Cast:
Super Girls
Song Hyejin, Park Minah, Jung HyunAh, Choi Jihyo, Kang Hamun)

Super Junior
(Choi Siwon, Lee Sungmin)

DBSK
(Jung Yunho, Kim Jaejoong, Junsu, Shim Changmin)

*****

Hyejin pov
Akhirnya segala jadwalku selesai tepat jam setengah 3 pagi tanpa ada yang terlewat satupun. Akibatnya sekarang aku merasa ingin mencopot kepalaku dan menggantinya dengan kepala cadangan. Rasanya sakit sekali. “Ah, lebih baik aku pulang sekarang. Badanku sudah mau ambruk.” Aku pun pulang ke dorm dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Dorm tampak sepi. Semua pasti sudah tidur, kecuali Minah yang masih berada di rumah sakit. Betapa kagetnya aku ketika aku masuk ternyata ada orang yang sedang menungguku. “Kyu.”
“Hai,” ucapnya lalu memelukku. Aku balas memeluknya dengan enggan karena merasa pelukannya tidak sehangat biasanya.
“Kenapa kau menemuiku pagi-pagi buta seperti ini? Apa ada masalah?” Aku mencium sesuatu yang tidak beres dari tingkah lakunya. Kyu tidak pernah menemuiku pagi-pagi buta, apalagi tanpa bilang-bilang dulu.
“Humm, lebih baik kau duduk dulu,” katanya.
Aku pun duduk. “Ada apa, Kyu?”
Kyuhyun menatapku dengan tatapan ingin mengatakan sesuatu tapi ragu ia katakan. “Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Aku..aku harap kau tak akan marah dengan apa yang akan aku katakan.”
Kyuhyun semakin berbelit-belit dan membuat aku naik darah. “Kyu, aku mohon jangan berbelit. Katakan saja langsung.”
Mata Kyu menghindari mataku. Ia justru menatap meja di hadapan kami. “Humm. Aku…ingin putus.”
“Kau menemuiku pagi-pagi buta hanya untuk bilang itu?”
“Mianhe.”
Apa aku butuh satu alasan lagi untuk bunuh diri? Satu-satunya alasan aku masih bisa bertahan malah melepaskanku. Aku tidak bisa lagi marah apalagi menangis. Aku sudah bukan manusia. Aku sekarang sudah menjadi robot yang bergerak berdasar program yang ditempel di otakku. Aku tidak punya hati lagi.
“Apa alasanmu?” tanyaku.
“Kita sudah sama-sama sibuk. Apa kau ingat kapan terakhir kita bertemu?”
Aku memang tidak ingat kapan terakhir kami bertemu karena memang sudah lama sekali. Kyu sibuk dengan kegiatannya begitu juga aku.
“Kau tidak ingat kan? Kita tidak punya waktu untuk mengurus hubungan kita. Aku takut nanti bukan semakin baik malah semakin parah.”
Aku tahu itu hanya sekelumit dari pertimbangannya tapi aku tidak mau mendebatnya. “Baik kalau itu maumu. Sampai jumpa.”
Aku berdiri meninggalkannya, menyendiri masuk ke kamarku. Aku mencoba menahan air mata yang hampir jatuh dengan menengadahkan kepalaku. Hatiku terasa sakit sekarang. Pikiranku semakin kacau. Aku tidak bisa menanggungnya sendiri saat ini.
“Joong pa.” Aku menelepon Jaejoong oppa sambil menangis histeris kepadanya.
“Hyejin, kau kenapa?” tanyanya yang pasti bingung.
“Joong pa.” Hanya namanya yang bisa aku ucapkan di sela-sela isak tangisku.
Jaejoong oppa yang tampaknya sudah mengerti akhirnya berkata akan ke dorm-ku sekarang juga.
Tidak lama, aku mendengarnya datang. Aku pun langsung membukakan pintu dan memeluknya erat-erat. “Joong pa. Kyuhyun memutuskanku,” ucapku nyaris menjerit dalam tangisanku. Aku menenggelamkan kepalaku di dadanya dan terus menangis. Aku tidak peduli dengan apapun yang ada di sekitarku.
Jaejoong oppa balas memelukku dan mengelus punggungku dengan lembut. Dia tidak berkata apa-apa, hanya mencoba menenangkanku.
Tiba-tiba aku merasakan ada tangan yang mengelus tanganku yang sedang memeluk Jaejoong oppa. “Tenanglah, Hye. Tuhan pasti punya rencana yang baik untukmu. Kau harus percaya itu. Tetaplah semangat.”
Aku mendengar suaranya yang serak-serak tapi terdengar sangat nyaman. Aku menengadahkan kepalaku dan melihat teman Jaejoong oppa berdiri sambil tersenyum menatapku.
“Junsu oppa…”
Dia mengganggukan kepalanya sambil tersenyum tulus kepadaku. Tangannya juga masih mengelus tanganku. “Tenanglah.”
Entah kenapa, tangisku pun mulai terhenti. Tidak ada lagi tarikan nafas yang terdengar seperti orang yang akan mati atau jeritan putus asa dari mulutku.

HyunAh pov
Aku bangun pagi-pagi sekali seperti biasa karena harus menyiapkan dulu sarapan untuk teman-temanku sebelum kami memulai syuting MV hari ini. Ya, itu memang sudah tugasku.
Aku beranjak ke dapur dan menemukan Hyejin yang tertidur di sofa dengan kepalanya diatas pangkuan Jaejoong oppa sedangkan ada Junsu oppa yang tidur di sofa di sebelah mereka.
Aku sedikit kaget melihat kedua pria itu karena mereka tidak lagi berada di bawah manajemen SMent. “Kenapa mereka di sini? Apa kemarin setelah Kyu datang mereka juga datang?” tanyaku dalam hati.
Aku bergerak mendekati mereka dan membangunkannya dengan hati-hati. “Oppa, oppa. Tidurlah di kamar. Badanmu nanti sakit. Hyejin.”
Junsu oppa adalah yang pertama kali bangun. “Ah, HyunAh.” Jaejoong oppa mengikuti tidak lama kemudian.
“Oppa, pindahlah ke kamar tamu. Lanjutkan tidur kalian. Aku akan membangunkan lagi nanti begitu sarapan sudah siap.”
Kedua pria itu hanya mengerjap-ngerjapkan mata dan mengusap wajah mereka. Tampaknya nyawa mereka belum terkumpul. Aku mencoba membangunkan Hyejin yang masih terlelap. “Hye, bangun Hye.”
Jaejoong oppa memberhentikan tanganku yang sedang menggoyang-goyangkan Hyejin. “Biar dia istirahat. Dia terlalu lelah. Junsu, bantu aku membawa Hyejin ke kamar.”
Junsu oppa mengangkat Hyejin dengan hati-hati dan membawanya ke kamar Hyejin lalu keluar kembali.
“Jaga Hyejin baik-baik ya, HyunAh. Dia sedang dalam kondisi tidak baik, terutama emosinya.”
Aku mengangguk tapi tidak mengerti. Aku tahu Hyejin pasti dalam kondisi yang tidak baik karena jadwalnya yang sangat padat tapi kenapa dengan emosinya. Aku terlambat menanyakannya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Changmin?” tanya Junsu oppa.
“Baik. Sebentar lagi dia datang untuk membantuku memasak. Kalian pasti ingin bertemu dengannya kan?” JYJ dan Homin memang sudah lama tidak bertemu sejak mereka memutuskan untuk berpisah.
Jaejoong oppa tertawa. “Tentu saja! Susah sekali menghubungi mereka itu.”
Tanpa sadar aku jadi ngobrol kesana kemari dengan mereka berdua dan lupa menyiapkan sarapan. Aku baru sadar saat Changmin datang.
“Mana masakanmu? Kok ga ada bau apa-apa?” protesnya begitu masuk ke dalam dorm.
“Cerewet. Aku lupa karena keasikan ngobrol sama oppadeul.”
“Oppadeul?” Changmin oppa mengerutkan kedua keningnya karena bingung.
“Kim Jaejoong dan Kim Junsu. Bukankah kau merindukan mereka?”
Wajah Changmin semakin berseri. Dia mencium pipiku lalu kabur menemui kedua hyung-nya. “Hyungdeuuul!” serunya dengan girang. Aku melihat tingkahnya yang seperti anak kecil kemudian tertawa sendiri. Aku tahu betapa senangnya Changmin oppa bertemu lagi dengan Jaejoong oppa apalagi Junsu oppa. Alhasil, aku pun harus rela memasak sendirian di dapur.

Jihyo pov
Masih asyik-asyiknya aku bermimpi Purple Rain mengaku bahwa mereka salah, Sungmin oppa datang dan membangunkanku dengan seenak jidatnya. “Jihyo sayaaaaang, ayo bangun! Jangan tidur mulu kayak kebo.” Tidak hanya teriak-teriak, Sungmin oppa juga mencubit-cubit pipi dan hidungku.
Aku mengerang kesal, “Oppaaaa! Argh!” Kulempar bantal ke wajah Sungmin oppa yang disambut dengan tawa kencang. “Gak kena wek!” Aku melempar bantalku yang terakhir dan sialnya tidak terkena juga. “Sudahlah. Ayo bangun.”
Sungmin oppa menarik tanganku sampai aku terbangun. “Gendong,” pintaku dengan manja.
“Dasar manja. Aku bilangin Siwon loh.” Meskipun begitu, Sungmin oppa tetap menggendongku menuju ruang dapur sambil tertawa-tawa. “Kau bau. Gak mandi ya semalam?”
Aku mengeratkan lingkaran tanganku di lehernya sampai hampir membuatnya tercekik. “Cerewet!”
“Jihyo, kau mau membunuhku? Kalau aku mati siapa yang akan membantumu mengurus masalah Purple Rain? Huh?”
Aku melonggarkan lagi tanganku. Memang, yang selalu punya waktu untuk membantuku hanyalah Sungmin oppa. Ada Key juga sih tapi dia sedang sibuk di Jepang, malah sudah 2 bulan tidak pulang.
“Oppa, aku mengubah rencana. Kata Heechul oppa, lebih baik aku mempermalukan mereka dulu di acara-acara.” Aku mulai bercerita mengenai rencana Heechul oppa.
Sungmin oppa menaikkan tubuhku yang mulai merosot. “Memang apa rencanamu?”
“Aku akan menunjukkan kepada umum bahwa kami bisa menarikan koreo itu lebih baik dari mereka. In the end, we’ll say They copied us.”
“Jinja? Se-frontal itu?”
“Kata Heechul oppa itu lebih baik daripada aku langsung menuntutnya ke pengadilan.”
“Humm…”
“Kata Heechul oppa, lebih baik kita membuat mereka dikejar-kejar rasa bersalah.”
“Humm…” Sungmin oppa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Betul juga kata Heechul hyung. Kau mau mencobanya?”
“Iya. Aku akan mencobanya. Kalau tidak berhasil, baru aku lewat jalur tegas. Tidak akan aku biarkan mereka tenang-tenang saja! Gah!”
Sungmin oppa mendengarkan semua ocehanku dengan serius. Mengangguk ketika setuju, diam ketika tidak. Aku terus saja bercerita.
“Turun,” ujarnya dengan santai.
“Huh?” Aku bingung kenapa Sungmin oppa mau menurunkanku padahal kami belum sampai ruang makan.
“Siwon ada di ruang makan. Kau mau membuatku mati di tangannya? Aigoo, kalian kakak beradik sama saja.”
Aku hanya mengikik geli mendengar ucapannya tambah lagi ekspresinya yang sok tersinggung. Dia masih tetap saja imut dengan pipi chubby-nya itu.
“Oppa neomu kyeopta!” Aku mencubit pipinya lalu berlari ke ruang makan.

Hamun pov
“Oppaaaa! Bogosipo! Teganya kau tidak memberitahuku pulang hari ini!” seru Jihyo onni yang baru bangun langsung menempel pada Siwon oppa.
“Jihyo.” Siwon oppa mengelus kepala adiknya itu penuh kasih sayang. “Mianhe, jagi. Aku tidak sempat. Aku juga merindukanmu kok.”
“Bohong. Oppa pasti lebih merindukan Hamun. Iya kan?”
“Kalau itu pasti.” Siwon oppa membuatku tersipu malu sekaligus berbunga-bunga bahagia.
Aku memperhatikan kedua kakak beradik itu sambil tertawa. Mereka sangat lucu.
“Taraaa!” seru HyunAh onni saat datang membawakan sarapan untuk kami.
“Gomawo, HyunAh, jagiyaa, onni!” seru kami semua nyaris bersamaan membuat ruang makan jadi gaduh.
“Ssst. Hyejin masih tidur.” Hyejin onni menyuruh kami diam sambil tersenyum, membuatku sadar Hyejin onni tidak bersama kami.
“Tumben Hye onni belum bangun. Memang ia kenapa?” tanyaku.
HyunAh onni menatap Jaejoong oppa dan Junsu oppa yang ikut sarapan bersama kami. Aku pun ikut-ikutan memandang kedua pria itu.
Jaejoong oppa berdehem ringan. “Dia kelelahan. Butuh banyak istirahat.”
Baru diomongin seperti itu tiba-tiba Hyejin onni muncul seperti zombie. “Selamat pagi,” ucapnya lalu duduk di antara Jaejoong oppa dan Junsu oppa.
Aku nyaris berteriak kaget melihat Hye onni yang seperti itu. “Onni?! Kau kenapa?”
“Kenapa? Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing.” Ia lalu memakan sarapannya tanpa semangat bahkan hanya sepertiga dari porsi biasanya. Ini sangat aneh.
Jihyo onni rupanya sedang satu pikiran denganku. “Onni sakit ya? Aku panggilkan Kyu oppa ya?” Kyu oppa memang lebih ampuh daripada dokter jika Hye onni sedang sakit.
Bukannya senang, Hye onni malah nyaris muntah. Untung ia sempat berlari ke kamar mandi. Anehnya, Junsu oppa mengikutinya terus.
“Jaejoong oppa, ada apa sebenarnya dengan Hye onni?” tanyaku penuh curiga. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada Hye onni dan hanya Jaejoong oppa yang tahu. Aku kenal siapa Hye onni. Dia tidak akan selemah ini meski dia harus bekerja 24 jam kecuali satu hal. “Ada hubungannya dengan Kyuhyun oppa kan?” desakku.
Jaejoong oppa tidak bisa lagi mengelak. Dengan ragu, ia menjawab. “Hye dan Kyu sudah putus pagi-pagi subuh tadi.”
Meskipun yang putus adalah Hyejin onni tapi yang heboh adalah kami semua. Kami semua seperti merasa ditampar.
“Cho Kyuhyun… Aaaargh! Menyusahkan saja! Kali ini kau akan benar-benar mati!” Jihyo onni menggeram kepada ponselnya yang sudah menempel lekat di telinganya.
Aku lalu mendengar teriakan Junsu oppa dari kamar mandi. “Hyung, tolong aku!” Jaejoong oppa pun langsung melesat menemui Junsu oppa.
Aku menatap Siwon oppa dengan ketakutan. Aku takut Hye onni kenapa-kenapa selain itu aku takut jadwal SG baru berantakan total jika Hye onni kenapa-kenapa.
Sialnya, ketakutanku menjadi kenyataan. Hyejin onni pingsan. Jaejoong oppa dan Junsu oppa sibuk menggotongnya menuju mobil. “Kalian siap-siap saja. Ada syuting MV kan hari ini? Kami yang akan membawa Hyejin ke RS. Semoga dia segera sadar,” ujar Jaejoong oppa.
HyunAh onni tampak cemas. Terlihat dari caranya meremas ujung baju Changmin oppa. Jihyo onni cemas ditambah murka. Ia terus mengutuk ponsel yang tak kunjung menyambungkannya dengan Kyuhyun oppa. Aku semakin ketakutan. Siwon oppa memelukku lalu mengelus-elus kepalaku. “Tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Aku yakin.” Aku mencoba percaya dengan kata-katanya.

Minah pov
Aku sampai di studio set MV kami dan mendapat kabar dari HyunAh bahwa Hyejin masuk rumah sakit. “Hye pingsan. Tampaknya dia kecapekan ditambah Kyu baru saja memutuskannya. Kami akan sampai di set sebentar lagi.”
“Lalu Hye sama siapa? Masa dia sendirian?”
“Tidak. Jaejoong oppa dan Junsu oppa menemaninya.”
Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menemui manajer untuk membuangnya ke laut karena ia adalah sumber dari masalah ini lalu aku akan ke Kyu untuk menjatuhkannya dari tebing paling tinggi di bumi ini karena ia semakin memperkeruh saja! “Aaaargh!” Tanpa sadar aku berteriak kesal.
“Ada apa, jagi?” tanya Yunho oppa yang memang datang khusus untuk menemaniku.
“Untuk pertama kalinya aku ingin membunuh dua orang sekaligus.”
“Humm?”
“Aku ingin mengenyahkan manajer itu dan Cho Kyuhyun dari muka bumi ini. Mereka membuat masalah saja!”
“Kyu? Kenapa dia?”
“Pokoknya aku sebal!”
Yunho oppa lalu merangkul bahuku. “Tenang, jagi. Semakin kau emosi. Masalah akan semakin ribet. Kau akan semakin pusing. Tenanglah.”
“Bagaimana aku bisa tenang? Hari ini syuting MV. Besok konser SMTOWN. Lusa konferensi pers launching album. Mau jadi apa kalau Hye justru masuk RS?!”
Yunho oppa terkejut mendengar ceritaku tapi ia mencoba tetap tenang agar bisa menenangkanku. “Sudah jagi. Tenang saja dulu ya. Lalu teman-temanmu yang lain bagaimana?”
“Mereka akan datang sebentar lagi.”
Mereka memang akan datang sebentar lagi tapi manajer sudah datang menghampiriku. “Mana teman-temanmu yang lain? Kenapa Hyejin bisa pingsan?” tanyanya yang lebih cocok disebut murka.
Emosi bangkit dengan sendirinya, mendikteku untuk melawan. “Coba kau tanyakan sendiri berapa persen kontribusimu dalam membuat Hyejin pingsan?”
Manajer menatapku dengan geram, nyaris menamparku. “Berani kau menyentuhku, aku akan bilang pada tuan Choi untuk memecatmu. Kau tahu itu?” Aku dan Yunho oppa lalu pergi meninggalkannya.
Dia berseru-seru kepada kami. “Lalu bagaimana dengan syuting ini?”
“Bukankah kau sudah pengalaman 5 tahun jadi manajer? Masa masalah begini saja tidak bisa kau atasi?” sahutku sinis. Aku tak peduli apa ekspresinya yang pasti aku tidak mau lebih lama di dekatnya. Aku bisa berdosa memikirkan cara mematikannya.
Aku pun menunggu kedatangan memberku bersama Yunho di lobby. Menyenangkan memang tidak menunggu sendirian tapi menyebalkan jika harus menunggu hampir sejam.
“Kalian lama sekali. Aku sampai sempat berantem dulu sama nenek sihir. Hhh,” gerutuku kesal.
“Mianhe onni. Tadi kami ke RS dulu. Kami tidak tenang,” sahut Jihyo.
“Lalu Hyejin bagaimana?” Aku juga cemas dengan keadaannya.
“Waktu kami pulang Hye onni sedang disuntikkan vitamin. Sebentar lagi mungkin sadar. Jadi kita tetap bisa syuting. Tenang saja,” jawab Hamun.
“Tapi apa dia kuat? Jangan buat dia tambah sakit.”
HyunAh merangkulku dengan kalem. “Tenang saja. Magnaedeul kita sudah memikirkan cara terhebat agar MV ini tetap selesai meski tanpa Hyejin.” Tampang HyunAh yang sedikit cerah mulai membingungkanku. Apa maksudnya?
Aku melihat Jihyo dan Hamun yang sudah menemui produser. Mereka berbicara dengan serius, saling berdiskusi. Sampai akhirnya ketiganya tersenyum dan bertepuk tangan.
“Oke, syuting kita bagi 2 tim! Satu di studio untuk syut dance version HyunAh, Jihyo dan Hamun. Satu lagi di rumah sakit untuk syut Hyejin dan Minah!” seru produser memerintahkan semua anak buahnya yang langsung bergerak cepat.
“Aku ke RS lagi? Syuting di sana?” tanyaku bingung.
HyunAh menganggukkan kepalanya. “Tenang. Sutradara akan menjelaskan padamu nanti. Jihyo dan Hamun sudah mengurus konsep baru mendadak dengan sempurna!”
Aku tidak tahu apa yang ada di otak kepala kedua anak itu. Aku hanya mengikutinya saja dan amazingly, semua berjalan lancar tepat waktu. MV kami selesai meski Hyejin belum sadarkan diri.

-To be continued-