Cast: Super Girls
(Song Hyejin, Park Minah, Jung HyunAh, Choi Jihyo, Kang Hamun)

HyunAh pov
Minah dilarikan ke rumah sakit dan diperiksa kondisinya oleh dokter langganan SMent. “Minah kecapekan. Dia butuh istirahat panjang. Lebih baik dia opname saja beberapa hari,” ujar dokter membuatku lega. Aku tidak bisa membayangkan jika Minah diperbolehkan pulang. Dia pasti akan tetap disuruh berlatih dan membuatnya semakin parah. Terlihat dari kelakuan manajer kami yang luar biasa menyebalkan.
“Berapa lama Minah harus opname?” tanya manajer kami pada dokter yang memeriksa Minah.
“Paling sedikit seminggu,” jawab dokter.
“Tidak bisa sehari saja? Dia harus latihan. SG akan comeback beberapa hari lagi.”
Dokter menggelengkan kepalanya dengan sangat menyesal. “Minah akan semakin parah jika dipaksakan,” ujar sang dokter lalu pamitan keluar ruang rawat. “Permisi, saya duluan.”
Manajer pun mendecakkan lidahnya karena kesal dan keluar mengajak Hyejin. Aku dan Jihyo tetap berada di kamar Minah, menunggu kedatangan Yunho oppa yang katanya akan segera datang.
“Onni, apa kita akan tetap comeback dengan kondisi Minah onni yang seperti ini?” tanya Jihyo.
Aku hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu. Manajemen yang mengatur semua tanggal comeback artis-artinya termasuk jika ada penundaan.
Aku dan Jihyo lalu kembali fokus pada Minah yang baru saja sadarkan diri. “Apa Yunho oppa sudah pulang? Aku ingin bertemu dengannya.” Itu ucapan yang pertama yang keluar dari mulut Minah dan jujur saja membuatku geli.
“Yaa Minah-ya! Bagaimana bisa hal pertama yang kau ingat adalah Yunho oppa? Dasar!” godaku yang hanya dibalas dengan senyuman lemah.
“Mana Hyejin dan Hamun?” tanya Minah.
“Hamun sekolah, onni. Hyejin ada di luar sama manajer,” jawab Jihyo.
“Apa mereka membicarakan masalah comeback kita?”
“Aniya. Aku tidak tahu, onni.”
Minah pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pelan. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk bergerak.
Yunho oppa datang tidak lama kemudian. Minah langsung tersenyum gembira melihatnya. “Jagiii,” panggil Minah. Yunho oppa pun langsung menghampiri kekasihnya itu dan mencium keningnya.
“Kenapa kau bisa sampai pingsan, jagi? Kau lupa minum vitaminmu?” tanya Yunho oppa.
Minah menggeleng-geleng dengan manja. “Tidak tahu, oppa. Aku pingsan begitu saja,” jawab Minah.
Melihat mereka berdua sungguh membuatku ingin bertemu dengan Changmin. “Oppa, Minah. Aku pulang duluan ya. Jaga Minah-ku dengan baik ya Oppa. Sampai jumpa,” pesanku sambil memeluk Minah lalu oppa-ku, Yunho. “Jihyo, ayo kita pulang.”

Jihyo pov
Aku berjalan mengikuti HyunAh onni keluar dari RS tanpa tahu kemana tujuannya. Yang pasti, aku tidak bisa lama-lama karena ada syuting. Apalagi harus menjemput Hamun lebih dulu. “Onni, kita mau kemana?” tanyaku saat kami sudah berada di dalam mobil.
“Menemui Changmin,” jawab HyunAh onni membuatku heran.
“Bukannya onni ada jadwal recording setengah jam lagi?” tanyaku.
HyunAh onni mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat sambil senyum-senyum. Aku pun jadi ikutan senyum-senyum. HyunAh onni ada jadwal syuting 30 menit lagi tapi bisa-bisanya menyempatkan diri untuk bertemu kekasihnya.
“Changmin oppa!” seru HyunAh onni begitu bertemu Changmin oppa di dorm DBSK. Changmin oppa pun dengan sigap menyambut HyunAh onni. “Hai, jagi. Ada apa tiba-tiba menemuiku? Bukankah kau harus syuting?”
HyunAh onni mengangguk-anggukan kepalanya. “Tapi aku mau bertemu denganmu dulu.” HyunAh onni lalu cengengesan mendapat elusan lembut di kepalanya dari Changmin oppa.
Changmin oppa lalu menyapaku. “Hai Jihyo. Apa kabar?”
“Terima kasih Tuhan ternyata Changmin Oppa masih sadar aku ada. Hello, Changmin Oppa, Jonghyun oppa.” Aku memberikan salam kepada Changmin oppa dan Jonghyun oppa, member CNBLUE yang juga teman dekat Changmin oppa.
“Hello, Jihyo. Senang kau menyadari keberadaanku,” sahut Jonghyun oppa membuatku tertawa. Aku tahu bahwa ia sedan menyindir Changmin oppa.
Aku duduk di sebelah Jonghyun oppa sedangkan Changmin oppa dan HyunAh onni duduk bersebelahan di depan kami. “Bagaimana persiapan comeback SG?” tanya Changmin oppa yang langsung membuat HyunAh onni membuka mulutnya tanpa henti.
“Koreografi kami dirombak hanya beberapa hari sebelum debut. Lalu, Minah pun pingsan. Aku gak tau gimana kelanjutannya nanti, diundur atau tidak.”
“Kenapa dirombak? Bukannya kalian malah sudah syuting MV?” tanya Changmin oppa lagi.
“Memang. Purple Rain baru debut dan koreografinya persis sama dengan koreo kami.”
Changmin oppa mengerutkan keningnya. Tampaknya ia tidak tahu Purple Rain. “Purple Rain?”
“Iya, girlband baru,” sahutku sambil mengeluarkan ipadku. Aku membuka folder video yang menyimpan MV Purple Rain lalu menyodorkannya ke hadapan Changmin oppa. “Lihat, koreo-nya sama persis!”
Changmin oppa menonton video tersebut dengan serius. “Kenapa bisa sama begitu? Apa mereka mencontek kalian? Atau kalian menggunakan koreografer yang sama?”
Aku mengangkat bahuku. Changmin oppa membuatku sadar bahwa seharusnya aku menganalisa permasalahan ini, bukan menerimanya begitu saja.
“Changmin oppa!” pekikku membuat Changmin oppa terkejut.
“Wae?” tanyanya bingung.
“Changmin oppa! Gomawo! Kau sudah membuka pikiranku. Aku harus menyelidiki masalah ini. Gomawo, oppa!” Aku lalu bangkit berdiri dan menyambar tas ku.
“Kau mau kemana, Jihyo?” seru HyunAh onni begitu melihatku hendak pergi.
“Aku harus mencari tahu penyebab plagiat koreo ini! Masalah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Aku duluan ya. Permisi, onni, oppadeul!”
Secepat kilat aku bergerak menuju gedung SMent untuk bertemu dengan ayahku. Aku harus tahu detil permasalahan ini. Enak saja mereka bisa debut seenak jidat di atas penderitaan SG! Tidak akan aku biarkan!

Hamun pov
Menyenangkan rasanya dapat telepon dari Jihyo onni yang mengatakan bahwa ia tidak bisa menjemputku. “Hamun, kau pulang sendiri ya. Aku ada urusan. Nanti kita langsung ketemuan aja di lokasi.”
“Ne, onni,” jawabku pura-pura lesu. Berkat onni aku masih punya waktu kosong setengah jam. “Bisa ketemu Siwon oppa gak ya?”
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Siwon oppa melalui layanan video call agar aku bisa melihat wajahnya. “Oppa, kau sedang sibuk tidak? Aku mau ngajak ketemuan.”
Siwon oppa menyambut dengan gembira. “Tidak terlalu tapi aku tidak bisa kemana-mana. Kau bisa ke lokasi syutingku?”
“Cheongnam, jagi. Kau bisa ke sini?”
Seketika aku merasa sangat kecewa. Meskipun aku punya waktu luang tapi itu tidak akan cukup untuk menemui Siwon oppa. “Kalau begitu nanti saja kalau Oppa sudah balik ke Seoul. Aku ada syuting setengah jam lagi.” Aku tidak bisa menutupi rasa kecewaku. Dia jelas melihat wajahku yang langsung berubah lesu.Aku yakin Siwon oppa juga mendengar nada kecewaku dengan jelas.
“Tenang saja, jagi. Besok pagi aku sudah balik kok. Aku janji akan langsung menemuimu. Ya?”
“Ne, oppa.” Aku juga mengangguk-anggukkan kepalaku.
Siwon oppa tersenyum padaku dan langsung memperbaiki mood-ku. “Gadis pintar. Lebih baik sekarang kau berangkat ke lokasi daripada nanti terlambat, jagiya.”
Aku memasang wajah cemberut yang langsung disahut dengan tawa oleh Siwon oppa. “Kenapa wajahmu cemberut begitu, jagi? Tambah cantik deh,” godanya, membuatku tersipu.
“Oooppaa, kau kebiasaan deh menggodaku. Huh,” rajukku dengan manja.
Siwon oppa tertawa lagi. “Ya sudah, aku akan menemani kau ngobrol sampai ke tempat syuting. Bagaimana?” Siwon oppa menawarkan obat rindu yang tidak mungkin aku tolak.
“Setujuuu!” seruku riang. Aku pun tetap ngobrol dengan Siwon oppa meskipun sedang berdiri di pinggir jalan menunggu taksi. “Kau pulang sendiri?” tanya Siwon oppa.
“Ne. Jihyo onni ada urusan. Minah onni dirawat di RS. Hyejin onni masih sibuk dengan manajer kami membahas masalah SG.”
“Loh ada masalah apa? Bukannya kalian sudah siap comeback?”
“Memang tapi tiba-tiba semua dirombak total karena ada yang menyamai koreo kami.”
“Astaga! Berarti kalian harus latihan ulang?”
“Tepat sekali! Tambah lagi Minah onni opname. Entahlah nasib kami bagaimana.” Aku memasuki taksi sambil terus bicara, membagi pikiranku dengan Siwon oppa. Jujur, kepalaku sakit jika memikirkan nasib SG yang seperti ini.
“Tenanglah. Manajermu dan Hyejin pasti bisa mencari jalan keluar.”
“Kalau Hyejin onni tentu bisa diandalkan tapi kalau manajer kami itu…hah, kalau kami belum sekarat dia akan terus menyuruh kami bekerja.”
Tampang Siwon oppa tampak sangat terkejut mendengar keluh kesahku. “Jinjayo? Manajermu sekejam itu?” Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap.
“Aigoo. Kasihan sayangku. Kau berdoa saja agar Hyejin bisa mengendalikan manajermu.” Siwon oppa mengatakan hal itu dengan santai sampai membuatku sebal tapi semakin membuatku ingin bertemu dengannya.
Aku masih ngobrol dengan Siwon oppa saat tiba-tiba Jihyo onni menyela sambungan kami. “Oppa, sebentar. Jihyo onni menelepon. Jangan ditutup ya,” ujarku lalu menerima panggilan dari Jihyo onni. “Yoboseyo, onni. Waeyo?”
“Kau sudah sampai di lokasi?” tanya Jihyo onni buru-buru. Tampaknya dia sedang melakukan sesuatu yang harus segera diselesaikan.
“Belum. Memang kenapa, onni?” sahutku penasaran.
“Aku akan datang telat 10 menit. Tolong bilang dan sampaikan maafku ke produser ya. Annyeong!” Jihyo onni lalu menutup teleponnya begitu saja tanpa memberikan aku kesempatan untuk bertanya kenapa ia harus terlambat.
Begitu teleponku dengan Jihyo onni terputus, aku kembali pada Siwon oppa. “Jihyo bilang apa?” tanya Siwon oppa.
“Jihyo onni akan terlambat,” jawabku sambil menghela nafas. “Aku penasaran apa yang sedang dia lakukan sebenarnya.”
“Sudah biarkan saja. Jihyo memang seperti itu, suka melakukan sesuatu diam-diam,” sahut Siwon oppa.
Aku tidak menjawab. Aku membiarkan Siwon oppa melihat tampang penasaranku. Membuat Siwon oppa menyadarkanku bahwa aku sudah sampai lokasi. “Hei jagi, kau sudah sampai kan? Turunlah dari taxi. Siap-siap syuting. Masalah Jihyo tidak usah dipikirkan. Nanti dia juga cerita sendiri.”
Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Jihyo onni memang seperti itu. “Ne, oppa. Kau baik-baik ya di sana. Aku syuting dulu. Saranghae.”
“Nado.” Siwon oppa tersenyum lalu memutus telepon kami.
Aku pun turun dari taksi dan masuk ke lokasi syuting. Aku segera mencari produser untuk melaporkan keterlambatan Jihyo onni tapi yang mau aku laporkan malah sudah berdiri di sebelah produser. “Onni, katanya akan terlambat,” ujarku bingung.
Jihyo onni hanya nyengir kuda kepadaku. “Aku berubah pikiran,” katanya.
“Berubah pikiran?”
Jihyo onni lalu menarikku menjauh dari produser. “Kau ini banyak sekali bertanya. Sini kuberitahu kau sesuatu.”
Wajahku menatap Jihyo onni dengan bingung, bertanya apa yang ingin ia beritahu padaku. Rupanya Jihyo onni dapat membaca pikiranku. “Aku tahu kenapa Purple Rain bisa memiliki koreo yang sama dengan kita.”
“Wae?”
“They copied us! They paid our choreographer higher to get our moves! Damn!”
Jihyo onni sudah membuatku tercengang dengan berita yang ia bawa dan terus membuatku tercengang dengan rencananya selanjutnya. “Kita memang tetap harus mengubah koreo tapi aku bersumpah tidak akan membuat Purple Rain tenang. Aku akan mengangkatnya ke publik!”
Aku melihat Jihyo onni dengan ngeri. Kedua matanya berkilat-kilat menatap Purple Rain. Aku tahu Jihyo onni tidak main-main dengan ucapannya.

Hyejin pov
Setelah berdebat sengit sekaligus perang urat dengan manajer SG, akhirnya ia setuju untuk mengundur tanggal comeback. “Kau gila kalau tetap memaksakan SG comeback weekend ini. Minah bisa tiba-tiba mati di panggung, begitu juga denganku dan member yang lain. Kau mau itu terjadi? Kalau kau tega, aku yakin kau bukan manusia.” Begitu kataku tadi saat aku berbincang serius dengannya tadi di kafe RS. Sekarang saatnya aku memberitahukannya kepada Minah, HyunAh, Jihyo dan Hamun.
“Kutunggu kalian nanti malam jam 8 di kamar Minah. Manajer setuju untuk mengundur tanggal comeback kita.” Kutelepon mereka satu-satu untuk memastikan mereka mendengarnya langsung dari mulutku.
HyunAh dan Hamun menyanggupi perintahku. Mereka akan datang begitu jadwal rekaman mereka selesai. Jihyo pun sanggup tapi dia menambahkan bahwa dia juga ingin menyampaikan sesuatu. Aku rasa aku menciptakan waktu yang tepat untuk membuat forum untuk kami berlima.
Untuk membunuh waktu sampai jam 8 malam, aku memenuhi semua jadwal rekaman, siaran radio bahkan syuting iklan tanpa jeda. Aku membabat habis semuanya. Setelah itu baru aku melaju ke rumah sakit.
Minah sedang ditemani Leeteuk oppa saat aku masuk ke kamarnya. “Annyeonghaseyo, Oppa, Minah,” sapaku.
“Annyeong, Hyejinnie.. Sini! Sini!” Leeteuk oppa menghampiriku dan menarikku duduk di sebelah Minah.
Aku mencoba tersenyum pada Minah tapi tak berhasil. Bibirku memang sangat kaku. “A..apa kau sudah baikan?” tanyaku pada Minah ragu-ragu karena terakhir aku bertemu dengan Minah dihiasi pertengkaran.
Minah menatapku dengan serius. Matanya membuatku takut. Aku takut dia masih marah padaku. “Kau masih marah padaku ya? Mianhe. Jeongmal mianhe,” ucapku sungguh-sungguh.
Minah terus menatapku lalu tertawa terbahak-bahak. “Setelah kau berhasil protes pada manajer? Demi perutku yang sedang lapar, aku tidak tahan bertengkar lama-lama denganmu. Lagipula kita hanya beradu mulut, tidak sampai bunuh-bunuhan kan?” kata Minah yang sungguh membuat hatiku lega. Ingin aku memeluk Minah tapi tubuhku yang kaku ternyata tidak bisa diajak kerjasama. Aku bukan orang yang gampang mengekspresikan kasih sayang. Alhasil, aku hanya tersenyum.
“Mana yang lain? Bagaimana kau bisa membuat Manajer memundurkan tanggal comeback kita? Apa yang dia katakan?” tanya Minah bertubi-tubi saking semangatnya.
“Sebentar lagi juga akan datang,” jawabku bersamaan dengan kedatangan 3 member lain. “Itu mereka.”
“Onni!!” seru Jihyo dengan riang lalu berlari memeluk Minah. Seketika, ruangan ini menjadi super berisik.
“Baik. Baik. Aku akan pulang. Kalian berlima sudah kumpul. Aku tak kuat menghadapi kalian,” ujar Leeteuk oppa disambut tawa kami semua. Leeteuk oppa mencium kening adiknya dulu baru keluar, membiarkan kami berlima seru-seruan sendiri.
“Jadi…berita apa yang kalian bawa untukku huh?” seru Minah dengan semangat pada kami semua. “Hyejin kau wajib menceritakan dengan detil cara kau menghajar nenek sihir itu!” Aku tahu bahwa yang dimaksud Minah adalah manajer kami.
Aku memanggil memoriku saat marah-marah pada manajer kami tadi. “Onni kenapa malah ketawa. Ayo cerita.” Jihyo sungguh tidak sabaran. Member yang lain pun sudah duduk sambil menatapku.
“Oke. Oke. I’ll tell you. Kalian ingat waktu tadi pagi dokter bilang Minah butuh istirahat?” Jihyo dan yang lainnya mengangguk-angguk dengan serius. “Manajer langsung membicarakannya denganku. Bagaimana ini?! Pokoknya besok Minah harus sudah keluar RS dan latihan! Gitu katanya seperti orang kebakaran jenggot! Aku sungguh ingin menjambak mulutnya tadi!”
Hamun dan HyunAh tertawa terbahak-bahak sedangkan Minah tertawa penuh dendam. “Harusnya tadi kau jambak betulan mulutnya yang tajam itu,” komentar Minah.
“Lalu kau bilang apa padanya?” tanya HyunAh.
“Aku bilang saja, kau mau membunuh Minah huh? Aku rasa kau bukan manusia. Manusia normal tidak ada yang setega kau. Aku tidak mau tahu, SG akan comeback jika semua member dalam kondisi fit!” Kurasa ia mengabulkannya juga karena malas berdebat denganku. Aku sudah seperti orang kesetanan beradu mulut dengannya.
Minah adalah orang pertama yang bertepuk tangan dengan meriah. “Song Hyejin! Daebak!” HyunAh, Jihyo dan Hamun menyusul kemudian sambil berseru, “Song Hyejin! Song Hyejin! Song Hyejin!”
Aku tertawa tersipu malu dengan sorakan mereka. Aku tidak melakukan apa-apa. Kebetulan saja manajer kami kena semprot mulutku di saat yang tepat sehingga dia mau mengambil keputusan SG comeback ditunda! Hahahahaha!
Aku lalu teringat Jihyo juga ingin membicarakan sesuatu. “Jihyo, apa yang ingin kau beritahukan pada kami?” tanyaku.
Jihyo bangkit berdiri dan menatap kami satu per satu dengan serius. “Purple Rain menyuap koreografer kita untuk mendapatkan koreo kita. Memang sih gak ada yang kita perbuat sekarang tapi aku bersumpah akan mempermalukan mereka di depan umum!” ujar Jihyo penuh kesungguhan.
“Memang apa yang mau kau perbuat?” tanya HyunAh.
Jantungku mulai berdetak kencang. Aku takut Jihyo akan bertindak yang aneh-aneh.
Jihyo tersenyum pede. “Aku akan menuntut mereka, agency-nya dan koreografernya. Aku akan menempuh jalur hukum.” Jawaban Jihyo betul-betul membuat jantungku rasanya tidak berada lagi di tempatnya.

Minah pov
“Onni, memang apa yang akan onni lakukan?”
“Aku akan menyewa detektif untuk mengumpulkan bukti. Setelah itu akan mengajukan tuntutan.”
“Tidak bisa kita main halus saja? Tidak perlu bawa-bawa pihak ketiga maksudku.”
“Mereka sudah menyusahkan kita. Buat apa kita membiarkan mereka senang. Ingat, gerakan itu sebagian kita yang ciptakan.”
“Tapi Jihyo…”
Kami semua berbicara sahut-menyahut, mengeluarkan seluruh pendapat kami atas ide Jihyo. Semua bersuara kecuali Hyejin. Hyejin hanya memperhatikan kami tanpa menyadari wajahnya yang mulai memucat. Aku tahu Hye tidak setuju dengan ide ini. Hyejin tidak akan pernah mau berurusan dengan polisi apalagi pengadilan.
“Hye, sebaiknya kau pulang. Istirahat saja dulu,” kataku. Aku tidak tega lagi melihatnya. Kepalanya pasti sudah pusing sekarang.
Hyejin melemparkan senyum getir padaku. “Aku memang akan segera pergi tapi tidak untuk kembali ke dorm. Aku harus syuting. Permisi semuanya.” Hyejin berbicara tanpa tenaga, begitu juga dengan caranya berjalan. Kalau aku jadi dia, pasti sudah opname 2 bulan! Aku harus melakukan sesuatu.
“Jihyo, bisakah kita pending masalah ini sampai kita benar-benar comeback? Aku takut malah akan menenggelamkan kita. You know, real scandal is always not good for idols, for us.”
“Tapi onni, mereka harus tahu kalau mereka kurang ajar.”
Jihyo kembali lagi dengan sifat keras kepalanya. Aku menatap HyunAh, meminta pertolongannya untuk menenangkan Jihyo. HyunAh pun segera mengajak Jihyo pergi entah kemana.
Hamun yang masih berada di dalam kamarku menatapku dengan serius. “Apa kau memiliki pikiran yang sama dengan Jihyo onni, Minah onni?” tanyanya. Aku melihat wajahnya sama pucatnya dengan wajah Hyejin tadi. Aku paham apa yang dipikirkannya. Isi otak Hamun tidak jau berbeda dengan Hyejin.
“Aku setuju, untuk memberikan mereka pelajaran tapi aku ingin dengan cara halus. Tidak main hukum begini. Aku tidak mau SG terkena skandal,” jawabku. Dalam hati aku tertawa kecil. Baru kemarin aku ingin keluar, sekarang malah mempertahankan mati-matian.
HyunAh dan Jihyo belum juga kembali. Yang ada aku justru kedatangan banyak tamu yang ingin menjengukku, termasuk Heechul oppa yang ijin dari tugas sosialnya sebagai wamil.
“Oppaaaa!” seruku girang begitu melihat kepala botaknya yang seperth pentol korek.
Heechul oppa menghampiriku dan langsung mengomel, “Kenapa kau bisa pingsan? Nenek sihir itu menyuruhmu bekerja terus ya?”
Aku mengangguk-angguk dengan senang. Heechul oppa adalah yang paling mengerti penderitaanku. Dia bahkan yang menamai manajer SG sebagai nenek sihir.
“Tapi oppa tenang saja. Hyejin sudah marah habis-habisan pada nenek sihir itu. Haha. Aku senang sekali.”
Heechul oppa mengelus-elus kepalaku sambil tertawa. “Kadang, anak itu ada pintarnya. Tidak sia-sia aku mendidiknya.”
“Loh? Emang oppa pernah mengajari apa ke Hyejin?”
Heechul oppa menggelengkan kepalanya dan berceloteh santai, “Tidak ada. Aku hanya ngaku-ngaku aja.”
“Oppaaaa…”
Heechul oppa lalu berbicara pada yang lain. “Tadi pagi aku lihat MV Purple Rain. Kenapa tariannya sama dengan tarian kalian?”
Hamun menghela nafas, menggerutu pelan. “Ini sudah keseratus kalinya masalah ini dibahas. Tidak ada topik lain kah?”
Berbeda dengan Hamun, Jihyo justru sangat semangat. “Betul! Mereka menyabotase koreo kami. Koreografer brengsek itu tidak bisa dipercaya! Mereka membuat kami harus merombak semuanya!”
Aku dan HyunAh hanya bertatapan, berharap Jihyo tidak mengoceh semakin panjang. Sedangkan Hamun memilih pergi dengan alasan dia masih ada jadwal rekaman.
“Lalu kalian diam saja?” tanya Heechul oppa salah sasaran. Jihyo pun semakin bersemangat. “Jangan harap! Aku akan membuat mereka menyesal! Aku akan menuntut mereka ke jalur hukum!”
“Menuntut?” Jihyo menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Itu terlalu berlebihan, Jihyo. Kalian bisa kena masalah yang akan sangat merepotkan.”
“Tapi oppa, mereka sudah membuat kami susah. Mereka curang!” ujar Jihyo keras kepala.
“Aku tahu tapi saranku lebih baik kalian permalukan mereka pelan-pelan.”
“Caranya?”
“Cari acara yang akan menampilkan kalian berdua dan pastikan Purple Rain akan menarikan koreo kalian. Saat itu kalian muncul, bilang Kami bisa melakukannya lebih baik dari mereka.”
“Tapi itu tidak akan ada di script,” sela HyunAh.
“Masa bodoh dengan script. Setelah kalian menari, bilang sambil tertawa They copied us. Aku rasa itu akan lebih membuat mereka panik.”
Aku dan HyunAh menyambut baik ide Heechul oppa. “Kau memang brilian, Oppa!” seru HyunAh.
Jihyo tampak berpikir. Aku tahu dia masih bersikukuh bahwa idenya lebih baik. “Lalu setelah itu apa yang harus kami lakukan?”
“Teror mereka pelan-pelan. Aku punya teman di majalah. Mungkin dia bisa membantu kalian menajamkan berita ini. Kita bikin Purple Rain menyerahkan diri.”
Aku cemas dengan jawaban yang akan diberikan Jihyo. Aku takut ia akan tetap keras kepala. Hal ini pasti akan semakin mengacaukan pikiran Hyejin dan tentu aku serta HyunAh dan Hamun.
“Oke. Kita coba dulu cara Oppa. Kalau tidak berhasil, aku akan menjalankan caraku. Titik.”
Meskipun Jihyo masih bersikeras tapi paling tidak itu masih membuatku bernafas untuk beberapa saat. Semoga cara Heechul oppa berhasil.

-To be continued-