Cast:
Super Girls
(Song Hyejin, Park Minah, Jung HyunAh, Choi Jihyo, Kang Hamun)

Super Junior

DBSK

SGC 4 START!

******

HyunAh pov
Hari ini kami semua akan berangkat ke New York demi SMTown. Untung, syuting MV kami sudah selesai sehingga kami bisa pergi dengan tenang, meskipun hanya berempat. Hyejin akan menyusul nanti malam, entah dengan siapa.
Mataku menjelajah ruang tunggu ini mengabsen seluruh memberku. Jihyo ada. Dia bersama Hamun sedang melompat-lompat sambil melihat ipadnya. “Hamun, lihat MV kita!” seru Jihyo dengan semangat. Hamun pun tidak kalah antusias. Tampaknya Jihyo baru dapat kiriman MV kami yang sudah diedit meskipun masih kasar. Mulutnya tidak berhenti bersorak kegirangan saat menontonnya. “Omo! Omo! Hamun! MV kita daebak! Jeongmal daebak!” Hamun yang juga menonton MV itu ikutan bersorak senang. “Woohoo! Kau benar-benar jenius, onni!”
“Bukan aku saja tapi kita semua termasuk Junsu oppa!”
Changmin oppa yang berada di sebelahku hanya menggeleng-geleng heran. “Kenapa sih mereka itu? Kayak cacing kepanasan aja. Loncat-loncat mulu.”
“Oppa tuh cerewet deh. Biarin aja mereka mau ngapain.”
“Tumben kamu ga ikutan?”
“Kalau aku ikutan, kamu bakal jitak aku gak? Nanti kamu protes lagi.”
“Emang aku bakal protes. Kamu udah gede tau. Jangan jejingkrakan begitu.”
“Iya, iya. Dasar cerewet!”
Changmin oppa lalu memamerkan video terbaru dari serial kartun kesukaannya, Larva. “Lihat, ini lucu kan? Ayo tonton, HyunAh sayang.”
Aku mencubit lengannya dengan gemas. “Yaaa! Kau itu sudah besar. Masa masih nonton Larva sih, Oppa? Hih!”
“Aaaw!” Changmin oppa berteriak kesakitan karena cubitanku. Ia sudah mau membalas tapi aku sudah keburu bergabung dengan Jihyo dan Hamun.
“Onni, liat dance kita. Hebat bukan? Meskipun hanya bertiga. Udah gitu, minim latihan juga.” Hamun memuji diri kami bertiga sambil tertawa-tawa.
“Konsep kami hebat bukan? Almost Losing You MV pasti sukses. Pas sekali Hyejin onni pingsan jadi bisa seolah-seolah koma, ada Junsu oppa yang ceritanya jadi pacarnya dan Minah onni yang jadi sahabatnya. Drama version. Bagian dance-nya kita deh. Aku yakin si nenek sihir ga berpikir sampai sana.” Jihyo membanggakan ide-idenya. Aku juga bangga. Kalau ga ada mereka, MV kami mungkin belum selesai.
“Good job, dongsaengdeul. Gomawo,” pujiku. Aku lalu memeluk mereka dengan erat. “Apa Minah sudah lihat?”
“Belum. Minah onni masih sibuk dengan Yunho oppa.” Hamun lalu menunjuk Minah yang sedang tertawa-tawa dengan Yunho oppa, membuatku hanya geleng-geleng kepala. Minah memang tidak bisa berpisah sebentar saja dari Yunho oppa.
Tidak lama, pemberitahuan bahwa kami sudah bisa boarding pun berkumandang. Aku segera mengambil barang-barangku dan masuk ke dalam pesawat.
Tanpa sengaja aku bertabrakan dengan Kyuhyun. “Mianhe,” ucapku. Kyuhyun hanya tersenyum tanda tidak apa-apa. Aku pun balas tersenyum. Tidak ada masalah mengenai hal itu. Yang jadi masalah adalah Kyu yang berjalan bersama Vic, sangat akrab.
“Oppa, apa Kyu dan Vic…?” tanyaku pada Changmin oppa berharap ia mengerti maksudku tanpa harus kukatakan dengan jelas.
“Pacaran? Kurasa tidak. Mereka teman baik. Sama seperti aku dan Vic.”
“Kau yakin? Kyu tampak ceria sekali bersama Vic. Apa dia tidak tahu Hye masuk RS karena dia?”
Changmin oppa tidak menjawab. Dia malah mengambil selimut dan meluruskan kursinya. “Lebih baik kita istirahat dulu sayang. Yuk.” Detik berikutnya, Changmin oppa sudah tertidur meninggalkanku yang sedang memperhatikan Kyu dan Vic. Tampak mereka begitu akrab. Lebih akrab dari biasanya.

Hamun pov
“Omo! Omo! Omona!” pekik Jihyo onni dari kursinya membuat hampir seisi pesawat gempar.
“Ada apa, Jihyo?” tanya BoA onni.
“What happen, Jo?” tanya Jessica onni.
“Ya Choi Jihyo! Jangan mengagetkanku! Ada apa?” seru Key oppa sambil menjitak Jihyo onni.
Jihyo onni hanya tersenyum malu. “Nothing. Mianhe,” jawabnya. Sekarang tak ada yang memperhatikan Jihyo onni kecuali aku. Aku menangkap matanya yang menyatakan dia punya berita.
Aku mendekati Jihyo onni dan melihat apa yang terjadi sebenarnya. Jihyo onni sedang memegang Ipad-nya yang jelas sekali memberitakan keberangkatan Hyejin onni ke NY, bersama Junsu oppa.
“Junsu oppa menemani Hye onni ke NY?” tanyaku tidak percaya.
Jihyo onnie mengangguk. “Masalahnya netizen mengira ada sesuatu antara mereka dan… berharap Junsu oppa akan kembali ke SM.”
Kyuhyun oppa yang duduk di seberang Jihyo menengok tapi tak berkata apa-apa. Dia hanya melihat kami dengan tatapan penuh keingintahuan. Jihyo onni yang menangkap tatapan itu langsung menghardik Kyuhyun oppa. “Kenapa lihat-lihat?! Urus dirimu sendiri sana!”
“Choi Jihyo,”
“Jangan pernah lagi sebut namaku!”
“Hamun…”
Kyuhyun oppa mencoba mencari tahu dariku tapi Jihyo onni keburu mengusirku kembali ke kursiku. “Jangan harap kami akan memberi tahu mu satu hal pun, Cho Kyuhyun!”
Aku kembali ke Siwon oppa. Kyuhyun oppa tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya menatap Jihyo dengan tatapan ingin tahu bercampur sedih.
“Ada apa?” tanya Siwon oppa.
“Humm, entahlah. Jihyo onni sepertinya benar-benar marah pada Kyu oppa,” jawabku.
“Kenapa?”
Aku tidak percaya pertanyaan sebodoh itu keluar dari mulut Siwon oppa. “Jelas karena Hye onni lah, oppa.”
“Humm. Kalian itu suka sekali saling bercampur tangan. Biar saja Kyu dan Hye dengan masalah mereka. Kalau aku, tidak akan suka jika Jihyo atau Hyejin atau siapapun mencampuri hubungan kita.” Siwon oppa bicara sambil membaca majalahnya, tidak menatapku sedikitpun. Nadanya pun sedikit sinis.
“Oppa,” ujarku terkejut. Siwon oppa tidak bergeming.
“Hamun.” Seseorang memanggil namaku dengan berbisik. “Hamun.” Aku menoleh ke arah suara itu. Ternyata Donghae oppa.
“Ah, Donghae oppa. Waeyo?”
“Sini. Aku punya sesuatu untukmu.”
Aku pun menghampiri Donghae oppa dan duduk di sebelahnya. “Apa yang Oppa mau berikan untukku?”
Donghae oppa merogoh-rogoh tasnya sebelum mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. “Ini ada parfum. Aku beli waktu di Taiwan. Pakai deh. Siwon pasti akan tergoda.”
“Oppaaa,” sahutku malu-malu. Aku yakin mukaku pasti sudah merah. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak.
Donghae oppa tersenyum manis sekali, membuatku deg-degan. Kalau di dunia ini tidak ada Siwon oppa, aku pasti akan jatuh cinta pada Donghae oppa. “Kembalilah ke tempatmu. Siwon sudah gelisah tuh.”
“Gomawo, oppa,” ucapku lalu kembali ke kursiku.
“Apa yang Donghae berikan padamu?” tanya Siwon oppa begitu aku duduk. Matanya menatap tajam kotak yang aku pegang. Aku tahu dia cemburu.
Aku hanya tersenyum misterius. Aku ingin mengerjainya sedikit. “Entahlah. Mau tahu saja.”
Siwon oppa menaikkan kedua alisnya sambil menatapku. “Hamun, katakan padaku.”
Aku kembali hanya tersenyum lalu mengecup pipinya. “Lebih baik kita istirahat. Selamat tidur.” Aku merebahkan tempat dudukku, melingkarkan tanganku di perut Siwon oppa dan menyenderkan kepalaku di dadanya.
“Hamun, katakan padaku. Jangan buat aku penasaran,” rengek Siwon oppa.
Aku tidak menjawabnya. Aku hanya semakin mempererat tanganku dan tidur di dadanya sambil tersenyum.

Hyejin pov
Aku duduk menunggu waktu boarding menuju New York untuk menyusul member SG dan artis SM lainnya. Ini semua gara-gara penyakit sialan yang singgah di tubuhku sehingga membuatku masuk RS. Akibatnya, aku harus menyusul ke NY dengan penerbangan yang berselisih 8 jam dari yang seharusnya. Untung aku tidak sendirian.
“Hyejin, apa kau mau biskuit?” tanya Junsu oppa yang duduk di sebelahku. Dia berada khusus untuk menemaniku. Entah bagaimana caranya dia bisa negosiasi dengan agency-nya dan SM.
Aku menggeleng lemah. Aku masih tidak bernafsu untuk makan karena aku masih merasa tidak enak badan. “Gomawo, oppa,” ucapku.
Junsu oppa memasukkan kembali biskuitnya ke dalam tas. “Hye, apa kau sudah liat MV terbaru kalian?”
“MV?!” Aku bingung sekaligus kaget. Seingatku, aku belum melakukan syuting MV.
Junsu oppa tertawa. “Oh ya, kami lupa memberitahumu kalau MV Almost Losing You dibuat saat kau di RS.”
“Apa?! Berarti aku tidak ada dong!”
“Jangan salah. Kau justru modelnya.”
“Hah?” Aku semakin bingung. Junsu oppa pun hanya tertawa.
“Sudah kau jangan banyak bertanya. Tonton saja dulu. Baru dirilis sejam lalu. Nih.”
Junsu oppa menyodorkan notebooknya padaku yang mulai memutarkan MV SG yang baru. Aku melihat diriku berbaring lemah dengan Minah yang duduk di sampingku sambil menangis. Lalu Hamun, HyunAh dan Jihyo yang mengambil bagian dalam dance. Yang paling membuatku kaget adalah adanya Junsu oppa disitu.
“Oppa, bagaimana kau bisa ikutan di MV ini?”
“Kebetulan aku yang menemanimu di RS. Jihyo dan Hamun yang mengatur semuanya. Aku hanya tinggal syuting.”
Aku menonton lagi MV itu sambil mengingat-ingat penyebab aku masuk RS. Aku kemudian tertawa sendiri, menertawakan nasibku, menertawakan laki-laki di sampingku ini. “Oppa, kau tampan sekali di sini,” pujiku tiba-tiba.
“Jangan bohong. Aku tidak mandi itu. Hanya modal make-up.”
Aku kembali tertawa. “Sungguh. Aku yakin MV ini akan populer karena memunculkan wajahmu.”
“Hyejin, jangan menggodaku.”
“Aku tidak menggodamu, Oppa. Aku sungguh-sungguh.”
Junsu oppa tersenyum padaku. “Gomawo, Hyejin.”
Aku kembali menonton MV kami yang baru ini, memperhatikan setiap detilnya. Satu kata yang bisa diucapkan : Daebak! Jihyo dan Hamun memang hebat!
Pintu ruang boarding sudah dibuka. Pramugari pun mempersilakan para penumpang untuk masuk. Tiba-tiba perasaan takut menyergapku, membuatku enggan berangkat ke NY.
“Hye, kenapa masih duduk?” tanya Junsu oppa yang sudah berdiri di hadapanku sambil memegang barang-barang kami.
Aku menatap Junsu oppa dengan ragu. “Aku takut, Oppa,” jawabku akhirnya.
“Takut apa? Kau takut tidak bisa tampil? Takut pingsan lagi?”
Aku menatap Junsu oppa lagi, mencoba mencari ketenangan. Tidak ada satu pun yang aku takuti dari tebakannya. “Aku takut bertemu Kyuhyun,” ucapku pelan.
Junsu oppa hanya tersenyum. Tangannya menggenggam tanganku dengan erat. “Tenang, aku akan selalu bersamamu. Kalau dia membuatmu menangis, aku akan di sampingmu untuk menampung air matamu. Kalau dia membuatmu sakit, aku akan mengobatinya. Tenang saja.” Junsu oppa lalu mengajakku berdiri dan memasuki pesawat. Tangannya terus menggenggamku. Aku pun tidak rela melepaskannya. Dari tangannya ini aku merasakan keberanian menghadapi masa depanku.

Minah pov
Seperti biasa, jika aku sudah bersama Yunho oppa maka tidak ada yang bisa memisahkan kami sedetik pun. Meskipun manajemen memberikan kamar yang berbeda, kami tetap tidak bisa dipisahkan. Changmin pun kami korbankan untuk itu.
“Changmin, kau pindah ke kamar Kyuhyun ya,” ujar Yunho oppa begitu aku sampai di kamarnya.
Changmin pun yang sudah terbiasa tidak banyak bertanya. Dia hanya melangkahkan kakinya keluar kamar menuju kamar Kyuhyun atau mungkin HyunAh. Yaah, kami tidur bersama. Tidur di kamar yang sama tanpa berbuat apa-apa. Ingat! Kami tidak ngapa-ngapain.
“Jagiya, apa Junsu akan menginap di sini juga?” tanya Yunho oppa sambil mengeringkan rambutnya yang baru dikeramas.
Aku menggelengkan kepala. “Tidak ada kabar darinya. Dia hanya bilang akan menemani Hyejin ke NY. Kenapa? Kau pasti merindukannya ya?”
Yunho oppa menganggukkan kepalanya. “Aku merindukannya, juga Jaejoong dan Yuchun. Aku berharap kami bisa kembali seperti dulu.”
Wajah Yunho oppa tampak jelas sangat sedih. Aku tahu dia tidak ingin DBSK terbelah dua seperti ini. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Aku ingin Yunho oppa kembali menjadi leader dari sebuah kelompok yang berisi 5 orang, bukan 2 orang.
“Mungkin kita bisa negosiasi dengan CJes dan SM. Bagaimana?”
Yunho oppa menggelengkan kepalanya. “CJes tidak mau melepas mereka. Mereka pun tidak mau kembali selama Soo Man masih di SM.”
“CEO kita kan papanya Jihyo bukan Soo Man.”
“Tapi Soo Man adalah pemilik SM, jagiya. Tuan Choi hanya pelaksana operasional. Tetap Soo Man yang menentukan semuanya.”
Aku memeluk Yunho oppa, mencoba memberinya ketenangan. “Kita akan terus berusaha. Tidak ada salahnya berharap.”
Yunho oppa lalu menciumku dengan lembut. “Gomawo, jagiya.”
“Cheomaneyo,” sahutku sambil tersenyum. Yunho oppa lalu menciumku lagi.
Tiba-tiba ponsel Yunho oppa berdering menganggu semuanya. Yunho oppa melepaskanku dan mengangkat teleponnya. “Ne, Changmin. Aku akan menyusulmu ke bawah.” Yunho oppa dengan buru-buru menutup teleponnya.
“Ada apa?” tanyaku bingung.
“Junsu dan Hyejin sudah sampai. Ayo!”
Dengan penuh semangat, Yunho oppa menggandengku menemui Junsu dan Hyejin di lobby. Rupanya, Changmin dan member SG juga sama excited-nya dengan kami.
“Hyung!” seru Changmin begitu melihat Junsu. “Changmin-ah!” balas Junsu lalu memeluk Changmin.
“Junsu!” seru Yunho oppa. Junsu oppa pun melepas Changmin dan berpaling pada Yunho oppa. “Hyuuuung!”
Aku hanya tersenyum melihat mereka. Aku pun tidak berbeda dengan mereka. “Hyejin ah! Akhirnya kau sampai juga! Aku sudah cemas saja daritadi.”
“Tenang saja, Minah. Aku akan baik-baik saja. Junsu oppa menjagaku dengan baik kok.”
Aku lalu memandang temanku, Junsu yang sedang bersenang-senang dengan kedua teman sekelompaknya, sambil tersenyum. Mereka tampak sangat senang bisa bertemu satu sama lain lagi.
Yunho oppa lalu menghampiri aku dan member SG yang sedang asik bercerita mengenai MV baru kami. “Kami bertiga mau bermain sebentar di luar. Kalian mau ikut?”
Main di kota NY, malam-malam? Siapa yang tidak mau? “Aku ikuuut!” seruku dan member SG yang lain, termasuk Hyejin. Kami pun segera memanggil taxi yang akan membawa kami ke sebuah club di tengah kota NY.
Aku langsung merangkul Yunho oppa, begitu juga dengan HyunAh kepada Changmin. Sedangkan Junsu, tidak bisa lepas dari tiga gadisku. Jun tidak mungkin meninggalkan Hye yang selalu ditempel oleh Jihyo dan Hamun. “Jun, aku titip Hye dan dongsaengdul ku padamu ya. Jaga mereka baik-baik.”
Junsu tertawa. “Tenang saja. Ku pastikan ketiga gadis ini akan baik-baik saja. Apalagi Hyejin.” Junsu melemparkan senyum penuh makna padaku, yang aku pahami bahwa aku bisa mempercayainya.
Aku pun langsung turun ke lantai dansa bersama Yunho oppa. Menari dan bemesraan sesuka kami. Aku tidak peduli jika ada fans atau wartawan yang menangkap kami. Aku hidup juga untuk diriku bukan kalian.
Yunho oppa memelukku dan mengajakku menari bersamanya. Dia menggerakanku dengan mesra. “Saranghae,” bisiknya yang membuatku melayang. Aku pun mengecupnya sebagai balasan.
Tiba-tiba Changmin dan HyunAh datang dengan terburu-buru. “Hyung, Minah, kita harus segera pulang. Ada fans di sini yang melihat kita. Jihyo menemukannya mengupload foto kita.”
Yunho oppa pun segera menarikku keluar. Aku hanya menghela nafas panjang, menahan kekesalanku. Aku benci hidup tidak bebas seperti ini. Tidak bisakah kalian membiarkan kami hidup seperti manusia biasa?

Jihyo pov
“Jihyo!” pekik Sungmin oppa begitu aku memasuki lobi hotel. Aku juga melihat Siwon oppa dan Kyuhyun oppa. Ada manajer kami juga sih tapi aku tak peduli padanya. Aku pun berjalan dengan riang menuju Sungmin oppa. “Oppa!”
Sungmin oppa tiba-tiba menjitak kepalaku. “Kenapa kau tidak bilang bahwa kau pergi ke club?”
Aku hanya menyengir memohon maaf pada Sungmin oppa. “Mianhe. Aku hanya tidak tahu oppadeul mengajakku kesana.”
“Huh. Dasar bandel.” Sungmin oppa lalu mencubit hidungku dengan gemas. Aku pun hanya kembali menyengir.
Mataku lalu beralih kepada Siwon oppa dan Hamun yang sedang berdebat. Ya, aku paham apa yang mereka perdebatkan. Aku lalu berpindah pada Kyuhyun oppa yang hanya duduk sambil menatap Hyejin onni dan aku bergantian.
“Lalu apa yang dilakukan pairingmu itu di sini?” tanyaku pada Sungmin oppa sambil menunjuk Kyuhyun oppa.
“Entah. Dia hanya mengikutiku saja tadi.”
“Oh.” Sebenarnya aku tidak percaya tapi aku tidak mau membahasnya lebih lanjut. Kyuhyun oppa sudah berjalan ke arah kami.
Aku menarik Sungmin oppa menuju lift. “Aku lelah. Mau tidur,” ucapku. Secepat mungkin aku memasuki lift, berharap Kyuhyun oppa tidak sempat menyusul kami. Hanya saja harapanku tinggallah harapan. Kyuhyun oppa berhasil masuk ke lift yang sama denganku dan Sungmin oppa.
“Jihyo, kenapa kau selalu menghindariku?” tanya Kyuhyun oppa.
Aku tidak menjawab. Aku mendiamkannya. Aku tidak ingin bicara dengan orang yang menyakiti onniku. Aku benci dengan oppa yang paling aku sayangi ini.
“Jihyo, jawab aku,” panggilnya sekali lagi.
“Aku tidak ingin bicara denganmu.”
Kyuhyun oppa mengelus kepalaku. “Jihyo dengar, aku paham jika kau marah padaku karena Hyejin tapi aku mohon jangan seperti ini. Masalahku dengan Hyejin biar menjadi masalah kami. Kau tidak perlu mengurusnya.” Kyuhyun oppa mengatakan hal itu dengan lembut tapi aku justru semakin marah. Aku berusaha menahannya sambil menggenggam tangan Sungmin oppa tapi ternyata tidak mempan.
“Bagaimana aku tidak ikut campur kalau kau salah satu penyebab kesusahan kami? Gara-gara kau, Hye onni jatuh pingsan, membuatku terpaksa memutar otak mengakali syuting MV kami. Gara-gara kau, grup kami terlantar tanpa leader. Gara-gara kau…”
“Jihyo hentikan! Jangan menyalahkan aku terus. Salah Hyejin tidak memiliki hati yang kuat.”
Kyuhyun oppa benar-benar membuatku naik darah. Untuk pertama kalinya, aku ingin meninjunya. “Kau benar-benar ingin mati, Cho Kyuhyun! Aku harap Tuhan membalasmu.” Aku lalu keluar lift dimana pun lift itu berhenti.
“Jihyo.” Sungmin oppa ternyata mengikuti langkahku. Aku tetap berjalan menaiki tangga darurat. “Jihyo, tak seharusnya kau seperti itu pada Kyu.”
Aku menghentikan langkahku, berbalik menatap Sungmin oppa dengan kesal. “Seharusnya yang kau nasihati seperti itu Kyu oppa bukan aku, Oppa.” Aku lalu melanjutkan langkahku dengan Sungmin oppa tetap mengikutiku. Aku tidak peduli. Aku kesal. Aku muak! Lebih baik aku istirahat untuk SMTown besok.

 

 

-To be continued-