Cast: Super Girls
(Song Hyejin, Park Minah, Jung HyunAh, Choi Jihyo, Kang Hamun)

Minah pov
Persiapan dalam rangka comeback SG beberapa hari lagi membuatku sakit kepala nyaris setiap hari. Jadwal latihan yang padat, diet ketat dan show dimana-mana membuat tubuhku kewalahan. Aku bahkan sempat pingsan dua kali waktu syuting mini dramaku. Aku sudah mengajukan cuti untuk beberapa hari tapi tidak dikabulkan oleh manajerku. “Cuti?! Kalau mau sukses, jangan setengah-setengah. Kau harus profesional, Minah.” Begitu kata manajerku. Aku mencoba bicara dengan leaderku tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Harapanku tinggal ada pada Yunho oppa.
“Jagiyaaa, kapan pulang? Aku kangeeen!” seruku begitu Yunho mengangkat telepon jarak jauh ini.
Yunho tertawa manis sekali. “Tenang, aku akan kembali nanti malam. Sabar ya, jagi. Bagaimana persiapan comeback mu?” sahut Yunho.
Aku pun segera berkeluh kesah padanya. “Aku capek sekali. Aku mau cuti tapi manajer tidak mengijinkannya. Aku benar-benar lelah. Kepalaku nyaris tiap hari sakit sekali. Aku bahkan sempat pingsan, jagi. Aku hanya butuh istirahat sebentar.” Tanpa aku sadari, air mataku mulai menetes menumpahkan semua emosiku yang tertahan selama ini. “Apa aku keluar saja ya?”Aku betul-betul tidak kuat lagi seperti ini.
Yunho tampaknya tidak tega mendengarku. Ia berusaha menghiburku. “Jagi, ini kan cita-citamu. Bersabarlah. Untuk sukses memang butuh pengorbanan. Aku dulu juga begitu. Sekarang malah lebih parah. Kau harus tetap semangat, jagi. Hyunah dan yang lain pasti juga merasakan hal yang sama tapi mereka tetap bertahan kan? SG harus tetap eksis. Ya?”
Emosiku semakin tidak stabil. Isak tangisku semakin keras. Aku tidak tahu harus bicara apalagi. Hanya rengekan yang keluar dari mulutku. “Jagi, cepat pulang. Aku benar-benar membutuhkanmu sekarang.”
Saat itu, tiba-tiba manajerku masuk bersama HyunAh sambil mengomel hebat. “Bawa anak-anak itu pulang sekarang! Mereka harus latihan koreografi baru.” HyunAh lebih dulu mendatangiku. Matanya sangat sendu tanda tubuhnya sudah benar-benar bekerja maksimal. Sedikit lagi saja, dia mungkin akan jatuh sakit.
Aku menutup teleponku lalu bertanya pada HyunAh, “Apa maksud manajer kita harus latihan koreografi baru?”
HyunAh menatapku dengan pasrah. “Koreografi kita dirombak total. Ada girlband yang baru debut minggu lalu. Koreografi mereka persis sama dengan kita,” jawab HyunAh tak bersemangat.
Aku serasa sedang diterjunkan dari tebing setinggi 100 meter mendengar berita itu. Koreografi super sulit yang sudah kami latih berminggu-minggu tiba-tiba diubah hanya dalam beberapa hari sebelum comeback? Kalau begitu kami pun harus syuting ulang MV? Aku sungguh-sungguh ingin mati!

HyunAh pov
Aku dan Minah hanya bisa terduduk lemas di studio menunggu kedatangan Hyejin, Hamun dan Jihyo. Manajer kami masih mengomel entah kepada siapa melalui ponselnya sedangkan koreografer kami sudah bergerak-gerak diiringi musik baru kami.
“Hei Minah! HyunAh! Kenapa kalian masih duduk saja? Ayo berlatih!” perintah manajer kami dengan galak.
“Tapi Hyejin dan yang lain belum datang,” sahut Minah.
“Lalu kalau mereka belum datang kalian tidak bisa ngapa-ngapain?! Hah?!” balas manajer kami lebih galak.
Minah sudah mau membalas lagi tapi aku menahannya. Aku tahu jika ada satu patah kata saja keluar dari mulut Minah dan itu memperbesar api kemarahan manajer kami, bisa dipastikan SG akan ada di ujung tanduk. Aku tak mau itu terjadi.
Aku menarik tangan Minah agar ia mengangkat pantatnya dan bergerak sesuai dengan apa yang diajarkan koregrafer kami. “One two three four five six! One two three four five six!” seru koreografer menghitung ketukan langkah kami. “Left! Left! Right! Turn!” Begitu ia terus-terusan memerintahkan kami untuk bergerak. Aku dan Minah pun bergerak mengikutinya tentu dengan power yang nyaris tidak ada.
Manajer kami terus memperhatikan kami dengan serius. Wajahnya tampak kesal apalagi saat Jihyo tiba-tiba datang ketawa-ketiwi bersama Sungmin.
“Mana Hyejin dan Hamun? Kenapa kau hanya sendirian?” omel manajer kami kepada Jihyo.
Jihyo yang kaget hanya bisa menjawab dengan gugup. “A…aku tidak ta…tahu. Tampaknya mereka masih di jalan.”
Manajer kami mendecakkan lidahnya dengan kesal lalu memerintahkan Jihyo bergabung dengan aku dan Minah.
Jihyo berdiri di antara aku dan Minah. Dia menatapku meminta suatu penjelasan. “Kenapa dia?” tanya Jihyo padaku sambil mengedikkan kepalanya ke arah manajer.
Aku tersenyum getir. “Anggap saja dia sedang PMS. Lebih baik kita latihan. Koreografi kita dirombak total,” ucapku.
Jihyo membuka mulutnya dan tak bisa mengatup lagi. “Apaaa?!” pekiknya kencang, untung setelah manajer meninggalkan kami.

Jihyo pov
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan HyunAh onni padaku. Koreografi kami dirombak total dan harus kami kuasai dalam waktu beberapa hari. “Ini gila! Kalau gini caranya, kita pasti akan latihan tengah malam. Hanya itu waktu kosong kita yang berbarengan,” seruku.
“Iya kami tahu, Jihyo dan aku mohon jangan ingatkan aku masalah itu,” kata Minah onni dengan wajah suntuknya.
“Memang kenapa harus diubah sih? Bukannya sudah sempurna?” tanyaku. Aku benar-benar kesal mengenai masalah ini. Bisa-bisanya koreografi kami diubah setelah MV kami siap dan promosi siap dilakukan.
“Ada girlband baru yang debut minggu lalu. Tariannya sama persis dengan kita. Kita kalah cepat,” jawab HyunAh onni.
Walaupun aku tak suka dengan jawaban HyunAh onni tapi memang itu kenyataannya. Youtube sudah memperlihatkannya sendiri padaku. Sebuah girlband baru bernama Purple Rain debut dengan single mereka yang juga berjudul Purple Rain menggunakan tarian yang persis sama dengan tarian kami sebelum dirombak.
“Appa! Aku harus bicara dengan Appa! Mungkin dia bisa membantu kita!” seruku kemudian begitu teringat bahwa Appaku adalah CEO SMent pengganti tuan Lee Soo Man. Timbul harapanku agar jadwal kami tidak harus sampai tengah malam. Appa pasti bisa mengaturnya.
Sayang HyunAh onni menyambar dan mengubur semua harapanku. “Apa yang mau kau bicarakan? Kita memang harus mengganti koreografi kita dan berlatih ekstra. Kau mau kita dibilang plagiat girlband baru huh? Kita tidak ada pilihan,” ujar HyunAh onni.
Aku menghela nafas panjang. Omongan HyunAh onni ada benarnya. Kami tidak punya pilihan. Tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali berlatih ekstra. Haish!!
“Mr. Ahn, bisakah kami istirahat? Aku capek sekali,” pinta Minah onni tiba-tiba lalu mundur dari formasi. Ia duduk di sudut studio sambil meminum air mineral. Tampak wajahnya yang sangat pucat dan mengerikan. Aku lalu melihat Mr.Ahn yang tampaknya sedang memikirkan permintaan Minah.
“Baik. Kalian boleh istirahat. Kita latihan lagi saat Hyejin dan Hamun datang,” kata Mr. Ahn.
Aku dan HyunAh onni tampaknya sudah lupa cara berterima kasih. Kami begitu saja menjatuhkan diri ke lantai dan berbaring, mengembalikan energi kami yang sudah menghilang entah kemana.
Mataku nyaris terpejam saat aku dengar Minah onni menghentakkan kakinya dengan keras bersamaan dengan suara terbukanya pintu studio. “Kemana saja kalian?! Kenapa baru datang?! Enak sekali ya, datang terlambat, latihan lebih sebentar pula!” seru Minah onni marah-marah penuh emosi.
Aku melihat ke arah pintu. Ternyata Hyejin onni dan Hamun baru saja datang. Wajah mereka tampak lesu, sama seperti kami. Hanya mereka tampak kaget karena kena semprot Minah onni padahal kaki mereka saja belum masuk studio.
Aku lihat Hyejin onni sangat tersinggung dengan perkataan Minah onni. Hyejin onni melangkahkan kakinya dengan mantap, langsung menuju hadapan Minah onni. Hamun yang berjalan mengikuti Hyejin onni menatapku dengan tampang ketakutan. “Ottoke?” Aku membaca gerak mulutnya yang bicara tanpa suara.

Hamun pov
Aku berjalan mengikuti Hyejin onni yang siap meledak kapan saja akibat kata-kata tajam yang dilemparkan Minah onni. Aku menatap Jihyo onni yang sedang berdiri tidak jauh dari kami. “Onni, ottoke? Help,” ujarku hanya melalui gerakan mulut saja. Aku tidak cukup berani mengeluarkan suara. Jihyo onni pun balas menatapku hanya dengan mengangkat bahu tanda ia juga tidak tahu harus bagaimana.
Memang jika kedua orang terkeras di grup kami sedang berhadapan, tidak ada yang bisa mencegahnya.
“Aku terlambat bukan tanpa alasan. Aku punya jadwal lain dulu yang harus diselesaikan, Minah,” ujar Hyejin onni menjelaskan alasan kenapa dirinya terlambat tapi Minah onni tidak menerima jawaban itu.
“Kau selalu saja punya alasan jadwal yang harus diselesaikan. Padahal kerjamu hanya menemui Kyu!”
“Jaga mulutmu, Park Minah! Haruskah aku jelaskan semua kepadamu?! Aku bekerja jauh lebih keras. Jadwalku jauh lebih padat! Tapi apa yang aku dapatkan sama seperti yang kau dapatkan! Ya! Aku membagi honorku sama rata dengan kalian meski aku mendapat kontrak yang lebih banyak! Jangan berlagak kau yang paling bekerja keras!”
Minah onni sudah mau melayangkan tangannya ke pipi Hyejin onni. Untung HyunAh onni datang menahan tangan Minah onni. “Minah, hentikan,” desis HyunAh onni dengan tegas. Tangan HyunAh onni mencengkram keras tangan Minah onni sedangkan mata HyunAh onni menatap mata Hyejin onni.
“Hyejin, kami tahu kau bekerja jauh lebih keras daripada kami. Kami juga tahu manajemen mengharuskan kau membagi penghasilanmu dengan kami karena kita satu grup. Tapi aku katakan satu hal padamu, kami tidak pernah memintanya. Kalau kau berat berbagi dengan kami, aku bisa bilang pada manajemen untuk mengaturnya tapi kami tetap akan berbagi denganmu, Hye,” ujar HyunAh onni dengan perlahan tapi cukup menusuk.
Aku melihat Hyejin onni jatuh terduduk. Tubuhnya terkulai lemas, berjongkok di lantai studio dengan tangan meremas kepalanya sendiri. Aku ikut jongkok di samping Hyejin onni, memeluknya dengan erat. Aku mencoba memberinya sedikit ketenangan sekaligus meredakan ketegangan di antara kami semua.
“Onnideul, aku mohon jangan bertengkar. Kita semua sedang tertekan jadi sedikit gesekan saja bisa berbahaya. Menurutku justru seharusnya kita semakin bersatu menghadapi ini semua,” ucapku dengan lancar tanpa persiapan sebelumnya. Semua kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Jihyo onni mengangguk-angguk tanda setuju dengan ucapanku begitu juga HyunAh onni tapi tidak dengan Minah onni. Minah onni masih mengeraskan hatinya dan memandang kami semua dengan kesal. “Terserah apa kata kalian! I quit!” serunya lalu melangkah pergi dari studio.
“Minah! Kau mau kemana? Kembali!” panggil Minah onni diikuti oleh aku dan Jihyo.
“Minah onni! Minah onni!”
Minah onni tidak berbalik sedikit pun. Ia pura-pura tidak mendengar panggilan kami semua. Ia tetap memilih meninggalkan kami.
Aku tahu kami semua sedang stres tapi aku tak mau nasib SG menjadi tidak karuan hanya karena kami tidak bisa mengendalikan emosi.
“Onni, kita harus bagaimana sekarang?” tanyaku bingung pada Jihyo onni. Jihyo onni mengelus-elus kepalaku dengan lembut lalu berlari mengejar Minah onni. “Aku akan membawa Minah onni kembali. Hamun dan HyunAh onni tenang saja ya.”
Aku menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Jihyo onni. Aku berharap ia berhasil kembali dengan Minah onni. Aku tidak ingin SG tidak kompak apalagi berakhir.

Hyejin pov
Aku berjongkok di lantai studio sambil menangis. Kepalaku sangat sakit begitu juga hatiku, pikiranku pun sangat kacau. Aku tidak bisa berpikir apapun.
Aku tahu semua member sedang tertekan dengan jadwal yang super padat, bodohnya aku bukan meringankan beban mereka tapi justru menambah masalah. “Aku benar-benar bodoh!” gumamku kesal pada diriku sendiri.
“Hye, kau tidak bodoh. Kau hanya tertekan. Sama seperti Minah. Jangan terlalu dipikirkan,” sahut HyunAh yang rupanya mendengar gumamanku. Ia juga menyodorkan tangannya kepadaku. “Berdirilah. Jangan menangis lagi. Percaya padaku, Jihyo akan membawa pulang Minah.” HyunAh berhasil menenangkan diriku dan membuatku berdiri. “Lebih baik sekarang kita latihan. Mr. Ahn sudah kembali.”
Aku melihat Mr. Ahn datang dengan semangat diikuti oleh manajer kami di belakangnya. Hatiku yang tadi sakit sekarang berubah menjadi tegang.
Sebelum aku datang, dia sudah memarahiku lewat telepon. Sekarang saat aku sudah datang, Jihyo dan Minah yang pergi. Aku pasti akan kena marah lagi.
“Ah, kalian sudah datang,” kata manajer begitu melihatku dan Hamun. Dia lalu melanjutkan ucapannnya ketika tidak menemukan Jihyo dan Minah. “Kenapa kalian hanya bertiga? Kemana Jihyo dan Minah?”
Aku bingung setengah mati mencari jawaban yang tepat agar tidak semakin memperkeruh masalah tapi aku tidak kunjung menemukan jawabannya meski manajer telah menatapku meminta jawaban. Untung Hamun dengan cepat menyambar, “Mereka sedang ke kamar mandi. Perut mereka sakit akibat obat cuci perut yang harus kami konsumsi. Diet is always painful, miss.”
Manajer kami menggerakkan kedua alisnya ke atas. “Baiklah. Kalau begitu kalian latihan lagi. Aku tidak mau tahu hari ini kalian sudah harus hafal gerakannya karena besok kita syuting MV,” ujar manajer kami dengan tegas. Ia lalu bergegas mengambil kursi di hadapan kami dan duduk dengan manis. “Berlatihlah. Aku akan mengawasi kalian dari sini.”
Aku, HyunAh dan Hamun pun mulai membentuk formasi dan bergerak sesuai dengan instruksi koreografer kami. “Angkat kepalamu lebih tinggi, Hyejin!” perintah koreografer kami kepadaku. Aku pun mengangkat kepalaku lebih tinggi. “Kau, Hamun. Putar badanmu lebih kencang. Gunakan power kalian!” Koreografer itu tidak henti-hentinya berteriak memberikan perintah atau hitungan-hitungan dari gerakan kami.
Setengah jam berlalu dan belum ada tanda-tanda Jihyo dan Minah akan kembali. Aku mulai gelisah. Manajer pun sudah bertanya-tanya kenapa mereka berdua tidak juga kembali. “Hyejin, kenapa Jihyo dan Minah belum kembali? Kau yakin mereka benar-benar ke toilet?”
“Ne. Sebentar lagi mereka akan kembali. Tampaknya sakit perut mereka cukup parah,” jawabku asal. Aku bahkan tidak tahu kemana mereka berdua.
“Coba hubungi mereka!” perintah manajer kami.
Hamun pun yang sedang memegang ponsel dengan cepat menghubungi Jihyo. “Onni, apa sakit perut kalian sudah sembuh? Hmm, syukurlah. Cepat kembali ya. Manajer mencari kalian. Sampaikan pada Minah onni juga ya.” Hamun pintar sekali bicara sampai manajer tidak sadar bahwa kami sedang membohonginya. “Mereka akan kembali sebentar lagi. Perutnya masih sakit,” kata Hamun kemudian pada manajer.
Tidak lama kemudian Jihyo datang sambil berseru, “Minah onni pingsan! Kita harus segera menolongnya!”
HyunAh dan Hamun segera berlari mengikuti Jihyo tapi manajer kami lebih dulu menahan mereka. “Kalian harus tetap latihan. Aku yang akan mengurus Minah.”
“Tapi miss…” Manajer tidak mempedulikan suara kami. Minah adalah teman kami tapi ia tidak memperbolehkan kami menemui Minah padahal ia sedang pingsan. Hal itu membuatku naik darah.
Aku berjalan mendekati manajer kami. “Miss Seo, kau boleh melakukan apapun pada kami sesukamu tapi tidak dengan persahabatan. Minah adalah sahabat kami jadi kami harus melihatnya. Kau tidak bisa melarang kami. Asal kau tahu, Minah pingsan juga karena kau yang memberikan jadwal gila-gilaan padanya sampai ia tidak sempat istirahat. Sebaiknya kau bisa belajar dari kejadian ini Miss Seo. Permisi.” Aku pun keluar studio diikuti HyunAh dan Hamun. Kami berlari mengikuti Jihyo yang tidak jauh di depan kami.
Aku pasti sangat stres! Aku mengatakan semua hal itu dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun menatap mata Miss Seo. Miss Seo tampak terkejut mendapat perlawanan dariku dan aku tahu itu akan membuatku susah tapi aku tidak peduli. Saat ini, Minah jauh lebih penting.

-To be continued-