CAST:

CHOI SIWON

KANG HAMUN as YOU🙂

Hope you enjoy it yorobun!!🙂 leave ur comment. Thank you😀

START!

HAMUN POV

Mataku tak bisa lepas darinya. Otakku selalu memikirkannya. Jantungku selalu berdetak kencang saat bayangannya terlintas dalam pikiranku. Aku selalu bertanya, apa yang terjadi padaku? Dan mereka menjawab, aku sedang mengalami sesuatu yang dinamakan.. jatuh cinta.
Ya, kurasa aku memang sedang jatuh cinta. Perasaanku sudah meluap sampai rasanya aku tak sanggup menyembunyikannya lagi.

Aku jatuh cinta pada teman dekatku. Teman yang kukenal sejak awal masuk SMA, Lee Donghae. Teman yang selalu mengajakku bertengkar, tapi ia juga yang membuatku bisa tertawa lebar.

“Minri ah, kurasa.. Aku sedang jatuh cinta,” ujarku pada Minri, sahabatku yang juga teman sebangkuku
Dengan mata yang sudah membesar, Minri menatapku, “Jeongmalyo?” tanyanya tak percaya yang kujawab dengan anggukan pelan
Minri mulai menarik-narik lengan bajuku. “Siapa? Siapa? Ceritaaaaa,” rengeknya yang meminta penjelasan lebih jauh dariku
Aku menatap Minri lekat, “Jangan kaget, dan jangan beritahu siapa-siapa. Arrachi?” pintaku pada Minri dan ia mengangguk semangat. Minri menatapku antusias.
Aku menarik nafas panjang untuk tak menghiraukan jantungku yang sudah berdebar hanya karena namanya terlintas diotakku. “Aku suka pada Do..” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, aku merasakan sesuatu mendarat dengan mantap di kepalaku dan membuatku kesakitan. Ternyata bukan hanya aku, Minri pun sekarang sedang menggosok-gosok bagian kepalanya yang sakit.
“Hamun! Minri! Jangan bicara saat aku sedang mengajar!!” teriak sem yang berdiri dengan berkacak pinggang di depan kelas sana.
Aku menatap Minri, begitupun ia, lalu kembali menatap guru kami itu. “Nee seosangnim,” jawab kami berdua pasrah.
“Kau bodoh sekali Hamun,” ledek seorang pria yang sangat kukenal suaranya ini, yang hanya karena suaranya saja sudah memberikan efek samping berlebihan pada jantungku, pria yang duduk di belakangku, Lee Donghae.
“Yaa! Kenapa kau hanya mengejekku? Minri juga bicara!” seruku padanya. Apa kalian percaya aku sungguh marah padanya? Tidak. Ini hanyalah kamuflase yang biasa kulakukan untuk menutupi rasa bahagia yang berlebihan hanya karena berinteraksi dengannya.
“Minri tak salah, kau yang memulai Hamun,” balas Donghae. Aku hendak membalasnya namun sem sudah meneriaki kami terlebih dahulu.
“Yaa! Hamun! Donghae! Berdiri kalian di depan kelas sana,” perintahnya yang membuat kami, mau tak mau harus mau menanggung malu dan berdiri di luar kelas sana.
“Ini karena kau Lee Donghae! Kau harus mentraktirku nanti!” gerutuku begitu kami sudah berdiri diluar kelas.
“Aissh, arra arra. Tapi lumayanlah, kita tak perlu mengikuti pelajaran yang membosankan ini,” ujar Donghae yang kusetujui.
Aku selalu berbohong saat bersamanya. Aku selalu berkata “Tidak suka” padahal apa kau tahu? Sesungguhnya bertengkar denganmu, dihukum berdua denganmu seperti saat ini adalah sesuatu yang aku sukai. Suka. Suka. Suka. Hal-hal itu membuatku merasa kalau kau selalu bersamaku.
Ya Tuhan, aku sangat mencintainya. Aku tak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Aku harus mengatakannya.
Hening sejenak diantara kami. Aku sedang mencoba merangkai kata yang tepat untuk mengajaknya ke Festival besok. Lihatlah, hanya karena seorang Donghae, mau merangkai sebegitu banyaknya perbendaharaan kata saja jadi begitu susah. Donghae sungguh tidak baik untuk kesehatan jiwa, otak, dan jantung.
“Donghae, kau ikutkan ke Snow Festival besok?” tanyaku setelah menemukan kalimat yang menurutku sudah pas.
Donghae yang sedang sibuk dengan handphonenya menjawab, “Ah, mianhe, besok aku tak bisa ikut Hamun. Mianhe,” jawab Donghae tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Ia bahkan sudah tersenyum-senyum sendiri sekarang.
“Hei, kau kenapa tersenyum-senyum sendiri? Kau sibuk sekali ya? ya sudahlah,” jawabku sambil menyunggingkan senyum yang aku paksakan agar ia tak merasa bersalah.
Kini Donghae sudah menutup ponselnya dan menatap lurus kedua mataku, “Mianhe, sebagai gantinya, kau akan kutraktir deh,” ujar Donghae sambil menyunggingkan senyum simpul.
“Jeongmalyo? Janji?” tanyaku sambil menyodorkan jari kelingkingku
“Tentu saja,” balasnya lalu mentautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku.
Aku suka padamu Donghae. Apa kau tak merasakannya?

*****

SIWON POV

“Bosan,” gumanku saat kabur dari jam fisika ini.
Aku berjalan menyusuri koridor lantai 2. Namun langkahku terhenti saat aku melihat sepasang siswa-siswi sedang tertawa dengan riang di depan kelas mereka.
Sesaat aku memperhatikan mereka berdua. Dan hanya dalam waktu sekian detik, aku menyadari suatu kenyataan manis. Gadis itu suka.. Ani, bukan. Itu bukan kata yang tepat. Perasaannya bukan sekedar suka, melainkan gadis itu sangat mencintai pria yang berdiri disebelahnya. Mungkin kalian pikir aku hebat karena hanya dalam hitungan detik, aku bisa tahu perasaan gadis itu. Tapi itu salah. Kurasa siapapun yang melihat gadis itu, pasti akan mengetahui kalau ia sangat mencintai pria itu karena dari ujung rambut sampai kakinya seakan menyatakan kalau ia mencintai pria itu.
Tapi benarkah cinta itu ada? Apa yang kualami selama belasan tahun ini sudah cukup sebagai bukti otentik kalau cinta, hanya sebuah bualan belaka.
Kurasa perasaan gadis itu juga hanya sebuah bualan yang hanya dapat bertahan selama.. 3 bulan? Ani. Mungkin hanya seminggu. Kita lihat saja.

*****

HAMUN POV

“Kau juga tak datang Minri?? Aish jinja! Tak akan seru kalau seperti ini,” omelku pada orang disebrang sana
“Mianhe, Hamun. Besok kau akan kutraktir deh,” ujar Minri, aku dapat mendengar nada penyesalan dari suaranya.
Aku hanya bisa menghela nafas, berusaha mentolerir emosiku. “Aish, arraseo, aku tutup ya teleponnya. Bye Minri,”
Aku menatap layar teleponku beberapa saat sampai aku mendengar temanku memanggil.
“Hamun, kajja!” panggil mereka
“Arraseo! Meski tak ada Minri dan Donghae kita harus menikmatinya!” ujarku menyemangati diriku sendiri. Aku menjajal setiap makanan dan permainan di tiap stan-stan yang ada di festival ini. Meski menyenangkan, tetap saja ada yang kurang kalau tak ada Donghae. Aah, dia sedang apa ya?

“Donghae?” gumanku saat tak sengaja aku melihat sosok yang sangat mirip dengan Donghae. Aku mengaruk kepalaku yang tak gatal dan tertawa sendiri. Kurasa otakku sudah kena cuci sampai-sampai dimana pun aku berada, aku melihat sosok Donghae.
Aku mengambil hpku lalu menekan nomor handphone yang sudah kuhafal luar kepala.
“Yaa Lee Donghae! Kau sedang…” Kalimatku menggantung. Aku tak sanggup menyelesaikan kalimatku. Suaraku tak bisa keluar, lidahku kelu. Aku tercekat saat mendapati sosok Donghae berdiri tak jauh dariku. Donghae yang sesungguhnya. Dan ia tak sendirian. Ia… bersama Minri. Ia menggandeng tangan Minri, menatap Minri lembut, tersenyum hangat pada Minri dan memperlakukannya seperti seorang putri. Sesuatu yang baru aku sadari tak pernah ia lakukan padaku.
“Hamun? Hamun? Ada apa kau menelponku? Tak terdengar,” ujar suara diseberang sana.
Aku menutup teleponku tanpa menjawab pertanyaan Donghae.
Aku menatap wallpaperku ponselku, fotoku bersama Donghae yang menyunggingkan senyum. Senyum yang baru saja kusadari, kalau itu bukanlah senyum tulus. Senyum berbeda dengan yang baru saja kulihat.
Aku tertawa getir. Menertawakan kebodohanku sendiri.
“Saat bersamaku, kau tak pernah tersenyum lembut seperti itu,” gumanku saat melihat Donghae dan Minri bersama.
Dadaku panas namun tanganku mendingin, kakiku tak berdaya namun jantungku berdetak kencang, dan akhirnya air mataku mengalir tanpa perintah. Berulang kali aku mengusap air mata yang ada dipipiku namun air mataku tetap saja mengalir. Tangisanku tak mereda bahkan semakin menderas.
Ini cinta pertamaku namun berakhir dengan patah hati.

*****

SIWON POV

“Hei, Siwon ahh, ppaliwa,” teriak pacar.. Mungkin lebih tepat kalau aku menyebutnya, ‘salah satu pacarku’ yang sudah berjalan jauh didepanku. Aku hanya menjawabnya dengan senyum sambil mempercepat langkahku. Namun tanpa sengaja aku melihat gadis itu. Gadis yang aku lihat di koridor itu. Tapi ada sesuatu yang beda. Sesaat sorot matanya menyatakan ketidak percayaan lalu tak berapa lama berubah jadi sorot kesedihan. Aku mengikuti arah pandangnya dan mendapati pria yang saat itu bersama gadis itu sedang berjalan dengan gadis lain.
Jadi pria itu bukan pacarnya?
Perhatianku kembali pada gadis itu. Aneh, sungguh aneh. Gadis itu tertawa namun sedetik kemudian ia menangis pilu. Ia mengusap air matanya, namun bukannya berhenti malah tangisnya menderas.
Apa? Apa yang terjadi? Pria itu berselingkuh? Atau sejak awal dia memang bukan pacarnya? Kalau pria itu bukan pacarnya, bagaimana gadis itu bisa terlihat sangat mencintainya?
“Siwon! Ppali!” serunya sekali lagi yang mengharuskanku untuk meninggalkan pemandangan ini.

“Lihat, tidakkah ini lucu?” tanya ‘salah satu pacarku’ ini untuk kesekian kalinya dalam 3 menit, yang hanya kujawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’. Tubuhku saat ini memang berada disini namun pikiranku sepertinya tertinggal di tempat tadi karena sedari tadi otakku hanya memikirkan gadis itu.
Batinku bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, namun sepertinya sia-sia karena aku sendiri tak tahu jawabannya.

*****

HAMUN POV

“Hamun ah, ada kabar gembira! Donghae sudah berpacaran dengan Minri!” ujar salah satu temanku begitu aku tiba di kelas. Aku terdiam berusaha mencerna kalimat yang baru saja kudengar. Aku ingin tidak mempercayainya namun “Dan ternyata mereka berdua kemarin tak ikut karena mereka mau berkencan,” ujar yang lain yang membuatku tak bisa mengelak dari kenyataan.
Jantungku sesaat berhenti bekerja. Dadaku kembali merasakan sakit yang sudah kurasakan kemarin. Aku mengepalkan tanganku, menguatkan pertahananku agar aku tak menangis disini.
“Je-jeongmal? Kalian jadian? Tanpa bilang kami? Sepertinya kita harus memikirkan hukuman yang tepat untuk mereka,” candaku yang membuat Donghae, Minri, dan teman yang lain tertawa. Kurasa aku cocok masuk klub drama. Aku sungguh pintar berakting. Lihat, aku masih bisa tertawa seperti ini walau hatiku menangis.

*****

SIWON POV

Sejak tadi, mataku tak bisa lepas dari kelas seberang. Aku menunjuk salah seorang gadis yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. “Apa kau mengenal gadis itu?” tanyaku pada Eunhyuk, teman sekelasku.
“Gadis yang mana?” tanyanya sambil memincingkan matanya
“Gadis di kelas seberang itu. Yang rambutnya lurus sebahu. Yang sedang tertawa itu,” deskripsiku.
Eunhyuk menjentikkan tangannya, “Ah, dia Kang Hamun. Kelas XI-H. Ada apa?” tanya Eunhyuk dengan tatapan ‘Hayo, ada apa?’
“Entahlah, hanya saja sejak kemarin wajahnya selalu membayangiku. Seperti hantu,” jawabku. Ya, sejak aku melihatnya menangis, aku tak bisa melepaskan pikiranku darinya.
“Mungkin ini karmamu karena suka mempermainkan cewek, Siwon-ah,” ujar Eunhyuk yang sama sekali tak membantuku. Justru membuatku menimpuknya dengan buku tulisku.
“Kalau pria itu?” tanyaku ganti menunjuk pada pria yang dicintai gadis bernama Hamun itu.
“Dia Lee Donghae. Dan gadis disebelahnya adalah Minri, pacarnya. Mereka berdua adalah sahabat gadis bernama Hamun itu,” ujar Eunhyuk menjelaskan padahal aku tak bertanya sampai sejauh itu.
“Memang kenapa?” tanya Eunhyuk. Aku hendak menjawabnya namun aku mendengar, “Siwon ah,” panggilan dari sebuah suara yang kukenal sebagai suara salah satu dari sekian gadis yang menjadi pacarku saat ini. Tak perlu waktu lama, aku tahu apa maksud gadis itu memanggilku. Ada 2 kemungkinan : untuk mengomeliku karena ia menganggapku tidak adil atau mungkin ia ingin aku memperlakukannya bak seorang gadis yang sedang kasmaran, peluk atau cium misalnya.
Aku segera bangkit dari tempat dudukku untuk menghampiri gadis itu namun langkahku terhenti saat Eunhyuk memanggilku, “Siwon-ah,”
Aku menoleh kembali ke Eunhyuk. Ia menatapku dengan tatapan.. entahlah, aku tak bisa menafsirkannya. “Kapan kau akan berhenti menjadi pria seperti ini?” tanyanya
Aku tertawa getir dan mengangkat kedua sisi bahuku sebagai jawaban. “Entahlah. Mungkin sampai ada gadis yang bisa membuatku sadar kalau cinta itu nyata,” balasku dan entah mengapa saat itu mataku memandang dalam gadis bernama Hamun itu.

*****

“Kenapa kau seperti itu?! Kenapa kau menduakanku?!” seru gadis yang ada dihadapanku.
Aku menatapnya cuek, mengorek kupingku karena suaranya yang terlalu memekakan telinga.
“Bukankah dari awal aku sudah memperingatkanmu, kalau kau akan sakit hati kalau berpacaran denganku,” ujarku santai. Aku berjalan menuju tembok yang menjadi batas di atap sekolahku ini. Dengan tingginya yang tigaperempat badanku dan lebarnya sekitar 15 cm, membuatku meletakkan siku tanganku diatasnya dan berpangku tangan, mengabaikan orang yang sedang berceloteh di belakangku itu.
Aku menoleh ke kanan – kiri – bawah untuk mencari sesuatu yang bisa kupandang dan akhirnya aku menemukannya.
Gadis itu, Kang Hamun. Dia sedang duduk bersama pria yang ia cintai -Donghae-, dan pacar pria itu -Minri-.
Aku memperhatikannya. Dia sungguh berbakat untuk menjadi seorang artis! Saat kedua temannya sedang sibuk dengan dirinya sendiri, gadis itu terlihat sangat rapuh. Matanya lirih dan terpancar kesedihan. Ia menggigit pelan bibir bawahnya, memberi pertahanan pada pelupuk matanya agar air matanya tak menetes. Namun saat ia berkontak mata dengan kedua temannya, sekejap ia bisa memasang wajah yang sangat ceria. Kalau kau melihatnya, kau pasti tak menyangka kalau dia sedang patah hati.
Lagi-lagi mataku tak bisa lepas darinya. Aku ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Aku ingin tahu apa yang gadis itu rasakan.

Aku tak tahu apa yang terjadi diantara mereka tapi tiba-tiba saja Donghae mengecup bibir Minri tepat dihadapan Hamun.
Minri tersipu lalu memukul pelan Donghae dan Donghae hanya membalas dengan tawa kecil. Sedangkan Hamun? Ia mematung. Tubuhnya bergetar pelan menguatkan diri. Air mata sudah memenuhi pelupuk matanya dan membuatku tak bisa menahan diri.
“YAAA CHOI SIWON!! MAU KEMANA KAU?! YAA!!” seru gadis itu. Tanpa berpamitan dengannya yang tak henti-hentinya mengomeliku, aku berlari secepat kubisa, mengabaikan nafasku yang nyaris saja habis, dan membiarkan kakiku membawaku menuju tempat dimana Hamun berada.
“Hamun,” seruku bersamaan dengan kakiku yang baru saja berhenti. Aku dapat merasakan tatapan heran dari orang-orang disekelilingku, apalagi Hamun yang notabene tak pernah berbicara denganku -salah, jangankan berbicara, saling mengenal saja tidak-
Jangankan mereka yang melihat, aku saja heran mengapa aku sebegininya pada gadis ini. Sepertinya tubuhku sudah tak sinkron dengan otakku lagi. Namun aku tak memusingkan hal itu sekarang. Aku tak peduli. Aku hanya tak ingin air matanya mengalir tidak pada tempatnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, aku menarik tangan Hamun.
Aku membawanya ke halaman belakang sekolah sambil menggenggam tangannya dengan erat. Aku berhenti setelah memastikan tak ada seorang pun disini yang akan melihat atau mendengar tangisan Hamun.
“Jangan tersenyum. Sekarang, kau sudah boleh menangis,” ujarku pelan. Hamun tidak bereaksi, tangannya pun tidak terlepas dari genggamanku. Aku menoleh padanya, dia berdiri mematung, pucat, tubuhnya membeku. Hanya kepalanya yang menunduk dan menggeleng pelan, “Aku tak boleh menangis. Aku tak boleh menangis,” katanya namun aku merasakan setitik air membasahi tangaku yang masih menggengamnya. Air matanya.
Gelengan kepalanya makin cepat dan ia terus berbisik, “Tidak, tidak, tidak. Tak boleh menangis. Aku tak boleh menangis. Nanti Donghae merasa bersalah,” gumannya yang membuatku naik pitam terutama saat mendengar ia menyebut nama pria itu.
“YAA! KANG HAMUN!” seruku sambil menguncang badannya. Membuatnya menegakkan wajahnya dan matanya yang sudah berair menatap mataku lurus.
“Jangan bodoh!” seruku padanya tanpa kusadari.
“Aku memang bodoh!” serunya dan air matanya mulai mengalir deras. “Aku ingin berhenti, tapi aku tak bisa. Meskipun tahu akan sesakit ini, aku tetap tak bisa. Aku tak bisa,” ujarnya parau dengan emosi yang makin tak stabil. Melihatnya yang seperti itu membuatku seperti merasakan adanya sesuatu benda tajam yang tertancap didada. Dadaku jadi sesak dan membuatku tak bisa bertahan lagi. Tak bisa bertahan untuk tidak memeluknya. Aku menariknya dalam pelukanku.
“Menangislah. Tak akan ada yang tahu,” gumanku tepat ditelinganya.
Hamun tetap diam tapi kausku semakin basah. Aku memeluknya semakin erat. Suara isak tangis mulai terdengar keras. Bahunya pun naik turun tidak beraturan melepas semua sedihnya. Aku biarkan dia terus menangis dalam pelukanku. Untuk saat ini, hanya ini yang bisa aku perbuat.

*****

“Let’s get your drinks up, dear,” ujar ‘salah seorang pacarku yang lain’ padaku. Setelah meneguk beer yang kadar alkoholnya tidak cukup membuatku mabuk itu, gadis itu menarikku menuju lantai dansa dengan iringan lagu diskotik yang memekakan telinga namun merilekskan pikiran dan membuatku bahagia -biasanya-, namun kali ini aku tidak merasakan euforia kegembiraan itu. Justru lagu itu membuatku pusing.
“Hei, cmon baby, dance with me,” ujar gadis didepanku yang sudah mulai menggoyangkan badannya. Aku menggoyangkan sedikit badanku meski tak se-hyper gadis di depanku ini. Aku menari, tapi tak berkonsentrasi dengan kegiatan itu. Mataku mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan diskotik itu, seberti biasa, mencari sesuatu yang dapat dipandang. Dan tiba-tiba saja mataku terpaku pada seorang gadis yang duduk di kursi dekat meja bartender itu. Hamun. Kang Hamun.
Aku tak tahu apa yang ia bicarakan dengan teman-temannya, termasuk Donghae dan Minri, pada Hamun. Namun Hamun hanya menggeleng dan tersenyum, selanjutnya teman-temannya meninggalkan Hamun duduk sendirian di meja bartender itu.
Hamun terdiam sambil berpangku dengan tangan kirinya dan tangan yang lain memainkan gelas yang berisi es batu dan sedikit beer. Matanya terlihat sedih. Tiba-tiba saja salah satu bartender mengajaknya bicara. Cukup lama aku memperhatikan mereka. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas Hamun tertawa, membuatnya ia terlihat jauh lebih cantik, dan hal itu juga yang membuatku naik pitam. Tanpa kusadari kakiku sudah berjalan sendiri menghampirinya. Ia dan bartender itu menatapku heran. Aku balas menatap Hamun tajam dan ganti menatap bartender itu dengan tatapan ‘jangan macam-macam’.
Masih dengan emosi yang membuat otakku kalap, tanpa mengatakan apapun, aku menarik lengan Hamun dan ganti menggenggam tangannya erat lalu membawanya menuju mobilku.

“Mengapa kau bisa berada di tempat seperti itu tadi?” tanyaku berusaha tenang tapi aura dingin kental terasa dalam suaraku.
Aku bisa merasa Hamun menatapku bimbang, “A-aku dipaksa teman-temanku,” jawabnya terbata-bata yang entah mengapa mengurangi sedikit emosiku. Hanya, SEDIKIT.

Hening sekejap. Aku dan dia terdiam. Aku dapat merasakan beberapa kali ia menatapku ragu, seakan mau mengajakku berbicara namun takut membuatku marah. Dan kurasa memang sebaiknya dia diam saja untuk saat ini karena emosiku masih belum reda.
Aku memutuskan untuk kembali menfokuskan pandanganku dan pikiranku ke jalanan.
Tiba-tiba Hamun berguman, “Ehm..” seakan mau menanyakan sesuatu.
“Apa?” tanyaku pendek namun masih terkesan dingin.
“Ehm.. Apa aku punya salah padamu? Kau tampak seperti sedang marah,” tanyanya. Pertanyaan yang membuatku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Aku marah? Karena apa? Aku terdiam. Pikiran dan hatiku bekerja sama untuk mencari jawabannya.
Aku kembali memutar otakku mengingat bagaimana bartender itu dan Hamun tertawa bersama. Hal itu membuat emosiku kembali naik dan tanpa kusadari, aku sudah mengacak-acar rambutku tanda frustasi.
‘Apa yang membuat ia tertawa tadi?!’ Pertanyaan sederhana itulah yang membuatku uring-uringan sendiri sejak tadi. Lalu mengapa kalau pria lain yang membuat Hamun tertawa aku harus marah? Apa aku… cemburu?
Aku merasakan wajahku panas saat kata-kata itu terlintas dipikiranku. Kurasa wajahku sudah memerah saat ini, untung saja tak ada cahaya yang menyinari wajahku sehingga Hamun tak bisa melihatnya.
“Apa aku punya salah padamu?” tanyanya polos. Aku sudah tahu jawabannya, namun tak mungkin berterus terang berkata ‘aku cemburu’ padanya. Mungkin dia akan menyangka kalau aku kurang waras.
“Ti- tidak,” jawabku singkat berusaha membuat suaraku terkesan dingin agar ia tak merasakan kegugupanku.
Hening beberapa saat. “Ehm.. Siwon sshi,” panggilnya yang membuatku menoleh kearahnya dan menatapnya heran.
“Bagaimana kau tahu namaku?” tanyaku bingung yang ia balas dengan sebuah senyuman yang mampu membuat jantungku berdetak tidak stabil.
“Tentu saja. Siapa yang tak tahu dirimu? Choi Siwon, anak dari aktor dan artis terkenal seantero Korea Selatan. Pria tampan, pintar, yang..” ia terdiam dengan menggantungkan kalimat itu, menatapku ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
“Yang apa?” tanyaku sambil menatapnya sesaat lalu kembali pada jalan
“Yang suka mempermainkan wanita,” ujarnya yang membuatku terasa seperti ditampar.
“Ta-tapi, pria yang suka mempermainkan wanita tak semuanya orang jahat,” lanjut Hamun. Aku tahu ia bermaksud untuk menghiburku. Membuatku sedikit merasa senang dan ingin menggodanya.
“Jadi maksudmu aku orang baik?” tanyaku
Ia mengangguk semangat, “Tentu saja!” jawabnya tulus penuh keyakinan dan kejujuran. “Kalau kau bukan orang baik, kau pasti akan membiarkan air mataku jatuh di depan Donghae saat itu,” lanjut Hamun diiringi senyumannya yang cukup membuat kinerja jantungku jadi hyperaktif lagi untuk kesekian kalinya sejak 10 menit terakhir.
“Terima kasih Siwon sshi. Dan aku harap, kita bisa berteman mulai sekarang” ujar Hamun sambil membungkukkan badannya.
Bibirku menyunggingkan sebuah senyuman namun aku hanya bisa menyembunyikan senyumku di remang-remang gelap mobil ini.
“Kau tak perlu berterima kasih, dan kita sekarang adalah teman,” ujarku yang tiba-tiba saja membuat Hamun bersorak, “Jeongmal?” sambil menyodorkan jari kelingkingnya padaku.
Aku menghentikan mobilku lalu menatap heran jari kecil yang sekarang ada dihadapanku.
Hamun menarik tanganku dan melipat keempat jariku sehingga hanya kelingking yang tertinggal.
“Tanda pertemanan kita,” ujarnya polos sambil menyodorkan sekali lagi jarinya seakan menyuruhku untuk melakukan hal yang sama dengannya.
“Ini terlalu childish, Hamun,” jawabku
“Tapi ini manis,” ujar Hamun yang mampu membuatku tertawa. Aku pun akhirnya luluh dan menautkan kelingkingku padanya.
“Ehm, Siwon sshi, satu lagi,” ujar Hamun sebelum aku menginjak kopling mobilku
“Rumahku sudah kelewatan,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum simpul dan membuatku mengutuki diri sendiri. “Mengapa aku jadi sebodoh ini dihadapannya?”

*****

Aku sedang di atap sekolah seperti biasa, mendengarkan gadis yang semalam aku tinggal di diskotik sendirian mengomeliku dan seperti biasa pula, aku tak mendengarkannya. Mataku sudah terpaku pada Hamun yang lagi-lagi sedang berakting di depan Donghae. Dasar gadis itu, lagi-lagi ia menyakiti dirinya sendiri.
“YA CHOI SIWON!!” panggil gadis itu saat aku sudah berjalan meninggalkannya namun tak kuperdulikan. Yang ada dipikiranku saat ini hanyalah menyelamatkan Hamun dari rasa sakit dan air mata.
“Maaf, aku ada perlu dengan Hamun,” ujarku pada Donghae dan Minri begitu aku tiba diantara mereka.
Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku menggenggam tangan Hamun erat dan membawanya ke halaman belakang sekolah.
“Kau harus melupakan Donghae, Hamun,” ujarku. Mata Hamun menatapku lurus. Lembut namun sedih. Ia tersenyum lirih padaku, “kalau aku tahu caranya, aku sudah lakukan hal itu dari dulu Siwon sshi,” jawabnya.
“Bagaimana kalau kau belajar mencintai pria lain?” tanyaku.
“Contohnya?” tanyanya tak mengerti mengerti
“Aku, mungkin,” kata itu meluncur begitu saja tanpa aku saring lebih dahulu, membuat Hamun menatapku heran dan detik berikutnya Hamun sudah tertawa sambil memukul lenganku pelan.
“Aigo, terima kasih atas niat baikmu Siwon sshi, tapi aku tak berniat untuk menjadi korbanmu selanjutnya,” jawab Hamun jujur lalu berjalan meninggalkanku yang masih mematung berkat jawaban yang ia lontarkan.
Aku memegang dadaku. Terasa sangat sakit. I’ve never experienced this complicated feeling.

*****

Aku pulang ke rumah dengan sempoyongan dan sebotol soju di tanganku. Berusaha untuk melupakan perkataan Hamun yang sedari tadi terngiang di pikiranku.
Aku pulang ke rumah dengan harapan kondisi rumah juga dapat membantuku merilekskan pikiran. Namun harapan tinggallah harapan.
Bukannya ketenangan yang kudapat, justru teriakan histeris dan isakan air mata yang kudengarkan.
“YAA CHOI SIWON!! KEMANA SAJA KAU?! Dasar! Anak-bapak tidak ada bedanya!” maki wanita itu, wanita yang melahirkanku namun tak pernah sudi kupanggil ibu.
Aku tak menjawabnya, aku melenggang melewatinya dan berjalan menuju kamarku.
“YAA kau Choi Siwon! Dasar anak tak tahu diuntung!” maki wanita itu lagi yang membuat emosi naik. Aku menatap wanita itu lurus, tepat dimatanya yang menatapku dengan kebencian. Aku ingin membalasnya dengan ikut memaki atau apapun namun kuurungkan niatku karena hati kecilku masih menganggapnya seorang ibu.
Aku menutu pintu kamarku dan merebahkan tubuhku di kasur king size tanpa mengganti bajuku. Badanku dan pikiranku terlalu berat. Bahkan untuk melepaskan sepatu saja aku tak sanggup.
Aku menutup mataku dengan punggung lenganku. Aku memaksa diriku untuk segera tidur agar aku tak perlu mendengar kelanjutan pertengkaran wanita dan pria yang sekarang berada di ruang tamu.
Kalau kau hidup dikeluarga seperti ini, kau pasti lebih memilih tidur di diskotik daripada tidur di rumah namun diiringi teriakan kebencian.
Kalau kau hidup dikeluarga yang setiap hari kegiatannya hanya bertengkar seperti ini, apa kau masih percaya cinta itu ada?
Pertanyaan sama yang kutanyakan pada diriku sendiri saat aku pertama kali melihat..
“Hamun,” tanpa kusadari, mulutku menggumankan namanya. Membuatku kembali mengingat rasa sakit yang tadi kurasakan. Aku menggumpalkan tanganku untuk mengabaikan rasa sakit itu.
Aku ingin Hamun. Aku butuh Hamun. Aku menginginkan cintanya. Aku ingin dicintai olehnya seperti ia begitu mencintai Donghae.

*****

HAMUN POV

“Pasangan suami istri Choi Sunghwa dan Choi Jihoon akan segera bercerai,” itulah headline yang menghiasi setiap media infotainment di Korea ini. Dan berkat berita itu, nama Choi Siwon akhirnya ikut dibicarakan oleh media.
Aku resah, aku gundah. Tanpa berpikir panjang, aku berlari ke kelasnya.
“Choi Siwon ada?” tanyaku pada seorang gadis teman sekelasnya namun bukannya menjawab, ia malah menatapku sinis dan pergi begitu saja.
Aku menghela nafas panjang untuk menjaga emosiku. Aku mengedarkan pandanganku namun tak kunjung kutemukan pria mempesona yang selalu menyembunyikan kesedihannya itu, Choi Siwon.
Aku sudah berniat beranjak dari kelas itu namun seseorang memanggilku.
“Hamun sshi,” aku menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pria blonde menghampiriku.
“I-iya?” tanyaku. Ia tersenyum padaku lalu memberikanku secarik kertas.
Aku membacanya tulisan hangul yang ada di kertas itu.
“Itu alamat rumah Siwon,” sahutnya seakan menjawab pertanyaan yang belum sempat kulontarkan.
“Aku rasa ia membutuhkanmu,” ujarnya yang kubalas dengan senyuman lega.
“Terima kasih,” seruku sambil membungkukkan badan berulang kali.

*****

SIWON POV

Aku terbangun dari tidurku dan memegang dahiku yang masih terasa pusing, pusing karena terlalu banyak minum wine, karena aku memang sakit, dan karena aku sedang banyak masalah. Aku melihat keluar jendela dan kudapati langit sudah merubah menjadi hitam.
Hari ini aku memutuskan untuk tidak sekolah. Aku malas kalau harus meladeni para gadis yang berpura-pura simpati padaku akibat perceraian orang tuaku.
Aku merebahkan tubuhku lagi di tempat tidur karena aku tak tahu mau melakukan apa.
Nyaris saja aku terbang ke alam mimpi namun bunyi bel rumahku membangunkanku. Aku membiarkannya beberapa saat namun semakin lama frekuensi bel itu memekakan telinga. Aku bangkit, berjalan menuju pintu itu sambil berulang kali mengumpat kesal. Aku bersiap untuk mencurahkan kesalku pada pemencet bel itu saat aku sudah diambang pintu namun saat kubuka pintuku, aku melihat dengan jelas si pemencet bel itu. Tiba-tiba aku lupa dengan skenario yang telah kurancang, yang ada malah aku terdiam, terpaku, mematung. Sesaat jantungku berhenti berdetak.
“Hai Siwon sshi, kau sakit ya?” tanya gadis yang ada dihadapanku ini sambil memegang dahiku dengan punggung tangannya.
‘aku hanya demam’ ingin kujawab seperti itu namun apa daya, lidahku kelu. Aku hanya terdiam dan menatap takjub makhluk di depanku.
“Kau tak mempersilahkan aku masuk?” tanyanya polos yang menyadarkanku dari ketakjubanku
“Ah itu, aku sendirian di rumah. Kau tak masalah?” tanyaku meyakinkan keputusannya. Ia tersenyum padaku dan menggelengkan kepalanya. “Aku percaya padamu, Siwon sshi,” ujarnya lalu melenggang masuk ke dalam rumahku, meninggalkanku yang masih terpaku di ambang pintu untuk menstabilkan debaran jantungku.
Aku masuk ke bagian dalam rumahku dan mendapati Hamun sudah bersikukuh dengan alat-alat dapur.
“Kau duduklah, aku akan memasak untukmu,” ujarnya sambil menuntunku untuk duduk di sova.
Posisi dapur yang tidak tersekat oleh tembok, membuat mataku dapat leluasa memandanginya diam-diam. Berulang kali aku menelan ludahku berusaha menyingkirkan keinginanku untuk memeluknya atau menciumnya karena aku tidak ingin merusak kepercayaannya. Aku berulang kali melakukan hal itu pada sekian pacarku, namun aku tak pernah melakukannya atas keinginanku sendiri. Lalu apa yang terjadi padaku sekarang?
“TADA!!” seru Hamun sambil meletakkan semangkuk bubur dengan aromanya yang membuat perutku berdendang dihadapanku.
“Makanlah,” ujarnya lalu mengambil posisi duduk di hadapanku.
Aku menyuapkan sesendok bubur itu ke mulutku. Aku merasakan suatu bumbu yang agak asing untuk suatu bubur, tapi rasa itu justru membuat bubur ini terasa lebih enak. Aku mempertajam indra pengecapku dan aku ingat rasa ini. Ini..
“Iya, aku menambahkan sedikit wine kesukaanmu,” ujarnya menjawab rasa penasarnku yang kusampaikan lewat ekspresi wajahku. Mendengar jawabannya itu membuatku tertawa. Tertawa takjub.
“Bagaimana kau tahu?” tanyaku
“Di rumah ini hanya ada dirimu, jadi botol wine yang ada di kulkas pasti milikmu kan?” jawabnya yang membuatku merasa bodoh akan pertanyaanku sendiri.
“Makanlah yang banyak,” ujarnya dan dengan lahap kuhabiskan makanan yang sudah Hamun buat khusus untukku.
“Berita selanjutnya, Pasangan suami istri Choi Sunghwa dan Choi Jihoon akan segera bercerai,” ujar pembawa acara gosip yang membuatku menghentikan tanganku yang baru saja mau menyendokkan bubur Hamun. Namun tiba-tiba saja kedua tangan Hamun menutupi telingaku. Ia tersenyum lembut padaku yang membuatku mengerti apa maksud perbuatannya ini. Aku menutup kedua mataku, merasakan ketenangan bersamaan dengan kehangatan yang mengalir dari tangan Hamun. Tak berapa lama kemudian, kehangatan itu memudar. Mataku terbuka dan kudapati Hamun masih tersenyum untukku. Senyum yang memberiku ketegaran dan semangat di saat yang bersamaan, dan tenpa kusadari, ujung bibirku sudah tertarik membentuk senyuman yang mempertunjukan lesung pipiku.
Aku dan Hamun mulai berbincang, mulai dari hal umum sampai pribadi.
“Apa kau tak merasa sakit melihat Donghae bersama pacarnya?” tanyaku tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Sebuah pertanyaan bodoh yang membuatku sangat menyesal. Mengapa aku membuat Hamun kembali mengingat rasa sakit itu? Kau payah Choi Siwon.
“Mi- mianhe, kau tak perlu menjawabnya,” desisku
“Aniyo, kau tak salah apa-apa,” seru Hamun. Ia tersenyum padaku, senyum tulus namun lirih.
“Sakit sih, tapi mencintai itu adalah hal yang paling indah di dunia ini, terutama saat orang yang kau cintai itu bahagia, meski bukan kita yang membuatnya tersenyum,” jawab Hamun yang membuat hatiku bergetar
“Apa benar cinta itu ada?” tanyaku
“Tentu saja,” jawab Hamun penuh keyakinan
“Kalau cinta itu ada, kenapa harus ada pertengkaran atau perceraian?” tanyaku lagi berusaha melemahkan argumen Hamun.
“Karena mungkin mereka tak mengerti arti cinta sesungguhnya,” jawabnya.
Hamun kini menggengam tanganku erat, “Suatu saat kau akan menemukan gadis yang akan membuatmu merasakan apa yang kurasakan. Dan saat itulah kau bisa membuktikan kata-kataku,” ujarnya lalu bangkit dari tempat duduknya sambil membawa semua peralatan makanku ke dapur.
Aku tersenyum menatap punggung dan berguman, “Aku sudah menemukan gadis itu. Kang Hamun,”

*****

“Tidurlah,” ujar Hamun sambil menyelimutiku. Ia memegang dahiku sekali lagi untuk memastikan kondisi suhu tubuhku.
“Syukurlah kau sudah membaik. Aku akan disini sampai kau tertidur,” ujar Hamun.
“Terima kasih Hamun,” ujarku tulus
“Kau tak perlu berterima kasih. Itulah gunanya teman Siwon sshi,” balas Hamun.
Namun mendengar kata “teman” keluar dari mulut Hamun membuatku kehilangan kesadaran. Aku kesal. Aku marah.
Aku menyukaimu. Aku mencintaimu. Tidakkah kau merasakannya?!
“Jangan menyebutku teman. Aku bukan temanmu,” desisku
“Ka-kau kenapa Siwon sshi?” tanya Hamun. Aku menariknya kedalam pelukanku yang masih tertidur lalu memutar posisi kami. Kini ia terkunci dibawahku.
“Saranghae Kang Hamun. Saranghae,” gumanku lalu mengecup bibirnya.
“Aku mencintaimu Hamun, aku mencintaimu,” bisikku tepat ditelinganya. Aku mencium keningnya lalu beralih ke ujung matanya, dan pipinya. “Aku mencintaimu Hamun,” gumanku berulang kali.
“Tidakkah kau merasakannya?” tanyaku lirih.
“Aku mohon lupakan Donghae. Lihatlah aku, Hamun. Aku mencintaimu,” gumanku memohon pengertiannya namun Hamun justru menamparku. Aku melihat wajahnya sudah basah karena air mata dan hal itu menyadarkanku atas kesalahan yang baru saja kubuat.
“Ha- Hamun, mi- mianhe, aku hanya-” aku membangkitkan tubuhku. Menjauh dari Hamun yang sekujur tubuhnya sudah bergetar. Membuatku sungguh merasa bersalah.
“Hamun, maaf. Aku tadi..”
Belum aku menyelesaikan ucapanku Hamun sudah bangkit dan menatapku tajam dengan air mata yang bergulir membasahi pipinya. “Ternyata kau tak berubah. Kau tetap playboy seperti yang dibicarakan. Padahal aku sudah mempercayaimu Siwon,” ujar Hamun dan beranjak meninggalkanku sendirian di kamar ini.
“Aku sudah berubah Hamun. Aku mencintaimu. Dan hanya Kang Hamun,”
“Buktikan,” ujar Hamun lalu benar-benar pergi dari kamarku, tak lupa dengan membanting pintu.

*****

HAMUN POV

Aku berjalan dengan cepat, nyaris berlari agar aku tak merasakan jantungku yang sedang berdebar. Namun debaran jantung ini terlalu kuat, terlalu cepat, membuat usahaku sia-sia.
Aku memegang bibirku. Ingatanku kembali pada kejadian 10 menit yang lalu. Aku masih ingat hembusah nafasnya dan sentuhannya. Aku bisa merasakan kejujuran dan ketulusan dari suaranya, namun aku menyangkal hal itu karena aku sendiri belum siap. Aku belum siap untuk menerima cintanya. Aku takut ia terluka, dan merasakan hal yang sama sepertiku dan aku belum siap untuk menghapus semua perasaanku pada Donghae.

*****

Hari ini aku belum bicara pada Siwon sekalipun. Aku bingung bagaimana menghadapinya dan aku masih sedikit marah dengan perbuatannya.
“Hamun! Lihat itu!” seru temanku heboh di ambang jendela kelasku. Aku yang penasaran, segera bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri temanku.
Dari jendela kelasku, aku dapat melihat seorang pria dan wanita sedang berbicang di bawah sana. Pria itu kukenal sebagai Choi Siwon dan wanita itu adalah salah satu pacarnya. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan namun sedetik kemudian sang wanita itu menampar Siwon. Pasti sakit sekali, karena suara tamparan itu terdengar jelas sampai di kelasku yang berada di lantai 2.
Gadis itu pun pergi dengan menatap Siwon penuh kebencian. Siwon, seakan tak peduli dengan pandangan murid-murid yang melihat kejadian itu, kini menengadahkan kepalanya dan matanya terhenti saat tatapan kami bertemu. Aku yang ditatap dengan mata mempesona itupun tak cukup kuat menahan debaran jantungku. Aku segera mengalihkan pandanganku darinya dan pergi keluar dari kelasku.
Apa yang terjadi padaku? Saat ia menatapku, jantungku berdetak kencang. Tatapan matanya kembali membuatku teringat dengan kecupannya, hembusan nafasnya dan sentuhannya, dan yang paling parah, aku menginginkannya.

*****

“Choi Siwon memutuskan semua pacarnya!” seru temanku yang baru saja memasuki kelas yang otomatis langsung membuat para gadis di kelasku -kecuali aku- mengerubunginya.
“Dia berkata, dia punya seseorang yang ia cintai dengan tulus. Ia ingin buktikan kepada wanita itu kalau kali ini dia serius padanya,” ujar temanku yang tentu saja membuat jantungku berdebar.
“Dan gosipnya, gadis itu adalah murid kelas kita!” seru temanku yang membuat para siswi di kelasku makin heboh, sedangkan aku malah berusaha menyumpal kupingku, berpura-pura tak mendengar pembicaraan mereka.
Choi Siwon. Apa yang kau lakukan sampai aku jadi seperti ini karenamu?

*****

Hari ini sekolahku mengadakan darmawisata ke pulau jeju, dan tepat pada hari ini, adalah hari ke 30 aku tidak pernah berbicara dengan Siwon lagi.
Perasaanku tak menentu.
“Hamun, kajja, nanti kau ketinggalan loh, kau kan paling tak bisa menghafal jalan,” ledek Donghae. Aku membalas ledekan itu dengan senyuman dan berjalan mengekor dibelakang Minri dan Donghae.
Entah sejak kapan, aku tak pernah merasakan sakit yang dulu kurasakan saat aku bersama merela berdua. Bahkan saat mereka bermesraan pun, aku justru bahagia.
Saat kami berjalan bersama, tiba-tiba mataku tanpa sengaja melihat suatu cicin yang sangat menarik perhatianku. Cicin itu mengalihkan perhatianku. Aku berjalan menuju penjual cicin itu.
“Cicin itu lambang ikatan. Kalau kau memberikannya pada seseorang itu artinya kau menyerahkan kebebasanmu karena kau ingin terikat olehnya,” ujar penjual itu yang seakan tahu apa yang kupertanyakan dalam pikiranku.
“Berapa harganya?” tanyaku antusias
“10.000 won,” balas ibu itu ramah namun membuatku lesu seketika.
Aku hanya memiliki 5.000 won didompet dan beberapa sen di kantong.
Aku menghela nafas panjang lalu membungkukkan badanku pada ajjuma penjual cicin itu.
“Mianhe, uangku tak cukup ajjuma,” ujarku lalu meninggalkan stan itu.
Namun saat beberapa langkah aku berjalan, aku tak menemukan Donghae dan Minri. Aku coba berjalan lebih jauh lagi, namun bukannya menemukan mereka, aku malah makin tersesat.
Aku mulai panik. Aku menatap langit yang mulai gelap dan melihat jam ku. Sudah waktunya untuk kumpul, dan sem tadi mengatakan ia tak akan mentolerir siapapun yang telat kembali. Ia pasti akan meninggalkanku. Ottokhe? Aku melihat hpku, berharap pada satu-satunya alat komunikasi yang aku punya namun pupus sudah harapanku, hpku sudah tak berenergi lagi.
Aku berusaha tenang dan memutuskan untuk berjalan lagi, namun tiba-tiba saja hujan turun dengan deras tanpa basa-basi dan dari tempatku berdiri aku melihat beberapa pria tinggi besar dengan wajah yang menyeramkan sedang berjalan ke arahku dan hal itu membuatku segera berlari bersembunyi di kotak telepon yang tak jauh dari tempatku berada.
Aku tak tahu kenapa masalah datang berurutan padaku. Namun yang jelas, hari ini aku terlalu sial.
Aku terduduk di dalam box telepon itu, melipat kakiku sebatas dada dan memeluknya untuk menghangatkan badanku sekaligus untuk mengurangi rasa takutku meskipun rasanya hal itu percuma.
Aku takut. Aku takut. Perasaan takut menyelimutiku.
Dan dengan telepon yang ada di box itu, tanpa kusadari aku memencet nomor ponsel pria yang tiba-tiba saja terlintas di kepalaku. Nomor handphone yang sudah kuhafal luar kepala karena sudah 30 hari ini, pria itu mengacaukan pikiranku, hatiku, dan perasaanku.

*****

SIWON POV

Aku resah. Ini sudah jam 5.15 dan aku tak melihat Hamun padahal teman-temannya sudah berkumpul. Sudah puluhan kali aku menelponnya, namun tetap tak ada jawaban.
“Seperti yang sudah kukatakan, tak ada toleransi pada keterlambatan jadi ayo kita segera kembali,” ujar sem. Semua murid mulai naik ke bus mereka masing-masing namun saat giliranku untuk naik ke dalam bus, kaki dan hatiku menolak.
“YAA CHOI SIWON!!” teriak semku yang tak kuhiraukan. Aku segera berlari dan membiarkan kakiku melangkah kemanapun karena aku sendiri tak tahu harus kemana. Aku membiarkan hujan membasahi tubuhku. Yang jelas, aku harus menemukan Hamun.
Ponsel yang ditanganku tiba-tiba saja bergetar. Aku melihat nomor penelpon itu, tak kukenal. Biasanya aku tak akan meladeni nomor telepon asing seperti itu namun kali ini aku hatiku memaksaku untuk mengangkatnya.
“Si-si-siwon? A-aku takut,” ujar suara di sebrang parau. Perasaanku campur aduk antara lega dan khawatir saat mendengar suara penelpon itu.
“Kau dimana Hamun?!!” teriakku tanpa perlu waktu lama untu mengenali pemilik suara itu.
“A-aku tak tahu. A-aku bersembunyi di salah satu box telepon. Tapi aku tak tahu dimana,” ujarnya parau.
“A-ku takut, disini dingin, kumohon cepatlah datang Siwon sshi,” ujar Hamun, aku dapat merasakan ketakutan disuaranya.
Dengan segera aku mengitari tempat yang tadi kulalui, membuka lalu menutup box telepon yang tidak ada Hamun di dalamnya.
Aku menatap jamku, sudah pukul 9. Sudah satu setengah jam aku mencari namun ia tetap tak ketemu. Hampir pupus harapanku, namun box yang ada di tengah taman itu memberikanku sebuah keyakinan kalau Hamun ada disana. Dan saat kubuka box itu, aku terpaku dan tercekat melihat gadis yang aku sayangi itu sudah meringkuk dibawah dengan air mata yang membasahi wajahnya dan tubuhnya yang bergetar hebat.
“Si-siwon?” gumannya dan saat itulah aku tak dapat menahan perasaanku lagi. Aku memeluknya, memeluknya sangat erat, mencium kening dan pipinya.
“Aku disini, aku disini,” gumanku yang membuat tangisan Hamun makin keras. Ia membalas pelukanku dengan tangan kecilnya yang bergetar.

*****

Aku menengadahkan wajah Hamun agar aku dapat menghapus air mata dipipinya.
“Sudah tenang?” tanyaku lembut yang ia balas dengan anggukan.
Aku memakaikan jas seragamku padanya agar ia merasa lebih hangat, lalu menggenggam tangannya erat dan membawanya keluar dari box telepon itu.

*****

“Kau yakin Hamun sshi?”
Hamun mengangguk. Aku tahu ia ragu. “Aku tak mau kau sakit karenaku Siwon sshi, aku sudah terlalu merepotkanmu hari ini,” ujarnya.
Aku sudah berulang kali menolaknya, namun ia tetap memaksa padahal ia sendiri takut.
Aku meletakkan guling ditengah-tengah tempat tidur hotel ini.
“Kalau malam nanti kau merasa aku bergerak melewati batas guling ini, kau tinggal menendangku saja Hamun sshi,” candaku yang membuatnya tertawa kecil.
“Aku percaya padamu,” jawabnya lagi diiringi senyuman tulus darinya. Sudah tidak ada ketakutan ataupun keraguan. Dasar Hamun. Harusnya kau berhati-hati padaku, karena saat ini aku adalah pria egois yang sangat menginginkanmu.
Hening beberapa saat diantara kami. Debaran jantung yang berlebihan membuatku tak bisa segera tidur.
“Hamun sshi, kau sudah tidur?” tanyaku
“Aniyo,” jawabnya.
Ada sesuatu yang sedari tadi ingin kutanyakan, dan mungkin sekarang adalah saat yang tepat.
“Apa tadi aku orang pertama yang kau hubungi?” tanyaku
Hamun terdiam sesaat. “I-iya,” jawabnya yang membuat jantungku tiba-tiba saja berdetak kencang dan reflek membuatku membalikkan tubuhku dan kini yang kutatap adalah punggung Hamun.
“Apa itu tandanya kau menyukaiku?” tanyaku sekali lagi. Hamun membalikkan tubuhnya. Kini mata kami bertemu, membuat jantungku berdetak 2x lebih kencang.
Aku dapat melihat wajahnya yang tiba-tiba memerah. Ia menundukkan wajahnya dan tak berani menatap mataku langsung.
“A-aku sendiri tak tahu. Hanya saja saat aku tidak bersamamu, kau selalu muncul dipikiranku. Dan saat bersamamu, entah mengapa jantungku berdetak sangat kencang sampai bernafas pun aku tak bisa. Kalau seperti itu cinta, berarti aku sudah jatuh cinta padamu Siwon sshi,” jawabnya yang membuatku senang bukan main. Reflek, aku hendak memeluknya namun untung saja aku bisa mengendalikan tubuhku.
“A-apa aku boleh memelukmu?” tanyaku ragu padanya. “Aku hanya ingin membuktikan kalau ini bukanlah mimpi,” lanjutku yang dijawab Hamun dengan anggukan.
Aku menyingkirkan guling yang menjadi batas diantara kami lalu menariknya kedalam pelukanku.
“Saranghae Hamun,” bisikku tepat di telinganya.
“na-nado,” balas Hamun.
Aku nyaris saja tertidur sambil memeluk Hamun, namun aku teringat sesuatu.
Aku bangkit dari tempat tidur menuju tempat dimana jas sekolahku tergantung. Aku memeriksa kantong jasku itu tapi apa yang kucari tak kudapatkan. Dimana?
“Kau cari apa Siwon sshi?” tanya Hamun yang melihatku kelimpungan.
Sambil terus mencari, aku menjawab, “Kotak kecil, berwarna abu-abu yang ada dikantongku tadi,” jawabku
“Yang ini?” tanya Hamun yang membuatku menatap benda di tangan kanannya. That’s it!
Aku menghampiri Hamun yang duduk ditepi tempat tidur dan berlutut. Aku membuka kotak kecil itu dan membiarkan benda didalamnya memancarkan cahayanya.
“Mianhe, untuk saat ini, aku hanya mampu memberikanmu cincin murahan ini,” ujarku sambil menyematkan cincin itu ke jari manis tangan kirinya.
“Apa kau tahu arti cincin ini?” tanyaku
“Artinya..”
“Cincin itu lambang ikatan. Kalau kau memberikannya pada seseorang itu artinya kau menyerahkan kebebasanmu karena kau ingin terikat olehnya,” jawab Hamun tepat seperti yang hendak aku jelaskan padanya.
“Bagaimana kau tahu?” tanyaku heran.
“Saat aku melihat cicin ini, wajahmu terlintas dipikiranku. Dan hal itu membuatku Ingin membelinya namun apa daya aku tak punya uang,” jawabnya lirih yang membuatku tertawa dan mengacak rambutnya.
“Hamun apa boleh aku menciummu?” Aku bertanya tanpa memikirkannya lebih dahulu. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku dan terpaksa aku
tarik kembali karena Hamun sudah menatapku dengan heran.
“Lu-lupakan saja,” ujarku salah tingkah
“Ah-ani. Aku hanya heran, apa kau selalu meminta ijin seperti ini pada pacar-pacarmu sebelumnya?” tanyanya
“Tidak. Hanya padamu. Karena aku tak ingin menyakitimu,” jawabku jujur.
Hamun tersenyum menatapku lalu menganggukkan lehernya.
“Maksudmu, aku boleh..?” dan ia mengangguk sekali lagi.
One step, two step, wajahku mendekati wajahnya dan detik berikutnya bibir kami sudah menempel. Ciuman yang sebentar namun lembut dan hangat.
“Saranghae Kang Hamun,”

*****

“Argh, aku bosan!” seru Hamun sambil mengacak rambutnya frustasi.
“Yaa, Hamun, kalau kau mau satu universitas denganku, kau harus belajar,” ujarku
“Iya Siwon-nim, aku tahu. Tapi istirahat sebentar tidak masalahkan?” pintanya yang membuatku luluh.
“Baiklah Hamun,” ujarku yang membuatnya melambai-lambaikan tangannya saking gembira
“Kita main truth or dare yuk?” ajak Hamun. Awalnya aku menolak tapi lagi-lagi Hamun bisa membuatku luluh.
Ia mulai memutar pulepnnya dan sial sekali, ujung pulpen itu kini mengarah kearahku. Hamun sudah menatapku antusias. “Truth or dare?” tanyanya
“Truth,” jawabku seadanya berharap Hamun tak menanyakan sesuatu yang tak bisa kujawab, misalnya berapa mantan pacarku hahaha
Hamun terdiam tampak seperti berpikir, “Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku? Aku bukan anak golongan populer seperti mantan-mantanmu, aku juga bukan golongan anak yang suka ke diskotik seperti teman-temanmu. Lalu mengapa kau mencintaiku?” tanyanya.
Jantungku kembali berdebar kencang karena ia sudah menatapku lekat menanti jawabanku. Meski sudah setahun berpacaran dengannya, ia tetap saja bisa membuat jantungku berdetak tak karuan.
“Aku jatuh cinta padamu karena kau seperti gaya gravitasi,” jawabku yang membuatnya menatapku heran
“Dulu aku tak percaya cinta, namun saat melihatmu begitu tulus mencintai Donghae, aku jadi penasaran dengan sesuatu yang disebut ‘cinta’. Kau selalu ‘menarik’ perhatianku. Rasa penasaranku membuatku terus memperhatikanmu. Rasa yang awalnya simpati entah sejak kapan berubah menjadi cinta,” jawabku jujur.
Hamun nyaris saja membuka mulutnya untuk bertanya. “Kajja! Kini gilaranmu,” selaku sebelum Hamun sempat bertanya lebih jauh lagi. “Truth or dare?” tanyaku
“Truth,” jawabnya. Aku terdiam sebentar memikirkan pertanyaan apa yang cocok untuknya.
“Apa kau masih mencintai Donghae?” tanyaku yang membuat Hamun tertawa. Aku tahu itu adalah suatu pertanyaan bodoh, karena aku sendiri sudah tahu jawabannya. Bukannya aku kepedean, namun dari ujung rambut sampai jari kakinya menyatakan kalau Hamun mencintaiku.
“Aku menyayangimu Siwon-nim. Apa kau masih ragu?” tanyanya yang kujawab dengan senyum puas dan gelengan kepala.
“Kali ini giliranmu lagi, truth or dare?” tanya Hamun masih dengan semangatnya yang sepertinya tidak pernah habis
“Dare,” tantangku
Ia berpikir lagi, “Buktikan padaku kalau kau mencintaiku,” ujarnya. Suau tantangan yang terlalu gampang menurutku.
Aku menarik tangannya dan menempelkan telapak tangannya didadaku.
“Kau merasakannya?” tanyaku
“Iya, cepat sekali Siwon ah,” ujarnya polos yang membuat jantungku makin berdetak kencang
“Omo, omo, makin kencang!” serunya seperti anak kecil
“Itu sudah cukup sebagai bukti kalau aku mencintaimu kan?” tanyaku yang ia jawab dengan senyuman
“Truth or dare?” tanyaku pada Hamun
“Dare,” jawab Hamun penuh kepercayaan diri
“Cium aku,” tantangku yang membuat Hamun menatapku dengan matanya yang mulai membesar.
“Cium aku, Hamun,” ujarku sekali lagi meyakinkannya kalau ia tidak salah dengar.
Wajahnya sudah berubah warna menjadi merah. “A-aku tak mau,”
“Kau sendiri yang ingin bermain permainan ini kan?” ujarku
Hamun menatapku ragu yang kubalas dengan senyuman simpul. “Hamun, ppaliwa,” rengekku
Dan tiba-tiba saja semuanya terasa berlalu begitu cepat. Aku menyentuh bibirku dan menatap gadis yang wajahnya sudah sangat memerah di depanku. Hamun baru saja mengecup bibirku. Sangat cepat namun aku bisa merasakan ketulusan, kehangatan, kelembutan, dan kegugupannya.
“A-ayo belajar lagi,” gumannya. Aku dapat mendengar kegugupan dari suaranya. Hal itu membuatku senang bukan main.
“Hamun, boleh aku memelukmu?” tanyaku yang ia jawab dangan anggukan kepala. Aku beralih belakang Hamun dan memeluknya dari belakang, meletakan kepalaku di bahunya dan kedua tanganku melingkar dipinggangnya.
“Hamun saranghae,” bisikku tepat ditelinganya.
“Siwon sshi, Hamun, kita makan malam du..” suara itu terdengar bersamaan dengan pintu kamar Hamun yang terbuka. Melihat omma Hamun sudah diambang pintu, reflek, aku melepaskan pelukanku pada Hamun.
“Aigo, mianhe mama mengganggu kalian ya?” goda omma Hamun sambil menyunggingkan senyum simpul yang membuat kami berdua salah tingkah.
“A-ani ajjuma, ini tadi, ehm..”
“Sudahlah, tak perlu kau jelaskan, ajjuma kan juga pernah muda,” ujar ajjuma yang langsung meninggalkanku dan Hamun.
Aku menatap Hamun, demikian juga Hamun lalu kami pun tertawa bersama.
“Saranghae Kang Hamun,”
“Nado,”

END