,” kataku lagi.
“Kalau kau dilahirkan di keluarga yang kerjaannya hanya bertengkar dan saling menyakiti, mau menang sendiri, aku yakin kau akan memilih untuk mati,” ujarnya. Dia membuatku terdiam tetapi mengerti bahwa dirinya adalah gadis yang sakit jiwanya dan harus disembuhkan. Saat itu, meskipun aku baru berumur 7 tahun, aku berjanji untuk menjaga dan memberi perlindungan untuknya.
– – – * * * – – – * * * – – –
Pagi ini aku terbangun karena ada sebuah bau yang sangat menusuk indra penciumanku. Aku tahu bau apa ini. “Sandwich. Lagi-lagi anak itu membuat sandwich,” gumamku yang sudah hafal dengan bau sandwich buatan Hyejin. Wine kesukaanku yang selalu dia tambahkan dalam campuran mayonaisse sandwich-nya membuat makanan ini menjadi urutan pertama dalam list ‘my favorite food’.
Aku turun dari sofa, tempat tidurku semalaman tadi karena kasurku dibajak Hyejin, dan segera menuju ruang makan. “Selamat pagi, Tuan Muda Cho Kyuhyun!!! Selamat menikmati wine sandwich a la Chef Song Hyejin,” ucapnya dengan ceria sambil tersenyum lebar.  Aku bingung, bagaimana mungkin orang yang ingin mati tetap bisa tersenyum selebar itu?
Aku duduk di kursi makan, dengan Hyejin duduk di seberangku, dan mulai memakan sandwich buatannya. “Apa rencanamu hari ini?” Tanyaku. Kalau dia tidak ada kerjaan, aku akan mengajaknya kemana pun aku pergi. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Aku takut dia akan melakukan hal aneh-aneh, seperti bunuh diri misalnya.
Hyejin mengangkat bahunya. “Aku ingin ke kampus tapi sedang libur. Aku ingin jalan-jalan tapi tidak punya uang,” jawabnya.
“Apa kau tidak ingin pulang?” Tanyaku.
“Itu akan kulakukan jika tidak ada lagi tempat di dunia ini yang bisa aku tinggali,” jawabnya.
Bagus! Aku suka sekali jawabannya. “Kalau begitu kau ikut saja denganku …” ujarku yang belum sempat selesai karena dipotong oleh Hyejin, “seperti biasa. Ke kampusmu lalu ke kantor.”
Senyum terpancar di wajahku. “Anak pintar,” pujiku padanya. “Ayo kita segera bersiap-siap,” lanjutku kemudian setelah menghabiskan wine sandwich-ku. Hyejin pun menuruti kata-kataku. Ia segera masuk ke kamarku dan membajak kamar mandi yang berada di dalamnya.
Aku hanya bisa tersenyum memandang pintu kamarku yang baru saja ditutup Hyejin. Tidak seharusnya dia begitu mempercayaiku. Justru dia harus berhati-hati padaku karena aku adalah pria paling egois di dunia ini. Aku berani bertaruh satu-satunya orang yang merasa bahagia jika ada pertengkaran dalam keluarga Song yang tinggal di lantai 24 adalah AKU. Ya, AKU! Karena itu artinya satu-satunya anak perempuan mereka akan datang kepadaku, seperti yang terjadi tadi malam, dan hidup bersamaku sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Jujur, ini adalah hal yang paling menyenangkan selama 16 tahun belakangan ini.
* * * – – – * * * – – – * * *
Aku duduk di ruang tivi tentu sambil menonton tivi untuk menunggu Hyejin bersiap. “Nona!! Hei, nona Hyejin!! Cepatlah! Aku bisa terlambat kalau kau memakan waktu sampai selama ini!!” Seruku. Tidak lama, Hyejin keluar dari kamarku dengan memakai pakaianku.
“Bagaimana? Apa aku sudah terlihat seperti pria?” Tanyanya sambil bergaya seperti seorang pria. Buat informasi, kampusku adalah kampus yang hampir seluruhnya laki-laki. Jadi aku menyuruh Hyejin untuk berpakaian seperti laki-laki agar dia bisa lebih melebur dengan teman-temanku. Alasan sebenarnya : aku tidak ingin dia menjadi pusat perhatian para pria di kampusku.
Kembali ke pokok masalah, aku mengangguk untuk meyakinkan bahwa Hyejin sudah tampak seperti pria walaupun sebenarnya aku berbohong untuk ke-ribuan-kali. Bagiku, dia justru terlihat sangat cantik jika sedang memakai pakaianku. “Ayo berangkat,” ujarku.
Aku melajukan mobilku sekencang mungkin karena aku sudah terlambat. Karena itu aku segera mengajak Hyejin berlari begitu keluar dari mobil. “Kau harus mentraktirku setelah kelasmu selesai! Aku tidak mau tahu!” Katanya dengan nafas terengah-engah.
“Apapun, asal percepat larimu!!! Dosenku sudah hampir masuk kelas!” Seruku dan semakin kencang berlari dengan Hyejin yang berusaha lari sekencang mungkin di sampingku.
Tepat sedetik sebelum dosenku masuk, aku dan Hyejin sudah menapakkan kaki kami di dalam kelas. Kami pun segera mencari tempat duduk, tentu sambil menarik nafas dalam-dalam. Kami nyaris mati kehabisan nafas.
– – – * * * – – – * * * – – –
Hyejin berdiri dengan meyandar pada kap mobilku sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Kenapa lama sekali sih?! Aku sudah lapar tahu!” Protesnya. Aku hanya bisa menyengir sebagai tanda rasa bersalah.
“Maaf telah membuatmu menunggu lama. Ayo kita segera cari makan,” ujarku.
“Dan jalan-jalan,” imbuhnya tanpa ragu. Aku pun tidak bisa menolak. Aku menyuruhnya masuk mobil dan segera membawanya ke tukang penjual jjangmyeon kesukaanku. Aku mentraktir Hyejin semangkuk jjangmyeon dan segelas soju yang cukup mampu membuat dia kehilangan setengah kesadarannya.
“Ayo kita pulang. Kau sudah mabuk,” ujarku selesai kami makan.
“Tidak mau. Kau harus mengajakku jalan-jalan. Kau sudah janji padaku,” katanya sambil menarik-narik lengan bajuku. “Ayolaaaah.  Aku tidak mabuk kok. Kyuhyun-ah, ajak aku jalan-jalan.” Hyejin mulai menyerangku dengan wajah memelasnya yang membuatku tidak bisa menolak.
Kami berjalan menyusuri Myeongdong yang sangat ramai sambil berangkulan, tangan kiriku di pinggangnya sedang tangan kananku memegang kedua lengannya yang melingkari pinggangku. “Seharusnya aku lebih sering membuatmu mabuk,” batinku sambil menatap kepalanya yang ia sandarkan ke bahuku.
“Kyu,” ucap Hyejin tiba-tiba, masih dalam keadaan setengah sadar.
“Apa?” Sahutku.
“Aku beruntung sekali mengenalmu. Aku tidak bisa membayangkan jika kau punya pacar. Kau pasti akan meninggalkanku. Lalu aku akan benar-benar mati,” ucapnya dengan jelas tanpa emosi tapi aku merasakan kemejaku di bagian Hyejin meletakkan kepalanya basah. Dia pasti menangis.
Aku menegakkan kepala Hyejin lalu mengubah posisi kami yang tadinya berdampingan menjadi berhadapan. Aku menghapus air mata yang mengalir di wajahnya dengan tanganku lalu menangkup wajahnya. “Tenanglah. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Kau akan aman bersamaku,” ucapku dengan sungguh-sungguh. Aku yakinkan dia dengan nada serius di setiap perkataanku.
Entah setan atau malaikat yang sedang lewat di antara kami yang membuatku kemudian menciumnya. Gadis yang sudah hampir 16 tahun bersamaku dan membuatku semakin lama semakin simpati padanya dan lama-lama mencintainya. Justru aku yang seharusnya takut. Aku takut jika suatu hari nanti Hyejin menemukan laki-laki yang dia cintai yang dapat membuatnya bahagia melebihi apapun yang telah aku lakukan untuknya. Hyejin tidak boleh pergi dari sisiku. Aku tidak bisa hidup tanpanya.
– – – * * * – – – * * * – – –
Hyejin tertidur pulas dan membuatku terpaksa menggendongnya masuk ke dalam apartemen. Sialnya, aku bertemu dengan nyonya Song alias ibu Hyejin tepat di depan pintu apartemenku. Wanita itu menatap anaknya yang berada dalam gendonganku dengan sedih. Dia lalu berganti menatapku. Tatapan pasrah.
“Apa Hyejin-ku baik-baik saja?” Tanyanya sambil mengelus-elus kepala Hyejin. Aku mengangguk. “Terima kasih telah menjaga Hyejin selama ini. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya,” ucapnya kemudian.
“Tidak masalah, nyonya. Aku senang bisa melakukannya,” ucapku.
Nyonya Song lalu tersenyum. “Aku dan suamiku memutuskan untuk bercerai. Kami sudah tidak sanggup. Selain itu, sudah terlalu lama kami menyiksa Hyejin. Aku tidak bisa lagi melihatnya menangis dan kabur setiap hari hanya karena pertengkaran orang tuanya. Aku juga tidak mau terus merepotkanmu, Kyu.”
Aku tersenyum. “Aku tidak merasa direpotkan kok, nyonya.”
“Aku tahu kau memang anak yang baik tapi aku sudah memutuskan akan membawa Hyejin ke Jepang bersamaku. Dia akan tinggal bersamaku.”
Aku merasa seperti disambar petir. Hyejin akan meninggalkanku. Tuhan, tidak bisakah Engkau gagalkan perceraian ini dan biarkan keadaan selama 16 tahun ini berjalan seperti biasa? Akh, aku pasti sudah tidak waras!!
“Apa Hyejin sudah mengetahui hal ini?” tanyaku pada nyonya Song.
“Belum. Aku berencana menjelaskannya nanti dalam perjalanan,” jawabnya.
Aku memutar otak agar Hyejin tidak bisa dibawa ke Jepang. Itu tidak bisa terjadi. “Bagaimana kalau nyonya membiarkan saya yang menjelaskannya padanya besok dan membiarkan Hyejin memutuskan keinginannya seperti apa. Saya janji akan langsung mengantarkan Hyejin ke Jepang jika dia memutuskan untuk tinggal bersama Anda,” kataku.
Nyonya Song menatapku dalam-dalam. “Jika dia tidak ingin tinggal bersamaku, apa aku bisa mempercayakannya padamu?”
“Saya janji akan menjaga putri nyonya.”
Nyonya Song lalu tersenyum lalu mengelus lagi kepala anaknya yang masih tertidur lelap di gendonganku yang sudah mulai kendur karena tanganku yang pegal-pegal. “Aku percaya padamu. Karena itu, segera kabari aku begitu Hyejin membuat keputusan,” ujar nyonya Song yang kubalas dengan anggukkan mantap. “Kalau begitu, aku pergi sekarang. Sampai jumpa, Kyu,” ucapnya kemudian lalu pergi.
Aku menatap Hyejin sedalam aku bisa menatapnya. Wajah polosnya saat tidur adalah salah satu wajah favoritku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika tidak bisa melihat wajah itu lagi.
* * * – – – * * * – – – * * *
Hyejin duduk di hadapanku sambil memakan wine sandwich buatannya seperti biasa sedangkan aku hanya terus menatapnya tanpa menyentuh wine sandwich-ku. “Kenapa tidak makan? Bosan ya? Aku akan membuatkan yang lain untukmu,” katanya sambil menarik wine sandwich-ku dari depanku.
Aku menahan tangannya. “Tidak. Aku akan memakannya nanti. Aku ingin bicara dulu denganmu,” ujarku setelah sekian lama aku diam, berpikir apa yang akan aku katakan padanya mengenai perceraian kedua orang tuanya dan ibunya yang pindah ke Jepang.
“Bicara apa?” Tanyanya lalu menarik kembali tangannya. Dia duduk sambil menatapku dengan serius.
“Apa kau pernah terpikir untuk menikah? Atau punya pacar?” tanyaku harap-harap cemas. Aku hanya punya cara ini untuk membuat Hyejin tetap bersamaku walaupun aku yakin kecil kemungkinannya.
Hyejin lalu tertawa sinis. “Setelah apa yang aku alami selama belasan tahun, aku tidak percaya dengan yang namanya pacaran apalagi menikah. Itu hal paling aneh yang ada di dunia ini,” katanya.
“Meskipun itu denganku?” Aku bertanya tanpa memikirkannya lebih dahulu. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku dan terpaksa aku tarik kembali karena Hyejin sudah menatapku dengan heran. “Lupakan. Sebenarnya ada hal lain lagi yang harus aku sampaikan padamu,” ujarku.
“Apa?”
Aku menghela nafas panjang. “Semalam, ibumu datang kesini untuk memberitahukan bahwa beliau dan ayahmu sudah bercerai,” ujarku lalu menghela nafas panjang lagi. “Ibumu memutuskan untuk pindah ke Jepang. Tadinya dia ingin mengajakmu tapi aku menyarankan agar dia membiarkanmu memilih sendiri bagaimana melanjutkan hidupmu.”
Hyejin menatapku penuh kebencian. Wajahnya sudah mulai memerah. Sebentar lagi, ia akan meledak. “Aku selalu bergantung padamu bukan berarti kau bisa mengatur hidupku! Kalau ibuku mau membawaku, seharusnya kau biarkan saja! Bagaimana pun dia ibuku sedangkan kau bukan siapa-siapa!!” Serunya penuh emosi. Dia berdiri, meninggalkan meja makan, bahkan melangkahkan kakinya, dengan kasar.
“Hyejin, maafkan aku,” ucapku tapi ia tidak peduli. Ia terus membereskan barang-barangnya lalu keluar dari apartemenku, tidak lupa dengan membanting pintunya.
Aku telah membuat kesalahan paling fatal dalam hidupku. Aku tidak bisa menahannya. Aku justru mendorong Hyejin pergi lebih cepat. Aku melepaskan sesuatu yang paling berharga di hidupku. Aku sangat bodoh.
– – – * * * – – – * * * – – –

Tiga bulan kemudian….
Aku berbaring di kasurku dan menatap jam dinding kamarku yang masih menunjukkan pukul. 3 pagi. Aku menghela nafas panjang. “Lama sekali waktu ini berjalan,” gumamku. Ya, aku merasa waktu berjalan lebih lama 3x lipat sejak Hyejin pergi meninggalkanku.
Hyejin pergi ke Jepang untuk tinggal bersama ibunya. Dia hanya menghubungiku seminggu dua kali, bahkan kadang seminggu hanya sekali. Aku sangat merindukannya. Rindu wajahnya, rindu wine sandwich-nya, rindu dia membajak kamar dan seluruh barang milikku. Aku rindu dia kembali padaku. Aku hanya bisa merindukannya.
Mataku mulai menutup saat aku dengar teriakan diikuti bunyi bel apartemenku. “Kyu!!! Kyuhyun-ah!! Cho Kyuhyun!! Buka pintunya!!!” Seru seseorang. Aku mengenal suara itu. Aku langsung loncat dari tempat tidurku dan membuka pintu dengan terburu-buru, aku bahkan sampai 5 kali menabrak kulkas, meja makan, kursi bar, sofa dan yang terakhir lemari sepatu di sebelah pintu.
Aku melihat Hyejin berdiri sambil tersenyum padaku. Dia terlihat sangat cantik, jauh lebih cantik dari yang aku bayangkan. Wajahnya tampak cerah meskipun sekarang jam 4 pagi. “Hai,” sapanya.
“Hai,” balasku. “Apa yang kau lakukan di sini?” Aku begitu terpesona padanya jadi hanya kata-kata klise seperti itu yang bisa terlontar dari mulutku.
“Aku mau tinggal di sini,” jawabnya sambil melenggang masuk ke dalam apartemenku. Aku menutup pintu apartemenku lalu menyusulnya.
“Apa ibumu…” Aku mengganti pertanyaannya takut itu menguak luka lama di hidupnya. “Apa yang membuatmu nyasar ke apartemenku?”
“Aku gak nyasar. Aku memang mau ke sini. Aku kan sudah bilang tadi mau tinggal di sini. Kau dengar omonganku tadi gak sih?”
Oh Tuhan, biar kau buat gadis ini mengomel lebih lama dan lebih tajam asal dia tetap bersamaku, aku BERSEDIA. Apapun asal aku bisa bersamanya.
Aku terus mengikutinya sampai ke dapur. “Kenapa kau mau tinggal di sini?” Tanyaku lagi.
“Aku memutuskan akan menikah,” ujarnya tanpa ragu, bahkan sangat santai. Dia bahkan mengatakannya sambil minum susu yang dia ambil dari kulkasku. Berbeda denganku yang sudah menegang.
Aku hanya menatap Hyejin dengan kaku. Darah di tubuhku tampaknya sudah berhenti mengalir. Jantungku juga sudah berhenti berdetak. Hanya saja, aku berpura-pura untuk tampil biasa. “Bukankah kau bilang tidak akan menikah?” tanyaku.
“Aku berubah pikiran.”
“Siapa yang akan menikah denganmu?”
Hyejin menaruh botol susunya ke meja lalu mendekatiku. Dia berdiri tepat 7 cm di depanku. Matanya menatap dalam mataku. Bibirnya tersenyum. “Aku tidak tahu,” ucapnya membuatku bingung tapi ia semakin tersenyum lebar. “3 bulan lalu dia melamarku, tidak langsung sih, tapi aku tahu dia serius. Bodohnya, waktu itu aku malah marah-marah padanya. Sekarang aku tidak tahu apa dia masih mau menikahiku atau tidak,” lanjutnya.
3 bulan lalu? Aku kemudian tertawa, menertawai diriku sendiri. Hyejin baru saja mengerjaiku. Aku tahu siapa yang dia maksud. Tentu saja aku masih mau menikahimu tapi tidak semudah itu. Kau harus mendapat pelajaran lebih dulu karena telah mengerjaiku.
Aku membalikkan badanku dan meninggalkannya di dapur. “Aku rasa dia tidak ingin lagi menikah denganmu,” ujarku dengan angkuh, sok jual mahal. Hyejin berjalan mengikuti langkahku.
“Serius?” Tanyanya. Aku melihat dari ujung mataku wajahnya yang penuh kekecewaan. Mata Hyejin bahkan sudah berkaca-kaca. Untuk sekali ini, tidak apa-apa, aku senang melihatnya.
Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap lalu berbalik menghadapnya. “Kecuali…” Kataku sengaja terputus-putus untuk mengerjai Hyejin lebih lanjut.
“Kecuali apa?” Tanya Hyejin dengan harap-harap cemas. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca menatapku.
Aku menyeringai jahil. “Kecuali kau menciumku dulu, yang dalam, lalu berkata ‘Kyuhyun oppa, saranghaeyo’. Mungkin aku akan berubah pikiran,” kataku. Aku pikir Hyejin tak akan melakukannya tapi rupanya aku salah.
Hyejin berjalan mendekat padaku sampai tubuh menempel dengan tubuhku. Kedua tangannya menangkap wajahku. Ia lalu berjinjit dan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Detik berikutnya, bibirnya sudah singgah di bibirku. Hal itu cukup membuatku kaget.
Aku baru menutup mataku dan meletakkan tanganku di punggung Hyejin setelah gadis itu menciumku beberapa detik. Aku menikmati setiap sentuhannya. Sayang, saat aku mau membalas ciumannya, gadis itu sudah melepaskan bibirnya. Ia sudah kembali berdiri menghadapku dengan tatapan serius.
“Apa kau akan menikahiku?” Tanyanya buru-buru.
Aku mengangkat kedua bahuku. Maksud hati hanya ingin sekali lagi mengerjai Hyejin tapi orang yang mau aku kerjai sudah berlinang air mata membuatku menghentikan semuanya. Aku memeluk pinggangnya. “Kau mau kita menikah kapan?” Tanyaku sambil tersenyum lembut.
Hyejin menatapku dengan sebal sambil menangis sekaligus tertawa. “Kau menyebalkan!!” Omelnya sambil memukul-mukul dadaku pelan.
Aku tertawa. “Salahmu,” ujarku lalu kembali menundukkan wajahku dan mencium lembut bibir calon istriku, gadis yang aku cintai selama bertahun-tahun, gadis yang akan hidup bersamaku selamanya.
Hyejin menutup matanya, melingkarkan tangannya di leherku dan  membalas ciumanku, lebih dalam. Aku terbuai. Aku mengangkatnya ke dalam gendonganku. Dia melingkarkan kakinya di pinggangku tanpa melepaskan ciumannya.
Aku berani bertaruh satu-satunya pria yang paling bahagia di pagi-pagi buta ini hanyalah aku. Ya, CHO KYUHYUN adalah pria paling bahagia di jam 4 pagi ini. Hahahahahahaha.